Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Holy Maiden's Spirit


__ADS_3

Langit begitu gelap. Asap membumbung tinggi dan hanya ada kehancuran di setiap sudut. Bangunan hancur tak berbekas dan hanya meninggalkan puing. Kawah besar tersebar dimana mana. Tak ada tanda kehidupan. Yang ada hanyalah kehancuran. Tapi di salah satu sudut sosok kehidupan terlihat.


Seorang pemuda tertunduk lesu dengan air mata yang berlinang bagai sungai. Kesedihan terpancar dari matanya. Penyelasan juga terlihat begitu jelas. Dia menangis dan terus menangis tak peduli berapa lama waktu berlalu.


Dia menangisi sosok di depannya yang tak bergerak. Tak bernafas atau bahkan menyebut namanya.


Sosok itu telah pergi untuk selamanya.


Kenapa ini terjadi? Pemuda itu sudah tahu jawabannya.


Tapi jawaban itu memunculkan pertanyaan lainnya. Pertanyaan itu terus muncul hingga tak tahu jawabannya.


Tiba tiba pemuda itu berhenti menangis. Dia juga berhenti menatap sosok yang berharga baginya itu.


Dia menatap langit yang gelap, hitam dan tak ada cahaya. Cahaya semakin menghilang dan akhirnya menyisakan kegelapan. Kegelapan itu bagai perwujudan kemarahan dan penyesalannya.


"Haaaa.."


Otome terbangun dari mimpinya. Mimpi paling buruk di antara yang terburuk.


Nafasnya terengah engah dan tubuhnya gemetaran. Keringat membasahi seluruh tubuhnya sehingga piyamanya melekat ke kulitnya.


"..apa.. itu tadi?"


Otome tak menegerti mimpi apa yang baru saja dia alami. Itu adalah mimpi paling menyedihkan, paling buruk, pali- tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan mimpi itu.


"Ha... ha.. ha.."


Mimpi itu juga terasa nyata. Itu tak pantas disebut mimpi, tapi sebuah ingatan. Disaat itulah Otome menyadari sesuatu yang teramat penting.


(Jangan bilang..)


Dia melihat cermin yang berada di pintu lemari. Disana dia bisa melihat bayangan dirinya dengan jelas, dan disaat yang sama dia bisa melihat matanya yang memiliki lingkaran sihir.


Itu adalah tanda bahwa sihir miliknya telah aktif tanpa dia sadari. Sihir khusus miliknya membuat Otome bisa melihat kenangan (ingatan) orang lain. Sihir itu kadang tak terkendali, tapi bukan berarti Otome tak bisa menguasai kekuatannya. Hanya saja kekuatan miliknya memang seperti itu.


"Kenangan itu...."


Jika tak menahan dirinya, mungkin dia akan menangis sekarang. Tidak, tanpa dia sadari air matanya mengalir dengan sendirinya. Tak terbendung seolah bagai sungai.


"....."


Otome mengusap kedua matanya. Dia tahu dan sering melihat seseorang mati, tapi kenapa kejadian itu begitu menyakitkan setiap kali mengingatnya. Air mata perlahan berhenti. Dia tahu harus bisa bertahan, tapi pertanyaan muncul di benaknya. Kenapa dia memimpikan hal itu?


Tiba tiba ponselnya berdering. Tampilan tiga dimensi bergambar kucing memberikan tanda bahwa alarm yang dia pasang telah berbunyi.


"........"


Otome tak bisa bereaksi karena waktu sudah lewat dan itu adalah kedua kalinya alarm berbunyi.


"... aha ..ha.."


Dia tahu itu adalah arti kalau.. dia terlambat.


"Geh... ini bukan saatnya memikirkan hal ini.."


Otome bangun dan langsung menuju kamar mandi untuk bersiap berangkat ke Kuryuu Academy. Itu adalah pertama kalinya Otome terlambat bekerja.


Tempat tinggal Otome berada di timur Kuryuu Academy dengan jarak yang cukup dekat. Hal itu membuat dirinya cepat sampai ke sekolah.


Dia berlari dan langsung menuju ke kelas tempat dia mengajar. Semua materi yang dia gunakan untuk mengajar sudah berada di tangannya sehingga dia bisa langsung mengajar tanpa mempersiapkannya terlebih dahulu.


Dia tahu berlari di lorong adalah pelanggaran, tapi dia tak punya pilihan lain. Dia berbelok dan disaat itulah dia menabrak benda yang cukup keras, atau lebih tepatnya seseorang.


Otome terpental dan hampir terjatuh, tapi dia masih bisa bertahan.


"Bu Otome, kau tak apa apa?"


Otome mengenal baik suara itu. Setelah melihat seseorang yang di depannya, dia sekarang tahu telinganya tak salah.


"Laila, Kuro. Kalian sudah kembali?"


"Ya begitulah Bu guru. Kami sampai pagi tadi." jawab Laila. "Tapi maaf, kami belum bisa belajar hari ini."


"Itu bukan masalah. Lagipula kalian bertarung dalam pertempuran sedahsyat itu, aku yakin kalian butuh waktu untuk beristirahat."


"Terima kasih."


"..tapi jika kalian kembali, itu artinya mereka bertiga juga sudah kembali?"


"Mengenai mereka bertiga kami kurang tahu. Mereka pulang lebih dulu daripada kami, mungkinkah mereka belum masuk?"


Otome langsung menunjukkan eskpresi rumit.


"Mereka belum masuk. Tapi kuharap mereka bisa masuk hari ini. Ah.. aku jadi ingat, aku harus segera pergi."


"Kalau begitu sampai jumpa, Bu Otome. Sekali lagi aku minta maaf."


"Tidak usah. Aku juga maklum. Kuharap kalian besok sudah masuk kelas. Ingat, Tribal akan segera diadakan, kalian tak punya banyak waktu untuk bermain main."


Keduanya hanya tersenyum kecut.


"Yah... meskipun kekuatan kalian bisa dibilang di atas rata rata murid sekolah ini, tapi aku harap kalian tak lengah."


"Otome, kau tak lupa sesuatu?"


"?! Oh iya, aku harus pergi. Terima kasih telah mengingatkanku, Kuro."


Otome langsung saja melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua. Tapi Otome sadar kalau ada orang lain yang bersama mereka berdua. Otome melirik ke belakang dan melihat sosok anak kecil berambut putih dan bermata merah. Jika diperhatikan dengan baik, anak kecil itu seperti Laila dan Kuro.


"Papa, mungkinkah dia perawan tua yang sering Pa-"


Kuro langsung saja menutup mulut Lic.


"Jangan menyebut Otome perawan tua. Itu tak sopan."


"Tapi bukankah Papa yang memanggilnya seperti itu?"


"..baiklah, kau boleh memanggilnya seperti itu, tapi jangan menyebut panggilan itu jika di depannya, mengerti?"


Lic mengangguk pelan tanda mengerti. Kuro langsung mendesah lega. Sementara itu Laila hanya bisa tersenyum pahit seperti menahan sesuatu.


Laila menunduk dan menatap Lic dari dekat.


"Dengar, jangan dengarkan apa yang Kuro katakan. Dari dulu dia memang tak bisa menjaga mulutnya."


Kuro langsung melirik ke arah lain karena menghindari tatapan Laila yang menyeramkan.


"Kurasa kita harus membicarakan ini lagi, benarkan Kuro?"


Kuro tak berani menjawab. Laila terlalu menyeramkan. Dia memilih melawan Lucifer sekali lagi daripada melawan Laila.


"Sekarang kita harus pergi. Kau tak lupa tujuan kita kemari kan?"


"Iya iya.. Tch.. padahal aku ingin lebih lama bersantai."


"Kau terlalu bersantai..., kau tahu itu adalah pengaruh buruk untuk Lic."


Kuro melangkahkan kakinya dan bertingkah acuh. Laila hanya bisa mendesah kecil karena mengerti alasan Kuro seperti itu.


Laila menggenggam tangan Lic.


"Ayo kita pergi..."


Lic mengangguk dan mengikuti Laila menyusul Kuro. Sementara itu, tanpa mereka ketahui, Otome mendengar semua yang mereka bicarakan dari balik tikungan lorong.


"........."


Wajahnya memerah karena marah. Dia berusaha menahan amarahnya, tapi perkataan Kuro yang menusuk, begitu menusuk karena sebuah kenyataan yang tak bisa dibantah, maka dia merasa akan lebih malu jika marah.


(Aku sudah dewasa...)


Berkali kali Otome mengucapkan itu dikepalanya. Itu membuat dirinya merasa lebih baik.


"Ha.. aku harap nama panggilan itu tak menjadi nama julukan abadi.."


Otome akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju tempat dia mengajar, kelas 1-2. Tapi tiba tiba dia berhenti. Dia baru menyadari suatu yang ganjil.


"Papa?"


♦️♦️♦️


Ruang kepala sekolah Kuryuu Academy.


"........"


Electra tak bisa berkomentar dengan apa yang dilihatnya, yaitu sebuah keluarga kecil yang bahagia.


"...baiklah, aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi bisakah kau beritahu apa yang terjadi dengan Lic? Kau sudah tua, jadi kau pasti berpengalaman dengan masalah semacam ini, Nenek"


Electra tak menjawab dan terus menatap Lic.


"Hua ha ha ha ha ha ha...."


"Huh?"


"...maaf, tapi aku tak menyangka kalian secepat ini memiliki seorang anak."


"Aku rasa itu bukan lelucon yang lucu!!"


Electra tertawa lagi lalu pergi dari tempat duduknya. Dia mendekat ke arah Lic. Lic langsung bersembunyi di belakang Laila dengan ekspresi takut.


"...hmm.. ini menarik. Dia sungguh manis. Dia bahkan mengingatkanku dengan cucuku. Bolehkah aku mencubitnya?"


"Jangan takuti Lic. Dia masih belum terbiasa dengan orang asing."


Mendengar itu Electra tersenyum kecil.


"Aku tak menyangka kau mengatakan itu, Laila"


"Insting keibuan dia muncul, jadi dia seperti itu sejak aku bangun dari pingsanku."


"..kau pasti dalam kesulitan."


Kuro mendesah seolah tebakan Electra benar.


"Kurooo... apa kau masih belum menerima Lic?"


"Aku sudah bilang berkali kali aku menerimanya, tapi.. tetap saja ini suatu masalah tersendiri bagiku."


"Kau hanya ingin Lic tak mengganggu saat kita melakukanya kan? Aku sudah bisa menebak pikiran mesummu itu...huh."


"Kuh..aku akan mengabaikan perkataan yang menusuk itu, ..sekarang bisakah kau memberikan pendapatmu tentang ini?"


Electra terdiam, hal itu membuat Kuro sedikit waspada karena Electra bertingkah aneh. Dan kewaspadaan Kuro terbukti saat kilat kecil muncul di sekitar Electra. Disaat itulah petir menyambar ke Laila dengan kecepatan tinggi.


(Sial!!)


Kuro hanya bisa mengutuk. Dia tak sempat bereaksi karena tak menduga Electra akan menyerang Laila. Disaat kemarahan semakin memuncak, dia melirik ke Laila dan melihat Laila baik baik saja tak terluka sama sekali.


Tapi dia melihat suatu yang mengejutkan. Lic melindungi Laila dengan semacam sihir pelindung, tapi bukan hanya itu yang mengejutkan. Kedua tangan Lic berubah menjadi bilah pedang putih yang sama dengan pedang katana Kuro. Tapi bukan hanya itu saja perubahan Lic.


"[Ancaman terdeteksi. Mode Bertarung ...aktif.]"


Suara Lic yang lemah lembut berubah menjadi seperti suara robot. Tatapan mata juga berubah menjadi tajam.


"[Prioritaskan untuk menghancurkan musuh yang berusaha melukai Mama dan Papa]"


"....Lic..kau.."


"...."


Kuro dan Laila tercengang karena terkejut dengan apa yang mereka lihat, tapi Electra tersenyum kecil seolah dia sudah menduga hal ini.


Lic dan Electra saling menatap dengan tatapan tajam seolah akan bertarung. Electra memancarkan kilat yang menyambar bagai petir kecil. Sementara itu Lic memancarkan aura putih dari seluruh tubuhnya.


"[Analize. ...ditemukan kecocokan dengan mana elemen petir. Memulai proses mengkopi elemen sihir. ....Complete. Memulai proses penyatuan... Complete. Thunder of God Slayer ...Activated.]"


Disaat yang sama tubuh Lic memancarkan petir putih yang hampir sama dengan Electra. Hal ini membuat keduanya semakin tercengang.


"Kuro, ini gawat. ...tampaknya kau memiliki anak yang berbahaya."


"...kau tak perlu mengatakannya.."


Tak perlu menganalisa tekanan mana untuk memprediksi kekuatan yang dimiliki Lic saat ini. Mereka semua tahu jika Lic bertarung, maka akan menimbulkan kekacauan yang besar.


"Lic tenanglah aku baik baik saja. Kuro, katakan sesuatu."

__ADS_1


Kuro mendesah kecil dan melirik Electra.


"Baiklah, kurasa sudah cukup. Jangan menatapku dengan tatapan menyeramkan seperti itu.."


Kilat menghilang dari sekitar Electra bersamaan dengan tekanan mana yang menghilang menjadi nol.


Kuro tanpa ragu memegang kepala Lic dan mengelusnya.


"Lic, sudah cukup. Dia sudah mendapatkan pelajarannya."


Perlahan Lic terlihat lebih tenang. Tatapan tajam menghilang dan bilah pedang kembali menjadi tangan kecil yang imut.


"Lic dengar, aku senang kau berusaha melindungi kami, tapi tugas itu adalah tugasku, jadi kau tak perlu melakukan itu..."


"Lic tidak boleh?"


"Tidak, tapi kau boleh melakukannya jika kami memintamu, mengerti?"


"Umu?"


"Lakukanlah apa yang menurutmu benar. Itu saja sudah cukup."


Lic mengangguk pelan.


"Baiklah, jika Papa mengatakan itu. Lic akan berusaha melakukannya sebaik mungkin."


"Anak baik."


Kuro lalu mengelus elus kepala Lic dengan lembut.


"Laila, bisakah kau mengajak Lic pergi jalan jalan sebentar..., kau tahu kurasa kau bisa menunjukkan sekolah."


"....baiklah, Lic ayo. Mama akan menunjukkan sekolah kepadamu. Kau pasti senang.."


"Un.."


Laila menggandeng tangan Lic lalu mengikuti Laila pergi dari ruang kepala sekolah. Setelah pintu tertutup atmosfer kembali menjadi tegang. Disaat yang sama berbagai pola sihir bersinar di dinding dan pintu. Itu adalah sihir untuk mencegah siapapun mendengar pembicaraan mereka.


"Kuro, kau cocok sekali menjadi seorang Ayah fufuufu.."


Kerutan muncuk di dahi Kuro.


"Bisakah tak bercanda di situasi sekarang? Jadi bagaimana, aku memiliki beberapa dugaan, tapi aku butuh informasi lebih lanjut agar aku bisa berbuat sesuatu"


"Jika seperti itu, aku akan mendengar dugaanmu. Setelah itu aku akan memberi tahu jika dugaanmu salah atau tidak."


Mendengar itu, Kuro langsung mendesah. Dia duduk di udara dengan mengendalikan Ki sedangkan Electra bersandar di mejanya.


"Seperti biasa kau selalu menyebalkan."


Electra tertawa kecil. Sementara itu di ruang kelas 1-2, semuanya berhenti seolah dikejutkan oleh sesuatu. Sesuatu itu adalah tekanan mana yang luar biasa besar.


(Bu Electra ..tapi tekanan mana ini...)


Tak hanya Otome, semua muridnya juga merasakan tekanan mana yang janggal.


"Ha.... kurasa dia membuat ulah lagi. Baiklah, kita lanjutkan pelajaran kita. Kalian harus mengingat benar pelajaran ini. Sihir ini bisa dibilang mudah, tapi jika salah perhitungan akan menyebabkan masalah besar."


Otome menjelaskan tentang teori sihir yang berada di papan.


"Dan ingat juga pelajaran tentang Grimoire di halaman 139. Sejarah sihir juga harus kalian pelajari karena akan muncul di tes nanti. Hm.. Alva Alvi, apa ada pertanyaan?"


Otome bertanya karena keduanya mengangkat tangan secara bersamaan.


"Ya. Siapa yang anda maksud dengan 'Dia'?"


Otome langsung terdiam karena tak tahu harus bereaksi seperti apa. Tapi dia tiba tiba teringat sesuatu.


"Kalian sudah tahu siapa satu satunya pembuat ulah di sekolah ini. Kurasa ibu tak harus menjelaskannya lagi."


"Kau bilang Kuro sudah kembali?"


Suasana menjadi ribut. Kejadian di Dragonia juga sampai terdengar di kota Areshia, jadi mereka juga tahu apa yang dilakukan Kuro dan lainnya. Mereka semua sekarang menjadi pusat pembicaraan di seluruh kota Areshia. Hal ini wajar mengingat mereka masih kelas satu sekolah, tapi sudah bisa melakukan hal yang luar biasa.


"Dengan kata lain Kuro ada di sekolah ini?" tanya Alva.


"Aku tahu apa yang kalian pikirkan, tapi ibu minta kalian harus menahan diri kalian. Lagipula masih ada banyak waktu."


"Tchh!!"


"Dasar perawan tua."


Otome langsung mengeluarkan aura yang berbahaya. Dia menunjukkan dialah yang mendominasi dan berkuasa.


Tanda jam istirahat terdengar. Semuanya langsung keluar untuk makan siang. Tapi di taman lebih ramai daripada biasanya. Mereka semua sedang melihat makhluk imut dan lucu yang bersama Laila.


Berbeda dengan Laila yang senang dan bahagia, Lic tampak sedikit takut dengan kerumunan yang mengelilinginya.


"Wah.. benar benar mirip denganmu, Laila." ucap Alvi.


"Ya begitulah. Jika kalian lihat baik baik, dia juga mirip Kuro."


Si kembar menatap Lic dengan tatapan penasaran.


"Benar. Dia mirip Kuro."


"Kak Alva. Kau memikirkan hal yang sama denganku?"


Alva melirik Alvi. Itu adalah tanda membenarkan.


""Apa yang terjadi selama kalian disana?""


"Huh?"


Wajah Laila tiba tiba memerah dan melirik ke arah lain. Tindakan Laila membuat kecurigaan mereka semakin bertambah.


"Mama...."


Lic semakin melekat dengan Laila. Dia juga semakin terlihat ketakutan.


"Ah maaf, Lic. Aku lupa kau takut dengan orang asing, tapi jangan kawatir. Mereka adalah teman mama."


Meskipun Laila bilang begitu, Lic masih terlihat ketakutan.


"Dia manis.."


"Tapi aku tak mengerti kenapa kalian menamai anak ini dengan nama yang sama dengan pedang Kuro?"


Serriv tiba tiba menyela dan menyadarkan mereka keganjilan itu. Semua langsung melirik Laila dengan tatapan penasaran dan ingin tahu.


"...mengenai it-"


"Laila, disini kau rupanya."


Semuanya langsung menoleh ke arah sumber suara dan menemukan siapa pemiliknya.


"Kuro?"


"Kuro."


"....."


Semuanya menatap Kuro yang kini bagai seorang selebritis yang terkenal.


"Kuro, kau sudah selesai."


Kuro mendekat dan semua langsung memberikan jalan.


"Begitulah. ....maaf semuanya, tapi kami masih ada urusan yang harus kami selesaikan."


Laila mengangguk pelan. Dia langsung memegang tangan Lic dan bersiap pergi.


"Alva, Alvi kalian masih berlatih?"


"Tentu. Kau akan terkejut dengan perkembangan kami. ..tapi-"


"...kau sudah mau pergi lagi?" sambung Alvi.


"Kami ke sekolah hanya ingin menanyakan beberapa kepada kepala sekolah. Kami akan kembali masuk mungkin besok atau lusa. Jangan kawatir, ini bukan masalah serius."


Kuro melirik Laila dan memberikan tanda. Keduanya lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju pintu gerbang sekolah. Mereka seharusnya pergi menuju asrama sekolah, tapi mereka memutuskan tak akan menempati asrama lagi. Sebagai gantinya mereka tinggal di sebuah rumah kecil yang tak jauh dari Kuryuu Academy.


Rumah itu adalah rumah yang mereka beli dengan uang Kuro. Normalnya murid sekolah seperti Kuro tak memiliki uang yang cukup, tapi Kuro bukan murid sekolah biasa.


"Kau bilang membeli rumah, tapi aku tak menyangka akan sebesar ini."


Kuro membeli rumah itu melalui kenalannya. Mengenai metode dan hal hal lainnya, Laila tak terlalu tahu. Perabotan dan barang barang di rumah itu sudah lengkap dan terbuat dari bahan berkualitas baik.


"Sebenarnya aku ingin membeli yang lebih besar, tapi ini adalah rumah yang bisa kudapatkan. Maaf.."


"Kenapa kau meminta maaf? Apakah kau menganggap aku adalah gadis yang menuntut barang mewah?"


"Tidak, tapi aku ingin memberikan yang terbaik. Itu saja."


Laila tersenyum kecil.


"Jangan membuatku mengatakan hal itu lagi, mengerti? ....kamar Lic ada di lantai dua kan?"


Kuro mengangguk.


"Lic, ayo kita lihat kamar barumu. Kau pasti tak sabar kan?"


"Un..."


Keduanya lalu naik tangga dan tak terlihat lagi. Sedangkan Kuro mendesah kecil dan menuju dapur. Dia mengambil teko kecil dan memasak air. Dia menunggu dan menyiapkan dua cangkir keramik.


Sepasang tangan memeluk Kuro dari belakang.


"Bagaimana?"


"Lic sedang tidur siang di kamar. Tampaknya dia kelelahan."


"....Laila, kau jangan terlalu baik dengannya. Bagaimanapun juga dia-"


"Cursed Arm. Jangan mengatakan Lic hanyalah sebuah senjata. Dia lebih dari itu. ...kita sudah membicarakan hal ini kan?"


Ya. Sama seperti Skullia Crystal, eksistensi Lic saat ini bisa disebut sebagai Cursed Arm. Tapi berbeda dengan kasus Lucifer yang butuh inang untuk mewujudkan dirinya, Lic bisa memilih berubah menjadi sosok manusia atau pedang. Tentu saja ini diketahui setelah Kuro mencoba memerintahkan Lic, tapi dia dimarahi oleh Laila.


Wujud Lic sebagai manusia begitu imut dan rapuh. Apalagi dengan kemiringan sosok keduanya, tak aneh jika Laila dengan cepat menganggap Lic sebagi putrinya, bukan sebagai senjata.


"Kita juga sudah memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi sebelum memutuskan apa yang kita lakukan terhadap Lic. Bukankah kau sendiri yang mengatakan itu?"


Kuro tak bisa membantah. Suasana menjadi hening dan hanya terdengar suara air mendidih.


"Ya itu yang kukatakan. Dan kali ini dengarkan kataku lagi."


Kuro mematikan api dan menyiapkan teh.


"Itu artinya kau sudah menemukan petunjuk tentang Lic?"


"Begitulah, ..dan kurasa ini berita yang kurang menyenangkan untukmu, Laila."


Kuro lalu menceritakan apa yang dia bicarakan dengan Electra. Tentang siapa sebenarnya Lic dan kenapa pedang Kuro bisa berubah menjadi anak kecil.


"Begitu rupanya... nama aslinya adalah Izriva. Entah mengapa aku merasa pernah mendengar nama itu...."


Mereka berdua pindah ke ruang tamu. Mereka membahas dengan suasana tak menyenangkan, tapi mereka mencoba untuk tenang.


"Itu adalah nama senjata yang dimiliki Paladin elemen suci di masa Paladin War. Dan kau tahu, dari catatan yang pernah kubaca Izriva adalah yang mengalahkan Lucifer."


Paladin elemen suci yang dimaksud tentu saja Paladin Maria, Laila tak perlu berpikir jauh untuk menyadarinya.


"Maksudmu Lic memiliki kekuatan sebes- jika diingat lagi...."


"Kau juga melihatnya sendiri. Lic- Izriva memiliki kekuatan untuk beradaptasi dengan musuhnya. Mudahnya dia bisa belajar dengan cepat untuk mengalahkan musuh. ...sekarang disitulah masalahnya."


"....."


"Dia tampaknya tak menyadari dirinya adalah Izriva. Dengan kata lain dia hilang ingatan."


"Hilang ingatan?"


Kuro mengangguk.


"Aku baru tahu spirit bisa hilang ingatan." tambah Laila.


Saat mendengar itu, Kuro terlihat kesulitan menjawab.

__ADS_1


"...aku juga baru pertama kalinya melihat ini. Ini hanya dugaanku saja, tapi tampaknya Lic hanyalah kepingan spirit Izriva, karena itulah dia hilang ingatan."


Dugaan itu diperkuat saat Izriva ditemukan di pedang yang sudah patah saat ke penyimpanan bawah tanah.


Entah bagaimana dia bisa membangkitkan kembali kesadaran dan sosoknya, tapi pertarungan di Dragonia pasti ada hubungannya.


"Tapi kenyataan Izriva telah menyatu dengan pedangku tetaplah sebuah masalah yang harus kita selesaikan." Lanjut Kuro.


"....."


"Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi bukan karena aku takut kehilangan pedang itu, hanya saja aku punya alasan kenapa kita tak bisa membiarkan ini terus berlanjut."


Laila hanya bisa mencoba mengerti alasan Kuro. Kuro sudah memberi tahu Laila berkali kali untuk segera memisahkan Lic dengan pedang miliknya. Alasannya Laila tak begitu tahu. Kuro belum memberi tahunya, tapi Laila yakin Kuro mempunyai alasan yang masuk akal. Sekarang yang dia bisa lakukan hanya menunggu.


"... aku mengerti, tapi apa yang harus kita lakukan. Jika bisa aku ingin tetap bersama Lic. Aku sudah sangat menyayanginya...."


Melihat Laila yang tersenyum bahagia membuat Kuro ikut bahagia. Dia ingin selalu mempertahankan senyuman itu. Ingin membuat orang yang berharga baginya selalu bahagia.


"Aku masih belum tahu caranya, tapi aku akan mencari tahu dan menemukan cara agar kau tak berpisah dengan Lic."


"Janji?"


Laila mendekatkan wajahnya dengan tatapan penasaran dan menggoda.


"Iya. Aku berjanji."


Laila langsung memeluk Kuro dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"... terima kasih, Sayang..."


Kuro lalu tersenyum.


"Yeah.. sampai kita menemukan caranya, kau bisa bersama dengan Lic. Tapi kau harus berhati hati menjaganya. Kau tahu apa akibatnyakan."


"Iya iya... Aku akan menjaganya seperti putriku sendiri."


Kuro tak tahu harus senang atau sedih, tapi selama Laila senang, dia akan melakukan semuanya.


"Ha.. kurasa aku harus mencari senjata pengganti untuk sementara ini..."


Laila tertawa kecil mendengarkan keluhan Kuro. Dia jarang melihat Kuro bertingkah seperti itu. Itu adalah sisi lain Kuro yang pertama kali lihat. Laila terus memeluk Kuro dan menyandarkan dirinya di dada Kuro.


Kuro mengelus kepala Laila seperti memperlakukan anak kecil. Senyuman Kuro tiba tiba menghilang.


(Maaf Laila. Aku berbohong.)


Sebagian apa yang Kuro katakan mengenai Lic semuanya benar, tapi ada beberapa hal yang tak Kuro sampaikan. Dia tak ingin membuat Laila kawatir. Ini juga salah satu cara untuk melindungi senyuman Laila.


Apa yang dikatakan oleh Electra masih membuat Kuro merasa pusing.


-----Beberapa waktu yang lalu.


"God Slayer?"


Electra mengangguk.


"Kau bilang Izriva sanggup membunuh Dewa? Kau pasti bercanda denganku."


"Kau tahu aku, aku tak pernah bercanda dengan masalah sebesar ini. Meskipun aku sebenarnya tak tahu apakah dewa benar benar ada."


Kuro menyadari Electra tak bercanda dari tatapannya yang serius.


"Izriva, kita menyebutnya seperti itu."


"Maksudmu itu bukan nama aslinya?"


"Izriva adalah nama yang diberikan oleh paladin Maria. Dan seperti yang kau tahu, dialah yang mengakhiri Paladin War dan juga membangun kekaisaran Houou"


"Holy Maiden kah.. aku pikir dia melakukannya dengan kekuatannya sendiri."


"Catatan mengenai Paladin War sangatlah sedikit, jadi kita tak tahu pasti hal itu, tapi tak diragukan lagi tanpa bantuan Izriva, Holy Maiden tak akan bisa menang meskipun dia pengguna elemen suci."


"...."


"Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan, tapi aku tak punya jawabannya. Izriva adalah spirit yang sangat tua. Dia bahkan dikatakan sudah ada sejak awal dunia ini terbentuk. Yah... itu hanya dugaanku saja, tapi tentang kekuatan yang dimiliki Izriva adalah nyata. Dia sangat berbahaya. Dan kurasa kau tahu apa kemungkinan terburuk yang bisa terjadi."


"Musuh kah..."


"Kau sekarang menjadi pusat perhatian seluruh dunia. Juga perhatian musuh. Mereka akan memperhatikanmu lebih dari sebelumnya dan tak butuh waktu lama hingga mereka tahu tentang kebangkitan Izriva. Ada banyak pihak yang menginginkan kekuatan yang dimilikinya, bahkan termasuk orang yang berada di atas. ..Kuro tampaknya masalah selalu menghampirimu."


"..kurasa itu adalah kutukanku."


Meskipun mengetahui dirinya dalam masalah besar, Kuro masih bisa tersenyum.


"Aku akan melakukan yang kubisa. Lagipula itu yang selalu kulakukan."


"Berjuanglah Kuro, jalan hidupmu sebagai keturunan Demon King tidaklah mudah."


"Itu adalah satu satunya yang kudapat dari dia, aku sudah terbiasa. Lalu apakah ada berita terbaru mengenai Liberia?"


Electra langsung mendesah berat.


"Aku akan mengirim semua data yang kudapatkan. Merepotkan jika harus menjelaskan satu per satu. Ingat, kau masih memiliki misi yang harus kau selesaikan apapun yang terjadi. Tak akan kubiarkan kau mati sebelum menyelesaikan misimu..."


"...padahal aku sudah melupakannya, tapi kau membuatku mengingatnya lagi... kepalaku pusing mendengar itu."


"Jangan lupakan misimu. Apa kau lupa alasan kenapa aku menyuruhmu berada di sek-"


"Aku tahu. Jangan membuatku mengingatnya. Aku akan melakukannya meskipun kau tak menyuruhku."


"Aku senang mendengarnya."


Kuro lalu melangkahkan kakinya menuju pintu. Disaat yang sama simbol sihir kembali bersinar lalu menghilang. Sihir telah dinonaktifkan.


Kuro memutar kenop pintu dan keluar, tapi sebelum keluar, Kuro berhenti dan menoleh ke arah Electra.


"Oh iya ada satu hal yang aku lupakan."


"...?"


"Nenek, jika kau mencoba menyerang Laila lagi... kau akan aku kirim ke neraka saat itu juga."


Electra langsung terkejut karena Kuro langsung mengaktifkan Eyes of Origin. Ditambah dengan tatapan yang begitu dingin, Electra tahu Kuro tak bercanda.


"Jangan membuatku melakukannya. Bagiku kau sama sekali tak berarti dan hanya sampah di mataku ini."


Setelah mengatakan itu, Kuro keluar dari ruangan itu dan mencari Laila dan Lic.


Tiba tiba suara aneh terdengar. Hal itu membuat Kuro sadar dari lamunannya.


"..ah.. ha ha.."


"Aku lupa kita belum makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang di luar?"


"Lalu bagaimana dengan Lic? Kau tak lupa dia sedang tidur kan?"


Lic adalah senjata, jadi dia tak memerlukan makan, tapi sejauh ini Lic makan seperti manusia biasa.


"Benar juga. Kalau begitu bagaimana kalau kita memasak saja. Kurasa ada bahan makanan di kulkas."


"..Un..., tapi jangan makan ikan bakar lagi ya."


"Apa kau pikir aku hanya bisa memasak ikan? Seharusnya kau yang memasak, kau tahu itu?"


Laila tertawa kecil, sedangkan Kuro hanya bisa mendesah dan memaklumi kekasihnya itu.


♦️♦️♦️


Di tempat lain, wilayah terpencil di barat daya kekaisaran Houou . Asap mengepul di sebuah wilayah desa yang terletak di tengah hutan. Bangunan desa hancur dan dipenuhi tebasan dan bekas lubang peluru. Mayat bergelimpangan di mana mana dengan kondisi yang mengenaskan. Darah mengalir bagai sungai.


Sebuah bayangan melompat di antara pepohonan dengan kecepatan tinggi.


"Tchh.. kita terlambat kah..."


Bayangan itu kesal dan langsung menggunakan alat komunikasi yang terpasang di telinganya. Alat itu diciptakan khusus untuk misi diam diam. Menggunakan sihir hanya akan memberi lokasi kepada musuh.


"Amira, kita beralih ke rencana B."


"Okay. Kita musnahkan mereka semua." jawabnya dengan nada datar.


"Stella..."


"Aku mengerti. Seperti biasa tunggulah sebentar."


Gadis lainnya yang bernama Stella langsung menggunakan sihirnya. Dia adalah penyihir udara dengan kemampuan terbang dengan mengendalikan angin. Lalu dengan sihir khususnya yang lain untuk tak terlihat, dia mengawasi daratan dari langit seperti burung elang yang tak terlihat. Tapi bukan hanya itu saja kemampuan miliknya.


"Aku menemukan mereka. Mereka berada di timur desa dengan jarak sekitar 6 kilometer. Mereka bergerak dengan lambat, kurasa mereka berjalan di bawah pepohonan. Amira, giliranmu."


"Okay."


"Baiklah, kita mulai pestanya gadis gadis."


Stella tersenyum setelah mendengar aba aba pemimpin mereka, sedangkan Amira tak menunjukkan reaksi apapun dan justru terlihat bosan.


Sekitar 30 orang berjalan di antara pepohonan yang subur dengan hati hati dan penuh waspada. Senjata api di tangan mereka. Sebagian besar adalah senjata yang menggunakan anticristal, tapi bukan berarti mereka tak membawa senjata lain.


Dari 30an orang itu 8 orang di antaranya adalah penyihir peringkat A dan B yang sudah berpengalaman dalam pertarungan. Menghancurkan desa kecil bukan masalah besar bagi mereka.


Mereka membentuk formasi untuk melindungi seseorang, atau lebih tepatnya barang yang dibawa orang itu.


"......"


Salah satu penyihir memberi tanda untuk berhenti. Semua langsung saling mellirik dan memberi tanda. Kedelapan penyihir itu langsung mengaktifkan sihir mereka. Ke delapan penyihir itu adalah User, karena itulah tak ada Magic Beast yang muncul. Sementara itu yang lainnya langsung bersiap dengan senjata di tangan mereka.


Tiba tiba cahaya melesat ke arah mereka dan meledakan area sekitar mereka. Asap mengepul membuat pandangan mereka terganggu, tapi salah satu penyihir mengayunkan senjatanya dan langsung menghilangkan asap dalam sekali tebas.


"?!"


Tak sempat bereaksi. Yang terakhir penyihir ingat hanyalah sebuah senyuman dan cahaya yang terpantul oleh belati.


Lalu dalam sekejap 30 orang itu sudah menjadi mayat dengan kondisi termutilasi dan menjadi beberapa bagian.


Seorang gadis berdiri di antara tumpukan mayat itu dengan 2 belati di tangannya. Dan tak lupa puluhan belati kecil di sabuk yang melingkar di pinggulnya.


"Seperti biasa kau tak kenal ampun, ...Hana."


"Stella, kau tahu kan kesuksesan misi adalah segalanya. Seperti itulah kita dilatih dan juga demi itu kita berlatih."


Stella mendesah dan menggaruk kepalanya.


"Aku tahu, tapi kau seharusnya membiarkan salah satu mereka hidup. Kau tak lupa kita membutuhkan informasi dari mereka, ....tapi kau..."


"Mengenai itu jangan kawatir. Aku membiarkan salah satu mereka hi- baiklah. Mereka semua mati"


Setelah melihat salah satu mayat, Hana tak membantah perbuatannya. Dia melirik ke atas dan melihat seorang gadis berpakaian maid turun dengan perlahan.


Sosok lainnya tiba tiba muncul dengan sihir teleportasi.


"Geh.. berapa kali aku melihatnya, aku masih belum terbiasa dengan tekhnik itu."


Stella mengeluh setelah melihat dengan teliti. Dia berjalan ke salah satu mayat yang membawa sebuah benda yang mereka ambil dari desa itu.


"Tapi itulah ganjaran yang mereka dapat karena melakukan hal sekejam itu. Kau setuju denganku kan, Amira?"


Amira hanya mengangguk pelan.


"Sungguh kejam orang yang melakukan ini terhadap mereka."


"Aku tak percaya mendengar itu dari pelaku yang membantai 30 orang dalam sekejap. Hm.. "


Stella mengambil tas yang bersisi sebuah kotak berisi dengan simbol dan huruf sihir.


"Sial."


Setelah mengatakan itu, dia melempar kotak itu ke atas. Dan setelah itu kotak itu meledak dengan cukup keras. Gelombang kejut menghempaskan udara dengan cukup kuat.


"Aku tak menyangka kita akan termakan tipuan mereka. ...lagi."


"Ini yang ketiga kalinya kita gagal dalam misi."


"Jangan murung, tapi kau benar. Kita sudah berkali kali terkena tipuan. Selain itu misi kali ini terasa aneh."


Kedua lainnya mengangguk tanda sependapat dengan Stella.


"Pertama kita laporkan hal ini dulu. Kita tak bisa berbuat bany- ?"


Tiba tiba sebuah panel sihir muncul di depan Stella.

__ADS_1


"Misi baru?"


__ADS_2