Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Consultation


__ADS_3

"Ini baru pertama kalinya aku melihat anak kecil semanis ini. Entah mengapa aku juga ingin segera memiliki anak."


Mata Otome berbinar binar saat pertama kali melihat Riku yang sangat manis dan lucu. Apalagi saat Riku menyambut Laila dengan cara berjalan yang masih belum stabil. Tingkahnya merupakan serangan besar baginya.


"Mu.."


Riku tertawa kecil saat melihat Otome. Lalu dia mengayunkan tangannya seolah ingin digendong Otome.


Karena tak ada masalah, Laila membiarkannya. Sayangnya, itu menjadi sebuah kesalahan karena Otome tak bisa menahan dirinya dari Riku.


"Kelembutan ini...Uuu... Aku sungguh tak tahan.."


Laila hanya bisa tersenyum kecut. Dia mulai terbiasa dengan hal ini, tetapi dia tetap kawatir dengan kemampuan Riku.


"Guru Otome, kenapa kau tak menikmati teh dulu?"


"Ah.. maaf. Aku jadi lupa diri."


Perkataan Laila mengembalikan Otome pada pikirannya yang sedang terkena godaan kuat dari Riku.


Otome lalu duduk di sofa dan menenangkan diri. Dia mencoba minum sambil menjaga agar Riku tak terlalu banyak bergerak. Syukurlah Riku sepertinya anak yang pintar dan tahu saat yang tepat untuk bertingkah manja.


"Umm... Ini sungguh teh yang menyegarkan. Sudah lama aku tak menikmati teh seenak ini."


"Yah... Boris memang seorang yang ahli membuat teh. Bukan hanya daun tehnya saja yang harus enak."


"Anda terlalu memuji, Nyonya Laila."


Boris menunduk dengan hormat. Dia berdiri tak jauh darinya agar bisa bersiap jika Laila membutuhkan sesuatu.


"Kau benar. Tetapi apakah benar kita saat ini berada di rumahmu?"


Otome melirik ke seluruh tempat. Dia ingat memasuki rumah kecil dengan dua lantai, tetapi saat ini dia seperti memasuki sebuah istana megah yang luas.


Jika dipikirkan secara logika, ini suatu yang mustahil.


"Bukankah guru Otome pernah ke rumah Kuro di ibukota?"


"Jadi ini rumah Kuro di ibukota? Geh.. Jangan bilang kalau saat ini kita di ibukota?"


Otome tak terlalu ingat saat dia berada di rumah Kuro, jadi dia sedikit terkejut.


Laila tersenyum seolah menduga apa yang dipikirkan Otome.


"Begitulah. Awalnya kami berpikir untuk membiarkan nenek ikut ke rumah kami di kota Areshia. Tetapi ibu dan ayah menentang keras karena tak bisa melihat cucu pertama mereka setiap hari. Jadi untuk mengatasi masalah ini, Kuro memasang alat sihir yang membuat kita bisa berpindah tempat. Kau ingat saat masuk kita memasuki pintu sebelah kanan. Di pintu itu sudah terpasang alat sihir yang menghubungkan pintu itu dengan pintu rumah ini."


Dengan kata lain, jika ingin memasuki rumah kecil Laila, maka mereka harus masuk melewati pintu kiri. Sedangkan pintu yang kanan adalah pintu yang menghubungkan dengan rumah di ibukota.


"Begitu rupanya. Dia memasang Transition Door di ruma- ...errr... Bukankah alat sihir itu sangat mahal? Aku dengar lebih mahal dari sebuah permata seukuran kepalan tangan?"


"Jangan kawatir. Ini bukan masalah bagi Kuro."


"B-Begitu..."


Laila terlihat tenang seolah hal itu sudah biasa. Sedangkan Otome tak bisa menahan diri untuk gemetar karena pengertian umum yang dia miliki dibalikan dengan mudahnya.


Otome lalu mencoba menenangkan diri dengan meminum teh, tetapi di saat itulah Riku memegang tangannya dan menepuk dadanya.


"Terima kasih.."


Otome tersenyum karena senang, sayangnya Laila tidak.


"Riku.... Aku harap kau jangan memegangi dada orang yang baru kau kenal. Ya ampun, kau selalu saja seperti ini.."


Wajah Riku membiru seolah mendapatkan tekanan yang buruk. Riku mencoba berlindung dengan naik ke atas Otome, tetapi tangan Laila dengan cepat menangkapnya.


"...mu..."


Riku mencoba meronta dan meraih Otome seolah meminta pertolongan, tetapi Otome tak bisa karena juga bisa merasakan aura dingin dan tajam dari Laila.


"Aku rasa sifat sukanya dengan dada wanita menurun dari Kuro. Aku harap dia bisa menahan diri saat besar nanti."


"Aha ha.."


Otome hanya bisa tersenyum kecut.


Meskipun begitu, Riku langsung tenang saat Laila memangkunya. Riku lalu memejamkan matanya seolah ingin tidur.


"Dia hanya akan tidur jika aku yang menidurkannya. Dia sangat manja seperti ayahnya."


"Dia terlalu mirip dengan Kuro."


Laila mengangguk tanda setuju.


Lalu setelah beberapa saat, Riku tertidur pulas seperti tak terjadi apapun.


"... guru Otome, aku mengundangmu ke rumah ini sebenarnya ingin mendiskusikan beberapa hal denganmu. Apa kau tak keberatan?"


"..err.. Tidak. Tentu saja tidak.. ehehe.."


Otome gugup saat udara di sekitar Laila berubah. Kini dia sedang serius.


Meskipun masih muda, namun tekanan Laila begitu berat seperti seorang yang telah mengalami ribuan pertarungan.


"Sebenarnya ada dua hal yang ingin aku bicarakan. Yang pertama tentang formula sihir yang kita bahas tadi di sekolah."


Otome tak terlalu terkejut saat mengingat Laila begitu tertarik dengan topik itu saat di kelas.


"Apa kau takut dengan apa yang terjadi nanti jika formula sihir itu berhasil selesai?"


Mengingat potensi yang ada dalam formula sihir Mana Converter, jika digunakan dengan baik maka hal itu akan mengubah dunia. Dan tentu saja ini akan berlaku sebaliknya jika berada di tangan yang salah.


"Itu juga, tetapi sebenarnya ada alasan lain. Lupakan masalah pertama, bisakah kau memberitahu apa yang kau ketahui tentang formula itu?"


"..."


Otome tak langsung menjawab karena dia sedang memikirkan sebab dan akibat jika dia memberitahukannya.


(Formula sihir ini memang masuk dalam pelajaran, tetapi bukan berarti itu suatu yang harus diketahui secara spesifik. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa dan untuk apa dia mengetahuinya)


Setelah berpikir cukup lama, Otome memutuskan.


"Aku tak memaksamu, guru Otome. Aku hanya ingin tahu saja."


Laila semakin menekan.


"....Baiklah, tapi kenapa kau ingin tahu?"


"Menggunakan alasan karena ingin tahu pelajaran lebih dalam percuma saja, jadi aku akan jujur. Formula sihir ini mungkin akan menjadi jalan agar aku bisa menggunakan kekuatan Soul-ku."


"..."


Otome tak bisa berkata kata.


"Apa ini terlalu mengejutkan? Aku saat ini memiliki kekuatan setara Master, tetapi kekuatan itu masih belum matang. Aku harus bisa menggunakan Soul dan Incarnation agar bisa menjadi lebih kuat."


Scarflare merupakan kepingan dari Clocflare, karena itulah dia tak bisa dikatakan sudah mencapai penyihir peringkat SS.


"Ummm..."


"Saat kita menggunakan magic art yang rumit, kita harus menyusun sebuah formula di kepala kita dan melepaskannya menjadi magic art. Kekuatan Soul-ku memiliki kemiripan dengan itu."


"Tunggu. Apa kau yakin kalau itu kekuatanmu? Setahuku Soul adalah kekuatan yang tak berhubungan dengan aturan normal magic art."


Eyes of Truth miliknya dan kekuatan memisahkan jiwa milik Aldest adalah salah satu contoh kekuatan Soul yang begitu unik. Karena kekuatan ini sulit dijelaskan, maka kekuatan Soul masih menjadi misteri yang belum terpecahkan saat ini.


Karena itulah saat mendengar cara Laila mendeskripsikan kekuatan Soul miliknya, Otome tak bisa menahan diri untuk tak terkejut.


"Tenang guru Otome Saat itu kau sudah melihat diriku menggunakan kekuatan Hokami. Memang itu adalah salah satu kekuatan yang terlahir dari berkah suci Solaris, tetapi berkah suci itu hanyalah sebuah pemicu kekuatanku."


"...eh?"


"Singkatnya, kekuatanku saat menggunakan Hokami adalah kekuatan Soul-ku."


Otome semakin berkeringat dingin.


♦♦♦


Otome mencoba tenang dengan meneguk teh yang ternyata telah habis. Boris dengan tanggap mengisinya lagi dengan teh herbal yang dia buat dengan cepat.


Teh herbal dipilih karena mampu menenangkan hati.


"Apakah ini suatu yang mengejutkan?"


Di lain pihak, Laila begitu tenang seolah apa yang dia katakan sebuah hal kecil.


"Bu-bukan seperti itu. Jika yang kau gunakan dalam pertarungan melawan Maria adalah kekuatanmu yang sebenarnya, apakah ada semacam masalah sehingga kau harus menggunakan formula sihir itu?"


Bagi Otome yang melihat pertarungan dari jauh hanya bisa bergetar karena tak ingin mengingat pertarungan dahsyat yang melibatkan Magic Art tingkat tinggi. Bagi dirinya, kekuatan yang dimiliki Laila, Charlmilia, Kuro dan Arthuria sungguh tak normal.

__ADS_1


Tetapi bagi seorang peneliti, selain kekuatan Darkness Art milik Kuro, kekuatan Laila, Hokami juga suatu yang sangat unik sehingga dirinya ingin sekali memecahkan misteri dari itu.


Dengan kesempatan ini dia mungkin bisa mendapatkan informasi atau petunjuk untuk memecahkan misteri, namun jika melihat resiko di masa depan, Otome memilih untuk mengubur niat dan rasa penasarannya.


"Sebenarnya ada banyak. Pertama, itu kekuatan yang belum bangkit sepenuhnya. Aku bahkan tak memiliki nama sihir untuk itu. Hokami hanyalah nama sihir sementara yang aku gunakan agar bisa memanggilnya."


"..."


"Kedua, meskipun aku tahu kekuatan itu dan bagaimana menggunakannya, namun tubuhku saat ini masih belum bisa menahan kekuatannya. Bahkan saat aku bersama Solaris, masalah ini belum selesai. Masalah ketiga, kekuatan ini sangat tak stabil. Aku tak bisa mengandalkan berkah suci terus menerus."


Otome terdiam masuk dalam pikirannya.


Dia sadar apa yang dikatakan Laila cukup masuk akal. Kekuatan yang besar akan memiliki resiko yang besar pula.


Tetapi ada satu hal yang mengganggunya.


"...Tak ada nama sihir?"


Laila mengangguk.


"Apakah ada yang salah?"


"Begitulah."jawab Otome dengan penuh percaya diri. "Dari sini aku mulai mengerti kenapa kau tertarik dengan formula Mana Converter. Dengan formula itu kau berharap bisa memasukannya dalam Magic Art milikmu sehingga bisa memicu kebangkitan kekuatanmu. Lalu kau juga berharap dengan itu kau bisa mengurangi beban pada tubuhmu. Aku salah?"


Laila tersenyum seolah analisis Otome benar.


"Sudah aku duga kau adalah orang yang tepat untuk membahas ini."


Tetapi tak ada tanda senang dari Otome saat menerima pujian itu.


"Sayangnya, dalam hal ini kau memiliki kesalahan, Laila."


"Maksudmu?"


"Kau berpikir kalau Soul adalah kekuatan yang memiliki nama sihir."


"Apa?"


Seolah tahu apa yang dipikirkan Laila, Otome melanjutkan,..


"Berbeda dengan Incarnation yang merupakan perwujudan saat Magic Beast atau Magic Arm menjadi sosok baru, Soul tak memiliki nama kedua. Bahkan nama yang disebutkan dalam kekuatan Soul sebenarnya hanyalah sebutan agar mudah memanggilnya saja."


"Tunggu, aku baru mendengar ini.."


Laila mulai panik, tetapi dia langsung tenang saat mengingat sedang memangku Riku yang tertidur pulas.


"Itu wajar karena di sekolah tak membahas sejauh ini tentang Soul. Tetapi bagi pemilik kekuatan Soul seperti diriku, ini suatu yang tak dibantah. Kau tahu kekuatan mataku, Eyes of Truth hanyalah sebuah sebutan. Bahkan tanpa aku memanggil nama sihir, aku bisa menggunakannya kapanpun aku mau."


"..."


"Lalu kesalahan lainnya adalah kau berpikir saat kekuatan Soul adalah kekuatan yang indah."


Otome mendesah berat. Dia mengingat suatu yang ingin dia lupakan.


"Penyihir yang membangkitkan Soul sangatlah jarang. Tetapi pernahkah kau berpikir bagaimana kekuatan itu bangkit? Ini hanya sebatas teori, namun Soul adalah kekuatan saat seorang penyihir mengalami titik balik dalam hidupnya."


"Titik balik?"


"Ketika orang yang memiliki segalanya berubah menjadi orang yang kehilangan segalanya. Orang yang menolong berubah menjadi orang yang melukai. Semacam itulah. Tapi bisa juga saat penyihir itu mengalami keadaan mental yang tak stabil. Intinya, yang aku ingin katakan adalah Soul merupakan kekuatan yang tak bisa ditebak akan bangkit atau tidak. Mengenai kekuatan Soul milikmu, saat ini masih berusaha untuk bangkit, namun syarat dan kondisi masih tak memungkinkan. Jadi aku sarankan agar kau tak terlalu memikirkannya."


Mendengar penjelasan panjang lebar Otome, Laila terdiam dengan tenang. Dia menaruh tangannya di dagu seolah sedang memikirkan matang apa yang baru saja dia dengar dan tindakan apa yang akan dia ambil untuk masalah ini.


Tiba tiba Laila mendesah.


"Sepertinya percuma saja membahas hal ini. Kuro juga mengatakan hal yang sama. Aku pikir dengan berdiskusi denganmu akan membantuku, tetapi percuma saja kah...?"


"Ahaha.. "


Otome tersenyum kecut. Entah mengapa dia tak terkejut saat Laila menyebut Kuro.


"Terima kasih guru Otome, dengan ini aku tahu percuma mengandalkan kekuatanku yang belum bangkit dalam pertarungan nanti. Pada akhirnya aku hanya bisa mengharapkan kekuatan Kuro untuk melawan putri Victoria"


"..."


Jika mereka ikut Battle War, kemungkinan melawan Victoria sangatlah besar. Dengan kekuatan elemen sucinya, butuh cara khusus untuk bisa mengalahkannya.


Kuro yang tak memiliki sihir bisa jadi lawan yang paling cocok untuk Victoria, namun dengan kekuatan Kuro saja itu tidak cukup. Lalu mengingat kekuatan yang digunakan Laila saat bertarung dengan Maria, kekuatannya setidaknya mampu bertahan melawan elemen suci.


Mengingat semua itu, tak mengherankan jika Laila ingin sekali membangkitkan kekuatan Soul miliknya.


Otome mengerti hal itu. Dia tak merasa apa yang dilakukan Laila salah. Tetapi saat mengingat waktu dia membangkitkan kekuatan Soul, itu sama sekali bukan kenangan yang indah.


"Jangan kawatir, dengan kekuatan kalian berdua aku yakin kalian bisa melakukan sesuatu. Lalu, apa yang ingin kau tanyakan lagi?"


"Anda benar. Kami hanya harus menggunakan kekuatan kami berdua jika ingin menang dari putri Victoria. Lalu, mengenai hal lain yang ingin aku bicarakan adalah tentang Riku."


"Hm?"


Otome mengedipkan matanya dua kali karena tak percaya apa yang baru saja dia dengar.


"Guru Otome, apakah di matamu Riku adalah anak normal?"


"Apa?"


Otome memperhatikan Riku yang tertidur pulas. Sesekali dia tersenyum kecil seolah sedang bermimpi indah. Melihat itu, Otome ingin sekali menyentuhnya atau menggendongnya. Tak hanya itu, entah mengapa dia tak ingin berpisah dengan Riku.


"...?"


"Guru Otome, apa kau menyadari apa yang aku maksud? Saat ini pandanganmu tak bisa lepas dari Riku seolah dia adalah sebuah benda suci."


"..."


Otome tak bisa berkata kata. Dia sadar suatu yang aneh terjadi padanya. Godaan Riku begitu kuat hingga membuat dia kehilangan kendali atas dirinya.


Riku memang manis, tapi ini jauh melebihi normal.


"Kau sadar apa yang aku maksud? Kuro bilang hal ini karena Riku disayangi oleh Solaris. Dengan salah satu dewi terkuat memberikan cintanya, maka hal itu mendorong orang lain untuk menyayanginya."


"...jika ini sihir aku pasti akan menyadarinya, tetapi seperti yang kau bilang... Entah mengapa aku sangat menyayangi Riku."


Laila tak begitu memikirkan saat Otome mengakui telah menyayangi Riku. Itu bukan masalah besar.


"Aku mendengar kau ahli dalam sihir yang memanipulasi pikiran. Apakah kekuatan Riku adalah tipe seperti itu?"


"Aku mengerti apa yang kau kawatirkan. Tetapi aku tak menemukan tanda seperti itu. Mungkin apa yang dikatakan Kuro benar."


"Kalau begitu apakah ada semacam cara untuk mengurangi efek itu?"


Otome terdiam sesaat seperti memikirkan sesuatu yang rumit.


"Jujur saja aku tak tahu. Jika ini adalah kekuatan penyihir maka akan lain ceritanya."


"Begitu..."


Laila langsung terlihat murung. Dia sangat berharap kalau Otome bisa memberikan jawaban yang dia inginkan.


"Maaf. Ini di luar pengetahuanku. Tapi jika ada yang tahu mengenai hal ini, aku rasa orang itu harus memiliki hubungan dengan Solaris."


Laila mendesah berat. Dia sudah menyerah.


"Oh iya, guru Otome memiliki mata sihir kan?"


"Bukankah kau sudah tahu? Senrigan milikku bisa mengetahui apapun." Ucap Otome dengan bangga.


Meskipun kekuatannya sebenarnya adalah suatu rahasia, namun karena Laila sudah melihatnya, maka tak perlu ada rahasia lagi.


"Kalau begitu, bisakah kau melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Riku?"


Tak hanya Otome, namun Boris juga ikut terkejut.


"Kalau boleh tahu, apa alasannya? Kau tak ingin aku melakukannya hanya karena dia memiliki kekuatan untuk menarik hati orang lain kan?"


"Semacam itulah. Apakah tadi malam kau merasakan suatu yang aneh?"


"Tidak. Aku tak merasakan apapun."


Laila terdiam sesaat sebelum melanjutkan.


"...aku dan Kuro sangat menyayangi Riku. Begitulah orang tua. Tetapi aku adalah orang yang tak bisa melihatnya terluka atau melihat dia melakukan hal yang berbahaya. Sedangkan Kuro berbeda, dia kadang suka mengganggu Riku dengan cara menjauhkan diriku darinya. Kadang hal itu membuat Riku menangis. Aku tahu dia tak memiliki niat buruk dan hanya ingin bermain dengan Riku, namun suatu yang tak terduga terjadi."


Tiba tiba atmosfer menjadi berat.


"Tadi malam Riku bangun karena mengompol. Untuk menidurkannya lagi, aku menyusuinya, tetapi Kuro mencegah hal itu sehingga Riku semakin menangis. Di saat itulah Riku mengeluarkan energi sihir yang membuat semua barang di rumah kami terlempar. Tak hanya itu, gelombang energi sihir itu meluas sampai seluruh kota Areshia."


"Ta-tapi..."


Otome tak sekalipun ragu dengan penjelasan Laila, tetapi ada bagian yang mengganjal.


"Benar, jika energi sihir normal, pasti bisa dirasakan oleh semua penyihir. Lalu yang tak normal lainnya bagaimana anak berusia satu tahun memiliki energi sihir sebesar itu?"

__ADS_1


Otome berkeringat dingin. Dia bisa membayangkan apa yang dirasakan Laila saat memiliki anak seperti Riku.


"Kuro memberitahuku kalau Riku memang memiliki energi sihir yang besar, namun apakah hanya itu?"


"..."


"Setelah kejadian itu Kuro bertingkah aneh. Dia tiba tiba memutuskan untuk menyegel kekuatan Riku. Aku mengerti kalau memiliki energi sihir yang besar di usia dini sangat berbahaya mengingat banyak kejadian di mana anak itu tak bisa mengendalikan kekuatannya, tetapi aku sempat mendengar ini dari Kuro walaupun dia mengatakannya dengan pelan. 'Ini terlalu cepat'. Aku tak tahu apa yang dia sembunyikan dariku, tetapi dia sama sekali tak memberitahuku."


"..."


Ini suatu yang tak diduga Otome, karena itulah dia tak bisa mengatakan apapun. Hubungan Kuro dan Laila begitu terkenal karena keduanya sangat romantis dan saling percaya baik dalam pertempuran atau saat menghadapi masalah.


Tetapi seperti pepatah mengatakan 'tak ada yang sempurna dalam apapun'. Ini sangat cocok untuk menggambarkan hubungan Laila dan Kuro.


"Guru Otome?"


"Maaf, aku hanya berpikir bukankah Kuro memang sering merahasiakan sesuatu?"


Bisa dibilang Kuro terlalu banyak memiliki rahasia.


"Begitulah, tetapi tak ada rahasia yang dia sembunyikan dariku selama aku bertanya dengan tepat."


"Hm?"


Otome memiringkan kepalanya karena tak paham.


"Mudahnya, Kuro akan memberitahukan semuanya, tetapi jika aku bertanya dengan pertanyaan yang salah, dia tak akan menjawabnya. Tentu aku bisa tahu dia berbohong atau tidak, tetapi saat aku menanyakan 'Apa yang kau sembunyikan tentang Riku?'. Dia sama sekali tak menjawab dengan kejujuran, tetapi di saat yang sama dia juga tak berbohong."


Laila mendesah berat.


"Dia memang sering mencampur kebohongan dengan kebenaran. Aku sudah terbiasa dengan hal itu dan merasa wajar, tetapi akan berbeda jika menyangkut dengan Riku. Aku ingin dia tak merahasiakan apapun dariku. Apa kau sekarang mengerti kenapa aku memintamu?"


Secara tak sadar Otome berkeringat dingin. Dia mengerti apa yang ingin Laila sampaikan, namun di saat yang sama dia mengerti ini adalah sebuah beban.


Jika Kuro merahasiakan sesuatu dari Laila, itu berarti rahasia yang sangat besar atau rahasia yang bahkan tak bisa dia beritahukan pada orang yang dia cintai. Dan itu berarti sebuah masalah besar.


Dengan kekuatannya mungkin saja dia bisa melihat rahasia itu. Ini adalah sebuah beban yang begitu besar.


"..."


Mempertimbangkan semua masalah yang akan datang, menolak adalah pilihan yang tepat.


Tetapi...


"Guru Otome, apakah kau bisa membayangkan apa yang aku rasakan sebagai ibu? Jika kau tak bisa melakukannya demi diriku, bisakah kau melakukannya demi Riku? Anggap saja ini demi masa depannya."


Tatapan mata yang begitu tulus dan ketika mengingat Riku, Otome tak bisa menolak. Ada sebuah dorongan yang membuat dia tak bisa melakukannya.


"Demi Riku aku akan melakukannya."


Mata Otome penuh dengan semangat.


Sayangnya, di saat itulah pintu depan terbuka pertanda orang datang.


"Oh ya oh ya.. sepertinya kita mendapatkan tamu."


"Nenek, kau sudah kembali?"


Scarlet datang dengan senyuman. Dia membawa beberapa tas yang penuh dengan barang barang.


Boris dengan sigap membawakan tas.


"Tolong di tempat biasanya."


Boris mengangguk dan pergi. Sementara itu, Scarlet langsung saja duduk menemani mereka.


"Hm? Riku sudah tidur rupanya. Bagaimana kalau aku membawanya ke kamar?"


"Sebentar, nenek. Guru Otome, bisakah kau melakukannya?"


"Ah.. iya... "


Dengan cepat Otome mengaktifkan mata sihirnya, Eyes of Truth. Dengan kemampuan matanya dia bisa melihat apa saja yang ada pada Riku.


Dia memperoleh informasi yang cukup lengkap seperti umur, nama, elemen sihir dan berupa berkah suci yang diberikan oleh Solaris.


Namun di saat itulah dia melihat informasi yang cukup mengejutkan.


"Guru Otome, apa kau sudah? Jika iya aku akan memberikan Riku pada nenek."


"..Um.. begitulah."


Laila memberikan Riku dengan hati hati pada Scarlet. Scarlet tersenyum dan menerima Riku sambil berusaha agar tak membangunkannya.


Kemudian Scarlet melangkahkan kakinya pergi, sayangnya di saat sebelum pergi, dia menunjukkan tatapan dingin dan haus darah pada Otome seolah memusuhinya.


Karena haus darah hanya ditujukan pada Otome, Laila tak menyadarinya. Ini adalah salah satu teknik dari penyihir yang telah mengalami banyak pertarungan seperti Scarlet.


"Guru Otome, apakah ada masalah?"


"T-Tidak.. aku hanya berpikir bagaimana caranya aku menyampaikan hal ini padamu ahaha.."


Otome sadar telah memasukan dirinya dalam masalah besar. Tatapan haus darah tadi adalah sebuah tanda dan sekaligus peringatan baginya.


"Begitu.. lalu apa kau menemukan hal yang disembunyikan Kuro?"


"Hmm.. bagaimana mengatakannya." Keringat dingin mengalir di pelipis Otome. "Kau tahu kalau Riku memiliki energi sihir yang besar, tapi apa kau tahu seberapa besar?"


"Aku pernah memeriksanya. Aku cukup terkejut saat dia memiliki energi sihir yang hampir sama denganku."


Laila tersenyum saat mengatakannya, tetapi Otome tak bisa melakukannya. Memiliki energi sihir sebesar milik Laila di usia begitu dini membuktikan bagaimana mengerikannya jika Riku tak bisa mengontrol kekuatannya.


"Syukurlah. Kalau begitu kau mengerti kenapa Kuro ingin menyegel kekuatannya."


"Aku mengerti itu. Jadi aku sama sekali tak menolak. Yang ingin aku tahu adalah apa ada hal lain yang disembunyikan Kuro?"


Otome semakin tertekan.


"Baiklah, aku akan segera mengatakannya." Otome menghela nafas dalam. "Aku menemukan berkah suci yang cukup menggangguku. Sepertinya itu membuat Riku bisa menggunakan kekuatan dewa. Kekuatan dewa ini sepertinya memiliki efek untuk memperkuat kekuatan Riku beberapa kali lipat. Lalu jika melihat efek yang kau ceritakan tadi malam, kekuatan ini mungkin terpicu oleh emosinya."


"...hm..."


"Apakah ada yang kurang?"


"Tidak. Tapi jika hanya seperti itu, aku rasa ini bukan masalah yang harus dia sembunyikan."


"...a-aku tak tahu apa yang dipikirkan Kuro. Tetapi mungkin saja dia kawatir ada yang tahu kekuatan Riku akan berusaha mendapatkan kekuatannya atau memanfaatkannya seperti yang terjadi pada Lic."


Laila terdiam memikirkan apa yang dibilang Otome. Dia juga memikirkan alasan Kuro merahasiakan hal ini pada dirinya.


"Kuro bilang 'ini terlalu cepat', mungkin yang dia maksud adalah saat Riku tak sengaja menggunakan kekuatan berkah suci itu. Aku pikir Kuro tak bermaksud buruk. Hanya saja mungkin ini sudah menjadi kebiasaannya."


Otome menambahkan.


"Baiklah. Aku pikir diriku saja yang terlalu berpikir berlebihan. Seharusnya aku sudah tahu kalau Kuro melakukan ini demi Riku. Aku benar benar merasa bersalah karena berpikiran buruk padanya."


"Kalau begitu semuanya selesai. Ah.. sudah jam segini. Aku ada banyak urusan yang aku selesaikan."


Saat melihat jam, mereka ternyata berbicara lebih lama daripada yang mereka duga.


"Apakah tak mau makan malam bersama kami? Ayah dan Ibu biasanya akan bergabung dengan kami."


"...Aku pikir lain kali saja."


Dalam hati dia bisa membayangkan akan makan malam dengan Leon, dan Lia. Jadi dia tak bisa menahan tekanan yang dia rasakan.


Otome bangkit dan mulai berpamitan.


"Guru Otome, aku akan mengantarmu."


"Tidak usah. Aku cukup menggunakan pintu kiri kan? Tolong sampaikan salamku pada Riku."


"Aku akan menyampaikannya."


Setelah itu, Otome tiba di kota Areshia dengan berada di depan rumah kecil Kuro.


"Ha.."


Otome langsung lemas. Dia tersungkur dengan perasaan nyaman karena akhirnya bisa bernafas lega dari semua tekanan berat itu.


"Maaf, Laila. Aku berbohong padamu."


Ada berapa hal yang tak dia sampaikan pada Laila. Itu mungkin tindakan yang tak tepat karena Laila adalah ibu Riku. Tetapi jika melihat situasi, mungkin inilah hal yang disembunyikan Kuro dari Laila.


Dengan sihir dia memutuskan untuk menghapus ingatan mengenai informasi Riku. Jika dia memiliki informasi itu, dia tak tahu apakah besok masih bisa bernafas.


Apalagi saat ini dia merasakan aura pembunuh yang mengelilinginya dari semua arah.


"Sepertinya kau memutuskan hal yang tepat."

__ADS_1


Otome tersenyum saat mendengar dari suara yang tak begitu mengejutkan.


"Aku tak punya pilihan lain. Benarkan, Boris?"


__ADS_2