
[Hari ini tepat tiga tahun setelah kematian sang putri. Selama itu pula aku dan Tuan muda berkeliling dunia melanjutkan perjalanan kami. Kami berpetualang ke berbagai negeri di seluruh dunia tanpa tujuan. Itulah yang kupikirkan karena sampai sekarang aku masih tak mengerti kenapa kami melakukan ini.]
[Tapi jika mengingat petualangan kami selama tiga tahun ini, ini tak diragukan lagi sebagai petualangan terhebat dalam hidupku. Semua itu terjadi tak lain karena aku bersama dengan Tuan Muda.]
[Menjelajahi Dungeon paling berbahaya di dunia, bertempur melawan monster ganas bahkan bertarung melawan penyihir tingkat paladin dan berhasil membunuhnya merupakan suatu yang bisa dibilang suatu keajaiban.]
[Selama tiga tahun pula, nama Tuan muda terus terdengar hingga ke seluruh dunia. Musuh takut dengannya bahkan negara terkuat di dunia pun waspada dengan eksistensinya. Sang petualang dari dunia lain.]
Setelah membaca beberapa paragraf, Laila berhenti. Bukan karena bosan, namun karena dia tahu semua maksud dari isi tulisan itu.
"..Ini kan..."
Setelah Alice mati, maka disaat yang sama semua mimpi tentang kehidupannya bersama Shiroyasha telah berakhir. Lalu setelah beberapa tahun kemudian, barulah Shiroyasha muncul sebagai Demon King.
Beberapa tahun itulah yang masih menjadi misteri kenapa Shiroyasha mengambil peran dalam perang merebutkan tanah Orladist, namun kekuatan dahsyat bagaikan tuhan miliknya merupakan sebuah kenyataan.
Laila melanjutkan membaca.
[Selama ini aku terus menelitinya. Mempelajarinya, mengaguminya dan sekaligus membencinya. Alasanku membencinya karena kemanapun dia pergi, dia akan berhasil mendapatkan seorang gadis.]
"........"
Paragraf itu mengingatkannya kepada Lucifer. Entah mengapa lelaki yang berhubungan dengan Shiroyasha akan memiliki nasib dan perasaan yang sama.
[Baiklah, tak ada gunanya membahas itu. Aku sudah bersama dengan Tuan Muda bertahun tahun. Selama itu pula umurku terus bertambah. Aku semakin tua.]
[Jika diingat ingat umur Tuan Muda juga sama denganku, namun dia sama sekali tak menunjukkan perubahan. Dia seperti selamanya muda. Mungkin karena dia memiliki sihir yang luar biasa, jadi dia menghambat penuaaan. Ini cukup mengerikan saat membayangkan seorang gadis tergoda pada lelaki tua berpenampilan muda.]
Laila setuju dengan itu.
[Hari ini aku selesai membaca buku yang kami dapatkan dari dungeon yang kami selesaikan. Buku itu berisi sebuah ritual sihir kuno yang sudah ada di tanah ini ribuan tahun yang lalu. Setelah selesai memahami ritual itu, saat itulah aku teringat anak dan istriku yang meninggal karena dibunuh oleh prajurit yang berperang. Mereka akan dijadikan budak dan pemuas nafsu para prajurit biadap, jika dipikirkan lagi, mungkin kematian lebih baik daripada menjalani hidup seperti itu.]
[Tidak. Jika aku lebih kuat, mungkin aku bisa mencegah mereka mati dan berakhir dengan mengalahkan prajurit itu, namun itu hanyalah sebuah penyesalan yang tak berarti.]
[Mungkin aku akan mengutuk tuhan, namun sekarang semua itu bagiku adalah masa lalu. Pemikiran itu muncul tak lain karena aku bertemu dengan Tuan Muda dan Putri.]
[Malam harinya, kami tidur di atas pohon seperti biasa. Gaya hidup seperti ini sudah lama kujalani dan aku sudah terbiasa dengan hal ini, tapi aku masih bertanya kenapa kami tak membuat rumah sementara dengan menggunakan sihir elemen tanah? Kau penyihir terkuat kan, kenapa kau tak bisa melakukannya? Tch.. dasar pelit.]
[Keesokan harinya, aku dibuatkan rumah dari tanah. Mungkinkah dia membaca pikiranku? Aku senang, namun ketika aku bangun, aku sadar kalau rumah tanahku tiba tiba berada di ujung jurang yang curam di suatu tempat yang tak kuketahui.]
[Setelah aku minta maaf, diapun mengembalikanku. Aku tak tahu apakah dia sengaja melakukannya, atau dia hanya iseng. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan.]
[Suatu hari, kami tiba di dekat sebuah desa. Aku tak tahu apa yang dia pikirkan, namun kami memutuskan untuk tak singgah di desa itu. Dan seperti biasa, kami berkemah di tengah hutan. Lagi.]
[Api unggun yang hangat dan daging monster sudah menjadi makanan sehari hari, jadi tak ada gunanya mengeluh tentang daging yang alot dan susah dimakan.]
Kau mengeluh di catatan ini, pikir Laila.
[Aku melirik ke arah langit dan melihat dua bulan yang memancarkan cahaya kemerahan, disaat itulah aku teringat dengan sesuatu yang penting. Aku tanpa ragu bertanya kepada Tuan Muda.]
["Tuan Muda, jika ada cara untuk menghidupkan kembali Tuan Putri, apa yang kau lakukan?" aku tanpa ragu bertanya. Ini adalah kesempatanku.]
['Hanya karena kau selesai memahami buku itu, bukan berarti kau harus melakukannya.']
[Aku mendapatkan pelajaran lagi. Tapi itu tak mengubah pikiranku. Ritual itu menggunakan 3 unsur utama yang sangat penting. Waktu, Penghubung dan Wadah. Waktu disaat terjadinya Bulan Darah, Penghubung merupakan katalis semacam bagian tubuh. Dan Wadah adalah tubuh baru. Dengan malam Bulan Darah yang akan segera terjadi dalam kurun beberapa bulan, kami bisa menghidupkan Tuan Putri kembali. Tapi sepertinya Tuan Muda tak memiliki niat itu.]
['Aku tahu apa yang kau pikirkan, Q, tapi jika aku ingin menghidupkan 'Dia', itu sangat mudah bagiku, tapi semua itu tak diperlukan.']
[Aku lalu bertanya 'Kenapa?']
['Pertama, apa kau tahu apa yang dinamakan 'Takdir?'']
["Tentu aku tahu. Takdir bisa dibilang merupakan jalan seseorang yang digariskan oleh tuhan, tapi takdir ada dua jenis. Takdir yang bisa diubah dan takdir yang tak bisa diubah."]
['Tepat sekali. Tapi pernahkah kau berpikir jika sihir ada di dunia ini, kenapa masih saja ada yang mati? Bukankah kau yang paling tahu ke dalam masalah ini?']
[Aku tak bisa menjawab pertanyaan itu. Sebagai Alchemist, aku tahu ada sebuah sihir yang mampu memindahkan jiwa seseorang ke dalam tubuh lain. Jika manusia terdiri dari jiwa dan raga, maka bukankah cukup untuk memindahkan jiwa manusia ke tubuh baru sebelum tubuh mereka mati? Meskipun itu bisa dibilang semacam keabadian yang tak sempurna.]
['Manusia mati karena ditakdirkan untuk mati. Itu adalah takdir yang tak bisa diubah oleh manusia. Tak peduli berapa kali kau memindahkan jiwa seseorang, selama dia ditakdirkan mati, maka hanya tinggal menunggu hitungan detik hingga kematian datang menjemput. Sedangkan takdir yang bisa diubah adalah saat kau berhasil memindahkan jiwa seseorang tanpa ada halangan dan orang itu bisa menjalani kehidupan normal, sayangnya, ini hanyalah kematian yang tertunda. Apa kau tahu inti dari yang kumaksud? Tak ada yang namanya takdir yang bisa diubah, yang ada hanyalah mengulur waktu. Jadi tak peduli aku menghidupkan 'Dia' atau tidak, itu tak mengubah kenyataan suatu saat dia akan mati. Dia mati dengan senyuman, itulah yang terpenting. Jika dia hidup lebih lama, apa mungkin dia akan berakhir seperti itu?']
["Tapi apakah Tuan Muda tak ingin lebih lama bersama dengannya?"]
['Kau salah, jika aku ingin bersamanya, aku cukup pergi ke tempat dia berada.']
["Ah.. jangan bilang kau akan mati menyusul Tuan Putri?"]
['Tidak, aku hanya akan melakukan ini... dan... Oppss... dia sedang mandi... aku rasa akan berbicara dengannya nanti.']
[Aku hanya bisa terdiam saat melihat gerbang dimensi antara surga dan dunia ini bisa dibuka bagaikan membuka pintu rumah. Tuan Muda memang berbahaya dan mengagumkan.]
["Jangan bilang, selama ini Tuan Muda..."]
['Ahh...apa aku belum menceritakan ini kepadamu? Dulu aku hanya manusia biasa, namun karena aku mencoba mengubah 'Takdir' seseorang, aku akhirnya menjadi seperti ini. Aku tak bisa mati. Surga dan neraka tak menerimaku. Ha ha... kurasa itu wajar, aku pernah menghancurkan kedua tempat itu karena aku kesal. Hm... bagaimana kalau kita ke desa itu untuk melihat lihat, terus terang aku ingin makanan enak.']
[.......................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................seseorang, ada yang tahu siapa sosok di depanku ini?]
Untuk alasan tertentu, Laila mulai mengerti kenapa Shiroyasha dipanggil Demon King. Kekuatannya melebihi apapun di dunia ini.
Tapi ada beberapa poin yang membuatnya penasaran, namun itu juga tak masuk akal jika dipikirkan secara rasional.
Laila membalik halaman selanjutnya, namun hanya berisi beberapa paragraf. Halaman selanjutnya entah mengapa kosong.
".....tak ada ruginya membaca kelanjutannya.."
[Kami memasuki desa. Desa itu cukup besar mengingat banyak rumah yang dibangun. Aku membeli beberapa bumbu dan makanan enak yang sudah lama kami tak rasakan. Saat itulah Tuan Muda tiba tiba tertarik dengan sebuah toko budak.]
[Aku menghampirinya dan akhirnya melihat kenapa dia tertarik. Di salah satu penjara besi, ada seorang anak kecil dengan pakaian lusuh dan kotor. Anak kecil berambut putih dan bermata biru. Mungkin Tuan Muda tertarik kepada gadis itu karena mereka sedikit mirip.]
[Anak kecil itu mungkin suatu saat akan menjadi gadis cantik jelita seperti Tuan Putri, tapi melihat ciri ciri dan aura gadis kecil itu, tak diragukan lagi gadis kecil itu adalah ...Cursed Child.]
[Sebelum aku tahu, Tuan Muda sudah membeli gadis itu. Errr... mungkinkah setelah Tuan Putri meninggal, kau tertarik dengan anak kecil Tuan Muda?]
[Setelah itu, aku mendapatkan hukuman dengan diikat seluruh tubuhku dan dipaksa melihat Tuan Muda dan Gadis kecil itu makan makanan lezat yang tadi kubeli.]
"...............................................................................................................................................................................................apa?"
Buku aneh dan kisah yang aneh, tak heran jika otak Laila tak bisa mencerna isi dari buku itu. Tapi dari buku itu, dia mendapatkan informasi yang dia butuhkan.
Informasi mengenai ritual yang menggunakan Ringblood Moon.
"Aku tak tahu kenapa kau memberi tahuku, namun terima kasih."
Laila menutup buku dan mengembalikannya ke tempat semula. Dia sadar buku yang baru saja dia baca merupakan buku legendaris Grimoire Of Truth yang berada di perpustakaan itu. Menurut legenda buku itu hanya bisa dibaca oleh orang yang berhak. Laila senang bisa membacanya, namun disaat yang sama dia tak mengerti kenapa buku itu membiarkan Laila membacanya.
Mungkinkah Kuro sudah menduga hal ini?
Laila lalu berniat kembali ke tempat Yui, namun dia berhenti. Dia tak bergerak seperti patung dan keringat mengalir deras dari pelipisnya.
Alasan kenapa dia seperti itu, itu karena saat ini ada sosok yang paling tak ingin dia temui.
Seorang gadis berambut biru dengan wajah cantik jelita bagai malaikat. Gadis itu membaca buku dengan anggunnya dan terlihat sangat serius.
Mata keduanya bertemu.
__ADS_1
"Oh... apa kau sudah selesai?"
Alice tersenyum.
"K-Kenapa kau disini?"
Laila langsung dalam posisi siaga. Dia tentu tak lupa dengan kondisinya, jadi dia berusaha untuk menghindari pertempuran.
Tapi kenapa Alice di tempat itu? Mungkinkah menginginkan informasi yang Laila baru saja dapatkan?
"Apapun tujuanmu, kau tak akan mendapatkan apa apa dariku!"
Alice menyipitkan matanya dan menunjukkan aura berbahaya. Orang biasa mungkin akan langsung pingsan, namun Laila masih bisa bertahan meskipun dia tak bisa menggunakan sihir.
Perlahan, Alice mengembalikan buku yang dia baca.
"..aku rasa kau salah paham denganku, Queen. Mungkin aku tertarik dengan apa yang kau dapatkan, namun aku tak peduli dengan suatu yang tak ada hubungannya dengan membangkitkan King (Demon King) dari tidurnya."
Laila menyipitkan matanya.
"Jika kau tak tertarik dengan hal lain, kenapa kalian menculik Lic? Dia tak ada hubungannya dengan Demon King kan?"
Lic merupakan senjata Kuro, namun Izriva merupakan roh yang bersama dengan Maria. Keduanya merupakan elemen yang bertentangan dengan Demon King. Seharusnya Alice tak perlu menculik Lic jika ingin membangkitkan Demon King.
"Ya ampun, meskipun kau baru saja membaca tentang salah satu kebenaran dunia ini, tapi kau sama sekali tak tahu apa yang dinamakan kebenaran dan kepalsuan. Aku sama sekali tak mengerti kenapa kau terpilih menjadi Queen."
"Maaf saja aku tak peduli dengan sebutan Queen atau semacamnya. Yang ingin kuketahui kenapa kau menculik Lic."
Melihat tatapan Laila, Alice tahu Laila bukanlah orang bodoh.
"Begitu rupanya. Maaf saja, aku tak memiliki hubungan dengan 'Mereka'. Tapi perbuatan mereka akan mempercepat rencana kami, jadi tak ada alasan untuk mencegah mereka."
Laila tahu yang menculik Lic bukanlah Liberia. Jika mereka menginginkan Lic, Liberia tak akan mengirim penyihir pengecut seperti Silver Viper.
Alasan Laila kenapa masih bertanya meskipun dia tahu, itu karena dia ingin mendapatkan informasi dari Alice. Dia masih tak tahu kenapa Alice tak membunuhnya, namun Alice seharusnya juga tak memiliki alasan menemui dirinya.
Ini hanya sebuah taruhan, namun Laila yang memenangkan taruhannya.
"Kenapa kau memberi tahuku tentang hal ini?"
"Tentu agar permainan ini lebih menarik. Aku harap kau bisa mendapatkan bonus, Queen."
Alice melangkahkan kakinya dan berniat pergi. Dia tak menghilang seperti yang biasa dia lakukan.
"Tunggu, aku masih ada yang ingin kutanyakan."
Alice berhenti dan tersenyum seolah sudah menduga hal ini. Tidak. Dia sengaja memancing Laila.
"....Kenapa kau tak membunuhku? Alasan karena Daar Aegis menghalangimu itu hanyalah bualan saja. Katakan kenapa?"
Selama ini Laila sering mendapat serangan fatal, namun jika Daar Aegis melindunginya seperti apa yang dibilang Alice, seharusnya dia tak akan terluka. Bahkan setelah di Dragonia, dia tak pernah melihat sihir itu aktif kembali. Kuro juga tak pernah menceritakan tentang sihir itu.
"...alasan kah... hm...bagaimana jika .....hanya seorang Queen yang bisa mengalahkan Queen lainnya. Mengenai Daar Aegis, mungkin kau harus mencari tahunya sendiri, .. Queen."
Setelah itu, Alice menghilang bagaikan tertiup angin.
"Khh.."
Melihat itu, Laila hanya bisa mengepalkan tangannya karena kesal. Laila tahu suatu saat dia akan berhadapan dengan Alice, tapi saat ini Alice seolah mempermainkan dirinya. Dia benar benar tahu apa yang dipikirkan Alice.
"Sial... "
Laila lalu kembali ke tempat Yui berada.
"Yui, hentikan pekerjaanmu. Kau tak perlu melakukannya lagi."
"Mmm? Mungkinkah.."
Laila mengangguk membenarkan.
"Aku menemukan petunjuk kalau ritual itu memerlukan dua hal lagi. Yang pertama adalah bagian tubuh yang akan dibangkitkan. Dalam hal ini kita masih belum tahu apakah 'mereka' memiliki bagian tubuh Demon King, namun kita bisa mempersempit pencarian kita."
"Meskipun menurut sejarah Demon King mati dan hancur, kurasa ada orang yang masih memiliki bagian tubuh Demon King secara rahasia. Ini tak akan mudah."
"Lalu yang ketiga adala-"
Saat itulah Laila mulai menyadari suatu yang aneh.
-jika mereka ingin membangkitkan Demon King, kenapa Izriva harus diculik?
-jika mereka menginginkan pedang Kuro, maka itu wajar, namun bagaimana jika yang diinginkan musuh bukanlah itu?
Kekuatan Izriva adalah menyesuaikan kekuatan miliknya dengan kekuatan penggunanya. Bagaimana jika Demon King menggunakan kekuatan Izriva untuk menambah kekuatannya?
Demon King memiliki kekuatan setara dengan 72 paladin, jika digabungkan dengan kekuatan Izriva, maka tak ada yang sanggup menghentikannya. Dunia akan benar benar berakhir.
Masalah mereka menjadi lebih besar daripada yang Laila duga sebelumnya.
"Sial. Yui. Cepat temukan Kuro. Dia dalam bahaya."
Laila langsung berlari keluar perpustakaan. Yui tak tahu pasti, namun dia mengikutinya.
"...apa yang kau maksud?"
"Yui, syarat ketiga adalah wadah untuk Demon King. Di dunia ini, siapa lagi yang pantas selain Kuro?"
Yui langsung melebarkan matanya.
"Sial‼ Mereka tahu kami akan menemukan lokasi Lic di ibukota, karena itulah mereka sudah mempersiapkan sihir pengganggu yang menyebabkan kami tak tahu lokasi persisnya. Lalu setibanya di ibukota, mereka membuat kita berpencar karena mereka tahu betul bagaimana cara kerja Kuro."
Mungkin cara kerja Kuro terlihat tanpa pola, namun sebenarnya Kuro menggunakan pola tertentu untuk menyelesaikan semua misinya.
Laila mulai menyadari ini setelah mengenal Kuro cukup lama. Pertama Kuro akan mengembangkan informasi yang dia miliki. Dia lalu mendapatkan informasi dengan cara menggunakan orang lain. Dia lalu membuat sebuah hipotesis dari informasi yang dia dapat dan melakukan gerakan terakhir untuk menyelesaikan semuanya.
Disinilah kelemahan pola Kuro yang terbesar. Setiap masalah yang dia selesaikan, akan dia selesaikan dengan tangannya sendiri.
"Kh...."
Laila dan Yui keluar dari perpustakaan dan berlari dengan kekuatan penuh.
"Apa kau ingin mengatakan kalau di pihak musuh ada yang mengenal kak Kuro dengan baik?"
"Tidak. Orang itu lebih mengenal baik Kuro daripada kita berdua. Yui, bisakah kau menemukan Kuro dengan kekuatanmu?"
"Aku bisa melacak tekanan ki milik kak Kuro, tapi jangkauan jarakku terbatas."
"Lakukan apa yang bisa kau lakukan. Saat ini hanya kau yang bisa kuandalkan."
Yui memejamkan matanya dan berkonsentrasi untuk merasakan energi ki di sekitarnya. Normalnya Yui bisa merasakan ki sejauh 1 kilometer, tapi jika berkonsentrasi secara penuh, dia bisa merasakan 10 kali lipatnya.
Lalu energi ki yang dimiliki Kuro berbeda dari orang normal, jadi mudah menemukannya.
"?"
__ADS_1
"Yui, apa ada yang salah?"
"...bukan apa apa. Hanya masalah kecil."
Saat melacak tekanan ki Kuro, dia merasakan dua tekanan ki yang besar. Mungkin salah satunya lebih besar daripada Kuro.
(Aku tak menyangka di ibukota ada monster lainnya, tapi sekarang aku tak punya waktu mencari tahu mereka.)
Yui melanjutkan pencariannya, dan hasilnya-
"...kak Laila, kak Kuro sudah tak berada di ibukota lagi."
"Eh?"
Keduanya berhenti. Mereka di tengah jalan dan membuat sebagian besar orang bertanya tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Dia pergi bersama Rubya. Kurasa mereka sudah sangat jauh dari sini. Secepat apapun kita, kita sudah tak bisa mencapai kak Kuro tepat waktu."
"Yui.. apa kau ingin bilang kalau kau menyerah?"
"Aku tak mengatakan kalau kita harus menyerah. hanya saja saat ini kita harus membuat pilihan. Dia tidaklah lemah, meskipun saat ini dia sedang diincar, bukan berarti dia akan dikalahkan dengan mudah. Percayalah, kak Kuro akan kembali. Dan setelah kembali tentu dia akan....-"
Yui melirik ke Laila dengan tatapan dingin dan tatapan iri. Tentu Laila tahu arti tatapan itu.
"Yui, jangan kau pikir kami hanya melakukan itu setiap kami bersama."
Mungkin tidak, tapi siapapun yang melihat hubungan mereka, pasti akan berpikiran sama dengan Yui.
Wajah Laila memerah dan itu bukti kalau dugaan Yui tepat sasaran.
"...bagaimana kalau kita mencari Lic?"
"........yeah..."
💠💠💠
Sementara Laila dan Yui sudah membuat keputusan tentang langkah selanjutnya yang akan mereka ambil, sayangnya, dugaan mereka tentang Kuro tidaklah tepat.
Kuro dan Rubya mendatangi salah satu tempat milik Benyamin di kota kecil yang bernama Ruigars. Kota kecil itu terletak cukup dekat dengan ibukota dan digunakan sebagai tempat istirahat pedagang sebelum mereka menjual dagangan mereka di ibukota.
Dari informasi yang dia dapat, saat ini Benyamin mengirim barang ke ibukota. Dari situlah Kuro memulai pencariannya.
Langit malam tanpa dengan dua bulan sabit menerangi malam memberikan waktu yang tepat bagi Kuro.
"Rubya, terima kasih. Sekarang kembalilah ke tempat Yui."
Kuro turun dari punggung Rubya dan mendarat di ujung atap dengan lembut. Meskipun dia turun dari ketinggian 300 meter lebih, namun dengan menggunakan ki untuk membuat tekanan udara sebelum dia mendarat membuatnya bisa mendarat dengan sempurna.
Dia lalu bersembunyi di atap dan menunggu hingga suasana lebih tenang dan sunyi. Setelah menunggu sekitar 2 jam, kota Ruigars telah tenang dan yang terdengar hanyalah tawa dan canda dari bar yang beroperasi 24 jam.
Selain itu, hanya beberapa orang saja yang berjaga di gudang penyimpanan.
"..."
Dengan hati hati Kuro melewati celah bangunan dan menggunakan kecepatannya untuk menghindar dari setiap penjaga. Kuro lalu masuk dengan melewati jendela besi yang dia potong menggunakan ki saat dia melompat.
Untuk menghindari kecurigaan, Kuro membawa besi jendela yang dia potong. Setelah itu dengan hati hati dia menaruhnya di lantai.
Dia lalu melihat ke sekeliling yang penuh dengan kotak kayu. Dia mendekati salah satunya dan memunculkan pedang putih dari Cristal Box. Lalu dengan pedangnya, dia memotong kayu dan membuka isinya.
"...."
Ketika kotak terbuka, yang terlihat adalah kain. Kuro mengambil salah satu dan melihat kalau itu adalah kain bendera yang biasa digunakan untuk hiasan festival.
Kuro ingat dalam rangka menyambut Ringblood Moon, ibukota akan mengadakan perayaan besar besaran. Meskipun dikenal merupakan malam yang tepat untuk melakukan ritual sihir, namun karena keindahannya yang hanya bisa dinikmati dua ratus tahun sekali, maka banyak yang menggunakan kesempatan ini untuk menyatakan cinta.
"..sekarang, apa yang mereka lakukan dengan benda ini?"
Bagaimanapun juga, Kuro masih belum bisa menemukan hubungan bendera dengan ritual sihir.
Disaat itulah Kuro merasakan banyak hawa keberadaan seseorang. Jumlah mereka lebih dari 40 orang. Mereka semua membawa senjata dan berada di berbagai tempat.
"...atap juga kah..."
Kuro membuang bendera dan bersiap dalam posisi bertarung. Dia terkepung, jadi dia tak punya pilihan untuk bertahan.
Lalu dari segala penjuru, dinding hancur dan menunjukkan sosok bertopeng seperti yang Kuro lawan tadi siang. Tak diragukan lagi mereka adalah Homunculus dengan senjata yang memiliki kemampuan elemen suci.
(Jebakan kah... Jika orang itu ada di pihak mereka, kurasa ini wajar.)
Senjata mereka bercahaya pertanda akan melakukan serangan. Karena Kuro sudah melihat serangan mereka sebelumnya, maka dia tahu bagaimana cara menghadapi mereka, namun disaat itulah tiba tiba kedua kakinya tak bisa digerakkan.
"?!"
Kedua kakinya terkekang oleh lantai dan itu membuat dia tak bisa bergerak. Disaat itulah serangan musuh dilancarkan dari segala penjuru.
Boom! Ledakan keras terdengar hingga ke penjuru. Setelah beberapa saat, sosok Kuro terlihat dengan luka di sekujur tubuh dan darah menetes dari lukanya.
Disaat itulah suara tepukan terdengar di antara homunculus yang berhenti menyerangnya.
Kuro menajamkan matanya ke arah sumber suara dan menemukan sosok pemuda tampan di antara homunculus. Meskipun tampan, namun senyuman tipis yang dia tunjukan menunjukkan kalau ketampanannya hanyalah sebuah topeng.
"Wow.. aku benar benar terkejut senior bisa selamat dari serangan seperti tadi, ...tidak. kurasa sudah wajar jika senior selamat dari serangan murahan seperti itu. Kenapa aku tahu hal ini, tentu karena sudah sewajarnya aku tahu. Bagaimanapun juga, aku adalah temanmu, benarkan senior..?"
"....."
"Ayolah, jangan menatapku seperti itu, bagaimanapun juga aku hanya menyingkirkan semua yang menjadi penghalangku. Bukankah ini seperti yang kau ajarkan?"
Topeng yang rusak akhirnya hancur dan menunjukkan sosok wajah Kuro. Wajah Kuro terlihat tak senang dan kecewa.
"Ya, aku memang mengajarimu hal itu. Aku sungguh senang kau bisa melakukannya dengan baik. Sebagai guru aku cukup senang, tapi aku juga kecewa, Itsuki."
"Oh.. aku senang dengan nama yang kau berikan itu, Senpai. Tapi asal kau tahu, aku sudah tak menggunakan nama itu lagi. sama seperti senior yang sudah tak menggunakan nama aslimu, untuk mencapai tujuanku, aku menggunakan nama lain. Namaku sekarang ada-"
"Ariel Varsman, benarkan."
"Hoho... sudah kuduga Senpai sudah mengetahuinya. Kau memang senior yang kukagumi. ..dulu."
Tatapan pemuda itu begitu dingin dan tanpa ampun. Itu adalah tatapan seorang yang sudah tak bisa kembali lagi dari kegelapan.
Sama seperti Kuro.
"Yah.. kita akhiri reuni ini, bagaimana kalau kita mulai saja acara ini. Bertarung sampai mati. Kira kira siapa yang pertama kali mati? Ha ha.. tentu.. bukan aku, iya.. kan?"
"Kh..."
Itsuki adalah salah satu anggota Shadow Knight sama seperti Kuro. Berbeda dengan Shadow Knight yang merupakan penyihir terpilih dengan kemampuan luar biasa, namun Itsuki hanyalah penyihir rata rata yang bisa dibilang lemah.
Tapi karena suatu alasan, Itsuki bergabung dengan Shadow Knight. Dia dikenal lemah, tapi selama ada niat dan usaha, maka ada cara agar menjadi lebih kuat.
Untuk itulah, Kuro ditugaskan untuk melatih Itsuki menjadi Shadow Knight sejati. Tidak, lebih tepat jika disebut mesin pembunuh.
"Bunuh dia‼!"
__ADS_1