Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Battle at Phoenix City IX ; Surprise


__ADS_3

Segel yang digunakan untuk menyegel Lic kembali merupakan sihir kuno yang membutuhkan persiapan khusus. Meskipun itu sihir yang diberikan oleh salah satu dewa tertinggi, namun untuk mengeksekusinya, Laila tak punya pilihan selain mempersiapkannya dengan matang.


Tentu cerita akan berbeda jika dia membuat kontrak dengan Solaris. Tetapi banyak hal yang harus dia lakukan sebelum membuat kontrak. Selain itu, menjadi True Queen bukanlah hal yang dia inginkan.


Jika menjadi Queen, dia cukup menjadi Queen yang dipilih oleh Kuro saja. Itu adalah salah satu bukti cintanya pada Kuro.


"Cahaya yang ada bersama dengan kegelapan. Cahaya yang selalu memberikan kehidupan. Cahaya yang menerangi jalan. Terangilah jalan dan keinginan dari sosok yang kau beri cahaya ini untuk mengabulkan keinginan suci."


Sambil melafalkan mantra, lingkaran sihir mulai tergambar di bawah kakinya. Sosok yang menggambar formasi lingkaran sihir itu adalah cahaya yang selalu mengelilinginya.


Wujud cahaya itu dikenal sebagai spirit, namun bukanlah spirit biasa. Mereka adalah spirit yang dipilih secara khusus oleh Solaris untuk membantu pertarungan Laila.


Laila mengkonsentrasikan semua pada ritual yang hampir selesai. Sekarang yang dia lakukan adalah menunggu sinyal dari kedua orang yang dia percayai.


  - Sementara itu Kuro dan  Arthuria akhirnya bertemu dengan Maria. Dengan aura gelap yang semakin membesar, itu merupakan pertanda kalau kekuatan Maria semakin membesar.


Keduanya mengangguk satu sama lain untuk memberikan tanda kalau mereka telah siap.


Untuk menyelesaikan ini hanyalah dengan satu tebasan saja dari Dainsleif. Sisanya akan dilakukan oleh Laila.


Untuk itu, yang pertama kali menyerang adalah Arthuria. Dengan Misteltein, dia melesat dengan kecepatan dewa. Meskipun begitu, dengan kecepatan seperti itu saja tidak cukup. Saat hampir menyentuh Maria, dinding kegelapan menahan serangannya.


"!?"


Arthuria menambah kekuatan serangannya untuk menghancurkan secara paksa. Dinding kegelapan mulai retak, lebih tepatnya hancur dan terbakar. Misteltein mampu membakar dewa, ini suatu yang wajar terjadi. Namun semua itu tak bertahan lama.


Dinding kegelapan mulai beregenerasi dengan kecepatan yang tak Arthuria perkirakan. Dan yang lebih menakutkan adalah kegelapan itu mencoba menelan cahaya Misteltein.


Dia akhirnya mengerti kekuatan apa yang disebut kegelapan itu.


Kegelapan bukan hanya suatu kekuatan yang berasal dari kebencian, kemarahan, atau emosi negatif lainnya. Namun berasal lebih dari itu. Hanya seorang yang dikutuk oleh dunia saja yang memilikinya. Anehnya, saat ini dia bertarung dengan seorang yang memiliki kekuatan itu.


Tetapi semua itu saat ini tidak penting. Yang dia lakukan adalah memberikan kesempatan untuk Kuro menebas Maria.


Untuk melakukan itu dia harus menggunakan kekuatan penuh. Sayangnya, jika dia melakukan itu, kekuatan yang melindungi dirinya dari kegelapan akan berkurang drastis. Dengan pertahanan yang lemah, dia akan segera tertelan kegelapan.


Tetapi-


"Siapa yang peduli tertelan atau tidak. Saat ini Laila percaya denganku. Sebagai kakak, mana mungkin aku membiarkan kepercayaan yang diberikan adikku menjadi sia sia!"


Dia akui dirinya seorang siscon. Ini wajar karena mana mungkin ada kakak yang tak sayang dengan adik semanis Laila.


Karena itulah dia membakar semua rasa kasih sayang dan cinta seorang kakak menjadi kekuatan.


"Membaralah >"


Tubuh Arthuria terbakar dengan hebat. Namun api itu dengan cepat lenyap dan menuju ke satu titik, yaitu Misteltein. Cahaya api semakin meluap dari Misteltein dan membakar kegelapan menjadi debu.


Sebagai ganti kekuatan itu, perlindungan suci miliknya menghilang. Perlahan Dragon Phoenix Gear miliknya berubah menjadi hitam.


(Walau hanya satu detik, itu sudah cukup!)


"Haaaaaaa!!!!!"


Dengan teriakan yang berasal dari jiwanya, dia menghancurkan dinding kegepalan yang menghalanginya.


Kekuatan dan tekad Arthuria akhirnya tersampaikan saat melihat sosok Maria yang membawa pedang katana hitam penuh dengan kegelapan.


Tatapannya yang dingin membuat Arthuria membeku, namun dengan kekuatan tekad dan kepercayaan yang diberikan, dia melelehkan es yang membelenggunya.


"Rasakan ini, "


Semua kekuatannya dia kerahkan pada satu serangan penghabisan.


"?!"


Tetapi, meskipun sudah mengerahkan segalanya, dia harus mengakui itu belumlah cukup.


Misteltein berhasil ditahan dengan pedang katana hitam. Dan yang lebih mengejutkan, saat Misteltein menyentuh pedang katana hitam, pedang katana itu langsung menyerap cahaya yang ada di Misteltein. Semua kekuatannya langsung tertelan oleh kegepalan.


"Kuh!? Jangan bercanda denganku!"


Bersamaan dengan menghilangnya cahaya Misteltein, kekuatan Arthuria menghilang dari tubuhnya. Kegelapan menelan Dragon Phoenix Gear dalam hitungan detik dan bersamaan dengan itu kegelapan merasuk ke dalam tubuhnya.


Kebencian, iri hati, marah, nafsu, malas, sombong, dengki, egois dan berbagai macam emosi negatif yang berasal dari penderitaan dia rasakan bagaikan sebuah hantaman keras yang langsung mengenai jiwanya.


Kepalanya ingin pecah dan dia berpikir untuk menyerah pada kegelapan.


(Aku harus bertahan walau hanya sebentar lagi..)


Dia tak punya pilihan lain. Dia tak bisa selain percaya pada mereka.


(Tidak. Aku akan percayakan nyawaku pada kalian. Karena itu, jangan sampai gagal!)


Itu adalah ingatan terakhir Arthuria sebelum tertelan kegelapan sepenuhnya.


"Serahkan sisanya padaku!"


Menjawab permintaan Arthuria, Kuro muncul dari titik buta Maria dengan Dainsleif yang sudah bersiap untuk menusuk jantung Maria.


Jantung dipilih karena merupakan tempat jiwa Maria terkurung. Selain itu, hal ini karena tubuh yang digunakan sebagai wadah jiwa Maria adalah homunculus, maka ada semacam kristal yang menjadi penghubung. Dengan menghancurkan itu, setidaknya jiwa Maria akan lebih mudah dipisah.


Sayangnya, hal itu tidaklah mudah. Sesaat Kuro akan menusuk jantung Maria, mata Maria menoleh ke arahnya. Itu artinya dia sadar apa yang akan dilakukan Kuro.


Meskipun begitu, Kuro tahu tak ada yang bisa dilakukan Maria untuk menghentikannya. Dia sudah memperhitungkan semua hal termasuk waktu yang dibutuhkan Maria untuk menghindar.


Dengan satu serangan, semuanya selesai.


"..."


Setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi.


Pedang Kuro berhasil ditahan dengan pedang katana hitam. Pedang Kuro hancur, lebih tepatnya terpotong menjadi dua seolah Maria membelah rambut menjadi dua bagian.


Meskipun begitu, Kuro tak merasa kecewa dan justru tersenyum.


Lalu untuk kesekian kalinya Maria menunjukkan ekspresi terkejut. Itu wajar karena yang dia belah adalah pedang putih yang terbuat dari taring naga.


Lalu dimana Dainsleif?


"Sayang sekali, kekuatan kegelapan hanyalah milikku seorang. Jangan pikir kau bisa menggunakan kekuatan yang seharusnya menjadi milikku."


Dari udara munculah sosok pedang hitam. Itu adalah Dainsleif.


Tanpa ragu Kuro menggenggamnya dengan tangan yang bebas dan menusuk jantung Maria.


Kekuatan Dainsleif memang mampu memanipulasi jiwa, namun pada kenyataannya itu bukanlah kekuatan yang mudah digunakan. Untuk menggunakannya, maka pengguna harus terkutuk dan menerima bayaran jiwanya hancur sebagai ganti kekuatan.


Namun hal ini tak berlaku pada Kuro. Dan ini bukan karena dia adalah King. Namun sejak awal Cursed Arm adalah senjata yang memang diciptakan oleh pengguna kekuatan kegelapan seperti dirinya.


Dan karena itulah, dia bisa menggunakan kekuatan penuh Dainsleif. Bahkan kekuatan yang tak bisa Itsuki gunakan.


Salah satunya adalah kekuatan Soul Transfer. Salah satu kekuatan yang Itsuki gunakan untuk memindahkan jiwanya pada tubuh lain, namun karena tak bisa menggunakan kekuatan penuh, maka kekuatan itu merusak kepribadian sebagai imbas dari pemindahan yang tak sempurna. Selain itu, pemindahan hanya bisa dilakukan pada saat mati dan pada tubuh yang terbatas. Namun Kuro bisa melakukan itu tanpa ada resiko maupun batas.


Lalu dengan kekuatan itulah, dia memindahkan jiwa Maria pada tubuhnya.


"!?"


Sayangnya, saat waktu seperti itulah dirinya begitu rapuh karena konsentrasinya terbagi menjadi dua hal.


Dan itu adalah hal yang tak disia siakan Maria.


Dalam sekejap mata, Maria menghancurkan Dainsleif dan menusuk jantung Kuro seperti membalas perlakuannya pada dirinya.


Kuro langsung memuntahkan darah segar. Meskipun begitu, dia harus bersyukur karena dia selesai sebelum Dainsleif hancur.


(Sekarang tinggal giliranmu, Laila.)


Kuro masih tersenyum. Dia tanpa ragu menggenggam pedang katana hitam dengan kedua tangannya hingga berlumuran darah.


Maria mencoba menarik pedang katana dari tubuh Kuro, namun hal itu tak semudah yang terlihat. Pedang itu seolah tak ingin lepas dari Kuro dan terus menempel.


Tetapi hal yang lebih buruk terjadi. Kegelapan yang berasal dari pedang Kuro seolah mulai menghilang terserap oleh Kuro.


"Kufuufu.."

__ADS_1


Tawa Kuro menjadi tanda apa yang dipikirkan Maria benar.


Pedang Kuro merupakan sumber kegelapan miliknya, bagaimana jika kegelapan itu diserap oleh Kuro. Sang pemilik dan sekaligus pengguna kekuatan kegelapan?


Tidak. Bagaimana jika sejak awal kegelapan pedang Kuro merupakan kekuatan yang berasal dari Kuro?


"Ini saatnya kau menyerah. Maaf harus menyegelmu untuk kedua kalinya, tetapi inilah yang terbaik untuk semuanya, Lic."


Lalu disaat yang sama, sebuah cahaya terang menghapus kegelapan seolah tak pernah ada sebelumnya.


Cahaya itu berasal dari  Laila dan lingkaran sihir penyegel yang terlihat begitu rumit dan suci.


Semua cahaya itu berkumpul pada satu titik meriam yang berada di tangan Laila.


(Dia memodifikasi sihir penyegel dengan sihir miliknya sendiri. Sudah aku duga dia memang spesial.)


Kuro tersenyum senang saat melihat apa yang dilakukan  Laila. Semua itu melebihi apa yang dia perkirakan.


Lalu tanpa ragu Laila menembakan cahaya penyegel tepat ke arahnya. Tepatnya ke arah Lic.


Tentu Kuro juga akan terkena sihir penyegel, namun sihir itu tak akan  berpengaruh padanya. Lebih tepatnya jika sihir itu tak akan mampu melukainya.


Dengan ini semuanya selesai.


Cahaya penyegel menelan sosok Kuro dan Lic dan menghapuskan semua kegelapan yang ada.


  - kemudian, setelah cahaya menghilang. Yang terlihat hanyalah Kuro dengan pedang putih di tangannya.


Sosok Arthuria juga terlihat, namun dia tergeletak tak berdaya bagai boneka rusak.


Laila dengan cepat menghampiri Kuro dengan wajah khawatir.


"Kau baik baik saja?"


"Tentu."


Sebuah jawaban singkat, namun itulah kenyataanya. Selain pedangnya telah kembali seperti semula, namun juga luka yang diberikan   Maria telah menghilang seperti tak ada sebelumnya.


Kegelapan yang menelan semuanya juga tergantikan  oleh cahaya yang mulai terang dari mentari yang mulai terbit dari barat.


Meskipun begitu, keduanya tahu ini bukanlah akhir.


"Sayang sekali aku gagal."


"Itu bukan kesalahanmu. Kita hanya harus mencari cara lain untuk menyegel Lic."


Keduanya menatap ke arah langit. Di sana mereka bisa melihat sosok Maria yang terbang di langit.


"Aku tak percaya dia melepaskan pedangku di saat terakhir. Padahal itu sebuah kesalahan besar."


"Ya. Pada akhirnya kita hanya bisa menyegel pedangmu. Seperti biasa kau memang pembuat olah."


"Maaf untuk itu. Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"


Tak hanya melepaskan pedang, namun juga melepaskan diri dari pedang Kuro. Saat ini Lic (Izriva) sudah tak merasuki pedang Kuro lagi.


Sayangnya, saat ini dia merasuki suatu yang lain, yaitu tubuh yang digunakan sebagai wadah jiwa Maria.


Dan meskipun sudah terpisah dari sumber kegelapan, namun kegelapan yang ada pada Lic sama sekali tak berkurang.


"Tentu menyelamatkannya."


Ini tak mudah. Segel penyegel hanya bisa digunakan satu kali. Dengan tanpa sihir penyegel, apa yang bisa mereka lakukan?


Saat memikirkan apa yang bisa mereka perbuat,  tekanan sihir terpancar dari Lic. Tekanan sihir itu semakin besar dan membentuk sebuah bola hitam raksasa dengan Lic sebagai pusatnya.


"Ya. Jika kita tak segera melakukannya, Lic akan meledakan diri. Aku bisa memotong kegelapan itu dengan pedangku, namun aku tak bisa menyelamatkannya. Maaf Laila, mungkin aku akan menghancurkan Lic."


Tekanan mana yang terasa cukup untuk menghancurkan ibukota. Karena itu adalah kegelapan, maka tak diragukan lagi hanya ada beberapa orang saja yang bisa menahan atau setidaknya bertahan.


Dengan perlindungan suci yang sudah habis, saat ini Laila tak mungkin bisa menghentikan Lic. Bahkan dengan sihir elemen suci tak mungkin bisa menghentikan Lic sepenuhnya.


Satu satunya cara adalah menghancurkannya.


"...Kuro, apakah tak ada cara lain?"


Apa yang dikatakan Kuro sama saja dengan harus menyerah untuk menyelamatkan Lic.


Sayangnya, itu bukanlah jalan yang Laila inginkan.


Disaat itulah Laila mengingat kembali latihan yang dia lalui bersama Solaris. Dari situlah dia tahu fakta yang mengejutkan tentang dirinya.


[Apa kau tahu kalau sebagian besar kekuatanmu tersegel?]


Laila tak menjawab. Itu karena dia memang tak tahu, namun juga karena dia merasa dirinya memang aneh. Salah satu buktinya adalah jumlah Scarflare.


[Jumlah magic arm milikmu mencapai ratusan bukan karena Scarflare berjumlah seperti itu. Scarflare hanyalah kepingan dari magic arm milikmu yang sebenarnya. Bisa dibilang setiap Scarflare merupakan satu keping dari Scarflare yang sesungguhnya.]


Inilah alasan kenapa dia bisa menggunakan Scarflare sebagai sumber energi saat mana miliknya hampir habis. Sayangnya, karena tubuhnya belum bisa menahan kekuatan yang besar itu, tubuhnya mengalami luka parah.


[Segel yang digunakan padamu merupakan segel yang dimiliki oleh Dragon King. Oh aku ingat, nenekmu dulu Queen dari Ruby. Saat itu dia tiba tiba memutuskan kontrak sebagai ganti sihir kuno. Aku tak menyangka sihir itu adalah sihir penyegel.]


Sihir penyegel yang ada pada Laila membuat dirinya tak bisa menggunakan kekuatan sejatinya. Namun sihir penyegel itu juga melindunginya dari kekuatannya sendiri yang terlalu besar.


[Aku sebenarnya tak mengerti apa yang kau pikirkan, namun aku merasa sebenarnya kau sudah tahu kekuatan apa yang kau miliki. Jika kau mau, kau saat ini bisa menggunakannya. Hanya saja saat ini kau merasa takut. Aku salah?]


Kau tak bisa berbohong pada Dewa. Laila mengerti kata itu.


[Satu hal yang bisa aku katakan, cepat atau lambat kau akan menggunakan kekuatan itu. Disaat itulah kau harus memutuskan, apakah tau mau menggunakan kekuatan itu karena takut, atau karena hanya dengan kekuatan itu kau bisa menyelamatkan seorang yang kau sayangi.]


Pada saat itu, Laila tak bisa menjawab.


[Baiklah, bagaimana kalau kita melatih Scarflare saja. Dengan jumlah dan kemampuan khusus untuk merubahnya menjadi magic arm yang lain, kau bisa memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi tanpa bergantung dengan kekuatan sejatimu.]


Kemudian, yang Laila lalui adalah latihan yang pantas disebut sebagai neraka.


Saat mengingat apa yang dia lalui, Laila ingat kenapa dia ingin menjadi lebih kuat. Namun setelah berlatih keras, kekuatan yang dia miliki tidaklah cukup untuk menyelamatkan Lic saat ini.


Solaris benar. Dia memang harus memilih. Dan sekarang adalah saatnya.


"Kalau begitu, aku akan membuatnya tak pernah terjadi."


"Huh?"


Kuro terkejut karena tak tahu apa yang Laila maksud.


Tetapi saat Laila membentuk posisi menggenggam pedang, Kuro akhirnya mengerti.


"..Clocflare."


Dua pedang muncul di tangan Laila. Salah satunya lebih pendek. Sekilas pedang itu tak terlalu jauh dari pedang Scarflare yang biasa, namun bagi Kuro, kedua pedang itu memiliki arti yang lain.


Laila akhirnya menerima dirinya yang sebenarnya.


"Kuro, maukah kau menolongku?"


"Tentu saja."


Tanpa banyak kata, mereka maju.


Kuro dengan pedang putih membelah kegelapan yang ada hingga membentuk sebuah jalan. Sayangnya, kegelapan itu segera menutup sedang cepat.


Meskipun begitu, itu bukan alasan untuk Kuro menyerah. Hanya ada satu cara untuk menghancurkan kegelapan yang beregenerasi dengan cepat.


"Cursed Blade Art "


Dalam sekejap mata jalan terbuka. Laila tak meyia nyiakan kesempatan itu dan melesat maju. Sayangnya, kegelapan kembali mulai menutup.


Laila lalu sedikit melompat, disaat itulah sebuah cahaya halilintar melesat tepat ke bagian kaki Laila. Dengan menggunakan sihir pelindung, dia  menggunakan halilintar itu sebagai pijakan.


Dan dengan cara itulah dia akhirnya sampai tepat di depan Lic.


Lalu dengan dua pedang di tangannya, Laila menusuk Lic dan mengaktifkan sihirnya.


""

__ADS_1


Dalam sekejap mata kegelapan menghilang berganti dengan cahaya sepenuhnya. Wujud Lic juga berubah menjadi sosok kecil dengan rambut putih dengan mata merah ruby.


Disaat itulah Laila tiba tiba berada di ruangan serba putih.


"Di mana ini?"


Dia tak merasakan kakinya memijak sesuatu. Dia seolah melayang.


Lalu disaat itulah dia melihat sosok cahaya mendekatinya.


"Lic? Apakah itu kau?"


Cahaya itu tak menjawab, namun perasaan tenang dan nostalgia yang dia rasakan tak diragukan lagi berasal dari Lic.


Lalu cahaya itu dengan perlahan memasuki tubuh Laila. Saat berusaha menolak, cahaya itu menembus kulitnya, jadi Laila tak bisa menghentikan apa yang terjadi.


Kemudian dia melihat berbagai adegan bagaikan sebuah film.


"Ini adalah kau?"


Saat itulah dia mengerti siapa Lic sebenarnya.


Lic atau juga Izriva merupakan spirit yang ada sejak awal tanah Orladist diciptakan. Itu membuat dirinya merupakan salah satu roh terkuat dan paling berbahaya. Dalam hidupnya, dia pernah membuat kontrak sama seperti Dragon King.


Setiap kali membuat kontrak, maka dia merubah kehidupan di tanah Orladist. Bisa dibilang dia selalu ada di saat sejarah baru tercipta.


Dan hal ini juga terjadi saat dia membuat kontrak dengan Maria.


Kontrak dengan Maria membuat dirinya paham seberapa besar pengaruh eksistensinya pada dunia. Entah mengapa hal itu membuat dirinya seperti seorang dewa. Tetapi hal yang membuatnya sadar adalah sudah berapa banyak nyawa melayang di tangannya?


Manusia adalah makhluk serakah. Mereka pasti akan selalu meminta lebih apa yang mereka miliki. Hal yang sama pada kekuatan.


Untuk mencegah itu terjadi, akhirnya dia memutuskan untuk meminta disegel. Itu terjadi 400 tahun yang lalu hingga kejadian yang paling tak dia inginkan terulang kembali.


Tetapi sekarang dia bertemu dengan Laila dan Kuro. Jujur saja itu mengingatkan dirinya pada Maria. Meskipun ingatan dan kekuatannya tersegel, namun dia merasakan kehangatan dan cinta yang sudah lama dia lupakan.


'Terima kasih ibu'. Itulah satu satunya kalimat yang terngiang di kepala Laila sebelum akhirnya dia kembali ke dunia normal.


"Laila, kau tak apa apa?"


Kuro mendekat.


"Ya begitulah."


Laila melirik sosok gadis kecil yang berada di pelukannya. Saat ini gadis kecil itu tertidur pulas dengan wajah bahagia.


"Aku senang semuanya selesai. Haa.. Aku sudah tak kuat lagi."


Tubuh Kuro tersungkur di tanah dengan cukup keras. Dia sudah tak peduli apakah nanti akan kotor atau tidak, yang dia butuhkan saat ini adalah istirahat.


Melihat itu Laila hanya tersenyum karena mengerti apa yang dia rasakan. Bagaimanapun juga dia mengalami hal yang sama.


Tak berapa lama beberapa sosok mendekat. Mereka adalah Charlmilia dengan Dragon Gear, Electra dan Arthuria yang dipapah oleh seorang wanita berambut perak.


Entah mengapa, Arthuria terlihat malu malu dengan wanita itu.


"Ini bagus karena semuanya berakhir dengan baik."


"Electra..."


"Sebaiknya kalian cepat beristirahat. Setelah itu baru kita bicara."


"Ya. Anda benar."


Pertarungan panjang dan melelahkan telah usai. Tak diragukan lagi ini adalah salah satu malam terpanjang di kekaisaran Houou


"Sebelum itu, Charlmilia. Terima kasih karena jika bukan berkat kau, kami tak akan berhasil."


"Sama sama. Ini sudah seharusnya. Bagaimanapun juga aku ingin melihat ini segera berakhir."


Charlmilia dan Laila tersenyum bersamaan. Namun itu tak menyembunyikan percikan di antara keduanya.


Electra yang melihat itu hanya mendesah. Sedangkan yang menjadi biang kerok tertidur pulas dengan senyuman lebar.


Disaat itulah tiba tiba tekanan mana besar terpancar dari langit. Mereka semua menoleh ke arah sumber tekanan mana itu dan melihat sosok naga api terbang dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.


Naga api itu turun dan begitu pula penunggangnya.


"Kenapa sudah selesai?"


Paladin terkuat terlambat dalam pertarungan. Bukan karena dia tak bisa mengalahkan monster dalam labirin, namun karena tersesat.


Ini adalah kelemahan Leon Allein Fortisillein yang sudah diketahui oleh orang terdekatnya.


  -10 jam berlalu sejak pertarungan selesai. Dampak pertarungan terlihat jelas dengan kehancuran total dengan radius 10 kilometer lebih dan dengan kerusakan berat dengan diameter 20 kilometer.


Dari langit bisa terlihat kalau ibukota Phoenix seperti habis terkena serangan  meteor.


Laila dan Kuro saat ini berada di rumah mereka. Rumah Kuro bisa dibilang sama sekali tak terkena dampak karena memiliki perisai khusus.


Saat ini tak ada pelayan di  rumahnya. Boris dan lainnya masih menjalankan perintah Kuro untuk membantu penyelidikan.


Dengan kata lain, saat ini hanya ada mereka bertiga di rumah itu.


Berbeda dengan keduanya yang hampir pulih karena menggunakan sihir penyembuh, Lic masih tertidur pulas dengan wajah bahagia.


"Dia benar benar sangat senang. Semua yang terjadi seperti sebuah mimpi saja."


"Ya kau benar. Tapi apakah tak apa apa dengan tubuhmu?"


Setelah pertarungan selesai, telah dikonfirmasi saat ini Lic telah membuat kontrak dengan Laila. Lebih tepatnya kontrak sepihak karena Laila tak bisa menolak. Namun karena Laila tak berencana menggunakan kekuatan Lic, maka bisa dibilang ini bukan masalah besar. Justru hak terbaik saat ini.


"Aku tak apa apa. Jangan khawatir. "


"Aku senang kalau begitu."


Kuro memeluk Laila dan memberikan ciuman hangat di pipi.


Wajah Laila memerah dan memberikan ciuman balasan tepat di bibir.


"Hehehe.. Kuro.. Sebenarnya ada hal  yang ingin aku beritahu padamu."


"Kalau begitu bagaimana kalau kita ke kamar sebelah? Aku juga ingin memberitahumu sesuatu."


"Kyah..."


Tanpa memberi tanda, Kuro langsung saja menggendong Laila ala tuan putri ke kamar sebelah.


Setelah sampai, Kuro tanpa ragu melempar Laila ke tempat tidur.


"Tunggu Kuro. Aku tahu kau sedang bergairah, tetapi dengarkan aku dulu."


"Baiklah. Itu tak akan mengubah apa yang akan aku lakukan."


Laila tersenyum senang.


"Solaris, bisakah aku mendapatkan kembali Riku?"


Pintu dimensi terbuka dan sosok Solaris muncul dengan membawa sesuatu di tangannya.


Kuro memang terkejut saat Solaris menuruti panggilan Laila seperti seekor anjing yang penurut, tetapi kali ini dia dikejutkan oleh hal lain.


Saking terkejutnya. Dia bahkan sampai berkeringat dingin.


"Er.. L-laila.. Mungkinkah ..."


Laila menerima dari Solaris dan menunjukannya pada Kuro.


[King, aku ucapkan selamat. Ini kejutan yang aku maksud.]


"Riku, ucapkan salam pada Ayah."


"..."


Apa yang dibawa Solaris adalah seorang anak laki laki berusia satu tahun yang memiliki rambut putih dengan mata merah ruby sama seperti Lic.

__ADS_1


Anggota keluarga Kuro bertambah tanpa Kuro sadari.


__ADS_2