Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Air Ship


__ADS_3

"Pulau melayang Avalon atau juga dikenal sebagai taman surga Avalon. Jika benar, lokasi tahun ini benar benar di luar dugaan."


"Aku juga sependapat. Mungkinkah mereka memiliki alasan khusus?"


Charlmilia tak tahu. Hanya panitia yang memilki jawabannya.


Pulau melayang Avalon memang sangat spesial. Menurut legenda, pulau melayang Avalon sebenarnya merupakan daratan yang terbelah dan kemudian melayang di udara. Penyebabnya masih menjadi misteri sampai sekarang ini.


Banyak penelitian yang dilakukan untuk memecahkan misterinya. Namun tempat itu tetap menyembunyikan misterinya seolah tak ingin diungkap.


Ada yang berteori kalau pulau melayang Avalon memiliki sebuah medan sihir yang begitu unik sehingga membuat pulau itu melayang. Ada pula yang mengatakan tentang kutukan, kekuatan dewa dan masih banyak lagi.


Tetapi pada akhirnya tak ada yang tahu alasan pasti kenapa pulau melayang itu ada.


"Kita sama sekali tak tahu apa yang dipikirkan para panitia. Aku mendengar kalau semua tempat Battle War merupakan pilihan Ayah. Mengingat siapa dia, kita hanya bisa berasumsi kalau tempat itu dipilih karena tempat yang memiliki banyak arti baginya."


"Apa kau mau mengatakan kalau Battle War tahun ini akan berbeda dari tahun tahun sebelumnya?"


"...mungkin."


Dia tak membantah kemungkinan itu. Apalagi saat ini mereka mengenal eksistensi unik seperti Kuro.


Saat memikirkan itu, dia ingat dengan alasan kenapa mereka harus memenangkan Battle War.


Charlmilia menguatkan genggamannya tanpa sadar. Dia ingin berkata "tinggal sedikit lagi" pada dirinya.


"Mungkin saja. Sebaiknya kita pikirkan bagaimana cara kita ke sana. Fila, apa kau memiliki ide?"


Pulau melayang Avalon terletak cukup jauh dari kota Areshia, yaitu sekitar 500km. Jarak dari ibukota juga tak bisa dibilang dekat.


Mengingat penyihir bisa berlari sejauh 100km hanya beberapa jam dengan bantuan sihir, jarak sejauh itu sebenarnya bukan masalah besar.


"Hm... Bagaimana dengan naik kapal udara? Kita bisa pergi ke kota Amaria lalu pergi ke kota Gehenna."


Kota Gehenna merupakan kota yang paling dekat dengan pulau melayang Avalon. Lebih tepatnya, kota itu memang dibangun di dekat pulau melayang Avalon.


Sedangkan kota Amaria merupakan kota terdekat dari kota Areshia. Kota itu lebih besar dan maju, namun tak memiliki sekolah sihir. Dan karena banyak saudagar yang ke kota itu, maka transportasi seperti kapal udara tersedia di sana walau hanya 2 hari sekali.


"Itu bukan ide buruk. Kapal udara bisa bergerak dengan cepat daripada kereta. Untuk pergi ke kota Gehenna, akan butuh waktu beberapa hari. Tetapi jika bisa aku ingin suatu yang lebih cepat daripada kapal udara."


"Jika kita bisa menggunakan fasilitas kekaisaran, mungkin kita bisa menemukan suatu yang lebih cepat dari kapal udara. Sayang sekali kita tak bisa menggunakannya. Pilihan lainnya kita meminta bantuan penyihir yang bisa menggunakan sihir teleportasi."


Perjalanan menggunakan kapal udara bisa mencapai dua hari lebih tergantung cuaca. Meskipun transportasi maju seperti kapal udara sudah mulai beroperasi 20 tahun yang lalu, namun jumlah mereka terbatas. Lalu kapal udara juga sangat bergantung pada cuaca. Di musim dingin seperti ini, salju bisa turun cukup lebat.


Cara yang paling umum adalah dengan baik kereta kuda atau kereta Maltea, tetapi di musim ini perjalanan menggunakan kereta akan memakan waktu lebih lama. Lalu mereka juga harus menyiapkan sendiri dengan uang mereka.


"Aku tak bermaksud mengatakan kalau kita tak bisa naik kapal udara. Dalam situasi ini pilihan terbaik kita adalah naik kapal udara. Untuk penyihir teleportasi, kita sama sekali tak mengenal salah satu dari mereka."


"Kau benar, lalu?"


"Yang menjadi masalah adalah jumlah tiket kapal udara terbatas dan cukup mahal. Untuk uang bukan masalah, tetapi jika kita tak cepat, kita akan kehabisan tiket. Aku rasa dalam masalah ini aku akan menggunakan statusku sebagai tuan putri."


"Ahaha..."


Fila hanya tersenyum kecut. Untuk pertama kalinya dia mendengar Charlmilia menggunakan kekuasaannya sebagai tuan putri.


Charlmilia terlihat bersemangat. Pasti ada alasan lain kenapa dia seperti itu. Untuk sekarang, Fila akan mengikutinya.


"Kalau begitu sudah diputuskan."


"Un..."


✡️♦️♦️✡️


Keesokan harinya, Fila dan Charlmilia bersiap untuk keberangkatan mereka ke kota Gehenna, tepatnya pulau melayang Avalon.


Mereka membawa barang barang yang diperlukan seperti pakaian ganti dan keperluan sehari hari. Tak lupa juga senjata berupa belati sebagai perlindungan minimal. Mereka boleh menggunakan Magic Beast atau Magic Arm, namun hal itu diperbolehkan jika dalam kondisi darurat.


"Fila, apakah sudah semuanya?"


"Sebentar. Aku sedang mengecek untuk yang kedua kalinya."


Sementara Fila melakukan itu, Charlmilia berbicara pada Sagita dan Gemini tentang apa yang akan mereka lakukan sebagai pengawal.


"Kalian mengerti apa yang harus kalian lakukan kan?"


"Itu bukan masalah. Kau bisa mengandalkan kami, putri Charlmilia"


Charlmilia tersenyum puas. Sebagai Holy Knight, dia tak perlu mengkhawatirkan mereka berdua. Dia ingin perjalanan mereka tak terlalu mencolok (meskipun itu sulit). Kerja sama dengan keduanya dibutuhkan dalam masalah ini.


Fila dan Charlmilia mengenakan seragam sekolah mereka. Untuk Sagita dan Gemini, mereka memakai pakaian biasa yang membuat mereka seperti wanita biasa yang ditemukan dengan mudah.


"Charl. Semuanya sudah siap. Sebelum itu apakah tak apa apa kita tak berpamitan pada mereka?"


Tentu Charlmilia tahu siapa yang Fila maksud.


"Ugh.. aku pikir itu ide yang sangat buruk. Aku bisa membayangkan Kuroberkata "kalian belum berangkat? Kami sudah sampai di sana kemarin". Atau semacamnya..."


"Ah... Aku mengerti."


Mereka ingin membuktikan kalau mereka berkembang dan tak butuh perhatian Kuro lagi, tapi itu lain cerita saat Kuro meledek mereka. Itu bagaikan sebuah mimpi buruk.


Lalu pasti 'orang itu' juga tahu. Itu membuat mereka lebih terhina setelah tantangan yang diberikan pada mereka.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera berangkat."


Fila mengangguk. Dia mengerti lebih baik mereka cepat daripada membicarakan hal yang tak perlu.


Mereka berempat pergi ke kota Amaria dengan kereta kuda. Gemini dan Sagita bertugas sebagai kusir.


Kereta yang mereka sewa merupakan kereta normal yang tak terlalu mewah. Hal ini selain bertujuan menghindari perhatian, mereka juga tak ingin menjadi incaran perampok atau bandit.


Perampok bisa dikatakan cukup jarang ditemukan di kekaisaran. Selain mereka akan langsung dibasmi, sebagian besar keamanan cukup ketat dan para penjahat akan langsung dihukum mati jika terbukti melakukan kejahatan berat seperti pembunuhan. Banyak yang mengatakan itu hukuman yang kejam, namun itu efektif untuk membuat orang takut berbuat kejahatan.


Faktor lain kenapa tingkat kejahatan di kekaisaran Houou cukup rendah adalah karena mereka sama sekali tak kekurangan bahan pangan atau keuangan. Sebagian besar penduduk mendapatkan kehidupan yang layak. Dan jika tak memiliki pekerjaan, penduduk cukup pergi ke kantor pemerintahan terdekat untuk meminta pekerjaan yang sesuai keahlian mereka.


Tentu sistem di kekaisaran tak bisa dibilang sempurna, tetapi hampir semua rakyat di kekaisaran merasa cukup puas dengan apa yang ada sekarang. Lalu kebijakan kekaisaran yang tak akan pernah menyerang negara lain membuat warga merasa tenang karena tak perlu takut akan adanya perang.


Sayangnya lain cerita jika negara lain menyerang. Kekaisaran akan tanpa ragu menggunakan semua kekuatan yang ada untuk bertahan dan mengalahkan musuh. Dalam sejarah sudah sering tercatat banyak negara yang mencoba melakukannya, namun yang terjadi justru kebalikannya.


"...ah.. salju turun."


Charlmilia melihat ke arah jendela. Salju perlahan turun menutupi daratan dan membawa angin yang lebih dingin dari biasanya.


Pemandangan yang menjadi serba putih memberikan kesan tersendiri pada mereka. Itu mengingatkan mereka pada bukti kalau waktu telah berlalu.


"Aku setiap tahun bermain salju walau sebentar. Tahun ini sepertinya aku tak bisa melakukannya."


Fila menyandarkan kepalanya di jendela. Dia begitu menikmati pemandangan.


"Ahaha.. aku tak menyangka kau memiliki sisi itu. Kau bisa bermain salju tahun depan. Saat ini ada hal penting yang harus kita lakukan. "


"Benar. Kita tak bisa mundur dengan keputusan yang kita ambil dalam Battle War tahun ini."


Waktu Battle War yang dilaksanakan pada pertengahan musim dingin juga menjadi faktor yang mereka perhitungkan.


3 minggu kemudian adalah masa di mana salju turun dengan lebat. Bahkan sering terjadi badai salju yang cukup mengganggu dan membahayakan.


Lalu yang terburuk adalah kota melayang Avalon memiliki tingkat hujan salju yang paling tinggi dibandingkan wilayah lain. Tak hanya bertarung dengan peserta lain, mereka juga harus bertarung dengan cuaca.


"Kita harus benar benar bersiap. Ini juga menjadi kesempatan karena kekuatan penyihir api akan turun dalam musim seperti ini."


"Fila, kau terlalu serius. Kau harus ingat kita tak boleh meremehkan Laila."


"Aku tak pernah meremehkannya. Aku hanya ingin kesempatan kita menang lebih besar walau hanya satu persen."


"...kau benar."


Satu persen merupakan angka yang kecil, namun angka itu sudah cukup untuk memberikan mereka kemenangan.


Kemudian perjalanan tak mengalami masalah berarti. Sesekali mereka melihat kelinci putih berkaki enam yang dikenal sebagai Light Snow Rabbit. Mereka tak berbahaya dan daging mereka sering diburu untuk dimakan, tetapi mereka sangat lincah bahkan bagi para penyihir. Alasan inilah yang membuat daging mereka cukup mahal.


"Aku bisa menangkap mereka jika mau, tapi aku sama sekali tak tega."


Tentu bagi petualang, wajah mereka sama sekali tak memiliki arti kecuali sumber uang.


"Aku mengerti maksudmu. Mereka sangat lucu. Sayangnya bulu putih mereka akan rontok saat musim panas. Itu membuat perasaanmu saat ini menghilang tanpa sisa."


Beberapa jam kemudian mereka tiba di kota Amaria. Dari jauh mereka sudah bisa melihat perbedaan mencolok jika dibandingkan kota Areshia.


Selain ada tempat khusus untuk pendaratan kapal udara, kota Amaria juga memiliki sebuah tambang emas yang terletak tak jauh dari kota. Hal ini membuat perekonomian kota Amaria lebih baik daripada kota Areshia meskipun tak memiliki sekolah sihir.


Lalu selain emas, komoditas barang utama kota Amaria adalah perhiasan. Karena sumber emas dekat, maka banyak penduduk yang bekerja sebagai penambang dan sekaligus pengrajin.


Seperti biasa, saat mereka masuk kota, mereka harus menunjukan identitas. Karena mereka tak ingin mencolok, mereka tak menyebut ada tuan putri dalam kereta. Sebagai gantinya, Sagita dan Gemini hanya menyebutkan identitas sebagai pengawal yang mengawal putri jenderal.


Mereka sama sekali tak mencolok.


Knight yang menjaga gerbang melihat dalam kereta, dan mereka langsung mengerti apa yang keduanya maksud.


"Aku tak memikirkan sama sekali tentang membuat identitas palsu atau nama samaran seperti Kuro"


"Wajahmu sudah dikenal di seluruh kekaisaran. Percuma saja kau melakukannya."


"Ughh... Aku sama sekali tak memikirkan hal ini. Menjadi tuan putri tak membuatmu hidup tenang."


Pada akhirnya mereka masuk kota Amaria tanpa ada masalah berarti. Mereka ingin langsung menuju pelabuhan kapal udara, tapi mereka masih memiliki waktu banyak sebelum berangkat.


Mereka lalu turun di sebuah penginapan mewah yang berada tak jauh dari pelabuhan. Mereka sudah memesan kamar sebelumnya, jadi proses lebih cepat.


Di saat melihat Charlmilia, resepsionis penginapan langsung tahu siapa tamu mereka hari ini. Dia langsung saja mengantar ke kamar yang terbaik.


"Ha... Aku tahu menjadi tuan putri menjadi pusat perhatian, tapi ini..."


Charmilia tak memiliki pilihan selain mendesah saat melihat kamar mewah yang mereka tempati. Ini bukan kamar yang mereka sewa.


Kamar yang mereka sewa sebelumnya hanyalah kamar biasa dengan satu kamar tidur. Mereka sengaja karena hanya menggunakan penginapan untuk beristirahat sebelum kapal udara berangkat. Mereka bisa saja melakukannya di kapal udara, tapi sekali lagi status Charmilia menjadi masalah.


"Kau tak bisa berharap akan mendapatkan perlakuan yang sama saat di kota Areshia. Dan mungkin aku harus memberitahumu hal ini, tapi ada rumor yang beredar kalau para penduduk kota mendapatkan pemberitahuan agar memperlakukanmu seperti biasa. Itu dilakukan agar tak membuatmu stress."


"A-Apa...?! Aku baru pertama kali mendengar hal itu!"


Charlmilia panik dan terkejut. Dia mendengar suatu yang luar biasa.


Dia lalu melirik ke arah Sagita yang menemani mereka di kamar dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Tetapi Sagita hanya menoleh ke arah lain seolah jawaban sudah dia berikan.


"Ini bohong... "

__ADS_1


Charlmilia langsung lemas. Ini suatu yang tak pernah dia duga sebelumnya. Dia ingat kalau teman sekolah juga awalnya memperlakukannya dengan penuh hormat, tapi tiba tiba mereka memperlakukan dirinya seperti biasa.


Jika dipikirkan kembali, itu memang tak normal kecuali ada yang berbuat sesuatu. Tampaknya dia harus memikirkan kembali perlakuan yang dia terima dan kasih sayang dari Sei meskipun mereka bukan orang tua yang terhubung oleh ikatan darah.


"Tapi karena alasan itulah kita meminta bantuan Gemini untuk mencarikan alat sihir yang berguna untuk menyamar. Kau tak boleh keluar sampai dia tiba."


"Ha... Aku harap tak terjadi suatu yang aneh nanti."


"Charl, aku harap kau tak pernah mengatakan itu. Kata Kuro, itu menyebabkan flag terpicu."


"Flag? Apa itu?"


"Entahlah... Aku juga tak mengerti."


Tak berapa lama kemudian Gemini tiba dengan membawa beberapa barang. Ada banyak pilihan yang bisa mereka gunakan. Jubah sihir yang membuat aura pemakainya menjadi lebih tipis, Shadow Cloak. Sebuah gelang yang memiliki fungsi merubah warna rambut dan bahkan ada ramuan yang merubah jenis kelamin untuk beberapa jam.


"...aku mengerti gelang dan jubah, tapi bukankah itu ramuan yang cukup berbahaya?"


"Oops, maaf tuan putri. Itu adalah barang pribadi dan sama sekali tak ada hubungannya dengan misi. Aku hanya ingin menawarkan karena berpikir Anda tertarik mencobanya."


"..."


Charlmilia bisa melihat senyuman tipis yang berusaha disembunyikan Gemini. Dia sama sekali tak tahu apa yang dia pikirkan dengan memberikan barang aneh.


Pada akhirnya mereka memilih untuk menggunakan gelang. Warna rambut Charlmilia menjadi biru laut. Sedangkan Fila menjadi pirang. Untuk lebih meyakinkan, mereka mengubah gaya rambut mereka sehingga terlihat bagai orang lain.


"Ini alat sihir yang bagus. Dengan ini aku tak akan ketahuan."


Charlmilia terlihat senang saat melihat dirinya berbeda dengan dirinya yang selama ini dia kenal. Dia seolah melihat orang lain.


"Untuk suara aku pikir bukan masalah. Sekarang aku mengerti kenapa Kuro senang menyamar."


"Humu.. aku mendapatkan ide yang bagus. Apa yang terjadi jika Kuro melihat penampilan kita?"


"""Itu adalah ide buruk!!"""


"Wha!!"


Charlmilia tak menyangka akan mendapatkan balasan dari tiga orang sekaligus.


Tapi mau bagaimana lagi. Kuro mampu mengenali Alva dan Alvi yang terlihat begitu mirip. Dengan hanya rambut yang berbeda akan langsung membuat Kuro mengenali mereka.


♦️♦️♦️


Setelah makan siang, jam kapal terbang berangkat pun tiba. Keempatnya naik dengan cepat setelah memberikan tiket.


Pelabuhan kapal udara merupakan tempat khusus yang menyerupai ruang bawah tanah. Penumpang bisa langsung naik dek, tetapi badan utama kapal udara berada di bagian bawah tanah.


Selain tiket, para penumpang juga diperiksa apakah mereka kriminal atau bukan dengan alat sihir yang menunjukkan rekaman kriminal atau orang yang dicari.


Tentu cara itu tak sepenuhnya efektif jika dihadapkan dengan penyihir yang mampu menciptakan Magic Arm atau Magic Beast dengan bebas. Untuk mengatasi ini, setiap kapal udara akan diawasi oleh beberapa Knight.


Bentuk kapal udara sendiri tak jauh berbeda dengan kapal laut, namun perbedaan yang mencolok adalah adanya sebuah sayap di kedua sisi kapal yang akan membentang jika sudah terangkat di udara. Selain mesin kapal berada di kedua sisi, ada juga berada di bagian belakang dengan ukuran yang lebih besar yang berfungsi sebagai pendorong dan mesin utama. Bentuknya sekilas menyerupai cangkang kerang yang mengeluarkan partikel sihir elemen angin.


"Kabin nomor 7. Di sini tempat kita. Putri Charlmilia. Silahkan masuk."


"Terima kasih."


Kabin mereka bisa dikatakan khusus untuk VIP. Ruangan luas dengan tempat tidur dan kamar mandi. Lalu dengan perlengkapan minimal, namun mewah. Mereka seolah memasuki sebuah hotel.


Tapi ada satu masalah.


"Hanya ada dua tempat tidur. Sagita dan Gemini kalian tidur di sebelah kiri. Aku dan Filaakan yang kanan."


"Um.. sudah kami bilang kami tak butuh hal seperti itu, putri Charlmilia."


Gemini mencoba menolak.


"Kami berdua adalah pengawal anda. Seharusnya tak perlu memperlakukan kami seperti ini. Lagipula kami bisa tidur di lantai." Tambahnya.


"Dan sudah aku bilang berkali kali untuk bersikaplah biasa jika hanya ada kita berempat. Aku mengerti itu tugas kalian, namun aku juga berpikir kalau perlakuan padaku seperti bertujuan untuk menjaga jarak dariku, aku salah?"


"..."


"..."


Keduanya tak membantah dan memasang wajah rumit.


Topik ini sudah berkali kali mereka bahas, jadi mereka tahu ke mana ujung pembicaraan ini. Tetapi sebanyak itu pula Gemini dan Sagita tak bisa mengubah perlakuan mereka.


Bagi mereka ini adalah misi dan sebuah tanggung jawab besar. Mengawal anggota keluarga kekaisaran adalah kehormatan besar yang tak mungkin diberikan untuk kedua kalinya.


Lalu jika mereka bisa diangkat menjadi pengawal, maka mereka juga bisa diganti. Mereka tak mungkin melakukan hal yang membuat kehormatan itu menghilang.


"Charl.. "


Charlmilia mendesah. Dia menyerah.


Untuk sekarang.


"Baiklah. Kalau begitu aku perintahkan kalian untuk tidur di sana. Kalian tampaknya suka aku melakukan hal yang tak aku inginkan."


Wajah Charlmilia benar benar kesal.

__ADS_1


Lalu setelah pengumuman dari kapten kapal, kapal udara pun mulai meninggalkan daratan menuju langit cakrawala.


__ADS_2