Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
26. Identity


__ADS_3

Hampir 2 jam berlalu sejak latihan lari dimulai.


Saft saat ini sampai di jarak 70 km. Tinggal 30 km lagi dia akan mencapai garis finish dan mendapatkan tiket untuk makan malam berdua.


Tapi itu tak semudah kelihatannya.


Cuaca panas dan jarak yang luar biasa gila serta ditambah dengan daerah pinggir danau yang tidak sama membuat latihan ini lebih sulit.


Keringat mengalir deras bahkan Saft bisa memerasnya seperti habis dicuci. Kakinya bahkan sulit untuk digerakkan dan berteriak untuk menyuruhnya beristirahat.


Tapi dia tidak bisa menyerah karena berkat 11 teman sekelasnya sesama GSPFL dia sampai sekarang belum melihat Kuro berlari di belakangnya.


Saft adalah seorang penyihir yang dikenal memiliki stamina dan kecepatan lari tercepat di kelas 1-2 tanpa menggunakan sihir, karena itulah Knox mengandalkannya dan karena itupula dia mampu berlari seimbang saat sebelum menyusun rencana menghentikan Kuro.


Tapi dia juga sudah mencapai batasnya.


"Ha... ha.... ha....."


Dia tersungkur dan merasakan tenaganya sudah terkuras habis. Kakinya bahkan bergetar karena sudah tak mau dipaksa untuk berlari lagi.


Dia juga merasa haus, karena itulah dia mengambil botol minuman yang berada di sakunya. Namun dia sadar kalau minumannya sudah hampir habis karena dia merasa ringan saat mengambilnya.


Tak ada pilihan lain, dia menghabiskan semua air yang tersisa dalam sekali tegukan.


Tapi rasa haus masih belum menghilang. Disaat itulah dia melirik ke air danau yang tampak jernih.


Meskipun terlihat jernih, dia akan sakit perut jika minum air danau. Itu akan merepotkan.


Jadi dia hanya punya satu pilihan.


"Kurasa aku harus menahan haus. Lagipula pos ketiga sudah terlihat."


Dia melirik ke tenda kecil yang berada 5 km di jalur latihan. Disana dia bisa mendapatkan minuman segar dan bisa beristirahat untuk sementara.


Tapi saat mencoba bangkit, kakinya begitu berat.


"Ugghh...."


Dia mengeluarkan semua tenaganya untuk memaksa kakinya bergerak. Wajahnya bahkan memerah.


"Kau tak usah terlalu keras kepada dirimu sendiri. Jika haus, nih aku ada minuman."


Dari sampingnya, sebuah botol minuman ditempelkan tepat di pipinya. Dia merasakan dingin yang menyegarkan saat botol itu menyentuhnya.


Jadi dia tanpa ragu menerima dengan tangan kanannya.


"Ah... terima kasih, Kuro."


Saft langsung saja membuka minuman botol dan meneguk air dalam botol.


Dia menghabiskan setengah botol dalam sekejap. Dia benar benar haus.


"...?!.. Brffffff....."


Dan disaat dia menyadari siapa orang yang memberikan botol minuman, dia langsung menyeburkannya bagai naga air.


Cough . Coughh ..


Ditambah dengan rasa sakit saat tersedak.


"Hei... kau minum harus pelan pelan, lihat akibatnya, kau jadi tersedak kan?"


Kuro bahkan menepuk punggung Saft agar lebih baikan.


"Ku-Kuro kenapa kau ad- ?!"


Saft melebarkan matanya saat melihat Kuro yang penuh luka goresan benda tajam dan kedua tangannya berdarah. Wajahnya juga tergores hingga berdarah.


Dia tak menyangka Kuro mampu melewati 11 lelaki kelas 1-2 dengan luka yang tidak terlalu parah. Wajahnya bahkan terlihat segar, namun dia terengah engah seperti Saft.


"Jadi kau berhasil mengalahkan mereka semua?"


Saft merasa penasaran, karena itulah dia bertanya sekaligus untuk memastikan.


"Bisa dibilang begitu. Yah berkat kalian mengekspos kemampuan kalian, aku sekarang mengetahui semua kelemahan kalian. he he.."


".........."


Saft hanya terbengong. Dia tak menyangka mendengar itu dari mulut Kuro, tapi jika itu benar, mereka sekarang tak punya kesempatan menang melawan Kuro.


Ini adalah resiko dalam pertarungan.


Jika terlalu banyak menunjukkan kekuatan, maka musuh akan mudah menemukan kelemahan dan menggunakannya untuk menyerang balik.


Tapi yang lebih mengejutkan Saft adalah kemampuan Kuro dalam menganalisa kemampuan musuh, karena itulah wajar dia bisa selamat dari sacred magic art dengan luka ringan.


Penyihir atau bukan, sanggup lolos dari mereka semua seorang diri membuktikan kalau Kuro tak diragukan lagi berada di level yang berbeda dengan mereka.


Tak disangka, seorang yang dikira paling lemah di kelas adalah serigala dengan bulu domba.


"Kenapa kau bengong?"


"Tidak, aku hanya berpikir bagaimana bisa kau melakukannya?"


Mendengar itu Kuro hanya tersenyum.


"Aku hanya lebih berpengalaman bertarung daripada kalian. Dan semua lawanku lebih tangguh dari kalian semua, jadi jika ingin menang dariku setidaknya kalian harus selevel dengan Laila atau lebih tinggi."


"Kau pasti bercanda.."


"Tentu saja tidak. Kau harus sekali kali berkeliling dunia sepertiku untuk menyadari bahwa kau lebih lemah daripada yang kau pikir. Lalu kau juga akan bertemu dengan orang yang lebih kuat. Maaa... sudahlah, aku pergi dulu, kau tahukan kau tak boleh melanggar janjimu. he he"


"..............."


Dengan senyuman licik, Kuro pergi meninggalkan Saft yang tumbang ke tanah.


Saft sudah menyerah saat mengetahui usaha dia dan semua lelaki kelas 1-2 sia sia saja.


".........."


Dia menatap langit cerah yang berhiaskan awan yang tertiup angin. Dia menaruh tangannya untuk menghalangi matanya dari cahaya mentari.


Untung saja angin lumayan sejuk sehingga dia tak merasa kepanasan.


Disaat itulah dia ingat apa yang dikatakan Knox saat menyusun rencana.


[Kuro adalah non penyihir yang memiliki kekuatan setara penyihir, tapi jika dia seorang penyihir, dia akan mendapatkan peringkat apa?]


Mereka kini mengetahui jawaban pertanyaan itu.


Jika seorang penyihir, mungkin Kuro akan mendapat peringkat M, yaitu Monster.


"Haaa.. Berkeliling duniakah..? Mungkin kapan kapan aku akan melakukannya.."


Saft tersenyum dan akhirnya memejamkan matanya untuk mengistirahatkan badannya.


30 menit kemudian Kuro sudah sampai di garis finish dan disana dia menemukan Otome yang sedang memainkan ponselnya di bawah pohon.


Dia pasti sedang melihat gambar murid muridnya yang sedang latihan.


Kuro hanya bisa mendesah dan mendekat ke arah Otome.


Menyadari Kuro mendekat, Otome menoleh ke arah Kuro dan tersenyum.


"2 jam 37 menit, waktu yang lumayan, ... untuk percobaan pertama."


Tapi waktu Kuro akan lebih cepat jika dia tak bertarung.


"Yah.."


Setelah menyapa Otome, Kuro pergi menuju meja tempat barang diletakkan. Dia tak ingin mengambil pedangnya, tapi dia mengambil beban latihan, lebih tepatnya logam yang ada di beban latihan.


Logam itu berbentuk segi enam sepanjang 10 cm. Itu adalah besi yang dibuat khusus dan lebih berat dari yang terlihat.


Dan dari logam itu, Kuro mengambil jarum sepanjang 10 cm yang terpasang rapi di setiap sisi. Ada 6 jarum yang terpasang di setiap logam, dan dia hanya mengambil dua, lalu meletakkannya lagi ke kantung yang digunakan untuk menaruh logam.


Ya. Logam beban latihan Kuro sebenarnya juga senjata, lebih tepatnya senjata rahasia. Logam itu bahkan bisa digabungkan menjadi sebuah tongkat.


Setelah itu, dia kembali mendekat ke Otome.


"Hmm.. dimana peralatan barbeque yang kusuruh untuk menyiapkannya?"


"Masih dalam perjalanan, ya kau tahukan banyak orang yang tak bisa diandalkan disini, tapi untuk apa kau menyuruhku menyiapkan peralatan barbeque?"


"Tentu saja untuk menyiapkan makan siang, kau sungguh kejam karena tak menyiapkan makanan di pos istirahat."


Kuro mengeluh. Hal ini karena dia belum sempat sarapan dan karena bertarung, rasa laparnya semakin menjadi jadi.


"....Itu juga sebagai latihan, lagipula jika ingin makan mereka harus menyelesaikan latihan ini terlebih dahulu."


"Ha.... Sudahlah, aku sudah sangat lapar, sebaiknya aku masak dengan kayu saja. Otome, bisakah kau carikan kayu bakar?"


"Disana ada pohon mati, tebang saja sendiri."

__ADS_1


Kuro menoleh ke arah yang ditunjuk Otome. Memang dia melihat sebuah pohon yang mati dan kering setinggi 7 meter.


"Oh.. aku tak menyadarinya. Baiklah, kurasa saatnya untuk memancing."


"....?"


Otome tak terlalu mengerti karena Kuro sama sekali tak membawa peralatan memancing dan hanya ada jarum besar di kedua tangannya. Jadi bagaimana cara dia memancing dengan jarum?


Disaat yang sama Kuro melompat ke tengah danau di ketinggian 10 meter. Tentu dia jatuh karena adanya gravitasi, tapi sebelum terjatuh ke dalam danau, dia menendang udara dan melompat setinggi 50 meter.


Dia melayang di udara dan menoleh ke bawah danau.


Dia melihat banyak bayangan ikan di danau. Itu adalah gerombolan Rellfish yang banyak di danau ini.


"?!"


Setelah melihat targetnya, dia berputar di udara untuk akselerasi. Dia lalu melempar dua jarum ke danau dengan kecepatan tinggi ke arah ikan yang menjadi targetnya.


Blup. Dua jarum masuk ke dalam air bagai peluru yang tipis menuju ke dalam air.


Setelah itu, dia kembali ke pinggir danau dengan menendang udara dan mendarat ke sisi Otome.


Setelah beberapa saat, dua ikan mengambang di atas danau dengan sebuah jarum menancap di kepala mereka.


"Otome."


"Iya iya...."


Dengan wajah memelas, Otome menciptakan dua rantai yang terbuat dari mana dan mengendalikan rantai itu untuk mengambil ikan di tengah danau.


Ini hanya sebagian kecil dari kemampuan Otome yang merupakan seorang penyihir berpengalaman dan seorang guru.


"Ughh..."


Tapi dia sedikit kesulitan karena beban ikan sebesar 3 meter dan 2 meter lumayan berat untuk ditarik.


Disaat itulah Kuro memegang rantai mana Otome dan ikut menariknya dengan tangan kanan saja.


Setelah beberapa saat, akhirnya 2 ikan sampai di pinggir danau.


"ha... aku tak menyangka kau mampu mengenai otak ikan itu meskipun di dalam air, sebenarnya seberapa tajam matamu? Kau tak memakai sihir kan?"


"Yahh... kau tahu sendirikan, seberapa tajam mataku."


"Ya ampun... apa kau benar manusia?"


Kuro hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaan Otome. Bagi dia, pertanyaan itu tak perlu dijawab karena seharusnya Otome sudah mengetahui jawabannya.


Lalu tanpa sepatah kata, Kuro berjalan kembali ke meja untuk mengambil pedang kesayangannya.


Criiiinngg...


Dua lonceng di pedang Kuro berbunyi setiap kali dia menggerakkan pedangnya.


Kuro lalu berjalan ke arah pohon yang sudah mati. Dia bermaksud menebangnya untuk menjadi kayu bakar.


"......."


Sementara itu, Otome hanya tersenyum pahit saat mengingat semua kemampuan yang ditunjukkan Kuro.


Dia berhasil mengalahkan 11 muridnya tanpa menggunakan sihir, tapi begitulah seharusnya karena Kuro peringkat F. Tapi tak hanya itu, Kuro bahkan mampu melihat Insectmera yang ukurannya sangat kecil.


Dari situlah Kuro meminta Otome menyiapkan peralatan barbeque.


Tentu saja Otome tak bisa menolak karena Kuro bisa saja bilang kalau Otome memiliki Insectmera secara ilegal. Dan yang lebih mengejutkan, Kuro mengatakan suatu yang seharusnya menjadi rahasianya.


Rahasia tentang identitas dia yang sebenarnya.


Otome tak mau ada masalah. Jadi dia terpaksa menuruti kemauan Kuro.


Entah mengapa, meski dia seorang guru, dia diperas oleh muridnya sendiri. Apa dunia sudah gila?


Kuro menebang pohon dengan pedang putihnya. Setelah itu Kuro dengan cepat memotong pohon hingga menjadi 7 bagian.


Masing masing bagian sepanjang 1 meter. Tak hanya itu, Kuro bahkan membelah bagian kayu yang besar dengan ukuran yang hampir sama persis.


Setelah itu, Kuro membawa seluruh kayu ke samping Otome dan menyusunnya seperti api unggun.


(Dia bahkan mampu memotong seperti itu, pantas saja Nyonya Electra menyuruhku untuk mengawasinya.)


Otome berkeringat dingin karena melihat kengerian muridnya.


Tak hanya kuat, kemampuan pedangnya juga luar biasa. Lebih tepat perhitungan yang dimiliki Kuro.


"Ada apa?"


Otome heran karena Kuro terdiam dan tak bergerak.


Di saat itulah Kuro menoleh ke arah Otome dengan wajah malas.


"Tidak ada apa apa, hanya saja Otome tak bisa sihir elemen api kan? Aku tak percaya kau tak berguna disaat berurusan dengan hal sepele."


"Dasar kau ini. Tidak sopan. Meskipun begitu, aku ini tetaplah gurumu."


Tentu saja Otome marah karena dibilang tak berguna oleh Kuro, bagaimanapun juga, Otome adalah guru dan orang yang umurnya lebih tua.


Sayangnya Kuro hanya menatap Otome dengan tatapan bosan dan tak menunjukkan tanda tanda kalau dia menghormati Otome.


"Tapi kau memang tak berguna disaat seperti ini kan?"


"Uugg.......... iya, ta-tapi..."


Wajah Otome memerah karena tak bisa menahan amarah dan malu.


Karena tak mau dianggap tak berguna, dia mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang dia suruh membawa peralatan barbeque.


".........eh?"


Tapi tiba tiba Kuro menggelengkan kepalanya sebagai tanda Otome tak perlu melakukan itu.


"..?!"


Lalu tiba tiba Otome dikejutkan oleh kilat biru kecil yang menyambar kayu kering. Api muncul dan membakar kayu kering dengan cepat dan membesar.


Setelah itu, kilat yang lebih besar datang dari langit. Kilat itu tak menghasilkan ledakan dan menghilang seperti kilat pada umumnya.


Kilat itu justru menetap di dekat api unggul dan membentuk tubuh manusia, tepatnya seorang gadis.


"Itu kan.."


Otome melebarkan matanya saat melihat gadis yang muncul dari kilat.


Gadis dengan rambut pink sebahu dan pony samping. Serta jepit rambut berwarna biru berbentuk bunga menghiasi rambutnya.


Gadis itu berpakaian rok pendek berwarna merah yang membuat seluruh paha putihnya terlihat. Dan dia memakai baju tipis berwarna pink yang serasi dengan rambutnya.


Tak hanya itu, dua benda kenyal berukuran F cup berayun ketika gadis itu bergerak.


Bagi yang melihat gadis ini pertama kali, orang itu pasti akan berpendapat dia adalah gadis yang manis dan seksi, tapi bagi Kuro dan Otome, mereka hanya tersenyum pahit saat melihat gadis itu.


"Ohh... Ada perlu apa datang kemari"


"He he...Tentu saja aku membantu Kuro tersayang menyalakan api. Selain itu aku rindu dengan Kuro. Sini aku cium.."


Gadis beramput pink itu dengan cepat berlari ke arah Kuro dengan dua tangan kedepan dan bersiap memeluk Kuro. Tak lupa dua bibir juga bersiap mencium Kuro dengan sepenuh hati.


Sayangnya Kuro langsung menendang gadis itu dengan kekuatan penuh ke tengah danau.


"Are...."


Tubuh gadis itu terbang melayang di atas danau, tapi dia baik baik saja.


Lalu dalam sekejap mata, dia berubah bentuk menjadi kilat biru dan mendarat di punggung Kuro.


Kilat itu sekali lagi berubah bentuk menjadi seorang gadis dan memeluk Kuro dari arah belakang.


Munyuu ..


Kuro dapat merasakan sensasi kenyal dan hangat dari dua benda F cup milik gadis itu, tapi dia menunjukkan wajah tak tertarik dan justru mendesah dalam.


"Terima kasih telah menghidupkan apinya, tapi cepat turun. Kau tahukan aku tak bisa memotong ikan jika kau menempel di punggungku."


"Fu fu.. iya iya."


Gadis itu menuruti Kuro. Dia turun dan berdiri di samping Otome melihat Kuro yang bersiap memotong ikan dengan pedangnya.


"............"


Sementara itu Otome hanya terdiam membisu saat melihat orang yang dia hormati bertingkah seperti anak kecil saat berada di dekat Kuro.


Di saat yang sama, Kuro mengangkat ikan yang sebesar dua meter ke atas dengan tangan kirinya. Dia tak kesulitan saat melemparnya ke atas dan menebas ikan itu menjadi potongan kecil dalam sekejap mata. Yang tersisa dari ikan itu hanyalah kepala, bagian dalam dan ekor saja.


"Nenek tua!"

__ADS_1


Kuro menoleh untuk memberi tanda ke gadis berambut pink itu.


Gadis itu tersenyum kecil dan menjentikkan jarinya.


Di saat itulah sebuah cahaya tipis berwarna biru muncul dan menjadi alas ikan yang sudah terpotong rapi.


Setelah itu, Kuro menyarungkan pedangnya sebagai tanda tugas telah selesai.


Lalu Kuro akhirnya memasak ikan yang sudah dipotong dengan cara dibakar. Tak hanya Kuro, gadis berambut pink juga ikut membakar daging ikan yang sudah ditusuk dengan kayu.


"Otome ikutlah bergabung, jika tidak, nanti kehabisan loh!"


Gadis itu tersenyum ke arah Otome dengan senyuman manis. Dia memang manis.


Dan karena tak bisa menolak perintah gadis itu, Otome akhirnya bergabung. Otome duduk di samping gadis itu sambil menunggu ikan matang.


"Kepala sekolah Electra apa yang sebenarnya terjadi disini?"


Ya. Identitas gadis itu adalah Electra Val Vilravitra. Dia adalah kepala sekolah Kuryuu Academy dan merupakan penyihir peringkat Paladin. Dengan kata lain, gadis itu adalah salah satu dari 5 penyihir terkuat di kekaisaran Houou.


Usia dia sebenarnya sudah 50 tahun lebih, dia bahkan sudah memiliki dua cucu, namun seperti yang terlihat, dia masih berpenampilan muda seperti 15 tahun.


Tak hanya penampilannya, sifatnya dan cara berbicaranya juga seperti 15 tahun, karena itulah Kuro memanggilnya Nenek J*lang.


Meskipun begitu, Otome masih tetap menghormatinya sebagai atasan dan orang yang lebih tua.


Dan karena itulah dia merasa heran dan bingung saat melihat keakraban Kuro dengan Electra yang bisa dibilang mustahil mengingat Kuro hanyalah salah satu murid di Kuryuu Academy.


Atau tidak.


Otome sebenarnya menyadari bahwa mereka berdua memiliki hubungan, tapi tak seakrab itu.


Otome juga terkejut saat mendengar Kuro memanggil Electra dengan sebutan tak sopan. Tapi yang membuat lebih terkejut adalah karena Electra tak keberatan dipanggil seperti itu.


"Apa yang terjadi? kita hanya sedang pesta makan ikan."


"Mmm...."


"Karena itulah aku menyuruh orang untuk membeli bumbu di pasar agar barbeque lebih enak. "


Setelah kehilangan kata katanya, Otome akhirnya tahu kenapa orang yang dia suruh lama dan lambat.


Dan mengenai Electra kenapa bisa tahu mengenai peralatan barbeque, hal ini karena dibutuhkan izin untuk membawa properti ke luar sekolah.


"Terima kasih." Ucap Kuro "Tapi kau tak datang kemari hanya untuk pesta ikan kan?"


"Fu fu.."


Electra hanya tersenyum.


Disaat yang sama, aroma ikan yang lezat tercium sebagai tanda ikan hampir matang. Hal ini wajar mengingat api yang lumayan besar dan potongan ikan yang cukup kecil.


"Sebelum itu, apa kau sudah menerima bonus dariku?"


"Belum, Otome belum memberikannya kepadaku, benarkan?"


"............."


Otome terdiam dan akhirnya mengambil dua lembar kertas dari sakunya.


Kertas itu berwarna putih berbentuk persegi panjang dan memiliki pola lingkaran sihir.


"Jadi kau sudah tahu sejak awal?"


Otome memberikan dua lembar kertas (tiket) itu ke Kuro dan Kuro menerima dengan tangan kiri lalu menyimpanya ke dalam saku.


"Ya, sejak awal latihan ini bertujuan untuk menghentikanku yang berusaha mendapatkan tiketku. Haa.. ini sungguh menyebalkan, tapi ini cukup menghibur."


"Gehh."


"Lalu bagaimana menurutmu?" tanya Electra.


Dia merasa penasaran dengan pendapat Kuro tentang kekuatan kelas lelaki 1-2.


"Mengecewakan. Jika kuberikan nilai, mungkin hanya 30 dari 100."


"Seburuk itu kah? .. Um..ikannya sudah matang fuhh... fuhhh."


Electra tanpa ragu menggigit ikan yang sedikit gosong, tapi nikmat.


Hal yang sama juga Kuro lakukan karena banyak potongan daging ikan yang sudah matang.


"Ya. Aku memberikan nilai berdasarkan seberapa besar kekuatanku yang digunakan untuk menghadapi mereka. .. Tapi aku cukup terkesan dengan Jinn, Ishi, dan Ash. ... Satu lagi, Knox. Mereka berempatlah yang cukup membuatu repot."


"Begitu rupanya. Tapi ini latihan yang bagus agar mereka tahu kelemahan mereka." Ucap Electra sambil makan beberapa gigitan daging, lalu dia melanjutkan;


"Dan disaat mereka sadar masih lemah, mereka akan bertambah lebih kuat atau justru putus asa."


"........."


Kuro hanya tersenyum tipis dan terus mengunyah ikan yang sudah matang. Dia bahkan menghabiskan 3 potongan besar daging.


Sementara itu Otome hanya terdiam mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


Tapi saat mengetahui Kuro hanya mengeluarkan 30% kemampuannya, itu cukup membuat Otome syok.


Dia bahkan berpikir mungkin Kuro lebih kuat dari dirinya.


"Ummm... sebenarnya hubungan kalian apa?"


Karena tak tahan dan bingung, akhirnya dia menanyakan hal yang membebani pikirannya.


"Kami adalah sepasang kekasih!"


"Eh?"


Jawaban Electra langsung membuat Otome membeku.


"Sudahlah jangan bercanda. Hubungan kami hanyalah atasan dan anak buah sepertimu. Hanya itu. Jadi jangan dengarkan nenek ini."


"Uuuu... Kuro jahat. Kenapa kau selalu menolakku?"


Meskipun ekspresi Electra seperti anak anjing yang manis, Kuro tak akan pernah tertipu. Lagipula dia tahu betul sifat asli Electra yang sangat licik.


"Hentikan itu. Menjijikkan tahu."


"Buuu..."


"Lagipula aku sudah menyukai orang lain, jadi jangan bermimpi."


"Tchh..."


Sifat asli Electra keluar. Dia menunjukkan wajah jengkel seperti gadis yang ditolak cintanya. Tapi memang dia ditolak Kuro.


Meskipun suami Electra sudah lama mati karena dibunuh, namun seharusnya tak bertingkah seperti anak muda.


Itulah yang dipikirkan Otome, namun mungkinkah itu cara dia agar tak merasa sedih?


Tak ada yang tahu apa yang dipikirkan Electra, tapi satu hal yang pasti, saat berhadapan dengan Paladin, jangan pernah percaya kepadanya. Terutama kepada Electra yang dikenal super jenius dan licik.


Tapi tentu saja tak semua Paladin seperti Electra.


"Lalu bagaimana perkembangan hubunganmu dengan gadis itu? Kau tahukan kalau kau tak memiliki banyak waktu lagi?"


Kuro hanya tersenyum, tapi ekspresinya terlihat rumit.


"Entahlah, aku tak tahu. Dan seharusnya kau sudah tahu, jadi jangan tanyakan hal yang membuatku marah."


"Fufu.. itu salahmu sendiri karena tak berusaha mendekatinya atau mengajak kencan dia. Sekali kali lakukan itu, aku tahu gadis itu pasti tak akan menolak jika kau ajak kencan, sayangnya kau justru berlatih dengan si kembar itu. Haa....aaa.. aku tak mengerti apa yang ada di kepalamu, jika terus seperti ini, kau tak akan pernah mendapatkan hatinya."


"Ya kau benar, tapi mungkin inilah yang terbaik untuk dia, tapi tentu saja aku akan berusaha dulu meskipun waktuku sudah tak banyak lagi. Lagipula bukankah ini alasan kenapa kau memberikan tiket ini kan?"


"Ha ha.. Kau juga sudah menyadarinya. Begitulah Kuro yang kukenal. Ya. Aku memberikan tiket itu karena mungkin ini kesempatan terakhirmu mendekatinya sebelum kau menjalankan misi."


"..........?"


Otome tak terlalu mengerti, namun menyadari suasana menjadi serius dan tegang, Otome akhirnya mengetahui bahwa Kuro bukanlah bocah biasa.


Dia ternyata anak buah Electra. Dan hubungannya lebih rumit dari dirinya.


Pantas saja mereka terlihat akrab dan membicarakan hal hal yang rumit.


Sementara itu, Kuro hanya terlihat sedikit murung ketika mendengar ucapan Electra.


Dia juga menyadari kalau misi kali ini sedikit berbeda daripada misi biasanya.


"Ya ampun, tampaknya kau tak pernah bisa berhenti menyusahkan orang lain."


Kuro mengeluh dan terlihat tidak senang.


"Fufu... "


Sedangkan Electra hanya tersenyum licik saat menunjukkan sifat aslinya.

__ADS_1


__ADS_2