Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
29. Sudden Kiss. Again..


__ADS_3

**Takdir.


Dia tak percaya dengan itu.


Dia bahkan menganggap bahwa takdir hanyalah ungkapan seseorang yang sudah menyerah dengan suatu yang disebut nasib, tidak, mungkin lebih tepat disebut 'hasil'.


Orang mengatakan miskin, kaya, berkuasa, menang, kalah, hidup, mati karena sudah ditakdirkan oleh Tuhan.


Benarkah seperti itu?


Orang miskin bisa menjadi kaya karena bekerja keras, orang kaya menjadi miskin karena harus membayar hutang, orang berkuasa karena mempunyai kekuasaan atau keturunan bangsawan, menang karena kuat, kalah karena lemah, hidup karena dilahirkan, mati karena penyakit atau memang sudah saatnya mati.


Karena itulah dia hanya percaya kepada sebab-akibat. Semua itu terus dia yakini hingga saat ini.


Tapi pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis yang membuat dia percaya bahwa takdir memang ada di dunia ini, hampir.


Inilah alasan kenapa saat ini dia bersekolah meskipun dia tak memerlukannya.


Meskipun dia tahu gadis itu lupa kepada dirinya atau bahkan tak mengenali dirinya, itu bukanlah masalah.


Itu justru membuktikan bahwa takdir memang tak pernah ada di dunia ini.


>>>


5 jam lebih berlalu sejak latihan lari di pinggir danau Limph dimulai.


Mereka memulai pada pukul 10.35 siang, dan sekarang sudah pukul 4 sore lebih.


Matahari sudah mengurangi panasnya dan angin sepoi sepoi berhembus di tempat Otome berdiri saat ini.


Dia mengawasi muridnya melalui Insectmera, namun dia sekarang sudah tak melakukannya lagi. Tentu saja karena hampir semua muridnya sudah sampai di dekatnya.


Mereka semua penuh debu dan luka gores. Nafas mereka terengah engah dan sudah tak sanggup berdiri lagi.


Dan Otome dapat mendengar suara perut lapar dari mereka.


"...Hmm..."


Dia tersenyum karena merasa senang karena latihan sudah selesai, lalu dia menoleh ke arah pinggir danau.


Disana ada 6 ekor Rellfish yang terlihat berusaha kabur dari jaring yang terbuat dari mana.


Sebenarnya ada 48 ekor Rellfish yang ditangkap. Itulah bukti kekuatan seorang Paladin, namun mengingat ukuran Rellfish yang sudah cukup besar, yaitu dua meter lebih, Otome memutuskan hanya memasak 6 ekor saja.


Untuk 30 orang, 6 ikan pasti sudah cukup.


"........"


Otome mengangguk untuk memberi tanda kepada bawahannya (orang yang bekerja di Kuryuu Academy) untuk segera memotong ikan dan memasaknya. Mereka semua adalah penyihir, jadi Otome bisa mengandalkan bawahannya untuk memotong ikan pemakan manusia.


Sambil menunggu, Otome mendekati kelompok muridnya yang sudah tumbang. Itu wajar mengingat jarak yang mereka tempuh 100km, apalagi ditambah dengan tak ada jatah makan siang untuk mereka. Otome memang menyeramkan.


Tapi tak apalah, sebagai ganti dan hadiah dari usaha muridnya, dia sekarang menyiapkan pesta barbeque, meskipun secara teknis Kuro yang menyiapkannya.


"Bagus, kalian semua telah melakukan yang terbaik, meskipun catatan waktu kalian masih menyedihkan, Fufu .. Dan mulai sekarang dan seterusnya, kita akan melakukan latihan seperti ini 3 kali dalam seminggu hingga Tribal yang diadakan 2,5 bulan lagi, jadi persiapkan mental kalian."


"................."


Tak ada yang mendengar ocehan Otome, mereka bahkan tak peduli.


Yang mereka pedulikan saat ini adalah beristirahat sebanyak mungkin agar cepat pulih.


"Dan untuk 11 lelaki yang melanggar aturan, mereka akan mendapat jarak tambahan di latihan berikutnya."


"Sial." "Apa kau becanda?" "Dasar iblis!" "Hahh.. mau bagaimana lagi." "Itu akibat ulah kalian sendiri kan?!" Dan masih banyak lagi reaksi yang ditunjukkan ketika mendengar ucapan Otome.


Tapi mereka paham bahwa karena melanggar aturan, maka pasti akan mendapat hukuman.


Satu lagi bukti hukum sebab-akibat.


Setelah mengatakan itu, Otome pergi dan duduk di bawah pohon. Tak ada yang bisa dia lakukan saat ini.


Semua sudah bekerja keras


Setelah menunggu 30 menit, aroma nikmat tercium dan menyebar di udara. Aroma itu berasal dari daging ikan yang sudah masak dan diberi bumbu.


Menyadari aroma enak, perut semua murid kelas 1-2 berbunyi dan secara insting mereka tahu bahwa ada makanan enak di dekat mereka.


Satu persatu bangkit dan menyerbu daging ikan yang ditusuk oleh besi panjang, dan diantara daging ada sayur yang ditambahkan sebagai penyeimbang.


Otome dan bawahannya juga memakan ikan dengan senangnya.


Laila, Alva dan Alvi duduk bersama sambil menikmati ikan di atas rumput. Serriv dan Dellia berada di kelompok terpisah tak jauh dari mereka bertiga.


Meskipun bau keringat, mereka saat ini tak peduli dan terus makan. Tapi entah mengapa Laila merasa ada seseorang yang menghilang atau tak ada.


Dia baru menyadarinya setelah melihat sekeliling dan tak menemukan dia. Siapa lagi kalau bukanKuro.


Pacarnya dan juga partnernya.


"...Dimana Kuro? Apa kalian berdua melihatnya?"


"Eh?"


"Etto..... ?"


Alva dan Alvi menatap satu sama lain dan menunjukkan wajah bingung oleh pertanyaan Laila.


Laila bisa tahu bahwa mereka tak tahu keberadaan Kuro. Tidak. Laila seharusnya menyadari mereka tidak tahu karena sejak tadi dia bersama mereka berdua.


".. Aku akan bertanya kepada bu Otome dulu. Dia pasti tahu keberadaan dia."


Laila berdiri dan berniat pergi menuju ke arah Otome berdiri.


"Kami juga ikut!"


"Tidak usah. Kalian makanlah dulu, aku akan mengajak Kuro kemari setelah menemukanya."


"Eh?"


"Aku pergi dulu."


Setelah mengatakan itu, Laila pergi dan bertanya kepada Otome.


"".....................""


Sementara itu, Alva dan Alvi melirik satu sama lain karena merasa curiga kepada Laila.


Bagaimana mereka bisa tahu? Mungkin itulah yang disebut indra ketujuh atau insting seorang wanita.


Setelah mengetahui keberadaan Kuro, Laila melangkahkan kakinya ke arah pohon yang cukup besar.


Dan dibalik pohon itulah dia menemukan Kuro sedang tertidur pulas bagai seorang anak kecil. Dia juga melihat pedang yang bersandar di dekat Kuro.


Laila mendengar suara kecil yang berasal dari dua lonceng di pedang Kuro seolah menyambut kedatangannya.


".............."


Laila tersenyum kecil saat melihat Kuro tertidur pulas. Tubuh penuh luka, dan pakaian sobek disana sini.


Ini adalah kedua kalinya melihat Kuro seperti ini, jadi dia merasakan deja vu.


Kondisi Kuro membuat Laila tak berani membangunkannya, namun dia tak mau disaat semuanya sedang bersenang senang, Kuro justru tertidur sendirian.


Entah mengapa Laila merasa Kuro sengaja melakukan ini.


Atau Kuro merasa tak enak karena menghajar seluruh temannya hingga babak belur.


Kuat dan disaat yang sama begitu menyedihkan.


Laila masih tak mengerti apa maksudnya.


Laila menunduk di dekat Kuro dan menggoyangkan pundaknya cukup keras. Ini terjadi lagi. Kuro masih tertidur pulas.


(Apa aku harus menciumnya agar dia bangun?)


"eh?"


Kenapa dia bisa berpikir seperti itu?


Apa karena pengaruh insiden seminggu yang lalu?


Wajah Laila langsung memerah padam dan asap mengepul dari kepalanya.


Dia lalu menggelengkan kepalanya agar pemikiran itu menghilang dan disaat itulah dia melihat Kuro sudah membuka matanya.


Kuro menatap ke arah Laila dengan tatapan lembut.


"Huhh... akhirnya kau bangun ju- ?"


Laila heran saat Kuro tiba tiba memberikan kertas dengan pola lingkaran sihir.


"Apakah ini tiket yang dimaksud Bu Otome?"


"Yup, aku mendapatkan sesuai janjiku kan?"


"........"


Wajah Laila memerah dan sedikit mengangguk.


Demi selembar kertas, Kuro melakukan semua ini.


"K-Kau seharusnya tak melakukan ini. Lihat tubuhmu yang penuh luka. Jika ingin makan malam bersamaku... K-kau bi-bisa mengajakku kapanpun kau mau, dan tak perlu di restoran mewah."


Laila menunduk malu. Wajahnya memerah dan terlihat sangat manis.


Melihat itu, Kuro tersenyum kecil dan lembut.


Dia senang saat mendengar bahwa Laila mau diajak makan malam kapanpun.


"Ya, kau mungkin benar, tapi janji adalah janji. Sudah menjadi prinsipku untuk selalu menepati janjiku meskipun kadang harus melukai orang lain."


"......."


Dan karena sudah berjanji berlatih bersama, maka dia tak ragu berlatih bersama Alva dan Alvi meskipun itu menyakiti Laila?


"Satu hal lagi..."


"?"


"Mendekatlah!!"


"....?"


Laila tanpa ragu mendekatkan wajahnya meskipun dia tak terlalu mengerti. Apa Kuro mau memberi Laila sesuatu lagi?


Ya. Kuro memberikan hadiah.

__ADS_1


Hadiah ciuman selama 5 detik sebelum kedua bibir mereka berpisah.


"...Sekarang aku benar benar terbangun. Terima kasih."


"....."


Kuro bangkit sambil membawa pedangnya menuju keramaian. Dia lalu tanpa ragu bergabung dalam pesta.


Sementara itu, Laila masih terdiam dengan wajah memerah. Dia bahkan belum bergerak sejak Kuro mencium dirinya dengan cara yang sama dua kali, atau dia yang terlalu lengah?


Di saat itulah dia mendengar suara benda kecil terjatuh di rerumputan tepat di belakangnya.


Laila berkeringat dingin dan mendapat firasat buruk. Dia bahkan tak peduli lagi dengan ciuman keduanya dengan Kuro.


"Laila..."


"Laila....."


Dia tahu suara orang yang memanggilnya dari belakang. Dua orang itu berambut ungu panjang dan memiliki wajah yang sama.


Dengan perlahan, Laila menoleh ke arah belakang dan dia menemukan Alva dan Alvi dengan wajah menyeramkan.


Ditambah dengan magic arm muncul di salah satu tangan mereka. Magic arm Alvi berupa busur biru bernama Alvairz dan magic arm Alva berupa tombak biru bernana Alviarz.


"Hei Laila, sejak tadi kami sangat penasaran. Sudah berapa kali kalian berciuman?"


"Ini bukan pertama kalinya kan?"


"....Eee.....too."


"Dan tampaknya kau juga tak keberatan atau tak berusaha menolak saat dicium Kuro?"


"Bisakah kau jelaskan kepada kami? Terus terang kami ingin tahu hubungan kalian dimasa lalu?"


Hubungan di masa lalu?


Laila kurang paham, namun dia merasakan hawa membunuh dari mereka berdua.


".....Eeerrrrrr .. begini ceritanya.."


Disaat yang sama, lingkaran sihir merah muncul di antara mereka bertiga dan ledakan terjadi.


Boommm.


Itu ledakan yang tak terlalu besar dan hanya menimbulkan asap hitam tebal.


Alva dan Alvi secara reflek menutupi mata mereka.


Setelah beberapa detik, asap menghilang dan Laila sudah tak berada di tempatnya.


"Tchhh..."


"Khhhhhh..."


Mereka berdua terlihat jengkel dan marah saat mengetahui Laila kabur.


Alva dan Alvi lalu melihat ke sekeliling dan menemukan Laila berlari menjauh dari mereka.


"Laila, apa kau pikir bisa lari dari kami..."


"Fufu..."


Mereka menunjukkan senyuman dingin yang mampu membekukan jiwa.


Di saat yang sama kaki mereka bercahaya. Itu adalah tanda mereka akan menggunakan magic art Leap. Tapi mereka berdua lebih cepat daripada Ash atau Ishi.


Mereka berdua melompat dan berlari mengikuti Laila. Itu hanya butuh waktu beberapa detik saja.


"Eh? Eeeekkkk."


Laila menoleh ke arah belakang dan melihat Alva dan Alvi mendekat dengan kecepatan tinggi dari arah belakang.


Hal itu membuat Laila secara refleks menggunakan magic art Burning Dash, tapi Laila masih terkejar.


Menyadari kecepatan Alva dan Alvi lebih cepat, Laila berkeringat dingin. Ini situasi yang lebih buruk daripada yang dia perkirakan.


Meskipun Laila peringkat S dan mereka berdua peringkat C, namun perbedaan kecepatan mereka terlalu besar. Mungkin inilah yang disebut sebagai setiap penyihir begitu unik. Meskipun dalam bakat dan potensi Laila liar bisa, tapi bukan berarti dia ahli dalam kecepatan.


Laila bisa dibilang lebih dalam kekuatan dan juga jumlah karena Scarflare yang begitu unik.


"Heii.. Laila, kenapa tidak menyerah saja, percuma saja kau berusaha kabur dari kami. Fu fuu.."


"Aku tak punya suatu yang harus dijelaskan tentang ciuman atau masa lalu ..mungkin.."


"Haaa.!! Benarkan tebakan kami, kau dan Kuro sudah mengenal satu sama lain sejak lama. Ugghhh... Alvi!!"


Jarak mereka semakin menipis. hanya butuh waktu beberapa detik lagi hingga Lalila tersusul.Yang menjadi masalah adalah saat ini mereka berlari ke tengah kerumunan yang berpesta.


"Membekulah dengan panahku, Laila, Ice Arrow"


Alvi menarik busur birunya. Cahaya biru muncul berbentuk anak panah diarahkan tepat ke arah Laila.


Alvi melepaskan anah panah dan langsung mengarah tepat ke arah Laila dengan kecepatan tinggi.


Laila yang menyadari serangan Alvi langsung bersiap bergerak untuk menghindar, namun anak panah berubah menjadi ratusan anak panah menghujani Laila.


"!"


Laila dengan cepat melompat ke atas untuk menghindari panah es. Dia berhasil dan tidak terluka. Yang menjadi masalah adalah anak panah yang tak mengenai target dan menuju kerumunan.


"Semuanya lari.!!"


Dan yang lebih parah, serangan Alvi mengenai semua makanan hingga menjadi makanan beku.


"Jika jadi kalian, aku akan langsung pergi dan tak bertahan!"


Yang mengatakan itu adalah Kuro yang saat ini melayang di atas kerumunan. Dia tampaknya berhasil menghindar dan menyadari serangan Alvi sebelum mengenai mereka.


"Eh?"


Mereka semua tak mengerti maksud Kuro, namun di saat yang sama lingkaran sihir muncul di tempat anak panah menancap dan membesar.


Setelah itu cahaya muncul dan membekukan kerumunan dalam sekejap mata.


Peralatan barbeque, manusia, makanan semuanya membeku menjadi hutan es.


"Hmmm.. Latihanku tak percuma rupanya."


"Ya. Aku tahu itu, tapi tampaknya bukan saatnya untuk merayakannya."


"Aku setuju, kak Alva."


Mereka akhirnya kembali melirik ke arah gadis berambut pirang yang sedang berdiri terbengong. Sungguh mengejutkan karena mereka sama sekali tak terlihat bersalah melakukan itu pada teman mereka.


Laila tampaknya kagum dengan magic art Alvi.


Tapi dia tak ada waktu untuk kagum, dia menyadari Alva dan Alvi belum menyerah untuk menangkapnya.


"....Ahhh... Apa yang kalian lakukan?"


Kuro mendarat dan bertanya kepada Alvi dan Alva.


"Err.. Kami sedang berlatih bersama. Benarkan Alvi."


"Ya, kami hanya ingin tahu hasil latihan kami denganmu."


Tentu saja mereka berbohong agar Kuro tak marah kepada mereka. Mereka tak ingin dibenci Kuro karena berniat memban- mengintrograsi orang yang dia cintai.


Tapi apa mereka bisa membohongi Kuro?


"Oh.m begitu, hati hati, aku tahu kalian berdua sudah meningkat, tapi kalian tak akan menang jika tak menggunakan kekuatan penuh."


"Un.."


"Gehh.!"


Kuro mengatakan seolah olah kalau Alva dan Alvi tak akan menang melawan Laila, tapi Kuro juga mengatakan mereka mampu menang jika menggunakan kekuatan penuh. Apakah artinya mereka disuruh menggunakan kekuatan penuh?


"Hey Bodoh, kenapa kau percaya dengan mereka? Apa kau tak bisa melihat kalau kami sedang tidak berlatih?"


"Ummm..... bukan?"


Kuro menoleh ke arah mereka berdua dengan tatapan curiga.


Alva dan Alvi menggelengkan kepalanya.


"Dia hanya malu. Itu saja. Hehe..


"Un.."


"Baiklah, kalian bersemangat sekali hari ini."


Alva dan Alvi menoleh ke arah Laila. Dan di saat itulah senyuman iblis muncul di bibir mereka berdua.


"Heii... kenapa kau tak percaya dengan ucapan pacarmu sendiri?"


"....................."


Kuro terdiam sesaat. Dia sedikit bingung dan bimbang. Percaya kepada Alvi dan Alva, atau lebih percaya kepada Laila, pacarnya.


Krakk..


Disaat itulah, mereka berempat mendengar suara es pecah dan berjatuhan.


"Ya ampun, ini sangat menyegarkan, tapi ini juga bisa membuatmu sakit."


Jinn mengahancurkan es yang mengurung dirinya dengan menggoyangkan badannya. Teman teman yang lain, guru dan staff satu persatu juga lolos dari serangan Alvi.


Semuanya tak terluka berkat seragam yang dibuat khusus untuk meminimalkan efek sihir, tapi sekarang mereka pasti merasakan hawa dingin.


Atau tidak.


Mereka tak merasakan dingin karena sudah terbakar oleh amarah kepada satu orang lelaki berambut hitam bernama Kuro.


Kenapa?


Walau dia tak menyerang mereka, namun semua ini terjadi berkat Kuro yang mencium Laila, dengan kata lain, secara teknis ini adalah salah Kuro.


"..........?"


Sayangnya Kuro tak tahu apa yang ada dipikiran mereka.


Tapi dia tahu kalau sedang dalam masalah karena semua teman laki laki dikelasnya sudah mengaktifkan magic arm dan magic beast millik mereka. Tampaknya apapun alasannya, mereka tak peduli selama bisa membalas perlakuan Kuro pada mereka.


Kuro merasa menyesal. Kenapa dia harus berbaik hati menyiapkan barbeque untuk orang yang memungkinkan akan membalas dendam padanya?


Apa dia bodoh?

__ADS_1


"Baiklah, kita mulai pesta yang sebenarnya."


Dengan aba aba Knox, semua laki laki kelas 1-2 mulai bersiap mengejar Kuro.


Dalam hati mereka masih marah saat dihajar dan kalah dari Kuro yang bukan seorang penyihir. Harga diri mereka terluka bercampur marah.


"Gawat... !"


Kuro berkeringat dingin. Meskipun dia kuat, namun dia akan kesulitan mengalahkan 12 orang sekaligus. Dengan cepat menarik pedang putihnya dan mengarahkan tepat ke arah 12 orang yang mengincarnya.


Criiinng.


Suara lonceng terdengar sekaligus menjadi sebuah tanda peringatan.


Seperti yang Kuro duga, lelaki kelas 1-2 tak cukup bodoh untuk menyerang Kuro yang sudah bersiap memegang pedang. Mereka tahu betul kekuatan Kuro yang mampu mengalahkan mereka semua hanya dengan tangan kosong.


Lalu apa yang akan ditunjukkan Kuro sekarang.


"Hmmp.."


Kuro tersenyum lalu mengangat pedang ke atas. .


"Kuro... jangan bilang kau aka menunjukkan teknik barumu?"


"......Ya kira kira begitulah.."


Kuro tersenyum sambil menjawab pertanyaan Alvi. Disaat yang sama, hal itu membuat seluruh laki laki meningkatkan kewaspadaan.


Teknik baru? Teknik yang belum ditunjukkan kepada Alvi dan Alva.


Seberapa menakutkan teknik itu?


"Secret blade art 1.002 Steps"


Dengan cepat Kuro mengayunkan pedangnya ke bawah mengenai tanah dan membuat ledakan.


Boomm.


Asap mengepul dan menyebar hingga menutupi pandangan semua orang hingga beberapa puluh detik.


Setelah beberapa saat, asap menghilang dan begitu pula dengan Kuro ditambah dengan Laila.


"................Eh?"


"Kemana Kuro dan Laila?"


"Haaa.. Mereka kabur!!"


Alva dan Alvi tampak bingung karena dua orang telah menghilang dari pandangan mereka berdua dan seluruh siswa kelas 1-2.


Hanya Otome yang tersenyum dan menoleh ke atas.


Di ketinggian 2 km, Kuro melayang di udara bersama Laila yang berada di gendongan depannya.


Tak lupa pedang putih yang sudah dia sarungkan juga dia pegang di tangan kirinya.


"Laila, kau bisa membuka matamu!"


"...uuhmm ?"


Laila perlahan membuka matanya dan merasakan hembusan angin kuat karena jatuh ke bawah.


Awalnya dia tak mengerti ketika disuruh menutup mata oleh Kuro, dia merasakan tubuhnya digendong lalu dia juga merasakan hembusan angin, namun ketika dia menyadari apa yang terjadi kepadanya, dia dengan cepat memegangi leher Kuro agar tidak jatuh.


Tapi mereka dalam kondisi terjatuh di ketinggian 2 kilometer.


"Kyaaa.. "


Laila berteriak karena panik. Secara reflek dia memeluk Kuro lebih erat.


Wajahnya memerah karena malu bercampur panik.


Meskipun dia seorang penyihir, dia akan mendapatkan masalah besar jika terjatuh di ketinggian 2 km.


Tapi disaat itulah Laila merasakan tubuhnya terangkat ke atas lagi.


"Eh?"


Laila tampak bingung. Dia heran kenapa dia, tidak, Kuro bisa terbang.


"Laila, lihat!!"


"um?"


Laila masih bingung, namun dia menoleh ke arah yang ditunjuk Kuro.


Mata Laila terbuka lebar saat melihat pemandangan matahari terbenam yang begitu indah.


"..........."


Laila terdiam terpana, sedangkan Kuro hanya tersenyum.


"Indahnya....."


Laila jarang melihat matahari seindah ini sebelumnya, apalagi sambil melayang di udara. Ini menyenangkan dan sekaligus menakutkan.


Ini adalah suatu hal yang hanya bisa dilihat saat bersama Kuro.


"Ya indah, tapi kau lebih indah Laila."


".....eh,... apa kau berusaha merayuku? Jujur saja aku masih marah saat kau menciumku tadi, gara gara kau, aku dapat masalah.."


Meskipun menunjukkan wajah tak senang, Kuro justru tersenyum saat melihat wajah Laila yang lebih manis saat marah.


Mereka terjatuh lagi, namun dengan cepat Kuro menendang udara lebih kuat dari yang sebelumnya dan melompat lebih tinggi.


Laila terkejut dan sedikit takut. Di saat yang sama jantungnya berdebar kencang.


"...Lalu... bagaimana jika aku menciummu lagi saat ini."


Kuro tersenyum lembut sambil menggoda Laila. Di saat yang sama tatapan Kuro begitu tajam dan tenang.


"Huhh.?"


"Kali ini aku sudah bilang agar kau tak terkejut."


"...Hey siapa yang mau ber- ?!"


Kuro langsung menutup mulut Laila dengan sebuah ciuman.


Laila awalnya meronta dan menolak, tapi akhirnya dia menerima dan menikmati sensasi saat berciuman dengan Kuro.


Laila tak tahu berapa lama mereka berciuman, tapi itu adalah ciuman terlama yang pernah mereka lakukan sebelum bibir mereka berpisah.


Laila yang merasa menjadi orang bodoh karena selalu lengah di depan Kuro tak bisa marah. Hal ini menjadi suatu keanehan sendiri bagi dia.


Jika mengingat dulu, dia akan selalu membakar orang yang menyentuhnya tanpa ijin. Tapi kenapa semua itu tak dia rasakan pada Kuro?


Selain itu, dia merasakan sesuatu yang tak biasa di hatinya jika menyangkut dengan Kuro.


Apakah ini yang dinamakan cinta?


Sayang, Laila masih belum tahu jawabannya.


Disaat mereka selesai berciuman, matahari juga tenggelam dan langit berganti malam.


"Kurasa sudah saatnya kita kembali..."


"........."


Laila terdiam. Wajahnya memerah padam, tapi dia menggguk pelan sebagai tanda setuju dengan Kuro.


Kuro menendang udara ke samping menuju ke dalam kota melalui atas tembok tinggi.


Semua mata penjaga terbuka lebar saat melihat Kuro dan Laila bisa melewati atas dinding tanpa memakai sihir. Tapi mereka berdua mengabaikan para penjaga yang terkejut.


Tujuan mereka adalah sekolah Kuryuu Academy.


Dan itulah akhir dari latihan yang melelahkan pada hari itu.


>>>


Di kamar mandi asrama, Laila mandi dengan air hangat yang menyegarkan. Rasa lelah, pegal, dan keringat sudah hampir menghilang dari tubuhnya.


Dia memejamkan matanya saat mengarahkan kepalanya ke penyiram yang menyemburkan air ke wajahnya.


Disaat yang sama, dia mengingat saat berpisah dengan Kuro setelah tiba di asrama.


'*Baiklah, aku pergi dulu.'


'Eh, apa kau tak istirahat di kamar asrama?'


'Ha ha... aku akan tidur sekamar jika kau adalah istriku, tapi kita hanya berstatus pacar, kau tahu aku bisa saja menyerangmu saat kau tidur kan?'


'Ha ha*...'


Laila tersenyum pahit dan melihat Kuro pergi entah kemana.


Dia tak tahu tempat Kuro tidur selama seminggu ini, tapi dia sekarang tahu kenapa Kuro tak pernah tidur di ruangan yang sama dengan Laila.


Meskipun Kuro tak ragu mencium Laila, tapi tampaknya itulah batas yang Kuro buat karena hanya berstatus pacar. Itu adalah tanda bahwa Kuro juga menghormati Laila sebagai seorang gadis.


Tapi perkataan Kuro juga membuat Laila sedikit takut.


'Aku bisa saja menyerangmu', apa Kuro akan memaksa Laila melakukan hal yang lebih dari berciuman?


"Bu....ahh..."


Memikirkan itu membuat Laila tak bisa mengendalikan dirinya. Bahkan air hangat kini menjadi uap karena Laila tanpa sadar menaikkan suhu tubuhnya.


(Jika dia berani melakukan hal aneh, aku akan tanpa ragu menusuknya dengan Scarflare.)


Setelah memutuskan itu, Laila keluar kamar mandi dan bersiap tidur.


Meskipun masih terlalu awal, namun tubuhnya masih merasakan lelah akibat berlari 100km. Untung saja dia sudah makan malam di pinggir sungai.


Dia memakai piyama sexynya, lalu berbaring di tempat tidur sambil menatap ke arah kasur yang rapi.


"Kuro, apakah kau adalah lelaki 'itu'?"


Laila mengingat kembali lelaki misterius yang dia temui satu tahun yang lalu saat dia masih kelas 3 Magic School, tapi sudah lama dia tak bertemu dengan lelaki misterius itu.


Tapi dia ingat dengan janji yang pernah dia ucapkan bersama lelaki misterius itu.


Itu adalah janji yang memalukan.


Wajah Laila memerah dan menutup wajahnya dengan selimut.

__ADS_1


"Takdir kah....? Aku rasa itu tak terlalu buruk jika menjadi kenyataan."


Dia tak tahu apakah karena rasa lelah atau suatu yang lain. Malam itu, Laila tertidur begitu pulas.


__ADS_2