Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Weird


__ADS_3

Hari kedua di kota Phoenix. Mentari mulai datang menandakan pagi kembali tiba dan sekaligus memberi tahu bahwa hari telah berlalu.


Cahaya bersinar dari celah jendela dan memberikan kehangatannya.


Laila terbangun dari mimpinya. Mimpi itu adalah ilusi yang membuat dirinya tenang untuk sesaat, namun dia tak bisa melupakan rasa kehilangannya.


"..."


Dia bangun dan melirik ke berbagai sudut kamar. Dia tak menemukan Kuro dimanapun.


Dia sudah sering mengalami hal ini, namun dia tetap heran kemana Kuro pergi.


Dia memutuskan untuk mencarinya. Dia keluar dari kamar dan menelusuri rumah besar yang kini menjadi miliknya.


"Ughh..."


Meskipun rumah itu miliknya, namun entah mengapa dia jengkel.


Barang barang kelas satu yang dia lihat di rumah itu sekilas tak jauh berbeda dengan apa yang ada di rumahnya yang dulu (sekarang masih), namun ketika mengingat siapa Kuro yang selalu berpenampilan apa adanya dan bukan tipe yang memikirkan uang, semua ini seolah bagaikan ilusi yang menakutkan.


(Baiklah... sekarang aku harus kemana?)


Dia melirik ke kanan dan ke kiri. Dia baru saja tinggal dan belum sempat berkeliling dan mencari tahu apa saja di rumah itu. Dia sadar mencari Kuro sendirian bukan pilihan yang tepat.


Diapun akhirnya memilih ke kiri. Sambil mencari, dia berharap sekaligus menghafal rumah yang mungkin akan dia tinggali untuk seumur hidupnya..


Satu persatu ruangan dia buka. Meskipun besar, namun dia terkejut karena hampir semua ruangan tak ada yang dalam kondisi terkunci. Sebagian besar rumah itu berisi kamar kosong yang mempunyai desain dan gaya yang sama. Ruangan olahraga, tempat bermain, ruangan bersantai dan bahkan dia melihat ruangan yang menyerupai bar kecil di dalam rumah.


"...Sial. Rumah ini memiliki semuanya. Yang normal, bahkan termasuk aneh."


Laila bahkan menemukan ruangan besar yang berisi sebuah toilet. Dia tak akan heran jika menemukan ruangan dengan suatu yang aneh lagi.


Petualangan Laila pun terus berlanjut. Dia terus membuka setiap ruangan yang ada untuk mencari tahu apa saja yang ada di rumah itu. Dan setelah cukup lama, dia akhirnya menyadari suatu yang aneh.


(Kenapa aku tak menemukan satupun pelayan di rumah ini?)


Dia ingat melihat banyak pelayan yang bekerja di rumah itu, namun dia tak melihat satupun dari mereka.


Sambil memikirkan hal itu, dia membuka pintu dan melihat isi di dalamnya.


Mata Laila langsung melebar karena yang dia lihat bukanlah suatu yang aneh, namun luar biasa. Sepanjang mata yang dia lihat hanyalah ratusan rak yang dipenuhi oleh buku. Ya. Ruangan itu adalah perpustakaan.


Dan setelah memperdengarkan dengan baik, dia menyadari kalau ruangan itu berisik tak seperti perpustakaan pada umumnya.


"Kuro, apa kau ada disini?"


Dia berteriak sambil melangkahkan kakinya untuk mencari. Jika ruangan itu berisik, maka kemungkinan besar Kuro ada di tempat itu.


Meskipun dia berteriak tak cukup keras, namun dia yakin suaranya akan terdengar sampai ke semua sudut. Dengan kata lain jika Kuro ada, maka dia akan mendengar balasan.


"....Ya. Laila, bisakah kau ke sini?"


Setelah mendengar balasan, dia melangkahkan kakinya menuju sumber suara. Namun meskipun begitu, dia masih mendengarkan suara lain dari berbagai sudut ruangan. Dengan kata lain, di ruangan itu tak hanya ada Kuro saja.


"Kuro, dimana kau?"


"Aku di sini!!"


Suara semakin jelas. Dia sudah dekat, namun setelah dia sampai, yang dia lihat hanyalah kumpulan buku yang berserakan di lantai.


"Kuro?"


"Aku ada di atasmu."


Dia menoleh ke atas dan menemukan Kuro.


"..apa yang kau lakukan di sana?"


Jika biasanya orang melihat seseorang mencari buku di rak tinggi dengan menggunakan tangga, maka yang dilakukan Kuro adalah dengan berjalan secara vertikal seperti seekor serangga yang menempel di sebuah pohon. Dan tak hanya itu yang dia lakukan, entah mengapa Kuro melakukannya sambil membaca buku yang dia ambil.


Kuro menunjukkan wajah tak senang. Setelah itu dia melompat dan mendarat tepat di depan Laila.


Mengambil kesempatan itu, Kuro mengambil jatah ciuman mesra mereka di pagi hari. Inilah yang biasa mereka lakukan, jadi Laila tak terkejut lagi jika Kuro mencium dirinya.


"Bisakah kau tak meremas dadaku setiap kali kita berciuman? Itu membuatmu terlihat seperti orang mesum."


Tapi Kuro justru tertawa kecil.


"Aku dengan senang hati kau panggil mesum asalkan bisa melakukan hal hal mesum denganmu."


"Itu mungkin terdengar keren, namun jangan mengatakan hal itu di depan umum. Kau pasti tahu kalau itu memalukan. Ngomong ngomong, apa yang kau lakukan di sini?"


Sebelum menjawab, Kuro mendesah berat seolah memberikan tanda buruk.


"Aku ingat sesuatu, jadi aku mencari tahu."


"...Apakah ini ada hubungannya dengan Lic?"


Kuro mengangguk. Dia lalu duduk dan menyandarkan tubuhnya di rak. Sedangkan Laila ikut duduk di sampingnya.


"Ya begitulah. Dalam masalah ini kita tak bisa melakukan pencarian asal asalan, jadi kurasa saatnya kita mengambil sudut yang berbeda untuk menangani masalah ini."


Laila mengambil salah satu buku dan melihat isinya. Saat itu dia tahu apa yang Kuro cari.


"Mungkinkah kau mencari ritual sihir apa yang membutuhkan Lic sebagai salah satu syaratnya?"


Jika mencari sembarangan begitu sulit, maka mereka hanya perlu mengganti sudut pandang mereka. Jika aku seorang penjahat yang mempunyai spirit milik Holy Maiden, apa yang akan aku lakukan? Cara ini sederhana, namun ini cara yang sulit karena mereka masih belum tahu siapa musuh mereka.


"...Yah... sayangnya dari sekian banyak buku tentang sihir yang ada di sini, namun sejauh ini aku masih belum menemukannya. Kurasa kita harus mencarinya di tempat yang lebih lengkap dari pada di sini."


Laila dengan cepat mengetahui tempat apa yang dimaksud Kuro.


"Kita tak punya pilihan lain selain ke sana kah?"


"Ada apa? Apa kau tak ingin ke sana?"


"Bukan begitu, ...hanya saja bukankah tempat itu cukup spesial bagi kita. Saat mengingat itu, aku teringat dengan mereka bertiga. Aku penasaran apa yang mereka lakukan saat ini."


Aleca, Mitra dan Sella. Mereka adalah sahabat baik Laila. Sudah lama Laila tak bertemu dengan mereka, tak heran jika ada rasa rindu di hati Laila.


"Kenapa kau tak menemui mereka kapan kapan? Aku sepertinya juga harus bertemu mereka untuk mengobrol. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan mengenai dirimu sebelum aku bertemu denganmu."


Laila bukannya senang, namun terlihat kesal.


"Jangan lakukan itu!"


"Kenapa?"


"Apa aku harus memberikan alasannya?"


Melihat tatapan Laila yang penuh dengan hawa membunuh, Kuro sudah tahu percuma saja meminta jawaban.


"Sudahlah, bagaimana kalau kita sarapan terlebih dahulu?" tanya Laila. "Dimana dapurnya? Aku akan membuatkan sarapan spesial untukmu."


"Aku sangat senang, tapi mengenai sarapan kau tak perlu memikirkannya."


"Eh?"


Kuro tiba tiba menepuk tangannya dua kali. Dalam sekejap suara berisik yang terdengar di berbagai sudut ruangan langsung berhenti. Setelah beberapa saat, suara itu tergantikan oleh suara langkah kaki yang mendekat dari penjuru.


Tak butuh waktu lama hingga Laila tahu siapa yang membuat suara itu. Suara itu berasal dari puluhan gadis cantik berpakaian maid yang mengelilingi mereka. Dan beberapa di antara mereka ada yang membawa keranjang besar yang berisi makanan.


Tak diragukan lagi mereka semua adalah pelayan yang bekerja di rumah itu, namun wajah mereka semua lebih cantik daripada seorang model sehingga bisa dibilang mereka tak ada satupun yang mirip pelayan.


"Mungkin kau butuh waktu lama untuk menghafal mereka semua, jadi lakukan saja perlahan lahan. Eh, Laila?"


Tiba tiba tatapan Laila menjadi kosong. Dia terkejut. Sangat terkejut.


"...Kuro, kurasa kau benar benar menikmati hidup dikelilingi gadis gadis cantik, ....bagaimana kau menjelaskan semua ini kepada calon istrimu?"


"Ah...."


Kuro akhirnya sadar kalau dia telah menggali lubangĀ  kuburannya sendiri. Lubang yang sangat dalam.


Pada akhirnya dirinya harus menjelaskan banyak hal mengenai maid di rumah itu sebelum akhirnya dia bisa menikmati sarapan dengan tenang. Tentu sarapan bersama pelayan mereka.


***


Sementara itu di kota Areshia, Charlmilia menikmati sarapannya dengan wajah murung.


"Aku memang memutuskan untuk mencari tahu dimana Kuro dan Laila, tapi pada akhirnya melakukannya lebih sulit daripada yang kukira."


Dia sudah menghubungi kenalannya di berbagai tempat. Tentu dia tak menanyakan Kuro, namun identitas lain Kuro yang dikenal sebagai Shiro atau Akashi. Hal itu dikarenakan kedua identitas itulah yang dipakai Kuro saat melakukan pekerjaannya sebagai pembunuh dan pengusaha.


Namun dia tak menemukan satupun berita mengenai Shiro maupun Akashi.


(Jika diingat ingat, Akashi memang terkenal, namun dia juga terkenal sangat sibuk. Meskipun banyak yang ingin bertemu dengannya, namun hanya beberapa orang saja yang bisa bertemu dengannya. ...Kuro memang luar biasa, tentu dalam artian lain.)


Charlmilia kembali mendesah dalam. Hal itu membuat banyak yang penasaran apa yang terjadi kepadanya.


Dia merasakan hawa keberadaan seseorang mendekat. Tidak, dua orang. Keduanya adalah Alva dan Alvi.


Keduanya membawa sesuatu di tangan mereka.


"Charl, selamat pagi."


"...un.."


Meskipun identitas Charlmilia perempuan, namun keduanya masih memanggilnya dengan panggilan saat Charlmilia dikenal sebagai laki laki. Mungkin ini cara mereka membalas perbuatan Charlmilia atau mereka hanya iseng. Tak ada yang tahu apa yang keduanya pikirkan.


"Pagi Alva, Alvi. Apakah kalian selesai berlari?..aku benar benar terkejut kalian masih saja melakukan itu."


Berlari memakai beban selalu mereka lakukan dengan teratur. Hal ini bukan karena perintah Kuro, namun mereka sadar jika ingin kuat, maka mereka harus berusaha keras. Selain itu mereka sudah merasakan hasil latihan itu.


"Dengan dasar yang kuat, maka kami akan dengan mudah belajar berbagai sihir. Kuro pernah mengatakan itu, jadi meskipun kami terlihat bermain main, namun kami serius dengan ini."

__ADS_1


Alvi mengangguk tanda setuju dengan Alva.


"Aku mengerti itu. Bukannya aku ingin mengejek kalian atau apa, aku hanya kagum karena kalian masih saja melakukannya. Sekarang kenapa kalian tak sarapan dulu?"


"Ah tidak. Terima kasih, kami sudah sarapan. Kami kemari hanya ingin memberikan sesuatu kepadamu."


Charlmilia lalu melirik ke benda yang dibawa keduanya. Benda itu mirip seperti sebuah undangan.


Charlmilia lalu menerima undangan dan membacanya. Kedua matanya melebar saat membaca isinya.


"Oh... aku benar benar lupa kalau Rosya beberapa hari lagi akan berulang tahun yang keenam belas. Mungkinkah kalian juga mendapatkannya?"


"Ya begitulah. Kami mendapatkannya dari pengantar pesan yang menemui kami saat berlari di kota. Karena kita satu sekolah, pengantar itu menitipkannya kepada kami."


"...kami juga membawa undangan untuk Laila, namun dia tak ada di sekolah sekarang."


Alva dan Alvi masih terlihat kecewa karena Kuro pergi tanpa pamit kepada mereka. Namun bukan berarti mereka tak mengerti alasan Kuro melakukannya.


Charlmilia juga merasakan hal yang sama dengan keduanya. Karena itulah dia mencari tahu keberadaan Kuro dan Laila.


"Hm.. kurasa sebaiknya kalian memberikan undangan Laila kepada bu Otome saja. Kurasa itu lebih baik daripada memberikannya ke rumah kosong mereka."


"Itu saran yang bagus, Charl. Tapi mengingat kondisi bu Otome saat ini, kurasa itu bukan tindakan yang tepat."


"Bagaimana kalau kita memberikannya kepada nyonya Electra, kak Alva?"


"Heh.. tapi apa kau berani menemui nenek menyeramkan itu? Apa kau lupa apa yang terjadi saat dia marah?"


"Tapi kita memberikan undangan, kita tak membuat kesalahan, jadi kurasa kita akan baik baik saja jika menemuinya."


Keduanya mengangguk setelah membuat keputusan bersama. Sekilas mereka mirip berdebat, namun ini hanyalah cara mereka untuk menentukan tindakan yang tepat.


"Ah.. kalian ini.."


"Kalau begitu kami pergi dulu. Oh iya, kenapa kita tak kembali ke ibukota bersama sama?"


"...Itu ide yang bagus. Kita akan membicarakannya nanti."


Alva dan Alvi berbalik dan akhirnya pergi.


Sementara itu, Charlmilia terus menatap undangan di tangannya.


Undangan itu berasal dari Rosya Grafired. Dia merupakan salah satu putri jendral sama seperti dirinya. Hubungan mereka bisa dibilang tak akrab dan hanya sebatas mengenal satu sama lain.


(Ah... merepotkan. Kenapa aku harus datang ke pesta seperti ini. Padahal aku ingin mencari Kuro secepatnya. Apa aku tak datang saja?)


Tapi Charlmilia menggelengkan kepalanya.


Pesta di antara para bangsawan dan orang penting bukanlah pesta yang bertujuan bersenang senang saja. Kebanyakan pesta itu bertujuan untuk mempererat hubungan antar bangsawan dan disaat yang sama juga untuk mengetahui sisi baik dan buruk bangsawan lainnya. Segala tindakan dalam pesta itu akan berpengaruh dalam hubungan sosial antar bangsawan di masa depan dan itu berarti meskipun tak suka, namun tak datang ke pesta itu bukanlah tindakan yang tepat.


Charmilia mendesah berat.


"..sepertinya aku memang harus datang kah...." Charlmilia berdiri dan pergi dari tempatnya. "Kurasa aku sebaiknya cepat cepat mencari keberadaan Kuro.."


Tapi bagaimana?


Setelah memikirkan kemungkinan siapa yang tahu, dia akhirnya merasa ingin memukul dirinya sendiri dengan Plasma Breath milik Byakko.


(Bodoh, kenapa aku tak menyadarinya..)


Charlmilia mempercepat langkahnya dan kemudian menyusul Alva dan Alvi menemui Electra.


****


"Hey Kuro, sebenarnya kenapa situasi berubah menjadi seperti ini?"


Laila melirik ke sekitarnya dengan tatapan heran.


Pemandangan yang dia lihat mungkin pemandangan yang tak akan dia lihat di rumah bangsawan manapun. Mereka sarapan berdua ditemani semua pelayan yang ikut sarapan tak jauh dari mereka. Sarapan mereka tak berada di meja makan, namun duduk di lantai seperti berada di taman.


Salah satu pelayan di dekat mereka mendekat.


"Maaf atas ketidaksopanan Saya terlebih dulu, nona Laila. Saya ingin memberi tahu anda kalau tuan Kuro memerintahkan kami untuk bertindak biasa saja selama tak ada tamu di rumah ini, yah jadi seperti yang anda lihat, kami tak akan canggung makan bersama dengan tuan Kuro."


Laila sedikit mengerti alasan kenapa situasi bisa dibilang aneh, namun tetap saja dia merasa ada suatu yang salah dengan semua maid di rumah itu. Dia bisa melihat dari ekspresi mereka semua yang malu malu dengan wajah memerah.


(Sudah kuduga, mereka semua jatuh cinta dengan Kuro. Ha... aku tak percaya ini...)


Dia cemburu dan marah. Meskipun dia terbiasa dengan kehadiran gadis yang menyukai Kuro, namun ini baru pertama kalinya dia menemukan puluhan gadis yang menyukai Kuro. Apalagi mereka semua adalah pelayan mereka.


(......Uh... aku tak percaya ini..)


"Laila, apa ada masalah..?" tanya Kuro.


"..tidak, tapi kepalaku sedikit pusing. Tapi jangan kawatir, aku baik baik saja."


Laila lalu melirik maid sebelumnya.


"Terima kasih sudah memberi tahu, ..err.."


"Nama saya Guila Drysta. Saya bertugas sebagai pemimpin pelayan di rumah ini. Jika anda membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk memanggil Saya."


"Ya, semuanya berjumlah 33 pelayan dan kami semua dikepalai oleh tuan Boris. Mungkin anda tak percaya, namun kami semua memiliki keahlian lain selain menjadi pelayan."


Laila bisa menebak apa yang ingin Guila katakan selanjutnya.


"Nona Laila, tuan Kuro memilih kami menjadi pelayan di rumah ini bukan karena kami ahli dalam urusan rumah tangga, namun karena kami semua memiliki kemampuan bertempur yang setara dengan seorang Holy Knight. Jadi, jangan kawatir dengan keamanan anda, kami sudah siap mempertaruhkan nyawa kami demi nona Laila." lanjut Guila.


"....."


Laila terbengong dan perlahan melirik Kuro dengan tatapan yang penuh ketidak percayaan.


"Oh... jangan pernah berpikir kalau aku hanya memilih pelayan karena mereka cantik. Mereka sangat menakutkan, mungkin lebih dari yang kau bayangkan."


"....serius?"


Setelah sarapan dengan situasi aneh, Laila mandi dan berganti pakaian. Dia keluar rumah untuk menghirup udara segar di pagi hari.


Saat melihat rumah orang tuanya yang berjarak cukup dekat, dia hanya bisa mendesah kecil. Disaat itulah dia menemukan kotak besar yang tergeletak di depan pintu.


"Apa ini?"


Laila merasakan suatu keanehan. Jika ada tamu, seharusnya dia akan tahu dari suara bel, namun tak ada tanda tamu datang ke rumah.


(Mungkinkah aku harus memanggil Kuro?)


Laila mengurungkan niatnya. Dia merasa tak perlu melakukannya.


Dia lalu mengamati kotak besar itu dari berbagai sudut. Dia lalu menemukan tanda kalau itu sebuah paket yang ditujukan untuk Kuro.


"Hmmm.. sudah kuduga aku memang harus memanggilnya, tapi-"


Saat ini Kuro sedang melanjutkan pencariannya bersama Guila dan pelayan lainnya. Meskipun Kuro sedang bersama dengan puluhan gadis, namun dia tahu Kuro tak akan macam macam dengan mereka.


Dia hanya harus membakarnya jika dia melakukan hal aneh.


Dan meskipun mereka berjanji untuk bertemu dengan ayah Laila, namun mereka tak perlu terburu buru. Lagipula rumah mereka hanya berseberangan.


(Ughh.. aku tak ingin mengganggu mereka, tapi- hm?)


"Aku kekasih Kuro, jadi kurasa Kuro tak keberatan aku membukanya."


Laila lalu menghancurkan sihir yang menjaga paket itu. Normalnya sihir di sebuah paket tak akan hilang jika tak sampai kepada orang yang dituju, namun di paket itu bukan sihir yang kuat sehingga Laila bisa menghancurkannya dengan mudah.


Laila lalu membuka tutupnya.


"....."


Secepat dia membukanya, dia lalu menutupnya kembali.


Dia menemukan gadis hampir tela*jang yang diikat pita merah di seluruh tubuhnya bagai sebuah hadiah.


Laila mengusap matanya karena dia merasa baru melihat sebuah ilusi.


"Sebaiknya kubakar saja paket ini.."


Laila membuat bola api di tangannya. Meskipun kecil, namun memancarkan tekanan mana yang kuat dan berbahaya.


Tapi sebelum sempat dia melakukan pembunuhan, kotak itu terbuka sendirinya dan sosok gadis itu melompat ketakutan.


".....ja-jangan lakukan itu, kak Laila. Aku tahu aku sudah keterlaluan, tapi kau tak harus sekejam itu."


Sosok itu tak lain adalah Yui.


"Oh... pantas saja aku seperti pernah melihatmu. Yui, sudah lama tak bertemu."


Laila tersenyum. Itu bukan senyuman yang hangat.


"..Su-sudah lama tak bertemu..."


"Yui, aku tahu kau suka dengan Kuro, namun aku tak menyangka kau akan menjadi wanita murahan...."


Yui langsung pucat pasi dan syok setelah mendengar kata yang menyakitkan, sayangnya dia tak bisa membantah setelah apa yang dia perbuat.


"Hm.. aku benar benar penasaran apa yang akan dikatakan Kuro saat tahu kau seperti itu?"


"Baiklah baiklah. Aku mengerti, jangan katakan hal sekejam itu kepada calon adikmu sendiri."


Setelah Yui menunjukan air mata berlinang tanda menyesal, Laila baru mulai menanggapinya dengan serius.


"Jika kau menyesal, cepat pakai pakaianmu. Apa kau tak malu?"


"..ah..."


"Hey jangan bilang kalau kau tak menyadarinya?"

__ADS_1


Kemudian Yui berlari menuju salah satu sudut taman. Awalnya Laila mengira itu tempat menaruh pakaian Yui, namun dia salah. Tiba tiba sosok Rubya muncul dengan pakaian Yui yang ditaruh di rerumputan. Dengan menggunakan sayap Rubya untuk menutupi dirinya, Yui berganti pakaian di tempat itu juga.


"...."


Laila tak tahu harus berkata apa. Dia ingin memuji Yui, namun dia tak menyangka Yui akan melakukannya di taman terbuka.


Setelah menunggu beberapa menit, Yui selesai berpakaian dan tiba di depan Laila dengan wajah bugar.


"Kak Laila, sekali lagi aku minta maaf karena telah membuatmu melihat jurus rayuan terbaru yang kudapat setelah menonton film. Aku senang kau baik baik saja."


"..errr... baiklah, pertama tama kenapa tak masuk dulu?"


Keduanya menuju ruang tamu. Rubya tetap di luar beristirahat. Anehnya meskipun belum memanggil pelayan untuk membuatkan minum, namun seorang pelayan sudah menyiapkan teh dan beberapa kue.


Laila ingat kalau pelayan di rumah itu mengatakan kalau mereka memiliki kemampuan setara dengan Holy Knight yang merupakan prajurit elit di kekaisaran, mengetahui seorang tamu datang hal yang sangat mudah baginya.


Tapi dia tetap memiliki perasaan aneh tentang penggunaan kekuatan yang tak pada tempatnya.


Pelayan itu memberi hormat sebelum akhirnya meninggalkan keduanya di ruang tamu.


"Terima kasih, Lilo."


"Eh?"


Tak disangka, Yui mengetahui nama pelayan itu.


Pelayan bernama Lilo itu tersenyum kecil dengan aura misterius dan tak terlihat lagi.


Kini mereka benar benar berdua.


"Kau sudah hafal seluruh nama pelayan di sini. Entah mengapa aku tak terlalu terkejut saat mengetahuinya."


Laila minum teh dengan perlahan. Sedangkan Yui hanya tersenyum kecil.


"Hm... kau memanjangkan rambutmu?"


"Aku terkejut kak Laila menyadarinya."


"Kau mengatakan seolah aku tak perhatian denganmu, tapi itu tetap membuatku aneh. Saat di desa aku melihat sebagian besar gadis di sana memiliki rambut pendek."


"Itu dimaksudkan agar kami mudah bertarung saja. Tapi jika membahas perubahan, bukankah kak Laila paling berubah?"


Laila langsung tahu apa yang dimaksud Yui.


"Aku tahu dadaku lebih besar, tapi kumohon jangan pernah membahas mengenai dadaku. Memiliki dada besar bukan hal yang menyenangkan."


Dengan sedikit gerakan, kedua dada Laila memantul seperti bola lembut. Itu menjadi senjata tambahan yang ampuh untuk Laila.


Wajah Yui memerah sambil menatap dada miliknya yang masih dalam pertumbuhan. Dia kalah telak jika membahas topik sensitif itu.


"Ughh... aku kalah, tapi aku tak pernah bermaksud membahas kedua dada luar biasa itu. Tapi aku juga ingin tahu bagaimana kau membuat mereka sebesar itu dengan cepat."


"Eh?"


"Yang aku maksud perubahan adalah tekanan mana, kak Laila-. Apakah kak Laila tak tahu kalau kekuatanmu sudah meningkat pesat daripada saat kita terakhir bertemu?"


"........"


Laila tercengang dan berhenti meneguk teh.


"Ah... aku tak mengerti hal ini. Kurasa kak Kuro mengetahui hal ini dan tak memberi tahumu. Tapi yang lebih aneh kalau kau tak menyadarinya kekuatanmu sendiri."


"Err.... aku tahu kemampuanku sudah meningkat, namun kurasa kau terlalu berlebihan, Yui."


Laila tetap menyangkal.


"Aku sama sekali tak berlebihan. Buktinya kau bisa membuka segel khusus di kotak tadi dengan paksa. Mungkin kau tak tahu, tapi itu sihir yang sudah kupersiapkan agar tak ada yang bisa membukanya selain kak Kuro."


"....kau terlalu berlebihan."


Laila lalu kembali meneguk tehnya dengan anggun bagai seorang putri.


Akhirnya Yui memutuskan untuk tak memberi tahu.


(Kak Kuro pasti juga menyadari bakat terpendam yang dimiliki oleh kak Laila. Jika seperti ini, kemungkinan kak Laila bisa mengalahkan aku dengan mudah. ..kenapa aku tak mencari tahu?)


Yui tersenyum tipis. Sebuah ide muncul di kepalanya.


"Oh iya, dimana kak Kuro? Aku kemari untuk membawakan benda yang dia inginkan?"


"Saat ini dia masih di perpustakaan bersama dengan puluhan pelayan lainnya. Dia pasti menikmati waktunya dikelilingi para gadis cantik."


Aura tidak senang terpancar dari Laila.


"..ngomong ngomong benda apa yang kau maksud?"


Yui tak langsung menjawab dan berdiri.


"Aku akan menunjukkannya padamu. Tapi aku tak bisa menunjukkannya di sini. Bagaimana kalau kita ke tempat lain."


"Dimana?"


Laila kemudian mengikuti Yui berkeliling rumah. Laila masih belum terlalu hafal, namun karena rumah itu dibuat untuk Yui dan Ayahnya, maka tak heran jika Yui lebih mengenal baik rumah itu.


Mereka tiba di depan pintu, namun Yui tak langsung membukanya dan justru melirik pajangan berupa sebuah lampu hias. Yui memegangnya dan lalu memutar lampu hias sehingga seolah patah.


Lalu lantai tak jauh dari mereka terbelah dan menunjukkan anak tangga yang menuju ke bawah. Lampu perlahan menyala menerangi anak tangga.


"Ruang rahasia. Aku tak terkejut sama sekali."


Dia sudah mencurigai adanya ruang rahasia, namun dia belum tahu dimana tepatnya.


"Ini bukan ruang rahasia, ini tempat latihan."


"Huh?"


Yui tanpa ragu menuruni tangga. Laila mengikutinya.


Mereka lalu sampai di ruangan serba putih yang hampir seluas lapangan sepak bola. Di berbagai tempat penuh dengan goresan benda tajam. Jika dilihat dari skala sayatan, kemungkinan dihasilkan oleh sayatan angin.


Jika melihat luas rumah dan luas ruangan, pasti akan terasa tak wajar. Tapi Laila tahu di dunia ini ada alat sihir yang memiliki kemampuan memperluas ruang atau memisahkan ruang ke dimensi lain.


Tentu jika bertanya tentang harga alat sihir itu, orang tua Laila tak sanggup membelinya.


Laila akhirnya benar benar merasakan kekuatan uang.


"Kuro yang melakukan semua ini?"


Yui tersenyum kecil.


"....Bukan. kak Kuro memang bisa menggunakan pedang angin, namun pedang angin miliknya berbeda dengan pedang angin sihir."


"Yui apa mak- ?!"


Laila menyadari Yui memancarkan tekanan mana yang luar biasa bersamaan dengan aura membunuh yang kuat.


"...Yui?"


Yui tersenyum tipis.


"Kak Laila pasti sadar kalau bekas itu seharusnya bukan sayatan normal. Sayatan itu dihasilkan oleh.."


Ketika mempertahikan sekali lagi, Laila sadar apa yang Yui ingin katakan selanjutnya.


"..sebuah cakar..."


Yui semakin tersenyum lebar. Disaat yang sama tekanan mana semakin membesar.


"Tunjukkanlah ketenanganmu, [Aquos]."


Air muncul di sekitar Yui, air itu perlahan membentuk sebuah wujud. Itu adalah magic beast miik Yui, yaitu kucing dengan dua ekor.


"............"


Laila terdiam. Dia sadar kalau Yui ingin bertarung dengannya.


"Begitu rupanya... aku ingat kita memang belum menyelesaikan pertarungan kita, membaralah [Scarflare]."


Laila tak mau kalah. Dia memanggil magic arm miliknya.


Aura keduanya memenuhi tempat latihan. Mereka bisa bertarung kapan saja.


Laila menatap dua belati yang selalu Yui bawa. Karena dia tipe Contractor, wajar jika Yui menggunakan senjata. Dia ingat Yui juga bisa menggunakan Ki seperti Kuro. Dengan menggabungkan ki, tekanan mana Yui akan berlipat ganda.


(Kuro pernah bilang kemampuan Yui merupakan kemampuan langka. Aku sangat penasaran dengan kekuatannya.)


Entah mengapa Laila sangat bersemangat.


Dia tak sabar menunggu Yui menarik belati dari sarungnya, namun Yui justru mengambil benda kecil semacam kristal dari sakunya.


"Crystal Box?"


Benda itu hanyalah benda sihir yang mempunyai fungsi seperti tas, namun hanya bisa menyimpan satu sampai dua benda saja. Laila penasaran dengan benda yang dikeluarkan.


"Kak Laila, bukankah aku bilang akan menunjukkannya?"


"?"


Itu berarti benda itu adalah milik Kuro.


Yui mengaktifkannya dan benda di dalam Crystal Box itu pun muncul.


"..mustahil, bukankah seharusnya hanya ada satu pedang putih?"


Laila tak punya pilihan selain melebarkan matanya. Pedang putih yang seharusnya sudah menyatu dengan Lic kembali muncul di depan matanya. Tak hanya satu, tapi dua.

__ADS_1


Pedang katana putih bersih tanpa noda sedikitpun kini ada di kedua gengaman tangan Yui.


".....apa yang sebenarnya terjadi...?"


__ADS_2