
Pengumuman tanda Fila dan Charlmilia tersingkir terdengar setelah ledakan keras, tetapi Laila sama sekali tak menoleh ke belakang.
Keduanya pasti tahu hal itu akan terjadi pada mereka berdua.
Sebagai seorang yang menerima keinginan terakhir mereka berdua, dia akan mewujudkannya apapun yang terjadi.
Tetapi dari semua itu, saat ini dia merasakan sesuatu yang lebih besar daripada perasaan kehilangan mereka berdua. Perasan itu bisa dibilang sebuah perasaan cemas bercampur dengan takut. Tidak. Kedua hal itu saat ini tak sanggup menjadi gambaran apa yang dia rasakan saat ini.
(Kuro, di mana kau?)
Dia lari. Dan terus berlari.
Mencari seorang yang paling berharga dalam hidupnya.
"!?"
Di saat sedang bingung, dia dikejutkan oleh dua energi sihir yang saling beradu satu sama lain.
Tanpa ragu, dia langsung menuju ke arah sumber energi tersebut.
Tak butuh waktu lama dia sampai dan langsung saja melebarkan kedua matanya.
Dia melihat Arisa dan Kuro saling menghunuskan pedang ke arah leher masing masing.
"Kuro!!!"
Laila berteriak dengan sekuat tenaga, tetapi Kuro sama sekali tak peduli dan mengabaikan panggilan Laila. Dia bahkan sama sekali tak menoleh seolah tak ada Laila di mata Kuro.
-kenapa Kuro bersikap seperti ini?
Dan kenapa sepasang kekasih yang saling mencintai dan menyayangi kini berhadapan sebagai seorang musuh?
Dalam Battle War memang mereka musuh, tapi apakah harus dengan cara seperti ini?
Tidak. Pasti ada cara lain. Menemukan cara lain dari masalah adalah keahlian Kuro.
-Tetapi dia memilih jalan ini.
(Ada sesuatu yang tak aku ketahui di antara mereka)
Dia merasa sedih saat menyadari itu, tapi ini bukan saatnya melakukannya.
Tiba tiba energi sihir keduanya meluap hingga membuat Laila terhempas. Dia sampai tak bisa maju dan mendekati mereka.
"!?"
Sebuah perisai muncul di sekeliling Laila. Setelah itu, cahaya menyilaukan terlihat dan pulau Avalon akhirnya hancur sepenuhnya.
◼️▪️▪️▪️
Sementara itu, pihak keamanan mulai menyadari keanehan yang terjadi dalam Battle War.
"Ini buruk. Jumlah energi sihir yang terdeteksi melebihi kapasitas pengaman yang dipasang."
Suara sirene peringatan dalam bahaya mulai terdengar di seluruh penjuru kota Gehenna. Itu adalah tanda bukan saatnya melihat jalannya Battle War, tapi pergi ke tempat perlindungan.
"Lakukan sesuatu. Jika energi sihir sebesar itu meledak, kota ini akan dalam bahaya besar."
"Aku sedang mengusahakannya, brengsek."
Tak ada yang menyalahkan orang itu untuk panik. Situasi yang mereka hadapi saat ini melebihi akal yang bisa mereka terima.
"Hm? Tunggu, ada energi sihir lain yang terdeteksi. Energi sihir ini adalah...."
Sebuah kubah putih perlahan menyelimuti kota Gehenna. Sebagai penduduk kekaisaran, semua tahu kalau hanya ada satu orang yang sanggup menggunakan sihir dalam skala sebesar itu.
"Sihir yang mulia kaisar Sei, Holy Aegis."
Setelah itu pulau Avalon meledak hancur berkeping-keping.
◼️▪️▪️
"Dengan ini kita tak perlu kawatir dampak yang akan terjadi dalam pertengkaran keduanya. Aku masih berharap mereka bisa menyelesaikan masalah mereka dengan cara lain."
Sei mendesah berat saat melihat pulau yang menjadi simbol kota Gehenna akhirnya hancur.
Dia ingat pertama kali bertemu dengan Arisa. Seorang yang menjadi Quuen dan seorang yang memiliki hubungan dengan King.
Arisa datang menjelaskan tujuannya dan meminta bantuan untuk melakukan sesuatu terhadap King yang terakhir, Kuro.
Sebagai seorang yang tahu betul kebenaran tentang King, ada rasa perasaan berat untuk menerima cara yang dilakukan Arisa, tapi dia memiliki alasan konyol untuk membantu.
Alasan itu adalah sebuah rasa jengkel terhadap Kuro.
"Jika ini adalah sebuah cerita, kau pasti adalah karakter utama dalam kisah itu, Kuro. Tidak, ...Ayah."
Dia teringat kembali sosok seorang Ayah yang tak bisa disebut sebagai Ayah yang baik, tapi juga tak bisa disebut sebagai Ayah yang buruk.
Dia tak menyukai Kuro, tapi juga tak membencinya. Lebih tepatnya tak bisa memiliki kedua perasan itu.
Tapi karena itulah dia merasakan sebuah kekesalan pada Kuro yang melakukan semuanya dengan setengah tengah.
jika kau mencintai ibu, kau seharusnya membuatnya bahagia, bukan memberikan sebuah penyesalan yang membunuhnya secara perlahan.
"Jika kau mati sekarang kau akan membuat Laila mengalami hal yang sama dengan ibu. Itu adalah satu satunya hal yang tak bisa aku maafkan."
◼️▪️▪️▪️
Pulau Avalon yang menjadi simbol keberadaan kota Gehenna kini hancur oleh ledakan besar dari kedua energi sihir yang beradu. Dengan ledakan sebesar itu, dampak kehancuran yang dihasilkan pasti sangatlah besar.
Bongkahan jatuh ke tanah seperti sebuah meteor memberikan kehancuran besar. Banyak nyawa yang akan melayang.
Tetapi karena keberuntungan atau bukan, semua itu tak terjadi.
Bongkahan pulau masih melayang seperti membetuk pulau pulau melayang kecil yang baru dengan jumlah yang tak terhitung.
Di antara bongkahan itu, dua cahaya terlihat. Cahaya hitam berasal dari seorang gadis yang cantik jelita. Sedangkan cahaya putih berasal dari seorang pemuda.
__ADS_1
Keduanya lalu beradu dengan kecepatan di luar akal. Pertarungan dalam Battle War sebelumnya sudah memperlihatkan para peserta bertarung dengan kecepatan luar biasa, tapi semua itu tak bisa dibandingkan dengan pertarungan keduanya.
Setiap kali keduanya beradu, dataran bergetar bagaikan sebuah gempa bumi. Suara dentuman sonik terdengar tanpa henti dari gerakan yang melebihi suara.
Gunung lenyap, daratan terguncang dan terbelah, lautan menguap, awan salju yang memenuhi langit kota menghilang tergantikan cahaya langit biru.
Pertarungan yang melebihi kemampuan manusia.
Tapi itu wajar. Keduanya memang tak bisa disebut sebagai manusia lagi.
"Arisa, kau semakin kuat."
"Tapi aku tak sekuat dirimu."
Arisa benar benar berniat membunuh Kuro. Karena itulah tak ada alasan untuk menahan diri. Dia akan menggunakan semua kekuatannya sebagai True Queen of Darkness.
Saat ini keduanya memang masih saling mengukur kekuatan lawan masing masing.
tapi kenapa harus melakukan semua ini?
Bukankah Kuro sudah siap untuk mati? Kenapa tak langsung membunuhnya saja?
Alasannya sederhana, itu karena Kuro adalah King, tetapi di saat yang sama bukan.
Selama ini King merupakan sebutan bagi orang spesial yang dipilih oleh eksistensi tertentu. Simbol seorang King adalah mata putih yang dikenal sebagai Eyes of Origin dan sebuah pedang putih.
Kekuatan yang besar dan tak manusiawi membuat King bisa disetarakan dengan Paladin atau bahkan lebih kuat. Karena itulah eksistensi King juga bisa disebut sebagai perusak keseimbangan.
Bagi Arisa yang tahu tentang kebenaran King, dia tahu semua itu kurang tepat.
King merupakan orang yang dipilih oleh King of Gods. Dengan kata lain dipilih oleh Kuro sebagai perwakilannya ikut campur dalam urusan dunia karena sebagai dewa tertinggi, dia tak mungkin ikut campur secara langsung. Hal ini sama seperti Dragon King yang membuat kotrak dengan wanita yang akan menjadi Queen.
Tetapi berbeda dengan Queen yang dipilih karena faktor kecocokan, seorang King dipilih oleh faktor yang lebih rumit. Bahkan semua King sebelumnya adalah seorang yang sudah mati. Inilah alasan kenapa tak ada yang ingat dengan eksistensi King sebelumnya. Sejak awal mereka memang tak pernah ada.
Lalu bagaimana dengan Kuro?
Eksistensi Kuro sendiri begitu spesial. Dia bukanlah seorang yang dipilih oleh King of Gods. Dia adalah King of Gods itu sendiri.
Selemah apapun Kuro saat ini, itu tak akan merubah kenyataan itu.
Sebagai seorang True Queen, Arisa bisa disamakan dengan setengah dewa, tapi kekuatannya tak cukup untuk mengalahkan dewa yang sesungguhnya.
Dengan kata lain, membunuh Kuro adalah hal yang mustahil baginya.
Tetapi bukan berarti tak ada cara untuk membunuh Kuro.
"400 tahun yang lalu, kau membuat Maria menggunakan sihir terlarang padamu. Sihir yang sanggup menghapuskan eksistensi dewa, God Eraser."
Maria memang mengalahkan Shiroyasha, tapi di saat itu dia hanya berhasil menggunakan sihir terlarang, bukan membunuhnya.
Tidak. Jika saat itu Shiroyasha adalah eksistensi dewa biasa, dia sudah lama mati karena God Eraser.
"Tetapi sebagai dewa, kau memiliki kekuatan terlalu tak normal. Bahkan sihir yang sanggup membunuh dewa biasa dalam satu detik, sihir itu membutuhkan waktu 400 tahun untuk sanggup membunuhmu."
"Dengan sihir sekuat itu ada padamu, seharusnya kau sudah tak memiliki kekuatan seorang dewa. Kau bahkan tak lebih kuat daripada manusia biasa. Kau seharusnya tak perlu ikut campur lagi dalam urusan dunia ini."
"Tapi aku tetap melakukannya. Jujur saja aku sampai sekarang tak mengerti kenapa aku tak menunggu saja kematian mendatangiku?"
Itu bohong.
Dia sudah tahu jawaban dari pertanyaan itu.
Kuro pertama kali muncul 10 tahun yang lalu. Itu bukanlah karena tanpa alasan.
Pada waktu itu, Arisa tiba di Orladist melalui celah dimensi.
Laila membangkitkan ingatan masa lalunya sebagai Alice.
Dan mungkin tak ada yang tahu, tapi waktu itu pula Riana pertama kalinya memanggil Michael. Magic beast milik Maria.
Kuro muncul di depan Yui mungkin sebuah kebetulan, tapi tak salah jika disebut sebagai takdir.
"Bukankah kau seharusnya merasa beruntung. Jika kau tak kembali ke dunia ini, mungkin kau akan tak akan memiliki keluarga seperti sekarang ini."
Kuro tersenyum dengan lembut. Dia benar benar bahagia mengingat apa yang dia miliki sekarang.
Tetapi-
"Jika berakhir seperti ini, aku seharusnya memilih untuk diam menunggu kematianku."
Arisa melesat ke arah Kuro dengan kecepatan dewa dan langsung saja menghantamnya dengan bola kegelapan.
"[Zero]"
Semua memiliki awal dan akhir.
Serangan Arisa menghilang tanpa jejak. Itu bukan hal mengejutkan. Arisa lalu menendang kepala Kuro hingga menghempaskan nya sejauh 10 kilometer.
Serangan Arisa tak berhenti. Dia menyusul Kuro dan menyerang dengan ribuan tebasan.
Tubuh Kuro terpotong hingga menjadi bagian tak terhitung. Yang masih tersisa hanyalah pedang putihnya.
"Kenapa kau marah?"
Meskipun dengan kondisi seperti itu, Kuro masih bisa berbicara dengan normal. Siapapun yang melihat ini pasti berpikir Kuro adalah iblis.
Itu sama sekali tak salah.
"Apa kau mengerti arti apa yang baru saja kau katakan?"
"..."
"Jika kau benar benar berpikir seperti itu, bukankah itu artinya kau menyangkal semua yang terjadi selama 10 tahun ini?"
Pertemuan, perpisahan. Kisah yang terjadi. Hubungan cinta antara dirinya dan Laila. Dan yang terpenting adalah keluarganya.
"Tidak. Aku sama sekali tak menyangkalnya. Tapi apakah kau tahu apa yang terjadi jika sejak awal aku tak muncul ke dunia ini?"
__ADS_1
Jika 400 tahun yang lalu Kuro tak datang ke Orladist, apa yang terjadi pada dunia ini?
Mungkin tak ada yang pernah membayangkan hal itu, tapi Kuro tahu kalau eksistensi dirinya telah mengubah banyak hal.
"Aliciana mungkin mengalami hidup yang berat, tapi pada akhirnya dia bahagia dengan memiliki sebuah keluarga sederhana. Bahkan dia akan hidup sampai menjadi nenek."
Takdir Aliciana berubah total sejak bertemu dengan Kuro. Dia akhirnya memiliki alasan dan kekuatan untuk balas dendam. Meskipun berhasil melakukannya, dia akhirnya menyesal.
Pada akhirnya dia jatuh cinta dengan Kuro dan membentuk sebuah keluarga, tapi itu hanyalah sementara karena penyakit yang diderita olèh Aliciana.
"Aria seorang yang dikenal sebagai Cursed Child menjadi kunci jalannya perang. Karena keberhasilannya, dia menarik perhatian banyak orang dan akhirnya menjadi seorang ratu dan membentuk sebuah negara besar."
Alasan Kuro membeli Aria (Maria) di tempat penjualan budak adalah karena Aria memiliki potensi membunuh Kuro. Dia berpikir akan melatih Aria hingga memiliki kekuatan yang cukup untuk membunuhnya.
Aria memang menjadi lebih kuat. Tapi dia tak memiliki kekuatan yang cukup untuk membunuh Kuro.
Pada akhirnya karena Aria memiliki hati yang baik, dia ingin mengubah nasib orang di sekitarnya yang menderita karena perang.
Itulah awal terciptanya tokoh musuh terkuat umat manusia sepanjang masa, sang Demon King.
Setelah peran sebagai Demon King selesai, Kuro masih belum menyerah untuk mati. Dan pada akhirnya dia menyuruh Aria membuat sihir pembunuh dewa, God Eraser.
Hidup Aria tak berjalan dengan baik. Dia akhirnya meninggal karena rasa bersalah yang dia miliki karena membunuh orang yang paling dia cintai.
Itu hanyalah kisah beberapa orang yang memiliki akhir buruk karena bertemu dengan Kuro. Dan sampai sekarang, hal itu masih saja terjadi.
"Dewa atau manusia biasa, aku masih saja membuat orang di sekitarku memiliki nasib buruk. Setelah mendengar itu, apa kau pikir aku harus tetap di dunia ini?"
"..."
"Arisa, sekali lagi aku bertanya padamu. Bisakah kau membunuhku?"
"..."
Arisa bungkam.
Dia terkejut karena tak pernah menyangka Kuro selama ini memiliki pemikiran seperti itu.
Tapi di saat yang sama itu membuatnya lega.
(Meskipun kau menderita seperti ini, kau masih saja memikirkan kebahagiaan orang lain)
apa yang membuat Kuro bisa memiliki pemikiran seperti itu?
Dengan ini semuanya jelas. Tak ada alasan lagi untuk ragu.
"Jangan membuat aku mengulanginya. Aku akan membunuhmu."
Kemudian awan hitam tiba tiba muncul di langit seperti sebuah tanda buruk. Dari pusat awan hitam itu halilintar hitam menghantam tubuh Arisa.
"Aku memanggilmu, Kurogami!!"
Energi sihir Arisa meningkat pesat dan terus bertambah. Bersamaan dengan itu perlahan pakaiannya berubah menjadi pelindung hitam kelam. Sekilas terlihat seperti Valkrye Gear, tapi lebih berwibawa dan memiliki enam sayap naga kegelapan.
Aura menyelimuti tubuh Arisa membentuk sebuah bola kehancuran. Apapun yang menyentuh Arisa saat ini akan musnah.
Tentu saja termasuk Kuro yang berada di dekatnya.
Meskipun begitu, itu tak cukup membunuhnya.
"[Zero]"
Tubuh Kuro muncul dengan tanpa luka sedikitpun. Dia tersenyum sambil terbalik saat melihat Arisa akhirnya menggunakan Divine Dragon Gear sebagai tanda keseriusannya.
Sebuah bola hitam muncul di tangan Arisa. Meskipun kecil, itu terbuat dari konsentrasi energi sihir yang luar biasa. Awalnya bola diarahkan pada Kuro, tapi Arisa mengubah sasarannya.
Targetnya adalah Laila yang masih bertahan di salah satu bongkahan pulau yang melayang.
"Arisa, kau..."
Arisa tersenyum dengan licik.
"Aku memang akan membunuhmu, tapi aku tak pernah bilang akan membunuhmu terlebih dahulu."
Arisa menyerang. Kecepatan tembakannya bisa disamakan dengan kecepatan cahaya. Laila menjadi kuat, tapi dia tak mungkin menghindari serangan dengan kecepatan seperti itu.
"[Slay]"
Di dunia ini tak ada yang bisa dibunuh.
Kuro menghilang dan memotong benda tak terlihat dalam sekejap. Kemudian, ledakan keras menghantam daratan di jalur serangan Arisa.
Serangan itu begitu dahsyat. Bumi bergetar dan pada akhirnya terlihatlah jurang tanpa akhir.
Pada hari itu umat manusia yang menyaksikan pertarungan antara dua dewa menyadari kalau mereka tak lebih dari serangga di hadapan mereka.
"Dengan tubuh seperti itu, seharusnya kau hanya bisa menggunakan beberapa Authority. Dan meskipun itu bisa, kau hanya bisa menggunakan sebagian kecil kekuatan Authority itu."
"Memang benar saat ini mungkin aku hanya bisa menggunakan maksimal 13 Authority dan hanya bisa menggunakan kekuatan itu paling tinggi 10 persen saja. Tapi bukan berarti itu akan membuatku kalah."
"Kau memang tak akan kalah, tapi kau akan mati. Shin, bukankah ini ironi? Kau ingin mati, sekarang ada orang yang sanggup membunuhmu, tapi jika kau mati sekarang, kau tak akan bisa melindungi keluargamu. Mungkin kau tak tahu, tapi Laila sedang mengandung anak kedua kalian kan?"
"!?"
"Shin, sekarang pilihlah!! Kau mati terlebih dahulu, atau... keluargamu yang mati terlebih dahulu?"
Apa yang dilakukan Aria membuat Kuro terkejut. Ini suatu yang tak pernah dia perkirakan.
Tapi dia membuat kesalahan. Kejutan Arisa bukan hanya itu saja.
"Satu hal lagi, 10 tahun yang lalu aku tak datang ke dunia ini sendirian. Benih yang kau tanam sampai sekarang masih menunggu untuk tumbuh."
Memang melihat jangka waktu, ini suatu yang mustahil.
Untuk memastikannya, Kuro menggunakan matanya untuk melihat kebenaran perkataan Arisa.
Dan dia sadar, memang benar Arisa saat ini membawa kehidupan lain bersamanya.
__ADS_1
"Shin, apa yang akan kau pilih?"