
Suara tembakan memenuhi lorong istana. Percikan kemerahan selalu hadir bersamaan dengan suara tembakan dan letusan bahan peledak. Gerakan lincah dan percikan dari benda logam juga memenuhi segala penjuru. Ledakan dan kehancuran dari berbagai benda juga menghiasi pertarungan antara tiga orang gadis.
Laila dan Charlmilia menyerang tanpa henti dan tak memberikan celah kepada Shadow untuk menyerang atau bahkan menggunakan kekuatannya. Bertahan dan terus bertahan. Itulah yang dilakukan Shadow. Ketika dirinya bersiap mengunakan sihir, kekuatannya akan langsung dinetralkan oleh tembakan peluru anticristal dari kedua gadis cantik itu. Lalu setelah sihirnya dinetralkan, kedua gadis itu menyerang dengan sihir mereka. Kombinasi dan kerja sama mereka sangatlah baik seperti sudah sering bertarung bersama.
Tapi kedua gadis itu tahu, meskipun terlihat mereka yang memojokkan musuh, namun keduanya tahu tak ada satupun goresan di tubuh musuh mereka. Dengan kata lain, musuh mereka tak terluka sama sekali.
"Khhh..."
Laila beradu pedang dengan Shadow dengan sekuat tenaga. Sedangkan Charlmilia mengincar dari jarak sedikit jauh menggunakan senjata api tepat di bagian kepala Shadow.
Charlmilia menekan pelatuk. Suara letusan terdengar. Peluru anticristal melesat ke arah kepala Shadow dengan kecepatan melebihi kecepatan suara, tapi Shadow menghindar dengan gerakan minimal.
"Tch..."
Charlmilia memutar lidahnya, tapi serangan belum berakhir. Charlmilia mengincar Shadow dari sudut mati dengan bola plasma berukuran kecil, tapi Charlmilia tetap tidak bisa mengenai tubuh Shadow yang membalas dengan menciptakan bola plasma hitam
Shadow mendorong pedang Laila dengan kekuatan yang luar biasa. Tubuh Laila bahkan terbang hingga beberapa meter, tapi Laila tak menyiakan kesempatan menyerang meskipun tubuhnya terpental. Laila menciptakan puluhan Scarflare di udara dan lalu menyerang Shadow seperti sebuah roket secara hampir bersamaan.
Booom!! Ledakan dan asap mengepul dari Shadow. Laila berharap serangannya berhasil dan mendarat dengan menggunakan tangannya sebagai pijakan sekaligus meredam tubuhnya. Laila akhirnya terseret beberapa meter sebelum akhirnya berhenti.
(Sungguh kekuatan yang luar biasa.)
Laila melihat asap perlahan menghilang. Sosok Shadow terlihat tak terluka sedikitpun setelah menerima serangannya.
"Laila, kau tak apa apa?"
Charlmilia mendekat dengan wajah kawatir. Bajunya sobek disana sini seperti Laila. Nafasnya juga terengah engah dan tekanan mana juga semakin berkurang dari Charlmilia pertanda dia mulai kehabisan mana. Laila juga tak terlalu berbeda.
Yang tak mengalami perubahan adalah Shadow. Tekanan mananya sama sekali tak berkurang atau bahkan mengalami perubahan sedikitpun. Jika Shadow disebut monster, maka sebutan itu sama sekali tak pantas. Dia lebih cocok dipanggil Dewa. Dewa Kematian.
"Aku baik baik saja, tapi.."
"....ya, aku tahu."
Charlmilia juga tahu apa yang dimaksud Laila. Amunisi anticistal mereka hanya tersisa beberapa saja. Situasi mereka semakin buruk.
Satu satunya kabar baik yang mereka terima adalah bahwa Diana baik baik saja. Tapi kabar bahwa Grimoire of Dragon yang mereka lindungi adalah umpan cukup membuat mereka terkejut. Fakta mengenai Cross adalah seorang pengkhianat juga membuat mereka terkejut.
Knox memberi kabar melalui radio bahwa dia sedang melawan monster mekanik yang bernama Astaroth. Sekarang yang mereka lakukan hanyalah percaya bahwa Knox mampu mengalahkan Astaroth. Knox tidaklah lemah. Mereka tahu itu.
Tapi ada satu masalah yang membuat mereka berdua keheranan. Apa yang sebenarnya Shadow incar?
Sebelumnya Shadow sempat ingin mengambil Grimoire of Dragon karena tahu adalah umpan, dengan kata lain tujuan Shadow sejak awal sudah tak ada. Apakah ada tujuan lain?
Laila melirik lonceng yang menghiasi gelangnya. Lonceng itu kini berwarna merah karena terhubung dengan Kuro. Dengan lonceng itupula dia bisa berkomunikasi dengan Kuro secara rahasia. Tapi dari komunikasinya, Kuro juga tak terlalu mengkhawatirkan dirinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Pertarungan ini seolah sudah diatur oleh seseorang.
Charmilia dan Laila kembali fokus kepada Shadow yang sama sekali tak terluka. Meskipun mereka hampir mengeluarkan semua kekuatan mereka, mereka berdua belum mampu membuat Shadow terluka. Sekarang mereka mengerti kenapa Electra bahkan tak sanggup menghentikan Shadow.
[Laila, apa kau punya ide?]
Laila tak langsung menjawab telepati Charlmilia dan menggertakan giginya. Bagaimanapun kau melihatnya, Shadow bisa membunuh mereka kapan saja. Kekuatan dan kecepatan bahkan sama dengan Kuro. Selain itu Shadow juga bisa menggunakan Ki, Shadow seharusnya tak perlu menghindar atau menerima serangan mereka berdua.
[.........aku tak tahu, ....tapi...]
Laila melirik Shadow yang tersenyum seolah meremehkan mereka berdua, tapi bukan alasan itu kenapa Laila tertarik kepada bibir kemerahan itu.
(Aku sudah pernah melihat senyuman itu sebelumnya. Tak hanya satu kali, tapi ratusan kali..)
Tapi ini adalah pertemuan mereka yang pertama kali, seharusnya Laila tak mengenali senyuman itu, tapi senyuman itu benar benar terasa akrab.
"!?"
Kemungkinan yang mustahil kini menghampiri pikiran Laila. Senyuman itu adalah milik seseorang yang seharusnya sudah tak ada lagi di dunia ini.
Tap tap tap. Suara langkah kaki Shadow mendekat menggema ke seluruh lorong. Mereka berdua hanya bisa bersiap menghadapi serangan Shadow.
Shadow tersenyum.
"Apa kalian sudah tahu perbedaan kekuatan di antara kita?"
"".....""
"Hm.. kalian tak bodoh, jadi kalian sudah paham bahwa mustahil mengalahkanku. Jadi bagaimana kalau sekarang kita bicara saja."
Laila menajamkan matanya mendengar suatu yang mustahil terdengar dari musuh mereka.
"Bicara?"
"Ya. Kita bertiga tahu kalian bahkan tak bisa melukaiku, tapi aku juga tak bisa melukai kalian berdua, jadi mari kita bicara saja."
"Tak bisa melukai kami?"
Laila dan Charlmilia dibuat bingung oleh perkataan Shadow, tapi jika tak bisa melukai mereka, kemungkinan besar ada alasan tertentu kenapa Shadow tak bisa melukai mereka atau ada seseorang yang melarang melukai mereka.
"Jangan salah paham, meskipun bocah itu melarangku melukai kalian, bukan berarti aku tak melukai kalian karena hanya alasan sepele seperti itu. ...lagipula ada banyak musuh yang mampu membunuh kalian."
Alasan Shadow bisa mereka terima. Selain Shadow ada banyak musuh yang bisa saja membunuh mereka berdua. Dan salah satunya Deon.
"Tapi seperti yang kubilang tadi, akupun bahkan tak bisa melukai kalian, dan jika aku tak bisa melukai kalian itu artinya mereka juga tak bisa melakukannya. fufu fu.. "
"A-apa maksudmu.."
Shadow benar benar membuat mereka bingung.
Disaat itulah, 2 lingkaran sihir muncul di udara dan tombak bayangan menyerang mereka berdua dengan kecepatan yang luar biasa. Mereka tak bisa menghindar dan hanya bersiap untuk mati, tapi mereka sama sekali tak merasakan sakit atau bahkan sama sekali tak terluka. Apakah Shadow hanya mempermainkan mereka?
Tidak. Mata mereka melebar terkejut saat melihat ada dinding hitam yang muncul beberapa cm dari tubuh mereka dan menghalangi tombak yang menyerang mereka. Tak hanya itu, tombak bayangan itu tertelan dan hancur berkeping keping.
"Apa yang terjadi?"
"Perisai?" tanya Charlmilia dengan tatapan keheranan.
Tapi Shadow hanya tersenyum kecil.
Charlimilia dan Laila tak pernah mempersiapkan semacam sihir pelindung, karena itulah mereka terkejut, tapi menyadari Shadow tahu hal yang mereka tak ketahui, itu membuat mereka berpikir seberapa banyak yang diketahui Shadow? Tidak, pertanyaan itu lebih tepat jika siapa sebenarnya dia?
"Itu adalah , salah satu sihir pelindung terkuat di dunia. Kalian tak tahu? Yah ini wajar, mana mungkin bocah itu memberi tahu kalian tentang sihir yang dia pasangkan kepada Queen untuk melindunginya. Fu fu... keturunan Demon King memang tak bisa diremehkan.."
Laila dan Charmilia tak bisa berkata apa apa. Tak ada satupun perkataan Shadow yang mereka mengerti. Tapi keturunan Demon King... Kuro?
"Queen?"
"Kau tak tahu? Ini cukup mengejutkan karena kau tak menyadari posisimu saat ini, Queen."
"Apa yang kau bicarakan? Kenapa kau memanggil Laila dengan sebutan Queen? Kenapa kau menyebut Kuro keturunan Demon King?"
Shadow hanya mendesah.
"Aku tak punya urusan dengan orang luar."
Shadow mengarahkan tangannya ke depan dan menggerakkannya seperti sedang mencengkeram sesuatu.
"!"
Charlmilia terkejut karena dia tiba tiba tak bisa menggerakkan tubuhnya. Entah mengapa tubuhnya terasa seperti terikat oleh tali yang sangat kuat. Tapi dia tahu, ini adalah salah satu sihir Shadow.
Charmilia berusaha meronta, tapi dia tetap tak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Kh.."
Charlmilia mengerang kesakitan. Laila yang melihat itu tak tinggal diam dan menyerang Shadow dengan bola api.
"Lepaskan dia!!"
Tapi serangan Laila tak bisa melukai Shadow sedikitpun. Shadow bahkan tak perlu menghindar.
"Lepaskan? Baiklah.."
Shadow mengayunkan tangannya ke dinding. Disaat yang sama tubuh Charlmilia membentur dinding dengan keras. Dinding bahkan sampai retak.
"Gahh.."
Charmilia berteriak. Wajahnya terdirtorsi oleh rasa sakit. Tubuhnya perlahan tumbang dan darah mengalir dari mulutnya.
Laila langsung menghampiri Charmilia. Laila sedikit merasa lega saat mengetahhui Charlmilia masih sadar, tapi dia mengalami luka yang cukup parah. Syukurlah luka Charmilia tampaknya tak mengancam nyawanya.
Laila menoleh ke arah Shadow dengan tatapan penuh kebencian. Aura merah juga terpancar dari tubuhnya. Tak hanya itu, tekanan mana Laila juga meningkat dengan pesat.
Laila tanpa banyak kata menyerang Shadow dengan bola api sekali lagi, tapi warna bola api sedikit lebih merah. Itu adalah tanda Laila sedang marah.
Tapi sekali lagi Shadow tak menghindar, tapi kali ini dia menebas bola api dengan Clocflare. Bola api itu menerima tebasan dan lalu menghilang seperti terhisap sesuatu.
Laila yang melihat itu semakin terkejut. Kekuatan yang ditunjukan Shadow adalah kekuatan yang Laila kenal. Re;Breaker. Itu adalah kemampuan khusus Clocflare yang mampu mengembalikan sihir apapun kembali ke asal semula. Sihir ini termasuk sihir yang sangat menakutkan.
__ADS_1
"...kau... siapa kau sebenarnya...?"
Shadow hanya tersenyum.
"Kenapa kau menanyakan itu? Kau sudah tahu jawabannya."
Perlahan Shadow membuka kerudung yang menutupi sebagian wajahnya. Rambut biru laut yang lembut terurai. Mata biru juga serasi dengan rambutnya. Kulit seputih susu dan wajah cantik bagai boneka begitu Laila kenal.
Gadis cantik yang selalu berada di mimpinya kini tepat berada di depannya.
"Alice..."
Alice, atau Aliciana. Penyihir yang dikenal sebagai penyihir waktu karena mampu memanipulasi waktu. Dia adalah seorang putri raja dan juga dikenal sebagai kekasih Shiroyasha. Dia hidup di zaman sebelum Light War terjadi. Dalam catatan sejarah tak ada yang tahu bagaimana cara dia mati atau bagaimana kehidupannya, tapi ada dugaan kalau dia masih hidup.
Dan jika dugaan itu benar, maka Alice yang ada di depan Laila saat ini bukanlah suatu hal yang mustahil.
Alice tersenyum. Laila tak pernah bisa melupakan wajah dan senyuman dari gadis yang di mimpinya sekaligus dia kagumi, tapi Laila merasa ada yang berbeda dengan Alice yang berada di depannya. Jika dibandingkan keduanya bagai orang yang berbeda.
"Kau salah satu pemilik Alice's memories, ingatanku. Tak mengherankan jika kau tahu siapa diriku."
"...."
"Tapi dengan begini, kita bisa dengan lebih mudah bicara sebagai sesama Queen. Sebagai kekasih Demon King. Tapi kau tampaknya tak terlalu terkejut saat mendengar kau adalah kekasih Demon King, apakah kau sudah tahu hal ini?"
Laila terdiam. Wajahnya memang tak menunjukkan dia tak terkejut, tapi dia seperti menahan sesuatu.
"Demon King yang kau maksud adalah Kuro?"
"Ya, ...tapi dia lebih tepat disebut sebagai calon Demon King. Kau tahu artinya kan? Kekuatan Demon King juga mengalir dalam darah bocah itu, hanya tinggal waktu saja hingga bocah itu membangkitkan kekuatan terlarang, kekuatan sang kegelapan."
Laila tak bisa menyangkal karena dia juga paham apa maksud perkataan Alice.
Kuro adalah eksistensi misterius dan tak normal. Meskipun dia menggunakan Ki sebagai pengganti sihir, tapi jika dibandingkan dengan penyihir, Kuro memiliki kekuatan yang tak biasa. Apalagi setelah mengetahui Kuro adalah keturunan Shiroyasha, maka kemungkinan ini semakin besar.
"Kau tampaknya sudah mengetahui bahwa bocah itu tak normal, aku salah?" tambah Alice.
(Kekuatan kegelapan...)
Laila tak begitu mengerti apa yang dimaksud dengan kekuatan itu.
"...... meskipun perkataanmu benar, Kuro bukanlah seorang penyihir. Meskipun dia keturunan Demon King atau apalah, dia tetap tak akan bisa menjadi Demon King. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Ya, itulah tugasmu sebagai Queen."
"Apa?"
"Kau tak tahu, Queen bukan hanya sebutan untuk kekasih Demon King, tapi juga sebagai pengendali Demon King."
".....?"
"Kau tahu apa artinya? Kehancuran atau kedamaian dunia yang menentukan bukanlah Demon King, tapi kita, Queen."
Laila hanya bisa melebarkan matanya mendengar bahwa dirinya menjadi penentu nasib dunia. Kenyataan yang terlalu aneh dan sulit dimengerti.
"Karena itulah aku tak melukai atau bahkan membunuh kalian. Jika aku melakukannya, ada kemungkinan kekuatan yang bersemayam dalam tubuhnya akan bangkit dan lepas kendali. .....kita tak mau itu terjadi kan?"
Alice tersenyum kecil, lalu melanjutkan.
"Karena itulah aku akan membangkitkan Demon King yang sesungguhnya, kekasihku dan satu satunya orang yang kucintai. Aku sudah tak sabar akhirnya kami bisa bertemu lagi setelah lama tak bertemu... fu fufu. Hmm... tapi aku mungkin akan bercinta seharian penuh dengannya terlebih dahulu, kau setuju kan?"
"KENAPA KAU BERTANYA KEPADAKU!!" teriak Laila dengan wajah memerah.
"Fuf uf fu.. jangan bodoh, kita berdua tahu sifat mereka, kau tahu hal itu pasti terjadi kan..?"
Wajah Laila semakin memerah.
"A-Aku tahu dia sedikit mesum, ta-tap- kenapa membahas hal ini? Meskipun kau adalah Alice yang berada di mimpiku, aku masih belum percaya sepenuhnya kepadamu!! Jadi percuma saja kita membahas hal ini.."
"...tapi aku harus tetap berbicara kepadamu.."
Laila terkejut saat wajah Alice berubah menjadi lemah lembut dan terlihat begitu sedih.
"Demon King atau bukan mereka adalah orang yang kita cintai. Tak peduli seluruh dunia menjadi musuhnya, kita akan selalu berada di pihak mereka dan mendukung mereka, tapi kita berdua tahu, meskipun kita melakukan itu semua mereka tak akan pernah lepas dari penderitaan."
"......"
"Jika kau memiliki kekuatan untuk membebaskan mereka dari penderitaan, apa yang kau pilih?"
Kuro selalu menderita. Laila tahu itu. Meskipun Kuro selalu tersenyum saat di depannya, namun setelah mendengar masa lalu Kuro dari Yui, Laila sadar dibalik senyuman Kuro, Kuro selalu menyembunyikan kesedihan dan penderitaannya. Hal yang sama juga terjadi kepada Shiroyasha.
Laila tahu hal ini.
Alice tahu hal ini.
Keduanya adalah orang terpilih yang mampu melihat dan memberikan obat kepada mereka. Karena itulah Laila tahu, jika dia memang memilki kekuatan untuk membebaskan mereka, maka jawaban Laila adalah-
"...tentu aku akan membebaskan mereka." ucap Laila sambil tersenyum. "Aku mencintai Kuro, karena itulah akan kulakukan apapun demi dia."
"Jawaban yang bagus, aku menantikan apa yang kau lakukan, Queen."
"Ya, tapi aku tak mengerti siapa kau sebenarnya?"
"Kenapa kau bertanya? Bukankah ka-"
Laila menggelengkan kepalanya.
"Wajahmu, suaramu, senyumanmu dan kekuatanmu memang sama dengan Alice, tapi kau bukanlah Alice."
"....."
"Alice yang berada di mimpiku sudah meninggal. Meninggal di pelukannya dengan senyum bahagia." Laila menajamkan tatapannya. "Yang membuatku heran, perkataanmu tentang kau mencintainya dan semua yang kau katakan tentang penderitaan bukanlah suatu kebohongan."
"..."
"Tapi ini tak masuk akal, Alice adalah satu satunya orang yang tahu tentang Shiroyasha, seharusnya tak ada orang lain selain dirinya, ....siapa kau sebenarnya, Immortal Witch?"
Alasan lainnya adalah Alice (?) memiliki kekuatan yang mampu meniru sihir orang lain. Meniru wajah dan suara Alice pasti bukanlah suatu yang sulit baginya.
Alice terdiam. Senyuman juga menghilang dari wajahnya, tapi ketenangannya tak menghilang meskipun dia sudah ketahuan.
"Begitu rupanya, tampaknya kau mempunyai seluruh ingatan mereka."
Alice tak menyangkal perkataan Laila bahwa dirinya bukanlah Alice yang asli.
"Lalu apakah ada masalah? ...semua cintaku tidaklah palsu, kau yang mengatakannya sendiri kan? Tapi perkataanku tentang kami akan bercinta juga bukanlah suatu kebohongan."
"......apa?"
"Dan tentang aku membangkitkan kekasihku juga bukanlah suatu kebohongan. Itu sudah cukup bagimu kan? Kita berdua adalah Queen jadi kau tahu aku tak berbohong. Pertanyaannya sekarang, apa yang kau lakukan setelah tahu bahwa kekasihmu akan menjadi musuh dunia?"
Laila terdiam mematung.
"Apakah kau akan tetap bersamanya, atau kau justru meninggalkannya? fu fu fu.. Aku sudah tak sabar menantikannya."
Perlahan tubuh Alice menghilang seperti terbakar oleh api hitam. Senyuman muncul di wajahnya.
"Kita akan bertemu lagi, Queen.. Aku akan menanti apa yang akan kau lakukan...."
Alice menghilang sepenuhnya tanpa jejak. Tekanan mana juga menghilang tanpa bekas. Yang tertinggal hanyalah suara menggema.
".........."
Laila terdiam mematung dan tanpa sepatah kata berjalan mendekati Charmilia yang hampir kehilangan kesadarannya. Dia menghilangkan Scarflare sebelum akhirnya dia mengambil botol air mata phoenik dari sakunya. Laila membuka botol, lalu meminumkannya ke Charlmilia.
Perlahan Charlmilia membuka matanya. Luka di seluruh tubuhnya perlahan mulai pulih dan menghilang tanpa bekas. Tapi wajah kelelahan masih terlihat.
"..Laila,...apa kau baik baik saja?"
Laila sama sekali tak terluka, tapi dia terlihat kelelahan dan wajahnya pucat pasi. Dia juga terlihat sedih dan sedang memikirkan sesuatu.
"Aku baik baik saja..."
Tapi raut wajahnya tak menunjukkan dia baik baik saja. Laila pasti syok dan terkejut setelah mendengar kenyataan tentang dirinya dan Kuro.
Kuro adalah keturunan Shiroyasha, tapi disaat yang sama juga merupakan keturunan Demon King. Kekuatan Demon King yang sanggup menghancurkan dunia juga mengalir di dalam darah Kuro. Gadis yang meniru wajah Alice bilang kekuatan itu hanya menunggu waktu untuk bangkit, tapi apa yang menyebabkan kekuatan itu bangkit?
Jika dia bisa menemukan hal itu, maka dia setidaknya bisa menemukan cara agar mencegah kekuatan itu bangkit. Disaat yang sama dia bisa mengubah takdir Kuro agar tak berubah menjadi Demon King yang kedua.
Gadis itu juga bilang dirinya adalah Queen yang menentukan apakah Demon King membawa kehancuran atau justru membawa kedamaian, tapi Laila tak tahu bagaimana caranya melakukan semua itu.
Terakhir, siapa gadis yang memakai wajah Alice?
Laila tahu Alice sudah mati dengan bahagia, tapi disaat yang sama dia mati meninggalkan Shiroyasha. Dan setelah itu, Demon King pun terlahir. Apakah kemunculan Demon King ada hubungannya dengan kematian Alice?
__ADS_1
Jika ya, hal ini masih belum menjelaskan siapa gadis itu. Gadis itu dikenal sebagai Immortal Witch, tapi identitas Immortal Witch juga tak diketahui. Yang menjadi masalah utama adalah gadis itu memiliki cinta tulus dan menyebut Shiroyasha adalah kekasihnya. Mungkinkah dia adalah sosok yang tak disebutkan dalam sejarah?
"...Laila?"
Laila tersadar dari lamunannya. Dia baru sadar ternyata luka Charlmilia sudah pulih sepenuhnya.
"Apa kau memikirkan perkataan wanita yang mengaku Alice itu?"
Charlmilia bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantu Laila berdiri.
"Jangan terpengaruh dengan perkataannya. Kita tak tahu apakah yang dikatakan wanita j*lang itu benar. Mungkin dia bertujuan untuk membingungkan kita semua dengan mengatakan Kuro adalah calon Demon King."
Laila mengangguk. Tapi dia terlihat masih memikirkannya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" ucap Charlmilia sambil memungut pistol beramunisi anticristal yang tergeletak di lantai.
"Bagaimana kalau kita membantu Knox. Dari komunikasi terakhir, dia mengatakan sedang bertarung melawan Astaroth. Kita bantu dia mengadapinya."
Charlmilia mengangguk tanda mengerti.
"Sebenarnya aku lebih kawatir dengan Jinn, tapi mau bagaimana lagi. Dia tak mau menjawab pangilanku."
"Tapi dia pasti baik baik saja. Kita tahu dia tak lemah."
Mereka berdua tersenyum bersamaan. Setelah itu mereka berlari ke arah asal tekanan mana Knox, tapi saat mereka berlari, mereka merasakan tekanan mana yang besar diiringi suara ledakan yang besar. Istana bahkan sampai bergetar karena kedahsyatan ledakan itu.
Mereka mempercepat lari mereka. Setelah berbelok di tikungan lorong, mereka menemukan Diana, Knox dan Louis. Mereka juga menemukan kawah selebar 30 meter dan sebagian istana yang hancur lebur. Di antara kepingan bangunan istana, terdapat ratusan kepingan logam dan sebuah kepala besi yang dalam kondisi tak berbentuk.
"Apa yang terjadi disini?"
Mendengar teriakan Charlmilia, Knox dan lainnya menoleh ke arah Charlmilia.
"Nona Charlmilia, nona Laila, syukurlah kalian baik baik baik saja. Apa yang terjadi dengan orang itu?"
"Dia pergi dan membiarkan kami hidup." jawab Charmilia.
Laila dan Charlmilia mendekat ke Diana yang masih memegangi Louis yang penuh darah. Mereka terkejut dan kawatir, tapi saat melihat Louis yang terlihat sudah lebih baik, mereka merasa lebih baikan.
"Seharusnya kami yang lebih kawatir dengan kalian."
Laila menoleh ke arah Knox dan kawah yang berada di tengah taman. Dari tekanan mana yang masih tersisa, kawah itu adalah hasil dari serangan Knox. Yang cukup mengherankan, serangan sedahsyat itu seharusnya hanya bisa dilakukan penyihir peringkat S ke atas.
"Apa yang terjadi dan dimana monster yang bernama Astaroth itu?" tambah Laila.
"Seperti yang kau lihat, aku sudah meledakkan monster keparat itu. 100 tahun terlalu awal jika ingin mengalahkanku." ucap Knox dengan sombong.
Laila dan Charlmilia tak bisa berkomentar. Mereka sadar Knox ternyata lebih kuat dari yang mereka perkirakan, tapi mereka tak menyangka Knox akan menyombongkannya.
"Daripada menyombongkan diri, sebaiknya kau obati lukamu terlebih dahulu." ucap Charlmilia.
"Ini hanya luka kecil, sekarang ada yang lebih penting daripada lukaku."
Knox berjalan ke arah Louis lalu mencengkeram kerah baju Louis. Tak hanya itu, Knox juga mendorong Louis hingga membentur dinding.
Kejadian yang terlalu cepat membuat semua orang terkejut dan tak sempat mencegah Knox. Bahkan termasuk Diana hanya bisa terdiam.
"Katakan, apa yang sebenarnya diincar Liberia? ...dan katakan apa hubungan si cebol (Cross) dengan semua ini? Kau pasti tahu semuanya karena kau mencoba menghabisi cebol itu terlebih dahulu, benarkan?"
Ketiga gadis terkejut, tapi saat melihat Louis tersenyum tipis dengan ekspresi licik, Knox semakin marah.
Saat itulah Knox, Charlmilia dan Laila menerima telepati dari Aldest yang memberitahukan sedang dalam perjalanan ke Drageass. Itu artinya dia telah kembali dari penyelidikannya. Tapi informasi selanjutnya membuat mereka terkejut dan hanya bisa melebarkan matanya.
Louis menyadari perubahan ekspresi Knox akhirnya membuka mulutnya.
"Tampaknya salah satu dari kalian sudah mengetahuinya, apa yang menjadi incaran mer- guh!"
Knox tak bisa menahan amarahnya dan langsung mendorong tubuh Louis ke dinding dengan keras.
"Kenapa kalian menciptakan senjata semacam itu? Kalian tahu apa yang telah kalian perbuat?"
Tapi Louis hanya tersenyum.
"Tentu kami sadar perbuatan kami, tapi apa salahnya menciptakan senjata seperti itu?"
"Kakak Louis?"
"Kami menciptakan senjata pemusnah massal, tapi jika dibandingkan senjata yang bisa berpikir yang kalian buat, kurasa kami lebih baik."
Senjata yang bisa bergerak dan berpikir. Dengan kata lain adalah Paladin. Jika dibandingkan dengan senjata yang dibuat dan dikendalikan manusia, Paladin puluhan kali lebih berbahaya. Ini adalah pengetahuan yang umum dan ini juga menjadi alasan terbesar kenapa sekolah sihir didirikan.
Ini juga alasan kenapa banyaknya Paladin menentukan kekuatan suatu negara. Dan hal ini juga berlaku kepada Dragonia.
Dragonia tak memiliki satupun Paladin. Jika mereka tak memiliki naga, mereka sudah lama musnah.
"...Khh.."
Knox hanya bisa menggertakkan giginya. Dia marah, tapi dia tak bisa melampiaskannya kepada Louis. Dia tahu tak ada gunanya melakukan itu.
Dia tak bisa menyalahkan Louis. Dia juga tak bisa menyalahkan Dragonia. Dia tak mempunyai hak untuk itu.
Knox lalu melempar Louis ke lantai dengan keras.
Diana langsung menghampiri Louis yang tubuhnya membentur dengan keras. Bagaimanapun Louis tetap kakaknya.
"Laila, Charl. Kita tak punya pilihan lain selain membunuh Cross."
"Tapi apa kau yakin dia masih berada disini?" tanya Charlmilia. "Bukankah kau bilang ada seseorang yang membawanya pergi menggunakan sihir teleportasi?"
"Ya, tapi Dragon Arm masih terkendali, itu artinya dia masih disekitar Drageass dan sedang mempersiapkan rencananya. Sebaiknya cepat kita pergi ke tempat Kuro."
Charlmilia dan Laila mengangguk dan langsung berlari menuju medan perang yang sesungguhnya. Mereka mengacuhkan Diana dan Louis yang masih tergeletak. Mereka tak punya waktu memikirkan mereka saat ini.
Mereka berlari di lorong dengan kecepatan penuh dan tak peduli dengan rasa lelah dan sakit yang mereka rasakan. Sekarang mereka tinggal melewati istana dan perisai. Shapira juga mereka lihat masih menyerang beberapa Hell Beast dengan Laser Breath.
"Kita akan ke medan perang, tapi apakah kita berguna?"
Mereka sekarang melihat pertarungan sengit antara Kuro, Lionel dan Deon. Mereka tahu pertarungan mereka berada di level yang berbeda dari skala kekuatan dan kecepatan mereka.
"Tidak penting kita berguna atau tidak, tapi jika kita bisa menemukan si cebol itu, kita bisa memenangkan pertarungan ini. Disaat yang sama kita juga bisa mencegah musuh menciptakan senjata itu." jawab Knox.
"Tapi bagaimana cara kita menemukan dia?" tanya Laila. "Kita tak tahu dimana mereka kan?"
"Mengenai itu, aku memikirkan sebuah cara, tapi kita butuh kemampuan Charl dan Jinn untuk melakukan semua ini. Lalu kita serahkan sisanya pada mereka?"
"Mereka? Bukankah hanya Kuro saja?"
"Apa kalian tak mengerti, kita sebenarnya mempunyai teman yang cukup berguna dalam pertempuran ini."
Melihat Knox yang tersenyum sendiri, mereka berdua tahu Knox sedang memikirkan sesuatu, tapi mereka tak tahu apa.
Tujuan pertama mereka adalah menemukan keberadaan Jinn. Tapi mereka kesulitan menemukannya karena Jinn tak pernah menjawab panggilan mereka. Satu satunya cara menemukan Jinn adalah dengan merasakan tekanan mana Jinn.
Mereka berlari di tanah yang hangus terbakar dan di antara mayat Hell Beast. Berbagai mayat manusia memakai armor dan mayat naga juga berserakan dimana mana. Ini adalah pengalaman mereka berjalan di antara mayat. Wajar saja jika mereka berpikir sedang berada di neraka.
Setelah berjalan cukup jauh dan mengalahkan Hell Beast yang sudah terlebih dulu terluka, mereka akhirnya menemukan asal tekanan mana Jinn. Mereka terkejut saat yang mereka temukan adalah reruntuhan bangunan.
"Jangan bilang Jinn tertimpa reruntuhan?"
Charlmilia langsung panik, tapi Knox justru melihat reruntuhan bangunan dengan teliti.
"Kurasa dia memang tertimpa reruntuhan, tapi kupikir dia baik baik saja."
"Eh?"
"Aku ingat tempat ini adalah tempat perlindungan, jadi tempat ini pasti ada ruang bawah tanahnya. Disitulah Jinn sekarang ini. .....tapi ini masalah, jika kita menyingkirkan reruntuhan ini, kita tak punya pilihan lain selain menggunakan Sacred Magic Art kita, tapi itu artinya kita akan kesulitan menemukan si cebol itu karena kehabisan mana."
Charlmilia dan Laila paham maksud perkataan Knox. Itu artinya mereka juga dipaksa untuk membuat keputusan sulit.
"Knox, cara yang kau maksud bisakah kita melakukanya tanpa Jinn?"
"Tidak, kita tetap membutuhkan dia. Kekuatan kita dibutuhkan dalam rencana ini. Tch... kenapa dia tak berguna saat dibutuhkan seperti ini. Dasar Siscon sialan."
Knox terlihat kesal, tapi julukannya kepada Jinn membuat mereka berdua tersenyum kecut.
"""?!"""
Tiba tiba tanah bergetar. Cahaya keperakan muncul dari dalam celah reruntuhan. Cahaya bersinar dengan terang lalu ledakan besar terjadi tepat di depan mereka.
Reruntuhan hancur berkeping keping dan hancur berterbangan ke segala arah. Lalu dari cahaya itulah muncul sosok Jinn yang memegang sebuah gelang perak.
Ada yang berbeda dengan Jinn. Mereka tahu itu. Pasti sesuatu telah terjadi kepada Jinn selama pertempuran terjadi. Jinn yang baru kini telah muncul di depan mereka.
"Tchh.. dasar Siscon sialan.. "
__ADS_1
Knox tertawa lebar saat tahu rencananya akan berjalan sesuai harapannya. Dia senang untuk pertama kalinya dia merasakan strateginya akan menyelematkan dunia. Pertarungan sebenarnya baru dimulai.