Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Strongest Defense


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi di sini?"


Laila tak bisa menahan keterkejutannya. Pemandangan yang dia lihat sangat tidak normal.


Lalu dia juga merasakan aura tak menyenangkan dari hutan pasir besi itu. Tak diragukan lagi sesuatu terjadi di sana.


"Aku rasa sihir Fila telah berada di luar kendali. Dia terus menyerap energi di sekitar tempat ini dan menambah jumlah pasir besi."


Kuro berusaha menyentuh pasir besi, tapi di saat itulah pasir besi itu menjauh darinya.


"Kita harus segera melakukan sesuatu. Sebelum itu, bagaimana dengan Charl?"


"Dia baik. Hanya saja dia tak sadarkan diri. Yang menjadi masalah Fila sepertinya juga menyerap energi sihirnya. Laila, jangan sekalipun menyentuh pasir besi ini."


Tanpa pikir panjang Laila menuruti perkataan Kuro. Sayangnya, rasa penasaran membuatnya sedikit mendekatkan ujung kakinya pada pasir besi yang terdekat.


"Laila..."


"Aku tahu. Maaf."


Keduanya lalu menjaga jarak dari tempat itu untuk segera menyusun strategi.


"Ini semakin buruk saja."


Di saat mereka menjauh, pasir pasir besi yang tak berbentuk kini mulai membentuk sesuatu di atas langit. Di saat yang sama energi sihir yang terkumpul semakin kuat dan besar.


"Laila untuk sekarang cobalah serang pasir pasir besi itu. Kita akan mencoba melihat reaksinya."


Laila mengangguk di saat yang sama dia menyerang dengan bola api, tombak api dan tak lupa Scarflare yang dia kendalikan seperti peluru.


Hasil semua serangan itu cukup mengejutkan. Semuanya berhasil ditahan dengan mudah dan sama sekali tak memberikan dampak berarti.


"Apa apaan itu? Yah jika aku serius aku bisa menembusnya, tetapi..."


"Energi sihirmu masih belum pulih setelah pertarungan tadi. Sebaiknya kau simpan untuk lainnya saja."


Tanpa berkata lebih lanjut, mereka saling mengerti. Saat ini bukan hanya masalah Fila saja yang harus mereka pikirkan.


Di sekitar mereka ada dua pasang peserta, tidak. Lebih tepatnya tiga pasang peserta.


Salah satu pasangan adalah Geze dan Airs. Untuk dua lainnya masih belum diketahui. Hanya saja bisa ditebak salah satu dari mereka adalah penyerang yang menyerang Kuro tadi.


(Prioritas kita saat ini adalah menghentikan amukan Fila. Tak ada masalah kan?)


(Tidak. Tapi bagaimana?)


Keduanya memutuskan untuk menggunakan telepati. Meskipun tak bisa menggunakan sihir, tapi Kuro bisa menggunakan teknik ini berkat beberapa Authority yang telah bangkit. Lalu hubungan keduanya yang begitu dekat membuat teknik ini mudah dilakukan.


(Apa kau lupa siapa aku? Dulu hal seperti ini juga sering terjadi kepadamu kan?)


Laila langsung bernostalgia saat mengingat masa lalunya sebagai Alice.


Dulu ada kejadian di mana kekuatan sihirnya tak bisa dikendalikan sehingga membuat masalah di sekitarnya.


(Oh.. itu adalah hari di mana kau memperkosaku. Jangan bilang kau juga akan melakukannya pada Fila?)


(Saat itu aku tak punya pilihan lain. Aku harus memberikan energi kehidupanku secara langsung padamu. Itu adalah cara yang tercepat)


Laila mendesah.


Saat mengingat itu entah mengapa dia jengkel. Tapi itu adalah awal dari hubungan keduanya, jadi itu bukan masalah sekarang.


(Untuk kasus Fila aku tak perlu melakukan hal sejauh itu. Hanya saja aku butuh membuat kontak langsung dengan tubuhnya. Sayangnya saat seperti itu aku tak memiliki pertahanan)


Dengan kata lain apa yang dilakukan Kuro memerlukan konsentrasi yang besar. Bahkan orang seperti dia tak bisa melakukan semuanya dengan mudah.


"Jadi tugasku adalah menjauhkan mereka darimu." Laila tersenyum lebar. "Sebaiknya kau memanjakanku setelah semua ini berakhir."


Kuro tak menjawab. Tapi dia tersenyum lebar sebagai ganti jawaban 'tentu saja'.


"Aku pergi."


Kuro menarik pedang hitam dari sarungnya dan melesat ke arah hutan pasir besi.


💠💠💠


Melihat Kuro pergi, Laila bersiap dengan apa yang harus dia lakukan. Pertama dia memanggil 10 Scarflare dan menggunakan Re;Break untuk mengembalikan energi sihirnya yang telah berkurang.


Sekilas Re;Break membuatnya memiliki energi sihir tak terbatas, tapi pada kenyataannya tidak. Ada batas jumlah Scarflare yang bisa dia panggil dalam satu hari. Jika dia menggunakan semua Scarflare itu dia akan kehilangan senjata dan seluruh energi sihirnya.


Meskipun ada kelemahan seperti itu, tetapi ada waktu di mana kekuatannya kembali secara penuh seperti sebuah reset. Itulah kekuatan curang Laila yang sebenarnya.


Setelah energi sihirnya pulih Laila menggunakan sihir pendeteksi untuk menemukan para peserta yang bersembunyi.


Geze dan Airs bisa dikatakan tak bersembunyi. Bahkan Laila bisa melihat dengan mata langsung. Entah apa yang mereka rencanakan, tetapi sejauh ini mereka hanya melihat saja.


Laila akhirnya fokus pada 4 orang lainnya yang masih bersembunyi.


Dia menemukan mereka. Tampaknya mereka mengenakan sebuah pakaian khusus sehingga energi sihir mereka sulit terlacak, tetapi sihir pelacak Laila tak hanya mengandalkan itu saja. Dia juga melakukan pelacakan melalui suhu tubuh lawannya.


Di tempat yang dingin seperti pulau Avalon ini, perbedaan suhu tubuh bisa terlihat dengan jelas.


"Scarflare Cannon."


Sekali lagi Laila memanggil Scarflare dan mengubahnya menjadi meriam besar. Dia tanpa ragu mengarahkannya ke langit dan menembakkan sebuah bola api besar.


Bola itu tak terlalu cepat, bahkan bisa dibilang lambat untuk sebuah serangan. Tapi itu tak masalah.


"Bullet Break!!"


Bola api meledak di udara menjadi empat bagian yang terpisah. Bagian bagian itu kemudian melesat ke arah berbeda menyerupai peluru kendali.


Ledakan keras terjadi di berbagai arah. Kemudian pengumuman terdengar menjadi tanda kemenangan Laila.


[Bram Bang dari Rairyuu Academy tak bisa melanjutkan pertarungan]


[Watue Gore dari Rairyuu Academy tak bisa melanjutkan pertarungan]


"Dua lagi."


Laila bersiap dengan target selanjutnya, tapi dia kehilangan hawa keberadaan mereka.

__ADS_1


(Ini aneh)


Serangan Laila mungkin terlihat pelan, tapi kekuatan penghancurnya cukup dahsyat untuk menembus sihir pertahanan penyihir berperingkat Master, murid sekolah sihir tak akan sanggup bertahan kecuali memiliki sihir khusus.


Inilah alasan kenapa dia dengan mudahnya mengalahkan peserta dari Rairyuu Academy, tapi entah mengapa dia merasakan sesuatu yang berbeda pada dua lainnya.


Saat sedang fokus dengan musuh yang tiba tiba menghilang, insting Laila berteriak dalam bahaya. Tanpa pikir panjang dia menghindar menjauh dari tempatnya berdiri.


Ledakan keras terjadi di tempatnya semula, tapi ledakan itu bukan berasal dari serangan sihir, tapi dari sosok salah satu peserta.


"Geze!!"


Sosok itu tak lain adalah orang yang menjadi lawan Fila sebelumnya. Seorang yang mendapatkan salah satu peringkat terbaik dalam Battle War sebelumnya.


"..."


Sekali lagi perasaan aneh muncul di benak Laila. Dia memang belum pernah bertemu dengan Geze secara langsung, tapi setelah melakukan beberapa penelitian tentangnya, dia tahu kalau sosok Geze di depannya ini sangatlah berbeda.


Sosok yang dia hadapi saat ini terlihat dingin dan tanpa emosi. Bahkan dia seperti sebuah boneka yang tak memiliki niat sendiri.


Geze menyerang. Hanya gerakan cepat dengan cara menghantamkan bahunya seperti sebuah buldoser. Laila berhasil menghindar, tetapi keseimbangannya terganggu oleh gelombang kejut dari tubuh Geze yang begitu cepat.


(Akan gawat jika aku terkena langsung)


Dalam hal kekuatan serangan Geze tidaklah seberapa. Justru yang membuatnya menakutkan adalah sihir yang membuat serangan apapun tak mempan pada tubuh Geze.


Meskipun begitu, Laila tetap mencoba menyerang dengan menembakkan salah satu Scarflare yang dia panggil. Hasilnya lebih mengejutkan daripada yang dia perkirakan.


Sesaat sebelum menyentuh tubuh Geze, Scarflare hancur menjadi debu oleh sebuah dinding yang tak terlihat.


Geze lalu berbelok dengan kecepatan tinggi dan sekali lagi mengincar Laila dari depan. Tanpa tipuan, tanpa ada teknik khusus. Hanya hantaman.


Meskipun begitu Laila hanya bisa terus menghindar dan menjaga jarak darinya.


"Kuh...!!"


(Ini lebih merepotkan daripada yang kuduga)


Dalam hati Laila harus mengakui kalau peserta yang mendapatkan peringkat terbaik memang berbeda.


Laila memutuskan untuk mengganti taktiknya.


(Meskipun seranganku tak mempan, bukan hanya itu saja cara untuk mengalahkan lawan)


Laila diam dia memanggil Scarflare dari dalam tanah dan menyerang Geze dari titik buta. Tapi serangan Laila sama sekali tak berguna.


"Tch!!!"


Laila menghindar dengan melompat dan sekaligus mengaktifkan sihir terbangnya. Sayap sayap bilah pedang muncul di punggungnya. Untuk sekarang dia harus menjaga jarak.


Dia sudah berpengalaman melawan orang orang dengan kekuatan abnormal, tetapi kekuatan Geze bisa dibilang salah satu yang tak normal di antara tak normal.


Ini lebih tepat jika disebut sebagai kekuatan curang.


Saat memikirkan rencana untuk serangan balik, dia dikejutkan oleh sosok Geze yang berada tak dimanapun.


"!?"


"Sial!!"


Laila terkena serangan telak dan melesat ke daratan bagaikan sebuah peluru. Meskipun begitu, Doll miliknya sama sekali tak memiliki kerusakan berarti.


(Jika terlambat sedikit saja akan gawat)


Sebelum serangan Geze menghantam tubuhnya, Laila memusatkan sihir pertahanannya ke tempat yang akan dihantam Geze. Jika dia terlambat sedikit saja, Doll miliknya pasti sudah hancur dan dia akan tersingkir.


Sadar kekuatan lawan yang melebihi ekspektasinya, sekali lagi Laila harus memikirkan kembali bagaimana cara menghadapi Geze.


Anehnya, meskipun dia dalam kondisi tak diuntungkan, dia tersenyum lebar.


"Kekuatan lawan kekuatan. Pertahanan lawan pertahanan."


Dalam segi pertahanan tak diragukan lagi Geze lebih unggul, tetapi bukan berarti Laila lebih unggul dalam kekuatan. Selama ini dia berhasil mengalahkan lawannya karena menggunakan trik yang dia miliki.


Ini lebih cepat daripada yang Laila perkirakan, tapi dia tak punya pilihan. Dia harus menggunakan salah satu trik (kekuatan) yang dia simpan.


Dia kembali memanggil 10 Scarflare.


"Reconstruction!!"


Scarflare Scarflare itu hancur seperti sebuah kaca pecah dan perlahan menyatu ke tubuh Laila membentuk sesuatu yang baru. Sebuah pelindung tangan, dada, kaki dan kepala. Tak lupa sebuah Scarflare di tangannya. Tetapi berbeda dengan Scarflare yang biasa, Scarflare itu berwarna biru dengan aura api biru yang keluar dari bilah pedangnya.


Siapapun yang melihat sosok Laila saat ini akan memikirkan hal yang sama. Dia adalah dewi perang.


"Sword Flame Maiden Mode!!!"


💠💠💠💠


[Wow... Akhirnya muncul juga. Kekuatan yang ditunjukkan Laila pada saat Tribal kini telah muncul!!! Tuan putri, menurutmu apakah dengan itu dia bisa menembus pertahanan Geze?]


{Aku tak bisa menebak akhir pertarungan keduanya. Geze adalah salah satu penyihir dengan pertahanan terkuat di kekaisaran. Ini tak akan mudah bagi Laila}


[Apakah sekuat itu hingga pihak kekaisaran mengakuinya?]


{Ya. Sekuat itulah pertahanannya. Hanya saja sebagai ganti pertahanan itu dia mengabaikan hal lain yang biasanya dimiliki oleh seorang penyihir. Kekuatan serangan sihir, kecepatan, kemampuan untuk memanggil nama sihir. Semua itu dia korbankan hanya demi pertahanan}


[...]


{Benar. Geze adalah seorang yang mendapatkan satu hal dengan mengorbankan semua hal yang dia miliki. Mungkin sekilas dia terlihat seperti orang bodoh yang tak memiliki otak, tapi semua di sini menjadi saksi kalau pengorbanan yang dia lakukan tidaklah sia sia}


Menjadi salah satu penyihir terbaik yang diakui oleh kekaisaran. Entah suatu saat dia akan menjadi apa, tapi hasil yang dia peroleh dengan mengorbankan segalanya membuahkan hasil yang melimpah.


Sebagai tuan putri, Norn menganggap kehadiran penyihir seperti Geze cukup membuatnya berpikir masa depan kekaisaran akan menjadi lebih baik.


Sayangnya di dunia ini pertahanan bukanlah segalanya. Jika Geze ingin terus berada di puncak, dia harus mengubah pemikiran dan jalannya.


{Sementara itu, Laila adalah penyihir yang berkebalikan dengan Geze. Dia memiliki banyak potensi dalam semua hal. Teknik pedang, kecepatan, kekuatan serangan, pertahanan, magic arm yang spesial dan banyak potensi yang masih belum terlihat darinya. Tak aneh jika suatu hari nanti dia akan menjadi Paladin}


[Aku bisa melihatnya. Kekuatan dan kecepatannya berbeda dengan sebelumnya. Dia bahkan sanggup menerima serangan langsung dari Geze. Ah.. entah mengapa salju yang berada di sekitar keduanya meleleh. Seberapa besar panas yang dikeluarkan Laila?]


{Melihat sosok Laila saat ini mengingatkan kita pada istri paman Leon. Sampai sekarang tak ada yang bisa menggunakan api biru, tapi kini putrinya mewarisi kekuatan yang menjadi simbolnya.}

__ADS_1


[Meskipun begitu serangan Laila tampaknya masih belum begitu efektif. Geze tak menunjukkan kemunduran.]


{Apakah kau berpikir seperti itu setelah melihat itu?}


Norn menunjuk ke arah Doll. Di sana terlihat jelas kalau Doll milik Geze mengalami kerusakan di beberapa tempat.


[Itu kan...?]


{Serangan Laila mungkin sekilas tak memberikan dampak, tetapi itu karena saat ini Geze tak merasakan sakit. Doll yang mengalami kerusakan menjadi sebuah bukti kalau perlahan tapi pasti Laila akan mengalahkannya}


[Jadi sudah bisa terlihat kalau Laila akan menjadi pemenang?]


{Aku tak akan berpikir senaif itu. Bagaimana pun juga para peserta Battle War adalah orang orang terpilih. Jika hanya menunjukkan pertarungan seperti ini, dia tak akan pantas berada di panggung Battle War}


Seolah perkataan putri Norn sebuah ramalan, tiba tiba Geze meraung keras yang membuat tubuh Laila terpental mundur.


"Rhino!!!"


Untuk pertama kalinya, Geze memanggil nama sihirnya.


💠💠💠💠


Setelah berpisah dengan Laila, Kuro memasuki hutan pasir besi yang mulai bertambah besar. Dengan matanya dia bisa melihat kalau tak hanya energi sihir Fila saja yang ada dalam pasir besi itu, tapi juga energi sihir Charlmilia. Lalu ada juga energi sihir dari pulau Avalon yang membuat penyebaran pasir besi semakin cepat melebar.


Sekilas dia menyerap energi sihir sekitar dengan tujuan untuk memperkuat sihirnya, tapi mata Kuro bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Di pusat hutan pasir pasir besi itu energi berkumpul pada satu titik dan terus membesar. Kejadian ini mirip dengan proses pembangkitan Maria beberapa saat lalu di ibukota.


Tetapi ini sungguh aneh. Fila adalah manusia biasa yang masih hidup. Dia tak memiliki sesuatu yang spesial sehingga harus dibangkitkan.


---Tidak, bagaimana jika dia punya?


Entah apa yang ingin Fila bangkitkan, tapi dia tak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut.


"Tentu saja mereka akan menghalangi kah..."


Pasir pasir besi mulai menyerangnya dengan bertransformasi menjadi tombak dari semua arah. Kadang anak panah dan peluru pasir besi. Ada pula serangan yang dipenuhi oleh aliran listrik.


Bagi Kuro semua serangan itu begitu mudah. Kecepatan yang digabungkan dengan teknik akselerasi membuat tak ada yang sanggup mengalahkannya dalam hal kecepatan.


Tetapi pemikiran Kuro terlalu naif. Menghindar saja tidaklah cukup. Pasir pasir besi yang dia potong dengan pedangnya kembali menyatu dengan lainnya dan akhirnya kembali seperti semula.


Jika seperti ini tak akan ada habisnya. Dia akan kehilangan tenaganya sebelum dia mencapai Fila.


"Tak ada pilihan lain.."


Dia menggunakan teknik Magic Slayer. Sebuah teknik yang selama ini dia gunakan untuk memotong sihir dengan memanipulasi aliran ki pada pedangnya.


Sambil terus maju, dia memotong pasir besi yang menghalangi. Awalnya itu berjalan mudah, pasir pasir besi yang dia potong tak kembali seperti semula. Tetapi saat dia menebas salah satu pasir besi yang berwujud pedang, pedangnya memantul seperti menebas benda terkeras di dunia.


"..."


Ini aneh. Pedang itu tak terbuat dari logam sihir seperti orichalcum atau mithril, tapi pedang itu memiliki kekuatan yang luar biasa.


Kuro menggunakan kekuatan matanya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dan setelah mengetahui kebenarannya, dia hanya bisa tertawa kecil.


"Kenapa tak ada orang normal di sekitarku?"


Alasan kenapa pedang itu sangat keras bukanlah sebuah misteri yang sulit. Setiap pedang dipenuhi oleh energi sihir yang besar, tetapi tak hanya itu saja. Setiap pedang terbuat dari pasir besi yang terpilih.


Tentu dengan semua itu saja normalnya tak cukup untuk membuat pedang yang mampu menahan serangannya, tetapi ketika berbicara tentang Fila, maka tak ada yang aneh tentang hal ini.


Pasir besi membentuk puluhan pedang yang sama dan menyerang Kuro tanpa ampun. Cepat, tapi Kuro lebih cepat. Dia melompat ke atas dan untuk kesekian kalinya dia menarik pedang putih dari sarungnya.


"Secret Blade Art, Black Gale!!!"


Kuro berputar di udara dan menembakkan badai kegelapan dari pedang putihnya.


Pasir pasir besi yang menerima serangan Kuro menghilang tanpa sisa seolah tak pernah ada sebelumnya.


Mungkin ini sedikit berlebihan karena menggunakan kekuatan kegelapan hanya untuk menyingkirkan pasir besi, tapi dia tak punya pilihan lain karena dia terburu oleh waktu.


Setelah dia mendarat, dia kembali maju dan menerjang dengan kekuatan kegelapan. Pasir pasir besi yang menyerang tak ada apa apanya di mata Kuro.


Kemudian, setelah beberapa saat, akhirnya dia tiba di pusat hutan itu.


"..."


Di sana Kuro dikejutkan oleh pemandangan yang berada di luar pemikirannya.


Sebuah kotak kubus hitam melayang di tengah hutan. Dan dari dalam kubus itu dia bisa merasakan hawa keberadaan seseorang.


Awalnya Kuro menduga kalau itu adalah Charmilia, tapi setelah melihat ke sekeliling, dia menemukan sosok Charmilia. Hanya saja dia tak sadarkan diri dengan tubuh yang terlilit oleh tentakel pasir besi.


Charmilia masih hidup, hanya saja energi sihirnya melemah hingga hampir tak terasa.


Jika bisa Kuro ingin segera menyelamatkan Charmilia, tapi tak ada yang bisa bersembunyi dari mata Kuro.


"Selamat datang, Kuro. Sudah aku duga kau adalah orang yang bisa sampai ke tempat ini."


Seorang gadis dengan rambut hijau muncul dari balik pohon pasir besi.


Wajahnya dan kecantikannya tak mungkin orang lain selain Fila. Hanya saja berbeda dengan Fila yang biasanya, sosok Fila kali ini mengeluarkan aura hitam dan memiliki senyuman jahat.


Kuro tanpa ragu menghunuskan dua pedangnya ke arah sosok itu.


"Katakan, siapa kau sebenarnya?"


"Fu.."


Senyuman itu tak diragukan lagi milik Fila, tapi mata Kuro tak bisa ditipu. Sosok itu tak lebih dari makhluk sihir menyerupai Fila.


"Memang aku tak bisa menipumu huh. Yah.. ini bukan suatu yang aneh mengingat siapa dirimu."


Kuro menyerang. Dia menebas Fila dengan kecepatan tinggi di berbagai titik vital seperti kepala, dada, dan kaki. Tetapi semua itu berhasil ditahan oleh Fila dengan pedang pasir hitam yang entah muncul dari mana.


Tidak. Serangan Kuro banyak yang berhasil ditahan, tetapi Kuro bisa merasakan ada beberapa serangan yang menyentuh tubuh Fila. Hanya saja Kuro tak seperti menebas daging manusia, tapi benda keras seperti logam.


Kuro kemudian menjaga jarak dengan posisi waspada.


"Kau..."

__ADS_1


"Ya. Kau benar. Aku adalah Pandora."


__ADS_2