
Putih. Semuanya berwarna putih.
Ruangan tanpa batas yang tak ada apapun. Dan tak ada siapapun.
Tidak.
Ada sebuah sosok yang melihat ke arahnya. Sebuah sosok menyerupai dirinya. Yang berbeda hanyalah rambut dan matanya.
"Lama tak jumpa diriku."
"Ya, diriku."
Kuro tahu betul sosok seperti dirinya itu adalah tak lain dirinya sendiri. Lebih tepat jika sosok dirinya yang sebenarnya.
"Kau tahu, jika seperti ini terus, keinginanmu tak akan pernah terkabul."
"...Mungkin."
"Kita tahu betul, semakin kita menginginkan kekuatan, semakin jauh dari harapan kita."
"Tapi tak ada pilihan lain selain membangkitkan Authority. Kita mungkin akan berhadapan dengan lawan yang lebih kuat dan lebih berbahaya."
"Yah.. jika itu adalah pilihan yang terbaik, kita tak memiliki pilihan. Lupakan untuk sekarang, karena kebangkitan Assimilate, kita akan semakin menjadi diri kita yang dulu. Sejauh mana kau ingat?"
"Apa kau ingin tahu sejauh mana diriku ingat siapa diriku yang sebenarnya?"
Kuro merasa aneh ditanyai oleh dirinya sendiri.
"Setidaknya, aku ingat kenapa tak pernah bisa lolos dari Laila."
"Aku setuju."
Setelah Kuro membuka matanya. Yang pertama kali dia lihat adalah sebuah atap yang familiar. Kasur yang keras juga dia kenal. Ini adalah kamarnya di desa klan Blad. Pertanyaannya adalah kenapa dia ada disini?
Yang terakhir Kuro ingat adalah pertarungan di Dragonia telah berakhir setelah dia berhasil mengalahkan Lucifer.
Lebih tepat jika membebaskan Lucifer dari belenggu Cursed Arm. Berbeda dengan Cursed Arm lain, tipe Cursed Arm seperti Skullia Crystal merupakan Cursed Arm yang menyegel iblis dari dunia lain.
Jika menghancurkan Cursed Arm, maka tak ada belengku lagi yang mengikat Lucifer dan akhirnya dia dipaksa kembali ke dunia asalnya karena aturan dunia.
Akan masalah lain jika ada seseorang yang memanggil Lucifer lagi dengan metode yang berbeda.
Setidaknya dia tak akan khawatir dengan keberadaan Lucifer dalam waktu dekat.
Mendesah kecil, Kuro mencoba menggerakkan tubuhnya. Mengejutkan, tubuhnya sudah hampir pulih seperti sedia kala. Kuro bahkan sudah bisa bertarung seperti biasa jika dia mau.
Dia bisa menebak kenapa tubuhnya sudah pulih. Kekuatan penyembuh dari Dragon King memang luar biasa.
Saat sedang memikirkan itu, tiba tiba pintu kamarnya terbuka. Sosok Laila masuk dengan membawa minuman. Saat melihat Kuro sudah sadar, Laila scara reflek menjatuhkan gelas dan air mata mengalir dari kedua matanya.
"Ku-Kuro... apa benar kau sudah sadar..?"
Kuro hanya tersenyum kecil seolah tanda yang dilihat Laila adalah kenyataan.
Laila langsung saja berlari ke arah Kuro dengan air mata yang berlinang. Laila naik ke tempat tidur lalu memeluk Kuro dan memberikan ciuman mesra.
"!?"
Kuro awalnya terkejut, tapi dia membalas ciuman Laila dengan mesra dan lemah lembut, tapi Laila lebih agresif dari biasanya.
Setelah merasa cukup, Kuro berusaha melepaskan ciumannya, tapi Laila menolak dan justru tak ingin melepaskannya. Kuro akhirnya memutuskan untuk membiarkan Laila seperti itu sampai dirinya merasa puas.
Dia pasti telah membuat orang yang dia cintai merasa kawatir. Selama dia pingsan pasti banyak hal telah terjadi. Hal ini membuat Kuro sedikit merasa bersalah.
Waktu berlalu, akhirnya Laila melepaskan ciumannya, tapi dia belum melepaskan pelukannya dan bersandar di dadanya seolah tak mau berpisah. Kuro mengelus kepalanya dan tersenyum kecil karena bisa memaklumi perbuatan Laila, tapi ada yang harus dia ketahui terlebih dahulu.
"Laila maaf. Aku pasti telah membuatmu kawatir."
"......"
"Tapi bisakah kau beritahu apa yang sebenarnya terjadi selama aku pingsan?"
"Mengenai itu, biarkan aku yang menjawabnya."
"..Uh?"
Tiba tiba sosok lainnya masuk kamar Kuro. Orang itu adalah Aldest. Tampaknya dia sudah menunggu waktu yang tepat untuk masuk.
Aldest memakai pakaian yang tak biasa dia kenakan. Bahkan bisa dibilang itu adalah pakaian yang biasa dipakai penduduk klan Blad. Sedangkan Laila memakai pakaian berbahan kulit yang cukup banyak menunjukkan kulit putihnya. Pakaian itu tampaknya didesain oleh Yui karena itu mirip gaya berpakaian Yui.
"Ara ra... mungkinkah aku datang di waktu yang tak tepat? Atau aku harus menunggu kalian bercinta terlebih dahulu?"
"...kenapa kau berkata seolah kami akan selalu melakukannya setiap saat? Sebaiknya aku tahu apa yang terjadi secepatnya. Selain itu, berapa lama aku tak sadarkan diri?"
Bukankah kalian memang melakukannya setiap saat? Pikir Aldest.
Aldest menuju dinding dan menyandarkan tubuhnya dengan wajah rumit.
"Kau memang tajam seperti yang kudengar, tak bisakah kau bersantai terlebih dulu?"
"...."
"Tak bisa kah.."
Aldest mendesah kecil.
"Asal kau tahu, kau pingsan selama 13 hari."
"Selama itu?"
"Ya. Dan kau pasti tahu selama itu pasti banyak hal yang terjadi. Karena itulah aku akan memberi tahumu semua yang terjadi."
Kuro menatap Laila yang berada di pelukannya dengan tatapan sedih. Banyak hal yang terjadi kepada Laila dan semuanya.
**13 hari yang lalu, setelah pertarungan melawan Lucifer berakhir.**
Kuro dan Laila tak sadar setelah menggunakan semua yang mereka miliki. Jinn dan Charlmilia juga pingsan, tapi mereka tak mengalami luka parah.
Diana dan Lionel juga masih selamat, tapi mereka mengalami luka yang cukup parah. Syukurlah berkat Shapira, mereka dapat memberikan pertolongan awal sehingga korban tak bertambah.
Satu hari setelah pertarungan, Laila sadar dari pingsannya. Berbeda dengan lainnya, Laila mengalami kondisi yang disebut Mana Zero atau kehabisan mana. Itulah yang membuatnya lebih cepat pulih dan hanya butuh istirahat saja.
Saat dia sadar, yang dia lihat pertama kali adalah Aldest yang sudah menunggunya.
Dia berada di salah satu kamar istana Fafnir. Laila tak tahu siapa yang membawanya kesana, tapi itu bukan masalah penting.
"Aldest?"
Laila masih terlihat kebingungan. Dia masih belum sadar sepenuhnya.
Tetapi saat melihat Aldest yang terlihat serius, dia memusatkan perhatiannya agar bisa mendengarkan dengan jelas.
"Aku tahu kau baru sadar, Nona Laila. Tetapi aku harus menyampaikan hal ini kepadamu secepatnya."
"....."
"Kita harus pergi dari Dragonia secepat mungkin."
Laila langsung melebarkan matanya. Dia tak mengerti kenapa Aldest mengatakan itu, tapi Laila tahu Aldest bukanlah orang mengatakan suatu hal tanpa alasan. Selain itu mengingat semua yang telah terjadi, pasti ada alasan masuk akal kenapa mereka harus meninggalkan Dragonia.
"Bisakah kau beritahu alasannya?"
"Ada banyak alasan, tapi alasan yang paling mudah kita akan dalam bahaya jika kita terus berada disini."
"Bahaya? ..apa maksudmu?"
"Apa Nona Laila lupa alasan kita kemari?"
Laila tahu apa yang ingin dikatakan Aldest selanjutnya.
__ADS_1
"Ya, Nona Laila pasti ingat kita datang kesini karena putri Diana meminta bantuan Kuro, bukan kita. Sejak awal kita tak dibutuhkan dan bukan itu saja. Saat ini Kuro tak sadarkan diri, tak ada yang bisa menjamin keselamatan kita."
Setelah mendengar itu, Laila hanya bisa tercengang, tapi disaat yang sama dia ingat sesuatu.
"Kuro.. apa yang terjadi dengan Kuro? Dimana dia sekarang? Kau bilang dia tak sadarkan diri. Mungkinkah dia sedang ter-"
"Tenanglah. Kuro hanya tak sadarkan diri. Tapi dia akan dalam bahaya jika terus seperti ini."
Laila terkejut. Air matanya juga langsung mengalir deras dengan sendirinya.
Hal ini sudah berkali kali terjadi dan berkali kali pula Laila gagal melindungi orang yang dia cintai.
"Karena itulah kita harus segera pergi dari sini. Kuro akan mendapatkan perawatan yang lebih baik di tempat lain."
"Dimana tempat itu?"
"Itu pertanyaan yang bagus, tapi seperti yang Nona Laila tahu, Kuro mengalami luka yang tak biasa, karena itulah kita tak mudah mengobatinya meskipun dengan sihir penyembuh terkuat sekalipun."
Aldest mengatakan hal yang sama dengan Shapira sebelum pertarungan melawan Lucifer dimulai.
Luka Kuro bukanlah luka luar, tapi luka dalam yang tak terlihat. Wajar jika sihir penyembuh tak mudah menyembuhkannya.
"Lagipula ini wajar mengingat dia menggunakan tekhnik seperti itu."
Aldest menatap luar jendela yang menunjukkan bekas pertarungan dahsyat. Tapi sekarang beberapa orang terlihat sedang sibuk membersihkan bekas kekacuan. Dragonia sudah mulai berbenah setelah pertarungan selesai.
Laila mengusap air matanya dan berusaha untuk tak menangis lagi. Dia sadar sekarang bukanlah waktunya untuk bersedih.
Tatapan sedih langsung berubah menjadi penuh tekad yang kuat.
"Aldest, kau pasti mengetahui tekhik seperti apa yang digunakan Kuro, apakah kau tahu apa itu sebenarnya?"
Tekhnik yang digunakan Kuro begitu misterius, tapi juga begitu dahsyat.
Aldest langsung mengangguk.
"Ya. Aku tahu. Sebelum berangkat, Electra pernah memberi tahuku tentang teknik Anti-Paladin yang dimiliki Kuro."
"Anti-Paladin?"
Laila langsung berkeringat dingin. Dia mengerti dari namanya saja, teknik itu pasti digunakan untuk membunuh musuh yang memiliki kekuatan setara Paladin atau mungkin bahkan lebih kuat.
"Tekhnik yang digunakan untuk membunuh Paladin, ...Cursed Burst Art, God Reaper."
"..a-apa? Kenapa Kuro mempunyai.."
"Itu adalah tekhnik yang menggunakan kecepatan sama seperti Cursed Blade Art, Witch Reaper, tapi kecepatannya sangat jauh berbeda. Kecepatannya bahkan sanggup mengalahkan kecepatan waktu. Mengenai kenapa dia mempunyai tekhnik seperti itu, kurasa Anda sudah mengetahuinya."
"....."
Mengalahkan kecepatan waktu. Laila langsung mengerti kenapa saat itu mereka tak menyadari Kuro menggunakan tekhiknya.
Dalam kurun kurang dari satu detik dia menebas semua pedang, Lucifer bahkan gerbang dimensi. Itu sama sekali bukan tekhnik yang dimiliki oleh manusia.
"Anda pasti paham kenapa tekhnik itu bisa membunuh Paladin. ...sayangnya ada bayaran yang tak murah setelah menggunakan tekhik itu."
"Dengan kata lain, kau ingin mengatakan keadaan Kuro disebabkan oleh tekhnik itu?"
Aldest terdiam dan tak membantah dugaan Laila.
"...tapi apakah Kuro bisa sembuh?"
"Ya. Dia bahkan bisa pulih seperti sedia kala, tapi itu tak terjadi jika kita terus berada disini. Ini adalah alasan lain kenapa kita harus pergi secepatnya."
Setelah mendengar tentang adanya harapan untuk menyembuhkan Kuro, Laila sedikit merasa lega. Tapi dia tetap sedih dengan apa yang terjadi dengan Kuro.
Bisa dibilang ini adalah luka terparah yang pernah Laila lihat.
"Satu hal yang harus anda ketahui, tolong rahasiakan tekhnik itu. Tak hanya itu saja, semua yang telah terjadi dalam pertempuran, jangan beritahu siapapun. Kita masih belum tahu benar siapa dan tujuan musuh kita yang sesungguhnya."
"....."
Laila paham jika mereka pergi, mereka akan bisa segera menyembuhkan Kuro, tapi Laila masih tak terlalu mengerti kenapa mereka dalam bahaya.
Musuh yang sebenarnya? Itu pertanyaan lain yang muncul setelah mendengar penjelasan Aldest.
(Entah mengapa aku merasa terlibat dengan suatu yang rumit)
"Baiklah, aku mengerti. Jika itu yang terbaik, jita akan segera pergi, ...tapi bagaimana keadaan yang lainnya?"
"Tenang saja, semuanya selamat. Putri Diana dan pangeran Lionel juga selamat. Ini bisa disebut keajaiban mengingat musuh kita kali ini, tapi keajaiban mungkin karena Kuro bersama kita."
"Apa maksudmu, Aldest?"
"Anda mungkin tak tahu, tapi korban di pihak Dragonia lebih dari 10.000 orang dalam insiden ini."
Laila hanya bisa melebarkan matanya. Dirinya tak menyangka korban sebanyak itu, tapi setelah ingat bahwa pertempuran dimulai bahkan sebelum mereka tiba, itu jumlah yang masuk akal.
Laila dan semuanya kemudian berpamitan dengan Diana dan semua orang yang membantu mereka.
Diana mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya, tapi dia masih bisa tersenyum. Lionel hanya mengalami patah kaki dan tusukan pedang. Syukurlah tusukan itu tak mengenai organ vital.
Saat menyampaikan niat untuk segera kembali ke kekaisaran, banyak yang menentang, Laila dengan tegas mereka harus kembali demi kesembuhan Kuro.
Diana yang peduli dengan Kuro tak mungkin membiarkan Kuro terus terluka. Apalagi dia seperti itu karena permintaan egoisnya.
Di saat itulah Laila sadar. Meskipun tampaknya mereka dibiarkan pergi begitu saja, ada beberapa pihak yang tak senang. Sepertinya apa yang dikatakan Aldest benar mengenai mereka akan dalam bahaya jika terus berada di Dragonia.
Draig dan Louis tak mengantar mereka. Louis masih belum pulih benar dari lukanya. Sedangkan Draig harus mengurus sesuatu dan tak bisa mengantar mereka.
Kuro yang masih pingsan berada di punggung Ruby. Meskipun Ruby terluka, tapi lukanya sudah pulih. Hal yang sama juga terjadi kepada Shapira. Sedangkan Laiko masih belum pulih seutuhnya, tapi sudah bisa terbang seperti semula.
Setelah berpamitan, mereka pergi menuju desa klan Blad. Disana mereka meminta Emera yang memiliki kekuatan untuk memulihkan keadaan Kuro seperti sedia kala, tapi meskipun sudah pulih, Kuro belum sadar.
Mereka akhirnya hanya bisa menunggu. Sampai saat ini.
"Apa kau tahu, selama ini nona Laila yang merawatmu. Bahkan adikmu sampai mengalah, kau benar benar beruntung fuf fu fu.."
Kuro sekali lagi mengelus kepala Laila lagi dengan lembut.
Banyak hal yang tak dia ketahui selama dia tak sadarkan diri, tapi dia merasa lega semuanya baik baik saja.
"Aku pergi dulu. Aku sudah mengatakan hal yang perlu kau ketahui, untuk lebih detailnya silahkan bertanya kepada Nona Laila Aku yakin kalian butuh waktu untuk membicarakannya secara pribadi."
Dengan senyuman tipis Aldest melangkahkan kakinya pergi dari kamar Kuro. Dia meninggalkan Kuro dan Laila berduaan di kamar.
Sementara itu Laila terus memeluk tubuh Kuro dan seperti tak ingin melepaskannya bagai lem.
"Laila, terima kasih, tapi biarkan aku bernafas lega terlebih dahulu."
Tak ada jawaban. Laila hanya terdiam mematung.
"Laila?"
".... apakah kau tak mau kupeluk?"
Kuro tak tahu harus bereaksi seperti apa. Tapi satu hal yang dia tahu, Laila sangat manis saat mengatakan itu.
(Aku pria yang bodoh...)
Kuro mendesah kecil.
"Bodoh, kenapa kau berpikir seperti itu? Mana ada orang yang tak mau dipeluk oleh kekasih mereka?"
"...kalau begitu tak ada masalah aku memelukmu kan?"
Kuro hanya bisa tersenyum kecil saat melihat yang bertingkah manja. Bisa dibilang dia lebih manja dari biasanya, tapi Kuro tak bisa mencegah Laila.
"Baiklah, tapi jangan lama lama...."
__ADS_1
Laila tersenyum dengan senangnya saat memeluk tubuh Kuro dengan erat. Kuro bisa mencium aroma wangi dari rambut Laila yang lembut dan halus.
Kehangatan tubuh Laila tak dia rasakan selama dia pingsan. Ada rasa rindu yang muncul, tapi entah mengapa dia juga merasa Laila bertingkah tak seperti biasanya.
Dalam pertempuran itu pasti telah terjadi sesuatu yang merubah Laila. Tak hanya itu, semuanya pasti mengalami perubahan seiring dengan pengalaman mereka. Kuro mengetahui hal ini lebih dari siapapun.
Angin berhembus kecil dan menerbangkan rambut Kuro yang telah sedikit memanjang, saat itulah dia baru sadar bahwa dirinya juga berubah.
"Eh? ...kenapa?"
Kuro melirik cermin yang berada di pojok kamarnya, saat itulah dia melihat perubahan yang terjadi kepada tubuhnya, tidak, lebih tepatnya warna rambutnya.
"Kenapa rambutku berubah menjadi... putih?"
Laila langsung meregangkan pelukannya dan menatap Kuro.
"Kami juga tak tahu apa yang terjadi, tapi itu terjadi setelah Emera berusaha menyembuhkanmu. Yah... aku terkejut karena kau sangat mirip Shiroyasha dengan rambut itu, tapi bagiku Kuro adalah Kuro, orang yang paling kucintai."
"Aha ha.. kau bilang aku sekarang mirip Demon King kah..., aku tak tahu harus senang atau sedih, ..tapi aku harap rambutku akan kembali seperti semula. Jika seperti ini, aku pasti akan dikira Demon King yang telah bangkit ah aha.."
"......"
Tak ada senyuman dari candaan Kuro, atau Laila sama sekali tak menganggap ucapan Kuro adalah lelucon.
"Laila, maaf. Mungkin aku terlalu berlebihan, aku tak akan mengu-"
"Ummm.. bukan apa apa, ...Emera bilang rambutmu akan kembali seperti sedia kala jika sudah saatnya, ...tapi mengenai Demon King ini, ....bagaimana pendapatmu?"
"......."
"Aku minta kau jujur dari lubuk hatimu yang paling terdalam. Kau pasti tahu semua masalah ini, semua pertarungan ini dimulai dari Demon King dan kurasa kita tak akan bisa tenang sebelum pertarungan ini berakhir..."
"?!"
Kuro terkejut karena tubuh Laila mulai gemetar, tak hanya itu air mata mulai mengalir lagi. Bahkan lebih deras dan menyedihkan dari sebelumnya.
"..Kuro, aku takut."
Laila meronta dan memeluk tubuh Kuro dengan lebih erat.
"...di pertempuran itu aku sadar bahwa banyak musuh yang lebih kuat dari yang kita kira...., tapi bukan hanya itu saja yang aku sadari."
"....."
".....semakin kuat musuh yang kita hadapi, semakin sadar bahwa aku masih lemah. ...aku juga sadar tak bisa berbuat apapun tanpa orang lain, ..tapi yang terpenting aku sadar bahwa aku tak bisa bertarung seperti dirimu atau yang lain. ...sebanyak apapun aku berusaha, ...sebanyak itupula aku aku sadar bahwa aku tak pantas berad- ouch!"
Kuro langsung menyentil kepala Laila dengan cukup keras. Hanya itu cara yang terpikirkan Kuro untuk membuat Laila berhenti.
"Bodoh, siapa yang menentukan kau pantas atau tidak? Dan siapa bilang kau tak pantas berada di sisiku?"
"Ugu.. ta-tapi.."
"Dengar, apapun yang terjadi kau akan tetap di sisiku. Tak akan kubiarkan kau pergi dariku, mengerti!?"
Kuro langsung memeluk tubuh Laila dengan erat. Dia sadar telah membuat Laila merasa terbebani. Dia tak menyangka Laila akan mempunyai pikiran sepe- tidak. Pemikiran itu sangat wajar setelah semua yang dia alami.
Laila mengangguk pelan. Tubuhnya juga perlahan berhenti gemetar. Pelukan Kuro telah membuat dirinya tenang.
"Sayang sekali aku tak bisa menjamin kita tak akan menghadapi musuh yang berkali kali lebih kuat daripada Lucifer, bahkan kita mungkin akan berhadapan dengan seseorang yang memiliki kekuatan setara Demon King, ....saat itu tiba, maukah kau menemaniku, tidak, aku minta tetaplah di sisiku!"
"......"
"Sebagai gantinya akan kupertaruhkan semua yang kumiliki untuk melindungimu, dan tentu saja akan kukerahkan semuanya agar bisa bersa-"
Jari Laila menutup mulut Kuro dan menghentikan perkataan Kuro.
"Kau tak perlu mengatakannya lebih jauh lagi, Kuro. ...sudah cukup, aku mengerti, ..tapi satu hal yang kau lupa,-"
"?"
"Bukan hanya kau saja yang akan mempertaruhkan semuanya...."
Kuro sedikit tercengang, tapi kemudian dia tersenyum kecil tanda mengerti maksud Laila.
"Aku mengerti, ...tapi jangan pernah mengatakan kau tak pantas. Kau lebih pantas daripada yang kau ketahui, selain itu perjalanan kita masih panjang. Kau bisa menjadi lebih kuat jika kau mau, bahkan aku yakin kau bisa mengalahkanku suatu hari. Bisakah kau berjanji tak mengulangi perkataan itu lagi?"
Laila mengangguk dengan senyuman yang indah.
"...aku berjanji. Aku juga berjanji akan menjadi lebih kuat, bahkan lebih kuat darimu. Tunggu saja, aku akan segera mengalahkanmu. Ingat itu baik baik. ..dan kuharap kau tak menyesal jika kalah dariku.."
"...tentu. ....aku akan menantikannya."
Tiba tiba tatapan Kuro berubah menjadi rumit. Terlihat sedih, tapi juga terlihat senang.
Laila tak tahu apa yang dipikirkan Kuro. Bagi Laila, Kuro masih banyak menyimpan rahasia yang tak bisa dia ungkapkan, bahkan terhadap dirinya yang merupakan kekasihnya.
Bukan karena Kuro tak percaya kepada Laila, tapi jika sudah saatnya, Laila percaya Kuro akan mengatakan semuanya.
(Aku juga menantikannya, Kuro...)
Keduanya lalu tertawa kecil bersama. Kebahagian terpancar dari senyuman mereka. Beban yang membebani pundak mereka sekarang sudah semakin berkurang, tapi bukan sepenuhnya hilang.
Laila memeluk Kuro dan menyandarkan kepalanya di dada Kuro. Kuro juga memeluk Laila sambil menikmati suasana yang ada.
Tenang dan damai. Mereka seolah tak memiliki masalah apapun. Andai waktu berhenti dan kedamaian itu terus mereka rasakan, ....tapi mereka tahu itu hanya sebuah khayalan belaka.
Groraoaoaaoa...
Tiba tiba terdengar suara yang sedikit menyeramkan. Itu membuat mereka langsung kembali ke kenyataan.
Laila langsung melirik Kuro. Dia tahu asal suara itu berasal dari Kuro, tepatnya perut Kuro.
"Aha ha.. kurasa selama pingsan aku juga tak makan, pantas aku merasa lapar."
"Lapar?"
Laila tersenyum kecil mengerti maksud Kuro.
"Hm? Laila, kenapa kau melepaskan kancing bajumu?"
"Bukan apa apa, aku hanya ingin memberikan menu spesial untuk merayakan kesembuhanmu."
Laila mengekspos bagian dadanya dan memperlihatkan dadanya yang tak memakai pakaian dalam. Kulitnya yang putih mulus begitu menggoda Kuro.
*Gulp* Kuro langsung menelan ludahnya dan tak menyangka Laila akan mengundangnya dengan cara seperti itu.
"Jadi.. apa pilihanmu?" tanya Laila dengan nada seksi dan menggoda. "Kau memilih menu biasa, ...atau spesial?"
Kuro mendesah kecil, tapi dia terlihat senang.
"Kurasa aku memilih menu spesial terlebih dahulu...."
Kuro pun menuruti undangan Laila dan langsung saja menyantap menu spesial dari Laila, yaitu Laila itu sendiri. Mereka melampiaskan cinta dan rasa rindu mereka saat itu juga.
Tanpa mereka sadari atau lebih tepatnya berpura pura tak mengetahui, Yui sedang berada di depan pintu kamar Kuro dengan keringat mengalir. Di tangannya nampan berisi makanan dan minuman segar terlihat begitu lezat bagi orang yang lapar.
Setelah mendengar Kuro sadar dari Aldest, Yui langsung menyiapkan makanan karena tahu Kuro pasti akan merasa lapar karena tak makan selama 13 hari, tapi saat akan mengetuk pintu, yang dia dengar adalah suara desahan dari Laila.
Kuro tampaknya sudah menyantap suatu yang lebih lezat daripada yang ada di tangannya saat ini.
Yui mendesah. Dia tak kecewa karena gagal, tapi-
"Aku tak percaya mereka melakukannya setelah kak Kuro sadar. Ya ampun, kadang aku berpikir mereka terlalu berlebihan dalam urusan cinta."
Dengan senyuman kecil, Yui menaruh nampan di depan pintu. Tak lupa dia memberikan sebuah pesan yang dia tulis di selembar kertas.
"Aku tak bisa menyalahkan mereka, lagipula aku juga menginginkan hal yang sama jika di posisi kak Laila ku ku ku.."
Yui lalu melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu meninggalkan dua orang yang sedang dimabuk cinta.
__ADS_1