Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Dragon War III : Lucifer


__ADS_3

"Sayang, apa kau sudah selesai? Kau pasti bisa membunuh kadal besar itu sendiri kan?"


Bomm.


Saat Aldest bertanya, sebuah ledakan terjadi. Api juga membakar semua yang berada di sekelilingnya.


Tapi Aldest terlihat santai dan masih menulis di lingkaran sihir yang dia buat menggunakan ranting.


Boooom!!


Ledakan yang lebih besar terjadi. Kali ini ada sosok manusia yang terpental dan terbang menuju ke arah Aldest.


Orang itu adalah Lairo. Lairo mendarat di dekat Aldest dengan keras. Tubuhnya berasap dan bajunya compang camping seperti gelandangan.


Di tangan Lairo, sebuah pedang besar yang mirip golok raksasa digenggam erat. Pedang itu adalah Magic Arm Lairo yang bernana Joken.


"Jangan sampai kau menghapus ritual sihir ini, kau tahu kesalahan kecil dalam ritual ini bisa berakibat fatal kan, Sayang."


"A-aku tahu, tapi bisakah kau sedikit cemas kepadaku? Aku terus bertarung melawan Necrodra sendirian, kau tahu mereka bukan lawan yang mudahkan?"


Lairo sudah mengalahkan 8 Necrodra. Sedangkan Laiko yang bersama mereka sudah mengalahkan 17. Ini cukup mengejutkan jika dibandingkan.


Tapi ini normal. Laiko adalah Holy Demonic Class yang dikenal memiliki kekuatan lebih kuat dari naga biasa. Sedangkan Lairo hanya penyihir yang berkemampuan biasa biasa saja. Hasil itu cukup memuaskan.


Nafas Lairo terengah engah karena kelelahan dan hampir kehabisan mana. Joken, juga menghilang menjadi partikel karena Lairo tak ingin mengeluarkan mana untuk hal tak perlu.


"Ara... " ucap Aldest sambil tersenyum. "Aku tak menyangka kau memintaku untuk kawatir fufuu...🎶, tapi kau harus tahu, Sayang. Aku mengkhawatirkanmu lebih dari yang kau pikirkan, tapi aku sedang sibuk, jadi aku tak bisa berbuat banyak dalam hal ini."


Memang begitulah Aldest. Lairo hanya bisa tertawa pahit.


"Tunggulah sebentar lagi, aku akan segera memulihkanmu, tapi kita harus memproiritaskan tugas kita terlebih dahulu. Kau tahu itu kan? Selain itu, Necrodra juga sudah tak ada yang mengincar kita. Aku senang kau semakin kuat, Sayang."


Tapi jika dibandingkan dengan Laiko, entah mengapa Lairo sedikit merasa malu.


Dia memang bertambah kuat, tapi dia merasa kalau belum cukup.


"Oh iya, ngomong ngomong, murid Kuryuu Academy yang bernama Jinn sudah mengalahkan 11 Necrodra sendirian. Bukankah itu luar biasa, Sayang?"


"Eh?"


"Fufu fu..🎶."


Serius? Pertanyaan itu muncul di otak Lairo karena sulit percaya dengan apa yang dia dengar.


Aldest dapat mengetahui hal itu karena sudah menanamkan sebuah sihir pengintai di tubuh semua orang tanpa mereka sadari. Sihir itu sekilas seperti kamera tersembunyi.


Tugas Aldest sebenarnya adalah sebagai pengawas. Terutama mengawasi Kuro.


Selain itu ada tugas rahasia lainnya, tapi sekarang dia fokus dengan apa yang dia kerjakan yaitu menyelidiki kejadian saat keluarga Deon dibantai.


"Mereka lebih kuat daripada yang kukira."


"Ya." ucap Aldest sambil terus menulis huruf sihir. "Dan lihatlah ini."


4 layar tipis muncul di udara. Keempat itu menampilkan Kuro bertarung dengan Deon dengan kecepatan dan kekuatan abnormal, Jinn tersungkur ke tanah, Laila dan Charlmilia berada di sebuah ruangan penuh buku bersama Diana, dan yang terakhir memunculkan Knox berjalan di istana sendirian.


"Meskipun baru kelas satu, namun keberanian dan apa yang mereka lakukan bisa dibilang luar biasa. Terutama Kuro."


Disaat yang sama, Laiko mendarat di dekat mereka. Di mulutnya sebuah kepala Necrodra masih Laiko gigit dengan erat meskipun perlahan mulai menghilang.


"Bagaimanapun juga, dia bukan manusia. Aku rasa menyerahkan monster untuk melawan monster adalah tindakan yang tepat."


"Aku tahu dia begitu kuat, tapi kurasa kau tak harus menyebut dia monster, Aldest. Kau tahu kan di dunia ini ada monster yang sesungguhnya. Mereka bernama Paladin."


"Fufufu🎶, yah kau benar. Mereka monster. Dan sekarang, akan kuperlihatkan kenapa Kuro bisa disamakan dengan mereka."


Tayangan saat Kuro bertarung berubah menjadi pemandangan saat Kuro di hutan dan bertemu bayangan Shadow.


Tapi bukan itu yang ingin ditunjukkan Aldest.


"Mata putih?"


Lairo melihat mata kanan Kuro berubah menjadi putih. Itu suatu yang tak biasa.


"Benar. Mata itu disebut Eyes of Orihin. Mata yang bisa melihat segalanya dan mata yang bisa mengungkap segala rahasia yang ada di dunia ini."


"........"


Itu fakta yang mengejutkan. Lairo merasa mendengar sebuah legenda hidup.


"Ngomong ngomong ini adalah rahasia. Jadi kuharap kau tak membocorkan hal ini kepada siapapun. Jika kau melakukannya, aku sendiri yang akan menghukummu, Sayang~~"


Wajah Lairo  membiru pucat pasi.


Lairo lalu bangkit dengan wajah pucat.


"Jika rahasia, kenapa kau memberitahuku? Apa kau ingin aku mati?"


"Aku memberi tahumu agar kau tak mati."


"Eh?"


Lairo semakin tak mengerti.


"Alasan terbesar kenapa aku disuruh mengawasi bocah itu bukan karena dia Witch Reaper atau karena dia memilki Cursed Blade Art dan pedang putih, tapi karena dia memiliki mata itu."


"........."


Lairo tampaknya akan mendengar suatu yang luar biasa dan rahasia. Dan itu bukanlah hal yang bagus untuk penyihir biasa seperti dirinya.


"Eyes of Origin dalah mata yang dimiliki oleh Paladin legendaris Shiroyasha, dan Kuro sudah dikonfirmasi sebagai keturunannya, tapi sejauh ini kita tak tahu kekuatan apa yang dimiliki mata itu. Dan itulah yang membuat dia berbahaya dan disamakan dengan monster."


Sekali lagi gambar berganti menjadi Kuro yang masih bertarung dengan Deon, tapi perubahan terjadi pada Kuro. Luka sayatan mulai terlihat di tubuh Kuro dan mulutnya mulai mengeluarkan darah sebagai tanda Kuro menerima luka berat.


Tapi Kuro masih tetap bertarung. Sekilas kejadian ini mirip saat Kuro bertarung melawan Charlmilia.


"Dia mulai terdesak."


"Kau salah. Dia bukan terdesak, tapi dia akan segera kalah."


"Bu-bukankah itu lebih buruk?"


"Tidak, jika dia bertarung sungguh sungguh."


"Apa?"


Pertarungan sedahsyat itu, tapi mereka belum sungguh sungguh. Itu suatu yang sulit dipercaya.


"Saat ini keduanya masih melakukan menganalisa kekuatan lawan masing masing. Jika ada yang menggunakan kekuatan mereka secara sungguh sungguh, keseimbangan akan segera runtuh dan itu bukanlah hal bagus."


Menganalisa kekuatan lawan sebelum menggunakan kekuatan penuh. Itu adalah dasar dari setiap pertarungan.


Dengan melakukan itu, tak akan melakukan hal tak perlu dan menghamburkan tenaga, tapi-


(Jika melakukan hal itu dalam pertarungan sedahsyat itu, maka dia tak boleh melakukan kesalahan sedikitpun.)


Sementara itu, Aldest kembali menggambar lingkaran sihir baru tak jauh dari lingkaran sihir sebelumnya.


"Selain itu, apa kau lupa tujuan kita kali ini? Kita harus mendapatkan benda yang diincar 'mereka' terlebih dahulu. Dengan kata lain, Kuro juga sedang mengulur waktu untuk kita. Jika kita tak mendapatkan benda yang diincar musuh terlebih dahulu, kau tahu apa yang terjadi kan?"


".....yeah.. aku tahu. Yang membuatku kesal adalah kita tak bisa berbuat apapun dan hanya bisa bergantung kepada mereka. Jujur saja aku merasa tak pantas disebut Knight."


Menjadi Knight. Menjadi orang yang melindungi masyarakat adalah cita cita dan kebanggaan Lairo selama ini.


Tapi dalam hal ini, dialah yang merasa dilindungi oleh murid kelas 1 sekolah sihir. Itu membuat kebanggan Lairo sebagai Knight berkurang.


"Jangan cemberut, Sayang. Dalam hal ini kita hanya bisa bergantung kepada mereka. Tidak hanya kita, nasib seluruh dunia kini berada di pundak mereka. Ini adalah suatu yang seharusnya tak mereka tanggung dan seharusnya menjadi tanggung jawab kita sebagai orang dewasa."


Aldest terlihat murung. Meskipun terlihat kejam dan tanpa ampun, namun Aldest masih memiliki sifat lembut seperti seorang ibu.


"Sekarang kita hanya bisa melakukan apa yang kita bisa dan percaya kepada mereka. Kau pasti menyadari mereka tak selemah yang terlihat meskipun masih muda. Yang kukawatirkan adalah tentang musuh kita kali ini terlalu berbahaya."


"Maksudmu tekanan mana yang tadi?"


Mereka berdua juga merasakan tekanan mana yang tak biasa. Selain tak biasa, tekanan mana yang masih terasa meskipun sejauh 15 km bisa dibilang abnormal.


Sebuah layar baru muncul. Kali ini menampilkan kawah yang cukup besar.


Tapi sekali lagi gambar berubah seperti kilas balik sebuah film. Gambar lalu menunjukkan seorang berjubah hitam menggunakan sihir elemen kegelapan dan menghancurkan segalanya.


"Ini benar benar buruk." ucap Aldest dengan nada kawatir. "Kita sudah menduga kemungkinan besar Shadow bisa menggunakan sihir kegelapan, tapi jika dia benar benar bisa menggunakannya, maka musuh kita benar benar lawan yang berbahaya."


"Kau bilang elemen kegelapan? Aku baru mendengar hal ini?"


Lairo langsung terlihat panik karena tahu kengerian elemen kegelapan.


"Lihat ini!"


Gambar berubah menjadi saat Shadow menggabungkan delapan elemen.


"Elemen kegelapan hanyalah gabungan delapan elemen. Itu sebenarnya suatu yang tak bisa dilakukan manusia, tapi jika bisa melakukannya, maka kau akan menjadi dewa."


Senyuman muncul di bibir Aldest. Itu adalah senyuman tipis yang berbahaya dan menakutkan.


"Sekarang, apa yang akan dilakukan mereka untuk menghadapi orang yang mempunyai kekuatan yang sama dengan Demon King? Fufufu.🎶.."


Meskipun bukan saatnya tertawa, namun perkataan Aldest benar.


Saat ini musuh kemungkinan besar sudah berada di dalam istana untuk mencari benda yang diinginkan mereka.


Itu artinya, cepat atau lambat mereka akan bertemu dengan Shadow.


Sementara itu, Kuro masih bertarung dengan Deon.


Suara pedang berbenturan. Cahaya orange muncul saat kedua logam saling beradu. Kecepatan yang luar biasa membuat pertarungan mereka diluar batas normal.


Necrodra yang menjadi pijakan mereka sudah hancur menjadi bongkahan daging. Pertempuran mereka berlanjut menjadi pertarungan di udara dengan menggunakan bangunan sebagai pijakan.


Necrodra juga bergabung dalam pertempuran mereka dengan membantu menyerang Kuro menggunakan Dragon Breath, tapi Kuro memenggal kepala Necrodra dalam sekejap.


Klang!!


Sekali lagi suara pedang beradu.


Wajah keduanya saling berdekatan dan tersenyum karena menikmati pertarungan itu.


".........."


".........."


Mereka kembali beradu lalu menjaga jarak dengan melompat mundur. Mereka berdua mendarat di atap bangunan yang sudah hampir hancur.


"Ha ha.. ha.. ha..."


Nafas Kuro terengah engah. Berbagai luka sayatan pedang juga membuat bajunya penuh noda darah.


Berkebalikan dengan Kuro, Deon masih terlihat segar bugar dan aura hitam pekat masih memenuhi tubuhnya.


Meskipun Kuro sebenarnya lebih banyak mendaratkan serangan, bahkan memotong tubuh Deon, namun tubuh Deon kembali menyatu seperti semula. Deon bisa dibilang curang, tapi protes tak ada gunanya.


Deon sudah bukan lagi manusia. Sekarang dia lebih mirip makhkuk Undead seperti Necrodra yang dibangkitkannya.


"Sekarang aku mengerti kenapa aku kalah 6 bulan lalu. Kau bukan manusia biasa rupanya."


Deon sedikit terkejut. Jika dia masih sama seperti 6 bulan yang lalu, mungkin dia sudah lama mati di tangan Kuro.


Meskipun harus meminjam dan rela menukarkan nyawanya demi mendapatkan kekuatan, namun sekarang dia masih belum bisa mengalahkan Kuro.


Seberapa kuat Kuro?


Deon bahkan tak bisa menebaknya.


"Bukankah itu juga berlaku kepadamu? Kau bukan lagi manusia sekarang."


Mereka berbicara di antara pertempuran. Ruby masih menghadapi salah satu Ultimate Necrodra. Sedangkan pertempuran lainnya juga masih terjadi di seluruh kota.


BOOM!

__ADS_1


Laser Breath lewat di antara keduanya dan menghasilkan ledakan yang cukup dahsyat di dekat mereka berdua, tapi mereka masih terlihat tenang.


"Hahaha.. Yahh.. setidaknya pikiranku masih pikiran manusia. Aku tak ingin lepas kendali sebelum menghancurkan negri sampah ini."


Kuro menyipitkan matanya setelah mendengarnya.


".....itukah tujuanmu yang sebenarnya? Demi itu kau bahkan rela membantu Liberia dan mengorbankan tubuhmu?"


Tugas Kuro adalah mengulur waktu. Berbicara dengan Deon adalah salah satu rencana sekaligus untuk menggali informasi. Meskipun kemungkinan mendapatkan informasi kecil, namun informasi sekecil apapun bisa berguna.


"Membantu Liberia? Jangan salah sangka. Aku tak peduli dengan ******* bodoh yang mempunyai ide untuk membangkitkan Demon King."


"........"


"Aku hanya memanfaatkan mereka seperti mereka memanfaatkanku. ...fufu.. ini bukan masalah besar bagiku karena mereka memberikan kekuatan yang mereka janjikan. Karena itulah aku sepertinya harus berterima kasih kepadamu karena jika kau tak mengalahkanku dan membiarkanku hidup, mungkin aku tak akan bisa menghancurkan negri ini. Terima kasih."


Deon mengucapkan terima kasih dari lubuk hatinya yang paling terdalam.


Tapi bagi Kuro, itulah alasan terbesar kenapa dia harus membunuh dan menghentikan Deon dengan tangannya sendiri.


Bukan karena dia harus bertanggung jawab karena membiarkan dia hidup, tapi karena itu adalah suatu keharusan. Dan tentu saja karena dia harus melindungi orang yang dia sayangi.


Dendam. Semua orang berhak balas dendam. Itulah apa yang diyakini Kuro.


Karena itulah, sebenarnya dia tak peduli dengan Dragonia akan hancur atau tidak. Itu bukan masalahnya.


Jika disebut sebagai lari dari tanggung jawab, maka itu tak tepat karena Kuro ada di Dragonia untuk mengalahkan Deon.


Tapi ada satu hal yang Kuro yakini selama hidupnya dan sampai sekarang Kuro masih mempercayai hal itu.


-Kau tak bisa lari dari takdir dan hukuman.


Itulah kenapa dia tak akan lari, tapi bertarung untuk melawan takdir.


Tapi kau tak bisa melawan hukuman.


Tapi bukan berarti tak bisa lari dari hukuman. Dan satu satunya cara untuk lari dari hukuman adalah dengan menjadi penghukum. Orang yang menghukum.


.....dan kini adalah saatnya untuk menghukum Deon.


"Aku tak butuh terima kasihmu."


"[Ohh.. King, kenapa kau tak menerima ucapan terima kasih pria ini? Atau ucapan terima kasih saja tidak cukup?]"


Tiba tiba Deon berbicara seperti orang lain.


Itu benar. Meskipun suara sama, namun yang berbicara adalah orang yang berbeda. Iblis yang berada di dalam Scullia Cristal kini sedang mengambil alih tubuh Deon. Mata Deon yang berubah warna menjadi merah darah dan tingkah yang berbeda adalah buktinya.


"[Hmm... aku baru menyadarinya. Meskipun kau mirip dengan King yang kukenal, namun kau bukan dia. Kau terlalu lemah. .....tapi sebenarnya siapa kau? Apa hubunganmu dengan King?]"


King?


Ternyata Iblis itu memanggil Kuro karena salah mengira orang.


Tapi siapa King yang dimaksud iblis itu?


-Demon King?


"Entahlah. Siapa yang tahu? Kenapa kau tak mencari tahu sendiri?"


Deon tersenyum kecil setelah mendengar jawaban Kuro.


"[Tak hanya wajah, tapi cara bicara dan sifat kalian benar benar sama. Aku benar benar penasaran denganmu.]"


Mendengar itu dari mulut seorang pria membuat Kuro merasa jijik.


"[Tapi aku tahu kau dan King adalah dua orang yang berbeda. Dia memiliki kekuatan yang mampu mengalahkan aku dengan mudah. Tapi... kau...]"


Deon tiba tiba mengayunkan senjatanya di udara. Saat itulah sebuah pedang angin hitam mengarah ke arah Kuro dengan kecepatan tinggi.


Kuro langsung menyerang menggunakan pedang angin.


Dua angin berbenturan di udara, tapi pedang angin Kuro kalah dan lenyap. Pedang angin hitam itu kini mengarah lagi ke arah Kuro dengan kecepatan tinggi.


Kuro melompat ke atas untuk menghindar, tapi pedang angin hitam itu berbelok ke arah mengejar Kuro.


"Tch!"


Tak ada pilihan, Kuro menangkis dengan pedangnya, tapi Kuro masih kalah dan terpental.


Tubuh Kuro jatuh karena gravitasi, disaat itulah sekitar 7 pedang angin hitam tepat mengarah kepadanya.


(Tak ada pilihan lain.)


Kuro menggunakan Accell Art untuk menghindar. Dia menendang udara lalu menghilang seperti berteleportasi


"[Ho... menarik. Tapi itu belum cukup.]"


Kuro berhasil menghindar dan muncul sekitar 16 meter dari pedang angin hitam. Tapi dia tak bisa santai.


"?!"


Deon tiba tiba berada di belakang Kuro dan melakukan tebasan.


Kuro berusaha menggunakan Accell Art sekali lagi, tapi dia tahu jika menggunakan itu, dia akan tertebas. Kecepatan Deon berbeda dengan sebelumnya.


Tak ada pilihan, Kuro menangkis serangan dengan pedangnya, tapi Kuro langsung melesat ke tanah karena kekuatan Deon yang dahsyat.


Boom.


Tubuh Kuro membentur tanah seperti meteor dengan keras. Kawah tercipta dan debu berterbangan ke segala arah.


Setelah debu menghilang, Kuro muncul di pusat kawah dengan posisi berdiri dengan bantuan pedangnya. Itu adalah keajaiban. Tapi luka yang diterima Kuro cukup besar.


Pelipis Kuro mengeluarkan darah. Bajunya sudah hampir hancur dan sobek disana sini. Memar juga berada di seluruh tubuh Kuro pertanda luka yang dia terima tak sedikit.


"[Ha ha ha.. aku tak menyangka kau masih selamat. Kurasa aku bisa bersenang senang denganmu.]"


Deon terbang di udara. Sayap hitam seperti kelelawar tumbuh di punggungnya. Itu adalah tanda iblis sudah hampir menguasai tubuh Deon sepenuhnya.


Mati. Itulah yang akan menanti Kuro.


Meskipun begitu, Kuro tak akan menggunakan kekuatan penuh.


-Dia tak bisa melakukannya.


Dan iblis itu mengetahui hal ini.


"[Begitu rupanya. Maaf karena berburuk sangka terhadapmu. ....tapi sayang sekali itu tak mengubah apa yang akan terjadi kepadamu. Hahaha....]"


"Tch..."


"[Tapi bertarung denganmu benar benar mengingatkanku kepada King. Oh ya.. bagaimana kalau kita melakukan permainan kecil?]"


"Permainan?"


"[Yeah.. permainan yang dulu aku dan King sering mainkan. Permainan penjahat dan pahlawan.]"


"......."


"[Dan kurasa kau sudah tahu jenis permainan yang kami mainkan haha.....]"


Kuro mengerti.


"Kau penjahat yang akan menghancurkan dunia, dan aku harus menghentikanmu. Ini sungguh permainan kekanak kanakan."


Kuro tersenyum kecil.


Meskipun dibilang permainan, namun nasib seluruh dunia dipertaruhkan. Permainan kematian adalah yang mereka mainkan saat ini.


"[Sayang kau salah.]"


Kuro tak ada pilihan lain selain terkejut.


"[Aku adalah pahlawan. Sedangkan King sebagai penjahat. Asal kau tahu, aku tak pernah menang darinya.]"


Deon menutup mata dan tersenyum seperti sedang mengingat kenangan yang indah.


Tapi kenangan indah seorang iblis pasti tidaklah indah bagi manusia.


"[......dan kurasa, kau sudah bisa menebak apa yang penjahat lakukan.. ]" lanjutnya.


Senyuman tipis muncul di bibir Deon.


Itu pertanda dia sedang merencanakan sesuatu.


Sedangkan Kuro, jika apa yang dikatakan iblis itu benar, maka King yang dimaksud adalah Shiroyasha. Tapi kenapa Shiroyasha dipanggil King? Mungkinkah dugaan selama ini benar bahwa Shiroyasha adalah.....


"Kh..."


Kuro menggertakan giginya.


Jika seperti itu, apakah penderitaanya selama ini adalah balasan perbuatan Shiroyasha?


"[Tapi bagaimanapun juga, di situasi ini kau tak bisa berperan sebagai penjahat. Kau lebih pantas menjadi pahlawan. Aku benar? Aku sejak dulu ingin berperan sebagai penjahat, jadi kurasa ini adalah kesempatan yang bagus.. ha ha ha...]"


"........"


"[Karena itulah, kurasa aku akan serius. Dan kurasa kau juga harus melakukannya. Dengan mata yang kau miliki, kau pasti dapat melakukan suatu yang menarik sama seperti King.]"


Iblis itu bahkan sudah mengetahui Kuro juga memiliki Eyes of Origin. Itu bukanlah suatu yang mengejutkan.


Tapi itu artinya, Kuro tak perlu menyembunyikannya lagi.


Kuro melepas lensa kontak dan akhirnya menunjukkan mata putih yang dikenal sebagai Eyes of Origin. Disaat yang sama dunia yang Kuro lihat berubah total.


"[Benar. Kau tak perlu menyembunyikan mata itu. Mata yang sama dimiliki oleh King. Tampaknya kau benar benar memiliki hubungan dengan King. Ha ha ha.. Aku benar benar senang.]"


"Hey, ini bukan perjanjiannya, Lucifer."


Tiba tiba Deon berbicara kepada dirinya sendiri. Itu adalah kepribadian Deon yang sesungguhnya.


Identitas sebenarnya dari iblis di Skullia Cristal adalah Lucifer yang dikenal sebagai salah satu pemimpin para iblis. Tak mengherankan jika kekuatan Skullia Cristal begitu besar.


Menurut sejarah, butuh 7 paladin untuk mengalahkan Lucifer sebelum akhirnya menyegelnya di dalam Skullia Cristal.


"Perjanjiannya adalah kau memberikanku kekuatan sehingga aku mampu menghancurkan negri ini dengan tanganku sendiri. Aku tak punya waktu untuk bermain main."


"[Hahaha... Bukankah kau yang main main? Dengan kekuatanku, kau bisa mengalahkan bocah itu dengan mudah, tapi yang kau lakukan hanyalah beradu pedang seperti anak kecil. Apa kau serius ingin menghancurkan negri ini?]"


"Tentu aku serius. Bukankah kau sudah tahu karena berada di tubuhku? Kau juga pasti tahu tekadku dan kebencianku terhadap negri ini. Sebagai iblis, kau bahkan memperkuat kebencianku sehingga kau lebih cepat mengambil alih diriku. Jadi jangan bermain main lagi."


"[Tentu aku melakukan itu. Kebencian adalah sumber kekuatan kami para iblis. Apa kau menyesal telah membuat perjanjian denganku? Tapi kau tahu kan kalau kau menyesal itu sudah terlambat... Kukuku...]"


"Menyesal. Aku tak menyesal. ...tapi bagaimanapun aku punya alasan untuk tak menggunakan kekuatan penuh melawan bocah itu."


"[Oh.. benar. Kau harus berterima kasih kepadanya.]"


"Tapi kurasa ini sudah cukup. Aku akan menggunakan kekuatan penuh meskipun itu berarti aku akan kehilangan nyawaku lebih cepat. Sebagai gantinya, berikan semua kekuatanmu padaku!"


"[Apa kau yakin? Tapi baiklah, ini semakin menarik. Lagipula aku adalah penjahat dalam permainan ini. Hahaha... Aku akan memberikan kekuatan yang kau butuhkan seperti yang kau minta. Aku bahkan tak akan mengambil jiwamu dengan cepat, tapi kuharap kau memberikan hiburan kepadaku agar aku tak bosan karena jika aku sedikit saja merasa bosan, aku akan mengambil tubuh dan jiwamu sepenuhnya. Ingat itu!]"


Mata Deon kembali seperti semula. Itu berarti iblis di tubuh Deon sudah berhenti mengambil alih.


Tapi aura hitam semakin menyelimuti tubuh Deon. Tak hanya itu, tekanan mana yang terasa juga berkali lipat daripada yang sebelumnya.


""[Sekarang bisa kita mulai permainan ini?]""


Suara Deon kini seperti dua orang yang disatukan. Lucifer dan Deon kini telah menyatu sepenuhnya.


Ini adalah yang terburuk.


Sebagai bukti kekuatan Deon meningkat, tanah di bawahnya seperti menerima tekanan yang berat dan hancur berkeping keping.


Necrodra, Dragon Knight, Ultimate Necrodra, Knight Gear, dan semua orang yang merasakan tekanan mana yang luar biasa mengerikan melihat ke arah Deon dan lupa bahwa mereka sedang bertarung.


Mimpi buruk baru saja dimulai.

__ADS_1


Tapi-


"Yeah.."


Kuro tersenyum kecil lalu membuka matanya yang tertutup rapat. Saat itulah dua mata putih kini terlihat.


Eyes of Origin telah bangkit.


"Kita akan segera mulai permainanya..."


Aura putih berputar mengelilingi Kuro dengan kecepatan tinggi dan menghancurkan tanah seperti ular. Meskipun Kuro tak memancarkan mana, namun tekanan berat dari kekuatan yang besar dapat terasa.


Pedang putih Kuro, Lic juga memancarkan aura putih sebagai tanda pedang itu menyatu dengan kekuatan Kuro.


"Tapi sebelum itu, bisakah aku bertanya kepadamu satu hal?"


""[Baiklah. Aku benar benar terkejut. Tapi sekarang aku yakin bahwa kau memiliki hubungan dengan King. Apa yang ingin kau tanyakan?]""


"Siapa sebenanya yang kau panggil King?"


Bagi Lucifer ini mungkin pertanyaan tak berarti, tapi bagi Kuro ini adalah pertanyaan yang mampu menjawab semua misteri selama ini.


Selain itu, jawaban Lucifer akan mempengaruhi masa depannya bersama Laila.


""[Haha.. hanya itu? Yahh karena tak perlu dirahasiakan, aku akan memberitahumu. King yang kumaksud adalah lelaki yang memiliki Eyes of Origi sepertimu. Nama dia adalah Shiroyasha, dan kenapa dia aku memanggilnya King, itu karena.....]""


"......."


""[...dia adalah Harem King.]""


".................................................................................................eh?"


Kuro benar benar terkejut. Saking terkejutnya dia bahkan langsung kehilangan semangat bertarung.


"JANGAN BERCANDA IBLIS KEPARAT! APA KAU TAHU JAWABANMU MEMPENGARUHI MASA DEPANKU!! SEKARANG BERITAHU AKU YANG SEBENARNYA ATAU KUPENGGAL KEPALAMU, SIALANNNN!"


Kuro berteriak dengan sekuat tenaga. Dia marah karena merasa dipermainkan oleh Lucifer/Deon.


""[Haha.. dari reaksimu kau tak percaya dengan apa yang kukatakan, tapi ......itulah kenyataannya.]""


"......."


Dengan Eyes of Origin, Kuro mengetahui Lucifer/Deon tidaklah berbohong.


(Tapi apa apaan dengan kenyataan konyol ini? Aku tak terima. )


""[Shiroyasha, dia, keparat brengsek itu selalu berhasil merayu gadis hanya butuh beberapa jam sebelum gadis itu bertekuk lutut sepenuhnya. Bahkan aku, salah satu iblis paling tampan di Makai (Neraka) tak sanggup melakukan itu. Apa kau tahu apa yang kami para iblis rasakan? Kurasa kau tak ingin tahu.]""


Lucifer/Deon  terlihat murung dan mengingat kenangan buruk.


Tapi itu artinya Shiroyasha juga sama seperti Kuro. Mungkin ini adalah hal terbaik yang pernah Kuro ketahui tentang Shiroyasha.


Atau tidak. Jika Shiroyasha adalah Harem King, itu berarti-


(Bukankah kemampuanku mendapatkan gadis dalam beberapa jam adalah kemampuan yang sama dengannya? Apa kau bercanda?)


Kuro mulai berpikir dia akan menjadi Harem King kedua setelah Shiroyasha.


Kuro langsung merasa lesu.


""[Hmm... kau sama dengan King, mungkinkah kau juga bisa melakukan hal yang sama dengan King? Aku penasaran berapa gadis yang sudah kau takhlukan? Kau tak keberatan memberi tahuku kan?]""


Dari nada bicara Lucifer/Deon, dia benar benar tertarik.


"Sayang sekali aku hanya punya satu kekasih. Dan asal kau tahu, aku akan segera melamarnya, tapi itu setelah membunuhmu."


""[Begitu rupanya. Kau juga sudah memiliki Queen, tapi kurasa ada banyak gadis yang mengantri untuk menjadi Queen kedua dan ketiga. Apa aku salah?]""


Sayangnya Lucifer/Deon benar. Ada banyak gadis yang mencintai Kuro saat ini.


Kuro menoleh ke arah lain seolah menghindar.


""[Sepertinya aku tak salah. Dan ini juga menambah alasanku untuk membunuhmu.]""


"Apa?"


Lucifer/Deon mengabaikan Kuro dan mengangkat pedangnya ke atas. Pedang Deon bersinar dan sebuah lingkaran sihir muncul di ujungnya.


Karena Eyes of Origin, Kuro bisa menebak apa yang akan dilakukan Lucifer/Deon.


"Kau tak mungkin melakukan hal itu."


""[Kenapa tak mungkin? Ini hanyalah sebagian kecil dari kekuatanku sebagai salah satu iblis terkuat.]""


Cahaya hitam langsung melesat ke langit seperti sebuah kembang api. Setelah itu lingkaran sihir berdiameter 15 meter muncul di langit Drageass. Tak hanya satu, jumlah lingkaran sihir itu ratusan.


Lalu dari lingkaran sihir itu terbuka seperti sebuah pintu. Dan dari pintu itulah muncul sosok monster hitam bercambur warna merah bara api.


Ada monster yang berbentuk seperti naga, tapi memiliki dua taring yang besar. Tangannya juga dirantai oleh besi karatan seperti tahanan.


Selain monster berbentuk naga, adapula monster berbentuk seperti kelelawar raksasa, wanita bersayap dengan wajah tengkorak, golem yang bersenjatakan kapak karatan, ular bersayap dan menyemburkan api. Dan masih banyak lagi.


Semua monster itu turun ke Drageass seperti hujan monster.


"Hell Beast. Aku tak menyangka kau memanggil mereka ke dunia ini."


Hell Beast atau yang dikenal sebagai monster neraka. Tak seperti monster normal, kekuatan Hell Beast berkali kali lipat dari monster biasa.


Selain kuat, Hell Beast adalah monster undead seperti Necrodra. Mereka tak bisa dibunuh dengan cara biasa.


Dalam sejarah, Hell Beast adalah monster yang menjadi salah satu pasukan Demon King. Hal inilah yang menyebabkan pasukan Demon King begitu kuat.


Meskipun begitu, bukan berarti Hell Beast tak memiliki kelemahan.


Karena mereka monster undead seperti Necrodra, maka mereka memiliki satu kesamaan. Mereka akan mati jika kehilangan kepalanya.


""[Jangan terkejut dulu. Ini masih belum seberapa.]""


Sekali lagi pedang Deon bersinar. Dalam sekejap ratusan Necrodra tiba tiba muncul bagai dipindah menggunakan sihir teleportasi.


Kuro langsung melirik gunung Dragon Grave. Dan dia tak menemukan apapun.


(Begitu rupanya. Dia memindahkan Necrodra yang sedang menuju kemari.)


Kuro melirik kembali Deon/Lucifer yang terbang di atas seperti bos. Dengan senyuman yang memuakkan, membuat Kuro ingin segera memenggalnya.


"Kalian benar benar tahu cara memeriahkan permaian ini."


Kuro tersenyum.


Bersamaan dengan senyuman Kuro, Hell Beast, Necrodra dan Ultimate Necrodra meraung dengan keras karena sudah tak sabar menghancurkan apapun yang ada di depan mereka.


Dengan jumlah musuh lebih dari 2000, sekarang Drageass tinggal menunggu kehancuran.


Dragon Knight, pasukan Knight Gear, raja Dragonia, Draig dan semua orang mulai berpikir bahwa mereka akan kalah. Bahkan tatapan keputus asaan mulai terlihat dimata mereka.


Mustahil. Kini kata itu bagai dinding besar yang menghalangi jalan mereka.


"'[Meskipun kau bukan King yang kukenal, namun kurasa kalian memiliki banyak kesamaan. Kurasa aku juga akan memanggilmu King. Bagaimanapun juga dia adalah temanku yang berharga. Dan kurasa dia tak keberatan nama King diberikan kepadamu. Apa aku salah?]""


"Entah mengapa aku tak merasa senang mendengarnya."


Kuro mendesah.


Salah satu Hell Beast menyerang Kuro, tapi Kuro hanya mengayunkan dengan pelan pedangnya ke arah Hell Beast dan langsung melenyapkannya.


Berbeda dengan yang Kuro lakukan selama ini yaitu menciptakan pedang angin, kali ini yang Kuro lakukan adalah menggunakan Ki murni untuk menghancurkan musuhnya.


Jumlah energi Ki manusia terbatas, karena itulah Kuro tak bisa menggunakan Ki murni untuk menyerang dalam jangka lama.


Itulah mengapa, Kuro menggunakan energi Ki yang lain, yaitu energi Ki yang berasal dari alam.


Ya. Memanipulasi energi alam. Itulah kekuatan Kuro yang sesungguhnya, tapi dia hanya bisa melakukan ini selama dia menggunakan Eyes of Origin.


Melihat salah satu Demon Beast hancur tanpa bekas, Deon/Lucifer tersenyum senang.


""[Kurasa kau memang pantas kupanggil King. Dan kurasa semua persiapan sudah selesai, jadi bisa kita mulai permainan ini,....... King?]""


Sementara itu, Aldest sudah selesai menyiapkan semua ritual sihir. Dia butuh waktu lama karena lingkaran sihir yang dia buat berdiameter lebih dari seratus meter. Selain besar, ritual itu tak boleh memiliki kesalahan sedikitpun atau berpengaruh negatif terhadap pengguna.


Karena itulah sebelum ritual sihir dimulai, Aldest memeriksa sekali lagi bersama Lairo.


Dan mereka baru menyelesaikannya.


Tapi wajah senang bukanlah yang ditampilkan Lairo. Hal itu karena saat melihat layar yang menunjukkan pertarungan Deon dan Kuro, dia tahu mimpi buruk baru saja dimulai.


"Kau tak perlu mencemaskan dia. Bagaimanapun dia adalah keturunan Shiroyasha, dia pasti akan melakukan sesuatu yang menarik seperti leluhurnya."


Disaat yang sama, Aldest mulai ritual sihir yang menjadi salah satu keahliannya.


Sesosok Grim Reaper muncul membawa sabit besar yang menyeramkan muncul di samping Aldest. Grim Reaper itu bukanlah Dewa Kematian, tapi wujud Magic Beast milik Aldest.


Inilah alasan kenapa Aldest dijuluki Demon Witch.


Tapi ada alasan lain kenapa dia dipanggil Demon Witch. Aldest mempunyai dua sihir yang bisa dibilang cukup berbahaya jika disalahgunakan. Sihir yang pertama adalah membangkitkan mayat hidup. Dengan kata lain Aldest sama seperti Deon. Sihir kedua adalah Aldest mampu memanipulasi ingatan. Sekilas ini mirip sihir Otome, tapi sihir Aldest tak hanya sebatas itu.


"Ta-tapi dengan jumlah monster sebanyak itu, bisakah dia menang?"


"Aku tak tahu. Tapi aku merasakan bahwa hal buruk yang sesungguhnya belum dimulai. Karena itulah sebaiknya cepat kita lakukan hal ini supaya bisa bergabung dengan mereka."


"Aldest...."


Aldest yang biasanya tenang, kini terlihat cemas. Lairo menyadari hal ini meskipun Aldest bersikap seperti biasanya.


"Hall...!"


Hall adalah nama Magic Beast Aldest.


Aldest meminta sabit yang dibawa hal untuk memulai ritual sihir. Aldest menancapkan sabit itu ke tanah. Setelah itu dia memejamkan mata.


Sementara itu Hall terbang atas tepat di pusat lingkaran sihir.


Lairo dan Laiko hanya bisa melihat dari jauh. Selain itu, mereka juga harus waspada karena musuh bisa menyerang dan mengganggu ritual sihir.


Aldest melafalkan mantra. Tubuhnya memancarkan aura ungu dan lingkaran sihir ungu muncul di bawah kakinya. Lingkaran sihir itu beresonansi dengan lingkaran sihir yang Aldest buat ditanah sehingga lingkaran sihir itu juga bersinar.


Hall yang berada di atas pusat lingkaran sihir juga memancarkan aura ungu. Tiba tiba huruf sihir mengitarinya seperti atom.


Aldest membuka matanya pertanda persiapan selesai. Lalu dia mengkat sabitnya sedikit keatas dan menusukannya ke tanah.


"Sacred Magic Art [Memories of Nature]"


Dalam sekejap, pemandangan di depan Aldest berubah seperti flashback. Rumput yang mulanya besar menjadi mengecil dengan perlahan seperti tumbuh secara mundur. Hal yang sama juga terjadi kepada semua benda yang berada di dalam lingkaran sihir.


Memories of Nature adalah sihir yang memanipulasi ingatan alam. Seperti otak manusia yang mempunyai kemampuan menyimpan ingatan, makhluk hidup seperti tumbuhan juga memiliki kemampuan yang sama. Dan berkat sihir itu, Aldest dapat melihat ingatan yang direkam oleh tumbuhan di daerah itu.


Ingatan yang dicari Aldest tentu saja ingatan tentang saat keluarga Deon dibantai oleh naga misterius.


Dan setelah beberapa saat, akhirnya pemandangan berubah menjadi saat sebuah keluarga sedang duduk dibawah pohon beralaskan kain sambil memakan bekal mereka.


Keluarga itu terlihat bahagia. Sangat bahagia. Naga Holy Demonic Class yang berada tak jauh dari mereka juga terlihat bahagia.


"Sulit dipercaya orang seperti itu kini menghancurkan negrinya sendiri."


Lairo mendekat setelah tahu ritual sihir Aldest sukses tanpa hambatan sama sekali.


Tapi saat melihat seorang lelaki yang terlihat ramah dan baik hati berkumpul bersama keluarganya, Lairo merasakan suatu yang menyakitkan.


"Ya, tapi itulah manusia. Seseorang bisa terjebak ke dalam kegelapan dengan mudah."


Aldest memejamkan matanya sesaat seperti sedang mengingat kembali suatu yang menyakitkan.


"Tapi... apakah seseorang bisa kembali ke cahaya setelah tertelan kegelapan?"


Tentu jawabannya "Tidak". Itulah jawaban Aldest.


Dia tahu karena dia adalah salah satu orang yang sudah berada di kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2