
"Kita masih memiliki cukup banyak waktu untuk melakukan apapun sebelum kita bertemu kaisar. Laila, sebaiknya apa yang kita lakukan?"
Dengan senyuman menggoda, Kuro melirik Laila yang saat ini sibuk mengganti popok Riku.
"Fuuhh.. Dengan ini selesai." Laila lalu melirik Kuro. "Kau pasti tahu ini terlalu cepat untuk membuatkan Riku adik. Untuk sekarang aku ingin fokus mengurus Riku dulu. Selain itu, sebagai ayah seharusnya kau lebih peduli dengannya."
"A-Aku memang peduli. Hanya saja aku kurang ahli dalam masalah ini."
"Tapi bukankah kau sangat akrab dengan anak kecil?"
Kuro mendesah kecil.
"Mereka anak kecil, bukan bayi. Yah.. Aku memang harus membiasakan ini. Tetapi apa kau yakin?"
Sadar percuma saja menyuruh Kuro untuk berhenti, Laila mendesah dalam.
"Tolong gunakan alat kontrasepsi."
"......"
Perkataan Laila bagai sebuah racun pelumpuh yang mematikan. Dia terdiam seperti orang mati.
Melihat itu Laila paham percuma saja menghentikan nafsu dan cinta Kuro yang bisa dibilang terlalu besar.
"Baiklah, tapi kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?"
"Laila, aku mencintaimu..."
Dengan teriakan yang membuat Riku hampir terbangun, Kuro memeluk erat dengan penuh cinta dan nafsu.
Sedangkan Laila hanya bisa mendesah dan mulai berpikir harus mencari cara untuk mengatasi nafsu Kuro yang terlalu besar untuk pemuda normal.
Tidak, mungkin ini bisa dibilang wajar. Tetapi Kuro memiliki daya tahan yang luar biasa. Saat mengingat itu, Laila merasa sangat wajar bisa hamil meskipun hubungan mereka bisa dibilang seumur jagung.
(Yah.. Aku juga selalu memancingnya. Mungkin aku juga orang mesum.)
♦♦♦
Siangnya, Laila dan Kuro serta tak lupa dengan Riku pergi ke pusat perbelanjaan bersama. Meskipun sebagian besar toko masih tutup, namun ada beberapa toko yang sudah buka karena para penduduk sudah mulai kembali ke ibukota.
Normalnya butuh waktu lama sebelum diperbolehkan kembali, namun karena ibukota merupakan pusat segala aktivitas dan pemerintahan kekaisaran Houou, maka perbaikan dilakukan dengan cepat dan hati hati. Bahkan pemerintah sudah memberitahukan kalau semua sudah bisa kembali seperti biasa kecuali bagi wilayah yang terkena dampak pertarungan.
Tentu ini membuat penduduk senang dan merasa nyaman karena keamanan cukup terjamin. Hal ini juga didukung oleh hukum yang kuat sehingga rakyat percaya dengan pemerintahan saat ini.
Sayangnya, bagi orang yang mengetahui sisi lain seperti Kuro, dia tahu banyak perngorbanan untuk membuat kedamaian terus tercipta di kekaisaran Houou.
Salah satu bukti dari hal itu adalah banyak sekali jenis Knight yang memiliki tugas berbeda meskipun tujuan mereka sama, yaitu melindungi negara mereka.
Lalu meskipun Kuro pensiun dari hal semacam itu, namun dia tak berhenti bekerja sama dengan pemerintah. Salah satunya menggunakan kriminal untuk menjadi pasukan khusus. Salah satu pasukan khusus itu adalah Boris dan pelayan di rumahnya.
Kuro mendapatkan laporan kalau jumlah mata mata yang ditangkap cukup banyak. Dan inilah yang menjadi salah satu alasan kenapa mereka belum kembali.
Dan alasan ini pula yang membuat Kuro kewalahan.
Kenapa?
"Kuro, itu salah. Itu susu untuk anak yang berusia 3 tahun ke atas. Kau bisa membaca labelnya kan?"
"Tapi aku pikir ini lebih bergizi untuk Riku."
"Mungkin benar, tetapi tubuh bayi satu tahun dan tiga tahun itu berbeda. Dan begitu pula kebutuhan mereka. Sebaiknya jangan memikirkan ide yang aneh aneh dan masukan semua daftar belanjaan yang aku tulis."
"Baiklah."
Kuro mendorong kereta belanja yang penuh dengan barang untuk bayi seperti popok, susu dan pakaian.
Kuro tak tahu darimana Laila mempelajari semua itu, namun dia senang karena Laila benar benar menjadi seorang ibu bagi Riku.
Sementara itu, Laila menggendong Riku di bagian depan yang saat ini terbangun. Laila benar benar harus memperhatikannya.
Laila berkeliling sambil menunggu Kuro selesai mendapatkan barang belanjaan. Disaat itulah Riku menunjuk benda yang berada di dalam sebuah toko.
"Riku, apa kau senang dengan itu? Sayang sekali, kau belum boleh. Haha.. Kau memang anak Kuro."
Melihat apa yang diinginkan Riku, Laila hanya bisa tersenyum kecut. Bagaimanapun juga seorang anak berusia satu tahun yang senang saat melihat pedang terpajang di toko merupakan suatu yang aneh. Tetapi ini mungkin yang disebut sebagai darah tak pernah berbohong.
"Aku harap kita segera bisa belanja bersama Lic."
Saat melihat pedang, itu mengingatkan Laila pada Lic yang belum terbangun dari tidurnya.
Meskipun mereka meninggalkan Lic di rumah sendirian, namun itu tak menjadi masalah karena inti Lic berada di dalam diri Laila. Bisa dibilang sosok yang tertidur di rumah hanyalah avatar dari Lic.
Lalu karena berada di dalam dirinya, Laila memiliki sebuah ikatan dengan Lic yang membuat mereka bagai anak dan ibu yang terhubung oleh darah. Meskipun ada hubungan darah atau tidak bukan masalah untuk Laila, namun dengan ini Laila bisa terus memantau keadaan Lic.
"M..uamm..ma.."
"Terima kasih Riku. Ini bukan saatnya untuk bersedih. Sebaiknya kita membelikan pakaian untuk Lic."
Riku tertawa senang sebagai tanda sependapat dengan Laila.
Laila kemudian memanggil Kuro dan pergi ke bagian toko pakaian untuk anak berusia 5-17 tahun ke atas. Di sana mereka memilih pakaian yang manis dan cocok untuk Lic.
"Kuro, jangan membelikan pakaian terlalu banyak. Anak kecil tumbuh dengan cepat, kita hanya membeli seperlunya saja."
"Ah.."
Perkataan Laila menghentikan Kuro yang mencoba membeli seluruh toko dengan kartu kredit.
Melihat itu Laila hanya mendesah karena dia tak mengerti nilai uang yang di mata Kuro.
"Baiklah, aku pikir cukup. Kita bisa mengirimnya dengan jasa pengantar."
"Aku sudah meminta Boris untuk memerintahkan mengirim dua pelayan ke rumah. Kita bisa merasa tenang untuk sekarang. Tetapi aku pikir sebaiknya kita harus mencari seorang pembantu untuk menjaga Riku."
Laila mengangguk tanda setuju.
Mereka masih bersekolah, karena itulah mereka tak bisa membawa Lic atau Riku. Mereka akan lebih terbantu jika ada seorang pembantu yang menjaga keduanya saat mereka bersekolah.
"Tetapi siapa? Apa kau punya calon?"
"Itu mudah. Hanya saja kita butuh orang yang bisa kita percaya dan yang terpenting cukup kuat. Bagaimanapun juga setelah kejadian ini, mungkin ada yang mengincar Lic untuk digunakan sebagai alat lagi."
"Aku akan menghancurkan mereka jika itu terjadi. Baiklah, bagaimana dengan salah satu pelayan di rumah?"
Kuro terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Laila.
"Aku juga memikirkan hal itu. Mereka memang kuat dan tak mungkin melawan perintahku, tetapi aku pikir menyuruh pembunuh berdarah dingin kejam dan berbahaya merawat putraku sedikit membuatku kawatir."
"Hanya sedikit? Aku pikir kau harus memikirkannya lebih serius. Yah aku mengerti apa yang kau maksud. Jadi intinya kita harus mencari yang lebih baik kah?"
"Kita masih punya banyak waktu. Sementara itu kita rawat Riku dengan tangan kita sendiri."
Kemudian mereka makan siang karena matahari telah meninggi. Untuk Riku, dia menikmati susu dari Laila. Tentu mereka memilih tempat khusus untuk menyusui Riku dan sekaligus menidurkannya.
Setelah memastikan Riku tidur dengan lelap, mereka melanjutkan jalan jalan mereka. Tentu mereka cukup menarik perhatian warga yang sudah kembali ke ibukota, tetapi mereka tak peduli.
__ADS_1
Lalu di saat mereka berada di antara bangunan.
"Kuro.."
"Aku tahu. Ada yang membututi kita setelah kita keluar dari mall. Apa aku perlu menyingkirkan mereka?"
"Tidak. Aku pikir tidak perlu. Lagipula mereka hanya orang yang penasaran. Benarkan Ibu, Nenek?"
Laila dan Kuro melirik ke belakang, lalu dari sudut bangunan Lia dan Scarlet keluar.
"Aku tak menyangka kau bisa merasakan hawa keberadaan kami meskipun kami sudah menghapusnya." ucap Lia. "Oh.. Jadi ini cucu pertamaku? Dia sungguh manis."
Dengan mata seolah ingin menyantap Riku, Lia mendekatkan wajahnya pada Riku. Saat itulah Riku tersenyum kecil dan membuat dia tambah manis.
"Aku akan membiarkan kalian menggendongnya saat dia bangun."
"Kalau begitu aku akan membangunkannya."
"Aku pikir itu bukan ide yang bagus, Ibu."
Meskipun mengatakan dengan penuh senyuman, namun itu juga penuh dengan tekanan dari ibu yang super protektif.
Sadar apa yang Laila rasakan, Lia menyerah. Bagaimanapun juga dia juga seorang ibu.
"Aku mengerti. Aku akan bersabar. Lagipula aku bukan ayahmu."
Sadar apa yang Lia maksud, keduanya tertawa cekikikan.
Yang tak mengerti hanyalah Kuro yang memiringkan kepalanya.
Setelah itu, mereka berempat pergi ke sebuah restoran keluarga terdekat.
Pelanggan bisa dibilang sepi, namun suasana bisa dibilang cukup normal.
"Jadi ibu tahu dari ayah?"
"Ya. Tadi malam dia menghubungiku sambil menangis tersedu sedu. Aku pikir terjadi masalah, namun aku tak menyangka itu sebuah kabar bahagia. Tentu awalnya aku tak percaya karena ini terlalu cepat. Bahkan kau tak menunjukan tanda mengandung saat berada di rumah beberapa hari yang lalu. Tetapi-"
"Kami tahu Leon bukanlah orang yang suka bercanda apalagi di situasi yang menyangkut anggota keluarganya. Jadi aku memikirkan berbagai macam kemungkinan bagaimana itu bisa terjadi."
"Yah nenek mantan Queen, jadi aku yakin bisa menduga apa yang bisa terjadi."
Lia dan Scarlet mengangguk.
Setelah itu keheningan terjadi beberapa saat.
"Ehem.. Aku pikir cukup mengenai Riku." potong Kuro tiba tiba. "Kami akan mengatur waktu jika kalian ingin bersama Riku dan Lic. Tentu kami juga berpikir untuk mengenalkannya pada Clara. Yang menjadi masalah, seharusnya kalian sudah tahu hal ini dan tak perlu membututi kami. Jadi apa alasan sebenarnya membuntuti, tidak, menemui kami?"
Alasan Kuro dan Laila bisa mengetahui keberadaan mereka bukan karena keduanya sudah bertambah kuat, namun karena Lia dan Scarlet membiarkan keduanya mengetahui mereka.
Ini bisa dibilang sebuah tes, namun kemungkinan itu cukup kecil.
"Jika aku bilang 'kami hanya penasaran dengan cucu kami', apa kau akan percaya?"
"Aku terbiasa untuk tak pernah percaya pada orang lain, jadi jika kalian tak menunjukan sesuatu yang membuatku percaya, maka aku akan curiga."
"Kuro, mereka keluargaku."
"Tenang Laila. Aku hanya bercanda. Mana mungkin aku tak percaya pada seorang Queen yang pernah membuat kontrak dengan Ruby, benarkan?"
"..."
Kuro menatap Scarlet dengan tatapan tipis dan penuh dengan intimidasi, namun Scarlet mengabaikannya.
"Aku pernah mendengar itu dari Solaris kalau nenek mantan Queen, tapi aku tak tahu kalau Dragon King yang membuat kontrak dengan nenek adalah Ruby. Nenek, kenapa tak pernah memberi tahuku?"
"...itu karena memang aku tak ingin memberi tahumu. Tetapi sekarang lain ceritanya, bagaimanapun juga kau sudah terlibat dengan hal ini. Bahkan inilah tujuanku menemui kalian berdua."
"Apa tak apa apa membicarakan topik sensitif di tempat ini?" tanya Kuro.
"Tenang saja. Aku memiliki sihir yang disebut . Itu membuatku bisa memanipulasi dimensi sebagai tempat untuk bertahan atau bisa juga digunakan untuk hal seperti ini."
"Itu juga pertama kalinya aku mendengar ibu memiliki kemampuan seperti itu. Aku kira sihir khusus ibu adalah api biru."
Laila benar benar terkejut. Ibunya memang terkenal karena dia adalah penyihir langka dengan kemampuan menggunakan api biru, namun Laila tak menyangka kalau kemampuan Lia benar benar menakutkan. Mungkin inilah alasan Leon, ayahnya tak berani dengan Lia.
Mengesampingkan itu, Kuro sama sekali tak terkejut. Mungkin dia sudah tahu karena dia mendapatkan informasi dari berbagai sumber.
"Semua penyihir api bisa melakukan itu dengan sedikit trik. Kau bahkan bisa melakukannya kan?"
"Yah.. Jika diingat ingat aku memang bisa. Tetapi aku sekarang tak bisa menggunakan kekuatan itu lagi. Mungkin itu dulu karena cincin Dragonblood Gear yang kumiliki."
Lia hanya tersenyum kecil.
"Aku akan menantikan saat kau melampauiku, yang menjadi masalah sekarang adalah saatnya untuk membahas topik utama."
Lia berhenti sesaat sebelum melanjutkan.
"Laila, sekarang siapa dirimu? Apa kau masih putriku, atau kau adalah sang penyihir waktu, Aliciana?"
Pertanyaan itu membuat suasana menjadi hening. Bahkan Laila tak sempat bereaksi karena terkejut dan terlalu tiba tiba.
Kuro tak terlalu banyak menunjukkan reaksi. Baginya itu bukan masalah besar karena Laila adalah Laila.
"Sepertinya ibu sudah mengetahui tentang nama sihirku sejak awal kah..."
Atmosfer Laila menjadi tajam dan berat. Dia seperti orang lain.
"Kamilah yang menyegel kekuatanmu." jawab Scarlet. "Tentu kau pasti paham itu adalah segel khusus. Segel yang dimiliki oleh Dragon King. Yah sebagai gantinya dia memutus kontrak denganku, tetapi aku pikir semua itu sepadan, benarkan?"
Scarlet menunjukan senyuman penuh percaya diri, sayangnya Laila dan Kuro tak bisa ikut tersenyum karena keduanya tahu itu bukan suatu yang pantas untuk dibanggakan.
"...Aku mengerti. Aku bahkan sangat berterima kasih karena berkat itu aku tak termakan oleh kekuatanku sendiri, tetapi kenapa kalian juga harus menghapus ingatanku, tidak, lebih tepat mengubahnya?"
Setelah segel terlepas, Laila tak hanya mengingat siapa dirinya yang sebenarnya, namun juga masa kecil yang bisa dibilang cukup unik.
Penyihir biasa akan bisa menggunakan Magic Arm atau Magic Beast di usia 5-6 tahun, namun dia bisa menggunakannya di usia 3 tahun. Ini adalah bukti kalau dia memiliki sebuah potensi yang besar.
Sayangnya, yang menjadi masalah adalah nama sihirnya.
Clocflare. Selain memiliki nama yang sama dengan nama milik penyihir waktu, Laila juga memiliki ingatan tentang masa lalu Alice. Dan meskipun di seluruh dunia tersebar tentang ingatan itu, namun ingatannya sangatlah spesial.
Dengan semua itu, kesimpulan yang didapat hanya satu.
Laila adalah reinkarnasi dari Aliciana (Alice).
"Jawaban dari pertanyaanmu adalah pertanyaan awalku." jawab Lia. "Sebagai seorang ibu aku ingin kau tak memiliki takdir yang sama dengan Aliciana. Kekuatan yang kau miliki terlalu besar bahkan kau memiliki kekuatan untuk menghancurkan negara ini jika kau mau. Dengan kekuatan seperti itu, kau akan menjadi incaran banyak pihak seperti yang terjadi dalam sejarah dulu."
"Tentu kami akan melindungimu, tetapi kau seharusnya paham kalau kekuatan-"
"Aku tahu. Karena itulah aku sangat berterima kasih pada kalian berdua. Nenek, Ibu, aku tahu kalian khawatir dan takut eksistensi Laila akan tergantikan oleh Alice, namun kalian tak perlu khawatir. Solaris memberi tahuku kalau saat orang meninggal, jiwa mereka akan kembali ke roda reinkarnasi. Ketika mereka kembali ke dunia, mereka akan lupa dengan masa lalu mereka dan menjadi benih dari kehidupan baru. Yah meskipun kadang ada pengecualian seperti diriku, namun meskipun aku ingat masa laluku, bukan berarti aku menjadi orang lain. Aku adalah putri dan cucu kalian, Laila."
"..."
"..."
__ADS_1
"Dan seperti kalian, aku saat ini menjadi seorang ibu dari kehidupan baru. Buah cinta kami. Tak peduli dia reinkarnasi dari penjahat atau bukan, semua itu tak mengubah fakta kalau dia adalah anakku. Aku harap kalian mengerti dan menerima siapa aku sekarang."
Keheningan kembali terjadi di antara mereka.
Apa yang dikatakan Laila adalah sebuah kenyataan yang terjadi dengan dirinya saat ini.
Ketika dia ingat dengan masa lalunya, kehidupan sebelumnya, semua ingatan itu kini menyatu dan bergabung dengan ingatan Laila. Dan karena itulah dia paham betul tentang kekuatannya. Apa yang bisa dia lakukan dan tidak, dan yang terpenting adalah sebuah pelajaran agar tragedi tak terulang lagi.
Tetapi yang terpenting dari semua itu, sekarang dia bisa menepati janjinya pada seseorang.
Scarlet menghela nafas lega.
"Aku sangat gugup karena aku pikir kau akan marah denganku karena melakukan hal keji pada cucuku sendiri, namun sepertinya aku memang tak perlu kawatir."
Jika dipikirkan kembali, perbuatan Scarlet memang suatu yang tidak pantas untuk dimaafkan. Bahkan bisa dibilang itu adalah tindakan keji dan melanggar hak Laila untuk hidup.
Dengan menyegel kekuatan dan ingatan Laila, maka secara tak langsung Scarlet telah mengubah Laila menjadi orang lain. Ini sama saja dengan pembunuhan.
Karena itulah saat mendengar Laila memaafkan tindakannya, itu bagaikan sebuah pengampunan dari Tuhan bagi Scarlet.
Dan yang terpenting,-
(Selama ini kami memang salah. Dia reinkarnasi Aliciana atau bukan, itu tak mengubah kenyataan kalau dia adalah cucuku)
Beban yang dirasakan Lia dan Scarlet menghilang seolah tak pernah ada sebelumnya. Mereka menyayangi Laila, karena itulah saat tahu dia memiliki kekuatan yang sangat berbahaya, mereka akan melakukan apapun untuk melindungi Laila.
Itu merupakan tindakan yang berdasarkan cinta dari orang tua, namun di saat yang sama itu tindakan yang kurang pantas dilakukan orang tua.
"Sekali lagi aku meminta maaf padamu."
"Sudah aku bilang aku memaafkan kalian. Dengan cara menyegel ingatanku, aku memang tak memiliki kesempatan menggunakan Clocflare, tetapi sebagai gantinya aku mendapatkan hal lain yang lebih berharga. Bagaimana kalau kita melupakan masa lalu dan memulai hal baru dari sekarang?"
Mendengar itu Lia dan Scarlet tersenyum senang.
Tetapi-
"Hey Laila, aku pikir tak adil jika hanya memaafkan mereka tanpa ada sebuah hukuman. Keluarga atau bukan, aku pikir itu sama sekali tak adil."
"Ara..ra.. Kuro, kenapa kau tahu apa yang ada di pikiranku?"
Senyuman bahagia Lia dan Scarlet langsung berganti dengan keringat dingin. Saat ini mereka tak memiliki kesempatan untuk membantah atau menolak.
Yang menarik, Laila dan Kuro seolah sudah merencanakan ini sejak awal.
"Tentu karena aku kekasihmu, memang apa lagi alasannya?"
"Arara... Sepertinya aku tak perlu menanyakan hal yang sudah jelas. Ibu, nenek, bagaimana menurut kalian? Aku sebenarnya tak ingin membuat semacam hukuman, jadi aku rasa itu tak perlu dilakukan. Bagaimanapun juga kita adalah keluarga, benarkan?"
"..."
"..."
Jalan keluar mereka telah tertutup.
Yang mereka harapkan saat ini adalah berharap kalau hukuman dari Laila tak mengerikan seperti senyumannya.
♦♦♦
Setelah itu mereka pulang ke rumah. Karena hanya berseberangan jalan, maka tentu mereka berjalan bersama bagaikan sebuah keluarga yang bahagia.
Saat di perjalanan Kuro mengobrol dengan Scarlet. Dia menanyakan beberapa hal mengenai masa kecil Laila. Alasan kenapa dia bertanya pada Scarlet dan bukan ibunya, tentu karena dia tahu Scarlet lebih terbuka.
Kemudian mereka berpisah di depan rumah masing masing. Laila berjanji akan berkunjung untuk bertemu dengan keluarganya. Memang lebih cepat lebih baik, namun saat ini mereka menunggu waktu yang tepat di mana semua anggota keluarga sudah berkumpul.
Lalu akhirnya waktu yang dinantikan telah tiba. Satu jam sebelum bertemu dengan kaisar, Laila dan Kuro sudah melakukan persiapan matang seperti berganti baju dengan gaun dan untuk Kuro sebuah tuxedo hitam dengan dasi kupu kupu.
"Kau tak cocok memakai seperti itu."
"Aku tahu. Jangan mengingatkan aku."
Rambut Kuro yang biasanya acak acakan kini rapi dengan minyak. Dia bagaikan orang lain yang dirombak total.
Saat semua sudah selesai, suara bel berbunyi. Salah satu pelayan yang pulang terlebih dulu memberi tahu kalau tamu yang datang adalah Scarlet.
"Terima kasih. Beritahu nenek kalau kami akan segera menemuinya."
Setelah mengangguk, pelayan pergi. Namun bisa terlihat sebuah senyuman lebar seperti mentertawakan Kuro.
Kuro hanya berharap tak ada rumor aneh yang tersebar di antara para pelayan di rumahnya.
Tak berapa lama kemudian mereka selesai berganti baju. Laila mengenakan gaun merah yang tak hanya menunjukan lekuk tubuhnya yang sempurna, namun juga sebuah aura yang dewasa dan mematikan.
Rambut pirang yang bercampur dengan biru dibiarkan memanjang, tetapi ada beberapa bagian yang dibuat kelabang. Lalu sebuah jepit rambut berwarna biru menjadi penghias.
Jika melihat Laila saat ini, sebagian orang pasti akan mengira dia seorang putri kaisar.
"Kau memang cucuku."
"Terima kasih nenek. Bagaimanapun juga aku mewarisi darah kalian."
Keduanya berpelukan.
"Aku juga ingin berterima kasih karena menerima tawaran untuk menjadi perawat Riku dan Lic. Dengan ini aku merasa tenang."
"Aku tak punya pilihan lain untuk menerima tawaranmu." Scarlet mendesah. "Aku sungguh tak mengerti kenapa wanita di keluarga kita semuanya licik."
Hukuman yang diberikan pada Scarlet adalah menjadi perawat untuk Riku. Dengan kata lain dia akan pindah ke kota Areshia saat masalah ini benar benar telah selesai.
Scarlet tak bisa meminta hukuman yang lebih ringan daripada ini, namun dia mengerti itu artinya dia dipercaya oleh Kuro dan Laila untuk menjaga Riku dan Lic.
"Arara.. Licik? Aku hanya memikirkan siapa yang bisa menjadi perawat Riku. Jika aku tak menawarkannya pada nenek, aku akan kesulitan mencari orang yang bisa aku percaya."
"Aku mengerti. Sekarang kalian pergi. Aku yakin kakek tua itu sudah menunggu kalian. Bahkan kereta jemputan sudah datang."
Laila melirik ke luar dari jendela. Dia memang melihat sebuah kereta mewah di depan pintu.
"Sepertinya aku memang harus pergi. Kuro."
"Ya, tuan putri?"
"Aku bukan tuan putri."
"Kau selalu menjadi tuan putri bagiku."
Mendengar rayuan gombal Kuro, Laila hanya tersenyum kecil.
"Kalau begitu kau adalah pangeran?"
"Tidak, aku adalah suami tuan putri."
Mood Laila menjadi kacau. Tetapi begitulah Kuro.
Dengan desahan kecil, Laila menerima uluran tangan Kuro.
Kemudian, mereka bergandengan tangan menuju kereta seperti seorang putri yang diundang ke sebuah pesta.
__ADS_1
Memang. Pesta yang akan mereka datangi adalah sebuah pesta kemenangan setelah berhasil menghentikan tujuan musuh untuk menghapus sihir dari dunia ini menggunakan kekuatan Maria.
Sayangnya, mungkin ini adalah pesta yang tak pernah mereka duga sebelumnya.