Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
New Generation


__ADS_3

Hari begitu cerah. Angin sejuk berhembus membawa kesejukan dari alam yang masih murni.


Di sebuah jalan di tengah hutan, sebuah kereta melaju dengan perlahan ditarik oleh dua ekor Maltea. Seekor monster jinak yang dijadikan sebagai pengganti kuda.


Selain kusir, 10 orang berada di kereta itu. Mereka terdiri dari 8 lelaki, 1 wanita paruh baya dan seorang pemuda yang mengenakan jubah lusuh seperti gelandangan.


Pemuda itu tertidur lelap seolah tanpa ada beban di pikirannya sambil memeluk benda panjang menyerupai pedang. Sedangkan yang lainnya terlihat mengobrol untuk menghabiskan waktu dan menjaga agar tidak bosan dalam perjalanan.


"Aku dengar serangan Dragonia pada kerajaan Rehma begitu kuat sehingga tak bisa dibendung lagi. Tak butuh waktu lama hingga kerajaan Rehma jatuh ke tangan Dragonia."


"Itu berita lama. Aku mendengar dari temanku kalau Dragonia sudah menguasai kerajaan Rehma sekarang ini."


"Benarkah itu? Bukankah itu terlalu cepat?"


"Dari segi jumlah pasukan memang Dragonia kalah jauh, tapi kadang kualitas lebih baik daripada kuantitas. Pasukan Dragonia memang kalah jumlah, tapi mereka memiliki sesuatu yang tak dimiliki kerajaan Rehma. Tak aneh jika kerajaan Rehma jatuh."


"Ya ampun, kenapa harus ada perang? Dulu Dragonia adalah kerajaan yang tak begitu antusias dalam hal kekuasaan seperti ini. Aku mulai kawatir ambisi Dragonia tak hanya sebatas ini."


"Memang keadaan sekarang cukup mencemaskan, tapi kita tahu sendiri kalau kekaisaran bukanlah negara yang mudah dijajah. Tidak, aku pikir mustahil menjajah kekaisaran."


"Karena itulah kekaisaran sama sekali tak melakukan pergerakan terhadap perang kali ini. Yah.. akan lain cerita jika Dragonia menyerang kekaisaran sih..."


Tawa terdengar dari beberapa orang yang mengobrol. Mereka memikirkan hal yang sama.


Dragonia mungkin mudah menyerang kerajaan Rehma, tapi Dragonia adalah negara bodoh jika berani menyerang kekaisaran yang dikenal sebagai negara terbesar dan terkuat di benua Orladist.


Sementara itu, pemuda yang sejak tadi hanya tertidur lelap menggumam 'dasar orang bodoh'.


Beberapa jam kemudian, kereta memasuki jalanan yang lebih halus dan mudah dilalui. Bersamaan dengan itu kereta lain mulai terlihat sebagai tanda mereka sampai di keramaian.


Pada akhirnya, dinding dengan tinggi 20 meter mulai terlihat. Tak hanya kokoh, tapi juga memanjang hingga tak terlihat ujungnya.


Satu satunya jalan untuk melewati tembok itu adalah dengan masuk melalui pintu gerbang yang dijaga ketat oleh pasukan kekaisaran, Knight.


Setiap orang yang lewat diperiksa dengan teliti. Kadang ada beberapa orang yang dibawa ke tempat lain untuk pemeriksaan lebih lanjut. Itu hanyalah beberapa bukti kalau pemeriksaan benar benar ketat.


"Pemeriksaan kali ini lebih ketat daripada biasanya."


"Benar sekali. Mungkin ini dilakukan untuk mencegah mata mata masuk?"


"Entahlah. Yang penting periksa dokumen kalian sekali lagi jika tak ingin ada masalah."


Mereka mulai memeriksa kembali, dan setelah memastikan semua sesuai dan lengkap, mereka menghela nafas karena lega.


Tetapi ada dua sosok yang tak melakukannya. Dua sosok itu adalah wanita paruh baya dan pemuda yang masih terdiam.


Tak ada yang memberikan saran lebih lanjut. Orang orang itu sadar kalau mereka berada di dalam kereta yang sama bukan berarti orang baik.


Ini bisa dibilang sebuah keegoisan, tapi tak ada yang menyalahkan.


Kemudian, setelah berapa lama menunggu, akhirnya kereta mereka mendapatkan giliran masuk.


Knight memeriksa dokumen dan melihat berbagai sudut kereta seolah mencari sesuatu yang tak terlihat. Pada saat itu akhirnya mereka mengerti, para Knight tidak mencari seseorang, tapi sesuatu.


Sayangnya, saat semua terlihat baik baik saja, wanita paruh baya yang terlihat ramah membuat ekspresi cemas saat Knight memeriksa barang bawaannya yang cuma tas kecil. Itu bukan suatu yang aneh mengingat privasi yang tak ingin dilihat oleh orang lain.


Sekilas tas kecil itu terlihat biasa saja, tapi itu merupakan tas dimensi yang sanggup membawa barang puluhan kilogram. Knight mengambil satu persatu barang. Hanya buku dan minuman, tapi saat memeriksa buku lebih detail, ekspresi Knight tiba tiba berubah.


"Tang-!?"


Belum selesai memberikan perintah, wanita itu mengeluarkan tekanan sihir seorang penyihir peringkat A. Wanita itu lalu melesat melewati para Knight untuk mencoba menerobos masuk.


"Hentikan dia!!"


5 Knight langsung siap menghadang wanita itu. Dalam hal kekuatan penyihir, peringkat A wanita itu bisa dibilang mengesankan, tapi para Knight juga tak kalah. Mereka semua terdiri dari penyihir peringkat A dan yang terlemah adalah peringkat C.


Jika dilihat dari jumlah dan perbedaan kekuatan antara wanita dan para Knight itu, seharusnya menangkap wanita itu adalah hal yang mudah, tetapi kenyataan berkata lain.


Wanita itu mengeluarkan Arm berwujud pedang besar hitam dan mengayunkannya pada para Knight. Tak hanya cepat, tapi juga kekuatan besar terasa dari ayunannya.


Tak mau kalah, para Knight mengeluarkan Arm dan Beast masing masing. Sayangnya, itu percuma. Wanita itu dengan mudah menghempaskan para Knight hingga puluhan meter. Lalu dia melesat kembali dengan lebih cepat ke dalam kota.


"Sial. Dia terlalu kuat. Kita meminta bantuan pada Knight yang ada di dalam kota."


Pria yang terlihat pemimpin kelompok Knight menggunakan sihir komunikasi untuk menghubungi Knight yang berada dalam kota.


Wajah wanita itu sudah terekam, jadi hanya tinggal menunggu waktu sampai dia tertangkap.


Setelah insiden itu, para Knight yang bertugas kembali melakukan pemeriksaan seolah tak ada apapun yang terjadi seolah kejadian itu hal yang biasa.

__ADS_1


Tetapi di saat itulah kejadian janggal lainnya mulai disadari.


"Ke mana pemuda itu tadi?"


Pemuda yang belum diperiksa menghilang.


---di dalam kota, wanita paruh baya terus berlari di antara gang sempit. Dia bisa merasakan beberapa sosok mengejarnya tak jauh di belakang.


"Knight kekaisaran memang tak bisa diremehkan."


Rencana bisa dibilang gagal, tapi juga bisa dibilang berhasil. Barang yang berada di dalam buku hanyalah sebagian kecil dari barang yang dia selundupkan.


Lalu meskipun wajahnya sudah dikenal, itu bukanlah wajahnya yang asli.


Dia lalu melepaskan alat sihir menyerupai topeng kulit dari wajahnya. Dalam sekejap wajahnya berubah menjadi wanita muda yang cantik dan mempesona.


Pakaian yang dia kenakan dia lempar di tempat sampah dan berganti dengan pakaian sesuai dengan sekitarnya. Dengan ini semuanya sempurna. Tak ada yang mengenali dirinya lagi.


Sekarang yang dia perlu lakukan hanyalah pergi ke tempat ramai dan menuju tempat selanjutnya.


Tapi di saat hendak melaksanakan niatnya;


"Itu cukup bagus, tapi tidak cukup untuk mengelabuhi ku."


Wanita itu terkejut oleh asal suara yang berada di atap sebuah rumah. Dia bisa merasakan sebuah sosok sedang duduk di sana mengamatinya.


Dia tak menyangka ada yang sanggup mengejarnya sejauh ini, tapi dia juga terkejut oleh alasan lain.


(Aku sama sekali tak merasakan kehadirannya)


Wanita itu penyihir peringkat A yang fokus menguasai sihir peningkat kecepatan, karena itulah dia sangat percaya diri dengan kemampuannya meloloskan diri. Dengan kemampuannya inilah dia sering mendapatkan pekerjaan untuk menyelundupkan barang atau mengirimkan pesan rahasia.


Dalam setiap pekerjaannya, dia sering berhadapan dengan lawan yang cepat, tapi dia tak pernah tertangkap oleh mereka.


Itu adalah bukti dari kekuatan yang dia miliki dan bukti kalau dia adalah salah satu penyihir tercepat.


(Dia pasti menggunakan alat sihir penghapus keberadaan. Jika tidak, mustahil aku tak menyadari kehadirannya)


Di dunia ini sihir yang tak mungkin bisa dilakukan penyihir bisa ditutup dengan menggunakan alat sihir. Tak aneh jika ada alat sihir dengan kemampuan seperti itu.


Wanita itu langsung tenang.


"Percuma mengelak, aku tahu semua yang kau lakukan."


"..."


Dengan kata lain pemuda itu melihat semuanya sejak dia melarikan diri.


Dia mulai sadar kalau pemuda itu bukanlah pemuda biasa.


Wanita itu lalu mengeluarkan sebuah rapier dan mengayunkannya dengan begitu cepat hingga tak bisa dilihat oleh mata.


"Bocah, kau benar benar sial. Karena melihat semuanya, kau harus mati!"


"Hey hey.. aku sama sekali tak tertarik dengan wanita pela*ur sepertimu. Jangan anggap rendah seleraku!!"


"Kau!!!"


Wajah wanita itu semakin memerah karena marah. Dia tak menyangka akan begitu diremehkan. Tak hanya itu, dia juga dilecehkan oleh pemuda yang belum dewasa.


"Hmmph!! Aku beritahu, aku memang penyihir peringkat A, tapi aku memiliki kekuatan tempur setara dengan peringkat S. Memang Arm milikku senjata yang besar, tapi aku lebih menguasai teknik pedang yang mengandalkan kecepatan."


Wanita itu sekali lagi mengayunkan rapier dengan begitu cepat. Beberapa detik kemudian tiang besi yang berada di dekat dinding terpotong menjadi beberapa bagian.


"Setelah melihat kemampuanku, jangan pikir untuk melarikan diri. Kau akan mati. Aku tak akan memberi ampun meskipun kau memohon dan menyembah."


Biasanya orang yang melihat teknik pedangnya akan langsung gemetar dan takut. Tetapi pemuda itu masih terlihat biasa saja.


Tenang dan dingin. Seolah sama sekali tak tertarik.


"Kau akui kau memiliki teknik yang bagus, tapi aku pikir kau salah dalam menggunakan rapiermu."


"Jangan kawatir, aku juga bagus dalam membuat lubang. Aku jamin rasanya tak akan nyaman."


"Heee... Kalau aku kebalikannya. Pedangku bisa mengisi lubangmu. Saat pertama kali memang sakit, tapi aku jamin rasanya akan lebih nikmat setelah beberapa kali tusukan. Sayangnya, pedangku tak begitu rendah untuk mengisi penjahat sepertimu."


"Mati kau!!"


Wanita itu melesat dan dalam sekejap muncul di belakang pemuda itu dan mengayunkan rapier dengan niat memenggal kepala.

__ADS_1


"!?"


Tapi dia dikejutkan oleh sesuatu yang tak terduga. Sebelum menyentuh pemuda itu, rapier miliknya seperti terhalang sesuatu yang tak terlihat.


Dia tak menyerah dan menyerang lagi dan lagi. Cepat dan semakin cepat, sayangnya saat sadar hasil serangannya sia sia, dia melangkah mundur.


"Tch!! Aku tak tahu trik apa yang kau gunakan, tapi jangan harap trik itu akan berguna."


Pusaran angin muncul di ujung rapier. Itu adalah sihir peningkatan kecepatan dan kekuatan yang membuat serangan tusukan menjadi lebih kuat.


Wanita itu berusaha menjebol pertahanan pemuda itu dengan kekuatan penuh.


"Piercing Stab!"


Seperti peluru, wanita itu melesat dengan ujung rapier ke arah kepala, tapi sebelum mengenai target, rapier berubah arah mengincar dada.


(Kena kau!!)


Senang serangannya tak ada hambatan seperti sebelumnya, dia merasa berhasil menyerang pemuda itu. Meskipun ada kemungkinan tak mati, tapi itu sudah cukup. Dia bisa melakukan serangan selanjutnya.


"!?"


Tetapi semuanya berubah menjadi keputusasaan saat ujung rapier yang hendak mengenai dada pemuda itu berhenti. Bukan dengan perisai atau sebuah sihir tingkat tinggi, tapi dengan sebuah sarung pedang berwarna hitam kelam.


"Lumayan..."


Serangan wanita itu tidaklah lemah. Serangannya bahkan membuat gelombang sonik hingga menghempaskan benda di sekitar mereka.


Tetapi serangan sekuat itu dengan mudahnya ditahan. Siapa yang tak akan terkejut dengan apa yang terjadi? Dan yang lebih mengejutkan, pemuda itu masih berada di tempatnya seperti gunung kokoh.


"Karena kau sudah menyerang, sekarang giliranku."


Pemuda itu tiba tiba menghilang.


Wanita itu menoleh ke berbagai sudut untuk melihat ke mana pemuda itu. Tapi dia sama sekali tak menemukan sosoknya.


"?"


Tapi wanita itu memiliki indera yang lebih tajam dari penyihir biasa. Dia dengan cepat sadar ada energi sihir besar berada di dekatnya.


Energi sihir itu berasal dari sebuah burung api kecil yang terbang dengan begitu lincah seperti burung nyata. Dan burung itu terbang ke arahnya.


"Sial!!"


Wanita itu sadar dalam bahaya. Jika tak menjauh dari burung itu, dia akan dalam masalah.


Sayangnya semuanya terlambat. Meskipun reflek wanita itu membuatnya mengaktifkan sihir percepatan, dia tak bisa lolos dari burung api kecil itu.


Burung api itu berkicau dan bercahaya. Yang terjadi selanjutnya adalah ledakan besar di tengah kota.


"Oops.. aku terlalu banyak menggunakan sihir. Aku harap wanita itu tak apa apa."


Ledakan itu menghancurkan sebuah rumah dan menciptakan kawah selebar 10 meter. Meskipun terlihat berlebihan, dia sudah memeriksa tak ada orang di sekitar tempat itu.


Sedangkan nasib wanita itu bisa dibilang sebuah keajaiban. Dia sama sekali tak terluka dan hanya tak sadarkan diri di pusat kawah. Pakaiannya compang-camping hampir telanjang. Itu suatu yang luar biasa mĂȘngingat dia berada di dalam pusat ledakan.


"Para Knight akan segera tiba, aku tak tahu apa yang akan terjadi pada wanita itu, tapi jika membiarkan lolos begitu saja kurang menyenangkan."


Dia memainkan tas dimensi yang dia ambil dari wanita itu. Di dalam tas itu terdapat bukti kejahatan yang dilakukannya.


Dengan senyuman kecil, pemuda itu lalu melempar tas kecil itu tak jauh dari tubuh wanita itu dan memberikan catatan kecil di tanah dengan sihir.


Para Knight yang terlatih pasti mudah mengetahui maksudnya.


Lalu setelah merasa semuanya sudah selesai, pemuda itu berdiri dari tempatnya berdiri. Dia melompat dari atap ke atap dan akhirnya berhenti di sebuah menara paling tinggi di sekitar tempat itu.


Dia lalu memandangi sebagian kecil dari bagian ibukota kekaisaran, kota Phoenix.


Di saat itulah dia merasakan nostalgia yang begitu besar di hatinya.


Hanya ada satu kalimat yang muncul di benaknya.


"...aku pulang..."


Di saat yang sama, angin mengembuskan jubah pemuda itu hingga memperlihatkan sosoknya. Seorang pemuda tampan dengan rambut putih murni. Tatapannya sedikit tajam dengan mata merah membara seperti api.


Tapi dari semua itu, yang paling mencolok darinya adalah sebuah tato naga hitam di dekat matanya.


Hari ini, Riku Kagami akhirnya pulang setelah beberapa tahun pergi untuk latihan.

__ADS_1


__ADS_2