Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Dragon War X : Evolution


__ADS_3

"...dan karena bertemu dengannyalah aku tahu keputusan yang harus kuambil. Bukan keputusan yang berasal dari perintah, ajakan maupun godaan. Untuk pertama kalinya aku memutuskan sesuatu demi diriku sendiri. Dan keputusan itu adalah untuk menghancurkan dunia bersama dengan mereka, Liberia."


Nada Cross yang dingin seolah perkataan apapun tak akan mencairkan keputusan yang berasal dari hatinya yang paling terdalam.


".....kak Cross kau tampaknya tak akan merubah keputusanmu apapun yang terjadi."


"Ya. Dan satu satunya cara untuk menghentikanku, kau sudah tahu bukan?"


"........"


Diana terdiam. Tentu dia tahu, yaitu dengan cara membunuh Cross, tapi sebagai keluarga, pilihan itu begitu sulit.


(Apa yang harus kulakukan?)


Meskipun sudah membulatkan tekadnya, namun melaksanakannya lebih sulit daripada yang dia kira. Dia sekarang seolah harus memilih antara dua jurang yang sama sama dalam dan gelap.


"Lagipula, apa kau pikir bisa menghentikanku?" Cross tersenyum. "Tidak, meskipun aku gagal atau mati disini, kalian tak akan bisa menghentikan mereka (Liberia)."


Mata Aldest langsung menyipit setelah mendengar informasi yang tak terduga.


Dengan sihirnya dia bisa mengorek informasi yang ada di otak Cross, tapi sekarang dia tak boleh gegabah dan menunggu waktu yang tepat. Sekarang yang dia lakukan hanyalah menjadi pengamat, namun dia akan ikut campur jika keadaaan memaksa.


"Apa maksudmu?"


"Kenapa kau tak cari tahu sendiri?"


Tiba tiba gelang di tangan Cross bersinar.


"?!"


Disaat yang sama, lingkaran sihir muncul di bawah kaki Cross dan membesar. Dari lingkaran sihir itu munculah kepingan kepingan logam yang perlahan menyelimuti Cross seperti sebuah armor berwarna hitam.


Perlahan ukurannya membesar dan terus membesar hingga ukurannya melebihi armor normal, yaitu 3 setengah meter.


Tak seperti Knight Gear yang berbentuk naga atau mirip naga, armor itu lebih mirip monster bersayap dan lebih menyerupai iblis.


"Kau tahu Diana, ini adalah senjata andalanku, Ascalon Gear."


"Ascalon?"


Ascalon adalah nama pedang legendaris yang dikhususkan membunuh naga. Keberadaan senjata itu sekarang tak diketahui dan hanya menjadi sebatas legenda saja.


Tapi apa hubungannya dengan senjata legendaris itu? Apakah hanya sebatas nama saja?


"Ya. Dan kau tahu apa artinya kan?"


Setelah mengatakan itu, seluruh tubuh Cross tertutupi logam hitam dan menyatu sepenuhnya dengan armor itu. Sebuah kristal besar berada di tengah dada memancarkan aura ungu dan aura yang menakutkan.


Tubuh Diana seolah merasakan adanya bahaya dan langsung memperingatkan dirinya. Kakinya bahkan melangkah mundur tanpa dia sadari.


Diana lalu melirik cristal itu dengan hati hati, dan setelah itu, dia akhirnya menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan, yaitu sebuah pedang yang hampir hancur di dalamnya.


"Jangan bilang..."


"Ya. Ascalon Gear menggunakan pedang legendaris Ascalon sebagai intinya. Ku yakin kau tahu meskipun kau memakai Dragon Gear, kau tak akan menang melawanku. Aku sekarang bukanlah Cross sang boneka, tapi Cross sang Dragon Slayer. Sekarang bisakah kau menghentikanku?"


"...Kh... "


Tiba tiba sebuah pedang raksasa muncul di tangan Ascalon Gear seperti sebuah magic arm. Dari ukurannya, tampak seperti senjata yang memang dikhususkan untuk membunuh seekor naga.


Dengan pedang sebesar itu, berat pedang itu juga luar biasa, namun Cross dengan mudah mengayunkannya seperti sebuah pisau. Itu adalah bukti kekuatan Ascalon Gear.


Senyuman muncul di bibir Cross.


"Mari kita mulai..... kita tentukan siapakah yang akan menjadi pahlawan dan yang menjadi penjahat."


Diana langsung menghunuskan Gungnir ke Cross dan memasang posisi bersiap bertarung.


"...aku tak ingin menjadi pahlawan atau menjadi penjahat. Yang kuinginkan hanyalah keluargaku kembali utuh. Itu saja."


Diana langsung memasang kuda kuda dan menghunuskan tombaknya. Cross juga bersiap bertarung.


Keduanya saling memancarkan aura masing masing dan memijakkan kedua kakinya di tanah dengan keras.


[Queen, berhati hatilah jika kau terkena serangannya sedikit saja, akan berakibat fatal.]


"........."


Mendengar telepati dari Shapira, Diana langsung meningkatkan kewaspadaannya.


(Seperti yang kuduga, pedang itu adalah Ascalon yang asli, ....tapi darimana kak Cross mendapatkannya?)


"?!"


Tak ada waktu berpikir. Cross langsung menendang tanah dan berakselerasi ke arah Diana dengan kecepatan tinggi meskipun tubuhnya cukup besar.


Cross menyerang menggunakan pedangnya yang besar, disaat itulah Diana langsung bersiap menggunakan sihir pertahanan.


"[Wind Wall]"


Sebuah dinding angin langsung menghalangi tebasan pedang Cross, tapi sayangnya pedang Cross memotong dinding itu seperti memotong sehelai kertas. Untung saja Diana sudah memprediksikan hal itu sehingga dia langsung menghindar dengan melompat ke atas dan sudah mempersiapkan serangan selanjutnya.


"[Luminus Spear]"


6 tombak angin merah muncul di sekitar Diana. Lalu keenam tombak angin itu langsung melesat ke arah tubuh besar Cross.


Cross tak bergerak dan menerima serangan Diana. Ledakan besar dan asap mengepul dari tempat Cross berdiri, sedangkan Diana masih melihat dampak serangannya dengan melayang di udara.


(Jika tak berhasil..)


Serangan Diana yang baru saja dia gunakan adalah serangan yang mampu menghancurkan Astaroth dengan mudah. Jadi serangan itu pasti cukup kuat untuk memberikan dampak kepada Cross.


Setidaknya itulah yang seharusnya terjadi.


Setelah asap menghilang, armor Cross terlihat tanpa goresan sedikitpun. Bahkan tak ada tanda serangan Diana memberikan dampak.


Diana mendarat dengan ekspresi terkejut yang luar biasa, tapi Cross menunjukkan wajah tak senang dan langsung menghunuskan pedangnya sekali lagi.


"Kau tak perlu terkejut. Kau seharusnya tahu Ascalon, pedang pembunuh naga dibuat dari taring naga legendaris Bahamuth yang merupakan naga terkuat di dunia. Sekarang seluruh armor ku ini menggunakannya sebagai inti, dengan kata lain kau pasti tahu artinya kan?"


"KH...."


Tentu Diana tahu. Saat ini Cross bagaikan Ascalon itu sendiri. Tak hanya mampu menahan segala serangan yang bersumber dari naga, namun Cross saat ini mampu dengan mudah membunuh Dragon King.


Berbahaya. Sangat berbahaya. Itulah Cross saat ini.


Tiba tiba perubahan terjadi kepada armor Cross. Tepatnya tangan kiri Ascalon Gear tiba tiba hancur menjadi ribuan keping, tapi bukan hancur, namun bertransformasi menjadi sebuah senjata api.


"?!"


Diana langsung mengerti apa yang dilakukan Cross. Dengan instingnya sebagai seorang penyihir dan petarung, Diana langsung menggunakan sihir [Leap] untuk bergerak dengan kecepatan tinggi.


Disaat yang sama, Cross sudah menembakkan peluru dalam jumlah yang besar dan memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan. Dengan kemampuannya saat ini, menghindari serangan Cross adalah suatu yang mudah, tapi dia masih belum tahu apa saja yang bisa dilakukan Ascalon Gear.


Dia tahu betul Cross. Kemampuan yang ditunjukkan masih belum seberapa selain merubah bentuk senjata yang dia gunakan.


.....dan firasat Diana benar.


"........"


Armor Cross bertransformasi sekali lagi, kali ini tepat di bagian punggung Ascalon Gear.


9 duri atau sebuah benda berbentuk duri tumbuh dari punggung Ascalon Gear. Sembilan duri itu langsung melesat seperti peluru roket dan mengarah ke arah Diana.


Ya. Kali ini peluru kendali yang muncul dari Ascalon Gear.


Diana langsung menyipitkan matanya dan berkonsentrasi untuk melihat peluru kendali yang mengincar dirinya dan mengikutinya. Kecepatan mereka tak seberapa, namun dia tahu mereka bukanlah peluru kendali biasa.


Diana mempererat genggamannya dan bersiap menebas peluru kendali yang mengarah ke dirinya. Dengan kecepatannya saat ini, menebas mereka adalah tindakan mudah.


Dan Diana melakukannya.


Dia menebas 1,2,3, 4 dan akhirnya 7 dari sembilan peluru kendali dengan mudah. Bahkan bisa dibilang sangat mudah. ...tapi saat berusaha menebas 2 yang tersiasa, dia gagal melakukannya. Peluru kendali yang tersisa bergerak seolah hidup atau dikendalikan sehingga untuk sesaat seolah bisa bergerak menghindari tebasan Diana.


"?!"


Mata Diana melebar karena terkejut. Disaat yang sama dua peluru kendali hampir mengenai dirinya.


Disaat itulah tiba tiba bola angin muncul entah darimana dan menahan dua peluru kendali itu. Sayangnya Diana tak bisa tenang. Meskipun berhasil ditahan, namun jarak yang dekat membuat dirinya masih menerima dampak ledakan. Dan dampak yang dia terima lebih buruk dari yang dia perkirakan.


Diana terlempar beberapa meter dengan kekuatan yang dahsyat. Tapi dia langsung dengan sigap menggunakan tombaknya dan menancapkan di tanah untuk meredam tubuhnya.


Dan akhirnya dia berhenti setelah terseret puluhan meter.

__ADS_1


Tapi disaat itulah..


"Kau memang luar biasa, tidak, kurasa yang luar biasa adalah Dragon Gear, benarkan Diana?"


"?!"


Sekali lagi Diana melebarkan matanya saat mengetahui Ascalon Gear (Cross) sudah berada di belakangnya dan bersiap menebasnya dengan pedangnya yang besar.


Diana tak punya pilihan lain selain menggunakan Gungnir untuk menahan serangan Cross. Dan karena kekuatan yang dahsyat, tubuh Diana terlempar sekali lagi.


"Guhh!!"


Tapi itu bukan yang terburuk.


Dengan kecepatan yang luar biasa seperti berteleportasi, Cross bergerak ke tempat Diana terlepar dan bersiap menebas Diana sekali lagi saat masih berada di udara.


Menyadari dalam situasi gawat, Diana langsung mengunakan Gungnir sekali lagi untuk menahan serangan Cross.


Hal ini terus terjadi berkali kali sehingga Diana seperti sebuah bola pinbal yang memantul kesana kemari dengan kecepatan tinggi.


"Apakah ini hanya kekuatan yang ingin kau tunjukkan kepadaku? Haaaah!!"


Setelah merasa sedikit bosan, dengan kekuatan penuh, akhirnya Cross melakukan tebasan, atau lebih tepat sebuah pukulan ke arah Diana dan melemparnya ke reruntuhan bangunan di dekat mereka.


Ledakan keras terdengar saat Diana membentur reruntuhan bangunan. Dan disaat yang sama, Cross memijakan kakinya ke tanah dengan kaki besinya yang besar.


"Kau bilang kau ingin mengembalikan keluargamu seperti semula, tapi kau harus tahu, itu adalah keinginan yang tak pernah terwujud."


Diana bangkit dengan menyingkirkan reruntuhan yang mengurungnya. Kemudian yang terlihat adalah Diana yang yang terlihat berantakan dengan banyak bagian armor yang hancur dan tergores. Darah bahkan mengalir dari keningnya.


Dari wajah besinya, tak ada rasa kasihan atau mesyesal telah membuat adik perempuannya terluka dan hampir mati.


"Meskipun kau meminjam kekuatan dari Dragon King, tapi selama kekuatan itu merupakan kekuatan pinjaman, kau tak akan mengubah kenyataan bahwa kau lemah. Dan karena kau lemah, kau bahkan tak memiliki kekuatan untuk bertarung atu bahkan melindungi satu orangpun."


"....."


"Aku juga sama. Kekuatan ini hanyalah kekuatan yang kubuat dan kuciptakan, tapi kekuatan ini berasal dari diriku sendiri. Dan dengan kekuatan ini aku akan mampu mewujudkan keinginanku."


"Meskipun itu adalah keinginan menghancurkan dunia?"


"Ya. .....tapi bukan menghancurkan seperti yang kau pikirkan."


"?"


"Kami menghancurkan dunia untuk membangun dunia yang baru seperti yang dilakukan Demon King 400 tahun yang lalu. Dunia yang sekarang adalah sebuah kesalahan. Kesalahan yang dilakukan oleh Demon King karena membiarkan dunia seperti sekarang ini. Dan kami mempunyai kekuatan untuk itu."


".........."


Sebuah firasat buruk langsung menghampiri Diana dan Aldest yang masih megamati pertarungan mereka berdua.


"Dan aku sudah menunjukkan salah satunya."


"....itu adalah ..Dragon Arm?"


Tapi Cross langsung menggelengkan kepalanya dan menatap pertarungan monster yang dikenal sebagai Dragon King dan Dragon Arm.


Pertarungan itu hampir mencapai puncaknya. Dragon Arm hampir semuanya hancur dan tercerai berai menjadi bongkahan daging besi dan kabel. Meskipun mereka hampir memiliki kekuatan setara Dragon King yang asli, namun perbedaan kekuatan di antara yang asli dan palsu begitu besar.


Tak butuh waktu lama hingga pemenang pertarungan itu ditentukan.


Tapi Cross tak terlihat menunjukkan keterkejutannya. Jika wajahnya terlihat, mungkin sekarang dia tersenyum saat melihat ciptaannya hancur. Apalagi saat melihat Kuro dan Deon bergerak dengan kecepatan tinggi sambil menebas bagian sambungan besi yang merupakan kelemahan Dragon Arm di antara monster yang bertarung.


"Kau salah, tapi kau juga benar, ....tapi Dragon Arm hanyalah sebuah wadah dari senjata yang sesungguhnya. Dan itu hanyalah dari salah satu senjata yang mereka (Liberia) miliki."


Diana langsung mengerti apa maksud Cross.


"Itulah kenapa kak Cross bilang apapun yang kami perbuat, kami tak akan bisa berbuat apapun?"


"....ya. Itu benar. Mereka meminjamkan teknologi mereka dan mencoba merekrut ku. Saat itu aku berpikir bahwa diriku spesial di mata mereka, tapi aku salah."


"......"


"Mereka memberikan syarat sebagai bukti bahwa aku pantas bergabung dengan mereka, tapi disaat itulah aku sadar. Mereka tak membutuhkan aku. Orang seperti aku bisa mereka dapatkan dengan mudah atau bahkan mereka sudah memiliki orang yang lebih hebat daripada aku sekarang ini."


"Jika seperti itu, kenapa kau tetap membantu mereka?"


Sayangnya Cross tak menjawab dan justru menghunuskan pedangnya. Kali ini dia membentuk posisi dengan kuda kuda seperti seorang petarung pedang. Tak hanya itu, pedangnya juga berubah bentuk menjadi sebuah katana sepanjang 3 meter.


Diana langsung melebarkan matanya. Gerakan dan posisi yang dilakukan Cross saat ini sangat dia kenal. Terutama posisi Cross saat memegang senjata.


"Tuan Kuro?!"


"Ya. Berbeda dengan kalian, aku tak bisa menciptakan gaya bertarungku sendiri atau bahkan bertarung dengan kekuatanku sendiri, karena itulah aku menciptakan. ....tapi selain menciptakan, aku hanya juga bisa meniru. Sekarang kalahkan aku! Carilah jawaban atas semua pertanyaanmu setelah mengalahkanku! Aku tahu kekuatan Dragon Gear bukan hanya sebatas itu meskipun kau baru sebentar menguasianya."


"......"


Diana menggigit bibir bawahnya dan langsung mengambil posisi bertarung. Aura kuat juga terpancar dari tubuhnya.


Tak ada alasan untuk menahan diri sekarang. Awalnya dia berniat tak menggunakan kekuatan penuh karena tak ingin membunuh atau melukai Cross, tapi situasinya sekarang tak memungkinkannya melakukan itu.


Ascalon Gear lebih kuat daripada yang dia perkirakan. Peluru kendali yang sederhana juga memberikan dampak yang lebih besar daripada yang dia perkirakan. Seluruh tubuhnya terasa sakit dan hampir mati rasa, tapi dia masih memiliki kekuatan untuk bertarung.


Senjata yang dikhususkan membunuh naga. Sekarang dia mengerti kenapa Ascalon menjadi senjata legendaris yang terlarang di Dragonia.


Tapi meniru kemampuan orang lain adalah suatu yang tak diduga Diana. Tidak. Jika Astaroth mampu belajar untuk menghadapi musuhnya, maka kemampuan Ascalon Gear yang mampu meniru kemampuan orang lain tak terlalu mengejutkan. Pertanyaannya adalah seberapa besar dia bisa meniru kemapuan orang lain?


Pertanyaan itu terjawab saat Cross tiba tiba melesat dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Tak hanya itu dengan gerakan yang cepat Cross menggunakan tekhnik pedang yang kuat dan cepat. Untung Diana sudah sering berlatih bertarung melawan Kuro di masa lalu sehingga dia tak terlalu kesulitan dalam melihat pola serangan Cross.


Tapi ukuran dan kekuatan Ascalon Gear yang begitu besar membuat Diana terdesak dan terpukul mundur.


"Guuhh!!!!"


Dalam segi kecepatan Diana tak kalah, tapi Gungnir yang memiliki ukuran yang lebih kecil merupakan sebuah kerugian. Jika dibandingkan dengan Kuro yang bertarung mengandalkan kecepatan tinggi dan mengincar bagian vital, maka Cross hanya bisa melakukan tebasan biasa dengan kecepatan dan pola yang sama dengan serangan Kuro.


Meskipun senjata yang mereka gunakan dan teknik yang mereka gunakan sama persis, namun ukuran yang besar membuat Diana mampu menahan serangan meskipun dalam hal kekuatan dia kalah.


Cross seharusnya tahu jika menggunakan serangan Kuro, Diana akan mampu bertahan atau mampu menghindar, tapi kenapa dia tetap menggunakan serangan itu?


"Kh!!"


Sambil terus bertahan dari serangan Cross, Diana mencoba mencari tahu jawabannya, tapi dia tak menemukan jawaban yang tepat.


Percikan orange dan suara logam berbenturan memenuhi arena pertarungan keduanya. Cross terus memojokkan Diana dan tak memberikan Diana kesempatan untuk menyerang balik..


(Ini gawat!)


Serangan Cross juga semakin meningkat dan efektif. Intensitas serangan yang mengenai Diana juga semakin banyak.


(Tapi...)


Diana mengingat kembali saat berlatih bersama Kuro.


[Bagaimana cara mengalahkan musuh yang lebih kuat dari kita?]


Diana mengangguk.


Disaat itulah Kuro tersenyum mendengar pertanyaan Diana yang bisa dikatakan wajar sebagai seorang petarung.


[Hmm... pertama, bagaimana caranya kau mengukur kekuatan lawanmu dan kekuatan dirimu sendiri?]


Mendengar pertanyaan balik itu, Diana langsung terdiam membisu.


[Bagaimana kau bisa tahu kau lebih kuat atau lebih lemah dari lawanmu?]


"....."


[Benar, kau tak tahu seberapa kuat lawanmu sebelum kau bertarung dengannya. Disaat yang sama kau akan tahu seberapa lemah dan kuat dirimu. Sayangnya dalam pertarungan hidup dan mati, kita diharuskan untuk menang sehingga meskipun kita melawan seseorang yang lebih kuat, kita harus menang apapun yang terjadi. Inilah yang menjadi inti pertanyaanmu, tapi sayang sekali aku tak punya jawaban yang tepat karena cara yang sama tak akan selalu berhasil dan belum tentu akan berhasil dengan lawan yang berbeda.]


Lalu apa yang harus dia lakukan? Kuro adalah orang biasa yang mampu mengalahkan orang yang lebih kuat dari dirinya. Dan itu tak hanya satu kali Kuro lakukan, tapi berkali kali dan terus menang. Seharusnya Kuro adalah orang yang paling tahu jawaban itu.


[Kalau begitu akan kuberi tahu cara agar kau bisa selalu menang, tapi hasilnya semuanya bergantung kepadamu.]


Dengan mengingat semua yang Kuro katakan, Diana mencoba menyerang balik.


Yang pertama kali Diana lakukan adalah menahan serangan Cross dengan kekuatan penuh lalu dia tiba tiba melepaskan semua kekuatannya sehingga tubuhnya terlempar dengan kecepatan tinggi ke arah bangunan. Diana langsung menajamkan konsentrasinya dan menggunakan sihir Leap disaat terlempar di udara sebelum membentur reruntuhan bangunan dan menghilang.


"?!"


Cross terkejut. Lalu disaat itulah dari berbagai arah puluhan tombak angin melesat ke arah Cross. Serangan itu memiliki kekuatan setara Luminus Spear, jadi Cross tak perlu menghindarinya dan justru menerimanya. Ledakan keras terjadi dan tanah berhamburan, namun Cross tak peduli dan justru fokus mencari keberadaan Diana yang bergerak dengan kecepatan tinggi.


Cross menggunakan semua sistem pelacaknya dan semua sensor yang terdapat dalam Ascalon Gear. Dia memang menemukan Diana, tapi Diana langsung menghilang. Cross merasa melihat gaya bertarung Kuro saat ini yang mengandalkan kecepatan untuk menyerang lawan.


"Menggunakan tekhnik yang sama kah, menarik.... tapi.."

__ADS_1


Cross langsung mengangkat telapak tangan kirinya ke atas. Tangan kirinya sekali lagi berubah dan menjadi sebuah tombak besi yang besar.


"Thousand Spear"


Tombak besi itu melesat ke langit. Setelah di ketinggian yang cukup tinggi, tombak itu bersinar dan mulai terbelah menjadi ratusan bagian dengan bentuk dan panjang yang sama. Dan kemudian, tombak itu kembali melesat turun dan menancap dalam radius 50 meter dengan Cross sebagai pusatnya.


Sensor Cross mendeteksi tombak angin lagi dari berbagai arah, tapi sebelum menyentuh Cross, tombak angin itu terhalangi oleh sengatan listrik yang luar biasa dari tombak yang menancap di sekitar Cross dan menghilang.


Dari sensor, Cross dapat mengetahui Diana bergerak di sekitar dirinya di dalam radius 50 meter dengan kecepatan tinggi.


"Mungkin kau tak tahu, tapi Ascalon Gear dapat menggunakan semua elemen. Flame Edge"


Di sekitar Cross muncul puluhan burung api berukuran kecil dengan 6 sayap lalu terbang ke segala arah secara acak. Atau tidak. mereka terbang ke arah Diana yang bergerak dan mengejar Diana dengan 6 sayap mereka.


Lalu ledakan terjadi karena burung api itu meledak seperti sebuah bom saat mendekati target mereka.


"Dan tak seperti penyihir biasa, aku bahkan mampu menciptakan sihir yang lebih unik dari penyihir biasa."


Disaat itulah Cross mengarahkan telapak tangan kirinya sedikit ke atas. Dan ledakan terjadi dan sebuah tombak angin tiba tiba muncul dan tertahan oleh perisai angin yang kuat.


"Memang dari atas kau akan menghindari Thousand Spear, tapi kau terlalu naif jika kau mampu menyerangku semudah itu."


Diana menyerang lagi dan tak mempedulikan perkataan Cross. Tapi sekali lagi serangan Diana tertahan oleh dinding angin yang tebal.


"Percuma saja, kenapa kau masih bersikeras menyerangku dengan kekuatan sebatas itu. Ayolah, bertarung dengan serius! Apakah semua yang kau katakan hanyalah kebohongan belaka."


"Tentu tidak!! Silvarus Spiral"


Dari delapan arah muncul tombak panjang yang tipis dan melesat dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya disaat yang bersamaan. Cross tak punya pilihan selain menciptakan perisai angin yang menyelimuti seluruh dirinya, tapi-


"?!"


Tapi Cross dikejutkan saat melihat tombak tipis panjang itu menembus perisainya dengan mudah dan akhirnya mengenai armornya secara langsung.


Tak seperti sebelumnya yang menghasilkan suara keras dan ledakan, kali ini serangan Diana begitu halus dan tenang. Tapi bukan berarti serangan Diana tak membuahkan hasil. Armor Cross sekarang dipenuhi oleh beberapa lubang yang cukup dalam.


Sayangnya, itu belum cukup. Cross kembali bangkit.


Diana lalu tiba tiba muncul di udara dan terbang. 6 sayap tipis seperti sayap capung muncul di punggungnya.


Di udara Diana mengamati dampak serangannya dan disaat yang sama dia mengingat perkataan Kuro sekali lagi.


[Pertama, ketahui apa yang bisa kita lakukan dan apa yang bisa musuh lakukan. Dan juga sebaliknya. Meskipun kuat, bukan berarti tak terkalahkan. Semuanya pasti memiliki kelemahan dan saat kita mengetahui kelemahan musuh, maka kita akan satu langkah untuk mengalahkan musuh meskipun kita lebih lemah.]


"......."


[Meskipun kita akan kesulitan menemukan kelemahan  musuh, tapi disaat itulah informasi sekecil apapun akan berguna.]


Diana melakukan semuanya dengan baik seperti apa yang Kuro katakan. Dia mencari tahu apa yang dia bisa lakukan saat ini dengan kekuatan yang baru.


Dragon Gear yang dia kenakan akan membuat dirinya bisa menggunakan sebagian kekuatan Shapira. Dan karena Shapira dan dirinya adalah pengguna elemen angin, maka tak ada kesulitan dalam memadukan serangan.


Tapi ada suatu yang berbeda dengan Dragon Gear yang Diana pakai sebelumnya. Selain sekarang Dragon Gear lebih mirip armor ringan, sekarang Diana tubuhnya tak merasakan beban sama sekali dan tak lebih cepat kehilangan tenaga. Awalnya dia mengira hal itu karena dia berhasil menyatu dengan Shapira, tapi itu salah.


Selain kuat dan memiliki mana yang besar, naga legendaris Dragon King Class mempunyai satu alasan lain kenapa mereka spesial. Dan itu adalah kekuatan mereka tak hanya berasal dari sihir.


Kekuatan yang berasal dari alam. Itulah kekuatan mereka. Ini juga alasan kenapa Kuro yang bukan seorang penyihir mampu menggunakan Dragon Gear dan terpilih sebagai Dragon Tamer Ruby.


Lalu setelah mengetahui hal itu, Diana langsung menyadari apa yang dia bisa lakukan. Elemen angin adalah elemen yang melambangkan kecepatan. Itu artinya kecepatan juga merupakan kekuatanya saat ini. Sama seperti Kuro.


Berkebalikan dengan Diana, Ascaon Gear adalah senjata yang memiliki kekuatan yang dahsyat. Dan potensi dari senjata itu masih belum diketahui. Sejujurnya Diana tahu sulit akan menang jika hanya mengandalkan kecepatan saja.


Dan karena itulah dia melakukan apa yang dikatakan Kuro selanjutnya.


[Kedua, kreatiflah. Gunakan semua pengetahuan yang kau dapat agar bisa membuat kelemahan yang sudah kau ketahui menjadi bisa berguna. Selain itu dengan kreatif, maka kita akan memberikan kesempatan serangan kita semakin kuat dan efektif.]


Silveras Spiral adalah hasil dari kekreatifan Diana dan merupakan sihir yang baru saja kuasai.


Tapi saat melihat dampak serangan tak sesuai harapan, ada sedikit rasa kecewa yang menghampiri Diana.


(Masih belum cukup.)


Diana melihat Ascalon Gear perlahan pulih dan kembali utuh seperti memiliki kemampuan untuk beregenerasi. Ini kemampuan yang luar biasa, namun bukan suatu yang mengejutkan mata Diana. Ini hanyalah salah satu kemampuan yang membuat dia semakin menyadari memang sulit mengalahkan Cross.


Puluhan peluru kendali kembali muncul di punggung Ascalon Gear dan disaat yang sama tangan kiri berubah menjadi senjata api dan ditembakkan ke arah Diana.


Meskipun serangan gencar ke berbagai arah dan dengan kecepatan yang luar biasa, namun Diana dapat melihat setiap butir peluru yang ditembakan Cross bagaikan gerakan lambat.


Ya. Diana sekarang bisa bergerak seolah memiliki sihir teleportasi.


Meskipun begitu, menghindar saja tidaklah cukup. Diana menyadari hal ini dan dia juga sadar dia tak akan bisa bertahan lama karena mana yang dia miliki perlahan mulai berkurang dan menipis. Jika tak segera mengakhiri pertempuran ini, dia bisa kalah. Yang menjadi masalah, apa yang harus dia lakukan?


Saat sedang berpikir, tiba tiba serangan Cross berhenti. Dia pasti menyadari percuma saja menyerang Diana dengan serangan yang sekarang ini.


Perubahan terjadi terjadi kepada Cross (Ascalon Gear). Logam besi seolah perlahan terkelupas dan berceceran seperti berganti kulit. Perlahan tapi pasti, wujud yang terlahir kembali mulai terlihat.


Kaki manusia keperakan dan berpola sisik hitam. Tubuh tinggi besar seperti orang dewasa yang tampan, namun seluruh tubuhnya berwarna hitam dengan sisik hitam seperti seekor ular kegelapan.


Mata merah menyala seolah melambangkan kebencian dan haus darah. Dua sayap hitam yang berbentuk seperti sayap naga, namun berlubang seperti kain sobek. Pedang hitam dua sisi yang memancarkan aura jahat dan menyeramkan muncul di tangan sosok itu.


Dan yang terakhir, kristal ungu yang merupakan inti Ascalon Gear mengecil dan berubah menjadi bola kristal yang kini berada di tengah dada sosok itu.


"........"


Diana tak bisa berkata apa apa. Dia merasakan tekanan mana yang luar biasa besar dan menakutkan dari sosok yang terlahir itu. Sosok itu mirip manusia, tapi bukan lagi manusia. Jika disebut monster, maka itu juga tidak tepat.


Jika menyebut sosok itu adalah iblis, maka itu mungkin sangatlah tepat.


"Kenapa kau terkejut seperti melihat hantu, Diana?"


"Ka-kak Cross?"


Sosok iblis itu memiliki suara yang sama dengan Cross.


"Ada apa dengan wajah itu? Kau tahu, ini adalah wujud yang sebenarnya dari Ascalon Gear. Kau pasti tak berpikir Ascalon Gear adalah hanya sebatas armor saja kan?"


"Ta-Tapi bagaimana bisa? Aku baru tahu ada sihir yang bisa melakukan hal itu?"


Menggunakan kekuatan monster atau menggabungkan kekuatan monster ke dalam tubuh memang ada. Bahkan sihir semacam itu bisa dibilang umum, tapi ada resiko bagi penyihir yang menggunakan cara itu. Contoh yang paling mudah adalah Deon yang sekarang hampir menyatu dengan iblis.


Sedangkan yang dilakukan Cross benar benar berbeda. Daripada menggabungkan kekuatan monster, dia lebih mirip berubah menjadi monster itu sendiri.


"Ini hanyalah sihir yang dinamakan "Evolution", tapi juga disebut "Assimilate". Salah satu sihir terlarang yang dimiliki oleh Demon King."


"....."


Mendengar nama Demon King, Diana semakin merasakan firasat buruk.


"Kurasa aku sekarang mengerti kenapa hampir tak ada yang bisa mengalahkan Demon King."


Cross mengepalkan tangannya dan merasakan seluruh kekuatan yang sekarang dia miliki.


"Aku merasa seolah bisa menghancurkan dunia dengan kekuatanku sekarang ini meskipun jika dibandingkan dengan Demon King, kekuatanku sangatlah berbeda jauh."


Cross tersenyum dan menunjukkan dua taring putih yang tajam. Dia lalu mengambil posisi bertarung dengan kuda kuda yang sama dengan gaya bertarung Kuro.


"Diana, mungkin kau tak tahu, tapi apakah kau tak pernah berpikir, kenapa pewaris Demon King menggunakan teknik yang hanya mengandalkan kecepatan dan keakuratan?"


Diana langsung mengerti. Cross sedang membicarakan gaya bertarung Kuro yang bisa dibilang biasa saja, namun sangat efektif.


"Jawabannya sederhana, dan jawabannya adalah .....dia tak butuh yang lain, bahkan sesuatu yang disebut sihir."


"?!"


Sosok Cross tiba tiba menghilang bagai lenyap tertelan bumi, tapi dengan instingnya, Diana langsung berbalik dan menangkis serangan Cross yang kini bergerak dengan kecepatan yang sama dengan dirinya. Tidak, bahkan lebih cepat.


Pertarungan dengan kecepatan tinggipun terjadi sekali lagi, tapi bukan antara Deon dan Kuro, tapi antara Cross dan Diana. Gerakan mereka sangat cepat dan bahkan seperti sebuah kilat yang salig berbenturan di udara.


Tapi saat mereka sedang bertarung-


KABOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOMMMMMMMMMMM!!!!!!!!


Sekitar 100 km dari Drageass yang kini menjadi pusat pertempuran, ledakan besar terjadi. Ledakan itu bagaikan sebuah serangan sihir terkuat dari seorang paladin.


Radius ledakan mencapai 40km dengan kekuatan yang mampu dapat dirasakan sejauh 100 km lebih. Anehnya, meskipun ada mana yang terasa, namun keberadaan mana begitu kecil seolah ledakan itu bukan berasal dari serangan sihir.


"A-Apa yang terjadi?"


Diana hanya bisa melebarkan matanya saat melihat kekuatan dahsyat yang mampu menghancurkan kehidupan dalam sekejap itu. Dia bahkan lupa sedang bertarung dengan Cross.


Tiba tiba, Cross muncul dan melayang tak jauh dari Diana dan menyaksikan pemandangan yang sama.


"Bukankah sudah kubilang, apapun yang terjadi, kalian tak bisa mengentikan mereka."

__ADS_1


Diana langsung menoleh ke arah Cross karena mengingat apa yang dikatakan Cross tentang kekuatan yang tersembunyi milik Liberia.


Kekuatan apa yang sebenarnya dimiliki musuh mereka? Diana bahkan tak ingin membayangkannya.


__ADS_2