
"Ha... ha... ha... haaa..."
Yui saat ini sedang berada di bawah pohon rindang di dekat danau Limph.
Dia sedang beristirahat setelah menyelesaikan latihan(hukuman) yang diberikan oleh Kuro, yaitu mengelilingi danau 3 kali.
Dia tak mengira akan ketahuan memasukan bahan spesial yang membuat seseorang akan bergairah. Untuk Kuro efek itu kecil karena dia hampir kebal terhadap semua racun, tapi yang satunya?
Yui tertawa kecil setiap kali membayangkannya.
Nafas Yui terengah engah. Jantungnya berdebar kencang dan dia masih kesulitan bernafas. Tubuhnya juga penuh keringat.
Dia melepas sebagian bajunya dan menyisakan celana kulit dan pelindung dada agar mudah mengambil nafas.
Jarak 300 km adalah jarak yang luar biasa bagi orang normal, tapi bagi Yui, jarak itu adalah jarak yang mudah. Dia bahkan hanya menyelesaikan itu dengan waktu 6 jam. Ini adalah hasil dari latihan fisik yang dia lakukan bersama Kuro sejak kecil. Bahkan saat Kuro pergi, dia tak pernah lupa latihan.
Lari adalah cara yang paling mudah untuk melatih daya tahan, tapi Yui dan Kuro selalu memakai beban latihan. Hal ini tentu membuat mereka berdua memiliki kekuatan fisik di atas normal.
Yui juga menguasai [Ki], hal ini juga membuat Yui bahkan bisa mengalahkan penyihir peringkat S meskipun dia hanya penyihir berperingkat B.
"Rubya, apa yang kau lakukan?"
Yui melirik Rubya yang tak jauh darinya, tepatnya berada di danau sedang berenang.
Ini suatu hal yang tak biasa mengingat Rubya adalah naga jenis Fire Dragon Class, tapi Rubya cukup pandai berenang.
"Kehh... Dasar curang, saat aku sedang kelelahan, kau justru bersantai."
Meskipun ada Rellfish di danau, namun ikan tak akan ceroboh menyerang naga sebesar 3 meter.
Yui berdiri lalu dengan cepat berlari ke arah danau.
Yui melompat cukup tinggi lalu salto 3 kali di udara sebelum tubuhnya masuk ke danau dan menghilang.
"Bhuuuuuu...."
Setelah beberapa saat, Yui muncul di permukaan danau dan menyemburkan air yang sempat dia minum.
Disaat itulah Rubya mendekat ke arah Yui.
"Waaaaaa.... segarnya.."
Yui menggelengkan kepalanya dan melepas ikat rambutnya yang basah.
Ikat rambut yang dia gunakan merupakan pemberian Kuro di ulang tahunnya ke 9. Meskipun sudah lama, namun dia sangat menyukai ikat rambut pemberian Kuro.
(Apa yang dilakukan kak Kuro sekarang?)
"........"
Dia penasaran apa yang dilakukan Kuro saat ini.
Dia tahu Kuro pasti sekarang sedang bersama dengan Laila, tapi ketika mengingat apa yang dilakukan Kuro dan Laila akhir akhir ini, dia tak bisa menyembunyikan rasa tak senangnya meskipun dia mendukung hubungan mereka.
Dia selalu berpikir bahwa dialah yang paling berhak di posisi Laila saat ini, tapi dia tahu bahwa itu hanyalah keegoisannya semata. Apa itu salah?
Yui tak pernah berpikir bahwa keinginannya adalah suatu kesalahan.
Dia sekarang senang karena Kuro telah menemukan orang yang menerima sisi gelapnya. Sisi yang membuat orang berpikir kalau Kuro adalah iblis.
--Tapi bukankah setiap orang memiliki sisi gelap?
Kuro memang terdengar kejam, tapi Yui tahu Kuro adalah orang yang paling baik yang pernah dia tahu.
Memperoleh kekuatan untuk melindungi, bertahan hidup, mendapatkan apa yang diinginkan, menang, dan yang paling penting adalah cinta. Apa yang salah dengan itu?
"Rubya, ada apa?"
Saat sedang merenung, Yui bingung karena Rubya terdiam dan tak bergerak. Rubya terus menatap ke arah yang sama sejak tadi.
Yuipun melihat ke arah langit yang dilihat Rubya.
Yui dapat melihat sesuatu seperti burung yang terbang menuju kota Areshia, tapi Yui tahu kalau itu bukanlah burung.
"....Naga?"
Rubya meraung kecil tanda tebakan Yui benar.
Naga dapat merasakan kehadiran naga lainnya dalam radius yang cukup luas. Itulah kenapa Rubya tahu kalau ada naga selain Laiko yang terbang ke arah kota Areshia.
"Hmmm... mungkinkah..."
Setelah berpikir, Yui mengikat kembali rambutnya dan dan berenang ke pinggir danau.
"Rubya, cepat keluar!"
Rubya menuruti perintah Yui dan perlahan berenang ke pinggir danau.
Setelah sampai, Yui dengan cepat memakai pakaiannya dan memakai ikat pinggang yang digunakan untuk membawa dua belati kesayangannya.
Tak berapa lama, Yui dapat mendengar perintah evakuasi dari kota Areshia, dan disaat bersamaan, sebuah bayangan besar lewat tepat di atas Yui.
Yui langsung menoleh ke atas dan melihat sosok naga yang sudah dia kenal sejak kecil. Naga pertama Kuro yang pernah membantai perampok yang menyerang klan Blad.
"Sudah kuduga itu kau, Ruby."
Yui hanya bisa tersenyum saat melihat Ruby terbang di atas kota dan membuat seisi kota panik.
Sementara itu di markas Knight. Aldest sibuk memerintahkan anak buahnya untuk bersiap siap menghadapi serangan naga.
"Perintahkan semua Knight di kota untuk berhenti menjalankan tugas mereka dan segera bersiap untuk menghadapi musuh kali ini."
"Semua?"
Saat ini di Knight di kota Areshia berjumlah 500 lebih. Aldest memerintahkan semuanya untuk menghadapi satu naga, ini bisa dibilang sedikit tak masuk akal, tapi-
"Ya. Apa kau tak dengar perintahku? Atau kau tak mengerti musuh yang kita hadapi saat ini?"
"Tidak.. hanya saja..."
"Naga itu puluhan kali lebih kuat daripada naga yang menyerang 2 minggu lalu. Sekarang apa kau mengerti?"
"Ba-baik."
"Satu hal lagi, perintahkan untuk memperkuat perisai hingga maksimum dan jangan ada yang menyerang naga itu sebelum aku perintahkan atau aku sendiri yang akan mengirim kalian ke neraka.!"
"Ba-Baik, Bu Aldest."
Anak buah Aldest langsung menggunakam sihir komunikasi untuk menyebarkan perintah Aldest ke seluruh Knight di kota Areshia.
Aldest sekarang terlihat kejam dan sadis. Itulah sosok Aldest yang sebenarnya.
Tapi saat ini Aldest tak punya pilihan selain bertindak kejam karena tak ingin kejadian dua minggu terulang kembali. Dia tahu naga yang berada di atas kota merupakan naga terkuat di dunia. Meskipun tak tahu tujuan naga itu terbang ke kota Areshia, namun dia harus bersiap untuk keadaan yang terburuk.
"Bu Aldest!"
"Ada apa?"
"Nyonya Electra menghubungi anda."
"Eh? Cepat sambungkan!"
Anak buah Aldest langsung memunculkan lingkaran sihir di udara. Dari lingkaran sihir itulah muncul Electra yang sedang santai minum teh.
Aldest tak tahu alasan kenapa Electra begitu tenang, tapi jika Electra sangat tenang, mungkin situasi tak segawat yang dia duga.
Sementara itu, Kuro saat ini berlari kembali ke sekolah bersama Laila setelah berpamitan dengan Indhi, Janes dan Fila.
Dia berlari dengan sekuat tenaga sambil membawa pedang di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya masih memegang kotak kecil yang merupakan hadiah untuk Laila.
Dia tahu ini bukan saatnya memberikan hadiah itu.
Meskipun nafasnya terengah engah dan sangat lelah, Kuro terus berlari sambil sesekali melirik naga sebesar hampir 30 meter yang berada di atas kota.
Laila tahu naga yang terbang di atas kota bukanlah naga biasa dari ukurannya. Dia ingat ada naga yang dikenal sebagai naga legendaris. Dragon King Class.
"Kuro, kenapa kita kembali ke sekolah?"
"Sudahlah, ikut saja!"
Laila tak terlalu mengerti dan terus mengikuti Kuro.
Setelah beberapa saat, mereka melewati pintu gerbang sekolah yang sepi. Kuro tahu semua murid pasti sedang berada di tempat perlindungan.
Disaat yang sama, perisai di atas kota berubah warna. Mereka tahu perisai telah diperkuat.
Awalnya Laila mengira Kuro pergi ke tempat perlindungan karena saat ini mustahil bagi dia untuk mengalahkan naga itu, tapi Laila salah.
Kuro berlari ke halaman yang cukup luas dan berhenti. Laila berdiri di samping Kuro sambil melihat naga yang kini terlihat dengan jelas.
Entah mengapa, naga itu tampaknya melihat Kuro seperti menemukan barang yang dicari dan terbang ke atas sekolah.
Roooooaaaarrrr!!!
Naga itu meraung dengan keras seperti sebuah teror.
Naga itu membuka mulutnya lebar lebar. Ratusan gigi taring terlihat bersamaan cahaya yang berkumpul ke dalam kerongkongan. Naga merah itu bersiap mengeluarkan Dragon Breath, tapi tak hanya itu, formasi pentagram muncul di depan mulut naga itu dengan berbagai ukuran dan bertuliskan huruf yang tak diketahui seperti lingkaran sihir.
"Jangan bilang kalau...."
Firasat Laila benar. Naga itu menyerang perisai kota dengan Dragon Breath yang puluhan kali lebih kuat dari serangan Laiko.
Cahaya merah ditembakan dari mulut naga itu dan melewati setiap pentagram yang membuat cahaya itu semakin membesar sebelum membentur perisai dengan keras.
Ledakan besar terdengar. Laila dapat merasakan tekanan mana yang besar dan tanah yang bergetar akibat perisai yang menahan serangan naga itu.
Perisai di atas kota adalah perisai yang lebih kuat daripada yang digunakan dalam duel, selain itu sekarang perisai diperkuat hingga maksimal.
Laila dan semua knight berpikir perisai pasti dapat menahan serangan naga itu, tapi-
Kraaakkk... kraaakkk... kraakkk....Crasssshhh..
Retakan terdengar dengan keras dan menyebar seperti kaca yang pecah. Perisai akhirnya hancur seluruhnya dan berhamburan menghujani kota Areshia menjadi partikel.
Mata Laila terbuka lebar dan tercengang. Hal yang sama juga dilakukan 500 Knight yang melihat untuk pertama kalinya perisai kota dihancurkan dengan mudah.
Kejadian selanjutnya tentu dapat ditebak. Naga merah yang dikenal sebagai naga terkuat di dunia terbang ke kota dan menuju ke arah sekolah, tepatnya ke arah Kuro.
"Kuro..., ayo cepat pergi dari sini!!"
"..........."
Laila berteriak dengan panik, tapi Kuro terlihat tenang. Dia bahkan tak bergerak sedikitpun dan terus melihat naga yang terbang ke arahnya.
"Kuh..."
Tak ada pilihan, Laila menarik lengan Kuro untuk memaksanya pergi, tapi Kuro menggelengkan kepalanya tanda menolak ajakan Laila.
"Jangan kawatir, Ruby datang untuk menemuiku."
Kuro mengucapkan itu sambil tersenyum kecil. Hal itu membuat Laila sadar kalau-
"Jangan bilang kalau?"
-Naga itu salah satu naga Kuro?
Disaat yang bersamaan, hantaman keras terdengar di depan Laila dan Kuro yang membuat asap debu berterbangan ke segala arah.
Secara reflek Laila menutup matanya, tapi Kuro hanya terdiam dan tak bergerak.
Roooooooaaaaarrrrr!!!
Raungan keras memecah telinga langsung melenyapkan debu sebagai bukti kedahsyatan raungan.
Tak berapa lama, datang puluhan, tidak, ratusan Knight yang mengelilingi Ruby dan Kuro di jarak 20 meter. Semua Knight itu terlihat terkejut dan berkeringat dingin. Wajah mereka juga pucat pasi dan gemetaran.
Kuro mengamati seluruh Knight dengan tatapan tajam dan tidak senang.
"Tampaknya pesta akan meriah kali ini."
Dengan nada dingin, Kuro melangkah ke arah Ruby. Sebelum itu, dia melempar kotak kecil ke arah Laila.
Laila menangkap kotak dengan kedua tangannya dan terkejut.
"Ini..."
".....untukmu."
Laila tak tahu dan hanya bisa melihat Kuro yang mendekat ke kepala Ruby yang lebih tinggi dari Kuro.
Semua Knight masih terdiam dan mengamati. Mereka diperintahkan untuk tak berbuat ceroboh seperti dua minggu yang lalu, tapi mereka tahu juga tak bisa selamanya berdiam diri. Mereka hanya takut. Itu normal.
"...... sudah lama tak bertemu, Ibu!"
"................Huh?"
__ADS_1
Laila terkejut dan kehabisan kata katanya. Apa dia salah dengar?
Kuro baru saja memanggil naga itu 'ibu'?
Tak hanya Laila, semua Knight juga menunjukkan ekspresi yang sama.
"Begitu rupanya..."
Tiba tiba seorang wanita berusia 20an muncul di antara para Knight.
"Bu Aldest?"
"Sudahlah. Perintahkan semuanya kembali menjalankan tugas mereka. Dari sini, aku yang akan mengurusnya."
"Ta-tapi.."
Aldest langsung memberikan tatapan tajam dan menyeramkan sebagai tanda dia tak mau mendengar perkataan anak buahnya.
Tapi dia tahu kalau anak buahnya hanya kawatir.
"Ba-baiklah Bu Aldest."
Anak buah Aldest langsung menyampaikan perintah menggunakan sihir komunikasi.
Semua Knight menunjukkan ekspresi bingung dan tak mengerti, namun mereka perlahan mulai pergi menjalankan tugas mereka dengan ekspresi tidak puas.
Disaat yang bersamaan, pengumuman bahaya telah berakhir terdengar di kota. Itu memang benar, tapi sumber bahaya kini tersembunyi di balik dinding sekolah yang cukup tinggi.
"Ibu? Apa maksudmu?"
Setelah Knight pergi, Laila mendekati Kuro dan bertanya.
Dia mulai terbiasa dengan kehadiran naga, jadi dia tak terlalu takut dengan Ruby meskipun 4 kali lebih besar dari Laiko.
"Ahhh... Ruby-lah yang merawatku sebelum aku tinggal bersama klan Blad."
Laila ingat kalau Kuro tinggal bersama klan Blad di usia 6 tahun. Dengan kata lain, sebelum itu dia dirawat oleh naga?
Satu hal yang terlintas di pikiran Laila adalah, jika naga itu adalah ibu Kuro, itu berarti naga itu calon mertuanya? Ini sungguh menggelikan.
"Aha ha... begitu rupanya. Aku tak menyangka kau bahkan menakhlukan naga legendaris...."
Laila hanya bisa tersenyum kering.
Disaat itulah Aldest datang mendekati mereka berdua. Aldest terlihat tidak senang, tapi dia tak menunjukkan hawa permusuhan.
"Sekarang apa yang kau perbuat dengan naga itu? Memerintahkannya untuk menghancurkan kota?"
"....Aku tak tahu siapa kau, tapi idemu sangat menarik."
"Kh..."
"Sayang sekali aku tak punya waktu melakukan itu."
Kuro tak tahu siapa Aldest, tapi dia tahu kalau tidak disukai. Bagi Kuro itu bukanlah masalah.
Kuro menoleh ke arah Ruby yang sejak tadi terdiam seperti sedang beristirahat. Nafas Ruby juga terengah engah. Kuro tahu Ruby pasti kelelahan setelah terbang jauh dan mengeluarkan Dragon Breath untuk menghancurkan perisai kota.
Ruby terpaksa menghancurkan perisai karena dia tak bisa lewat seperti Laiko, dengan kata lain, pasti ada hal yang sangat mendesak.
Kuro menyadari itu lalu berkomunikasi dengan Ruby melalui telepati.
Kuro lalu mengangguk dan menoleh ke arah tanduk Ruby. Di tanduk itu terdapat gulungan yang diikat sebuah tali.
Kuro melompat ke atas kepala Ruby dan mengambil surat, setelah itu dia turun kembali ke dekat Laila.
Disaat itulah Yui datang bersama Rubya dan Laiko.
"Ruby......"
Yui melompat ke arah Ruby dan memeluknya. Sementara Rubya dan Laiko mendarat tak jauh dari mereka.
Melihat pemandangan ini, Aldest hanya bisa menaikan alisnya dan mendesah dalam.
"Kuro, apa itu?"
"Surat dari Dragonia."
"Eh?"
Kuro dan Laila mengabaikan sekitarnya dan fokus dengan masalah mereka.
Kuro tahu surat itu dari Dragonia dari segel surat.
"Mungkinkah surat dari Diana?"
Yui tiba tiba menyambung. Dia sekarang duduk di kepala Ruby dengan bersila.
"Ahhh... mungkin saja."
".....Siapa Diana?"
Laila bertanya karena dialah satu satunya yang tak tahu tentang Diana. Tapi jika Yui tahu, hubungan Diana dengan Kuro pasti cukup dekat.
"Dia putri kerajaan Dragonia dan temanku."
"Putri? .....teman?"
Sebuah jawaban yang tak disangka Laila.
Laila sekarang tahu Kuro punya hubungan dengan putri kerajaan Dragonia. Yang menjadi pertanyaan, seberapa dekat mereka? Apakah hanya sebatas teman?
(Kurasa mereka lebih dari teman...)
"Kuro, dulu kau menolak ciuman dariku karena pernah berciuman dengan tuan putri... mungkinkah.....?"
Kuro merasakan hawa membunuh dari Laila.
"Apa aku pernah mengatakan itu? Ha ha.. kau pasti salah dengar...."
".........."
"..... Kau terlalu berlebihan memikirkannya. Haha... yang terpenting saat ini adalah membuka surat ini. Jika kau penasaran, kau boleh ikut membacanya."
"Baiklahhh... Akan kucari tahu nanti."
Laila tersenyum tipis. Dia menyadari Kuro tak menyembunyikan surat yang bisa dibilang pribadi untuk Kuro sebagai bukti hubungannya dengan Diana hanyalah sebatas teman.
Kuro perlahan membuka surat yang tersegel. Laila tak menyangka surat itu cukup banyak.
Disinilah masalah muncul.
"Kuro."
"Ya?"
"Alasanmu memperbolehkan aku membaca, karena.....-"
"Hm? Kau tak bisa bahasa Dragonia ya? Aku sungguh terkejut! " ucap Kuro dengan nada datar.
Surat dari Diana ditulis dengan menggunakan bahasa Dragonia. Bagi Laila yang hanya menguasai bahasa kekaisaran Houou, membaca surat yang ada di tangan Kuro adalah mustahil.
Tetapi bahasa kekaisaran sudah seperti bahasa internasional yang dipelajari oleh negara lain, nama mungkin Diana tak bisa menulis menggunakan bahasa kekaisaran. Jika hal itu masih dilakukan, itu berarti ini adalah salah satu langkah agar surat tak dibaca orang lain selain Kuro.
Yang membuat Laila marah adalah Kuro tampaknya sudah tahu hal ini.
"Kau tak usah berpura pura! Cepat bacakan apa isi surat itu!"
"Baik.. baik.."
Kuro melirik surat dengan teliti, disaat itulah dia memasang wajah rumit.
"Diana hanya ingin tahu kapan aku pergi berkunjung ke Dragonia. Itu saja."
Kuro membaca lembaran selanjutnya, tapi kali ini dia terdiam dan ekspresinya langsung berubah drastis.
"Kuro?"
Kuro mengabaikan Laila dan membaca surat itu dengan teliti hingga selesai.
"Maaf Laila, aku ada urusan sebentar."
Kuro memberikan semua surat kepada Laila dan pergi menuju ke bangunan sekolah, tepatnya bangunan ruang kepala sekolah.
Laila tak tahu apa yang terjadi dengan Kuro, tapi dia tahu pasti ada hubungannya dengan surat dari Diana.
"Andai saja aku tahu apa surat i- Hey..."
Laila terkejut saat wanita yang tidak dia kenal merebut surat Kuro.
"Kau ingin tahu isi surat ini kan? Aku bisa bahasa Dragonia, jika kau mau aku bisa menterjemahkannya."
Laila awalnya sedikit ragu. Dia berpikir surat dari Diana mungkin sangat rahasia, tapi mengingat Kuro tanpa ragu memberikannya kepada Laila, itu berarti surat Diana tak ada yang harus disembunyikan.
".... terima kasih."
"Jangan berterima kasih. Aku hanya pihak ketiga dalam masalah ini. Meskipun ini sedikit terlambat, perkenalkan namaku Aldest Devilis, komandan Knight di kota Areshia."
"Eh? Komandan?"
Aldest mengangguk pelan.
Wanita di depan Laila adalah orang paling berkuasa di markas Knight. Tentu Laila terkejut, tapi dia sekarang tahu kalau Aldest bisa dipercaya.
"Namaku Laila-"
"Aku sudah tahu. Kau putri paladin dan kekasih pemuda yang dipanggil Witch Reaper."
"Kuharap anda tak memanggil Kuro dengan sebutan itu. Dia tak menyukainya."
"Ha ha... Dia pemuda yang aneh."
"Ya anda benar...."
Setelah tertawa bersama, mereka berhenti karena tahu bukan saatnya untuk melakukan itu.
"Aldest, cepat bacakan surat kak Kuro?"
"Yui?"
Laila lupa kalau Yui masih ada di dekat mereka, tepatnya masih berada di atas naga yang kini setengah membuka matanya dan tak bergerak.
"Aku juga ingin tahu surat dari Diana." tambah Yui.
"Baiklah, akan aku bacakan. Ehem...Mari kita lihat surat dari tuan putri... 'Tuan Kuro kapan kau kemari? Aku sudah tak sabar menikah dan mempunyai keturunan darimu. Aku bahkan sudah menyiapkan baju pengantin, kamar tidur, bahkan tempat bulan madu yang sangat romantis untuk kita.'"
""..............""
Yui dan Laila terdiam. Namun kerutan muncul di dahi mereka bersamaan dengan aura hitam yang menakutkan.
Apa yang dibilang Kuro memang benar, tapi isi surat jauh berbeda dari yang mereka bayangkan.
"'Tuan Kuro tak perlu takut. Orang tuaku sangat mendukung hubungan kita. Jadi kuharap kau datang segera mungkin dan menikah denganku fufu....'"
Aldest membuka lembaran selanjutnya, tapi dia memasang wajah rumit seperti Kuro. Dia bahkan tak berani membaca isinya karena terlalu rahasia.
"Maaf, bagian ini ta-"
Saat meminta izin tak melanjutkan menterjemahkan, Aldest terkejut mengetahui Laila dan Yui sudah tak berada di tempat mereka. Aldest hanya melihat 3 naga yang sedang tertidur mekingkar seperti kucing.
Aldest tiba tiba dapat merasakan hawa membunuh yang sangat kuat, dia lalu menoleh ke arah sumber hawa itu.
"..........."
Dia tak bisa berkomentar banyak saat melihat dua iblis berjalan bersama menuju ke ruang kepala sekolah mengikuti Kuro.
Aldest lalu mengikuti 2 iblis itu dengan desahan berat secara perlahan.
(Masa muda memang menyenangkan.)
Aldest tertawa kecil saat berjalan. Dia seharusnya tak mengatakan itu menginat dia sebenarnya masih muda.
Laila dan Yui berjalan di lorong bangunan kepala sekolah, mereka sempat berpapasan dengan guru dan murid lainnya, tapi mereka semua langsung kabur. Laila dan Yui tak peduli dan terus berjalan menuju ke arah tujuan mereka. Yui bahkan sudah menyiapkan belatinya.
Yui pernah bertemu dengan Electra, jadi dia tahu sosok Electra. Sedangkan Laila, dia pernah bertemu di sebuah pesta, tapi ini baru pertama kalinya mereka masuk ke kantor kepala sekolah.
Dua pintu kayu besar berada tepat di depan mereka. Meskipun sedang marah, namun mereka tahu tak bisa seenaknya masuk mengingat Electra salah satu paladin yang dihormati.
"..........."
"..........."
Apa yang harus mereka lakukan selanjutnya?
Kuro pasti akan tanpa ragu masuk atau bahkan memotong pintu, tapi bagi Yui dan Laila, kedua hal itu mustahil mereka lakukan.
__ADS_1
"Kenapa kalian diam disana? Ayo cepat masuk."
Aldest tiba tiba membuka pintu yang ternyata tak dikunci. Setelah mengangguk satu sama lain, Yui dan Laila masuk ruangan.
"Aldeeest..."
Dan sambutan pertama mereka adalah seorang gadis berambut pink yang melompat ke arah Aldest dengan senyuman mesum.
Aldest tentu tak berdiam diri. Dia mendesah kecil lalu menendang Electra dengan kekuatan penuh.
Sayangnya Electra berubah menjadi kilat dan mengerubungi Aldest. Setelah itu, tangan muncul dan meremas dada Aldest yang bisa dibilang besar.
"Kelembutan ini, sensasi ini, keelastisan ini,... ini benar benar Aldest."
"Hentikan kebiasaan meremas dada mantan muridmu, Nenek Mesum!"
"Ara... kau sama sekali tak berubah Aldest."
"Kau juga sama, Nenek Mesum!"
""...........""
Laila dan Yui kehilangan kata kata mereka saat melihat sifat asli Electra. Sekarang mereka tahu alasan Kuro memanggil Electra nenek j*lang.
"Ohh... Laila, Yui. Kenapa kalian kemari?"
"Tentu mencari Kuro."
"Dimana kak Kuro?"
"Ahh.... Kuro? ......Dia ada disana."
Laila dan Yui menoleh ke arah sudut ruangan. Disana dia melihat Kuro yang terikat oleh tali yang terbuat dari listrik dan mulutnya juga disumbat oleh cahaya biru.
Kuro ternyata diikat menggunakan [Mana Art] dan [Element Art]. Meskipun listrik, namun tak ada tanda tanda Kuro tersengat listrik.
""Huh??""
Yui dan Laila terkejut karena untuk pertama kalinya melihat Kuro seperti korban penculikan.
"Sampai kapan kau meremas dadaku, Nenek Mesum?"
Aldest hanya bisa mendesah dalam hati.
-------------------
--------
----
"Maaf, Kuro. Kau akan langsung pergi jika aku tak melakukan itu."
"Memang aku akan segera pergi. Kenapa kau selama ini diam saja dan tak memberi tahuku kalau 'dia' sudah kembali?"
Electra duduk di bangku miliknya dengan tatapan serius. Dia sudah tak meremas dada Aldest lagi karena ini bukan saatnya untuk melakukannya.
Sementara itu, Kuro protes dengan ekspresi tak senang dan marah. Dia masih belum terlepas dari ikatannya, tapi dia bisa berdiri.
Aldest, Yui dan Laila berdiri tak jauh dari Kuro sedang memperhatikan pembicaraan mereka karena masih belum terlalu mengerti masalah yang mereka saat ini hadapi.
"Ara.... tak ada alasan untuk memberi tahumu, lagipula ini adalah masalah Dragonia. Tak ada hubungannya denganku atau dengan Kekaisaran."
"Tchh... jangan bercanda. Apa kau pikir aku tak tahu 'dia' kembali ketidakbecusanmu 3 minggu yang lalu?"
"..........."
"Sekarang lepaskan aku. Aku harus segera pergi ke Dragonia."
Senyuman menghilang dari Electra. Dia sadar tak bisa menyembunyikannya lebih lama lagi. Selain itu dia juga tahu tak bisa terus menahan Kuro.
"Bu Electra, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Laila.
"Dragonia diserang oleh Necromancer selama 10 hari terakhir. 3 hari yang lalu merupakan serangan terbesar yang pernah terjadi."
Yang menjawab adalah Aldest.
Sebenarnya dia tak tahu masalah ini karena informasi tak sampai kepadanya. Lebih tepatnya ini bukanlah tanggung jawabnya.
Dia tahu setelah membaca surat dari Diana. Itulah alasan kenapa dia tak mau menterjemahkannya, tapi setelah mengetahui ini ada hubungannya dengan insiden 3 minggu yang lalu, Aldest ikut menekan Electra untuk memberi tahu semuanya.
"Kau kejam Aldest... uguuu."
"Hentikan tangisan palsumu dan cepat jelaskan semua yang terjadi atau aku akan-"
"Membunuhku? Kuro, kau tahu tak mungkin bisa membunuhku dengan dirimu yang sekarang ini. Kau bahkan tak bisa mengangkat pedangmu kan?"
Electra melepaskan ikatan Kuro dan mendesah dalam.
"............."
Meskipun sudah terlepas, Kuro hanya terdiam membisu dan tak mencoba membantah. Dia hanya bisa menggertakkan giginya dan menggengam erat Lic.
"Apa maksud dengan Kuro tak bisa mengangkat pedangnya?"
Laila bertanya karena tak mengerti apa maksud Electra.
"Laila, dari sini aku yang akan menjelaskan semuanya."
Tak disangka, orang yang tak seharusnya berada di tempat itu tiba tiba muncul dari pintu rahasia yang ada di dinding.
"Riana? Apa yang kau lakukan disini?"
"Fufu... aku hanya akan menjelaskan semuanya."
"Huh?"
Laila semakin tak mengerti. Kuro dan Yui hanya terdiam, sementara Aldest hanya tersenyum tipis.
Ini semakin menarik.
"Kuro saat ini tak bisa menggunakan kekuatannya, kau tahu itu kan?"
Laila mengangguk dan berkata:
"Itu adalah kesalahanku karena memaksanya bertarung."
Tapi Riana menggelengkan kepalanya sebagai bantahan.
"Itu juga salahku. Kuro menggunakan Cursed Blade Art saat berusaha melindungiku beberapa hari yang lalu."
".....Eh?"
"Kami tak menyangka akan dikepung oleh puluhan penyihir yang mengincarku, disaat itulah Kuro datang dan membantu kami. Meskipun begitu, kami hanya bisa meninggalkannya untuk menghadapi mereka semua. Awalnya aku berpikir Kuro tak selamat, namun saat aku tiba di kota ini, aku tak menyangka Kuro selamat dan bersamamu."
"..............."
Laila teringat kalau beberapa hari yang lalu Kuro pergi dan pulang disaat bersamaan dengan kedatangan Riana. Waktu itu Kuro terlihat kelelahan dan pingsan. Jika dipikirkan lagi, itu adalah suatu yang tak wajar.
Sekarang dia tahu, Kuro saat itu masih terpengaruh oleh efek samping [Cursed Blade Art].
"Alasan Kuro selamat, pasti kau tahu itu kan?"
Laila terdiam dan tak menjawab.
"[Cursed Blade Art] adalah trump card yang hanya bisa dipakai 3-4 kali dalam satu bulan. Setelah memakainya, Kuro-chan harus beristirahat minimal 5 hari baru bisa menggunakan [Cursed Blade Art] lagi. Jika memaksa memakainya, Kuro akan sangat lemah bahkan tak bisa menggunakan pedangnya lagi dan untuk pulih butuh waktu lebih dari 15 hari."
Itulah kebenaran dari [Cursed Blade Art]. Tekhnik itu tak hanya memiliki efek samping, tapi tak bisa digunakan terlalu sering.
"Tch.. hentikan ocehanmu! Terserah aku bagaimana aku menggunakan kekuatanku, yang lebih penting saat ini, cepat jelaskan semuanya! Kau juga Putri Rakus, cepat jelaskan alasan kedatanganmu yang sebenarnya ke kota ini. Kau tak hanya berkunjung saja kan?"
"............."
Kuro tak ingin membuat Laila semakin merasa bersalah. Dia tahu akan sangat lemah setelah memakai [Cursed Blade Art] dalam jangka pendek, tapi bukan berarti dia tak akan menggunakannya.
"Kak Laila jangan membuat kak Kuro bersedih."
"Aku mengerti Yui. Hanya saja jika aku tak memaksa Kuro berduel, mungkin dia akan lebih cepat pulih."
Laila tahu akan membuat Kuro cemas, tapi tetap saja jika tak memaksa Kuro bertarung, keadaan pasti berbeda saat ini.
"Sudahlah, apa yang terjadi biarlah berlalu. Yang terpenting saat ini bukanlah masalah itu. Meskipun aku lemah, aku bisa pulih dengan menyerap [Ki] seperti tadi pagi, jadi jangan kawatir."
".........."
Laila terdiam karena Laila tahu bahwa menyerap [Ki] dari alam juga membutuhkan waktu. Dan sekarang, mereka tak punya banyak waktu yang tersisa.
"Putri Rakus, sekarang cepat jelaskan semuanya! Bukankah kau sendiri yang bilang kan?"
Mendengar panggilan itu, Riana mengambil nafas dan mendesah.
"Baiklah, ...pertama jangan memanggilku Putri Rakus! Aku punya nama, jika kau ingin memanggilku, panggil dengan namaku. Apa kau mengerti?"
"Ahhh... terserah. Aku tak peduli."
"Guhh.. "
"Kuro.... sejak kapan kau seakrab itu dengan Riana? Kau tak keberatan memberi tahuku kan?"
"Ya ya.. aku juga ingin tahu."
Entah mengapa Kuro merasakan hawa membunuh dari dua orang terdekatnya.
"Kau jangan terlalu berlebihan. Meskipun kau calon istriku, kau seharusnya tak terlalu cemburuan. Selain itu, apa kami terlihat 'akrab' di mata kalian?"
Sayangnya, Laila dan Yui mengangguk dengan kompak.
".................."
Kuro akhirnya terdiam dan kembali melirik ke arah Riana. Dia memutuskan untuk berpura pura tak mendengar dan melihat.
"Riana?"
"....eh.. Uhh sampai dimana kita tadi?"
Entah mengapa Riana terdiam dan tak fokus seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Baiklah, kurasa Putri Rakus memang lebih baik untukmu. Kalau tak ingin menjelaskan, pasti dia (Electra) juga tahu, jadi nenek cepat jelaskan! Kau tahu saat kita bicara, sebuah negara mungkin sudah hancur sekarang ini."
Yui, Laila dan Aldest melebarkan matanya karena mendengar suatu yang tak mereka duga. Situasi mungkin lebih gawat dari yang diperkirakan.
"Baiklah, tapi kita tak bicara disini."
Electra melirik Riana, sementara Riana mengangguk sebagai respon.
"Kita akan pergi ke tempat yang memungkinkan orang mendengar pembicaraan kita."
Semua terdiam dan menunjukkan tatapan serius.
Menyadari semua sudah siap, Electra mulai menggunakan [Magic Art]. Sebuah cahaya kecil muncul di jari Electra dan menekan sesuatu di udara.
Sebuah lingkaran sihir muncul dan membesar. Disaat yang bersamaan, lantai ruangan tepat di depan mereka muncul lingkaran sihir tipe segel.
Semua orang terkejut lalu menyingkir dari lingkaran sihir. Setelah beberapa saat, lantai terbelah dan memunculkan sebuah pintu rahasia.
(Lantai rahasia kah?)
Kuro hanya tersenyum kecil. Dia tahu Kuryuu Academy pasti memiliki semacam ruang bawah tanah. Jadi ini tidak aneh.
Setelah pintu terbuka, munculah anak tangga yang melingkar ke bawah. Tangga itu gelap dan tak ada cahaya sedikitpun, jadi mereka tak tahu seberapa dalam dan kemana ujung tangga itu, tapi mereka semua tahu-
Masalah yang mereka hadapi, lebih besar daripada yang mereka duga.
"Semuanya... ikuti aku."
Electra tiba tiba sudah berada di depan anak tangga dan tanpa ragu turun ke bawah. Riana kemudian masuk diikuti Kuro, Laila, Yui dan Aldest.
Gelap dan tak tahu ujung tangga itu mengarah. Mereka seolah olah masuk ke dalam ruangan tanpa dasar.
"Kenapa kita tak memakai lift?"
Meskipun sedikit terlambat, Kuro tetap bertanya.
"Tempat yang kita tuju tak ada lift."
Electra menjawab dengan nada dingin dan jelas.
"Tempat yang kita tuju? Dimana itu?"
Kali ini yang bertanya adalah Laila.
"Laila, kau pernah mendengar [Grimoire of Truth]?"
Semua orang langsung memfokuskan pandangan mereka kepada Riana sambil terus berjalan menuruni tangga.
Ini adalah reaksi wajar karena mereka semua tahu apa yang Riana bicarakan adalah....
__ADS_1
......kebenaran tentang dunia ini.