Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
New Enemy


__ADS_3

"Sudah seminggu lebih kita mengawasi mereka, tapi sejauh ini kita tak mempunyai kesempatan untuk melaksanakan misi kita."


Gadis di sampingnya yang memiliki rambut lurus sebahu dengan poni yang menutupi dahinya mengangguk.


"Kita tak punya banyak pilihan. Kita sedang membicarakan orang yang telah mengalahkan Lucifer."


"Itu benar, tapi bukankah kau dulu juga mengenalnya."


"Kuro adalah guruku. Cursed Blade Art yang selalu kugunakan sebenarnya adalah teknik milik dia."


"Menurut data, dia pernah menjadi anggota Shadow Knight. Misi yang telah dia selesaikan memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi daripada yang kita lakukan selama ini. Tak hanya itu, dia melakukannya dengan sempurna tanpa kesalahan sedikitpun."


"Amira, bukankah itu kabar buruk bagi kita? Kita, Black Valkryie tidak bisa dibandingkan dengan para senior di Shadow Knight. Kita hanyalah sekelompok gadis yang selalu gagal melaksanakan misi peringkat B dan A. Bagaimana kita melaksanakan misi tingkat S ini? Aku rasa orang yang memberikan misi ini pada kita sudah gila."


"Kitalah yang gila karena masih menerima misi ini. Selain itu Kuro mengetahui cara kerja kita. Aku tak merasa aneh jika kita sudah ketahuan. Meskipun ini sulit, tapi atasan tak mungkin mengirim kita bukan tanpa alasan."


"Kaulah alasannya. Sekali kali kau harus berpikir dengan serius. Otakmu itu hanya dipenuhi oleh misi misi misi dan misi saja."


"Aku tak mau dikomentari olehmu. Tapi akui misi kali ini benar benar sulit. Bagaimanapun aku memikirkannya, kita tak akan menang melawan guru Kuro"


"Hm, sekuat itukah dia?"


Hana mengangguk.


"Aku pernah melihat dia membantai 70 orang dalam satu detik."


"...dengan kata lain dia adalah versi dirimu yang lebih kuatkah...."


"Aku belum selesai."


"Dia membantai mereka, tapi mereka semua masih hidup, tapi disaat yang sama musuh tak bisa melakukan apapun untuk melawan balik. Hal itu karena dia memutilasi tangan dan kaki mereka."


"......ceritamu membuatku merinding. Dia pantas mendapatkan julukan 'Witch Reaper', ..sayangnya itu justru membuatku tak ingin berurusan dengannya."


"Tapi kita tak punya pilihan. Misi adalah misi. Kita harus melakukannya apapun resikonya. Selain itu, kita tak harus melawan Kuro secara langsung."


"....."


"Target kita adalah anak kecil yang bersamanya, Holy Arm milik Holy Maiden, Izriva."


Stella mendesah.


"Amira, katakan sesuatu tentang hal ini dan jangan membaca data Kuro saja. Data yang dia miliki terlalu banyak. Kau bahkan belum selesai membacanya selama 3 hari ini kan."


"Un..tinggal sedikit lagi."


Stella mendesah lagi.


"Baiklah, kita lakukan. Tapi sejak awal ini adalah misi mustahil. Kita sedang berusaha mengambil permen dari monster. Kita tak bisa bermain main kali ini."


Amira dan Hana mengangguk bersamaan.


"Kau mengatakan seolah kita selalu bermain main."


"Yah, tapi kita selalu menyelesaikan misi kita, jadi bermain bukanlah masalah besar. Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kalian ada ide?"


"Target kita selalu bersama dan lebih sering menghabiskan waktu dengan gadis itu. Kurasa itu adalah kesempatan terbaik kita."


Stella mengangguk tanda setuju dan mengerti.


".....tapi gadis itu adalah putri paladin. Dia tak lemah."


"Aku tahu itu. Tapi jika dibandingkan guru Kuro, dia bukanlah lawan yang berat."


"Hana, jangan lengah. Dia adalah salah satu orang yang selamat dalam pertempuran di Dragonia. Jika dia berhasil selamat, itu artinya dia mempunyai kekuatan yang tak bisa kita anggap remeh."


Saat sedang mengobrol suatu yang kurang penting (?), mereka mendengar ledakan yang cukup keras dari danau Limph. Mereka melihat air menyembur tinggi seperti geyser dan beberapa ikan Rellfish yang terbang dan hangus.


"........"


"........"


".......kita dalam masalah besar..."


Amira dan Hana langsung mengangguk tanda setuju dengan perkataan Stella. Mungkin ini adalah misi paling berat dan paling berbahaya yang pernah mereka lakukan.


♦️♦️♦️


Sementara itu di pinggir danau Limph, Laila terengah engah setelah menggunakan salah satu sihir terkuatnya, Sacred Magic Art, Meteor Cannon Blade. Itu adalah sihir yang dia pernah gunakan untuk menyerang Laiko, tapi tak memberikan dampak berarti.


"Seperti yang kuduga, sihir itu sama sekali tak banyak berguna dalam pertempuran."


Kuro yang tak jauh darinya mulai memberikan komentarnya.


Dalam segi kekuatan Meteor Cannon Blade memiliki kekuatan penghancuran yang dahsyat, tapi butuh persiapan yang lama. Selain itu serangan hanya bergerak secara lurus.


Jika lawan sudah terkurung dan tak bisa bergerak, Meteor Cannon Blade menjadi serangan yang ampuh, tapi di dunia ini tak mungkin ada orang yang diam saja melihat serangan mengarah padanya.


"Ha ha.. aku tahu, tapi itu adalah serangan terkuatku. Kau bisa melihatnya sendiri kan?"


"Ya, jika itu adalah sihir untuk memancing ikan, aku sangat setuju denganmu."


"......."


Wajah tak senang dan malu terlihat dengan jelas di wajah Laila. Dia tak bisa membantah kalau serangannya hanya mampu membunuh ikan.


"Ayolah, kau tahu kita sedang berusaha meningkatkan kekuatanmu kan. Bukankah kau sendiri yang memintaku mengajarimu?"


"..aku tahu itu, tapi ketika serangan terkuatku hanya dianggap serangan bom ikan, jujur saja aku sedikit tersinggung."


Kuro tersenyum pahit.


Jam pelajaran telah usai, karena itulah Kuro dan Laila berlatih untuk meningkatkan kekuatan Laila. Tentu saja Lic tak lupa bersama mereka. Tapi Lic tak berlatih dan justru sibuk membaca buku di bawah pohon tak jauh dari mereka.


Lic sekarang tak seperti anak kecil lagi, tapi bukan berarti tak bertingah manja kepada Kuro dan Laila. Kemampun Lic yang mampu belajar dengan cepat membuat dia bisa dikatakan jenius. Tapi hal ini justru membuat Kuro dan Laila kawatir.


Kepintaran Lic telah membuat dirinya tahu siapa sebenarnya dirinya dan hubungan sebenarnya dirinya dengan Kuro dan Laila. Dirinya bukan manusia. Dia tak memiliki ikatan apapun dengan keduanya kecuali dirinya adalah spirit yang merasuki pedang Kuro.


Tapi hal ini justru menimbulkan pertanyaan baru. Meskipun dirinya sudah tahu siapa dirinya, tapi dia masih tak tahu kenapa dirinya merasuki pedang Kuro. Kekuatan yang dia pakai saat hampir bertarung dengan Electra juga suatu yang dia tak mengerti. Saat itu Lic hanya berpikir melindungi Laila.


Jika ingatannya tak hilang, mungkin dia tahu semua jawabannya. Tentang siapa dirinya yang sebenarnya dan kenapa dia merasuki pedang Kuro.


"......"


Lic menatap Kuro dan Laila yang sedang bertengkar. Pertengkaran kecil di antara mereka sering terjadi dan itu bukanlah suatu pemandangan yang mengherankan bagi dirinya.


Dia pernah membaca bahwa pertengkaran adalah tanda hubungan mereka baik. Lic tak tahu pasti hal itu, tapi dirinya hampir tak pernah bertengkar dengan orang yang dia panggil Mama dan Papa itu. Apakah itu artinya dirinya tak memiliki hubungan baik dengan keduanya?


Itu juga tak benar. Hubungan dirinya dengan keduanya begitu membahagiakan dan dipenuhi oleh kasih sayang. Entah kenapa dia selalu merasakan kehangatan saat bersama mereka berdua dan ingin membuat keduanya merasakan apa yang dia rasakan.


"Baiklah, aku minta maaf. Lagipula aku tak mengatakan itu adalah bom ikan, tapi jika kita tak memperbaiki hal ini, maka serangan ini tak akan berguna di masa yang akan datang."


"Aku tahu itu. Meteor Cannon Blade aku buat dengan tujuan agar bisa menyerang target yang jauh. Kau tahu kan sebagai petarung tipe jarak dekat, aku akan kesulitan jika mempunyai lawan tipe jarak jauh."


"Tapi bukankah kau sudah memiliki serangan jarak jauh?"


"Aku memang bisa membuat pedangku terbang mengarah ke targetku, tapi sejauh ini aku masih kesulitan mengenai targetku dengan tepat. Dan itu juga membutuhkan stamina dan konsentrasi yang luar biasa."


"....Jika diingat lagi aku memang bisa menghindari seranganmu dengan mudah."


"........"


"Jika jumlah Scarflare hanya satu, aku ragu kau bisa mengenai lawanmu."


Air mata langsung mengalir dari kedua mata Laila. Wajahnya juga memerah karena marah.


"Tunggu sebentar, apa kau mau mengatakan kalau selama ini aku menang karena Scarflare dan bukan karena kemampuanku sendiri?"


"EH? Tu-Tunggu aku tak bermaksud mengatakan itu."


Laila tak peduli dan memunculkan puluhan Scarflare di udara. Target Scarflare tentu saja adalah Kuro.


"Lalu bagaimana dengan dirimu. Kau hanya bisa mengkeritik saja. Rasakan ini, kau pasti akan tahu aku tak bergantung kepada Scarflare saja."


"Laila, tut-tunggu..."


"Menarilah Scarflare, Burning Dance."


Pinggir danau Limph kembali dipenuhi oleh ledakan yang berasal dari serangan Laila. Asap mengepul dan pemandangan tak bisa terlihat dengan jelas, tapi satu hal yang pasti, inilah keseharian yang selalu dilalui Lic.


Langit telah senja dan malam mulai tiba di kota Areshia. Lic, Kuro dan Laila pulang setelah berlatih. Lic berada di tengah mereka dengan tangan digandeng keduanya.


Berbeda dengan Laila dan Lic yang bersih dan rapi, wajah Kuro dipenuhi oleh arang dan membuat wajahnya kehitaman. Hal ini tentu membuat banyak yang bertanya 'apa yang sebenarnya terjadi?'.


Mereka tak langsung pulang dan menuju daerah pertokoan tempat rumah Fila berada. Mereka masuk dan langsung disambut oleh Fila dan ayahnya.


"Selamat datang, Kuro, Laila." Fila menunduk dan berusaha memegang kepala Lic. "Selamat datang, Lic."


Sebelum sempat menyentuh kepalanya, Lic menghindar dan tak mau disentuh Fila. Fila hanya tersenyum kecil karena sudah terbiasa dengan sikap Lic kepadanya.


"Selamat datang, Laila, Lic.. dan...bocah tengik."


Kuro tertawa pahit.


"Seperti biasa kau masih membenciku, pak tua."


Kuro dan Irho menunjukkan tatapan permusuhan. Percikan muncul di antara keduanya.


"Ya ampun, mereka mulai lagi."


"Aku heran kenapa mereka tak bisa akur."

__ADS_1


Lic hanya memiringkan kepalanya.


Irho dan Fila mengetahui situasi yang Kuro dan Laila alami saat ini. Tepatnya mereka diberi tahu oleh keduanya. Awalnya mereka terkejut, tapi perlahan mereka mulai terbiasa dengan ketidak wajaran itu.


Atmosfer semakin mencekam dan aura keduanya juga sudah siap akan bertarung kapan saja. Melihat itu Fila dan Laila hanya bisa mendesah berat.


"Paman, Kuro."


"Hentikan sekarang juga." sambung Fila.


Keduanya langsung meng-klik lidahnya dan membuang muka. Keduanya memang sulit akur sejak pertama kali bertemu. Tak ada yang tahu alasan pasti, tapi itulah yang terjadi selama ini.


"Kuro, ini barang pesananmu."


Fila memberikan sebuah pedang katana yang bersarung hitam. Sekilas mirip pedang lamanya dulu, tapi tanpa lonceng.


Lonceng yang berada di pedang Kuro juga menghilang. Masih tak ada yang tahu kemana lonceng itu pergi, tapi kemungkinan besar lonceng itu juga menyatu dengan Lic.


Kuro menerimanya lalu menarik pedang dari sarungnya.


"Aku harap kau suka dan sesuai pesananmu."


"......."


Tak banyak komentar dari Kuro. Tatapannya fokus dengan pedang katana keperakan yang memantulkan bayangannya.


"Kami membuatnya dari Orichalcum dan Mithril. Tak lupa kami juga menambahkan logam terkuat yang ada. Meskipun sulit, tapi bisa dikatakan ini adalah pedang terbaik buatan kami."


"Hmm ... bukankah itu material terkuat yang ada di dunia. Kudengar bahan itu langka dan sulit diolah."


"Laila benar, tapi kami memiliki koneksi jadi mendapatkan material itu bukanlah hal sulit. Tapi sekarang itu adalah bahan yang umum sebagai bahan pedang. Pedang itu bahkan memiliki kekuatan setara Magic Arm."


Laila langsung tersenyum puas dan menoleh ke arah Kuro.


"Kuro, bukankah kau sena-"


Kraaaaak!


"........"


Suara pedang patah terdengar. Dan suara itu berasal dari pedang Kuro. Semuanya terbengong dengan apa yang terjadi atau lebih tepatnya sulit percaya dengan apa yang terjadi.


"......sudah kuduga pedang ini akan langsung patah... hm, kenapa kalian menatapku seperti itu?"


Tak lama kemudian teriakan terdengar dari dalam toko. Yang berteriak bukanlah Fila, tapi ayahnya.


"Hei bocah tengik, apa yang kau lakukan?"


"Seperti ya kau lihat, aku mencoba pedangmu. Apakah matamu sudah rabun? Aku tak keberatan membelikan kacamata untukmu, Pak Tua."


Kemarahan terpancar dari tatapan Irho, tekanan mana juga meningkat pesat, tapi tekanan itu langsung menghilang.


Irho mendesah.


"Aku akan bersabar kali ini. Jika kalah berdebat dengan bocah sepertimu, aku akan malu sendiri."


"....syukurlah kau mengerti."


"Tapi bagaimana bisa kau mematahkan pedang itu? Kau tak menggunakan kekuatan Demon King kan?"


"Aaayaaaahhhhhh....."


Irho langsung berkeringat dingin karena merasakan aura mencekam dari Fila.


Kabar mengenai Kuro adalah keturunan Demon King sudah menjadi kabar umum. Bahkan sebagian murid sekolah dan penduduk kota Areshia juga mengetahui hal ini. Meskipun begitu, tak ada yang panik, hanya saja penduduk sedikit menghindari Kuro.


Untunglah hal ini tak mempengaruhi hubungan Kuro dengan Laila. Itulah yang terpenting, tapi masih yang banyak penasaran kenapa Laila mau tetap menjalin hubungan dengan Kuro.


"...aku minta maaf. Ayah tak bermaksud seperti itu, tapi bagaimana mungkin dia mematahkannya dengan mudah?"


"Aku hanya mengaliri pedang ini dengan Ki lalu menyesuaikannya dengan energi yang biasa kugunakan, tapi pedang ini menolakku."


"Menolak?"


"Mudahnya pedang ini tak sesuai denganku. Pak tua, mungkinkah kau menggunakan sihir untuk membuat pedang ini?"


"Benar." Jawab Fila. "Kami selalu memakai sihir untuk mempersingkat pembuatan dan mengolah material yang sulit seperti Orichalcum. Apakah itu masalah?"


"Bukan masalah, tapi jika pemakainya adalah penyihir."


Fila dan Irho tersentak seperti menyadari sesuatu.


"Ya. Kalian biasa membuat pedang untuk penyihir, karena itulah kalian tanpa sadar membuatnya untuk penyihir. Ki dan Mana adalah dua energi yang berbeda, meskipun tak bertentangan, tapi keduanya sulit bersatu. Karena itulah yang menyebabkan pedang buatan kalian hancur."


"....."


"......"


"Tapi bukan berarti aku bilang senjata kalian tak cukup kuat, hanya saja tak cocok denganku."


"Ha.... sudah kuduga akan seperti ini. Jadi inikah yang kau maksud dengan sulit menemukan senjata yang cocok. Jadi apakah kita akan melaksanakan rencana B?"


Setelah Lic menjadi Cursed Arm, bukan berarti Kuro bisa menggunakan Lic sebagai senjata seperti yang terjadi kepada Cursed Arm/Holy Arm pada umumnya. Alasan terbesar bukan karena Lic menjadi anak manusia, tapi Laila tak memperbolehkannya.


Alasan kedua karena Lic belum bisa mengontrol kekuatan yang dia miliki. Akan berbahaya jika Lic kehilangan kendali. Karena itulah Kuro harus menemukan senjata pengganti Lic.


Tapi menemukan senjata yang mampu mengimbangi kekuatan Kuro tidaklah mudah. Karena itulah mereka menyiapkan rencana B, yaitu menggunakan Magic Arm Laila sebagai senjata Kuro.


"Tapi itu artinya aku harus bergantung kepadamu."


"Fufufu.. kau memang harus melakukannya mulai sekarang. Jadi jangan meremehkan aku lagi, mengerti Ku....ro?"


"Tch.."


"Hey, kau tadi bilang "Tch", apa maksudmu? Bisakah kau menjelaskannya?"


Kuro langsung menghindari bertatapan dengan Laila dan menoleh ke arah Fila.


"Jangan menghindariku. Cepat jelaskan!"


"Fila, pak tua, kalian sudah mengerti apa yang harus kalian lakukan?"


"Jangan mengabaikanku!!!"


Ayah Fila dan Fila saling menatap satu sama lain.


"Sebagai pembeli kau sungguh menyebalkan, tapi motto kami adalah memuaskan pelanggan kami."


"Kenapa kau tak menjelaskan bagaimana kami harus membuatnya? Bukankah kau juga mengerti tentang membuat pedang?" sambung Fila.


Kuro tersenyum kecil. Dia senang, tapi disaat yang sama dia justru melirik ke arah Lic.


"Lic, bisakah kau menjelaskannya? Aku yakin kau pasti tahu pedang yang cocok untuk papa."


Lic melangkah maju dan mendekat ke arah Irho dan Fila. Tatapan Lic berubah.


"Aku mengerti, Papa."


Seperti apa yang diperintahkan Kuro, Lic memberi tahu Irho dan Fila. Sebagai spirit yang merasuki pedang Kuro, Lic adalah orang yang paling tahu tentang pedang yang selama ini Kuro pakai.


Mendengar penjelasan Lic, Laila, Fila dan Irho langsung terkejut. Pedang yang Kuro selalu pakai bukanlah suatu yang sulit dibuat, hanya saja proses pembuatannya yang memakan waktu.


"Jika seperti itu, maka aku memperkirakan pembuatannya memakan waktu satu tahun lebih. Hasilnya berbeda jika menggunakan sihir, tapi-"


Irho ingat penjelasan Kuro karena itulah dia tak bisa melanjutkan perkataannya.


"Itulah permasalahannya. Satu bulan lagi akan diadakan Triball. Jika kami menjadi yang pertama, kami akan bertarung dalam Battle War 4 bulan lagi. Tanpa senjata, aku akan sulit bertarung."


"Kami bukannya tak mengerti kebutuhanmu, selain itu musuh juga tak akan tinggal diam dan mungkin akan mencari ke-"


"Ayah!"


Suasana menjadi tak enak. Tapi tak ada yang bisa menyalahkan Irho. Dia hanya ingin menyampaikan kenyataannya saja.


"Ha..."


Kuro mendesah dan mengelus kepala Lic.


"Jangan pikirkan perkataan pak tua itu."


Lic tak menjawab dan justru terdiam saja.


"Kembali ke permasalahan. Aku rasa aku akan menggunakan rencana cadangan yang kami buat, tapi aku minta kalian tetap membuatkannya meskipun memakan waktu. Lagipula tanpa senjata bukan berarti aku lemah. Lagipula aku keturunan Demon King."


Tak ada yang menganggap lelucon Kuro suatu yang patut ditertawakan. Itu juga bukanlah suatu yang pantas digunakan sebagai lelucon.


"Laila, aku mengandalkanmu."


"Iya iya. Apa yang bisa kau perbuat tanpaku..."


"Itulah alasan kenapa aku memilihmu."


"Papa."


"Kau juga Lic."


Aura kebahagiaan terlihat di antara ketiganya. Ikatan yang kuat terlihat begitu jelas dan dapat terlihat pula bahwa ikatan mereka tak mudah dipatahkan.


Irho melirik Fila yang mengepalkan tangannya. Sebagai seorang ayah dia tahu perasaan yang putrinya rasakan saat ini.


"Kurasa kami sudah terlalu lama disini, lagipula urusan juga sudah selesai. Kami mau pamit dulu."

__ADS_1


"Baiklah. Maaf kami masih tak bisa membuatkan pedang sesuai keinginanmu."


Irho memperlakukan Kuro dan lainnya sebagai pelanggan. Meskipun dirinya tak suka, dia harus beramah tamah dengan mereka.


Kuro dan lainnya melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Laila bahkan sudah membuka pintu.


"Kuro, tunggu."


Mereka berhenti oleh perkataan Fila yang tiba tiba.


"Fila, ada apa?" tanya Laila.


"Tidak, bukan apa apa, hanya saja ada cara kau mendapatkan pedang yang Kuro inginkan dengan waktu yang cepat."


Kuro dan Laila langsung terkejut, tapi disaat yang sama ekspresi senang terlihat dari mereka.


"Apa maksudmu?"


"Mungkinkah kau bisa mempersingkat waktu pembuatannya dan mempertahankan kualitasnya?"


Fila tak langsung menjawab, tapi dia perlahan mengangguk pelan.


"Fila, kau tak bermaksud menggunakan cara itu kan?"


"..hanya itu satu satunya cara, Ayah."


Wajah pucat dan tak senang langsung terlihat di wajah Irho, tapi dia tak berusaha menghentikan Fila.


Sudah lama dia tak melihat wajah Fila yang dipenuhi oleh tekad yang kuat.


"....Ayah tak akan menghentikanmu, tapi-"


"Aku tahu Ayah. Tapi kita tak punya pilihan lain. Selain itu bukankah Ayah yang mengatakannya sendiri?"


Irho terdiam seperti memikirkan sesuatu, tapi tak lama kemudian dia mendesah dalam.


"Ayah, kau tahu hal ini cepat atau lambat adalah suatu yang harus kulakukan. Dan ini adalah saatnya."


"Ayah mengerti, tapi kau tak boleh berlebihan. Jika sudah kukatakan cukup, maka kau harus berhenti."


"Ayah, terima kasih."


Sementara itu, Kuro dan lainnya hanya bisa mendengar pembicaraan Ayah dan anak dan tak bisa mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Maaf, kalian pasti bingung, tapi sesuai dengan perkataanku tadi, kami bisa membuatkan pedangmu dalam waktu singkat."


Kuro tersenyum dan langsung saja melangkah ke depan Fila dan memegang tangannya.


"Benarkah itu?"


Wajah Fila langsung merah padam.


"Hoy, jangan sentuh putriku."


"Kuro."


"...papa?"


Menyadari kesalahannya dan aura mencekam dari calon istrinya, Kuro langsung melepaskan pegangannya.


"Be-benar, tapi kami masih butuh waktu kira kira satu bulan lebih untuk membuatnya."


Kuro langsung tersenyum puas.


"Tidak apa apa. Aku senang mendengarnya. Itu lebih baik daripada harus menunggu setahun."


"A-Aku juga senang."


"Kalau beg- awww.."


Tiba tiba telinga Kuro ditarik oleh Laila.


"Sudah cukup. Kau sudah tahu pedangmu bisa selesai satu bulan lagi, sekarang ayo kita pulang. Aku sudah lapar."


Kuro langsung pucat pasi. Dia sadar Laila sedang kesal. Tanpa alasan yang jelas.


"Iya iya, tapi lepask-"


"Grrrr.."


"Baiklah.."


Kuro pun akhirnya berakhir dengan diseret Laila. Ini sungguh memalukan, tapi tak ada yang bisa diperbuat Kuro.


Setelah Kuro dan keluarga kecilnya tak terlihat lagi, Fila menggenggam kedua tangannya di depan dadanya sambil tersenyum.


"..Fila.."


"Jangan kawatir Ayah, aku memang secepatnya harus mengatasi ketakutanku." Fila tersenyum kecil dan menatap ayahnya. "Jika tak melakukannya, entah mengapa aku merasa akan tertinggal lebih jauh dari Laila."


Sementara itu, di salah satu rumah dekat markas Knight, Aldest duduk sambil bersandar dengan wajah lelah. Kepalanya juga pusing jika mengingat masalah yang dia hadapi di markas Knight.


Dia memakai piyama tipis dan seksi yang membuat lelaki manapun akan kehilangan kendali saat melihat tubuhnya.


Tiba tiba pintu terbuka dan sosok Lairo muncul dengan piyamanya. Lairo mendesah saat melihat tingkah Aldest.


"Aldest, jika kau lelah, sebaiknya cepat beristira- hooyy.."


Tiba tiba Aldest menarik Lairo dan langsung saja memeluknya dengan erat.


"Beristirahat, apa maksudmu?"


Aldest mengekspos dadanya tepat di wajah Lairo dan seperti yang Aldest duga, wajah Lairo langsung merah padam.


Aldest tertawa licik.


"Lairo, malam ini masih panjang dan ini adalah malam ketiga pernikahan kita, kau pasti tak berpikir akan mengabaikan istrimu ini kan?"


"*Gulp*"


Aldest bagaikan hewan buas yang menerkam Lairo, sayangnya sebagai lelaki dirinya tak bisa berbuat banyak. Jika dia kabur, itu sama sekali bukan pilihan yang tepat.


Sama dengan pernikahannya dengan Aldest. Dia tak bisa memilih menolak atau bahkan menunda. Pernikahan mereka diadakan mendadak dan sedikit yang tahu.


Di tempat lain, tepatnya di atas benteng yang melindungi kota Areshia, beberapa Knight sedang berjaga. Salah satu dari mereka berganti giliran dengan Knight yang lain.


"Terima kasih atas kerja kerasnya."


"Ha... akhirnya aku bisa beristirahat juga. Tolong jaga yang benar."


"Jangan mengatakan aku seolah tak melakukan pekerjaanku dengan benar. Yahh.. meskipun kurasa malam ini tak akan terjadi suatu yang menarik."


"Jika suatu yang menarik, pasti itu terjadi, tapi tak berada di tempat ini."


Keduanya langsung tertawa kecil.


"Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi antara komandan dan pria loyo itu."


"Malam ini pasti dialah yang akan diserang dan bukan menyerang."


Keduanya tertawa lagi. Saat tertawa itulah mereka tiba tiba dikejutkan oleh benda putih yang berjatuhan dengan perlahan seperti hujan.


"Apa ini?"


Keduanya keheranan. Tak hanya mereka, Knight yang lain juga merasakan hal yang sama.


Benda itu mendarat di telapak tangan mereka dan akhirnya mereka bisa tahu benda apa itu.


"Kelopak bunga?"


Tiba tiba mata mereka menjadi berat dan tak bisa mereka pertahankan untuk tetap terbuka. Semua Knight akhirnya tumbang karena tak bisa bertahan.


Semua bagian kota Areshia akhirnya dihujani oleh kelopak bunga. Semua penduduk satu persatu tertidur dengan damai seolah tak ada apapun yang terjadi.


Tapi ada beberapa yang masih tetap tersadar.


"Lairo?"


Aldest terkejut saat suaminya itu tiba tiba tertidur pulas. Disaat yang sama dia merasakan tekanan mana yang abnormal dari seluruh bagian kota. Dia melihat ke jendela dan bisa melihat apa yang sedang terjadi.


Kerutan muncul di dahi Aldest. Aura berbahaya keluar dari seluruh tubuhnya. Hall tiba tiba muncul dan bersiap dengan sabitnya.


"......."


Tanpa sepatah kata Aldest mengenakan kembali pakaiannya yang berserakan di lantai. Dia lalu keluar dari rumahnya.


Baru saja melangkahkan kakinya, sosok manusia berjubah sudah berada di depan rumahnya seperti menunggunya.


"Ya ampun, kenapa setiap kali ada gangguan, apakah kalian tak bisa membiarkan malam pertama kami?"


Sosok itu tak menjawab dan langsung saja mengeluarkan senjata dan menyerang Aldest.


"Kalian benar benar pintar membuat orang kesal."


Hall langsung saja memotong sosok itu menjadi beberapa bagian. Bagian tubuh itu melayang dekat ke arah Aldest. Disaat itulah Aldest menyadari suatu keanehan. Mayat itu tak memiliki darah.


"Jangan bila-?!"


Saat menyadari siapa musuh yang dia hadapi, semua itu sudah terlambat. Potongan tubuh itu memancarkan cahaya lalu meledak bagai bom dengan kekuatan yang dahsyat.


Asap mengepul dan sosok Aldest tak terlihat lagi. Yang tersisa hanyalah darah yang berceran di depan rumah Aldest

__ADS_1


__ADS_2