Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Battle War, End.


__ADS_3

Sejak masih menjadi manusia dan berubah menjadi sosok yang lain, semuanya tetap tak pernah berubah.


Dia akan melakukan apapun demi orang yang berharga dalam hidupnya.


Tetapi situasi ini berbeda dari yang selama ini dia alami.


Orang yang berharga dalam hidupnya saling membunuh satu sama lain. Ini sungguh sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehnya.


Tentu saja mereka semua tak lemah, tapi karena itulah dia tak boleh membiarkan mereka saling membunuh.


"Arisa, aku tak akan memilih apapun dan siapapun."


Dia tak mungkin menyakiti Arisa yang telah mengandung buah cintanya selama 10 tahun. Dia juga tak mungkin membiarkan Arisa menyakiti Laila yang juga mengandung buah cintanya.


Tapi situasi ini memaksanya membuat sebuah pilihan.


"Satu hal yang ingin aku pastikan...Arisa, apa kau masih mencintaiku?"


"Kau sudah tahu jawabannya, Shin. Sampai kapanpun perasaan itu tak pernah berubah. Meskipun kau mencintai orang lain, itu tak mengurangi rasa cintaku padamu. Rasa cinta itu pula yang membuatku menahan diri untuk membesarkan anak ini. Bagaimanapun juga, aku tak akan tega jika anak ini bertanya 'di mana ayahnya'."


Pernyataan Arisa begitu menusuk. Tentu saja Kuro mengerti kenapa Arisa sanggup dan tega menggunakan sihir penghenti waktu demi buah cinta mereka.


Siapapun pasti menginginkan keluarga utuh. Hal itu juga berlaku padanya.


(Tapi sekarang itu mustahil)


Jika melihat kembali berapa lama dia hidup di Orladist, umurnya mungkin tak lebih dari 500 tahun. Tapi kenyataannya umur Kuro mungkin lebih dari umur Orladist itu sendiri. Sebuah perjalanan yang panjang untuk sosok yang awalnya seorang manusia.


Selama itu dia hidup, selama itu pula dia gagal melakukan hal yang paling penting dalam hidupnya.


Membuat sebuah keluarga yang utuh.


Tetapi penyesalan tak akan mengubah kenyataan yang terjadi.


"Mungkin memang harus berakhir seperti ini."


Kuro menoleh ke arah Laila dan menatapnya dengan lembut seolah untuk yang terakhir kalinya.


"...Laila..."


Sama seperti Arisa, kau adalah orang yang paling berharga dalam hidupku.


Karena itulah...


"...Arisa..."


Jika kematianku hanya membuat kalian saling menyakiti, maka hanya ada satu hal yang perlu dilakukan.


Yaitu memastikan kalau mereka mustahil untuk saling menyakiti.


"Maaf..."


Setelah mengucapkan itu, aura meluap dari tubuh Kuro.


Tak seperti aura energi sihir dan ki yang seperti biasa Kuro keluarkan, aura kali ini jauh lebih besar dan berbeda. Aura itu adalah aura ilahi.


Aura itu menembus langit, terus ke atas mencapai angkasa. Pada saat itulah wujud sebenarnya dari aura itu terlihat.


Sebuah lingkaran sihir yang mustahil dibuat dan dimengerti oleh manusia. Ukurannya puluhan kali melebihi ukuran planet Orladist.


Siapapun yang melihat itu tak akan percaya ada sebuah sihir seperti itu ada di dunia ini. Tapi mereka tahu satu hal, perwujudan sihir itu menyerupai jam yang berjalan mundur.


"Erase!!!"


Semua berasal dari kehampaan.


Kuro menggunakan Authority dan menghancurkan lingkaran sihir. Bersamaan dengan itu aura kembali meluap dari tubuh Kuro.


Berbeda dengan sebelumnya, aura itu menyerupai Aurora. Kulit Kuro perlahan mengelupas dan perlahan menunjukkan wujud Kuro yang sesungguhnya.


Sebuah wujud yang terbuat dari cahaya murni. Rambutnya yang putih murni kini berwarna pelangi dan terus berubah warna. Mata putihnya juga mengalami perubahan. Dari putih murni, kini menjadi sebuah ruang yang dipenuhi cahaya kecil menyerupai semesta alam.


"Kuro, wujud itu...?"


Kuro tersenyum.


Dalam hidupnya sebagai Laila dan Aliciana, dia tak pernah melihat wujud itu, jadi bukanlah suatu yang aneh jika dia terkejut.


Tetapi reaksi berbeda ditunjukkan Arisa.


"Menghancurkan God Eraser dengan mudahnya. Kau memang luar biasa, Shin. Tidak, kurasa dengan wujud seperti itu kau lebih tepat jika dipanggil King of Gods."


"Memang ini sosokku yang sebenarnya, tapi... Sudahlah


.. aku rasa itu tak penting lagi."


Wujud Kuro saat ini mungkin terlihat sebagai seorang dewa yang turun ke dunia, tapi pada kenyataannya sosoknya saat ini jauh berbeda dari sosok dirinya yang sebenarnya.


(7 persen kah...)


Itu bukan jumlah yang besar, tapi itu sudah cukup.


Kuro melirik pedang putih yang selalu bersamanya. Dia mengulangi dunia dengan jumlah tak terhitung. Dalam perjalannya itu, pedang putih itu selalu menjadi sahabat yang tak lepas darinya.


Tetapi kali ini pedang itu sudah menyelesaikan tugasnya.


(Sampai jumpa lagi)


Kuro menghentikan aliran waktu dengan Authority, Time. Semua tak akan lepas dari waktu.


Dalam sekejap pedang putih di tangan Kuro berada di tangan Laila.


"Kuro..."


Kuro tak menjawab dan terus menatap Arisa.


"Maaf membuatmu menunggu."


"Tidak. Bukan hanya kau yang bersiap."


Keduanya saling menatap satu sama lain sebagai tanda siap bertarung dengan segala yang mereka miliki.

__ADS_1


"Tunggu dulu. Aku sudah tahu ini akan terjadi, tapi bisakah kalian berdua menghentikan drama menyedihkan ini?"


"!?"


"!?"


Arisa dan Kuro dikejutkan oleh sosok Laila yang tiba tiba berada di antara mereka berdua.


Dan entah mengapa dia terlihat begitu kesal seperti ingin meluapkan sesuatu.


Sosok Laila tiba tiba muncul di depan Kuro dan dia langsung saja menampar Kuro dengan keras. Tamparan keras itu menghempaskan Kuro hingga ke daratan dan membuat kawah besar.


Bagaimana Laila bisa memiliki kekuatan sebesar itu?


Laila lalu melirik Arisa. Tatapan Laila membuat Arisa merasakan suatu yang aneh.


Tatapan yang ditunjukkan Laila berbeda dengan beberapa saat yang lalu, dan tatapan itu begitu mengintimidasi.


Itu suatu yang mustahil. Arisa kini menjadi sosok setengah dewa, mana mungkin dia terintimidasi dengan sosok manusia biasa.


Tapi kebingungan Arisa terjawab sudah saat sosok Laila berubah. Kulitnya mengelupas sama seperti yang terjadi pada Kuro. Lalu sosok Laila akhirnya menjadi sama seperti Kuro, sosok seorang dewi sejati.


Atau lebih tepat menjadi sosok Queen of Gods.


Satu hal yang membedakan dengan sosok Kuro adalah sayap cahaya yang berjumlah 12 di punggung Laila.


Lalu salah satu sayap lepas dari Laila dan menjati tombak cahaya yang diarahkan pada Kuro.


Tombak cahaya itu menghilang dan setelah itu ledakan keras terjadi hingga membuat gempa bumi di tempat Kuro tadi terjatuh.


Bagaimanapun kau melihatnya, itu bukanlah kekuatan manusia.


"Aku pikir akan memberikan hukuman yang lebih berat, tapi jika aku melakukannya, planet ini akan hancur. Itu akan sayang."


Laila baru saja mengatakan suatu yang menyeramkan dengan begitu mudahnya.


"Hey Kuro, kenapa kau tak segera kemari?"


Seperti anjing yang setia, Kuro muncul di depan Laila.


"Jadi, kenapa kau membuat ulah dengan merusak alur takdir dari dunia ini? Authority Reset bukankah suatu yang digunakan untuk seperti ini."


Laila mendesah.


Tak ada yang menyadarinya, tapi dunia ini tak lain adalah dunia yang di-reset oleh Kuro menggunakan Authority. Sebuah kekuatan untuk mengulangi waktu dan dunia.


"Yah.. ada sesuatu yang harus aku ubah. Kau tahu?"


"Aku tak tahu dan aku tak mau tahu! Apa kau pikir mereka akan senang dengan tindakanmu ini?"


Kuro pucat pasi.


Tak hanya Laila, mereka ternyata juga berada di dunia ini.


Dan sosok yang dibicarakan pun tiba. Empat cahaya membentuk sosok lain. Sosok itu tak begitu jelas seperti Laila, tapi mereka berwarna putih, biru, hijau dan hitam.


Kelima cahaya mengepung Kuro dari segala sisi dan itu membuat Kuro mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.


"Sebaiknya kita segera kembali ke Garden. Dunia ini tak sanggup menahan kekuatan kita."


"Baiklah..."


Kuro sudah pasrah dengan nasibnya.


Keempat cahaya lalu melesat ke arah langit, tapi sebelum menghilang sepenuhnya, cahaya kecil terpecah dari mereka dan terbang ke berbagai penjuru.


Cahaya hijau terbang ke arah Fila. Cahaya biru terbang ke arah Charlmilia. Cahaya putih terbang ke arah Riana. Dan cahaya hitam terbang ke arah Arisa.


""""!?""""


Keempat sosok yang menerima cahaya itu membuat ekspresi yang sama. Mereka tersenyum, tapi senyuman itu berubah menjadi sebuah senyman jengkel.


Tapi mereka memiliki satu pemikiran.


Kuro pasti sedang bosan karena membuat ulah seperti ini. Syukurlah Laila menghentikan ulah Kuro, jika tidak, entah apa yang terjadi dengan nasib mereka berempat.


"Hey, itu curang."


"Apa kau sadar dengan ulahmu sendiri? Kau sungguh tak tahu malu!!"


Kuro tentu tahu apa yang diperlihatkan oleh cahaya itu. Dan itu berarti akan membuat semua usahanya sia sia.


"Lupakan. Tapi mana mungkin kita pergi begitu saja."


"Jangan buat alasan!! Sebagai hukuman, cepat tarik semua Authority dari tubuh manusiamu."


"Apa kau ingin aku mati?"


"Jangan khawatir, aku akan ada di sisimu. Dengan begitu, setidaknya kau tak akan mati dengan cepat."


"Pada akhirnya aku akan mati juga kah..."


Kuro mendesah dalam dan dia menjentikkan jarinya.


"Reset!!"


Kuro menggunakan Authority Reset untuk terakhir kalinya di Orladist.


\=##


Pemandangan kembali pada saat Kuro dan Arisa akan saling berhadapan. Arisa terlihat panik untuk sesaat, tapi dia lalu tersenyum.


Kuro menggunakan Reset untuk mengulang kembali waktu sebelum dia bangkit menjadi King sejati, tapi ada beberapa orang yang masih ingat waktu sebelum dia melakukan Reset.


Arisa hanyalah salah satunya.


"Apa kau puas sekarang?"


"Itu lebih baik."


Laila menepuk nepuk pundak Kuro dengan senyuman lebar. Laila tampaknya sedang senang karena dia akhirnya bisa menghukum Kuro dengan cara yang dia mau.

__ADS_1


"Sekarang, bagaimana kita bisa menang melawan Arisa? Diriku yang sebenarnya hanya menyisakan satu Authority dan itu hanya bisa digunakan dalam jumlah terbatas."


Kuro yang sebenarnya sudah kembali ke Garden tempat mereka tinggal dengan masa abadi. Hal yang sama juga terjadi pada Laila, Arisa, Charlmilia, Fila dan Riana.


Apakah mereka sekarang adalah palsu?


Tidak. Kuro dan lainnya merupakan semacam tunas (bagian) dari mereka yang sesungguhnya. Mereka semua saling terhubung dan bisa merasakan satu sama lain. Mereka juga memiliki ingatan yang sama sehingga membuat mereka sebagai tiruan sempurna.


Jika ada yang membedakan antara mereka dengan diri mereka yang asli, itu adalah tubuh dan jiwa mereka. Dan tentu saja kekuatan dahsyat yang tak dimiliki oleh manusia.


"Aku sudah menyuruh untuk mengambil semua Authority, kenapa kau masih menyisakannya? Apa mau aku hukum lagi?"


"Aku masih menyisakan satu Authority sebagai sebuah jaminan. Selain itu, siapa yang bisa menghentikan kalian jika kalian mengamuk? Dunia ini akan hancur."


Sama seperti Arisa, Laila juga menjadi True Queen. Dia sudah membuat kontrak dengan Solaris hingga memiliki kekuatan memanipulasi waktu dan cahaya sesuka hati.


Di dunia ini tak ada yang bisa menghentikan Laila dan Arisa jika mereka membuat masalah.


Jika ada yang mampu menghentikan mereka, tentu itu adalah kekuatan Authority.


"Berapa lama kalian terus berdebat?" Tanya Arisa. "Kita berdua sama sama mengandung dan itu menjadi alasan untuk tak bertarung secara berlebihan. Kau setuju, Laila?"


"Kau benar. Bagaimana kalau kita gunakan satu serangan besar untuk mengakhiri semuanya?"


"Tapi tak menarik jika hanya menentukan siapa yang menang dan kalah? Bagaimana kalau semacam hukuman bagi yang kalah?"


"Itu ide yang bagus. Bagaimana kalau yang menang akan menjadi istri utama dan yang kalah harus mematuhi permintaan pemenang selama satu tahun?"


"Haha.. tidak buruk. Aku sama sekali tak ada masalah untuk itu."


"Jadi kita sepakat?"


"..."


"..."


Tak ada kata kata lagi, mereka berdua terbang ke langit dan mengambil jarak sekitar dua kilometer.


Pada saat inilah Laila menunjukkan bukti sebagai seorang True Light Queen dengan Divine Dragon Gear berwarna emas.


Arisa juga tak mau kalah dan menunjukkan Divieb Dragon Gear, tapi berwarna hitam kelam.


Aura dan tekanan keduanya meluap hingga membuat pulau Avalon yang menjadi bongkahan kini menjadi debu sepenuhnya.


Cahaya putih berampur emas berkumpul di depan Laila. Itu tak hanya cahaya dari energi sihir, tapi juga cahaya kehidupan, harapan, impian dan masa depan.


Cahaya hitam kelam juga berkumpul di depan Arisa. Cahaya hitam itu merupakan energi sihir, perwujudan kematian, keputusasaan, dan sejarah.


"Light of Punishment."


"Darkness of Judgement."


Kedua cahaya mencapai puncaknya dan ditembakkan ke arah lawan. Hanya butuh waktu dalam sekejap mata kedua cahaya bertemu dan saling beradu satu sama lain.


Seluruh penduduk kota Gehenna bisa merasakan tekanan berat dari kekuatan penghancur yang bisa memusnahkan mereka dalam sekejap mata.


Kedua serangan itu sama sama kuat dan akhirnya mulai menghapus satu sama lain


Salah.


Lebih tepat jika kedua serangan itu justru menyatu menjadi sebuah serangan yang lebih kuat dan besar dari sebelumnya. Sebuah serangan yang terdiri dari cahaya dan kegelapan.


Laila dan Arisa tersenyum.


""Divine Punishment!!!""


Kemudian serangan itu diarahkan pada Kuro yang mendesah dalam.


"Aku tahu akan berakhir seperti ini.."


Kemudian sosok Kuro tertelan cahaya dan musnah.


[Kuro Kagami dari Kuryuu Academy tak bisa melanjutkan pertarungan]


Pengumuman tanda Kuro tersingkir dari Battle War terdengar ke segala penjuru dan itu menjadi tanda kalau Laila juga ikut tersingkir karena Kuro adalah pemimpin.


Karena kalah, tubuh Laila juga menghilang menjadi cahaya


Berkat pengendalian yang sempurna, serangan yang menghancurkan Kuro langsung lenyap tanpa sisa. Jika serangan itu terus berlanjut, tak diragukan lagi kota Gehenna yang berada di bawah akan musnah.


"Apa ini artinya kau menang?"


"Tidak. Aku juga kalah."


Doll milik Arisa juga sudah rusak sepenuhnya karena efek dari menggunakan kekuatan yang berlebihan. Meskipun sama sama True Queen, tapi Laila lah yang sanggup menggunakan kekuatan secara penuh Divine Dragon Gear.


Hal ini dikarenakan Laila memang tipe petarung, sedangkan Arisa lebih ke tipe pendukung, bukan petarung secara langsung.


"Kalau begitu kita bicarakan masalah ini lain kali bersama dengan lainnya.".


"Yah.. aku menantikan momen itu."


Keduanya tersenyum untuk terakhir kalinya sebelum menghilang dari panggung Battle War.


Dengan tersingkirnya mereka berdua, maka pemenang dari Battle War kali ini akhirnya ditentukan. Berkat aturan siapa yang bisa bertahan sampai akhir tanpa Doll hancur, Victoria berhasil menang berkat kemampuannya bertahan dari dua sosok tak manusiawi.


Para pendukung Victoria bersorak senang. Akhirnya dia berhasil memenangkan Battle War yang ketiga kalinya seperti yang dia impikan.


Tapi Victoria sendiri yang tahu kemenangannya hanyalah sebuah keberuntungan tak begitu senang. Dia dan para penduduk kota Gehenna tahu siapa pemenang yang sebenarnya jika beradu kekuatan secara langsung.


Kemenangan yang terasa pahit. Itulah yang dirasakan Victoria saat ini.


Tapi dia tak boleh menunjukkan hal itu pada semua yang menonton Battle War dari seluruh kekaisaran.


Victoria mengangkat Longinus ke langit dan menunjukkan pada dunia kemenangannya.


###--


Sementara itu, di tempat kaisar Sei tinggal.


"Sepertinya aku memang harus menghadapi Victoria sebagai seorang pria, bukan seorang ayah."

__ADS_1


Battle War sudah selesai dan mengakhiri kompetisi antara 7 sekolah sihir di kekaisaran. Tapi untuk beberapa orang, ini adalah awal dari pertarungan mereka yang baru.


__ADS_2