
Di tempat lain, kejadian serupa terjadi. Kuro, Laila dan Lic saat ini dikepung oleh ratusan sosok berjubah yang mengelilingi mereka. Aura kemerahan terpancar dari seluruh tubuh Laila karena dia menggunakan sihir pertahanan dengan kekuatan penuh.
Dia melakukannya setelah diberi tahu Kuro mengenai kelopak bunga yang menghujani seluruh kota adalah sebuah sihir yang membuat orang tak sadarkan diri.
Lic tak terpengaruh karena sejak awal dia bukanlah manusia, sedangkan tak ada yang tahu pasti kenapa Kuro tak terpengaruh.
"Laila."
Laila mengangguk dan langsung memunculkan Scarflare di tangannya dan di tangan Kuro. Ini adalah rencana B yang mereka lakukan selama Kuro masih belum memiliki pengganti Lic.
"Lic, jangan kawatir. Kami akan melindungimu."
Keduanya langsung berdiri di depan Lic dan bersiap melindunginya.
Sosok berjubah langsung menyerang di saat hampir bersamaan dengan senjata di tangan mereka.
Mereka cepat, tapi Laila dan Kuro lebih cepat. Keduanya dapat menebas lawan mereka dengan mudah menjadi beberapa bagian. Jika dibandingkan lawan mereka saat di Dragonia, mereka lebih lemah dan mudah dikalahkan. Hanya saja jumlah mereka yang banyak membuat mereka kewalahan.
"Laila."
"Aku tahu, mereka bukanlah manusia. Mereka adalah boneka."
Selain tak ada darah, potongan tubuh mereka yang berserakan menunjukkan mereka terbuat dari kayu yang dibentuk menyerupai mirip manusia.
Tapi berkat itu mereka tahu tak perlu menahan diri lagi.
Api berkobar dengan hebat dari Scarflare yang berada di tangan Laila. Tekanan mana Laila disaat yang sama meningkat.
Laila langsung saja menancapkan Scarflareke tanah dan api langsung menyebar ke dalam tanah.
"[Scar Blast]"
Api langsung menyebar ke segala arah dan membakar semua musuh yang mendekat hingga menjadi arang.
"Hey, lihat lihat dulu kalau menggunakan serangan semacam itu."
Kuro berada di udara dengan membawa Lic di pelukannya.
"Papa bajumu terbakar."
Kuro melirik ke pakaiannya. Seperti yang dikatakan Lic, memang ada bagian yang terbakar.
Kuro langsung mendarat dan mematikan api yang membakar bajunya.
"Apa kau sengaja melakukannya?"
"Entahlah... Apa yang kau bicarakan?"
Laila melirik ke arah lain seperti menghindari sesuatu.
Kuro mendesah berat, di saat yang sama musuh kembali mengepung mereka dengan jumlah yang lebih banyak.
"Mereka sungguh tak tahu kapan harus menyerah, tapi-"
"Jika kita tak menemukan pengendali mereka, maka ini tak akan berakhir."
Tapi itu tak mudah. Mereka hanya bisa melihat boneka dan bukan pengendali mereka. Selain itu ada kemungkinan kalau boneka itu dikendalikan dari jarak yang cukup jauh.
Keduanya saling memunggungi dan secara bersamaan melindungi Lic. Mereka berdua tahu tak ada alasan untuk mengicar mereka berdua, jadi mereka tahu siapa target musuh mereka kali ini.
Lic hanya bisa melihat kedua punggung orang yang telah melindunginya. Mereka berdua bekerja sama dengan baik meskipun mereka sering tak akur.
Pertarungan semakin sengit dan bongkahan boneka semakin menumpuk seperti sampah. Meskipun lemah, tapi musuh seperti tak mau menyerah.
"......."
Laila sudah kelelahan dan nafasnya terengah engah. Aura yang menyelimutinya juga semakin menipis. Itu adalah pertanda Laila mulai kehabisan tenaga.
Berbeda dengan Laila, Kuro masih terlihat bugar dan masih bisa bertarung, tapi bukan berarti dia tak menyadari situasinya sekarang.
"Laila, bersiaplah untuk pergi dari sini."
Laila mengangguk dan mendekat ke arah Lic dan langsung memeluknya.
Kuro bersiap dengan kuda kudanya dan menghunuskan pedangnya.
"Accell Blade Art, Tornado Slash"
Tornado dengan kecepatan tinggi muncul dan menebas semua boneka kayu dalam radius 20 meter. Setelah tornado menghilang, yang tersisa hanyalah boneka kayu yang berjatuhan ke tanah. Kuro, Laila dan Lic menghilang tanpa jejak dan hanya menyisakan kekacauan.
Tak berapa lama kemudian sebuah sosok muncul di atap. Dua sosok lainnya muncul dari arah yang berbeda.
"Dia lebih kuat daripada yang kita kira."
"..bagaimana dia tak terpengaruh sihirmu?"
Dari suara yang terdengar, keduanya adalah perempuan.
"Itu tak penting. Meskipun dia tak terpengaruh, tapi orang lain tentu tak seperti dirinya. Cepat atau lambat kita akan mendapatkan yang kita inginkan."
Ketiganya hanya terdiam, tapi mereka menunjukkan aura yang sama.
Sementara itu di asrama sekolah, Charlmilia dengan rambut panjangnya berjalan di lorong sekolah. Banyak potongan kayu yang berserakan dan hancur menjadi potongan kecil.
Byakko berlari di belakangnya dengan mulut penuh dengan potongan kayu.
".......siapapun yang melakukan ini pasti sudah bosan hidup."
Tatapan haus darah yang tak pernah terlihat kini muncul di wajah Charlmilia. Wajahnya yang selama ini dia tunjukan seolah hanya ilusi belaka.
Tiba tiba Charlmilia berhenti.
"Sudah kuduga kalian akan baik baik saja Knox, Jinn."
Mereka berdua muncul dari balik bayangan. Mereka compang camping, tapi yang jelas mereka baik baik saja.
Mereka terkejut saat melihat tatapan Charlmilia.
"Akhirnya kau menunjukkan sosokmu yang sebenarnya kah..."
"Tidak. Sejak awal inilah sosokku yang sebenarnya, hanya saja saat ini aku sedang marah. Kau pasti tahu sihir ini."
"Ya begitulah. Mereka benar benar keterlaluan kali ini."
Charlmilia lalu meneruskan perjalanannya. Keduanya mengikuti dari belakang.
"Kalian punya pemikiran yang sama denganku? Kurasa aku tak perlu menanyakan hal yang sudah jelas, benarkan?"
Jinn dan Knox hanya tersenyum kecil.
Ketiganya berjalan bersama dengan aura yang dipenuhi kebencian. Pengalaman mereka dalam pertempuran di Dragonia telah mengajari mereka kalau mereka harus segera bertindak.
Tapi bukan berarti mereka akan bertarung dengan penuh kebencian, tapi mereka tak bisa memaafkan pengecut yang hanya bisa menusuk dari belakang dan memanfaatkan orang tak bersalah.
Tanpa mereka berdua ketahui, dua sosok lainnya melihat mereka bertiga dari pojok lorong.
"..............."
"..............."
Keduanya mengangguk bersamaan tanda memikirkan hal yang sama. Dan mereka juga tahu apa yang harus mereka lakukan.
Mereka berdua meminimalkan tekanan mana mereka hingga batas terkecil. Setelah itu mereka keluar dari lorong asrama sekolah menuju tengah kota Areshia. Menuju tempat yang mungkin akan menjadi medan pertempuran.
-----
Kota Areshia menjadi sunyi, tapi suara pertempuran terdengar di berbagai sudut kota. Ledakan besar kadang terjadi dan itu merupakan tanda pertarungan sengit terjadi di tempat itu.
"Byakko, terkam mereka!"
Byakko menyerang boneka dengan taringnya yang besar dan menghancurkan semua boneka yang berusaha menyerang mereka bertiga.
Knox dan Jinn hanya membantunya dengan menggunakan serangan sederhana dan serangan yang tak terlalu mematikan, tapi itu sudah cukup untuk menghabisi boneka yang terbuat dari kayu itu.
Jumlah yang banyak cukup membuat mereka kerepotan, tapi tak butuh waktu lama hingga mereka bertiga menghancurkan mereka menjadi puing.
__ADS_1
"Fuhhh... kurasa kita sudah cukup memberikan mereka pelajaran."
Melihat tempat pertempuran yang kini berantakan dan hampir hancur total, kelegaan Charlmilia terdengar kurang tepat.
Byakko mendekat dan dia langsung menaikinya. Dia mengelus kepala Magic Beast miliknya seperti mengelus binatang peliharaan.
"Kita akan mendapat omelan, tapi kurasa bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal itu."
"Sebaiknya kita memikirkan cara membunuh mereka. Aku pikir kita sebaiknya memutilasi mereka saja. Kalian berdua setujukan?"
"......"
"....."
Mereka tak langsung menjawab dan justru berkeringat dingin.
"Kami lebih penasaran apa yang kau pikirkan saat ini, dan jujur saja saat ini kau membuat kami takut."
Keduanya tak ingin penyihir SSS mengamuk dengan menggunakan Byakko. Mereka tahu Charlmilia lebih merepotkan daripada musuh mereka.
"Knox, kenapa takut. Aku hanya sedang marah karena sebuah alasan pribadi. Apa aku harus memberi tahu kalian alasannya?"
"...tidak, terima kasih. Tapi kurasa Jinn ingin mendengarnya."
Charmilia langsung menoleh ke arah Jinn yang sedang memeriksa boneka kayu yang telah hancur. Dengan senyuman yang menakutkan.
"........aku juga tidak. Sebaiknya kami tak mendengarnya."
"Aha ha. Syukurlah... jika mendengarnya, kurasa aku juga akan membiarkan Byakko mencabik cabik kalian berdua."
"......."
"......."
Keduanya sadar, siapapun yang menjadi dalang dari semua ini, sebaiknya lari jika bertemu dengan Charmilia. Tapi disaat yang sama mungkin bukan ide yang bagus bekerja sama dengan Charlmilia yang sekarang ini.
Knox mencoba untuk tetap tenang dan mengamati situasi di sekitar mereka.
(Musuh menyerang menggunakan boneka kayu. Dari serangan yang terlihat, tampaknya boneka dikendalikan secara otomatis dan diprogram agar menyerang siapapun yang lolos dari sihir penidur mereka.)
Knox tahu Jinn dan Charmilia pasti mempunyai tebakan yang sama dengan dirinya.
(Yang menjadi masalahnya adalah saat ini adalah apa tujuan dan siapa musuh kami sebenarnya? ....mungkinkah Liberia?)
Saat sedang memikirkan itu, Knox langsung dikejutkan oleh sebuah tanda yang terdapat di bagian kayu yang hancur.
Knox langsung saja mengambil bagian itu dan melihatnya lebih dekat. Charlmilia dan Jinn mendekat karena tahu Knox telah menemukan sesuatu.
"Lingkaran sihir?" tanya Jinn.
"Lebih tepatnya semacam formula sihir. Charlmilia, kau tahu sihir ini?"
"Tidak, tapi aku tak peduli dan cepat gunakan kemampuanmu untuk menemukan mereka sehingga aku dapat menghancurkan mereka."
Knox salah bertanya kepada Charlmilia. Dia menyesalinya.
"Sayang sekali aku tak mau melakukan itu. Kau pasti tahu seberapa luas kota ini?"
"Tch.. dasar tak berguna."
"Selain itu bukankah aneh jika musuh ingin menyerang kita, seharusnya mereka menunjukkan sosok mereka saat ini, tapi-"
"Mereka tak melakukannya dan justru membiarkan kita menghancurkan boneka mereka." lanjut Jinn.
"Ya. Sihir ini aku pernah membacanya. Itu adalah sihir Million Doll. Dengan menggunakan sebuah formula sihir ke sebuah boneka, boneka itu akan mengontrol boneka lainnya seperti jaring laba laba yang saling terhubung. Karena itulah kita mudah mengalahkan mereka. Bukan sihir yang sulit, bahkan aku bisa melakukannya. Yang menjadi masalah untuk membuat boneka sebanyak ini, dibutuhkan waktu berbulan bulan dan persiapan yang matang. Tentu saja jumlah mana yang luar biasa."
"Dengan kata lain kau ingin mengatakan serangan ini sudah mereka rencanakan sebelumnya?"
"Bisa jadi seperti itu, tapi kita masih belum tahu betul tujuan musuh. Serangan semacam ini bukanlah serangan yang bertujuan untuk membunuh seperti di Drago- maaf, aku tak ingin mengingatkanmu."
Jinn langsung terlihat murung. Dia memiliki kenangan yang buruk di Dragonia. Hal itu pula yang kini mengubah cara berpikirnya. Butuh waktu lama hingga Jinn kembali seperti biasanya.
"Tidak apa apa. Aku sudah mulai terbiasa."
"Tapi kita menghabisi semuanya dalam sekejap. Kuharap musuh akan segera datang... fu fufu..."
"Tenanglah, kita juga belum tahu kekuatan musuh. Akan berbahaya jika kita salah bertindak. Kau seharusnya lebih tahu daripada aku, Charl.."
"Tidak. Akan kutunjukkan kalau aku lebih berbahaya."
Aura menakutkan dan wajah menyeramkan ditampilkan Charlmilia. Dia menggertakkan giginya dan mengepalakan tangannya dengan keras. Mata Byakko juga menunjukkan kemarahan mengikuti amarah tuannya.
"Akan kubalas mereka. Mereka tak tahu seberapa keras dan berapa banyak kegagalan yang kualami untuk membuat kue itu."
"........."
"........"
Jinn dan Knox akhirnya mengetahui alasan kenapa gadis itu marah besar.
Setelah pulang dari Dragonia dia mengubah penampilannya seperti gadis normal lainnya. Tentu kecantikannya telah merebut banyak pria, tapi dia buruk dalam hal memasak. Sama seperti Laila.
Dan saat mengetahui Charlmilia berhasil memasak untuk pertama kalinya. Tentu keduanya ikut senang.
Entah kenapa mereka berdua sekarang bisa mengerti alasan kenapa Charlmilia marah. Membiarkan Charlmilia mengamuk mungkin pilihan yang tepat untuk mereka.
Sementara itu, Kuro, Laila dan Lic berada di ruang yang gelap. Mereka saat ini berada di suatu tempat di bawah tanah kota Areshia.
"Aku tak percaya kota ini memiliki tempat seperti ini."
Dengan menyalakan api kecil di sebuah kayu, mereka bisa melihat daerah sekitar mereka.
"Ini adalah jalur bawah tanah untuk mengirim barang secara rahasia pada saat perang. Tempat ini tak tercatat di buku manapun, jadi kita bisa aman untuk sementara waktu."
Laila mendesah dan duduk di sebuah batu yang cukup besar. Lic langsung duduk di dekatnya. Hal yang sama dilakukan Kuro setelah meletakkan obor di dinding.
"Seperti biasa kau selalu tahu tempat seperti ini. Mungkinkah ini karena kau dulu Shadow Knight?"
"Kau membuatku mengenang masa lalu. Memang benar sebagai Shadow Knight kami diwajibkan mengetahui tempat seperti ini. Kau pasti tahu pekerjaan kami adalah untuk mengumpulkan informasi, dan informasi lebih berharga daripada uang. Kadang kami harus melewati tempat seperti ini agar bisa menghindari musuh dan tentu saja untuk menghemat waktu."
"Kau memang hebat ha .. hh.. ha."
Laila terlihat kelelahan dan nafasnya terengah engah.
"Jangan banyak bicara. Sebaiknya kau beristirahat agar kau cepat pulih."
"..aku mengerti, tapi..."
Laila menatap Lic yang tak jauh darinya. Wajah polos Lic sedikit membuat Laila lebih baik, tapi jika mengingat musuh mereka mengincar Lic, entah mengapa Laila tak sabar untuk membunuh mereka.
"Mereka menginginkan aku, benarkan Papa, Mama?"
"Ya." Jawab Kuro. "Tapi tenang saja, kami tak akan membiarkan mereka merebutmu apapun yang terjadi."
"Apa yang dikatakan Kuro benar, kami tak akan membiarkan hal itu. Serahkan semuanya kepada Mama dan Papa."
Laila memegang pundak Lic dan berkata:
"Kau mungkin berpikir kenapa kami melakukan semua ini, tapi satu hal yang harus kau ketahui, kami menyayangimu. Tak peduli apakah kau Holy Arm atau roh yang merasuki pedang Kuro. Sekarang sera-"
"?!"
"Lic, ada apa?"
"Tidak, hanya saja aku juga menyayangi Papa dan Mama."
Laila tersenyum senang dan langsung memeluk Lic untuk waktu yang cukup lama. Kuro hanya tersenyum melihat pemandangan mengharukan itu.
"Kalau begitu, bolehkah aku ikut bertarung bersam-"
"Tidak boleh."
Tak diduga, yang memotong adalah Kuro.
"Papa?"
__ADS_1
"Aku bisa menebak apa yang kau pikirkan saat ini, tapi aku, kami tak akan mengizinkannya. Tanpamu mungkin aku lebih lemah, tapi bukan berarti aku tak bisa bertarung."
"Selain itu mungkin itu adalah yang diinginkan musuh, karena itulah kami tak mengizinkanmu bertarung apapun yang terjadi."
"......"
"Bisakah kau berjanji tak akan menanyakan hal itu lagi?"
"......ya, aku berjanji."
Laila kemudian tersenyum kecil. Kuro juga menunjukkan ekspresi yang sama.
"Kau menjadi lebih dewasa, Lic. Syukurlah ka- cough...cough..."
"Laila, kau baik baik saja?"
"....tidak apa apa. Aku hanya batuk kecil."
Kuro tak tinggal diam dan melihat ke sekeliling sekali lagi. Dengan matanya yang terbiasa dalam gelap dan lebih tajam dari manusia bahkan penyihir, Kuro menemukan sumber mata air kecil yang berada tak jauh dari mereka.
Kuro mendekat lalu memeriksa air itu bisa diminum atau tidak. Setelah memastikan aman diminum, dengan menggunakan tangannya dia membawa air kepada Laila.
"Minumah. Kau akan lebih baik."
Laila langsung meminum air dan menghabiskannya.
"Terima kasih Kuro."
"Apa kau mau lagi?"
"Tidak, sudah cukup. Sebaiknya kita memikirkan apa yang harus kita lakukan. Kuro, kau pasti mempunyai petunjuk tentang siapa mereka, ..benarkan?"
Kuro tertawa pahit saat melihat tatapan Laila yang penuh dengan kecurigaan.
"..aku senang kau sudah terbiasa dengan kehidupanku, tapi sayang sekali aku tak memiliki petunjuk mengenai musuh kali ini."
"Serius?"
Laila langsung menatap tajam Kuro. Dia tahu Kuro cukup pandai merahasiakan sesuatu, bahkan dari dirinya.
"...jangan menatapku seperti itu. Aku tak bohong, tapi bukan berarti aku tak mencaritahu"
"Dan hasilnya?"
".....aku masih belum menemukan apapun. Tapi jangan kawatir, entah mengapa aku merasa familiar dengan pola serangan semacam ini."
"?!"
Mendengar itu, Laila juga menyadari kalau serangan mereka sedikit aneh dan memiliki pola tertentu. Jika dibandingan dari pertempuran sebelumnya....
"Kau pasti menyadarinya. Pokoknya kita harus bergerak."
"Bergerak, ...kemana?"
"Aku tahu tempat yang aman dan tak ada musuh yang akan berani mendekat."
"..dan dimana tempat itu?"
Kuro hanya tersenyum kecil.
"Tentu di sekolah."
"......huh?"
Sementara itu tiga bayangan sedang melompat di antara atap bangunan kota Areshia. Mereka adalah Stella, Hana dan Amira. Mereka juga diserang oleh boneka kayu, tapi musuh bukanlah tandingan mereka sehingga mereka bisa mengalahkan mereka dengan mudah.
Berbeda dengan Stella dan Amira, Hana tampak dipenuhi oleh amarah. Dia bahkan melompat lebih cepat dari kedua temannya.
Keduanya tahu rekan mereka itu sedang mempunyai masalah.
"Hana, aku tahu apa yang kau pikirkan dan aku tak menyukainya. Jadi hentikan sebelum kita terlibat dalam masalah yang lebih besar."
"Aku tahu apa yang kau maksud, Stella, ..tapi kau tak lupa siapa yang menggunakan sihir Million Doll dengan cara seperti ini."
"......."
Stella tentu paham ketakutan Hana. Million Doll adalah sihir sederhana yang menggunakan benang mana untuk mengendalikan boneka kayu. Semakin banyak boneka, maka dibutuhkan keterampilan yang hebat untuk mengontrol mereka semua.
Tapi boneka yang sempat mereka lawan bukanlah boneka yang memiliki keterampilan hebat. Itu adalah versi lain Million Doll yang menggunakan semacam kristal mana yang ditanamkan di sebuah boneka dan menggunakan sebuah sihir tertentu agar boneka itu bisa mengendalikan boneka lainnya. Inilah yang membuat boneka boneka itu lemah.
......tapi mereka tahu bukan hanya itu saja yang terdapat di sihir Million Doll kali ini.
"Kita harus menghentikan mereka secepatnya. Kita tahu mereka adalah orang yang yang melakukan apapun asal misi mereka berhasil."
Stella juga memikirkan hal yang sama dengan Hana. Sedangkan Amira tak terlalu mengerti karena dia adalah anggota baru dalam tim mereka.
"Khhh.."
Stella menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan tangannya. Disaat yang sama dia mempercepat lompatannya. Sedangkan Amira mengikuti di sampingnya.
"Baiklah. Sebagai ketua dalam tim ini, aku tak setuju dengan tindakanmu dan tentu aku menentangnya."
"....."
"Tapi sebagai teman, mana mungkin aku bisa menentangnya."
Hana langsung tersenyum.
"Terima kasih, Stella."
"Tak perlu berterima kasih. Lagipula sejak lama aku tak menyukai mereka. Kurasa menggagalkan misi mereka adalah suatu kesenangan tersendiri."
Stella menunjukkan senyuman manis. Dengan pakaian maidnya, dia mungkin akan menjadi maid yang terkenal dengan senyumannya itu.
Stella lalu menoleh ke arah Amira.
"Bagaimana denganmu? Uh.. kurasa aku tak perlu menanyakannya."
Amira kemudian tersenyum. Dia memang jaragng berbicara, tapi tatapannya selalu bisa menunjukkan apa yang dia pikirkan.
Lihat dan dengarkan dengan hati. Itulah cara yang tepat untuk mengetahui apa yang Amira pikirkan.
Ketiganya lalu mempercepat gerakan mereka dan langsung menuju pusat kota. Mereka bertiga tahu siapa dan tujuan pelaku yang menyerang kota, karena itulah yang pertama kali lakukan harus menemukan mereka.
"?!"
Saat melompati gedung dengan jarak yang cukup lebar. Sebuah cahaya putih melesat lurus ke arah mereka dengan kecepatan tinggi. Penyihir biasa tak akan mampu menghindar, tapi ketiganya menghindar dengan menggunakan tubuh rekannya untuk bergerak dan menjauh.
Kekuatan cahaya itu mendorong tubuh mereka sehingga mereka bertiga hampir kehilangan keseimbangan, tapi mereka dapat mendarat dengan baik tanpa terluka.
Setelah beberapa saat ledakan dan suara kaca pecah terdengar dari perisai yang telah hancur karena serangan itu.
Ketiganya terkejut dan sulit percaya karena tahu perisai yang melindungi kota tidaklah mudah dihancurkan, tapi cahaya itu dapat melakukannya dengan mudah.
Mata ketiganya semakin melebar saat menemukan sosok yang melakukannya, yaitu seorang gadis berambut pirang panjang yang cantik dan tentu saja memiliki ukuran dada yang juga tak terduga.
"Fuf ufu... ketemu juga kalian."
Masih terkejut dan tercengang, sosok lainnya muncul tepat di depan mereka masing masing. Salah satu sosok itu adalah harimau putih yang dikenal sebagai Divine Beast, Byakko.
"Bisakah kalian beritahu siapa kalian yang sebenarnya?"
Knox bertanya kepada Stella yang sudah dalam posisi waspada.
Stella tak langsung menjawab dan langsung menggunakan telepati yang biasa mereka gunakan.
Ketiganya mengangguk bersamaan dan langsung mengambil sebuah bola kecil di saku mereka dan melemparnya ke lantai depan mereka.
Cahaya langsung bersinar terang dan membuat pandangan terhalangi. Setelah itu ketiganya menghilang tanpa jejak.
Tak ada reaksi berlebihan dari Knox, dia justru mendesah berat dan memegang kepalanya seperti orang pusing.
"...mereka sungguh menyebalkan."
Knox melirik Charlmilia yang terlihat semakin kesal dan marah.
__ADS_1