Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Battle at Phoenix City VI ; Re Awakening


__ADS_3

[Ini buruk... Maaf Queen, sepertinya aku hanya bisa sejauh ini membantumu]


"Huh? Lapis, apa maksudmu?"


[Seperti yang kubilang, aku akan pergi sekarang]


"Lapis, ini bukan saatnya untuk bercanda."


[Kalau begitu, sampai jumpa. Semoga kau beruntung. Meskipun singkat ini sungguh menyenangkan memiliki Queen seperti dirimu]


Retakan muncul di langit. Lalu Lapis terbang menuju retakan itu.


"Hey, kembali! Jangan berkata seolah ini sudah menjadi akhir bagiku!!! Ah.. Dasar naga pengecut!?"


Sayangnya, meskipun mengumpat dengan sekuat tenaga, Lapis tak peduli dan akhirnya tak terlihat lagi setelah retakan di langit menghilang.


"..."


Charlmilia tak bisa mempercayai apa yang terjadi. Setelah mengeluarkan serangan yang mampu menghilangkan ibukota dari peta dan gagal, sekarang Lapis justru pergi. Tidak, lebih tepat jika disebut kabur.


Charlmilia mendesah dalam.


Selama mengenal Lapis, dia paham kalau Lapis merupakan Dragon King yang memiliki kepribadian suka usil dan bisa dibilang pembuat ulah. Sekilas ini mengingatkannya pada seseorang. Meskipun begitu, ini pertama kalinya melihat Lapis menjadi pengecut.


Mungkinkah dia melihat tak ada kemungkinan menang dalam pertarungan ini?


Setelah berhasil menahan serangan sebesar itu, maka wajar saja jika takut. Namun apa itu bisa dijadikan sebuah alasan?


Saat memikirkan kembali semua itu, mata Charlmilia kembali bertemu dengan Maria.


(Ugh... Ini sungguh merepotkan. Apa dia pikir aku bisa menang melawan monster itu sendirian?)


-Tetapi kenapa dia berpikir bisa bertarung dengan Maria?


Charlmilia tersenyum. Disaat yang sama sebuah nama muncul di kepalanya. Dia tahu itu adalah nama sihir baru. Sihir baru yang hanya bisa dia gunakan saat menggunakan Dragon Valkryie Gear.


""


Halilintar menghantam Charlmilia, lalu Charlmilia muncul dengan dua buah senjata menyerupai cakram yang memercikan halilintar kecil.


(Ini..)


Dia tahu apa yang dia bisa lakukan dengan senjata sihir baru itu. Semuanya seperti sebuah data yang masuk dalam otaknya. Sensasi inilah yang dia rasakan saat mendapatkan magic art baru.


Kemudian dia memasang kuda kuda dan mengkonsentrasikan seluruh pikirannya pada Maria.


"Haaa!!!!"


Dia melesat ke arah Maria bagaikan sebuah railgun.


Tentu Maria tak diam saja. Dengan mengubah kembali Lic menjadi pedang suci, Maria menggunakan Holy Iron Thunter Blaze pada Charlmilia yang datang.


Charlmilia tak menghindar. Dia tak perlu melakukannya karena dia akan menerima serangan Maria.


Dan seperti sebuah keajaiban, Charlmilia menerjang Holy Iron Thunder Blaze dan menghancurkannya tanpa terkena efek elemen suci sedikitpun.


Sadar serangannya tak akan menghentikan Charlmilia, Maria menggunakan Thunderbolt Bullet, tapi tak seperti saat menyerang Electra, kali ini peluru yang digunakan hanya berjumlah satu dengan ukuran yang lebih besar dan berbentuk tombak.


"


Teriakan menggema, tombak halilintar melesat untuk menghentikan  Charlmilia. Tentu Charlmilia tak mundur dan terus maju untuk menghadapi tantangan Maria.


Charlmilia menahan serangan dengan magic arm barunya. Dia terdorong ke belakang karena kekuatan serangan Maria lebih besar daripada yang dia perkirakan.


Tetapi-


""


Dua sayap yang melayang di punggungnya terbuka dan mengeluarkan sebuah pendorong seperti sebuah roket. Dan setelah itu, serangan Maria akhirnya berhasil ditahan.


(Begitu rupanya..)


Tujuan Charlmilia menerima serangan adalah untuk memastikan kekuatan dan ketahanan yang dia miliki dengan Dragon Valkryie  Gear yang dia kenakan.


Dia merasa senang karena kekuatan yang dia miliki lebih besar daripada yang dia perkirakan. Tetapi yang paling penting dari semua itu adalah kekuatan yang dia gunakan tak menghilang meskipun terkena sihir elemen suci.


(Kalau begitu..)


Dia memperbesar kekuatan sayap pendorong dan maju, tetapi jika seperti itu, yang dia lakukan hanyalah membuang tenaga saja. Untuk mengatasinya, dia berpikir akan menggunakan kekuatan dari magic arm barunya.


">"


Indura's Bullet tiba tiba menghilang seolah tak pernah ada. Charlmilia langsung menggunakan kesempatan itu untuk maju menerjang Maria.


Maria bersiap dengan pedang suci, tetapi suatu hal yang dipercaya terjadi. Sesaat sebelum melakukannya, Charlmilia menghilang dan ledakan keras terjadi tepat di tempat Maria sebelumnya.


Kemudian yang terlihat adalah sebuah sosok yang melesat bagai peluru menerjang bangunan dan berhenti dengan tertimbun oleh bongkahan bangunan. Sosok itu adalah Maria.


"..."


Ledakan menyingkirkan puing puing. Lalu yang terlihat adalah Maria yang menunjukkan ekspresi bingung seperti bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Tak hanya dia, semua orang pasti akan memikirkan hal yang sama jika melihat kejadian tadi.


Sementara itu, pelaku dari perbuatan tadi kini berada di udara seperti naga kecil dengan sayap futuristik. Dia lalu melempar salah satu cakramnya ke tempat Maria berdiri.


""


Cakram berputar dan terbagi menjadi delapan bagian yang terhubung oleh benang halilintar. Kemudian kedelapan bagian itu terbang ke Maria dan mengunci gerakannya seperti sebuah tali. Delapan bagian cakram lalu menancap ke tanah bagai sebuah pasak.


Maria berusaha memberontak untuk meloloskan diri. Bahkan dia menggunakan pedang suci untuk memotongnya.


"Percuma saja!"


Halilintar menyambar Maria. Tak hanya satu, namun berkali kali dan dalam jangka waktu yang cukup lama.


Tak bisa bergerak sama sekali karena meneriam serangan dahsyat berulang kali, Maria akhirnya hanya bisa pasrah.


Lalu di atasnya, cakram yang satunya kini terbang dan terbagi menjadi delapan bagian seperti sebelumnya. Hanya saja tak ada benang halilintar.


">"


Bagian dalam cakram terbuka seperti sebuah gerbang. Lalu sebuah tombak raksasa yang penuh dengan halilintar melesat melebihi kecepatan railgun. Ya. Itu adalah Indura's Bullet yang menghilang. Dan kali ini serangan itu diarahkan pada pemiliknya sendiri.


Tentu Maria tak berdiam diri. Dia paham jika serangan itu mengenai dirinya, dampak yang dia terima akan sangat fatal. Bagaimanapun juga itu kekuatannya sendiri.


Tak punya pilihan, Maria memanggil Michael. Malaikat muncul dan bersiap untuk menerima serangannya.


Tetapi suatu keanehan terjadi. Tiba tiba Michael menghilang seolah tak menerima panggilan Maria.


"Terimalah ini!!"


Tak tahu apa yang terjadi, Charmilia tak menyia nyiakan kesempatan yang ada. Tak hanya mengembalikan serangan Maria, namun juga menambah kekuatan dengan elemen petirnya.


""


Bagai hukuman dari Tuhan, pilar halilintar menembus langit ibukota. Gelombang kejut menghempaskan segala yang ada dalam radius 500 meter dan menghancurkan benda dalam radius 10 kilometer lebih. Tak diragukan lagi ini adalah serangan yang melebihi kekuatan serangan Lapis. Hanya saja lebih ke satu titik sehingga kerusakan bisa diminimalisir.


"Haaa!!"


(Aku tak percaya bisa melakukan ini)


Dia kagum dengan dirinya sendiri yang mampu melakukan serangan yang menyamai kekuatan Dragon King. Tapi dia tak memungkiri itu bisa dia lakukan karena bisa memanfaatkan serangan Maria dan kekuatan khusus Raikami, .


Seperti Lapis, kemampuan khusus Raikami merupakan kemampuan memanipulasi ruang. Salah satu cakram bisa menerima/mengambil, sedangkan satunya bisa memberi/mengeluarkan. Kekuatan yang luar biasa jika digunakan dengan tepat, namun sayangnya Charlmilia tak tahu sejauh mana kekuatan itu.


"Huh?"


Saat sedang memikirkan itu, tiba tiba Dragon Valkryie Gear yang dia kenakan menghilang seperti tak pernah ada. Tak hanya itu, dia merasa seolah tenaga miliknya terkuras dan kini dia bahkan tak memiliki tenaga untuk berteriak minta tolong.


Kejadian selanjutnya bisa ditebak. Dia jatuh.


(Siapapun, tolong aku...)


"..."


Tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Dia merasakan hembusan angin dan tubuhnya yang dengan jatuh ke bawah.


Disaat itulah, entah mengapa muncul bayangan seseorang.


(Kuro..)


Apa yang dia lakukan sekarang? Dia ingin tahu itu. Bagaimanapun juga dia tak ingin mati sebelum bertemu dengannya.


Disaat tubuhnya hampir membentur tanah dengan keras, sebuah bayangan muncul dan menyelamatkan dirinya dari situasi berbahaya.


"Ahn.."


Charlmilia sadar saat ini berada di sebuah gendongan ala tuan putri. Pertanyaannya, siapa yang menggendongnya?


Mungkinkah Kuro? Jika iya, Kuro sungguh seorang pangeran.


"Bisakah kau berhenti berhalusinasi?"


Bersamaan dengan suara itu, dia merasakan tubuhnya membentur tanah. Dengan cukup keras. Dia bahkan merasakan kalau bokongnya membentur batu yang sedikit runcing.


"Ouch.. Tolong jangan perlakukan aku seperti barang, Nyonya Electra."


Untuk alasan tertentu, dia memiliki tenaga untuk mengeluh. Energi di tubuhnya sedikit pulih seperti ada yang menyuntiknya dengan energi. Sayangnya, energi itu hanya cukup untuk membuatnya bicara.


Seorang yang menyelamatkan dirinya bagaikan seorang pangeran berkuda putih ternyata seorang nenek berpenampilan muda.


"Uuu... Aku tak bisa bergerak.."


Dia bahkan tak bisa merasakan ujung jarinya. Dia tahu seorang penyihir akan mengalami Mana Zero jika mereka kehabisan mana mereka, tapi gejala yang ada padanya berbeda.


Electra berdiri dan entah mengapa menunjukan celana dalamnya pada Charlmilia. Itu bukan pemandangan yang menyenangkan.


"Itu ulahmu sendiri karena terlalu berlebihan menggunakan Valkryie Arm. Itu bukanlah senjata yang bisa kau gunakan semaumu."

__ADS_1


"Anda tahu tentang Raikami?"


Charlmilia tersenyum seolah sudah menunggu pertanyaan itu.


"Tentu saja. Kau pikir siapa Queen sebelum dirimu? Ah.. Mungkinkah naga pembuat ulah itu tak memberi tahumu?"


Mengingat sifat Lapis, naga itu pasti malas.


"...ah.. Lupakan. Aku tak ingin membahas itu. Yang terpenting adalah bagaimana hasil pertarunganku? Apa aku berhasil mengalahkannya?"


Electra menghilangkan tangannya dan menunjukkan ekspresi rumit.


"Entahlah. Saat ini Art sedang memeriksanya." Electra terdiam sesaat lalu melanjutkan. "Pertarungan ini tak semudah itu selesai. ...kau sudah berjuang keras. Berkatmu kami memiliki waktu untuk memulihkan diri. Maa.. Sebaiknya kau beristirahat. Serahkan selanjutnya pada kami. Yah meskipun aku tak tahu apakah bisa menang jika dia berhasil bertahan dari serangan sedahsyat itu dan bangkit lagi."


"..."


Tak ada kata pasti kalau Maria akan kalah. Bagaimanapun juga setelah melihat kekuatan yang ditunjukan Maria, yakin serangan akan berhasil sama saja dengan bunuh diri.


Disaat itulah Irho mendekat.


"Electra.."


"Irho, aku minta kau bawa Charlmilia ke tempat yang lebih jauh dan aman."


Electra menyipitkan matanya.


"Untuk alasan tertentu aku punya firasat buruk mengenai apa yang akan segera terjadi."


Irho mengangguk. Dia lalu mengangkat Charlmilia dengan gendongan tuan putri.


"Bertahanlah."


"Aku mengerti, Paman."


(Mooouu.. Kenapa bukan Kuro?)


Dalam hati yang terdalam Charlmilia berteriak, tapi dia tak bisa menolak niat baik Irho.


Pada akhirnya keduanya meninggalkan arena pertarungan.


"..mm?"


Sesaat sebelum pergi, Charlmilia menatap ke arah Electra yang berdiri terus menatap ke arah tempat Maria.


(Firasat buruk, apa yang nyonya Electra maksud?)


Irho membawa Charlmilia menuju istana. Tempat itu bisa dibilang satu satunya tempat teraman di ibukota karena memiliki perisai khusus. Sebuah perisai dimensi.


Sementara itu, Arthuria dengan waspada mendekati tempat Maria tergeletak. Dia tak bisa membayangkan dibutuhkan seberapa besar kekuatan sihir untuk melakukan serangan seperti ini, tetapi dia bisa merasakan tekanan mana dan sebuah energi yang berat di sekitarnya.


Sejauh ini dia mencoba mencari sebuah cara agar bisa menggunakan sihir dengan tingkat kekuatan seperti itu, tetapi sejauh ini semuanya selalu gagal.


(Aku tak percaya Queen akan memiliki kecepatan tumbuh seperti ini)


Jika membandingkan kekuatan Charlmilia sebelum menghilang, apa yang dia bisa lakukan saat ini bisa dibilang suatu yang mustahil. Menggunakan  Queen sebagai alasan bisa dibilang masuk akal.


"...hm?"


Dia masih bisa melihat asap mengepul dari pusat kawah sedalam 20 meter dengan diameter 10 meter. Tak seperti bekas serangan umumnya, serangan itu lebih dalam seperti fokus pada sebuah titik. Dan di titik itu, sosok Maria terlihat.


Sosok yang menyerupai malaikat kini bagaikan sebuah boneka yang tak lengkap. Kedua tangannya terpotong begitu pula dengan kakinya yang berputar ke arah tak sewajarnya. Selain itu beberapa bagian tubuh hilang dan mengalami luka bakar.


(Jika berhasil selamat dengan luka seperti itu, kami bukan melawan malaikat, namun dewa kematian)


Itu sebuah pemikiran yang wajar dalam situasi seperti itu. Tetapi Arthuria sulit membayangkan jika Maria bangkit kembali. Siapa yang akan berhasil melawannya?


"!?"


Tiba tiba bulu kuduknya berdiri. Bersamaan dengan itu tekanan mana menakutkan terpancar berasal dari Maria.


Lalu sebuah kejadian yang tak terbayangkan terjadi.


Kedua mata Maria terbuka.


"Sial!!!"


(Aku harus menghabisinya sekarang juga!)


Arthuria memanggil Excaliburn. Lalu tanpa ragu dia melompat ke arah Maria dan mengalirkan semua sihirnya pada Excaliburn. Dia tak peduli akan disebut sebagai pengecut, namun dia sadar ini adalah kesempatan yang tak akan datang dua kali.


"Dengan ini semua berakhir!"


Pertarungan panjang dan berbahaya akhirnya selesai dengan pedang miliknya. Dia akhirnya tak akan melihat Laila terluka lagi.


"!?"


Tetapi sekali lagi takdir tak berpihak padanya. Tanpa bisa melihat apa yang terjadi, Excaliburn terpotong menjadi dua.


"...."


Itu suatu yang mustahil saat mengingat tangan Maria terpotong. Sayangnya, Arthuria melupakan hal terpenting.


Pedang suci berubah menjadi katana putih. Katana itu bergerak meskipun tanpa harus digunakan pemiliknya dan kemudian memotong Excaliburn dengan kecepatan yang tak terlihat oleh Arthuria.


Sayangnya, bukan itu yang menarik perhatian Arthuria. Dia bisa menciptakan Excaliburn jika patah atau hancur, tetapi yang menjadi perhatian Arthuria adalah sebuah retakan hitam di pedang katana putih Kuro.


"Guh!?"


Lalu tanpa dia sadari, tubuhnya sudah terpental ke udara. Bersamaan dengan itu, sensasi terbakar menjalar di dadanya.


Saat sadar apa yang terjadi, dia melihat luka berbentuk silang di dadanya yang mengeluarkan darah deras.


"KH!?"


Arthuria mencoba menahan rasa sakit. Kemudian dia menggunakan sayap api untuk menstabilkan tubuhnya di udara.


Dari tempat itu dia melihat pedang katana Kuro yang mengalami retakan hitam. Retakan itu semakin membesar dan akhirnya seperti sebuah kulit yang mengelupas. Pedang katana putih Kuro perlahan menjadi pedang katana hitam kelam menyerupai kegelapan.


Cahaya kegelapan bersinar ke semua arah. Kejadian selanjutnya membuat semua orang yang melihatnya akan melebarkan matanya.


Pedang katana hitam Kuro tanpa ragu menusuk tubuh Maria tepat di bagian dadanya.


"Gahhhhhh!!!!!!????"


Untuk pertama kalinya Maria berteriak kesakitan dan penuh dengan histeris. Teriakan itu cukup untuk membuat orang pilu dan bersimpati padanya. Tak ada yang tahu apa dan sanggup membayangkan yang dirasakan Maria saat ini.


Setelah teriakan yang menyakitkan dan memilukan menyebar, tiba tiba teriakan itu berhenti. Bersamaan dengan itu, pedang katana hitam Kuro menghilang dan masuk sepenuhnya ke dalam Maria.


Cahaya kegelapan kini keluar dari tubuh Maria. Perlahan tubuh Maria terangkat ke atas dan melayang di udara. Selendang selendang hitam tiba tiba muncul dan menyebar bagai benang laba laba. Kemudian, selendang selendang itu dalam sekejap membelit tubuh Maria menjadi sebuah kepompong.


Disaat itulah halilintar menyambar kepompong itu. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Electra.


"Art, cepat kita hancurkan ini sebelum terlambat! Tch, sial! Aku lupa sebenarnya yang paling berbahaya bukan Maria, tapi pedang Kuro. Sial!?"


Lagi dan lagi. Halilintar terus menyambar kepompong hitam yang menyelimuti Maria. Tetapi meskipun berhasil menghancurkan sedikit bagian kepompong, bagian itu akan beregenerasi. Tak hanya itu, serangan yang sama semakin tak berpengaruh.


"Sial!?"


Serangan terbesar Electra akhirnya menyambar, tapi sekali lagi itu hanya membuang buang tenaga.


"Electra.."


Arthuria tak tahu kenapa Electra sangat ingin menghancurkan kepompong itu, namun dia saat ini tak bisa membantu karena fokus untuk memulihkan lukanya.


(Sial. Tak ada yang bisa aku lakukan di sini...)


Jika seperti ini dia hanya menjadi penghambat saja. Selain itu dia juga memiliki perasaan buruk mengenai kepompong hitam itu.


"Tch.. Sepertinya aku harus menggunakan 'itu'. Tak ada pilihan lain. Akan memalukan jika aku gagal untuk kedua kalinya."


Arthuria memejamkan matanya. Dia lalu memanggil Suzaku. Masih di udara Arthuria membiarkan dirinya dipeluk oleh sayap api Suzaku. Kini dia bagaikan sebuah telur yang dipeluk oleh burung api.


Sementara itu Electra tanpa kenal menyerah menyerang kepompong. Sejauh ini tak berhasil. Tentu Electra tak cukup bodoh untuk tak menyadari serangannya tak berhasil.


Tetapi kenapa dia terus melakukannya?


Jawabannya sederhana. Dia hanya marah pada dirinya sendiri.


"Sial!? Kenapa aku tak menyadari hal ini sejak awal? Sial?! Sial!? Sial!?"


Dia terlalu fokus pada Izriva. Karena itulah dia melupakan apa yang lebih penting dan berbahaya daripada itu.


"Apanya yang mantan Queen. Apanya yang seorang paladin. Apa arti semua itu jika aku tak menyadari hal sederhana seperti ini? Sial!?"


Sebagai mantan seorang Queen, dia paham betul kekuatan seperti apa yang dimiliki pedang Kuro. Tak hanya lebih kuat dari taring naga, namun lebih dari itu.


"Sial!!!!"


Electra menciptakan tombak halilintar dalam jumlah besar dan mengarahkan semuanya pada kepompong itu.


Disaat yang sama, retakan mulai terjadi.


"Sekarang!?"


Jika serangan biasa tak mempan, maka serang saat tak terlindungi. Retakan itu menjadi kesempatan yang tak dia sia siakan.


Tombak halilintar dalam jumlah besar itu menyerang pada satu titik. Dan seperti itu, sekali lagi ledakan halilintar terjadi di tengah pertarungan.


(Apa berhasil?)


Dia hanya bisa berharap, tetapi bukan berarti dia pesimis dengan hasil yang dia dapat.


Sayangnya, takdir seolah tak berpihak padanya.


Saat halilintar menghilang, yang terlihat adalah sebuah sosok yang memegang tombak halilintar Electra bagaikan sebuah tali tipis. Lalu dengan mudahnya sosok itu meremas tombak halilintar bagaikan meremas roti.


"Tch...!?"

__ADS_1


Electra menjauh dari sosok itu.


Dia tak punya pilihan lain karena tekanan mana yang begitu besar dan aura menakutkan membuatnya gemetar. Tak hanya tekanan mana, dan aura, namun juga penampilan Maria membuat orang takut.


Sosok yang menyerupai malaikat suci kini memancarkan cahaya hitam seperti iblis. Rambutnya berubah hitam kelam lebih gelap dari malam ditambah oleh kulit putih pucat seperti mayat. Tak hanya itu, gaun hitam menyerupai pengantin kegelapan kini dia kenakan.


Tetapi dari semua hal itu, yang paling menarik adalah mahkota hitam kelam yang membuatnya seperti ratu kegelapan. Dan tak lupa pedang katana hitam yang menjadi sumber semua kekuatan kegelapan itu.


"Sial. Aku tak menyangka segel pedang itu terlepas. Tapi bagaimana bisa?"


Kejadian terburuk yang terbayang di kepalanya kini terjadi di depan matanya.


"Sekarang, bagaimana cara mengalahkan Queen of Darkness? Aku harap ada yang memberi tahuku sekarang juga!"


""


Seperti menjawab keluhan Electra, sebuah ledakan muncul dari dalam tanah. Lalu dari dalam tanah muncul sosok yang terbang dengan sayap pedang api.


Laila terbang di langit untuk sesaat seperti melihat situasi. Kemudian dia mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya mendarat tepat di depan Maria.


"Lic.... Aku datang menjemputmu.."


Yang Laila terima adalah sebuah tatapan dingin dari Maria. Dan seperti itu, Maria tiba tiba menghilang dan muncul di depan Laila. Maria lalu tanpa ragu bersiap menebas Laila, tetapi-


Entah apa yang terjadi, tiba tiba Maria terlempar ke belakang dengan kekuatan dahsyat.


"Apa!?"


Electra dibuat terkejut dengan apa yang terjadi. Dia tahu Maria saat ini lebih kuat saat bertarung dengan Charlmilia yang menggunakan Dragon Valkryie Gear, namun Laila dengan mudahnya menghempaskan Maria bagai sebuah bola.


"Kau tahu, tidak baik menggunakan tubuh orang lain apalagi mengendalikan jiwanya. Sebagai ibumu, aku wajib menghukum anak yang nakal!"


Seolah seperti orang tua yang marah, Laila berbicara pada Maria.


Dan seperti anak nakal, Maria tak mendengarkan perkataan Laila sama sekali.


(Salah... Meskipun terlihat biasa saja, namun aku merasakan kekuatan yang besar dari Laila. Apa yang sebenarnya kurasakan ini?)


Electra masih mencoba menganalisa situasi. Dia paham Laila masih terlalu dini untuk menghadapi Maria yang bangkit menjadi Queen of Darkness, tapi kekuatan yang dia tunjukan sebelumnya bukanlah sebuah ilusi.


Laila perlahan mendekati Maria. Disaat itulah perubahan mulai terjadi pada Laila.


Rambutnya mulai memanjang hingga hampir menyentuh permukaan tanah. Rambut pirang emas menyatu dengan rambut biru langit yang menenangkan. Entah mengapa beberapa bola cahaya warna warni mengelilingi Laila seperti sebuah spesial efek.


Tetapi bagi seorang yang tahu wujud sebenarnya bola bola itu tak mungkin bisa menahan diri.


"Spirit?"


Tak hanya satu atau dua, namun dalam jumlah banyak. Mereka mengelilingi Laila seperti dia adalah sebuah sarang. Yang menjadi pertanyaan Electra saat ini adalah bagaimana bisa itu terjadi?


Sayangnya, kejutan Laila bukan hanya itu saja.


""


Tujuh Scarflare muncul di udara dan bergerak seperti sebuah satelit. Meskipun bentuk  mereka sama seperti Scarflare yang biasa Laila panggil, namun mereka memiliki warna yang berbeda-beda. Dan yang lebih mengejutkan tak hanya warna, namun setiap Scarflare memiliki elemen yang berbeda.


"A-Apa yang sebenarnya terjadi..?"


Sebagai seorang mantan Queen, dan sebagai seorang paladin, dia tak pernah melihat fenomena yang terjadi pada Laila. Tanpa sebuah Magic Gear atau Dragon Gear, namun kekuatan yang terpancar darinya lebih kuat daripada yang dipancarkan Charmilia.


Pengertian umum yang dia kenal sebagai sihir (magic art) kini semuanya bagaikan sebuah ilusi dan tak berarti jika melihat kejadian yang terjadi di depan matanya.


Mungkinkah ini karena Laila adalah seorang Queen?


Tapi Queen tak mungkin memiliki kekuatan seperti yang Laila miliki.


(Seperti yang kuduga, King dan Queen generasi ini terlalu berbeda)


Dia tak tahu apakah dunia yang tak normal atau mereka yang tak normal, tapi satu hal yang pasti-


(Mungkin dengan ini kita bisa menang)


Seperti yang Electra duga, Laila memiliki kekuatan yang mampu melawan Maria. Tidak, mungkin bisa menang.


Kedua sosok itu menghilang dan percikan terlihat dari dua pedang yang kini beradu.


____________________________


_________________


_____


Disaat yang sama, di labirin bawah tanah, seseorang sedang berjalan dengan menggunakan dinding lorong sebagai alat bantu berjalan.


Dari luar dia tak terlihat mengalami luka, namun saat ini dia merasakan tubuhnya seolah hancur dari dalam. Jantungnya berdebar kencang kadang lambat dan kadang terlalu cepat. Dia bahkan saat ini tak tahu apa yang dia rasakan. Dingin, panas, terbakar, membeku, kaku. Semua sensasi bagaikan sebuah siksaan kini terus dia rasakan tanpa tahu cara menghentikannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"


Dia beruntung bisa selamat dari serangan Lapis dengan menghancurkan tanah di bawahnya dan akhirnya dia tiba di labirin bawah tanah yang dia ciptakan. Namun setelah itu entah mengapa tubuhnya menjadi seperti sekarang ini.


"Tch.. Mungkin aku sudah mencapai batasku?"


Memakai Cursed Arm memiliki efek negatif yang sangat berbahaya pada tubuh. Tentu dia tahu hal itu. Untuk mengatasinya dia memindahkan jiwanya pada tubuh lain yang lebih kuat. Tetapi seperti yang dia perkirakan, tubuhnya sudah mulai mencapai batas.


(Mungkinkah aku harus berganti tubuh lagi? Tidak. Aku tak memiliki waktu dan tubuh lagi. Yang terpenting saat ini adalah apa yang terjadi di atas sana. Selain itu aku merasa kalau kendaliku mulai menghilang)


Atau mungkin sudah menghilang. Dia kini sudah tak merasakan sebuah ikatan yang menghubungkan dirinya dengan Maria.


Dengan ekspresi marah, dia memukul dinding. Tak ada efek sama sekali karena pukulannya memang tak memiliki sebuah tenaga.


"Tch.. Setelah semua yang aku lakukan... Impianku masih belum..."


Dia sudah tak bisa menghitung nyawa yang dia korbankan agar bisa sejauh ini. Dia bahkan membunuh orang penting di sebuah negeri demi mendapatkan benda sihir yang berguna untuk melepaskan segel Lic.


Akhirnya, setelah dia berhasil membangkitkan Maria, kenapa dia belum mendapatkan apa yang dia impikan?


Apakah dia masih belum berusaha?


Tidak, pertanyaan yang tepat adalah  apakah semua yang dia lakukan sebuah kesalahan sehingga Tuhan tak mengabulkan impiannya?


"Tentu karena yang kau impikan adalah sebuah impian yang berasal dari keegoisan dan kesombonganmu, Itsuki..."


"!?"


Sebuah sosok mendekat dan menjawab pertanyaan Itsuki.


Itsuki tak bisa percaya apa yang dia lihat dengan matanya.


"K-Kenapa kau...?"


"Masih hidup?"


Kuro tersenyum. Itu adalah senyuman yang indah namun bagaikan sebuah pedang yang tajam.


"Berbeda denganmu, aku percaya ada yang mampu menyembuhkan diriku seberapa parah luka yang aku alami. Selain itu, aku tak akan mati hanya karena sebuah luka tusukan dari senjata terkutuk."


"K-kenapa kau selalu-"


Itsuki memanggil Dainsleif dan langsung menyerang Kuro. Dia tak peduli apakah tubuhnya sudah hancur, namun yang terpenting saat ini adalah menjatuhkan orang di depan matanya.


Tetapi seperti sebuah pertunjukan sandiwara, Kuro menghindar hanya dengan gerakan minimal. Dia bahkan tak perlu menggunakan kekuatan khusus untuk melakukannya. Selemah itulah Itsuki saat ini.


"Kenapa kau selalu menghalangiku?! Kenapa kau selalu lebih baik daripada aku!? Padahal kau hanya seorang manusia biasa, tapi kenapa kau selalu lebih kuat daripada diriku!?"


"Apa kau ingin lebih kuat daripada aku!?"


"Tentu saja!?"


Sebuah serangan terakhir. Kali ini Kuro tak menghindar dan menghentikannya dengan dua jarinya.


"Kenapa kau selalu lebih baik daripada aku? Kenapa sebanyak apapun aku berusaha, aku tetap tak bisa melampaimu? Apakah semua usaha yang aku kerahkan tidak cukup?"


"...begitu rupanya. Selama ini kau hanya ingin pengakuanku. Ya ampun, jujur saja kau membuatku ingin tertawa."


Saat pertama kali bertemu dengan Kuro, dia menganggap Kuro adalah sebuah monster dengan kulit manusia. Memang, tapi setelah bersama dan mengenal dirinya, dia akhirnya sadar kalau Kuro lebih cocok disebut sebuah iblis daripada monster.


Seorang yang memilih satu nyawa yang berharga daripada 1000 nyawa orang asing. Bagaimanapun kau memikirkannya dari sudut manapun, semua itu hanya pemikiran yang dimiliki seorang iblis.


Jika seperti itu, kenapa mereka menjadi Shadow Knight yang melindungi masyarakat dari balik bayangan? Tindakan Kuro berbanding terbalik dengan apa yang dia katakan, namun meskipun begitu, bagi Itsuki itu adalah suatu yang keren karena tak setiap orang mampu melakukannya.


Sebagai seorang murid dan junior, dia sangat mengagumi Kuro. Cita citanya adalah mampu mengalahkan Kuro dengan kekuatan yang dia miliki tak peduli apakah itu sihir atau teknik.


Usaha kerasnya membuahkan hasil sehingga akhirnya dia memiliki panggilan 'Shadow Reaper'. Itu adalah bukti kalau dia akhirnya diakui sebagai seorang yang kuat sama seperti Kuro, namun disaat yang sama itu adalah julukan yang berarti dia tak akan lebih baik dari pada Kuro dan akan terus menjadi bayangannya.


Kenapa itu terjadi?


Meskipun kesal dan marah, namun dia menyadari kalau itu adalah sebuah pendapat yang berasal dari orang yang menganggap kekuatannya berasal dari Kuro.


Tetapi dia memiliki keinginan kuat untuk melampaui Kuro. Karena itulah dia bertekad akan mendapatkan kekuatan yang lebih besar lagi.


  - sayangnya, semua itu tak pernah terjadi.


Tiba tiba Kuro mengundurkan diri dari Shadow Knight. Itu berita yang mengejutkan baginya. Tetapi pada akhirnya dia tak memiliki pilihan selain menerimanya.


Sebelum perpisahan dengan Kuro, dia menantang Kuro bertanding. Hasilnya dia kalah, namun sebagai gantinya dia mendapatkan sesuatu yang lebih berharga.


Cursed Blade Art


Itu adalah teknik terbaik Kuro. Dan dia akhirnya memiliki kesempatan untuk mempelajarinya. Itu adalah hadiah perpisahan terbaik dan disaat yang sama hadiah terburuk.


Setelah Kuro pergi, dia berlatih dengan keras agar bisa menggunakan teknik itu. Memang berat, namun akhirnya dia berhasil. Sayangnya, hal itu membuatnya lebih dikenal sebagai pengganti Kuro di Shadow Knight.


Kenapa tak ada satupun orang yang mengakuinya?


Disaat itulah Itsuki mengingat kembali saat saat dimana dia tak diakui oleh orang yang paling berharga bagi dirinya. Ibunya sendiri.


Kegelapan akhirnya menelan Itsuki.

__ADS_1


Kebencian besar pada sihir sebagai penyebab konflik di dunia ini mengantarkan dirinya hingga ke titik sekarang ini, namun sekali lagi saat berhadapan dengan Kuro, gurunya, ada satu pertanyaan yang ingin sekali dia tanyakan.


"Kenapa? Kenapa aku tak pernah diakui dan dicintai?"


__ADS_2