
Di hutan dekat Drageass, ada sebuah sungai kecil yang airnya jernih dan dapat digunakan sebagai cermin. Air itu masih belum tercemar dan masih murni berasal dari alam sehingga bisa langsung diminum. Ini adalah bukti bahwa alam di tempat itu masih terjaga kemurniannya dan hampir tak tersentuh oleh tangan manusia.
Beberapa ikan kecil berenang lincah di antara bebatuan dan sesekali melawan arus.
Di pinggir sungai, seorang pemuda berambut hitam sedang membasuh mukanya untuk menyegarkan pandangannya yang sedikit kabur.
Segar, menyejukkan dan dingin. Sensasi itulah yang dirasakan Kuro. Sayangnya itu semua tak bisa menghilangkan perasaan cemas yang sejak tadi menghantuinya.
Dia mendesah saat melihat bayangan wajahnya di cermin air, tepatnya salah satu warna pupil matanya yang berbeda dari biasanya.
"....aku sudah menduga ini akan terjadi, tapi aku tak menyangka secepat ini. Mungkinkah karena aku terlalu berlebihan?"
Kuro mengeluh sambil melirik bayangan mata kanannya yang putih bagai cermin.
Ini bukan suatu yang baru bagi Kuro. Setiap kali dia mengalami hal ini, dia akan semakin dekat dengan sosok 'itu'. Sayangnya, tak ada gunanya menyesal.
Jika dibilang sebuah efek samping, maka itu tak salah, tapi juga tak benar. Hanya saja saat matanya berubah menjadi putih, dunia yang dilihat akan berubah.
Jika menutup mata kirinya, dia akan melihat seluruh dunia menjadi sebuah pemandangan yang menakjubkan seperti sebuah bintang kecil yang bergerak. Tapi Kuro tahu itu bukanlah bintang. Bintang kecil itu hanyalah sebuah energi alam yang berjumlah tanpa batas.
Jika menutup mata kanannya, dunia yang menakjubkan itu langsung menghilang dan menjadi dunia normal yang tetap indah, tapi biasa saja.
"Guh.. "
Mulut Kuro mengeluarkan darah sekali lagi. Dia memuntahkannya ke sungai di depannya dan membuat air menjadi kemerahan sebelum kembali menjadi putih karena arus.
Ini bukan efek samping dari matanya yang berubah warna, tapi efek dari sebuah sihir yang ditanamkan ditubuhnya sejak kecil. Lingkaran sihir kecil yang berkelap kelip akan muncul jika energi Kuro tak stabil, disaat yang sama sihir itu akan memaksa energi Kuro kembali stabil.
Sayangnya, cara ini seperti membuka pintu yang terkunci dengan paksa. Ada akibat jika energi di tubuhnya distabilkan secara paksa yaitu berupa luka dalam yang cukup menyakitkan.
Biasanya untuk menghindari ini, Kuro selalu bertapa dan menyendiri untuk menstabillkan energinya, tapi itu cukup memakan waktu lama.
Sudah 5 hari berlalu sejak dia menggunakan Cursed Blade Art, biasanya energi dalam tubuh Kuro mulai stabil dan dia bisa bertarung dengan normal, tapi karena dia tak punya waktu untuk bertapa, inilah yang terjadi.
Kuro membasuh mulutnya untuk membersihkan sisa darah.
Mata putihnya bukanlah suatu yang dia rahasiakan, bahkan Electra sebenarnya sudah tahu tentang mata Kuro, tapi karena "Alice's Memories", maka mata putih Kuro menjadi masalah yang sanggup menggemparkan dunia.
Alice's Memories, itu adalah ingatan tentang gadis bernama Alice dan seorang pemuda misterius bernama Shiroyasha.
Tak banyak yang diketahui mengenai Shiroyasha. Bahkan ada dugaan kalau nama Shiroyasha bukanlah nama pemuda itu.
Singkatnya pemuda itu sangatlah misterius.
Tapi satu hal yang pasti, Shiroyasha mempunyai kekuatan setara Paladin, sayangnya kekuatan dia juga bisa dibilang abnormal karena menjadi paladin di usia muda.
Tapi yang lebih abnormal adalah kemunculan Demon King yang secara tiba tiba dari dunia lain. Kekuatannya bahkan setara dengan 72 Paladin. Jika dia disebut dewa atau bahkan Tuhan, itu adalah deskripsi yang tepat.
Sayangnya Demon King menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan dunia.
Tapi hal yang mengejutkan mengenai Demon King adalah dia juga menggunakan pedang putih katana seperti yang Shiroyasha miliki. Tak mengherankan jika ada dugaan identitas yang sebenarnya Demon King adalah Shiroyasha.
Tapi ada dugaan lain bahwa Shiroyasha dan Demon King sebenarnya berasal dari dunia yang sama. Senjata pedang putih mungkin adalah senjata yang umum di dunia mereka, jadi wajar jika mereka mempunyai pedang putih.
Sayangnya tak ada yang tahu pasti kebenarannya.
-Apakah Shiroyasha adalah Demon King?
-Apakah Demon King membunuh Alice dan Shiroyasha lalu menggunakan pedang Shiroyasha untuk menghancurkan dunia?
-Atau bukan keduanya?
Satu satunya petunjuk mengenai kebenaran hanyalah Grimoire of Truth.
Sedangkan masalah Kuro adalah, mata putihnya adalah bukti bahwa dia keturunan Shiroyasha.
Jika orang yang menginginkan membangkitkan Demon King mengetahui ini, apa yang akan mereka lakukan?
Kehidupan tenang Kuro mungkin akan hancur dalam sekejap dan orang yang dia sayangi kemungkinan besar akan diincar.
Untuk mencegah hal ini, maka Electra meminta Kuro untuk merahasiakan jati dirinya. Paling tidak sampai kebenaran tentang Shiroyasha diketahui.
Kuro mengambil pedang putihnya yang tergeletak di sampingnya.
Selain mata putih, pedang putihnya juga merupakan bukti bahwa dia keturunan Shiroyasha. Dan jika Shiroyasha adalah Demon King, itu berarti Kuro mungkin juga bisa menjadi Demon King yang menghancurkan dunia.
Sayang, Kuro tak punya waktu untuk melakukan itu.
Setelah mengambil Lic, Kuro berlari menuju tengah hutan. Disana terdapat sebuah tempat yang cukup spesial bagi Kuro. Bisa dibilang tempat itu mempunyai sebuah kenangan saat bersama dengan orang yang pernah dekat dengan Kuro.
Mungkin. Dia tak begitu ingat siapa dia. Hanya saja, dia begitu rindu.
Dia melompat, berlari menerjang semak belukar. Dia sudah hafal seluk beluk hutan yang sebenarnya tak terlalu berbeda dengan hutan Rukia.
Dia melihat cahaya di depannya. Kuro tersenyum kecil dan melompat ke arah cahaya yang perlahan menelannya.
Kuro berhenti. Kuro akhirnya tiba di sebuah tempat yang bisa disebut sebuah surga kecil di tengah hutan. Di depannya sebuah pohon yang besar dan tua tumbuh subur dan tak terlihat goyah sedikitpun.
Kuro mendekat, lalu menyentuh pohon itu dengan tangan kanannya. Dia memejamkan matanya dan menyampaikan semua apa yang terjadi. Tapi yang paling ingin Kuro beritahu adalah tentang Laila. Orang paling berharga dirinya saat ini.
Disaat yang sama, Kuro merasakan sebuah energi yang tak biasa yang berasal dari dua sumber yang berbeda. Yang satu terasa menakutkan, tapi yang satu terasa menyejukkan dan nyaman.
Sumber energi yang menakutkan itu berasal dari Skullia Cristal yang merupakan salah satu Cursed Arm terkuat dan paling berbahaya, tapi sumber sebenarnya adalah iblis yang tersegel dalam Cursed Arm.
Yang cukup mengejutkan, tidak, Kuro sudah menduga bahwa Deon tak sepenuhnya kehilangan kendali atas dirinya. Justru Deon tampaknya telah membuat kesepakatan tertentu dengan Skullia Cristal.
Ya. Hanya dengan membuat kesepakatanlah satu satunya cara untuk bisa menggunakan kekuatan iblis.
Kuro hanya tersenyum kecil.
Sedangkan energi yang hangat berasal dari seseorang yang tak disangka. Dengan mata putihnya, Kuro bisa merasakan energi yang besar dari seorang memakai jubah hitam.
Shadow. Orang misterius, tidak, gadis itu sungguh mempunyai kekuatan yang luar biasa, sayangnya tampaknya kekuatan itu tak stabil seperti milik Kuro.
Shadow yang bisa menggunakan Ki dan Sihir, itu berarti efek samping yang diterima Shadow juga lebih besar.
Bayangan besar lewat di atas Kuro. Tak hanya satu, jumlahnya lebih dari ratusan. Itu adalah Necrodra yang terbang menuju istana Fafnir.
" .........mari kita mulai... pertarungan untuk menentukan nasib dunia ini, King!"
Kuro mendengar teriakan Deon dengan jelas. Kuro hanya terdiam karena tahu teriakan tadi bukanlah berasal dari Deon, tapi iblis yang mulai memakan pikiran Deon.
Meskipun julukan Kuro adalah King of Sword dan Witch Reaper, namun hanya beberapa orang di dunia ini yang memanggil Kuro dengan nama panggilan King.
(........)
Kuro membuka matanya. Mata putihnya selalu meneteskan air mata darah setiap kali ke tempat itu karena mengingat kenangan yang tak ingin diingat.
Kuro lalu menoleh ke arah sosok wanita memakai jubah hitam yang membuat wajahnya tak terlihat. Jika mirip dewa kematian, Shadow memang mirip, tapi bagi Kuro dia hanyalah seorang gadis.
"Tampaknya aku mendapatkan pengunjung yang tak terduga, jadi kenapa kau kesini?"
"........."
Shadow hanya terdiam.
"Bukankah kau seharusnya pergi ke tempat orang itu pergi?" tanya Kuro sekali lagi.
".........itu benar."
Tak disangka, Shadow menjawab dengan suara seorang lelaki yang terdengar gagah, namun Kuro sudah tahu Shadow adalah seorang wanita.
"...sayangnya aku melihat seseorang yang mungkin akan menghalangiku, jadi wajar jika aku ingin mampir."
"Mampir untuk membunuhku? ....jujur saja aku lebih senang kita tak saling bermusuhan. Kenapa kita tak duduk dan minum teh hangat?"
"......."
"Tapi sebelum itu, bukankah tak sopan menggunakan suara orang lain, Nona Shadow-san?"
"........ahha ha ha .."
Shadow tertawa, namun perlahan suaranya berubah menjadi suara wanita yang cukup seksi. Tapi Kuro masih tak tahu apakah suara itu adalah asli milik Shadow atau bukan.
Gadis yang merepotkan, itulah kesan Kuro terhadap Shadow.
"Keturunan Shiroyasha memang luar biasa. Aku tampaknya memang tak bisa bersembunyi dari Eyes of Origin"
Mata putih Kuro disebut Eyes of Origin atau mata asal muasal. Mata yang mampu melihat segala kebenaran di dunia ini.
Shiroyasha juga memilki Eyes of Origin, itulah sebabnya bisa dibilang dia adalah salah satu Paladin terkuat pada zaman itu.
Tak banyak yang diketahui tentang Dua of Origin karena kekuatan mata itu juga misterius.
"Neee.. kenapa kau tak bergabung denganku? Dengan kami, Liberia."
"Liberia?" Kuro menyipitkan matanya. "Itukah sebutan organisasi kalian?"
"Ya. Seperti yang kau tahu, kami adalah kumpulan organisasi, hm? Daripada organisasi, mungkin lebih cocok disebut *******.. fu fu...."
"Sekarang kau mengaku kalau kalian adalah ******* kah? Kau benar benar tahu cara membuatku tertawa."
Kuro tersenyum kecil.
"Jadi bagaimana? Apa kau menerima tawaranku? Jika kau bergabung dengan kami, aku bisa menjamin keselamatan kekasihmu, atau jika kau mau, aku juga bisa menjamin keselamatan seluruh klan Blad. Kau adalah tipe orang yang tak peduli dengan apa yang terjadi kepada dunia, kurasa tawaranku tidaklah buruk."
Kuro menajamkan matanya sekali lagi karena menyadari suatu yang buruk dari perkataan Shadow.
"Begitu rupanya. Kalian sudah mengetahui tentangku dan kami semua. Kalau begitu, maka ini mudah. ......jika ingin membuatku bergabung dengan kalian. Beritahu tujuan kalian yang sebenarnya. Dengan begitu aku bisa memutuskan apakah aku akan bergabung dengan kalian atau tidak."
__ADS_1
Kuro menyandarkan tubuhnya ke pohon dengan santai. Meskipun terlihat santai, namun dia tetap waspada karena tak tahu apa yang dilakukan Shadow.
Ini adalah kesempatan untuk mencari tahu tentang musuh mereka. Kuro tak ingin menyia nyiakan hal ini, tapi Shadow pasti juga menyadari maksud Kuro.
"Bukankah kau sudah tahu? Liberia ingin membangkitkan sang Demon King?"
"Lalu?"
"Hn?"
Shadow terlihat terkejut.
"Lalu setelah membangkitkan Demon King, apa yang kalian lakukan terhadap monster itu? Kalian tak berencana untuk mengendalikan monster itu kan?"
Mengendalikan Demon King adalah mustahil. Kekuatannya yang luar biasa dan sanggup menghancurkan dunia adalah bukti dia memanglah satu satunya Demon King sang pembawa bencana.
"Tentu tidak. Kami tak mungkin bisa mengendalikan monster itu, tapi dia pasti akan mau bekerja sama dengan kami."
Kuro mendengar suatu yang tak diharapkan dan mustahil.
Tapi Shadow mengatakan itu dengan percaya diri. Liberia pasti mempunyai semacam kartu as yang mampu melakukan itu. Dan itu membuat Liberia lebih berbahaya dari yang terlihat.
Situasi semakin memburuk bagi Kuro.
"Apa maksudmu?"
"Kurasa hanya ini yang bisa kusampaikan saat ini. Tapi aku akan memberitahu semuanya jika kau mau bergabung. Untuk sekarang, pilihlah, apakah kau menghalangiku dan menjadi musuhku. Itu juga berarti kita bertarung saling membunuh disini. Atau kau bergabung denganku dan hidup."
"Hmmm.. "
Kuro berpikir.
Jika dia bertarung dengan Shadow, dia akan kalah karena perbedaan kekuatan mereka yang cukup besar.
Tapi jika bergabung, itu artinya dia menjadi musuh orang yang dia sayangi.
Kuro tersenyum kecil. Dia sejak awal tahu jawabannya, jadi sebenarnya dia tak perlu berpikir.
"Untuk sekarang aku akan melihat apa yang kalian lakukan."
Kuro membuat pilihan ketiga. Dia adalah orang yang tak ingin dikendalikan, jadi dia pasti akan membuat pilihan sendiri.
"......"
"Jangan kawatir, aku tak akan menghalangi kalian. Tapi aku juga tak akan membantu kalian. Jujur saja aku membenci seorang pembohong sepertimu. Tapi sayangnya aku tak akan tinggal diam jika kau mengganggu orang yang berharga bagiku. Ini adalah peringatanku yang pertama dan terakhir."
"....fu fu... Kau mengatakan seolah olah bisa mengalahkanku kapanpun kau mau, tapi kita tahu siapa yang lebih kuat disini."
Kuro hanya tersenyum kecil. Meskipun apa yang dikatakan Shadow benar, dia tak boleh kehilangan ketenangannya. Tapi bukan berarti dia tak bersiap untuk keeadaan yang terburuk.
"Tapi tak apalah, aku bisa membunuh kalian kapan saja. Jadi untuk sekarang aku tak akan menyentuh temanmu yang berharga itu, ....tapi aku tak tahu apakah 'Dia' mau melakukan itu. fufu fu..."
"Dia? Maksudmu Deon? Jangan kawatir, temanku selemah itu. Tapi terima kasih sudah mencemaskan mereka. "
"Fufu fu.. apa kau yakin? Bukankah kau orang yang tak ingin menyesal lagi?"
"........"
Perlahan, tubuh Shadow menghilang seperti api.
"Jangan lupa, 'kau adalah orang yang ditakdirkan untuk selalu menderita. Itulah takdir pemilik Eyes of Origin. Dan kurasa kau sudah tahu ini lebih dari siapapun... benarkan?"
Shadow sepenuhnya menghilang dari pandangan Kuro.
Sedangkan Kuro langsung menggertakan giginya, tapi perlahan dia mulai meredam amarahnya.
"Ya. Aku tahu itu, tapi aku tak mau mendengar itu dari sebuah tubuh palsu. Jika ingin bicara, kuharap kita bisa bicara sambil minum teh kapan kapan.."
Kuro mendesah dan duduk sambil menyandarkan tubuhnya di pohon. Dia menutup matanya dan sekali lagi mengingat suatu yang tak ingin dia ingat, yaitu penyesalannya tak bisa menyelamatkan orang paling berharga di hidupnya.
Saat memejamkan matanya, dia bisa mendengar suara pertempuran yang terjadi di kota Drageass.
Ibukota Drageass kini dipenuhi oleh api yang membara di berbagai tempat yang berasal dari Dragon Breath.
Pertempuran antara Dragon Knight dan Necrodra terjadi di seluruh kota yang sudah rata dengan tanah.
Meriam Anti Dragon menembak Necrodra yang terbang, tapi hanya berhasil menjatuhkan beberapa Necrodra. Ini wajar karena Necrodra bergerak lincah dan mampu menghindar dengan baik.
Sementara itu, Ruby dan Shapira menyerang Necrodra yang datang ke istana Fafnir dan berniat menghancurkan perisai dengan menggunakan Laser Breath yang mampu membunuh 5-10 Necrodra sekaligus. Mereka berdua bisa menghancurkan lebih banyak jika bertarung di luar, tapi Kuro memerintahkan Ruby untuk bertarung di dalam karena tak tahu kekuatan musuh.
Di atas salah satu atap bangunan, seorang memakai jubah hitam berdiri di sebuah ujung tiang dengan keseimbangan yang luar biasa. Gadis ini adalah Shadow yang sesungguhnya.
Dengan sihir yang mampu memanipulasi bayangan, Shadow membuat tiruan dirinya untuk menggantikan dirinya bertemu dengan Kuro, tapi karena Eyes of Origin milik Kuro, dia langsung ketahuan.
Rambut warna biru terurai di pipinya. Disaat yang sama air mata mengalir dan menetes ke tanah.
"....... kau tak pernah berubah, selalu mementingkan kepentingan dan kebahagiaan orang lain. Ketika kau berusaha untuk bahagia, penderitaanlah yang kau dapat.."
Shadow menerima serangan telak. Tubuhnya tertelan api, tapi dalam sekejap api itu menghilang seperti tertelan sesuatu.
Saat api menghilang, tubuh Shadow yang yang tak terluka sama sama sekali terlihat. Bahkan jubah hitamnya tak tergores dan terlihat baru.
Shadow tersenyum.
Naga dan Dragon Knight yang menyerang Shadow hanya bisa melebarkan matanya karena untuk pertama kalinya melihat manusia tak terluka setelah menerima serangan yang mampu mengubah manusia menjadi debu dalam sekejap.
Dragon Knight itu menyadari orang di depannya bukanlah sesuatu yang pantas disebut manusia lagi.
"....kau selalu menderita, tapi jangan kawatir, aku akan menghilangkan penderitaanmu, ....tapi tunggulah sebentar lagi... "
8 lingkaran sihir hitam muncul di sekitar Shadow. Dari setiap lingkaran sihir munculah cahaya yang berbeda. Cahaya biru, coklat, abu abu, merah, hijau, hitam, biru muda, dan kekuningan.
Delapan cahaya itu mewakili setiap elemen sihir. Shadow bisa menggunakan sihirnya untuk meniru sihir orang lain, tak mengherankan jika dia bisa menggunakan semua elemen, tapi bukan hanya itu saja yang bisa shadow lakukan.
"..... Darkness Magic Art... ,Dark End"
Delapan cahaya itu bergabung dan terdistorsi sehingga berubah menjadi bola hitam kelam. Bahkan lebih kelam dari kegelapan itu sendiri.
Bola hitam itu mengarah ke arah Dragon Knight yang sudah bersiap kabur karena merasakan tekanan mana yang tak biasa.
Tapi sudah terlambat. Bola hitam menyerang Dragon Knight dan menelan naga dan sekaligus dragon tamer yang menungganginya ke dalam kegelapan abadi.
Setelah itu bola itu membesar dan meledak bagai sebuah bom yang menyebar ke segala arah dan menelan semuanya ke dalam kegelapan. Bangunan, Dragon Knight, Necrodra semuannya tertelan kegelapan dan tak menyisakan apapun seolah lenyap begitu saja.
Inilah kekuatan yang pernah dipakai oleh Demon King, elemen kegelapan ,Darkness Art.
".........."
Tak ada satu patah kata dari Shadow. Setelah dia menghancurkan Dragon Knight dan apa yang di depannya tanpa sisa, dia menghilang.
Tapi bukti kekuatan yang dia tunjukkan telah membuat semua orang tercengang dan lupa kalau mereka sedang bertarung.
Tak ada penyihir berlemen kegelapan lain selain Demon King. Hal ini dikarenakan elemen kegelapan adalah elemen yang berkebalikan dengan elemen suci.
Elemen suci mampu menghilangkan sihir dalam sekejap, tapi elemen kegelapan adalah gabungan dari 8 elemen sihir. Inilah alasan kenapa tak ada penyihir selain Demon King yang bisa menggunakan elemen kegelapan.
Hal ini sudah lama diketahui dan tentu setiap negara di benua Orladist sudah melakukan penelitian untuk menciptakan penyihir yang mampu menggunakan 8 elemen, .....tapi sampai sekarang hal itu masih merupakan kegagalan.
"Itukah kekuatan yang pernah digunakan untuk menghancurkan dunia? ...menarik.."
Louis tersenyum karena menemukan suatu yang menarik.
"Jangan bercanda. Kita tak akan bertahan jika monster itu menggunakan sihir semacam itu lagi."
Di ruang bawah tanah, Draig dan Louis mengamati dan memimpin pertarungan dari jauh. Sekilas ini terlihat seperti pengecut, tapi mereka adalah pemimpin dan ahli strategi terbaik di Dragonia.
Draig dan Louis bukanlah tipe pertarung. Mereka bisa dibilang seorang yang memimpin dari jauh dan mengendalikan pion. Cara inilah yang mereka pakai dalam waktu 10 hari terakhir dalam menghadapi serangan Necrodra, tapi serangan kali ini adalah yang terbesar selama ini. Memenangkan pertarungan adalah suatu yang sulit bagi mereka.
"Kupikir kita tak akan melihat sihir kegelapan itu untuk sementara waktu."
"Apa maksudmu?"
"Apakah ayah lupa apa yang terjadi ketika kita berusaha menciptakan elemen kegelapan?"
"Tentu aku tak lupa. Itu adalah kegagalan dan terlalu banyak memakan korban."
Dragonia yang juga melakukan percobaan akhirnya paham kenapa eksistensi Demon King begitu spesial.
Dalam untuk mencoba meniru kekuatan Demon King, mereka masih tak bisa mengerti cara menggabungkan lebih dari 3 elemen dalam satu tubuh.
Demon King yang mampu menggunakan 8 elemen dalam satu tubuh adalah suatu yang seharusnya mustahil dan tak pernah ada. Jika dipanggil Dewa, maka itu tepat.
"Ya. Aku yakin Shadow juga sama. Meskipun dia bisa menggunakan kekuatan Demon King, aku yakin dia tak bisa menggunakannya terlalu sering. Yang tak aku mengerti adalah kenapa dia repot repot menggunakan kekuatan itu hanya untuk menghabisi prajurit kita? Jika menggunakan kekuatan tadi, seharusnya dia bisa menghancurkan perisai dengan mudah dan kita akan langsung tamat."
"....."
Draig juga berpikiran sama dengan Louis.
"Hmmm... kita pikirkan ini nanti, yang terpenting bagaimana status pertempuran saat ini?"
"Dragon Knight yang masih bertarung sekitar 110, yang terluka sudah kita bawa ke tempat penyembuhan. Jumlah musuh masih sekitar 180, tapi dari bukit Dragon Grave terdeteksi gelombang kedua Necrodra akan tiba dalam kurun waktu 1 jam lagi." lapor salah satu anak buah Louis.
"Bagaimana status meriam Anti Dragon?"
"Saat ini meriam Anti Dragon masih berfungsi dekitar 60%." lapor anak buah yang lain.
"Hm... kondisi kita tak terlalu buruk, tapi kita akan hancur jika serangan gelombang kedua datang."
Louis menyadari akan kalah jika kondisi seperti itu terus berlanjut.
__ADS_1
"Tak ada pilihan lain, kita gunakan Knight Gear untuk menghabisi Necrodra secepat mungkin. Ayah setuju kan?"
"Tak apa." jawab Draig. "Jika tak segera menghancurkan mereka, kitalah yang akan dirugikan dalam pertempuran ini. Lakukan saja yang perlu dilakukan asal meraih kemenangan."
Louis tersenyum kecil.
"Baiklah, kerahkan semua Pasukan Knight Gear! Habisi semua musuh yang ada dengan kekuatan penuh!!"
"Baik!!"
Semua operator langsung terlihat sibuk menghubungi seseorang dan mengotak atik komputer di depan mereka.
Disaat yang sama lantai di kota terbelah menjadi dua sekali lagi. Kali ini muncullah sosok metal sebesar dua meter beberbentuk manusia. Tapi manusia yang memakai armor tebal dan berat berbentuk naga.
Ya. Mereka mengenakan Dragon Gear buatan.
Jumlah mereka puluhan, dan mencapai ratusan dalam hitungan detik. Pasukan Knight Gear tanpa ragu menyerang Necrodra dengan pukulan, pedang, tendangan, bahkan Dragon Breath yang tak terlalu besar, tapi karena jumlah Knight Gear lebih banyak, mereka mampu menang dengan cepat.
Knight Gear tak hanya membuat Knight memiliki kekuatan seperti menggunakan Dragon Gear, tapi juga pertahanan yang luar biasa.
Meskipun terkena Dragon Breath, cakaran, maupun tebasan ekor Necrodra, tak ada satupun yang terluka.
Kemunculan Khight Gear ini telah merubah keadaan pertempuran sehingga kemenangan berada di pihak Dragonia.
"Tch... akhirnya mereka mengeluarkan mainan itu. Tampaknya sekarang perkembangan Knight Gear semakin maju saja, tapi-"
Deon mengangkat pedangnya tinggi tinggi ke atas. Cahaya ungu kehitaman bersinar terang memenuhi langit kota.
Disaat yang sama, 5 Necrodra yang sebelumnya bertarung sendiri sendiri berkumpul. Tapi tak hanya sekedar berkumpul. Mereka bertabrakan lalu perlahan bergabung menjadi satu.
Besar, hitam, memiliki 5 kepala dan 5 ekor. Itulah wujud Necrodra yang kini berubah menjadi Ultimate Necrodra. Mereka memiliki kekuatan hampir setara dengan Dragon King Class dan puluhan kali lebih kuat dari Necrodra biasa.
Dragon Knight dan Pasukan Knight Gear tak gentar dan melawan Ultimate Necrodra yang jumlahnya lebih dari 25.
Tapi Ultimate Necrodra tak tinggal diam dan menyerang terlebih dahulu. 5 mulut mereka bersiap mengeluarkan Dragon Breath. Tak hanya itu, mereka menggabungkan 5 Dragon Breath menjadi satu.
Dragon Breath itu ditembakan dengan kecepatan tinggi ke sekumpulan Dragon Knight dan pasukan Knight Gear. Ada yang berhasil menghindar, tapi bagi yang tak berhasil, mereka lenyap tanpa sisa.
Ini cukup mengejutkan mengingat Khight Gear terbuat dari material Anti Sihir yang kuat dan tak mudah hancur, tapi itulah kekuatan Ultimate Necrodra.
"Fufu... sekarang apa yang akan kau lakukan, Draig?"
Deon tersenyum puas. Meskipun kemenangan sempat berada di pihak Dragonia, namun sekali lagi keadaan berbalik.
Di hutan, Kuro selesai memasang lensa kontak yang dia persiapkan sebelumnya. Lensa kontak yang Kuro pakai hanya lensa kontak biasa, jadi lensa kontak itu memang hanya untuk menyembunyikan mata putihnya saja.
Setelah itu, Kuro menekan belakang telinganya. Dia mengangtifkan radio khusus yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Jika disebut salah satu peralatan mata mata, mungkin itu cocok karena radio itu memang dikhususkan untuk berkomunikasi secara diam diam tanpa menggunakan sihir.
"Test.. test test.. apa kalian semua mendengarku?"
Setelah suara berisik, suara mulai terdengar.
"Kami berdua dapat mendengarmu." (Aldest dan Lairo)
"Aku berada di posisi yang sudah kita rencanakan sebelumnya. Apakah kita sudah mulai bergerak?" (Jinn)
"Aku tersesat seperti yang kita rencanakan. Bisakah kalian melakukan sesuatu? Kota sudah mulai ramai." (Knox)
"Kami mendengarmu Kuro. Seperti yang kau perintahkan, kami berdua masih bersama Diana, tapi karena tak bisa keluar, jadi kami tak bisa berbuat apapun." (Charlmilia)
Setelah mengetahui keadaan masih berjalan sesuai rencana, Kuro mulai menganalisa keadaan dan situasi.
"Kalian laksanakan saja rencana yang sudah kita buat, tapi Aldest, Lairo, bagaimana penyelidikan kalian?"
"Jangan kawatir, meskipun agak sedikit merepotkan, namun aku hanya butuh waktu sedikit lebih lama lagi. Syukurlah dia menghadapi Necrodra yang menyerang... fu fu fu..."
"Jangan biarkan dia mati, ingat dia adalah pacarmu!"
"Jangan kawatir, dia tak akan mati.. fu fu.."
Meskipun sedikit kawatir, namun tak ada yang bisa diperbuat Kuro.
"Aku senang mendengarnya. Jinn.. Knox, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan, jadi jangan mati."
"Kau pikir siapa kami?"
"Jangan remehkan aku." jawab Knox.
Setelah itu sambungan terputus.
Kuro memegang erat Lic. Dia lalu bergerak menuju kota Drageass yang semakin kacau balau oleh Ultimate Necrodra.
-Tak butuh waktu lama untuk mencapai ibukota Drageass.
Pertempuran terjadi di seluruh penjuru kota dan mayat naga dan manusia bergeletakan di tanah. Pemandangan yang mengerikan bagai neraka itu sendiri terlihat jelas di depan mata Kuro.
Dia melihat naga hitam raksasa menyemburkan Dragon Breath ke Dragon Knight dan pasukan Knight Gear. Yang terkena serangan hangus menjadi debu tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
"Apakah saat untuk bergerak?"
Kuro melirik Deon yang masih berdiam diri di atas Necrodra bagai seorang raja.
Meskipun dari jauh, Kuro dapat merasakan energi yang tak menyenangkan dan mengerikan terpancar dari Deon.
"Ini semakin merepotkan..."
Kuro langsung melompat tepat ke arah Deon dan menyerangnya.
Klangg!!
Serangan Kuro berhasil ditahan. Tak hanya itu, tubuh Kuro terdorong ke belakang karena perbedaan kekuatan.
Kuro bersalto di udara sebelum akhirnya mendarat di salah satu Necrodra.
"Hoy hoy hoy.... apakah itu cara yang tepat untuk menyapa orang yang lebih tua? Kau ini sungguh bocah yang tak sopan."
"Sayang sekali aku tak punya waktu untuk bersopan santun."
Kuro melompat lagi dan menyerang Deon sekalli lagi. Kali ini dua kali lebih cepat.
Sayangnya Deon lebih cepat. Dia menangkis serangan Kuro dengan mudah dan tanpa kesulitan sama sekali.
Percikan orange dan suara logam terdengar memenuhi pertarungan. Dragon Knight dan pasukan Knight Gear yang melihat pertarungan mereka hanya bisa tercengang dengan kecepatan dan kekuatan yang ditunjukkan oleh Kuro dan Deon.
Mereka berada di level yang berbeda.
Aura hitam tiba tiba muncul di pedang Deon dan perlahan menyelimutinya.
"?!"
Menyadari kekuatan Deon meningkat, Kuro meningkatkan kewaspadaannya, tapi Deon terlalu cepat.
Kuro menerima sebuah tendangan keras dan tubuhnya melesat ke bawah dengan kecepatan tinggi. Kekuatan yang dahsyat membuat Kuro terdorong dan menembus puing puing.
Hal yang lebih gawat, salah satu Ultimate Necrodra sudah bersiap menyerang Kuro menggunakan Dragon Breath.
Sebuah cahaya tiba tiba melesat ke arah Ultimate Necrodra. Cahaya itu merupakan Laser Breath Ruby.
Tak hanya menggagalkan serangan Ultimate Necrodra. Ruby juga mengalahkannya dengan sekali serang.
Setelah Ultimate Necrodra kalah, Ruby mendarat di dekat puing Kuro terkubur.
Ledakan tiba tiba terjadi menerbangkan puing ke segala arah. Kuro lalu muncul sambil memegangi dadanya dan dengan mulut bersimbah darah.
"Guh... ini menyakitkan."
Ruby hanya meraung kecil.
"Terima kasih sudah menolongku, tapi aku bisa mengatasi ini sendirian. Kau kalahkan saja Ultimate Necrodra."
Menuruti perintah Kuro, Ruby terbang nenuju Ultimate Necrodra yang masih tersisa cukup banyak.
Kuro lalu melompat ke arah Deon sekali lagi dan mendarat di dekatnya.
"Sejak dulu aku berpikir, apakah kau manusia? Fufu.. sekarang aku tahu jawaban itu."
"Oh.. benarkah itu? Tapi aku yakin jawabanmu salah. Kau masih tak tahu apapun tentang kebenaran dunia ini."
"Kebenaran dunia ini? Siapa yang butuh itu?Aku hanya akan menghabisimu lalu menghancurkan negri busuk ini."
Deon menyerang Kuro dengan berakselerasi ke arah Kuro, tapi Kuro hanya tersenyum.
Klanng!!
Serangan Deon berhasil ditahan Kuro dengan sempurna.
"?!"
"Jangan terkejut. Kau menggunakan Skullia Crystal untuk meningkatkan sihirmu, tapi tubuhmu perlahan mulai tak bisa menahan kekuatan itu, benarkan?"
Kuro menggunakan Accell Art untuk menebas Deon dengan kecepatan yang hampir tak bisa dilihat mata.
Serangan Kuro berhasil dan menggores, bahkan memotong salah satu tangan Deon, tapi hasil yang tak diduga Kuro terlihat.
Tak ada satupun darah yang menetes dari tubuh Deon. Tangan yang terpotong juga perlahan kembali menyatu. Deon sudah bukan lagi manusia.
"Sekarang siapa yang bukan manusia disini?"
__ADS_1
Kuro hanya tersenyum kecil. Senyuman kecil itu juga merupakan tanda pertarungan yang sebenarnya baru dimulai.