Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
A Man


__ADS_3

Paladin terkuat, Leon Allein Fortisillein. Selain gelar itu, dia merupakan seorang ayah dari tiga orang anak.


Yang pertama merupakan seorang yang dikenal sebagai calon paladin seperti dirinya. Sedangkan yang kedua masih bersekolah. Untuk yang terkecil, bisa dibilang masih dalam masa perkembangan.


Selain terkuat, dia dikenal sebagai seorang yang baik hati dan kepala keluarga yang bertanggung jawab. Tak hanya itu, dia memiliki alasan lain kenapa terkenal.


Alasan itu adalah istrinya, Lia Allein Fortisillein.


Pada saat masih muda, kisah cintanya menjadi contoh hubungan terlarang yang terjalin antara rakyat biasa dan bangsawan. Kisahnya sangat terkenal dan bahkan dibuat menjadi buku yang populer.


Itu adalah salah satu alasan kenapa Leon tak mengekang anaknya untuk memilih pasangan mereka di masa depan. Dia tak bisa. Jika dia melakukannya itu artinya kisah cintanya hanyalah sebuah kepalsuan.


Tetapi, membebaskan untuk memilih pasangan bukan berarti memilih pasangan yang tak tepat.


Contoh nyata dari itu adalah kisah cinta putrinya.


Suatu saat dia mendapatkan panggilan dari putri yang sudah lama tak dia temui. Dia berpikir putrinya menghubunginya karena ingin menyapa karena rindu, namun yang dia dengar adalah ada seorang pria yang akan segera melamarnya.


Tentu setelah mendengar itu dia tak bisa berpikir dengan jernih sehingga menghancurkan apapun di sekitarnya.


Berkat temannya, dia bisa mengendalikan kembali emosinya, namun dia tak bisa tenang sebelum mencari tahu siapa calon menantunya.


Berkat statusnya, menyelidiki informasi satu orang pemuda cukup mudah. Dia menemukan kalau pemuda yang bernama Kuro Kagami juga dikenal sebagai The Reaper atau Witch Reaper di Shadow Knight. Yang cukup mengejutkan adalah dia juga dikenal sebagai Shiro dan Akashi di dunia bisnis. Pemuda itu juga merupakan salah satu orang terkaya di negeri ini.


Dia tak bisa bereaksi seperti apa. Apakah dia harus takut, benci, atau kagum. Semuanya begitu rumit karena pemuda yang menjadi calon menantunya bisa dibilang sangat tak normal.


Tapi ketidak normalan itu terjawab mengingat Kuro Kagami diduga memiliki hubungan dengan Demon King.


Menyadari arti kebenaran itu, Leon sadar jika Laila berhubungan dengan Kuro Kagami, maka dia tak akan menjalani kehidupan normal. Bahkan putrinya akan terus dalam bahaya.


Dan dugaannya tepat saat mendengar kabar kalau putrinya maju dalam pertempuran di Dragonia.


Sebagai seorang ayah, dia berpikir untuk langsung menuju ke medan perang dan menyelesaikan perang itu dengan tangannya sendiri. Tapi dia tak bisa melakukannya.


Selain karena hubungan politik kedua negara, orang yang sangat berpengaruh di kehidupannya melarang dirinya untuk melakukan itu. Tak seperti dirinya, ibunya, Scarlet dan istrinya, Lia justru diam saja dan menyuruhnya untuk tenang.


Bagaimanapun juga saat itu Laila memutuskan ikut karena keputusannya sendiri. Dan selain itu, saat itu dia bersama dengan orang yang paling mengkhawatirkan keadaan Laila, yaitu kekasihnya.


Setelah pertempuran berakhir, dia senang karena mendengar kabar kalau Laila hanya mengalami keadaan Mana Zero. Dan yang lebih mengejutkan, disaat kondisi genting, putrinya menampilkan kekuatan yang mengagumkan karena berhasil menahan serangan iblis Lucifer.


Putrinya membuatnya bangga. Semua berjalan lebih baik daripada yang dia duga.


Dia tak menyangka putrinya yang terlihat biasa saja memiliki kekuatan yang mengagumkan.


Mungkin berhubungan dengan Kuro tak seburuk yang dia kira.


Tetapi, baru saja dia merasa senang, insiden lainnya terus berlanjut. Kali ini dia mendapatkan serangan dari Silver Viper yang menginginkan Izriva yang saat ini merasuki pedang kekasihnya.


Silver Viper adalah kelompok yang memiliki keahlian dalam menggunakan racun. Itu adalah hal yang tak bisa Laila lawan dengan kekuatan. Dia sangat kawatir sesuatu terjadi kepadanya, namun berkat kekasihnya, dia baik baik saja.


Setelah semua itu terjadi tanpa dia bisa berbuat apapun, kali ini Leon tak bisa berdiam diri lagi.


Dia mengerahkan pasukan Imperial Knight yang berada di bawah perintahnya secara langsung untuk segera mendapatkan Izriva. Demi negerinya, dan demi putrinya tercinta.


Dia tak ingin bertemu dengan putrinya yang tak bisa tersenyum karena kehilangan salah satu orang yang berharga baginya.


Dia menjadi terkuat bukan demi dirinya sendiri, namun demi keluarga yang dia sayangi. Demi itu, dia bahkan bersedia menjadi iblis.


"Apa yang saat ini kau pikirkan, tuan Leon?"


Seorang pria paruh baya mendekat dan bertanya karena melihat Leon yang sedang terlihat memikirkan sesuatu.


"Aku hanya ingat senyuman putriku. Oh.. Lanjutkan saja rapat strateginya."


"Maaf, tuan Leon."


"Tak usah. Aku justru yang tak sopan karena melamun di saat yang penting."


Pria itu tersenyum kecil dan kembali fokus ke layar transparan besar yang melayang di depan ruangan.


Ya. Saat ini Leon bersama dengan 50 Imperial Knight lainnya sedang membahas strategi yang mereka buat untuk operasi mendapatkan Izriva kembali.


Seorang wanita di depan memberikan pengarahan seperti komandan.


"Musuh kali ini merupakan mantan anggota Shadow Knight yang dulu dikenal sebagai Shadow Reaper. Mengenai informasi lain kalian bisa mendapatkan dari data yang kami bagikan. Sekarang kita fokus ke masalah utama saat ini."


Gambar berganti menjadi gambar orang bertopeng dan pedang yang mereka gunakan.


"Masalah dalam operasi saat ini adalah mereka, homunculus. Teknologi untuk membuat homunculus sangatlah rahasia, namun mereka berhasil menciptakannya. Dan kita masih belum tahu seberapa besar kekuatan mereka. Yah.. Tapi intinya kita akan datang dan menghancurkan mereka, jadi kurasa saran berhati hati saja sudah cukup. Apa kalian paham kecoa kotor!!!"


""""""""""" Ha!!!!"""""""""


Semua menjawab dengan kompak. Tak ada keraguan dari mereka meskipun mendapatkan penghinaan yang cukup menyakitkan.


Tapi melihat itu, Leon hanya tersenyum kecut.


"Seperti biasa dia masih saja seperti itu. Apa aku sebenarnya memimpin pasukan masokis?"


Tidak. Pasukan yang Leon pimpin merupakan pasukan terkuat di kekaisaran Houou, karena itulah mereka tak butuh penjelasan lebar mengenai musuh dan apa saja yang mereka lakukan.


Dan yang terpenting, mereka tak akan ragu untuk mengorbankan diri untuk itu.


Pasukan terbaik dan paling bisa dia banggakan, itulah Imperial Knight.


"Misi akan dilaksanakan 17 jam dari sekarang. Semua persiapkan diri kalian baik baik. Ingat dalam hati. Kalian adalah sampah. Sampah tak akan berarti jika tak bisa didaur ulang. Dan di antara semua sampah, sampah yang sesungguhnya adalah sampah yang tak berguna untuk apapun. Pergi dan buatlah diri kalian berguna, Dasar sampah!!!!"


Dan begitulah persiapan tempur dari pasukan yang dikenal sebagai pasukan terkuat.


".......aku harus mengganti selogan kami kapan kapan."


Sebelum menjadi iblis, dia harus memikirkan suatu yang lebih penting.


Bagaimana cara menyembuhkan pasukan masokisnya?


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


Sementara itu, berbeda dengan sang ayah yang harus bersiap dengan pertempuran, sang putri juga menghadapi pertempurannya sendiri.


Dengan pedang kayu di tangannya, dia beradu pedang dengan Yui di halaman rumah Kuro. Alasan kenapa di sana, tentu karena halamannya lebih luas dan lebih tenang. Tapi alasan sebenarnya karena di rumah itu sudah terpasang perisai khusus yang lebih kuat daripada perisai manapun. Mereka bisa menghancurkan apapun tanpa takut tetangga mereka akan terkena dampaknya.


Dan alasan tambahan karena orang tua Laila bisa datang kapanpun mereka mau. Itu yang terpenting.


"Ayo kak Laila. Kerahkan tenagamu. Gunakan semua teknik pedang yang kau gunakan untuk bertarung selama ini. Yup.. Seperti itu... Serang aku dengan semua yang kau miliki."


"...kh!!!"


Mendengar pujian tak akan membuat Laila senang. Meskipun dia mengerahkan semua miliknya, namun dia masih belum bisa menyentuh Yui.


Masalah bukan karena Laila tak bisa menggunakan sihir. Dia memang, tapi secara normal tubuhnya sehat seperti sedia kala. Juga bukan karena pedang kayu yang dia pakai tak sesuai dengan pedang yang biasa dia gunakan. Justru pedang itu dibuat dengan baik sehingga memiliki berat, ukuran dan bentuk yang sama dengan Scarflare.


Laila menyerang dengan melakukan tusukan dan dilanjutkan dengan tebasan melintang. Tak lupa dia juga menggunakan gerakan tipuan. Tak diragukan lagi teknik pedang Laila tak kalah dengan teknik pedang seorang Knight.


Tapi dengan gerakan sederhana, Yui membuat pedang Laila terlempar dari tangannya. Lalu setelah itu dia menghunuskan pedang kayu ke leher Laila.


"Ini kematianmu yang kelima. Apa kau masih lanjut?"


Berbeda dengan Yui yang masih bernafas normal, Laila terengah engah dan keringat mengalir deras membasahi tubuhnya. Tak diragukan lagi perbedaan stamina keduanya terlalu besar.


"...bagaimana kalau kita istirahat sebentar?"


Laila mengangguk dan langsung tergeletak di rerumputan hijau seolah menjadi mayat.


Melihat itu, Yui hanya bisa tersenyum karena mengerti keadaan Laila. Disaat bersamaan, Guila datangย  bersama dua pelayan lainnya.


"Nona Yui, nyonya Laila. Kami membawakan makan siang untuk kalian."


"Terima kasih, Guila. Aku memang sudah haus. Oh.. Tolong bantu kak Laila."


Guila dan lainnya mendekat untuk membantu Laila berdiri, tapi Laila menolak dengan menggelengkan kepalanya.


"....aku ingin.. beristirahat lebih lama lagi... Badanku sakit semua."


"Tapi jika kau beristirahat di terik matahari, maka kau akan sakit, nyonya Laila. Kami tak ingin melihat Shi-tuan Kuro panik dan cemas."


Mereka hanya tak ingin dimarahi Kuro. Alasan sederhana. Namun sudah cukup menakutkan.


"Tidak apa apa.. Aku bisa mengumpulkan energi mana dari matahari. Panas segini tak akan membuatku sakit."


Mendengar itu, Yui dan Guila melirik satu sama lain.


Mereka sadar apa yang bisa dilakukan Laila cukup aneh dan di luar akal manusia. Secara teori memang bisa menyerap energi mana dari alam, tapi hanya sejumlah kecil saja.


"...meskipun tak membuatmu sakit, namun setidaknya kamu minum. Ingat, meskipun kau bisa mengumpulkan mana dari matahari, namun kau hanya bisa mengumpulkannya dalam jumlah sedikit."


Tak peduli berapa lama Laila berjemur, itu tak akan membuat Laila pulih dengan cepat. Menyadari kesalahannya, dia bangkit dan menerima minuman botol dari Guila.


Dia membukanya dan langsung meneguk hingga habis. Laila sekarang terlihat lebih segar.


Mereka lalu berpindah ke bawah pohon untuk menghindari matahari secara langsung.

__ADS_1


Sambil beristirahat, Laila sadar kalau Yui dan dirinya sangat berbeda. Meskipun keduanya tak menggunakan sihir, namun jika bertanya siapa yang lebih baik, maka Yui-lah orangnya.


"...apakah kau tak lelah karena menggunakan ki?"


"Apa kau tertarik dengan ki?"


"Bohong jika tak tertarik. Lagipula Kuro pengguna ki, aku sangat ingin tahu kekuatan apa yang dia miliki sehingga dia begitu kuat meskipun tak mengandalkan sihir."


Kuro eksistensi abnormal di dunia yang penuh sihir. Bisa dibilang dia unik. Dan keunikannya itulah yang membuat dirinya spesial.


Sebagai kekasih Kuro, rasa ingin tahu yang besar tumbuh mengenai kekuatan Kuro. Sayangnya, saat ini dia hanya mendapatkan penjelasan yang sedikit.


Di kesempatan ini, Laila ingin mengetahui lebih banyak.


"Begitu..ย  Yah.. Aku rasa tak ada salahnya menjelaskan tentang ki. Lagipula aku juga berharap kau bisa menggunakan kekuatan itu suatu saat nanti."


Yui terdiam sesaat dan mengambil nafas dalam. Dan kemudian dia mulai menjelaskan semua yang dia ketahui.


"Jika ingin membahas ki, pertama kita bahas dulu tentang sihir. Dan ketika membahas sihir, maka kita tak bisa melepas dari sumber sihir itu sendiri, yaitu mana." Yui berhenti sesaat, lalu melanjutkan. "Penyihir adalah orang yang mampu mengendalikan mana dan mengubahnya menjadi fenomena yang kita sebut dengan sihir. Sihir terbagi menjadi beberapa elemen (atribut) yang saat ini kita kenal dengan konsep dasar sihir. Air, api, bumi, angin, petir, besi, suara, es, kayu, kegelapan dan suci. Dengan konsep itulah kita mengetahui kelemahan dan keunggulan setiap elemen seperti elemen air lemah terhadap elemen api."


Laila mengangguk membenarkan.


"Sekarang, kita mulai bahas tentang ki. Jika mana memiliki jenis (atribut), maka ki tak memiliki konsep seperti itu. Ki adalah murni energi itu sendiri atau bisa juga disebut sebagai elemen netral. Apa sekarang kau mengerti kenapa kak Kuro tak takut berhadapan dengan penyihir manapun?"


Laila berpikir untuk memahami penjelasan Yui.


"...mungkinkah itu alasan kenapa kau juga memilih lebih menggunakan ki daripada sihir?"


Jika teorinya benar, maka alasan kenapa Yui jarang memilih bertarung menggunakan sihir akan terjawab.


"Begitulah. Sihir elemen airku akan kalah jika berhadapan secara langsung dengan elemen apimu. Jika aku ingin menang darimu, maka aku harus menggunakan sihir dengan mana dalam jumlah yang lebih besar. Dalam pertarungan nyata, jika musuh memiliki kapasitas mana lebih besar daripada diriku dan elemen tidak cocok, maka aku akan tamat. Yah... Meskipun itu juga tergantung bagaimana membuat strategi, namun itu akan menjadi pertarungan yang sulit."


"..."


"Tapi karena ki tak memiliki elemen, maka aku tak perlu takut dengan kelemahan dari sihir elemen air. Bisa dibilang menggunakan sihir dan ki secara bersamaan seperti seorang pecurang."


Sekarang semua masuk akal. Karena tak memiliki jenis, maka ki cocok digunakan untuk melawan berbagai elemen.


"Tetapi meskipun terdengar hebat, namun penggunaan ki yang terbatas merupakan kelemahan terbesar. Dan jika tak berhati hati menggunakannya, maka aku akan mengalami keadaan yang lebih buruk daripada saat kehabisan mana. ...Karena itulah kak Laila, jika kau ingin mempelajarinya, maka kau harus bersiap dengan keadaan yang terburuk. Yah.. Sebenarnya ki lebih cocok digunakan oleh orang biasa karena mereka tak menggunakan mana. Bagi penyihir seperti kita, ki bagaikan air dan api yang kau gunakan secara bersamaan. Kak Laila, apa kau bisa membayangkan bagaimana rasanya? Percayalah, lebih buruk daripada yang kau bayangkan."


Itulah penjelasan terakhir Yui. Tapi setelah selesai, atmosfer menjadi berat dan tegang. Bagaimana tidak? Penjelasan Yui mungkin adalah cara untuk menjadi lebih kuat, namun sebelum itu harus melewati neraka terlebih dahulu.


Dan Yui adalah orang yang berhasil melewati neraka itu.


"...karena itulah kita sebaiknya berlatih untuk mengasah teknik pedangmu yang masih lemah terlebih dahulu. Aku tahu kenapa kau tertarik, namun bisa menggunakan kekuatan yang sama dengan kak Kuro bukanlah satu satunya cara agar kau menjadi lebih kuat. Selain itu, apa kau pikir hanya aku saja yang menjadi gurumu?"


".......eh?"


Ketika bingung dengan apa yang dimaksud Yui, Guila dan pelayan yang bersamanya berdiri dan tersenyum tipis.


"Jangan bilang kalau..."


"Kami akan menjadi lawan latih tandingmu selanjutnya, nyonya Laila."


"Jangan terlalu terkejut. Bagaimanapun juga pelayan di rumah ini memiliki kekuatan setara atau lebih kuat daripada Holy Knight. Dan karena masing masing mereka memiliki keahlian masing masing, aku sangat yakin bisa menambah kekuatanmu. Dan jangan kawatir, kapan kapan aku akan menambah guru spesial untukmu."


Bukannya senang, Laila sadar kalau dia akan segera menghadapi neraka yang bernama latihan.


Tapi bukannya dia tak mengerti alasan Yui. Guila dan lainnya memiliki kekuatan setara Holy Knight. Itu artinya mereka tak hanya spesialis dalam sihir, namun juga ilmu bela diri dan pedang. Bagi Laila yang saat ini tak bisa menggunakan sihir, mereka adalah guru yang tepat.


"Sekarang bagaimana kalau kita lanjutkan latihannya?" ucap Yui sambil tersenyum.


"...bukannya kita baru beristirahat beberapa menit?"


"Jika kau berpikir seperti itu, kau akan segera mati di medan perang."


Meskipun mengakui apa yang dikatakan Yui benar, dia merasa Yui menikmati saat dirinya tersiksa.


Dia sadar, Yui adalah S. Sama seperti kakaknya, Kuro.


Dan latihan Laila pun berlanjut. Tak seperti Yui yang berlatih menggunakan pedang, Guila adalah pengguna tombak. Tapi karena latihan, saat ini Guila menggunakan tongkat yang tak memiliki bagian tajam.


Laila menggunakan teknik berbeda untuk melawan Guila. Bagaimanapun juga pedang memiliki jangkauan lebih pendek dari tombak. Hal ini menyebabkan Laila lebih sering dalam posisi bertahan daripada menyerang. Dan meskipun menyerang, Laila bahkan belum berhasil menyentuh pakaian maid Guila.


Ini terjadi bukan karena Laila sudah kelelahan atau Guila bisa menggunakan sihir, namun dari sekali lihat, Laila langsung tahu kalau Guila bagaikan seorang veteran prajurit yang sudah mengalami banyak pertempuran.


(Dia kuat... )


Tapi bukan berarti ini membuatnya menyerah. Ini semakin membuat Laila bersemangat.


Tapi bagaimanapun juga hanya dengan semangat tak akan memenangkan pertempuran. Inilah kenyataan pahit yang harus Laila ketahui.


Malam telah tiba dan Laila saat ini berada di bak air panas. Seluruh tubuhnya terasa sakit karena terlalu banyak dipaksakan untuk bertarung.


Tak diragukan lagi ini adalah neraka.


"Uuuu... Aku ingin bertemu dengan Kuro..."


"Kau belum berpisah dengan kak Kuro selama satu hari. Tapi kau seperti tak bertemu selama satu tahun."


Berbeda dengan Laila, Yui mengapung tak jauh dari Laila.


"Yah.. Bukannya aku tak mengerti, namun saat ini fokuskanlah ke hasil latihanmu hari ini."


"Yui, bisakah kau tak membahas latihan? Jujur saja aku ingin melupakannya walau sesaat."


"Jangan mencoba menghindar." Yui mendekat dan berendam di samping Laila. "Kau tahu, jika aku menghitung semua kesalahanmu saat latihan, aku langsung ingin memukulmu dengan kekuatan penuh. Bagaimana bisa penyihir peringkat S seperti dirimu banyak sekali melakukan kesalahan? Ditambah dengan gerakan aneh dan tak berguna. Kurasa lebih tepat jika ku sebut kau tak memiliki gerakan original."


Laila hanya bisa tersenyum kecut. Bagaimanapun juga sudah menjadi pengetahuan umum kalau semua teknik miliknya merupakan hasil belajar sendiri.


Tapi saat mendengar perkataan Yui, untuk alasan tertentu Laila merasa tertusuk.


"Besok kita akan melakukan perbaikan pada kesalahanmu. Dan setelah itu, kita akan mencoba melakukannya dengan sihir. Ngomong ngomong, menurutku kau akan pulih tiga hari lagi, jadi kau tak punya banyak waktu untuk melatih teknik pedangmu."


"...aku tahu melatih teknik dasarku saat aku tak bisa menggunakan sihir membuat teknik pedangku menjadi lebih kuat dalam waktu singkat, tapi ...ini sedikit berlebihan..."


"Ini masih belum seberapa jika latihan yang kujalani demi bisa menggunakan ki. Oh.. Aku jadi ingat saat aku berendam di air selama 2 minggu tanpa makan dan minum. Itu benar benar neraka aha ha."


Laila langsung pucat pasi. Dia tak ingin membayangkan apa saja yang dilalui Yui untuk menjadi lebih kuat.


"Tapi kau berhasil dan menjadi lebih kuat. Itu artinya kerja kerasmu terbayarkan, benarkan? Menurutku itu suatu yang pantas dibanggakan."


Wajah Yui tak terlihat terlalu senang seperti yang Laila duga.


"Aku memang bangga dan aku sangat senang karena bisa menjadi lebih kuat. Dengan begitu aku berharap bisa bertarung di sisi kak Kuro. Sayangnya, setiap aku berhasil melangkah satu langkah, dia selalu melangkah 10 kali lebih jauh. Aku ingin menjadi lebih kuat, namun aku tak tahu bagaimana cara agar aku bisa berjalan di jalan yang sama dengannya."


"...."


Laila mengerti apa yang dirasakan Yui. Bagaimanapun juga Laila merasakan hal yang sama.


Tak peduli apakah dia ranking S atau bukan, ketika dia menjadi lebih kuat, Kuro menjadi lebih kuat daripada siapapun. Tak peduli seberapa cepat dia mengejarnya, jarak Kuro terus semakin menjauh.


"Tapi kita ingin terus bersama Kuro. Itu yang terpenting kan?"


"Yup..."


Untuk kesekian kalinya, mereka menyatukan hati mereka.


Keesokan paginya, Laila bangun setelah mendengar alarm yang keras. Namun itu bukan alarm jam yang berada di kamarnya.


Alarm itu terdengar ke seluruh penjuru ibukota dan membuat pagi yang damai penuh dengan suara berisik. Dan artinya bukan hanya dia saja yang terbangun.


"Alarm evakuasi?"


Alarm evakuasi terdengar jika terjadi di suatu bagian wilayah untuk memberikan tanda terjadinya masalah, namun alarm kali ini terdengar ke seluruh penjuru ibukota. Itu artinya saat ini kota terjadi masalah yang besar.


Tapi Laila langsung meragukan itu. Dia ingat kalau Riana berkata untuk jangan mengganggu. Dengan kata lain...


"...mereka sudah mulai bergerak?"


Operasi untuk mendapatkan Izriva telah dimulai.


Mengetahui fakta itu, Laila langsung bangkit dari tempat tidur dan mengganti pakaiannya. Tapi disaat itulah Yui tiba tiba muncul dan menutup pintu lemari.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan, namun seharusnya kau sadar kalau tindakanmu ini bukanlah hal yang tepat."


"Yui, aku hanya ingin melihat dari jauh. Boleh kan?"


"Dengan senyuman palsumu, seratus tahun lagi kau baru bisa membodohiku. Saat ini kau memiliki hal yang lebih penting untuk dilakukan. Kenapa kau tak bisa percaya kepada orang lain? Jika pemerintah bisa mendapatkan Lic, itu artinya kau tak perlu capek capek bertarung."


"Aku hanya ingin melihat..."


"Tidak."


Dan begitulah kenapa latihan Laila semakin mirip dengan latihan neraka yang sesungguhnya.


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


Setengah jam sebelumnya, pagi pagi buta. Leon dan Imperial Knight yang di bawah perintahnya berpencar ke seluruh penjuru untuk mengepung bangunan yang diduga menjadi lokasi musuh bersembunyi.

__ADS_1


Bangunan itu sekilas mirip toko besar biasa, namun yang menjadi incaran mereka adalah bukan di atas tanah, namun di bagian bawah.


"Paman Leon, semuanya dalam posisi mereka."


Leon menoleh ke arah gadis yang berada tak jauh di sampingnya.


"Aku masih tak menyangka kau benar-benar akan ikut, Charlmilia. Apa yang akan kukatakan kepada ayahmu jika mengetahui hal ini?"


Menanggapi itu, Charlmilia hanya tersenyum.


"Paman Leon hanya perlu bilang aku datang untuk menonton bagaimana orang terkuat di dunia bertarung."


"Jangan bercanda. Siapapun akan menjadi yang terkuat di dunia saat berusaha melakukan apa yang dia yakini benar. Aku memang memiliki kekuatan yang mampu membelah gunung menjadi dua dengan mudah, namun bukan berarti aku ingin menggunakan kekuatan ini untuk bertarung."


"Anda terlalu merendah, Paman Leon. Kekuatan memang bukan hanya digunakan untuk bertarung, namun juga untuk melindungi."


"Sayangnya melindungi juga sama dengan bertarung. Tak peduli waktu berlalu, pertempuran terus akan terjadi. Aku rasa tak ada gunanya membahas hal ini. Ngomong ngomong kau satu kelas dengan putriku, kalau bisa aku ingin mendengar pendapatmu tentang kekasihnya."


"Jangan kawatir, Paman Leon. Aku akan menceritakan semua yang aku ketahui. Namun sebelum itu, kita harus fokus dengan pertempuran yang akan segera menanti kita."


"Kau benar... "


Beberapa saat kemudian, alarm tanda bahaya terdengar di seluruh penjuru kota. Alasan kenapa menjangkau seluruh kota, itu karena mereka masih belum bisa memperkirakan dampak pertempuran kali ini.


"Ini dimulai kah.. Charlmilia, aku akan menjamin keselamatanmu, jadi jangan menjauh dariku. Bagaimanapun juga aku tak ingin melibatkan anak muda dalam hal ini."


"Aku mengerti, Paman Leon."


Tak peduli peringkat apa yang dimiliki Charmilia, itu tak mengubahnya kalau dia masih belum berpengalaman. Tak perlu memaksanya untuk bertarung.


Mereka berlari menuju bangunan yang diduga menjadi lokasi persembunyian dengan menggunakan sihir percepatan. Namun sebelum tiba, mereka berhenti.


Leon dengan cepat meninju jalan di bawah kakinya dan membuat lubang dengan diameter dua meter. Itu bukanlah pukulan yang dilakukan dengan menggunakan sihir, hanya dengan pukulan biasa.


Tak hanya di tempat mereka, di berbagai sudut kota terdengar suara benturan keras yang dihasilkan oleh serangan yang hampir sama.


Leon dan Charlmilia langsung masuk ke dalam terowongan yang dibuat menembus lapisan bawah tanah. Mereka tiba di bagian bawah tanah yang merupakan terowongan untuk menyalurkan air. Udara lembat dan tak sedap membuat mereka tak nyaman dan langsung ingin menutup hidung, namun saatnya memikirkan itu.


Dengan cepat mereka berlari dan menembus dinding yang menghadang mereka seolah tank yang tak tertandingi.


"Paman..."


"Aku tahu. Mereka datang."


Tak jauh di depan mereka sosok bayangan muncul dari celah dinding. Tak diragukan lagi mereka adalah musuh. Namun Leon dan Charlmilia tak menghentikan langkah mereka dan terus maju.


Leon memukul dan menendang musuh dengan kekuatan yang luar biasa. Sosok musuh bahkan tak berbentuk lagi. Apakah mereka manusia atau hanya segumpal daging.


Kekuatan yang digunakan Leon menunjukkan kalau dia adalah yang terkuat. Charlmila bahkan hanya bisa melihat dan sekaligus merasa kagum.


Tiba tiba dari kegelapan melesat anak panah menuju titik buta Leon, namun sebelum menyentuh Leon, anak panah itu menjadi debu tak tersisa.


"Hati hati. Musuh lebih kuat daripada yang diperkirakan. Selain itu banyak jebakan di sini. Mengingat siapa yang ada di pihak mereka, aku yakin jebakan itu mengandung racun. Jangan sampai terkena walau hanya goresan."


Sambil berlari, Charlmilia mengangguk.


Meskipun dalam hati dia sulit percaya karena bagaimanapun melihat dari sudut pandang orang lain, musuh mereka sangat lemah. Bahkan bagaikan kecoa di tangan Leon.


(Inikah kekuatan Paman Leon?)


Musuh kembali bermunculan. Kali ini Charlmilia berusaha menyerang dengan pedang angin. Serangan mengenai musuh, namun tak memiliki efek berarti, bahkan hanya goresan.


Tetapi, Charlmilia tidak panik. Dia hanya mengetes apakah dugaannya benar atau tidak.


Kemudian dia menciptakan plasma. Membentuknya menjadi tombak lalu menembakkannya seperti peluru. Kali ini serangannya menembus pertahanan mereka dan membunuh mereka. Mereka mati karena Charlmilia mengincar bagian inti mereka yang berupa kristal berwarna ungu.


Melihat itu, Leon tersenyum.


"Seranganmu lebih hebat daripada yang dirumorkan. Generasi sekarang memang berbeda jika dibandingkan dengan dulu."


"Terima kasih, Paman. Tapi menurutku generasi terbaik adalah generasimu. Penyihir terbaik saat ini sebagian berasal dari generasimu."


Leon menggelengkan kepalanya.


"Mungkin karena aku terlalu mencolok. Maklum saja aku bisa dibilang sedikit abnormal. Dan mungkin kau tak sadar, kau bahkan bisa dibilang abnormal jika hidup di generasiku."


"...anda terlalu berlebihan..."


Mereka terus maju dan sekali lagi musuh datang. Leon dengan cepat menendang lantai di depannya dan dalam sekejap lantai hancur ke dasar.


Leon dan Charmilia tanpa ragu melompat ke bawah. Mereka disambut oleh cahaya yang melesat bagai peluru. Itu adalah cahaya yang merupakan serangan anti sihir. Namun sebelum menyentuh mereka, cahaya itu menghilang bagaikan tertelan sesuatu.


Sekali lagi Charlmilia dibuat bingung oleh fenomena yang dia tak mengerti. Meskipun sekilas mirip sihir pertahanan otomatis, namun karena kekuatan musuh adalah anti sihir, seharusnya pertahanan Leon tak bekerja. Tapi yang terpenting dari semua itu, Charlmilia tak merasakan mana terpancar dari Leon.


Mereka dengan mudah mendarat dan melihat musuh mengepung dari berbagai arah. Jumlah mereka mencapai puluhan dengan berbagai senjata anti sihir.


Dengan tatapan mata keduanya memberi tanda dan berpencar menuju lawan mereka.


Charlmilia kembali menciptakan tombak plasma dan mengincar inti musuh. Beberapa berhasil dia bunuh, namun ada yang lolos dengan menebas tombak plasmanya.


Tiba tiba musuh di dekatnya dan bersiap menyerang. Posisi Charlmilia tak diuntungkan, namun dengan mengendalikan angin di sekitarnya, dia bergerak menghindar dan memberikan pukulan.


Serangannya tak terlalu memberikan efek karena musuhnya bukan manusia. Musuh menyerang dari arah lain dan sekali lagi Charlmilia berhasil menghindar. Dia bergerak di atas puing dengan lompatan kecil dan gerakan lembut seperti menari. Lalu setelah berada di posisi yang tepat, dia menciptakan tombak plasma dan menembakkannya.


Lima musuh tumbang. Musuh masih banyak dan bersiap menyerang. Tapi tak seperti sebelumnya, kali ini mereka tak menyerang secara sembarangan. Mereka tampaknya sadar kalau Charlmilia lebih kuat daripada yang terlihat.


Tiga di antara mereka mengubah bentuk senjata mereka menjadi panah dan mengunci target ke arah Charlmilia.


Anak panah sihir dilepaskan. Disaat itulah cahaya lainnya muncul dari arah yang berbeda. Tak seperti anak panah, cahaya itu lebih mirip sebuah peluru sihir.


Charlmilia menyadari serangan dari arah lain. Dia tak panik atau berusaha menghindar. Dalam waktu singkat dia mengambil kristal dari pakaiannya dan mengaktifkannya.


Lalu dalam sekejap semua serangan musuh terpotong. Dan di saat bersamaan, dua pedang di tangan Charlmilia bersinar terang di kegelapan.


"Aku tak punya waktu untuk bermain main dengan kalian. Akan kuakhiri."


Aura terpancar dari Charlmilia. Dia menggunakan sihir penguat tubuh digabungkan dengan sihir pemercepat gerakan, dia bergerak dengam cepat bagaikan berteleportasi di depan musuh.


Tanpa ragu dia menusuk inti musuh. Dia lalu bergerak ke musuh lainnya dan melakukan serangan yang sama. Tak butuh waktu lama dia akhirnya mengalahkan semua musuh.


Dia mendesah lalu melihat ke arah Leon yang sudah mengurus semua musuhnya dengan mudah.


".....errr..."


"Jangan kawatir. Ini bukan lomba. Tak peduli berapa banyak kita mengalahkan musuh, selama kita tak mendapatkan apa yang kita butuhkan, misi ini tak akan berarti."


Charlmilia mengangguk, namun untuk alasan tertentu dia merasa menjadi penghambat dalam misi kali ini.


Dia lalu mendekat ke arah Leon.


"Dari sini kita pastikan arah kita selanjutnya. Jika kita terlalu merusak, itu akan gawat. Tapi jangan kawatir akan tertimbun. Itulah gunanya aku disini."


Jika tertibun, kau akan menghancurkan segalanya. Sungguh lelucon yang tak lucu.


Charlmilia hanya bisa mengangguk sambil mengeluh dalam hati.


Leon mengaktifkan alat komunikasi dan menghubungi markas.


"Bagaimana status yang lainnya?"


[Semuanya baik baik saja. Meskipun banyak yang berhadapan dengan musuh, namun mereka bukan lawan yang berat.]


Bisa dibilang situasi masih berjalan baik. Bahkan lebih baik daripada yang diperkirakan. Mungkin karena mereka adalah pasukan terbaik, jadi hasil ini bisa dibilang wajar.


"Bilang kepada semuanya agar tak lengah. Kita masih belum tahu kartu apa saja yang dimiliki musuh. Selain itu, beritahu posisi kami saat ini."


[Baiklah, saya mengerti. Saat ini anda berada di tempat persembunyian yang digunakan pada zaman dahulu. Silahkan anda bergerak terus ke bawah. Anda akan menemukan ruang bawah tanah yang lain.]


"Sama di peta kah... Ini lebih buruk daripada yang kukira."


Charlmilia mengangguk tanda setuju.


Ruang bawah tanah di ibukota bisa dibilang berjumlah ribuan. Semua itu bisa berupa bekas tempat penyimpanan, tempat persembunyian, tempat perlindungan, atau bahkan kota lama.


Peta kota bagian atas bahkan lebih mudah dimengerti jika dibandingkan bagian bawah tanah kota Phoenix. Sekilas mereka berada di labirin yang luas.


Dan sekarang, saat ini musuh menguasainya.


"Paman, apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Kita hanya akan maju dan menghajar mereka. Tapi jujur saja, aku paling benci dengan labirin seperti ini."


"Hm.. Apakah Paman memiliki alasan khusus kenapa tak menyukainya?"


"Tidak juga, namun terakhir kali aku berpetualang di labirin adalah saat berbulan madu dengan istriku. Kami berpisah beberapa hari dan ..yah.. Kau tahu, kami tak bisa melakukan 'itu' dan pada akhirnya aku memutuskan untuk tak pernah masuk ke labirin lagi."


".............."


Tak peduli apakah paladin terkuat atau tidak, Leon tetaplah seorang pria.

__ADS_1


Dan untuk alasan tertentu, itu membuatnya ingat dengan seseorang.


(Apa yang dilakukan Kuro sekarang?)


__ADS_2