
Kekaisaran Houou merupakan negara terkuat, terbesar dan terkaya di dunia. Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar, tak ada yang ingin menjadi musuhnya.
Selain jumlah Paladin yang terbanyak, di pihak kekaisaran Houou memiliki banyak pasukan khusus yang kuat. Di antara mereka semua, ada pasukan yang memiliki keahlian khusus melakukan pembunuhan dan mencari informasi.
Kelompok itulah yang disebut sebagai Shadow Knight.
Karena Kuro pernah menjadi bagian dari pasukan khusus itu, dia mengerti bagaimana cara pasukan itu bekerja dan hasil yang mereka dapatkan. Dengan kata lain, mendapatkan informasi mengenai musuh dan keberadaan Lic bukanlah suatu yang aneh.
"Aku mengerti yang kau maksud dengan jangan mengganggu, tapi pihak kalian seharusnya juga mengerti kenapa aku dan Laila mencari sendirian. Selain itu, jika pihak kalian sudah mendapatkan informasi yang berguna, kenapa kalian tak memberi tahu pada kami?"
Dengan memberitahu, pencarian Lic akan lebih cepat dan mereka tak perlu takut dengan sihir skala besar yang akan datang.
"Kenapa aku harus memberitahumu?"
Jawaban itu membuat semuanya terkejut.
"Mungkin Izriva merasuki pedangmu dan menganggap kalian seperti orang tuanya, namun di mata kami dia hanyalah sebuah senjata yang sangat berbahaya. Jika memberi tahu kalian dan kalian berhasil mendapatkannya kembali, setelah itu, apa yang akan kalian lakukan? Kalian tak mungkin memperlakukannya sebagai manusia kan?"
Atmosfer semakin menjadi tegang. Mereka saat ini dikejutkan oleh perubahan besar yang terjadi kepada Riana.
Meskipun masuk akal, namun saat tertawa mengingat kembali Lic tersenyum dan tertawa bagai malaikat kecil, tak ada yang menganggap Lic merupakan sebuah ancaman.
Tapi, Riana tahu kenapa Lic seperti itu-
"Saat ini Izriva masih belum membuat kontrak dan kehilangan sebagian besar ingatannya. Meskipun hanya kepingan dari Izriva yang sesungguhnya, kekuatan yang Lic miliki adalah nyata. Aku tak tahu apakah hal itu sebuah keberuntungan atau kemalangan."
"Ria..na.."
Laila yang selalu tenang kini gemetar seperti ketakutan. Menyadari Laila terguncang oleh perkataan Riana, Kuro mencoba memeluk Laila untuk membuatnya sedikit lebih tenang.
"Jangan kawatir. Semuanya akan baik baik saja." Kuro kembali fokus ke Riana. "Sepertinya dia menjadi sombong karena telah membaca Grimoire of Wisdom, tapi tampaknya dia tak mengerti apa arti dari kebijaksanaan itu sendiri."
Semua terkejut setelah mendengar kata Grimoire Of Wisdom. Itu wajar karena itu merupakan salah satu dari Grimoire Of Truth. Grimoire itu disebut juga sebagai Grimoire Of History karena berisikan sejarah yang sebenarnya.
Mata Riana menyipit. Tapi bukan berarti dia marah dengan perkataan sarkasme Kuro.
"Aku tak peduli dengan apa yang kau katakan. Aku sudah bertekad untuk melindungi apa yang menjadi impiannya. Kau pasti mengerti apa yang kurasakan, Kuro. Bagaimanapun juga, kau juga memiliki alasan untuk terus bertarung sampai sekarang ini."
Kuro tak membantah karena itu benar. Dia memiliki alasan untuk bertarung dan berjuang. Karena itu pula dia tak pernah berhenti bertarung.
Tapi bukan hanya itu saja kenapa dia tak pernah bisa berhenti.
"Aku mengerti... Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
"Aku hanya meminta agar kau tak mengganggu kami."
"Yeah, tapi gangguan seperti apa yang kau maksud?"
"Saat ini kami sedang menjalankan operasi penyelamatan Izriva. Butuh persiapan, tapi kami akan melaksanakannya dalam waktu dekat. Selama itu terjadi, aku minta kau jangan melibatkan dirimu atau Laila dalam pertempuran."
Dengan kemampuan Kuro, tak butuh waktu lama hingga dia bisa mencari tahu apa yang terjadi. Karena itulah Riana tak bisa memaksanya untuk tak mengganggu.
Hanya jalan perundingan saja satu satunya jalan agar Kuro dan Laila menyingkir dari pertempuran.
Itu bukanlah perintah, namun lebih mirip sebuah permintaan dari seorang teman.
"Selain itu aku juga mendapatkan perintah tambahan dari paman Leon. Apa aku harus mengatakannya?" tambah Riana dengan kedipan sebelah mata.
Mendengar ayah Laila disebut, Kuro dan Laila langsung terdiam dan keringat mengalir deras.
Kuro memang tak takut kepadanya, tapi dia punya alasan untuk tak membuat masalah dengan Leon. Bagaimanapun juga, dia tak mau Leon menolak dirinya untuk menikahi Laila.
Sedangkan Laila, dia punya alasan lain untuk tak membuat ayahnya marah.
"Ha ha ha.. Kuro dan Laila memang takut kepada tuan Leon Kita menemukan kelemahan mereka, Alvi."
"Un..."
Si kembar tampaknya tak mengerti situasi seperti apa yang Kuro dan Laila hadapi jika membuat masalah dengan Leon.
"Yah.. Intinya aku meminta kalian jangan ikut campur. Paling tidak, jangan lakukan apapun selama satu minggu ini."
"Satu minggu...kah..."
Kuro dan Laila saling melirik satu sama lain. Seminggu bukanlah waktu yang lama, tapi disaat yang sama waktu semakin dekat dengan ritual sihir yang musuh laksanakan.
Jika Riana gagal, mereka akan berada dalam situasi sulit, tapi Riana adalah tuan putri. Tak mungkin dia ceroboh dalam mengambil keputusan. Apalagi keputusan yang menyangkut nyawa rakyatnya sendiri.
"Laila.."
"Aku tahu, jangan pikir aku bodoh karena tak mengerti."
"Kalau begitu sudah diputuskan."
"Kita tak akan melakukan hal hal mesum selama satu minggu."
"...apa maksudmu?"
Untuk alasan tertentu, Laila memutuskan suatu hal yang di luar pemikiran Kuro. Dan itu kabar buruk baginya.
"Seperti yang kubilang... Anggap saja hukuman karena pergi dan hampir mati."
Kuro langsung pucat pasi. Dia menunduk lemas dan langsung memutih. Kondisinya lebih menyedihkan jika dibandingkan setelah mendapatkan luka dari musuh.
"Kuro mesum."
"Kak Alva..."
"Mau bagaimana lagi, Alvi. Mereka sudah melangkah ke tangga kedewasaan sebelum kita. Jangan pernah menyerah , Alvi. Giliran kita pasti akan datang."
"Un..."
Seperti biasa, tak ada tanda keduanya akan menyerah.
Mendengar percakapan Alva dan Alvi dari dekat membuat Riana tersenyum kecut.
"Terima kasih. Aku sekarang bisa bergerak dengan bebas karena tak ada yang mengganggu."
"Kau bicara seolah kami adalah sebuah virus berbahaya. Aku tak ingin membahasnya lagi, tapi sebagai gantinya kami minta setiap perkembangan penyelamatan Lic."
"Aku tak punya kewajiban melakukannya, tapi sebagai teman aku akan memberi kabar. Sayangnya aku tak bisa menjamin kabar yang kuberikan selalu kabar baik. Bagaimanapun juga, yang menginginkan Izriva bukan hanya kalian."
Atmosfer yang mulai ringan, kini kembali berat. Bagaimanapun juga perkataan Riana memiliki banyak maksud.
Riana berdiri.
"Itu saja yang ingin kusampaikan saat ini. Sekarang aku permisi dulu karena banyak urusan. Semuanya mari kita pergi."
Saat mengatakan 'semuanya' yang dimaksud adalah Charlmilia, Alva dan Alvi. Ini cukup membuat Kuro terkejut.
"Saat ini mereka berada di bawah perintahku secara langsung. Jangan salah sangka, hanya saja saat ini aku membutuhkan mereka."
Penjelasan yang singkat dan jelas. Kuro yang baru pertama kali mendengar ini melirik ke arah Laila untuk mengkonfirmasi.
"Riana..., jangan bilang mereka akan..."
Riana tak menjawab dan hanya terdiam seribu bahasa, namun itu sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.
Disaat itulah, Charlmilia berhenti lalu menatap Kuro dan Laila.
"Kami juga akan bertempur, Kuro."
"Ta-tapi..tidak. Kurasa yang harus kuucapkan saat ini adalah.. Jangan mati. Atau tak ada orang yang akan membuatkan kue untukku."
Normalnya Kuro akan menghentikan Charlmilia, namun tatapannya sama seperti Riana. Seorang yang sudah bertekad dan berjuang. Jika sudah seperti itu, maka tak ada alasan lagi untuk menghentikannya.
Mendengar tentang kue, Charlmilia tersenyum senang.
"Tentu saja..."
Charlmilia akhirnya pergi menyusul Riana dan si kembar. Kuro dan Laila tak mengantar mereka karena mereka tak butuh. Lagipula ada pelayan yang mengantar mereka.
Setelah mendengar pintu tertutup, Kuro dan Laila menghela nafas bersamaan.
"Dia benar benar sulit untuk berterus terang."
"Yah.. Begitulah dia. Mau apa lagi. Riana memang seperti itu. Dia tak pernah berubah sejak aku mengenalnya. Tapi ...." tatapan Laila menjadi dingin. "..sepertinya kalian membahas suatu yang berada di luar akalku. Atau itu hanya perasaanku saja?"
__ADS_1
Tak hanya Laila, Charlmilia dan si kembar pasti juga merasakan hal yang sama. Tapi mereka tak bertanya secara langsung karena topik yang keduanya bahas sesuatu yang sensitif.
Kuro tertawa kecut.
"Tentu tidak. Lagipula cepat atau lambat, kurasa kau akan segera mengetahuinya."
Laila langsung cemberut.
"Moouu.. Selalu saja seperti ini. Tapi sepertinya mereka melupakan sesuatu."
"Ya. Bahkan aku hampir saja melupakannya."
Keduanya melihat ke lantai. Disana Otome masih tertidur pulas seperti orang mati.
"Untuk jaga jaga, sebaiknya kita suruh Yui memeriksanya."
Laila mengangguk.
"Oh.. Iya, dimana dia sekarang?"
💠💠ðŸ’
Kuro dan Laila keluar rumah. Tepatnya menuju halaman luar rumah Laila. Disana mereka menemukan Yui sedang duduk dengan pose bermeditasi di bawah pohon rindang yang tumbuh di tengah taman.
Rubya tak jauh dari Yui sedang tiduran bermalas-malasan.
"Dia bilang ingin bermeditasi, tapi aku terkejut dia melakukannya di taman. Um.. Bukankah biasanya meditasi dilakukan di tempat yang tenang?"
"Sebenarnya semakin tenang dan alami semakin bagus, namun sebenarnya di manapun bisa dilakukan. Hanya saja tempat seperti ini membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih."
"...heee.."
Jika diingat lagi, Kuro pernah melakukannya di sekolah. Saat itu dia melakukannya untuk memulihkan aliran energi yang tak teratur.
"Yah.. Sebaiknya kita pikirkan langkah yang kita ambil selanjutnya. Tuan putri menyuruh kita untuk mengandalkannya dalam waktu seminggu. Kita tak boleh mengecewakannya."
Saat Riana bilang tak mengganggu, sebenarnya itu juga berhubungan dengan kondisi Kuro dan Laila saat ini. Meskipun mereka bertarung, namun mereka hanya akan menjadi beban.
"Um.. Kalian bilang aku akan pulih dalam beberapa hari, tapi apakah hanya itu saja?"
Kuro mengangguk membenarkan.
"Setidaknya kau akan bisa menggunakan sihir seperti biasa. Tapi jangan sekali kali kau menggunakan sihir itu. Sampai kita menemukan cara menggunakannya, sihir itu akan kularang."
Mendengar itu, Laila langsung cemberut.
"Boo.. Jika aku tak menggunakan Re;Break, bagaimana aku bisa mengalahkan musuh?"
"Kita akan melakukan sesuatu tentang itu. Kurasa ini juga kesempatan bagus untuk meningkatkan kekuatan kita."
"Apa kau akan mengajariku sihir?" tanya Laila dengan nada penasaran.
"Jangan meminta hal aneh. Kau tahu siapa aku, tapi yah.. Bukannya aku tak bisa, namun aku rasa tak cocok saat ini."
Kuro bisa mengajari Laila teori sihir. Dan karena Laila cepat mengerti dan mampu memproses teori menjadi realita lebih cepat daripada penyihir biasa, Laila akan mampu menjadi kuat dalam waktu singkat. Hal ini dibuktikan saat melawan Red Crow.
"Apa maksudmu? Lalu jika bukan kau yang menjadi guruku, siapa yang akan melakukannya?"
Kuro tersenyum.
"Kau sudah melihatnya..."
Laila menoleh ke arah Yui yang saat ini membuka matanya.
Dan itulah bagaimana Yui menjadi guru Laila.
Tapi sebelum itu, ada masalah yang harus mereka selesaikan dulu, tentu itu adalah masalah Otome.
Setelah Yui bangun, dia bersedia menjadi guru Laila. Dan untuk alasan tertentu, dia sangat bersemangat. Tapi disaat Laila menyebut Otome, dia langsung memeriksa keadaan Otome yang entah mengapa mulai menjadi zombie.
"...hmm... Ini aneh?"
Itu komentar yang pertama kali dia ucapkan setelah memeriksa keadaan Otome.
Otome tertidur pulas, namun di saat yang sama juga pucat pasi seperti mayat. Siapapun pasti akan bilang dia sedang sakit.
"Tubuhnya dan aliran mana miliknya tak ada masalah. Bisa dibilang dia sangat sehat. Lebih sehat darimu, kak Laila."
"Aku tahu sedang tak sehat, tapi bisakah kau tak membandingkannya. Bagaimanapun juga aku lebih sehat disini."
"Itulah yang kumaksud 'aneh'. Jika ada keabnormalan pada dirinya, aku akan tahu dan bisa mengobatinya dengan mudah. Tapi..."
"Tak ada yang abnormal...kah.."
Tak ada yang aneh, namun karena itulah dibilang aneh.
"Lalu apakah ada cara untuk menyembuhkannya?"
Yui menyilangkan tangannya dan berpikir.
"Setahuku jika tak ada masalah di luar, itu artinya masalah ada di tempat lain. Dengan kata lain pikirannya. Aku tak tahu menjadi guru bisa stress seperti ini."
"Tapi itu tidak mungkin. Setahuku Bu Otome tipe orang yang suka jahil dan kejam kepada kami. Kupikir dia tak akan stress. Selain itu, tak mungkin Riana membiarkan Bu Otome begitu saja seperti sampah."
"Aku tak tahu kau bisa mengucapkan kata kasar seperti itu."
"Jujur saja aku juga heran. Mungkin aku terpengaruh oleh Kuro. Tapi bukannya aku bilang Bu Otome adalah sampah, namun yang aku ingin katakan Riana tak mungkin meninggalkannya di rumah ini jika tak ada cara untuk menyembuhkannya."
Keduanya lali terdiam sejenak.
Karena Yui membuat kontrak dengan Emera, maka dia memiliki kemampuan penyembuhan yang luar biasa. Bahkan kelas satu.
Meskipun begitu, Yui tak sanggup menyembuhkannya. Dengan kata lain-
"Kuro."
"Kak Kuro?"
Keduanya dengan kompak melirik ke arah Kuro yang sedang bersandar di dinding dengan santainya.
"...Hey.. Bisakah kalian tak menatapku seolah aku adalah seorang yang selalu menjadi sumber masalah?"
Keduanya terdiam karena apa yang Kuro ucapkan tepat sekali. Yang membuat terkejut, Kuro seolah tak menyadarinya.
"Aku merasa tertusuk kalian tak berusaha membantahnya. Tapi jujur saja, kali ini aku tak ada hubungannya dengan masalah Otome. Lagipula apa kalian pikir aku tertarik dengan perawan tua?"
"Aku tahu itu, tapi bukan berarti kau tak akan membuat perawan tua jatuh cinta kepadamu."
Itu lebih menyakitkan daripada sebelumnya. Sayangnya itu juga kenyataan.
"Tapi jika kak Kuro ada hubungannya, mungkin saja dia tak melakukannya secara sengaja."
"Jangan mengatakan hal aneh. Apa kau mau aku cepat mati?"
Tatapan Laila sudah menyipit tajam bagaikan pedang yang akan memotong Kuro jika itu benar benar terjadi.
"Tentu tidak. Tapi jangan kawatir, aku sudah mempelajari sihir pembangkit untuk berjaga jaga kau mendapatkan hukuman ilahi."
"Aku baru pertama kali mendengar itu."
Yui hanya tertawa kecil penuh misteri.
Pada akhirnya mereka memutuskan untuk menunggu Otome sadar. Bagaimanapun juga sulit menyembuhkannya jika tak tahu penyakitnya.
Tapi setelah itu, suatu yang tak diduga terjadi.
"Aku akan pergi untuk melakukan sesuatu. Yui, aku serahkan Laila kepadamu."
Benar. Setelah memeriksa Otome, Kuro berpamitan kepada keduanya.
"Aku tak tahu kau pergi kemana, tapi jika ketahuan.... kau..."
Meskipun tak bisa menggunakan sihir (untuk sementara), tapi ada aura menyeramkan dari Laila. Yui bahkan melangkah mundur karena takut.
"Aku tak tahu apakah kau percaya padaku atau tidak, tapi kau seharusnya sudah tahu ...kau adalah ratu (Queen) terakhirku. Mana mungkin aku mencari yang lain."
"?"
__ADS_1
Setelah itu, Kuro pun pergi dengan Crystal Box yang menyimpan dua pedang putihnya. Meskipun dibilang pergi, dia lebih tepat jika terbang menunggangi Rubya.
Seperti sebelumnya, Rubya bertugas untuk mengantar Kuro.
Tak butuh waktu lama hingga Kuro menjauh hingga menjadi ukuran semut. Ketika melihat itu, Laila tersenyum senang, namun senyuman itu langsung menghilang.
"Apa yang dia lakukan sekarang?"
Laila berbalik arah dan kembali ke dalam rumah. Yui mengikutinya.
"Dia melakukannya sejak kecil, jadi aku tak tahu. Tapi satu hal yang pasti saat dia kembali kak Kuro menjadi lebih kuat."
Berlatih. Itu satu satunya hal yang terpikirkan oleh keduanya.
"Dia juga berusaha. Kalau begitu, tak ada alasan untuk bersantai. Untuk seminggu ke depan, mohon bantuannya, Yui."
"Jangan kawatir, kak Laila. Aku akan segera menunjukkan apa itu neraka yang sesungguhnya. Jadi bersiaplah. Aku tak akan berhenti meskipun kau menangis dan menyembah ku kuku..."
"Aku menantikannya, Yui. Tapi asal kau tahu, aku sudah lama melihat apa itu yang dinamakan neraka."
Untuk sesaat, mata Laila berubah. Bukan menjadi hitam seperti sebelumnya, tapi berwarna biru.
Ini semakin aneh dan tak masuk akal. Namun disaat yang sama,-
(Ini semakin menarik...)
💠💠💠ðŸ’
Setelah Riana keluar dari rumah Laila, kereta sudah menunggu Riana dan lainnya di luar. Keempatnya tanpa ragu naik dan mereka pun kembali ke istana.
Sejak kedatangan mereka, Charlmilia, Alva dan Alvi langsung diberi tahu mengenai situasi yang saat ini dihadapi oleh Kuro dan Laila. Jujur itu bukanlah situasi yang bisa diselesaikan oleh murid sekolah sihir.
Tapi pada akhirnya ketiganya membantu. Tentu dengan cara mereka sendiri. Demi itu, mereka bahkan mengabaikan undangan ulang tahun yang menjadi alasan mereka ke ibukota.
"Kuharap mereka mengerti apa yang kumaksud."
Kereta tak hanya nyaman, namun juga dilengkapi dengan sihir kedap suara yang mencegah penguping. Dan meskipun Riana penyihir suci yang mampu menetralkan sihir, namun kereta dibuat secara khusus agar sihir tetap berfungsi.
"Mereka cerdas. Mereka tahu apa yang harus mereka pilih."
"Terima kasih, Charlmilia. Aku senang kalian mendampingiku. Jika kalian tak bersamaku, mungkin aku tak akan pernah bisa sejauh ini."
"Hm? Kenapa putri Riana seperti takut berbicara kepada Kuro?" tanya Alva. "Bukankah kalian saling mengenal baik?"
Saat di kota Areshia, Riana menunjukkan keakrabannya dengan Kuro. Jika di bandingkan dengan dulu, saat ini Riana bagaikan seseorang yang mengalami trauma.
"...kak Alva..."
"Ah.. Maaf, putri Riana. Aku tak bermaksud.."
Riana menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa apa. Hanya saja aku tak bisa menganggap Kuro seperti dulu lagi. Itu saja yang yang bisa kukatakan."
Tangan Riana gemetar. Itu suatu hal yang ditunjukkan oleh seorang yang benar benar ketakutan.
Ini suatu yang aneh mengingat Kuro bukanlah ancaman. Tidak, lebih tepatnya belum.
"Putri Riana, aku ingin tahu lebih banyak mengenai Itsuki. Bagaimanapun juga aku tak ingin kalah darinya."
Charlmilia sadar atmosfer semakin suram. Dengan cepat dia mengganti topik pembicaraan.
"Tentu, tapi ingat. Kalian hanya sebagai pendukung. Pasukan yang menyelesaikan misi ini adalah tugas dari Imperial Knight."
Imperial Knight merupakan salah satu pasukan khusus kekaisaran Houou. Mereka bisa dibilang yang terkuat dari seluruh pasukan khusus yang ada di kekaisaran. Tak hanya itu, pasukan itu dipimpin oleh Leon, sang paladin terkuat.
Mengingat Imperial Knight dikerahkan, itu juga sebuah tanda seberapa penting misi penyelamatan Lic (Izriva).
"Aku tahu itu. Tapi tak ada salahnya mengetahui kemampuan musuh kan?"
Riana hanya terdiam membisu.
💠💠💠ðŸ’
Ketika semua sedang bersiap dengan pertempuran yang akan terjadi dalam waktu dekat, ada seorang yang dengan santainya meneguk teh hangat.
Rambut biru seperti lautan dalam dan langit cerah membuatnya terlihat bagai dewi, tapi dia bukan salah satunya.
Tapi, saat ini dia tak sendirian. Seorang wanita dengan rambut pirang bagaikan cahaya mentari duduk berseberangan dengannya. Kipas keemasan di tangan kirinya membuatnya bagaikan seorang putri.
"Sudah berapa lama kita tak meminum teh seperti ini, Alice?"
Tak ada orang selain mereka berdua. Bukannya tak ada, namun mereka sudah membuat perisai kuat yang membuat tak ada orang yang datang.
Itu termasuk orang terdekat mereka seperti menantu dan cucu yang beberapa waktu yang lalu menemani salah satu mereka mengobrol.
"Ini baru 5 tahun. Mungkinkah kau sudah pikun karena terlalu tua?"
Bagaimanapun juga, Scarlet adalah seorang yang sudah memiliki 3 cucu. Tak diragukan lagi dia tak muda lagi, namun penampilannya membuat orang berpikir dua kali untuk menebak umurnya.
Hal yang sama juga berlaku kepada Alice.
"Haha.. Itu lucu. Kau bahkan lupa kalau kau memiliki umur dua puluh kali lipat daripada aku. Sepertinya kau yang mulai pikun disini."
"Yah.. Mungkin. Bagaimanapun juga sudah lama waktu berlalu sejak hari itu."
"Jangan memulai topik yang tak ku mengerti. Kau selalu saja seperti itu. Berapa lama kita saling mengenal?"
"Oh benar. Aku ingat kau dulu seorang anak kecil yang masih mengompol."
"Jangan bahas masa kecilku. Kau mungkin perawatku, namun bukan berarti kau berhak membahas topik seseorang saat mereka hanya bisa menangis dan... Tolong hentikan pembicaraan ini."
Alice tersenyum kecut.
"Sudah kuduga aku membenci senyumanmu itu."
"Begitu..., aku tak terlalu peduli. Yang aku pedulikan saat ini apa tujuanmu bicara denganku. Kau tak melakukan semua ini hanya untuk minum teh."
Scarlet mendesah.
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu kenapa kau menjadi pemimpin *******? Kau bukanlah tipe orang yang menyukai kekerasan. Aku masih ingat betul perawat yang selalu tersenyum dan berkata peperangan itu tidak baik."
Tak hanya mengenal lama, namun juga sudah tahu sifat buruk dan baik masing masing. Bisa dibilang mereka lebih mirip sahabat dekat dan juga orang tua.
"...kenapa kau menanyakan itu? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau itu dulu. Masa lalu. Tapi sekarang aku sadar, jika aku tak berperang, mungkin aku akan menyesal seumur hidupku. Dan kau tahu, itu adalah siksaan terburuk bagi orang abadi seperti diriku. Kau sungguh beruntung, hanya saja kau tak menyadarinya."
"Jangan membicarakan keberuntungan. Itu adalah topik yang paling aku benci. Kita berdua tahu tak ada di antara kita yang memiliki itu."
Alice terdiam dan meneguk teh hingga habis. Setelah itu dia menatap ke arah langit.
"...keberuntungan kah... Kita berdua memang tak memiliki itu."
"Tapi setidaknya kita masih hidup." lanjut Scarlet. "Selama nafas masih ada, kau bisa mendapatkan kebahagiaan yang kau cari. Itulah jalan yang kuambil. Dan seperti yang kau lihat, aku cukup bahagia dengan keadaanku sekarang. Hey.. Daripada berperang, bukankah lebih baik memilih jalan lain?"
"Aku sudah tak memiliki jalan itu, Scarlet. Seperti yang kau ketahui, jalanku saat ini hanya satu."
"Jika seperti itu, itu artinya pertemuan selanjutnya adalah di medan perang. Jangan pikir aku akan membiarkanmu melukai orang yang berharga bagiku."
Tapi Alice tak menunjukkan rasa khawatir.
"Mungkin kau dulu seorang Queen, tapi saat ini kau hanyalah seorang Pion. Apa kau berpikir bisa menghentikanku?"
"Tidak. Tapi aku yakin cucuku bisa melakukannya. Bagaimanapun juga kau tahu siapa dia yang sebenarnya."
"Dia hanyalah ******* rendahan. Aku akan menghancurkannya tepat di depan matamu."
"Kau tak akan mampu melakukannya. Sebencinya dirimu kepadanya, kau tak akan pernah menang. Kau tahu itu lebih dari siapapun."
"Kita buktikan saja..."
"Tentu."
Dalam hitungan detik, tubuh Alice menghilang bagaikan terbakar. Disaat yang sama perisai yang menjauhkan orang orang dari mereka berdua mulai menghilang.
Sambil meneguk teh tegukan terakhir, Scarlet mendesah.
"Kau mungkin pantas disebut sebagai Immortal Quuen, tapi kau sepertinya lupa keajaiban dari ikatan yang dinamakan cinta."
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian, seorang anak kecil dan wanita berambut merah membara mendekat. Lia tampak kesal karena Scarlet tiba tiba menghilang lagi.