
Ruangan gelap penuh dengan tabung besar berisikan sosok manusia perlahan pecah. Kabel kabel terlepas bersamaan dengan uap yang menyebar ke segala penjuru.
Sosok itu perlahan bangkit dengan tubuh penuh cairan lengket dan tak nyaman. Tetapi bukan berarti dia jijik. Dia lebih merasa sedih karena sadar arti dari kebangkitannya.
"...mati kah....?"
Pecahan kaca menunjukkan wajah pemuda tampan dengan rambut hitam yang jarang dimiliki oleh penduduk negeri ini.
Tak butuh waktu lama seorang pria tua dengan kacamata mendekat. Dari pakaiannya yang berwarna putih. Dia seolah menunjukkan kalau dia adalah seorang ilmuan.
"Tuan Itsuki..."
Pria itu mendekat dengan wajah tak senang.
"Abraham, aku tahu kualitas dari homunculus buatanmu, namun aku lebih bersyukur jika kau membuat tubuh ini tak sama dengan tubuh senior."
Pria bernama Abraham membuat ekspresi rumit.
"Aku sudah berusaha sebisaku. Namun seperti yang kau tahu, DNA pemuda itu sangat istimewa. Sejauh ini hanya DNA miliknya saja yang mampu bertahan dan menyesuaikan diri dengan Dainsleif. Selain itu, meskipun aku berusaha mengubah susunan DNA agar bisa sesuai dengan jiwamu, namun semua usahaku sia sia. Aku minta maaf."
DNA Kuro mudah didapat di medan pertempuran. Dengan sedikit bantuan teknologi sihir, menganalisa DNA Kuro merupakan hal mudah.
Tentu Itsuku tak memiliki niat ini sebelumnya, namun karena obsesinya, dia memulai menganalisa dan akhirnya menemukan potensi yang tak terduga dari DNA Kuro.
Dia tak lupa kalau kemungkinan potensi ini juga sudah diketahui oleh pihak lain, namun itu tak membuatnya berhenti.
"Aku mengerti masalahmu, Abraham. Senior memang spesial. Tubuh ini adalah buktinya. Oh.. Iya, bagaimana dengan mereka bertiga?"
"Mereka bertiga masih butuh waktu. Meskipun ini bukan pertama kalinya mereka melakukan Soul Transfer, namun mereka butuh waktu menyesuaikan diri dengan tubuh baru mereka."
"....mereka masih tak berguna seperti biasa kah..."
Itsuki mendesah dalam dan mulai melangkah pergi. Abraham mengikutinya.
"Aku pikir mereka seharusnya sudah terbiasa mati. Apa gunanya kita menggunakan Soul Transfer jika mereka masih saja seperti itu."
"..."
Abraham hanya bisa mendengarkan keluhan dari Itsuki.
"Lalu bagaimana perkembangan Mavis?"
"Semua sesuai rencana. Kita mendapatkan gadis itu dan bisa langsung melaksanakan rencana tahap selanjutnya."
"Bagus. Kalau begitu kita tak perlu menunggu lagi. Kita lakukan secepatnya."
Abraham panik.
"Tu-Tunggu dulu. Memang kita salah memperkirakan kekuatan Leon, namun bukan berarti kita harus melaksanakan tahap selanjutnya secepatnya. Selain itu saat ini jiwa dan tubuh baru anda masih belum terhubung secara sempurna. Jika anda melaksanakan rencana dalam waktu dekat aku taku-"
"Lakukan perintahku. Aku tak peduli dengan tubuhku. Jika kita terlambat, semua rencana kita akan gagal. Apa kau mau itu terjadi?"
Abraham berkeringat dingin dan pucat pasi setelah mendengar itu.
"Ti-tidak."
"Jika kau mengerti, segera persiapkan semuanya. Saat ini pemerintah masih kebingungan dengan apa yang terjadi. Jika kita tak memanfaatkan waktu sedikit ini, rencana kita akan gagal. Aku tak ingin hanya karena kita santai sedikit saja, semua impian dan tujuan kita akan gagal."
Mata yang menunjukkan tekad dan pantang menyerah sama dengan pemuda yang menjadi sumber tubuh tersebut. Hanya saja ada perbedaan jelas. Tatapan Itsuki dipenuhi oleh perasaan dendam dan haus darah.
"...dengan tanganku ini, aku akan membersihkan kebusukan dunia ini. Demi itu, aku bahkan rela menjual jiwaku kepada iblis."
💠💠ðŸ’
Mengetahui apa yang terjadi, Riana menggertakan giginya dengan ekspresi kesal. Itu adalah ekspresi yang jarang dia tunjukan kepada bawahannya. Wajah gadis cantik suci kini seolah hanya ilusi.
Di seluruh tempat kepanikan terlihat. Bagaimana tidak? Operasi yang kemungkinan akan berhasil 100 persen kini justru terjadi kebalikannya.
"...segera tahu apa yang terjadi! Tuan Leon dan Charlmilia tak mungkin menghilang begitu saja."
"Kami sedang berusaha menemukan mereka berdua melalui pelacak di tubuh mereka, namun sejauh ini hasil pencarian selalu nol."
Salah satu bawahannya menjawab.
"Katakan kalau itu hanyalah candaan. Kita membuat pelacak terbaik di dunia namun tak bisa menemukan dua orang. Cepat lakukan pencarian dengan lebih serius."
Setelah 10 menit mencari, akhirnya mereka tak menemukan apapun. Bawahan Riana kembali mendekat untuk memberikan laporan, namun ekspresi Riana menunjukkan dia tak membutuhkannya.
Ruangan yang ramai kini mulai sepi. Mereka sadar apa artinya kehilangan Leon.
Orang yang dijuluki terkuat, kini sudah tak ada lagi. Tentu bukan berarti Leon mati, namun dengan pelacak yang terpasang di tubuhnya, mustahil mereka tak menemukannya.
"Putri Riana, apa yang kita lakukan sekarang?"
"Alva, Alvi... "
Dua orang dengan wajah serupa mendekat. Sejak awal mereka di ruangan yang sama, namun hanya sebatas melihat tanpa melakukan apapun.
Karena kepanikan terjadi, keduanya tak bisa berbuat banyak selain menunggu situasi mereda.
"Maaf, aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Mungkin karena aku tak berpengalaman dalam hal semacam ini membuat semuanya menjadi kacau."
Operasi penyelamatan Lic merupakan operasi yang Riana pimpin untuk pertama kali dalam hidupnya. Normalnya hal seperti ini dipimpin oleh jendral militer seperti Leon, namun sang kaisar memerintahkan Riana untuk melakukannya.
Tentu awalnya Riana menolak karena tahu betul arti dalam misi kali ini. Izriva merupakan sebuah aset yang sangat berharga dan berbahaya jika disalahgunakan. Mereka harus berhasil.
Tetapi dengan kekuatan pasukan terkuat dan paladin terkuat, mereka justru gagal. Mereka bagaikan menari di atas telapak tangan musuh.
"Kuro pernah bilang, jika dalam situasi tak diuntungkan, maka berusahalah untuk tetap tenang dan memikirkan kembali kartu yang kita miliki. Meskipun aku tak terlalu mengerti, namun sekarang kurasa bukan saatnya untuk panik."
"Kami ada di sini, putri Riana. Anda mungkin yang memimpin, namun bukan berarti anda harus melakukan semuanya sendirian."
Meskipun tak tahu siapa yang merupakan sang kakak atau sang adik, namun perkataan mereka membuat Riana sadar untuk tak berusaha terlalu keras.
Musuh sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi pasukan pemerintah. Itu saja yang perlu mereka ketahui saat ini. Leon dan Charlmilia menghilang adalah hasil dari kepercayaan diri dari kemungkinan misi yang akan berjalan sukses 100 persen.
Kesalahan mereka bukanlah menyerang dengan pasukan terkuat. Juga bukan karena tak menyadari adanya jebakan. Namun alasan lebih sederhana daripada itu.
Kesalahan mereka adalah menganggap musuh mereka lebih lemah. Mereka lupa saat ini berhadapan dengan seorang yang teropsesi dengan orang paling buruk jika dijadikan musuh.
"Terima kasih. Aku senang kalian ada di sini."
Sekali lagi Riana menguatkan diri dan memulihkan semangatnya. Dia sadar saat ini masih ada yang bisa dia lakukan.
"Dofi, berikan laporan situasi saat ini."
Wanita yang memberikan laporan tersenyum dan mulai melakukan tugasnya.
"Semua Imperial Knight saat ini dalam kondisi tak bisa bergerak karena racun. Saat ini mereka tak dalam bahaya, namun jika musuh berniat menyerang. Mereka akan mati. Untuk keadaan tuan Leon dan nona Charlmilia kemungkinan mereka diteleportasi ke wilayah yang sangat jauh. Lalu mengenai musuh, selain bermacam-macam homunculus, kita mengetahui mereka juga memiliki Cursed Arm Dainsleif."
Dofi menunduk tanda selesai memberi laporan.
Setelah itu, atmosfer menjadi berat. Mereka mendengar kabar yang sangat buruk.
"Putri Riana, mungkinkah Dainsleif sama seperti kasus yang dulu?"
Riana mengangguk.
"Dari sekian banyak Cursed Arm, Dainsleif merupakan salah satu Cursed Arm yang dikategorikan memiliki tingkat berbahaya seperti Skullia Crystal. Pengguna Dainsleif akan memiliki kekuatan berlipat ganda seperti kemampuan Cursed Arm lainnya. Namun harga yang harus dibayar tak hanya kerusakan tubuh, namun juga umur yang berkurang. Tetapi yang paling berbahaya adalah Dainsleif mengikis jiwa penggunanya hingga tak bisa terselamatkan lagi."
Jika reinkarnasi ada, maka jiwa akan terlahir kembali. Namun karena jiwa rusak, maka orang itu tak akan bisa bereinkarnasi. Bisa dibilang pengguna Dainsleif adalah seorang yang ingin menyendiri dan tak ingin diselamatkan.
"Dengan kata lain bos musuh sudah mati dan kita tak perlu cemas dengan adany-"
"Tidak. Kau salah A..."
"Alva.. Dan di sampingku, Alvi."
"Uh.. Benar, Alva. Menurut catatan terakhir, kekuatan Dainsleif sangatlah besar. Jika dibandingkan, mungkin bisa bertarung seimbang dengan tuan Leon. Tetapi dari pertarungan tadi terlihat kalau tuan Leon sangat unggul. Dengan kata lain, mereka belum menggunakan semua kekuatan mereka dan hanya bertujuan untuk mengaktifkan jebakan yang membawa tuan Leon pergi."
Tentu banyak kemungkinan lain seperti jika rencana gagal, mereka akan menggunakan kekuatan penuh Dainsleif. Jika itu terjadi, bisa dibilang Leon menghilang merupakan sebuah keberuntungan.
(Selama tuan Leon masih hidup, dia pasti akan kembali ke ibukota dengan cara apapun. Sampai itu tiba, aku harus membuat persiapan yang matang.)
Di pertarungan ini mereka tahu kekuatan musuh. Untuk menghadapi Dainsleif, mereka membutuhkan kekuatan yang setara atau setidaknya mengumpulkan kekuatan yang sama.
Dengan adanya 4 paladin yang tersisa, mengumpulkan kekuatan yang sama cukup mudah. Namun untuk mengeluarkan seorang paladin membutuhkan banyak persyaratan dan harus dalam keadaan terdesak.
Saat ini kedua kondisi itu belum terjadi. Dan yang paling penting adalah adanya persiapan jika menghadapi situasi tersebut. Mereka tak boleh kehilangan paladin lagi.
Namun jika melihat Izriva terlibat, sebenarnya mengirimkan paladin lagi adalah tindakan yang tepat.
"Kita harus mengurangi jumlah korban sebisa mungkin. Dofi, perintahkan Imperial Knight yang bertahan untuk segera mundur."
__ADS_1
"Baik."
"Setelah itu cari tahu semua tentang Dainsleif. Kita harus berjaga jaga untuk situasi terburuk. Aku akan bicara dengan kaisar mengenai masalah ini. Aku menunggu kabar baikmu."
Dofi sekali lagi menggangguk dan akhirnya pergi melaksanakan tugasnya.
Riana lalu melirik ke arah si kembar.
"Aku tahu kalian kawatir terhadap Charlmilia, namun aku yakin dia pasti selamat. Percayalah kepadanya dia akan segera kembali."
"Kami sejak awal percaya itu, putri Riana."
"Kami adalah rival, tak mungkin dia akan mati sebelum bersaing dengan kami."
Mendengar itu, Riana hanya tersenyum.
💠💠ðŸ’
Sementara itu, Leon sadar setelah cahaya menghilang, dia tiba di tempat yang tak ada cahaya sekecil pun.
Dia membatalkan mode Magic Gear dan membuat api kecil untuk melihat ke sekelilingnya. Dinding terbuat dari batuan keras, bau tak sedap dan aura yang tak bersahabat.
"..."
Dan tak lupa sebuah monster kalajengking raksasa tiba tiba menyerang dirinya dengan kecepatan luar biasa. Dengan pukulan dia menghepaskan kalajengking dengan mudahnya, namun itu belum cukup untuk membuatnya mati.
Leon mendesah dan kerutan muncul di dahinya. Dia marah karena mengingat kenangan buruk.
Dia bisa menebak dengan mudah dimana dia berada saat ini. Namun ada hal yang membuat dia tak terima.
(Aku sungguh membenci labirin...)
Dengan pikiran seperti itu, dia melangkah maju. Dia harus segera keluar dari tempat itu secepatnya.
Sayangnya, Leon mempunyai masalah besar.
Dulu saat terpisah dengan istrinya di labirin bukan karena dia lemah atau karena dia tak fokus dengan jalan yang mereka lewati.
Saat itu dia tersesat karena Leon dikenal buruk dalam memilih arah. Dan istrinya menggunakan kelemahan itu untuk mempermainkan suaminya. Tentu tak ada yang tahu kebenaran itu selain Lia sendiri.
💠💠ðŸ’
Itsuki melangkahkan kakinya menuju tempat lokasi Izriva yang kini terikat di sebuah salib.
"..."
Dia menatap ke arah wajah manis dan lugu yang tertidur. Izriva tertidur bukan karena Itsuki memberikan semacam sihir penenang atau semacamnya. Hanya saja setelah dibawa oleh rekannya, Silver Viper, Izriva seolah pasrah dengan apa yang menimpa dirinya asalkan dia tak menyentuh Laila dan Kuro.
Setelah berjanji, Itsuki menyuruh Izriva untuk mendekati salib besar yang kini mengikatnya. Salib itu merupakan benda sihir yang dulu digunakan untuk melepaskan sebuah segel. Tentu benda sihir seperti itu tidaklah mudah ditemukan. Bahkan dengan teknologi saat ini, benda semacam itu sulit untuk dibuat.
Itsuki menemukan benda sihir itu setelah melakukan pencarian beberapa tahun bersamaan dengan rencana yang saat ini dia lakukan.
"..."
Dia menutup mata hitam yang sebenarnya bukan miliknya.
Saat itu dia mengingat kembali alasan dia melakukan semua ini. Dan tentu pula dengan alasan kenapa dia berani menantang dunia padahal dia tak lebih dari manusia biasa.
Dia membuka matanya perlahan.
Sudah hampir 15 jam berlalu sejak penyerangan oleh Imperial Knight, dan sampai sekarang tak ada pergerakan berarti dari mereka.
Bisa dibilang dia menang taruhan.
Jika Imperial Knight saat ini menyerang, semuanya akan gagal. Sihir yang digunakan untuk menahan Leon hanya bisa digunakan dua kali sehari dan itu artinya sihir itu sekarang bisa digunakan kembali. Terima kasih kepada pemerintah yang tak mencari informasi lebih lanjut.
Itsuki sadar jika menggunakan Kuro, mungkin mereka akan tahu, namun pihak pemerintah tak menggunakan kartu terbaik mereka.
Kedua, jebakan teleportasi hanya digunakan untuk Leon. Tak ada lagi jebakan selain itu.
Sayangnya, bukan berarti Imperial Knight akan mudah menyerang. Dan meskipun mereka mengirim Paladin, dia mungkin terpaksa akan menggunakan kartu truf miliknya.
Saat memikirkan itu, suara langkah kaki terdengar. Tak seperti langkah kaki biasa, langkah kaki terdengar berat meskipun hanya berasal dari satu orang. Tidak, lebih tepat jika dua orang. Hanya saja salah satunya berada di pundak orang itu.
"Tuan Itsuki, aku membawa gadis itu."
Perlahan Mavis meletakkan gadis yang tak sadarkan diri seperti sebuah barang.
"...kau tak berlebihan saat menangkapnya kan?"
Meskipun begitu, dari ekspresi Mavis yang penuh kebencian dan vulgar saat melihat tubuh gadis itu membuktikan dirinya adalah orang yang berbanding terbalik dari perkataannya.
Mavis dikenal pembunuh keji dan suka menyiksa lawan sebelum akhirnya membunuhnya. Hal ini sudah Itsuki ketahui dengan baik sehingga dia tak merasa aneh lagi dengan perbuatannya.
"Kita tak memiliki waktu untuk itu. Lagipula setelah menggunakan dia, gadis ini tak akan selamat. Apa kau ingin sekali menikmati mayat?"
"..."
"Kita segera lakukan ritualnya. Bawa gadis itu kemari."
Mavis menunjukkan ekspresi tak senang, namun dia tetap melaksanakan tugasnya.
Dia mengangkat tubuh gadis itu dan mencengkeram erat seolah ingin mematahkan setiap tulang tulangnya. Disaat itulah luka luka di sekujur tubuhnya terlihat. Meskipun hanya memar, namun sudah menunjukkan perlakukan macam apa yang diterima gadis itu.
"Dainsleif."
Cahaya bersinar dari balik tubuh Ariel. Cahaya hitam yang mengancam dan menakutkan. Cahaya itu perlahan menuju ke telapak tangannya.
Disaat itulah mata gadis terbuka dan menunjukkan tatapan tak berdaya dan bingung.
"Bersyukurlah kau akan menjadi pengorbanan untuk dunia baru."
Tanpa mengetahui apa arti perkataan Itsuki, gadis itu melebarkan matanya karena Itsuki tanpa ragu menusuk dadanya dengan tangannya yang bercahaya. Tapi tak ada darah setetespun yang menetes dari tubuh gadis itu.
Tangan Itsuki seolah masuk ke dalam tubuh gadis itu untuk mengambil sesuatu.
"?!"
Saat itu yang gadis itu rasakan tak lebih dari rasa sakit yang luar biasa. Bahkan luka dari seluruh pertarungan yang pernah dia alami tak sebanding dengan rasa sakit yang dia rasakan saat ini.
Seluruh tubuhnya bagaikan terkoyak, terpotong menjadi ribuan keping dan seolah jiwanya akan menghilang dari tubuhnya. Dia bahkan tak bisa berteriak.
Seperti menemukan apa yang dia cari, Itsuki mencabut tangannya dari tubuh gadis itu. Disaat yang sama, kekuatan mulai menghilang dari gadis itu. Matanya mulai menutup, namun ada satu hal yang terakhir dia lihat.
Dua pedang kembar yang merupakan belahan jiwanya kini berada di atas tangan pemuda di depannya. Melayang seolah terpisah dari belenggunya.
"...Ame...No..."
Mata sang gadis itupun akhirnya menutup.
Melihat itu Itsuki terlihat acuh dan fokus pada dua pedang yang melayang di depannya.
Sang gadis belum mati, namun juga tak bisa dibilang masih hidup. Itu adalah kondisi yang wajar saat sebagian jiwanya terambil secara paksa.
"Ame No Habakiri. Magic arm yang sangat indah."
"Apa yang kita lakukan terhadap tubuh gadis ini?"
"Jangan apa apakan dia. Jika dia mati, maka Ame No Habakiri akan musnah. Kita tak ingin hal itu terjadi."
Mavis terlihat tak senang, namun sekali lagi dia tak memiliki pilihan.
Itsuki kembali fokus terhadap Izriva. Dia mendekat dan memegang dua pedang kembar yang memancarkan aura tak senang karena bukan tuan mereka. Tetapi dengan sedikit paksaan, akhirnya tak ada tanda perlawanan dari Ame No Habakiri.
"Mari kita mulai...."
Tiga belas sosok mulai muncul dari berbagai sudut. Ketiga belas orang menggunakan jubah hitam yang membuat tak bisa membedakan apakah mereka lelaki atau perempuan. Semua itu tak penting.
Satu persatu mulai melafalkan mantra dan melakukan gerakan tertentu. Dan perlahan lingkaran sihir yang memenuhi seluruh ruangan mulai bersinar terang.
Ariel juga melakukan hal yang sama. Dia terlihat fokus dan tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
Lalu tiba tiba dia menancapkan salah satu Ame No Habakiri di lantai. Cahaya semakin terang bersamaan dengan Ame No Habakiri yang tertelan ke lantai dan menghilang.
Cahaya terang bersinar dan menembus langit menghancurkan segala benda di atasnya. Pilar cahaya membelah langit bagaikan pedang suci. Kemudian cahaya mulai menghilang dan berkumpul menuju satu titik di langit.
Melihat itu, Itsuki terdiam dan melakukan ritual selanjutnya.
Dia menusuk dada Izriva menggunakan Ame No Habakiri yang tersisa. Seperti sebelumnya, Ame No Habakiri menghilang seolah menyatu dengan Izriva.
"?!"
Izriva membuka matanya seolah terbangun dari tidur lelapnya. Namun tatapan kosong tanpa jiwalah yang terlihat.
__ADS_1
Kemudian, cahaya di langit turun bagaikan bintang jatuh menuju ke Izriva. Rantai yang mengekang Izriva perlahan hancur.
Mengetahui telah sukses, Ariel menjauh bersamaan dengan Mavis.
Cahaya perlahan menghilang dan setelah beberapa saat tubuh Izriva mengkristal seperti membeku. Kristal semakin melebar dan membekukan segala apa yang di sekitarnya.
Perlahan tapi pasti, kristal tumbuh dan membentuk taman kristal raksasa yang menelan ibukota. Di tengah taman itu terdapat sebuah bunga yang masih kuncup seolah menunggu waktu yang tepat untuk mekar.
💠💠ðŸ’
Laila melihat pilar cahaya menembus langit dari beranda rumahnya. Bersamaan dengan itu, perasaan tak nyaman dan menyesakan datang mengampiri.
"...Lic.."
Dia tak tahu kenapa, namun perasaanya mengatakan sesuatu telah terjadi kepada anggota keluarganya.
Tidak. Sesuatu memang terjadi kepadanya. Tekanan mana membuktikan kalau Lic kini dalam bahaya.
Dia menggertakkan giginya dengan keras. Dia ingin segera menuju ke tempat dimana pilar cahaya muncul, namun sesuatu menghalanginya.
Jika terjadi sesuatu, itu artinya ayahnya gagal mendapatkan Lic. Dia tak tahu secara detail, namun dengan kondisinya sekarang, mustahil dia bisa menyelamatkan Lic.
Meskipun kini dia menuju kesana, bukan berarti akan membuat Lic senang.
Tak berapa lama kemudian, cahaya jatuh dan taman bunga kristal raksasa muncul.
"..."
Dia tak tahu apa yang terjadi, namun sesuatu yang luar biasa telah terjadi.
"Kak Laila"
Yui mendekat dengan ekspresi yang tak jauh berbeda dengannya.
"Aku tahu Yui. Saat ini aku tak bisa menyelamatkan Lic dengan kekuatanku yang sekarang."
Meskipun dia sadar semakin kuat, namun dia sadar masih sangat jauh dari kekuatan yang dia impikan. Kekuatan yang cukup untuk melindungi orang yang berharga baginya. Dan bukan hanya menjadi seorang yang dilindungi.
"Menurut Guila, musuh memiliki cursed arm yang sangat berbahaya. Jujur saja, mungkin musuh kali ini lebih kuat daripada Lucifer."
"..."
"Kita harus merencanakan semuanya dengan matang jika ingin mengurangi korban. Ya ampun, sungguh menyebalkan.."
Yui tersenyum, namun itu bukan senyuman yang bahagia.
Laila mengepalkan tangannya dengan keras seolah meratapi kelemahannya.
"...Yui, ...kau pasti tahu sebuah cara untuk menjadi kuat dengan cepat kan?"
Laila menatap Yui dengan mata yang menunjukkan tekad bulat seolah sudah bersiap meskipun berhadapan dengan neraka.
Melihat itu, Yui tentu tak bisa menyembunyikan semuanya.
"Kau.. Memang..."
"...jadi..."
"Cara itu ada. Sayangnya bukan menjadi kuat dalam sekejap. Kak Laila, ikuti aku."
Meskipun tak tahu apa yang dipikirkan Yui, namun dia mengikutinya.
Mereka melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan rahasia yang berada di balik perpustakaan. Di ruangan itu, sebuah pintu terbuat dari besi dengan hiasan indah terlihat.
"Ruangan ini merupakan ruangan khusus dan paling spesial di rumah ini. Ini adalah tempat berlatih yang paling tepat untuk seseorang yang ingin menjadi kuat dengan cepat."
"Kalau begitu ay-"
"Tak semudah itu, kak Laila. Ruangan di balik pintu ini memiliki dimensi waktu yang berbeda. Satu hari di sini, sama dengan satu tahun di ruangan itu. Apa kau mengerti artinya?"
"..."
Laila langsung terdiam.
"Yah.. Bukan berarti kita akan hidup selama setahun di tempat itu. Meskipun tanpa makan, atau minum kita akan baik baik saja. Yah.. Maklum saja, kita disini hanya berlalu satu hari. Jujur saja aku tak tahu betul cara kerjanya, namun singkatnya kita bisa berlatih sepuasnya tanpa takut kelaparan. Dan tentu akan tumbuh besar. Sayangnya, kau tahu artinya jika memasuki ruangan ini kan?"
Dengan perbedaan waktu, itu artinya dia tak akan bisa bertemu dengan Kuro selama satu tahun. Satu hari saja sudah membuat rasa rindu Laila tak tertahankan, apa yang terjadi jika dia harus menahan rindu selama setahun?
Laila menggingit bibir bawahnya dan menunjukkan ekspresi rumit.
"Tenang saja. Kau tidak sendiri. Aku akan bersamamu. Justru dari semua rencana latihanmu, sebenarnya ini adalah jalan satu satunya agar kau menjadi lebih kuat dengan waktu yang sedikit."
Dengan kata lain meminta atau tidak, Yui akan memaksa Laila berlatih di ruangan itu. Namun ada perbedaan besar dengan melaksanakan dengan niat sendiri jika dibandingkan dengan paksaan.
"Apa keputusanmu?"
Tak bertemu dengan Kuro selama setahun. Apakah dia bisa melakukan itu?
Jawabannya tentu-
"Kenapa kau tak melakukan ini sejak awal?"
Demi menyelamatkan Lic, dia sudah bersiap untuk berhadapan dengan neraka. Satu tahun tak bertemu dengan Kuro mungkin suatu hal yang paling tak dia inginkan. Tapi sebagai gantinya dia akan mendapatkan kekuatam untuk melindungi.
Itu taruhan yang seimbang.
💠💠ðŸ’
Di waktu hampir bersamaan, Charmilia membuka matanya. Dia melihat ke sekeliling. Tempat yang terbuat dari batu yang tersusun rapi dan indah memberikan kesan tempat itu merupakan sebuah situs kuno.
Dia bangkit dan mulai berjalan.
Meskipun dia berpikir tempat itu merupakan sebuah situs kuno, namun tak ada tanda kalau tempat itu dibuat sejak zaman dahulu. Tempat itu bersih dan tak ada tanda lapuk.
Dia menemukan sebuah jendela. Dia melihat ke luar dan langsung melebarkan matanya.
"...dimana aku sekarang?"
Yang dia lihat bukanlah pemandangan biasa. Di seluruh tempat dia hanya bisa melihat awan hitam kelam penuh dengan petir yang mampu menghanguskan manusia menjadi debu.
Mungkinkah dia berada di ujung sebuah gunung tinggi?
Untuk sekarang dia memutuskan untuk mencari tahu dimana dia sekarang daripada menyimpulkan sesuatu.
Dia berjalan dan berjalan. Dia tak tahu waktu berlalu, namun sejauh yang dia tahu adalah tempat itu sangat luas dan besar. Tak ada pintu kecil, semua ruangan memiliki pintu besar seolah bukan diperuntukan untuk manusia.
Dia menemukan tangga ke atas. Dia perlahan naik menuju lantai atas. Dia tak menemukan apa apa dan melanjutkan naik.
Dia kembali menemukan jendela. Dia masih melihat awan hitam kelam. Namun kali ini dia mulai mengerti bentuk dari tempat itu.
"....meskipun ini sangat tak masuk akal, aku tak bisa berbuat banyak selain percaya. Tempat ini..."
Jika dugaan Charlmilia benar, tempat itu bukanlah puncak gunung, tapi-
"Tempat ini adalah istana di atas awan... Kenapa aku bisa sampai disini?"
Mungkin masuk akal jika berpikir jebakan musuh yang mengirimnya ke tempat itu, namun bagaimana bisa musuh melakukannya?
Dia tak punya pilihan selain mendesah.
"Aku harus segera kembali ke ibukota..."
Dia memanggil Byakko. Setelah itu mengubahnya ke bentuk Byakkura dan memerintahkannya terbang ke atas awan.
Setelah itu, kilat dahsyat menyambar tubuh Byakkura hingga hangus dan berasap. Setelah itu, Byakkura menghilang menjadi partikel.
"..........."
Dia ingin meminta maaf karena mengorbankan Byakkura, namun dia tak punya pilihan lain.
"...sudah kuduga petir ini bukan petir biasa. Jika aku menggunakan sihir pelindung dengan kekuatan penuh, aku mungkin bisa bertahan beberapa detik."
Itu tak cukup. Petir yang mampu membunuh Byakkura bukanlah petir biasa. Jika dia tak menangani itu terlebih dahulu, kesempatannya untuk selamat sangatlah kecil.
Ketika memikirkan jalan keluar, dia merasakan hawa keberadaan yang sangat besar.
(...perasaan ini, ...bukan milik manusia...)
Bukti dari itu adalah suara langkah kaki besar yang membuat tubuh Charlmilia gemetar.
Tak diragukan lagi, itu adalah pemilik dari tempat itu.
Perlahan, Charlmilia menoleh ke belakang.
__ADS_1
Yang menyambutnya adalah mata tajam dari monster sebesar 25 meter.