Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Two Better Than One


__ADS_3

"Laila... Laila.. apa ada suatu yang salah? Kenapa kau bengong?"


"Emm.. maaf. Aku hanya berpikir sesuatu setelah mendengar nama itu."


Itu reaksi yang tak diperkirakan Kuro mengingat ini baru pertama kalinya dia menyebut nama itu.


"Sesuatu?"


"Ya. Kau bisa bilang semacam perasaan mirip saat mengalami deja vu. Ini aneh, padahal aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya."


Reaksi yang tak diduga Kuro lainnya adalah Laila begitu tenang atau seolah menganggap nama itu sebuah hal yang biasa. Mengingat itu adalah nama orang yang telah membuat hubungan dengan Kuro, itu sedikit aneh.


Kuro tersenyum dan mengacak acak rambut Laila.


"Kenapa kau melakukannya?" Ucap Laila yang jengkel karena rambutnya berantakan.


"Bukan apa apa. Tampaknya aku gagal membuatmu cemburu?"


Laila tiba tiba cemberut dan mengembungkan pipinya. Sungguh manis.


"Muuu.. kau ingin aku cemburu? Setelah melihat semua wanita yang dekat denganmu, apa aku harus cemburu lagi? Aku pikir aku sudah terlalu banyak cemburu."


Kuro tersenyum kecil.


Laila benar. Jika ingin membuat Laila cemburu, dia harus melakukan sesuatu yang lebih lagi. Selain itu Laila sekarang bukanlah remaja yang sedang masa puber. Dia lebih tenang dalam menghadapi masalah.


Laila lalu kembali merebahkan kepalanya di paha Kuro.


"....maaf karena mengingatkan dirimu padanya."


"Tidak apa apa. Kau memang harus tahu masa laluku. Tapi takdir benar benar aneh. Kau ingat perkataanku dulu?"


"Tentang 'takdir tak ada di antara kita?'"


Kuro mengangguk.


"Jika mengingat itu, aku ingin sekali memukul diriku. Yah.. tapi mau bagaimana lagi, saat itu aku masih belum bisa melupakan Arisa."


"Usahaku tidak sia-sia kan?"


"Ya. Ya.. kau berhasil membuatku jatuh cinta lagi. Tapi aku minta kau jangan pernah sekalipun kau memintaku untuk memilih di antara kalian. Itu suatu yang paling tak bisa aku lakukan di dunia ini."


"..."


Laila hanya terdiam membisu. Ini baru pertama kalinya Kuro meminta sesuatu dengan serius dan penuh dengan emosi.


Laila tahu dalam hati yang terdalam Kuro masih belum bisa menghilangkan kenangan dan rasa cintanya pada Arisa. Karena dia memiliki ingatan Alice, maka dia mengerti apa yang Kuro rasakan.


Tetapi dalam hatinya yang terdalam dia merasa kesal pada dirinya sendiri karena merasa senang, tidak, lebih tepat jika lega saat mendengar Arisa sudah meninggal.


(Aku tak akan memintamu. Aku takut kau akan memilih dia daripada aku, Kuro)


Karena itulah Laila tak bisa membayangkan, jika Arisa masih hidup, apakah Kuro akan mencintai dirinya seperti sekarang ini?


(Sebaiknya aku mengganti topik menyedihkan ini. Jika tidak aku akan menangis lagi)


Mereka menggunakan ruangan itu untuk bermesraan dan memadukan cinta. Bukan saatnya membahas suatu yang membuat hati terluka.


"Kuro!"


Laila tiba tiba bangun. Dan itu membuat Kuro terkejut.


"Y-ya, ada apa Laila?"


"Kuro, kau tahu aku akhir akhir ini tertarik dengan menari kan?"


"Yah.. berkat itu kau lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang lain daripada aku."


Kuro tak bisa menyembunyikan kejengkelannya.


Meskipun ada Scarlet dan Lia yang menjaga anak mereka, namun kadang Laila seolah melupakan keduanya dan melakukan sesuatu yang tak pernah dia lakukan sebelumnya.


Salah satunya adalah seni tari.


"Bagaimana kalau aku menari untukmu?"


Kuro tak langsung menjawab, namun dia mengangguk dengan senangnya.


Dia mengerti tujuan Laila berlatih menari adalah demi menghibur dirinya. Mungkin karena Kuro selalu bertarung, dia jarang memperhatikan hal kecil seperti ini.


Karena itulah dia tak bisa menahan kebahagiaan yang dia rasakan saat mengetahui seberapa besar usaha Laila demi dirinya.


Dan begitulah bagaimana Kuro menikmati pertunjukan tarian pribadi dari istrinya sebelum mereka memadukan cinta dan gairah yang sudah tak terbendung.


Catatan tambahan, tarian Laila akhirnya diberi nama Erotic Maid (Wife) Dance.


♦️♦️♦️


Keesokan harinya, ujian Tribal atau pemilihan untuk peserta Battle War akhirnya memasuki babak menengah. Disebut seperti itu karena hari ini adalah pertarungan antara murid yang berhasil lolos setelah bertarung dua kali.


Masing masing grub kini tinggal 8 pasang peserta. Pertarungan hari ini akan menentukan peserta semi final yang akan bertarung besok.


Di tempat pertarungan grub A, arena terasa begitu tegang karena semangat dari 2 pasangan yang siap bertarung.


Atau hanya salah satunya. Berbeda dengan lawan mereka, Kuro seperti biasa begitu santai.


"Kuro, jangan menguap melulu. Kita akan bertarung. Itu tak sopan pada lawanmu."


"Aku tak punya pilihan lain. Ini salahmu sendiri karena terlalu memaksaku. Aku rasa dalam hal teknik di malam hari kau lebih unggul dari pada aku."


"Wha!! A-Aku hanya ingin melakukan yang terbaik. Jangan memanggilku mesum hanya karena aku melayanimu dengan baik. Kau harus bersyukur memiliki istri pengertian seperti diriku."


"Iya iya.."


Wajah Laila memerah. Dia mendengar suatu yang tak dia inginkan. Tetapi dia senang usaha kerasnya diakui.


"Kak Alva, apa kau pikir mereka meremehkan kita?"


"Tidak. Kita tahu mereka tipe yang serius saat waktunya tiba. Meskipun begitu, mereka tak menunjukan celah sama sekali."


Lawan mereka, Alva dan Alvi menganalisa kekuatan Kuro dan Laila sebelum pertarungan dimulai.


Meskipun dalam hati mereka tahu kekuatan Kuro dan Laila berada di level yang berbeda dengan murid sekolah sihir biasa, namun setelah merasakannya dari dekat, keduanya sadar kekuatan mereka melebihi apa yang mereka bayangkan.


"Tetapi seperti itulah Kuro yang kita kenal. "


"Un!!"


Semangat bertarung keduanya meningkat.


"Ini adalah kesempatan kita untuk menunjukkan kalau bukan hanya mereka saja yang menjadi lebih kuat. Alvi, kita tak usah menahan diri."


"Aku tahu itu!"


Waktu hitungan mundur dimulai. Dan itu menjadi tanda bagi kedua pasangan untuk segera bertarung.


""


""


Yang pertama kali bergerak adalah Alva dan Alvi. Keduanya memanggil Magic Arm mereka dan memulai pertarungan.


Alva langsung melesat maju bagai peluru yang mengarah ke Laila dan Kuro. Jika mengingat pertarungan kemarin, kecepatan Alva lebih cepat seolah pertarungan kemarin hanyalah sebuah permainan.


Berbeda dengan pertarungan hari sebelumnya, Alva dan Alvi memutuskan untuk tak terlalu peduli dengan kondisi kristal. Dengan kata lain, mereka menyerang secara habis habisan.


Sama seperti keduanya, Kuro dan Laila tak terlalu peduli dengan kristal, namun Laila menambahkan sihir penguatan agar tak mudah hancur. Bukan oleh kekuatan lawan, namun kekuatannya sendiri.


Alva menyerang dengan serangan pembuka yang cukup berbahaya.


"Sacred Magic Art "


Gelombang besar setinggi tiga meter muncul dan bersiap menyapu Laila dan Kuro.


"Scarflare."


Laila memanggil Magic Arm miliknya dengan jumlah sekitar 50 an dan dalam sekejap mata menyatu menjadi pedang besar sebesar 10 meter. Ini adalah salah satu Sacred Magical Art milik Laila, Giganflare.


Laila mengayunkan pedang itu dan dengan mudahnya membelah gelombang, tak hanya itu air yang menyentuh pedang Laila langsung menguap begitu saja.


"Tch!"


Alva melompat mundur untuk menghindar serangan Laila berupa bola api yang dia ciptakan setelah berhasil menghalau serangan Alva.


Tak hanya satu, namun puluhan dan terus meningkat. Pedang besar yang Laila gunakan juga tiba tiba kembali menjadi pecahan pedang kecil yang ikut menyerang Alva seperti senjata yang dikendalikan.


"Alvi!!"


"Aku sudah selesai. Sacred Magic Art...-"


Tekanan sihir begitu kuat dari jumlah energi sihir yang besar. Kemudian dia mengaktikan magic art yang dia siapkan.


Tetapi dia tak mengarahkan serangannya kepada keduanya, dia mengarahkannya ke langit.


""


Lingkaran sihir raksasa muncul di langit memenuhi seluruh arena pertempuran. Kemudian, hujan salju mulai turun di tengah arena.

__ADS_1


Laila tersenyum. Hawa dingin memang cukup berbahaya bagi penyihir elemen api seperti dirinya, tapi itu itu tak cukup.


"Aku tak tahu apa yang kalian lakukan dengan itu, tapi-"


Laila menciptakan bola api sebesar 5 meter, 10 meter, dan akhirnya 15 meter sehingga seperti matahari kecil. Dia lalu tanpa ragu melemparnya ke arah lingkaran sihir raksasa di langit.


Tujuan Laila mudah ditebak, dia berniat menghancurkan sihir Alvi.


"Eh?"


Dengan jumlah energi sihir yang dia gunakan untuk menciptakan bola api itu, seharusnya itu cukup untuk menghancurkan sihir Alvi, namun kenyataan berkata lain saat serangan keduanya beradu dan akhirnya hanya menyisakan sihir Alvi.


Ini sungguh berada jauh di luar perkiraan Laila. Wajar jika dia terkejut.


"Ini belum berakhir!! Seranganku bukan hanya itu saja!!"


Dari lingkaran sihir puluhan tombak es tercipta dan langsung jatuh ke arah target mereka, Laila dan Kuro.


"Kuh!!"


Menghadapi itu, Laila menciptakan tombak api dengan jumlah yang sama dan menembakannya ke arah tombak es yang datang.


Tetapi di saat itulah Alva muncul di dekat Laila dan menyerang.


"....kau lengah!!"


"Tidak. Kau masih terlalu lambat."


Dengan suara benturan keras, serangan Alva berhasil ditahan oleh Scarflare yang tiba tiba muncul.


Alva tak menyerah dan berusaha menyerang dengan teknik tombak yang sudah dia latih bersamaan dengan kecepatan yang luar biasa. Tak hanya itu, dia juga menggunakan ilmu bela diri seperti tendangan dan pukulan, tapi semuanya bisa ditahan.


"Tidak buruk, tapi belum cukup!!"


"Tsk!!"


Alva tak bisa menahan diri menggigit bibirnya, dia tak menyangka semua serangannya akan mudah ditangkis oleh pedang Laila. Dan yang lebih menyebalkan, Laila sama sekali tak memegang senjata. Dia hanya mengendalikan Scarflare dengan mudahnya dan dalam jumlah yang cukup banyak.


Dan yang lebih luar biasa, dia melakukan semua itu saat fokus membalas serangan Alvi.


Alva lalu mundur dan kembali berkumpul dengan Alvi.


"Dia terlalu kuat. Aku tak menyangka perbedaan antara kita akan sejauh ini."


"Kak Alva, kau sadar kan?"


Keringat dingin mengalir dari pelipis keduanya.


"Aku tahu. Setelah semua serangan itu kita belum berhasil membuat mereka bergerak dari tempat mereka. Dan Kuro bahkan belum menarik pedangnya sama sekali."


Terlalu kuat. Musuh mereka kali ini terlalu kuat.


Tetapi mereka sudah tahu, ini bukan suatu yang mengejutkan. Sayangnya hal ini tak berlaku pada penonton dan murid lainnya yang datang untuk menonton.


"Kita tak punya pilihan lain, kita gunakan itu. Meskipun ini lebih cepat dari perkiraanku, tapi ini bukan masalah."


"Un!!"


Keduanya lalu menukar magic arm mereka satu sama lain. Ini tindakan yang cukup mengejutkan bagi semua yang melihatnya.


Sudah menjadi pengetahuan umum jika penyihir menukar magic arm mereka pada orang lain akan mengalami penolakan meskipun pemilik mereka sudah mengizinkannya.


Tetapi meskipun sudah mengetahui hal itu, keduanya sama sekali tak terlihat ragu.


"Laila, berhati hatilah. Mereka sudah serius?"


"Mu? Jadi kau juga menyadarinya?"


"Aku tahu sejak awal."


Berbeda dengan penonton, Laila dan Kuro sudah tahu hal ini akan terjadi.


""<>""


Keduanya menyebut nama sihir baru, bersamaan dengan itu tekanan sihir keduanya meningkat hingga menerbangkan udara di sekitar mereka.


Laila mulai kawatir saat merasakan tekanan mereka berdua. Tekanan keduanya terlalu berbeda jauh sehingga membuat dia merasa melawan dua orang yang berbeda.


""Maju!!""


Keduanya melesat secara bersamaan. Kecepatan mereka melebihi kecepatan yang mereka keluarkan sebelumnya. Lalu ditambah dengan gerakan yang begitu tersinkronisasi, keduanya bagai badai yang tak bisa ditebak.


Laila dan Kuro juga mulai serius. Laila mulai menggenggam Scarflare, dan Kuro juga menarik pedangnya. Tapi bukan Lic, namun pedang hitam.


Dalam sekejap suara benturan logam terdengar di sekitar Kuro dan Laila. Keduanya sibuk menangkis semua serangan Alva dan Alvi yang begitu sengit dan cepat.


Laila menahan semua serangan dan di saat yang sama dia menggunakan sihir untuk melelehkan salju dan menghangatkan tubuhnya.


Lalu berbeda dengan Laila, Kuro tak melakukan apapun dan hanya fokus bertahan dan menangkis semua serangan.


"Aku tahu kalian belum serius."


"Jangan hanya terus bertahan, jika seperti itu terus badai ini akan semakin lebat dan hanya menunggu waktu saja hingga kami mengenai kalian."


Laila dan Kuro tak terpancing. Keduanya masih mengawasi teknik keduanya yang begitu luar biasa.


Tetapi yang luar biasa adalah busur Alvi (Alvairz)yang digunakan seperti pedang. Dengan menyalurkan energi sihir untuk menciptakan bilah pedang es. Tentu itu tak cukup kuat, jadi Alva menambahkan sihir penguatan dan di saat yang sama menggunakan sihir untuk meregenerasi bilah yang rusak akibat berbenturan dengan pedang keduanya.


Selain seperti pedang, Alva juga sesekali menembakan panah, namun dalam jumlah sedikit dan ukuran kecil. Serangan itu memiliki dampak kecil, Alva berharap bisa melukai Kuro dan Laila walau hanya sedikit, namun keduanya mampu menangkis semua itu dengan mudahnya.


"Laila!!!"


"Kuro!!"


""Jika kalian masih tak serius, kami akan memaksa kalian!!""


Tiba tiba keduanya menghentikan serangan mereka. Keduanya menjaga jarak dan dengan cepat melompat ke atas. Tak hanya satu lompatan, namun dengan memadatkan es di sekitar, mereka menggunakannya sebagai pijakan untuk naik ke langit melebihi sihir Alvi yang telah menciptakan badai salju.


"Alvi!!"


"Kak Alva!"


Alvi melempar tombak Alva (Alviarz) ke atas dan membiarkannya berputar di udara. Dia lalu bergabung pada Alva.


""Alvairz, Transform!!""


Busur Alvi (Alviarz) tiba tiba menjadi besar hingga melebihi tinggi tubuh mereka. Alva langsung saja menarik tali busur hingga batasnya, sedangkan Alvi menahan busurnya saat di udara.


Sesaat kemudian, tombak Alva (Alviarz) kembali turun tepat pada tali busur.


Tekanan sihir kembali meningkat bersamaan dengan tekanan udara yang semakin dingin. Perisai yang melindungi penonton mulai ikut membeku.


Pada saat ini, semua tahu. Sesuatu yang besar akan muncul.


""Union Sacred Magic Art, Prison Forest of Hell ""


Keduanya tanpa ragu menembakan anak panah (tombak) menembus lingkaran sihir raksasa dan menyatu dengan sihir keduanya.


Suhu dengan cepat menjadi dingin membekukan semuanya hingga menyebar seluruh arena. Tapi itu hanyalah awal, serangan utama mengarah pada Kuro dan Laila dan tak ada yang bisa menghentikannya.


Dalam sekejap hutan es tercipta di seluruh arena. Semuanya membeku menjadi es. Arena, bahkan perisai menjadi es.


Para penonton tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Mereka memikirkan satu hal yang sama, ini bukan magic art yang dimiliki oleh murid sekolah sihir.


Alva dan Alvi mendarat di ranting salah satu pohon es. Keduanya tampak lesu dan lelah karena menggunakan magic art tingkat tinggi.


"Aku pikir ini belum cukup."


"Yeah, mereka tak akan kalah hanya karena ini."


Keduanya tahu. Meskipun mereka menggunakan magic art tingkat tinggi, namun itu tak cukup untuk mengalahkan keduanya.


Selain itu keduanya masih merasakan tekanan sihir dari Laila yang begitu kuat.


Lalu tak berapa lama kemudian, kilat cahaya kemerahan muncul di antara pepohonan. Pohon es tumbang dengan suara keras.


Dari tempat tumbang, sesosok gadis muncul dengan menyeret seorang lelaki di tangannya. Dan entah mengapa, gadis itu terlihat jengkel.


"Aku tak menyangka kau akan memilih menerima serangan mereka. Apa kau sudah gila?"


"Maaf, aku sedang melamun!"


"Apa itu pembelaanmu? Cepat seriuslah. Sepertinya ini tak akan mudah."


"Iya iya."


Kuro dan Laila kembali ke pertarungan. Bersamaan dengan itu, perisai kembali pulih dan penonton kembali terlihat.


Penonton bersorak dengan penuh kekaguman. Mereka berlomba untuk memberi semangat pada murid yang menunjukan pertarungan luar biasa. Bagi mereka pertarungan sedahsyat ini belum pernah terjadi kecuali dalam keadaan darurat. Sayangnya, mereka semua akan disuruh mengungsi daripada menonton.


"Laila."


"Kuro..."


Kuro tersenyum.


"Aku sangat senang karena kalian bisa melakukan hal sejauh ini. Jujur saja aku sangat terkejut. Kalian ternyata berhasil memanfaatkan kekuatan kalian sebagai sang kembar. Dan ini membuktikan kalau anggapan semua orang mengenai anak kembar adalah sebuah kesalahan."

__ADS_1


Sejak dulu, anak kembar yang terlahir dari penyihir dikatakan sebagai simbol ketidakberuntungan. Hal ini karena sihir adalah perwujudan jiwa. Jika anak kembar adalah simbol dari jiwa yang terpisah menjadi dua bagian, di saat yang sama orang beranggapan kalau kekuatan sihir juga terpisah.


Kasus dalam keluarga Alva dan Alvi menjadi contoh nyata dalam hal itu. Meskipun keduanya tak bercerita tentang keluarga mereka, namun keduanya menceritakan semua hal yang mengganggu pikiran mereka dengan begitu mudahnya pada Kuro. Ini adalah bukti betapa percayanya mereka pada Kuro.


"Jadi masih ada yang berpikiran kuno seperti itu."


Laila mendengar itu untuk pertama kalinya langsung mengerti. Dia tak butuh penjelasan, namun dia mengerti kenapa Alva dan Alvi begitu lengket pada Kuro.


"Kuro, kami sudah tak memikirkan semua hal itu lagi. Berkat guru kami, kami paham kalau itu hanyalah sebuah pemikiran bodoh. Jiwa dan tubuh kami mungkin dulunya adalah satu. Memang awalnya kami frustasi karena dianggap kegagalan, tapi kami memutuskan untuk menghancurkan semua pemikiran itu."


"Lagipula, seperti pepatah bilang-"


""Dua lebih baik daripada satu!!!"" Ucap Alva dan Alvi dengan kompaknya.


Perkataan keduanya membuat penonton tercengang. Mereka tak begitu paham apa yang mereka katakan, namun sebagian besar tahu kalau itu keren. Itu sudah cukup untuk membuat penonton berpihak pada mereka.


".....akhirnya kalian mengerti juga.."


Kuro tak menyembunyikan senyuman lebarnya.


"Kuro?"


"Ah.. tidak. Aku hanya senang melihat mereka akhirnya bisa melangkah maju."


"Itu semua berkatmu, Kuro."


"Karena itulah, kami ingin kalian serius. Anggap aja ini sebagai ujian akhir kami."


Mendengar itu, Kuro menggaruk belakang kepalanya.


"Laila, bagaimana menurutmu?"


"Kita sudah berjanji untuk tak menghancurkan arena karena perbaikan akan menjengkelkan, tapi aku pikir sebaiknya kita melakukan pengecualian untuk mereka berdua. Lagipula aku bisa melihat semangat bertarungmu sudah tak bisa ditahan lagi."


Kuro hanya tersenyum. Tangannya memang gemetar, namun bukan karena takut. Dia saat ini sudah tak sabar ingin melawan keduanya.


"...Tetapi, untuk kali ini biarkan aku yang melawan mereka. "


"""Eh???"""


Tak hanya Kuro, Alva dan Alvi juga terkejut.


"Ini bukan berarti aku meremehkan kalian. Sayangnya, aku merasa Kuro akan menahan diri jika melawan kalian. Benarkan?"


"Kenapa kau berpikir seperti itu." Jawab Kuro sambil melirik ke arah lain.


Mengabaikan Kuro, Laila menatap ke arah keduanya.


"Apa kalian keberatan?"


"Tidak. Justru sebaliknya, kami akan menganggap ini sebagai kesempatan."


"Dan untuk memeriahkan hal ini, bagaimana kalau jika kami menang kau akan membiarkan kami menjadi istri kedua Kuro?"


Laila terdiam tak langsung menjawab. Lalu dia tersenyum..


"Lakukan saja jika kalian mampu. Aku pikir kalian mukai sombong."


Laila kesal. Itu sangat terlihat dari ekspresinya.


Dia lalu menciptakan puluhan tombak api yang di arahkan pada keduanya. Alva dan Alvi menghindar dengan bergerak lincah di antara pepohonan es. Bersamaan dengan itu mereka kembali memanggil nama sihir mereka.


Dan sama seperti sebelumnya, keduanya menukar magic arm mereka.


"Aku tak tau apa yang kalian rencanakan, tapi itu tak cukup."


Laila maju dengan melompat di antara cabang pohon es. Setiap kali dia melangkah, pohon es akan menguap karena tubuh Laila yang panas.


Dia memanggil Scarflare di kedua tangannya dan melempar salah satunya pada Alvi. Dia lalu menargetkan Alva yang menggunakan busur Alvi sebagai senjata.


"Laila, itu taktik yang bagus. Tapi di saat yang sama itu sebuah kesalahan."


Kuro yang hanya bisa menjadi penonton memutuskan untuk melihat pertarungan dari jauh. Dia juga berjaga jaga jika ada sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada kristal miliknya.


Dalam hal kekuatan dia tak terlalu kawatir, tapi lawannya adalah tipe teknik. Itu tipe yang kurang cocok dengan Laila. Dan dari semua itu, yang terpenting adalah lawan Laila sedikit spesial.


""


"!?"


Laila dikejutkan oleh suatu yang tak terduga. Alva yang seharusnya memegang Alvairz berganti menjadi Alviarz. Mereka seolah menggunakan teknik teleportasi. Dengan itu akhirnya dia menahan serangan Laila.


Lalu di saat yang sama, anak panah menghujani Laila dari langit. Laila menahan dengan bola api kecil. Tetapi di saat perhatiannya terlihat dia mendapatkan tendangan yang mematikan dari Alva.


"Kuh!!"


Alva kembali datang menyerang. Dia tak membiarkan Laila mengambil nafas walau sedikit.


"Kenapa, apa kau sudah lelah?"


"Tentu tidak. Ini baru pemanasan."


"Oh, kita memikirkan hal yang sama."


Semuanya tersenyum oleh semangat bertarung yang tinggi. Dan entah mengapa, ada aura permusuhan yang tersembunyi.


Jika melihat hubungan mereka sebagai teman dan saingan, ini terasa wajar.


Laila menciptakan puluhan Scarflare yang melayang di sekitar tubuhnya. Dan dengan itu, dia menyerang Alva dan Alvi seperti peluru kendali. Jika melihat dari jauh, Laila saat ini seperti seorang penari pedang.


Lawannya, Alva dan Alvi juga tak mau kalah. Setiap kali Alva menyerang, Alvi akan ikut mendukung dengan serangan jarak jauh seperti panah es atau tombak es. Bahkan kadang dia menciptakan jebakan yang aktif saat Laila berada di tempat tertentu.


Menghadapi keduanya Laila tak bisa menyembunyikan kesulitannya. Serangan Alva dan Alvi bisa dikatakan tak terlalu fatal bagi Laila yang memiliki energi sihir yang besar, tapi Laila ingin bertarung dengan luka seminimal mungkin.


Dan meskipun dia kerepotan, namun ini sudah berada dalam perhitungannya. Sejak awal dia sadar kalau dua lawan satu memang dirugikan.


Lalu apakah dia harus memanggil Kuro? Dia tak mau melakukannya. Itu sama saja menarik ludahnya sendiri.


Jadi apa yang harus dia lakukan? Sederhana, dia hanya harus menggunakan Magic Art yang dia simpan.


"Scarflare!"


Menuruti perintah Laila, Scarflare yang terbang di sekitarnya mulai bergerak dalam formasi yang teratur. Kali ini mereka terbang dengan kecepatan tinggi mengintari Laila sebagai pusatnya.


""


Laila menembakan Scarflare dengan kecepatan yang tak bisa disamakan dengan serangan sebelumnya. Kecepatannya bahkan melebihi kecepatan peluru.


Alva dan Alvi mengetahui kalau kali ini giliran mereka yang menjadi buruan. Dengan cepat keduanya menggunakan sihir penambah kecepatan sekali lagi, dan tak lupa sihir untuk menambah konsentrasi dan kemampuan mata mereka.


Hasilnya mereka bisa menghindar dengan jarak tipis, namun mereka sama sekali tak bisa membalas serangan. Lalu jika mereka ingin bertahan, sihir mereka pasti akan hancur karena yang mereka tahan bukanlah peluru sihir atau serangan yang terbuat dari energi sihir, tapi magic arm.


"Dia sungguh curang!!"


"Oh sial! Dia menambah kecepatan serangannya."


Keduanya semakin panik. Serangan Laila semakin cepat dan lebih cepat. Bersamaan dengan itu ledakan keras terjadi di seluruh tempat arena.


Alva beberapa kali berhasil menangkis serangan Laila, namun dia dalam kalah kekuatan sehingga dia terpukul mundur. Sedangkan Alvi tak bisa banyak makukan sesuatu. Setiap kali dia berusaha menyerang, peluru Scarflare akan langsung menghentikan dia sebelum berhasil melepaskan anak panah.


Keduanya dalam situasi yang tak menguntungkan. Apalagi jika melihat perbedaan energi sihir yang dimiliki, pertarungan jangka lama hanya akan merugikan pihak mereka.


"Alvi, kita gunakan trump card kita. Kita akan mengalahkan mereka walau hanya Laila saja."


"Un!"


Keduanya kembali bergabung. Alva menangkis serangan yang datang, dan Alvi menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan magic art.


""


Hujan panah es menerjang Laila, namun dia sama sekali tak terlihat peduli. Dia kembali menciptakan Scarflare dengan jumlah yang lebih banyak.


Puluhan Scarflare kemudian membentuk formasi bola. Dan di saat itulah anak panah menerjang, sayangnya semuanya meleleh menjadi uap.


""


Laila memutuskan untuk mengakhiri pertarungan kali ini. Dia sudah paham sejauh mana kekuatan mereka berkembang, namun jika dibandingkan dengan lawan Laila selama ini, mereka tetap masih dikategorikan sebagai lawan teri.


(Aku harap kalian lebih berusaha)


Laila memejamkan matanya, di saat yang sama Scarflare yang telah hancur akibat menggunakan Re; Break berubah menjadi badai api yang membakar apapun di sekitarnya. Laila menggunakan salah satu Scarflare sebagai pengendali dan juga pusatnya.


Badai api ini begitu panas hingga melelehkan semua es yang diciptakan oleh Alva dan Alvi sebelumnya. Tak hanya itu, udara dingin yang muncul karena musim dingin kini berganti oleh udara hangat seolah musim telah berganti.


"Maafkan aku, tapi kalian masih terlalu dini untuk memasuki panggung yang sama dengan kami, Sacred Magic Art "


Tanpa ragu Laila menembakan badai api ke arah keduanya. Tak peduli apapun yang menghalangi, semuanya terbakar saat badai api menyentuhnya.


Serangan sedahsyat itu akan membunuh keduanya dalam kondisi normal, tapi berkat seragam dan sihir khusus yang digunakan dalam ujian kali ini, Laila tak perlu kawatir dengan semua masalah itu.


Kemudian, yang terjadi selanjutnya adalah ledakan besar yang tak kalah dengan gempa bumi. Semuanya berguncang dan perisai retak hingga membuat panitia panik karena kesulitan mempertahankan perisai.


Pertarungan berakhir karena keduanya tak sanggup melanjutkan pertarungan. Setidaknya itulah yang Laila harapkan dengan serangannya tadi, tetapi kenyataan berkata lain.


Keduanya masih berdiri.


"... sepertinya aku harus merubah pemikiranku tentang kalian hanyalah ikan teri biasa."

__ADS_1


__ADS_2