
"Jika kau bertanya kenapa kami ada di sini, tentu kami datang untuk membunuhmu, k*parat."
Gyu geram dan mengendalikan Magic Beast miliknya menyerang Kuro, tapi Kuro berhasil menghindar dengan gerakan minimal. Lagi lagi lagi dan lagi. Pemandangan itu berubah menjadi hal lucu.
Pundak Gyu tiba tiba dipegang dari belakang.
"..Gyu, ..untuk alasan tertentu, sebaiknya kau lupakan saja tentang membunuh dia sekarang."
"Kenapa kau mengatakan itu, Hana? Setelah apa yang dia perbuat kepada kita, bukankah kita sudah sepakat untuk mengahabisinya bersama?"
Mungkin terdengar aneh, tapi itulah kenyataannya.
Sebagai Illegal, menjalankan misi pembunuhan bukanlah suatu yang aneh, tapi bukan berarti misi itu harus dilaksanakan jika situasi tak mendukung atau berubah.
Dalam kasus mereka, misi pembunuhan West sudah dibatalkan satu bulan yang lalu, tapi Kuro dengan sengaja tak memberitahukan hal itu dan akhirnya membuat mereka melakukan hal ini dan itu.
Jika tidak marah, mereka bukanlah manusia.
"..Ya, aku tahu itu, ...tapi lihat itu? Kurasa mustahil kita membunuhnya dengan kekuatan kita yang sekarang."
"....huh?"
Gyu lalu melihat sekali lagi saat Kuro menghindari semua serangan dengan gerakan minimal bahkan seperti bermain main dengan anjing besar. Dan yang mengherankan, Kuro melakukannya di lorong yang bisa dibilang sempit.
Meskipun benci mengakuinya, tapi Gyu tahu batas kekuatannya. Saat ini mereka belum mampu membunuh Kuro.
"...kuh.. ki..kita masih bisa membunuhnya jika kita menggabungkan kekuatan."
"Berhenti bercanda dan berhenti menyerangnya. Aku juga ingin membunuhnya, tapi jika kita membuat dia menjadi musuh, kita akan mati duluan."
"..."
Dengan wajah kesal, Gyu memanggil kembali Darwz dan berhenti menyerang Kuro. Dia masih belum puas karena tak berhasil menggores Kuro sekecilpun.
Setelah mengkonfirmasi tak ada niat buruk lebih lanjut, Kuro mendekat ke arah mereka. Dengan senyuman tipis yang menakutkan.
"..fuuh.. jika kalian benar benar serius menyerangku, aku mungkin akan membunuh kalian. Syukurlah kalian membuat keputusan yang tepat."
Ketiganya tahu Kuro sedang tak bercanda. Orang di hadapan mereka saat ini memiliki kekuatan yang tak bisa mereka duga meskipun dia orang biasa.
Membunuh puluhan cyborg sendirian adalah bukti yang paling mudah terlihat.
"Ughh.. maaf, tapi kami memang ingin membunuhmu sekarang ini. Kau pantas kami bunuh atas perbuatanmu. Kurasa kau paling tahu mengenai hal ini." Ucap Stella dengan tangan menyilang.
Stella lalu melihat ke sekeliling dan mendesah kecil.
"Sudah kuduga, kau memang bukan orang biasa. Mereka mengirimu karena alasan ini kah.."
Kuro tersenyum. Dia tak berusaha membantahnya.
"Jadi kalian sudah mengetahui misiku yang sebenarnya. Fuf uf.. itu benar. Misiku adalah sebagai pengumpul informasi, tapi di saat yang sama aku adalah eksekutor. Nama kodeku adalah Reaper699. Salam kenal."
Setelah mendengar nama itu, mata ketiganya melebar karena terkejut. Tubuh mereka gemetaran dengan ekspresi ketakutan. Hana bahkan sampai mundur satu langkah.
"Ja-jangan bercanda.. kau rupanya... tidak tidak tidak."
Gyu menunjukkan wajah paranoid yang tak pernah dia tunjukan sebelumnya.
Tapi mengingat semua yang telah terjadi, semuanya kini masuk akal. Pemuda yang berada di depan mereka bukanlah orang sembarangan.
Reaper699 adalah kode dari anggota Shadow Knight yang paling berbahaya. Menipu, mengelabuhi, bahkan memanipulasi mereka dengan mudah. Dan tentu saja, membunuh mereka.
Satu hal yang tak mereka sangka, mereka memiliki niat membunuh orang seperti itu. Bukankah itu sama saja mengantar nyawa?
"..apa... benar kau...?"
"Apa aku punya alasan untuk berbohong kepada kalian?" tanya Kuro sambil melirik dengan tatapan tajam.
Saat itulah ketiganya menjawab dengan gelengan kepala sambil berkeringat dingin seperti ketakutan. Memang.
Mata Kuro memancarkan aura membunuh yang kuat. Dia seperti dewa kematian bagi mereka.
"Baiklah, sekarang apa yang ingin kalian lakukan? Aku akan membiarkan kalian asal kalian tak menggangguku."
"Err.. kami berencana membunuhmu...."
"....Hm?"
"..tapi kami tak ingin melakukannya lagi. Benarkan Gyu, Stella."
Keduanya mengangguk dengan kompak.
"Lihat. Kami benar benar tak ingin melakukannya lagi."
Tatapan Kuro masih dingin. Dia bahkan seperti ingin membunuh mereka. Kuro sekarang ini bukanlah Kuro yang dulu mereka kenal.
Tapi tiba tiba Kuro tersenyum lebar seperti anak kecil.
"Oh.. begitu. Sekarang pergilah dan jangan ganggu aku. Mengerti?"
"Eh?"
Kuro lalu pergi dengan berlari ke arah yang berbeda. Setelah beberapa saat mereka mendengar suara tembakan dan teriakan. Mereka tahu sedang terjadi pembantaian di depan mereka.
Sementara itu ketiganya terbengong dengan apa yang terjadi dengan sosok pembunuh di depan mereka.
"...Um..."
"Aku tahu. Jangan katakan apapun Gyu."
"....haaa.."
Saat itu mereka mempunyai pemikiran yang sama.
[[[....Beri aku istirahat...]]]
Setelah semua yang terjadi, sangat wajar jika tubuh dan mental mereka kelelahan. Sangat kelelahan. Dan tak lupa mereka hampir membut kesalahan besar sehingga hampir membuat mereka terbunuh.
Tapi ada masalah yang harus mereka pikirkan terlebih dahulu.
"... sebaiknya kita istirahat dulu. Bagaimana?"
Gyu dan Stella mengngguk tanda setuju.
Mereka lalu masuk ke ruang khusus, tapi mereka menemukan hal yang tak terduga. Mayat berserakan, tapi salah satu mayat itu adalah mantan target mereka, West.
Semua mayat dalam kondisi mengenaskan. Tak diragukan lagi hanya Kuro lah yang sanggup melakukan hal ini.
Tapi setelah melihat dengan teliti, mereka menyadari beberapa keanehan.
"Stella, Hana..."
"Ya.. Kuro tak membunuh West."
Mayat di ruangan sebagian besar terpotong oleh benda tajam, tapi hanya West dalam kondisi tertembak dengan peluru menembus kepalanya. Hal ini bukanlah perbuatan Kuro.
"Mayat Cruzx juga tak ada disini.... dengan kata lain.."
Cruzx yang merupakan pengawal West tak mungkin membiarkan West mati dengan mudah. Jika dicocokan dengan waktu dan kejadian yang terjadi sekarang ini, maka situasi benar benar di luar dugaan mereka.
Anehnya, Kuro seolah sudah memprediksi hal ini. Dugaan ini diperkuat dengan waktu pembunuhan West.
"Sudah kuduga dia memang berbeda. Informasi dan prediksinya jauh berbeda dengan orang yang selama ini kita temui."
"..tapi Stella, meskipun dia Witch Reaper, aku tak yakin dia akan selamat dari situasi ini. Selain itu sebenarnya apa yang terjadi disini?"
"..."
Informasi yang mereka dapat begitu sedikit sehingga mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi bukan berarti mereka tak memiliki petunjuk sama sekali.
Stella menaruh tangannya di dagu. Dia sedang berpikir dan berkonsentrasi.
(Berpikirlah. Jika selama ini misi kami adalah sebuah test, maka sejak awal Kuro sudah tahu kalau musuh akan menyerang.)
Tapi Stella membantah kemungkinan hal itu.
(Tidak. Semua ini tak cocok dengan pelaku di balik semua ini. ...Mivas.)
Mivas adalah orang yang berkali kali menjadi panitia dalam acara amal yang diadakan setiap tahun. Jika Mivas adalah pemimpin kelompok yang menyerang mereka sekarang, maka seharusnya hal ini bisa dicegah.
Masalah lainnya adalah musuh mereka yang sebagian besar merupakan Cyborg. Dengan kata lain bukan penyihir. Mereka hanyalah manusia yang diperkuat dengan bantuan teknologi canggih. Cyborg juga bukanlah hal yang aneh di zaman yang sekarang ini, tapi pertanyaannya adalah-
Kenapa harus Cyborg?
"...."
Stella melihat mayat cyborg dan mengotak atiknya. Dia melihat dengan teliti kerangka besi yang membentuk tubuh manusia.
"Apa yang kau lakukan Stella?" tanya Gyu.
Dia bingung dengan apa yang dilakukan Stella.
__ADS_1
"Aku mencari simbol atau bisa dibilang nomor seri Cyborg yang kita hadapi."
"Hm?"
"Kalian tahu tujuan awal teknologi Cyborg kan?"
"Tentu saja. Teknologi Cyborg awalnya diperuntukan untuk penyihir yang gagal mendapatkan pertolongan pertama dan cacat. Tapi tak hanya penyihir, teknologi cyborg juga diperuntukan untuk orang biasa."
"Tapi untuk sekarang teknologi cyborg lebih diperuntukan untuk militer. Jujur saja, kurasa itulah sejak awal tujuan mereka melakukan penelitian teknologi itu." Sambung Gyu dengan nada cetus.
Pekataan Gyu seolah mengatakan kalau teknologi itu hanyalah sebuah senjata model terbaru. Sayangnya itulah kenyataannya. Musuh mereka adalah salah satu bukti perkataan Gyu.
"Apa hubungannya dengan itu, Stella?"
"Setahuku teknologi cyborg tak banyak alkemis yang bisa melakukannya sebaik ini. Dan hanya alkemis tertentu yang bisa memodifikasi tubuh manusia sampai setahap ini, dengan kata lain.."
"Ah.. kita bisa menemukan siapa saja yang terlibat dalam insiden ini. Begitukan maksudmu?"
"...aku tak ingin mengatakan seperti itu, tapi kita harus menemukan petunjuk yang bisa kita gunakan untuk melawan mereka."
Ketiganya lalu mengangguk bersamaan tanda sepaat dengan keputusan yang dibuat bersama. Sebenarnya mereka tak ingin terlibat, tapi mereka sudah membuat pilihan. Pilihan yang dibuat bukan sebagai Illegal, tapi sebagai seseorang yang ingin menolong.
Sementara itu Kuro berada di aula tempat pesta berlangsung. Dia bersembunyi di ventilasi udara dengan mengamati dari lubang kecil yang dia buat. Suasana mencekam dapat terlihat, tapi ada suatu yang menarik perhatian Kuro.
Untuk alasan tertentu, Mivas seperti sedang mencari sesuatu. Atau bisa dikatakan seseorang yang tak berada di sana.
"...."
Kuro lalu memperhatikans setiap sandera. Kebanyakan memang orang penting atau bangsawan yang mempunyai banyak pengaruh, tapi Mivas dan anak buahnya tak terlalu peduli dengan mereka.
Kuro bisa tahu tujuan musuh bukanlah uang. Jika mereka menginginkan uang, mereka pasti memaksa para orang penting itu untuk memberikan sejumlah uang, tapi mereka tak melakukannya.
Tiba tiba suara tembakan terdengar. Disaat yang sama teriakan terdengar keras dari seorang wanita.
Kuro mengamati dan dia bisa melihat salah seorang dari sandera tewas dengan puluhan peluru menembus darah dan dagingnya. Korban pertama adalah orang kaya yang dikenal baik hati, tapi Kuro tak peduli dengan itu. Dia lebih tertarik dengan alasan kenapa anak buah Mivas membunuhnya.
Tembakan terdengar lagi, tapi kali ini justru anak buah Mivas yang tertembak tepat di antara dua matanya. Orang yang melakukan itu tentu saja Mivas.
"Tch.. apakah disini tak ada yang bisa mendengar perintahku untuk tak membunuh sembarangan? Jika ada yang melakukannya lagi aku akan dengan senang hati membunuh kalian dengan tanganku sendiri."
Mivas lalu mendekati sandera dengan tatapan intimidasi. Semua sandera ketakutan, tapi Mivas menikmati ekspresi mereka.
"Sebegitukah kalian takut dengan kematian? Hm.. jika kalian sayang dengan nyawa kalian, bisakah ada yang mengatakan dimana kalian menyembunyikan 'kunci'nya?"
Semua sandera tentu terdiam mendengar pertanyaan itu. Alasannya sangat sederhana.
"Ha.. bisakah kalian jujur? Asal kalian tahu kami punya informan yang mempunyai bukti salah satu dari kalian menyembunyikan 'kunci' yang selama ini kami cari. Kunci yang akan membuat tujuan kami, White Sun terwujud."
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan?" tanya salah satu orang tua. "Kami tak mengerti apa 'kunci' yang kalian inginkan. Meskipun kalian membunuh kami, kalian tak akan mendapatkannya karena sejak awal kami tak memilikinya."
Mendengar itu, Mivas tersenyum kecil. Dia lalu memanggil nama sihirnya.
"Marina.... datanglah dan bekukan dunia ini dengan cahayamu."
Sosok sihir Mivas mulai menunjukkan sosoknya. Seorang wanita berparas cantik dengan rambut yang indah. Sebagian tubuh gadis itu adalah ikan. Ya. Magic beast Mivas berwujud putri duyung.
Sosok magic beast Mivas bisa dikatakan spesial di antara semua magic beast. Dengan kata lain, kemungkinan besar magic beast Mivas memiliki kekuatan khusus.
"Mungkin kalian benar benar tak tahu apa apa tentang 'kunci', tapi bukan berarti salah satu dari kalian tak tahu..... atau bisa saja kalian melupakannya."
Mivas tersenyum tipis bagai iblis. Disaat yang sama sebuah harpa emas muncul di tangan Marina.
"..Armed Beast?"
Armed Beast. Sebutan untuk magic beast yang memiliki sebuah senjata sihir.
"Asal kalian tahu, meskipun kalian bilang tak tahu tentang 'kunci', tapi bukan berarti kami tak punya cara untuk membuat kalian mengatakannya. Dan kurasa ini masih belum terlambat untuk mengatakannya."
Marina mulai memainkan harpanya dan disaat itulah tetesan air mulai berkumpul dan membentuk wujud bola bola kecil.
"..kuharap kalian tak mati. Jangan salah paham, aku sudah memperingatkan kalian. Bukankah aku sudah cukup baik hati?"
Setelah itu yang terdengar hanyalah teriakan dan tangisan.
Kuro sudah tak berada di tempatnya. Dia bergerak dengan cepat untuk menemukan suatu yang penting, yaitu 'kunci' yang dibawa oleh seseorang.
"White Sun dan 'Kunci'. Apa yang sebenarnya terjadi disini."
Kuro bahkan tak tahu. Mungkin mereka akan menghadapi musuh yang tak mereka bayangkan sebelumnya.
"!"
Boom! Tubuh Kuro menerima pukulan telak dan terpental hingga menembus 3 lapisan dinding sebelum akhirnya berhenti dengan menggunakan pedangnya sebagai penahan.
"Guh.."
Darah segar dimuntahkan Kuro.
Sosok yang menyerangnya akhirnya menunjukkan sosoknya dari balik debu yang perlahan mulai menghilang.
"Cruzx Fellias."
Aura sihir menyelimuti tubuh Cruzx. Aura itu perlahan terpusat menuju ke dua lengannya yang kini berwarna mengkilap seperti metal keras.
Itulah sihir Cruzx.
"....."
Dalam sekejap, keduanya saling beradu. Pertarungan antara Cruzx dan Kuro pun dimulai.
Di waktu yang sama, Hana dan dua temannya kini bergerak menuju tempat sandera berada. Namun musuh selalu menghadang mereka dan merekapun tak punya banyak pilihan selain bertarung.
Mereka kembali melawan puluhan cyborg yang bersenjata api. ..tapi mereka sudah tahu kelemahan mereka dan itu membuat mereka mudah mengalahkan mereka. Meskipun dengan cara yang bisa dibilang cukup kejam.
Meskipun begitu, bukan berarti mereka meremehkan musuh. Ketiganya juga harus berhati hati agar mereka tak kehabisan mana dan membuat tak bisa bertarung kembali.
Merekapun akhirnya memutuskan untuk beristirahat setelah membunuh begitu banyak musuh. Ruang ganti adalah tempat mereka saat ini.
"Ha... kenapa jumlah mereka begitu banyak? Bukankah musuh hanya berjumlah puluhan saja."
"Aku juga mempunyai pendapat yang sama denganmu, Hana."
Satu satunya yang terlihat tenang hanya Stella. Dia lebih terlihat memikirkan suatu daripada mengeluh.
Daripada keduanya, Stella memang tak bertarung di garis depan, tapi bukan berarti dia diam saja.
"...mungkin mereka menyiapkan sebuah sihir teleportasi di suatu tempat di gedung ini. Dengan itu mereka bisa menambah jumlah pasukan sebanyak yang mereka butuhkan. Dan mengingat alkemis itu terlibat dalam hal ini, aku tak akan heran jika mereka mempunyai 1000 cyborg lagi."
Perkataan Stella bukanah hal yang menyenangkan untuk didengar.
"Aku tak mengerti kenapa alkemis terkenal itu membantu para penjahat?"
"Itu bukan masalah yang harus kita pikirkan. Tapi jika Crysto membantu mereka, dia pasti punya alasan tertentu atau bisa juga dia diancam. Kita tak tahu pasti mengenai hal itu."
Crysto Guari merupakan salah satu akemis yang terkenal dengan ciptaannya yang berhasil membantu orang banyak, terutama orang biasa. Sebagian karyanya merupakan tangan dan kaki mekanik yang dikhususkan untuk orang cacat.
Dengan karya yang bisa menyamai bagian tubuh asli, tak mengherankan jika dia cukup terkenal.
Dan karena itulah teknologi cyborg yang mereka hadapi bukanlah suatu yang mengejutkan jika maha karya alkemis itu.
"...kita harus mengtahui tujuan musuh terlebih dahulu." Lanjut Stella. "Jika kita bergerak tanpa melakukan rencana, itu hanya akan membuat kita terbunuh. Selain itu kita masih tak tahu kenapa tak ada Knight yang datang. Musuh pasti sudah melakukan semua rencana dengan baik."
Stella mengambil sesuatu dari dalam celah dadanya. Tepatnya pakaian dalam miliknya.
Benda yang diambil Stella berukuran sangat kecil bahkan tak sampai sebesar lalat, tapi ketiganya tahu benda itu bukanlah benda biasa.
"Darimana kau mendapat Isectmera itu, Stella?"
Stella tersenyum kecil.
"Dari kamar hotel tempat kita menginap. Kalian pasti tak berpikir kalau si mesum itu akan membiarkan kita tanpa pengawasan kan?"
"...."
"....yang benar saja."
Untuk alasan tertentu Hana dan Gyu ingin meledak. Mereka punya alasan tambahan untuk membunuh Kuro.
Daripada kejam, di mata mereka Kuro tak lebih dari orang mesum.
"Aku menangkap mereka dan kemudian memprogram ulang mereka agar dapat kukendalikan dengan sihirku. Untuk sekarang, aku akan menyebarkan mereka semua untuk melihat semua yang terjadi. Setelah itu kita akan membuat rencana untuk mengatasi hal ini."
Hana tersenyum kecil.
"Hana, apakah ada yang lucu?"
Hana menggelengkan kepalanya dengan senyuman senang.
"Tidak, ..hanya saja aku berpikir kita sudah berubah."
Stella dan Gyu melirik satu sama lain. Mereka awalnya tak tahu apa yang dimaksud Hana, tapi mereka ingat dengan semua yang telah mereka lalui.
__ADS_1
"..ya. Jika kita yang dulu, kita akan menyerang tanpa rencana yang matang dan bertindak sendiri sendiri, tapi kita sekarang bersatu menjadi sebuah tim yang sebenarnya."
Semua itu tak terjadi jika mereka tak bertemu dengan pemuda yang bernama Kuro alias Witch Reaper.
Tentu mereka tak akan mengakui hal itu. Itu sama saja merendahkan harga diri mereka.
"Mari kita buat dia menyesal telah merendahkan kita selama ini."
"Kita buktikan tanpa dia kita masih bisa menjalankan misi dengan sempurna."
"Kita bukanlah orang yang akan kalah tanpa dirinya."
Mereka tersenyum dan menunjukkan tatapan yang sama. Tatapan dengan tekad yang menjadi kekuatan mereka untuk meraih kemenangan.
Tatapan mata yang tak mereka miliki itu kini akan menjadi cahaya mereka dalam pertempuran.
"...sekarang pergilah. Kami menunggu kalian..."
Stella mengendalikan Insectmera di tangannya. Puluhan insectmera perlahan terbang menyebar ke segala arah dan melewati celah kecil.
Stella memejamkan matanya sesaat dan berkonsentrasi. Dia membutuhkan banyak konsentrasi agar bisa mengendalikan dengan baik semua insectmera.
Puluhan panel kecil lalu muncul di depan Stella. Semua panel itu menunjukkan gambar yang diambil masing masing insectemera. Salah satunya mengambil gambar yang berada di depan pintu tempat mereka berada.
"Aku akan menyerbarkan mereka ke semua bagian sudut tempat ini. Kalian bantu aku mengawasi jika menemukan suatu yang mencurigakan."
Dengan dibantu dua sahabatnya, perlahan mereka mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.
Informasi yang pertama adalah kondisi sandera yang sebagian besar sekarat dan terlihat hampir mati. Salah satu sandera tak bergerak seperti terjadi sesuatu kepadanya. Tubuhnya kejang kejang dan akhirnya terjatuh ke lantai.
Air keluar dari mulut dan semua bagian kepala sandera itu. Air itu kemudian berkumpul di sekitar magic beast berwujud putri duyung. Dan untuk alasan tertentu Mivas terlihat kecewa.
"Kunci?"
"Stella, apa maksudnya itu?"
"Aku juga tak tahu, tapi itu mungkin tujuan musuh yang sebenarnya. Jika benar, kita sebaiknya mendapatkan 'kunci' itu sebelum mereka."
Hana mengangguk tanda setuju, sedangkan Gyu masih melihat layar dengan teliti.
"? Hey.. apa kalian ingat dengan bangsawan yang sempat kita temui sebelum pesta dimulai?"
"Tentu saja. Apa ada masalah dengan itu, Gyu."
"Aku menemukannya dia bersembunyi dengan istrinya. Kurasa itu ada hubungannya dengan kunci yang mereka cari."
"!"
Stella perlahan menyadari kepingan yang mulai tersusun.
"Gyu, Hana Kurasa kita harus segera cepat bertindak. Untuk alasan tertentu aku mempunyai perasaan kalau kita tak boleh mendapatkan apa yang mereka inginkan. Gyu, bisakah kau menuju tempat pria itu dan istrinya?"
"Tentu saja. Kau ingin aku membantunya kan?"
"Aku juga ingin kau mendapatkan informasi mengenai kunci yang dicari musuh. Kemungkinan musuh belum menemukannnya karena sejak awal memang tak ada di antara para sandera. Mungkin tak bagus membiarkan para bangsawan itu menjadi korban, tapi selama mereka belum mati, mereka bisa kita selamatkan."
Dengan sihir penyembuh dan teknologi sekarang, penyembuhan bisa dikatakan mudah dilakukan.
"Sementara itu Hana, tentang para sandera kuserahkan semuanya padamu. Tapi jangan gegabah, kita masih tak tahu seberapa kuat musuh. Jika bisa kau amati saja pergerakan musuh. Jika sudah saatnya menyerang, kita akan menyerang di saat yang tepat."
"Baiklah, tapi apa yang akan kau lakukan?"
Hana menunjukan salah satu panel dan membesarkannya.
"Seperti yang kalian lihat, aku menemukan gerbang teleportasi yang mereka gunakan. Jika kita tak melakukan sesuatu, mungkin tempat ini akan dipenuhi cyborg. Lagipula hal semacam itu adalah keahlianku."
Ketiganya lalu keluar dan berpencar menuju ke tempat tujuan masing masing dengan dipandu oleh Stella.
Hana dengan cepat sampai dan bersembunyi. Dia juga tak lupa menyembunyikan tekanan mananya agar tak mudah diketahui musuh. Yang dia lakukan hanyalah menonton.
[Aku sudah berada dalam posisi.]
[Hana, ingat apa yang kukatakan tadi. Bagaimana denganmu, Gyu]
[Aku segera sampai, tapi aku masih belum melihat mere- aku melihat mereka. Darwz!]
Beberapa saat setelah Gyu memanggil nama sihirnya, letusan tembakan terdengar pertanda pertarungan telah terjadi di tempat Gyu. Stella dapat melihat pertempuran sengit dengan insectmera yang bersama Gyu.
[Gyu, habisi mereka semua.]
[Aku akan melakukannnya meskipun kau tak menyuruhku. Darwz, [Gem Arrow!!]]
Menanggapi perintah Gyu, magic beast berwujud serigala itu menembakkan sisik yang berada di seluruh tubuhnya ke arah Cyborg. Tentu sebagian besar tak berpengaruh karena musuh terdiri dari metal yang dibuat khusus untuk menahan serangan sihir, tapi itu sudah cukup.
Yang dibutuhkan Gyu hanyalah sebuah pengalihan. Dan setelah itu yang dia lakukan hanyalah mengkonsentrasikan mana di ujung jarinya dan menembakkannya seperti peluru ke arah kepala musuh.
Musuh tewas dan akhirnya tumbang dengan kepala berlubang.
"Aerogem Bullet. Sudah saatnya sadar diri, dasar sampah."
Gyu lalu melirik ke arah Selisa dan Jaco. Keadaan Selisa terlihat baik baik saja dengan dua senjata api di kedua tangannya. Senjata itu bukanlah magic arm. Dan disaat itulah Gyu sadar kenapa dia tak merasakan tekanan mana dari Selisa.
Awalnya dia mengira Selisa bisa menekan tekanan mana miliknya karena dia adalah Assassin, tapi kebenarannya lebih sederhana daripada yang terlihat.
(Orang biasa...kah..)
Gyu lalu mendekat, tapi disaat itulah Selisa menodongkan senjata ke arahnya. Selisa menekan pelatuk dan suara letusan terdengar.
Disaat yang sama, Stella sampai di ruang bawah tanah yang digunakan sebagai tempat gerbang teleportasi. Tapi dia tak bisa gegabah. Dia bukanlah tipe penyihir yang bertarung di garis depan dan lebih ke tipe pendukung.
Wujud magic arm miliknya juga tak bisa digunakan dalam pertarungan langsung. Meskipun memiliki kemampuan khusus, tapi dia tak bisa menggunakannya untuk hal yang tak begitu penting.
(Aku tak boleh menyerah. untuk sekarang aku harus berusaha tetap tenang.)
Pertama yang dilakukan Stella adalah mengamati dengan teliti apa yang terjadi. Dia mengendalikan insectemera untuk melihat gerbang teleportasi secara detail.
Untuk saat ini gerbang teleportasi masih berfungsi dengan baik dan beberapa orang keluar dalam kurun waktu tertentu. Mereka semua tentu adalah cyborg. Hal ini tentu membuat seberapa banyak cyborg yang dimiliki White Sun atau bisa dibilang anak buah Mivas?
"...."
Dalam pertarungan menambah jumlah untuk menghadapi musuh adalah suatu yang wajar. Kekuatan yang besar sedikit sedikit akan berkurang jika menghadapi musuh dalam jumlah yang besar dan akan menghasilkan kemenangan meskipun memakan waktu dan korban dalam jumlah besar.
-tapi apakah taktik itu pantas digunakan untuk pertarungan ini?
(..mungkinkah White Sun menyiapkan pasukan dalam jumlah besar untuk berjaga jaga..atau ..)
Memastikan semuanya berjalan dengan lancar dan tak ada yang bisa menghalangi?
(..dengan kata lain tujuan mereka mengambil kunci adalah mutlak dan tak ada kesempatan kedua bagi mereka. Jika seperti itu mereka akan melakukan apapun.)
Stella mendapatkan firasat buruk, tapi disaat itulah dirinya teralihkan oleh pemandangan yang mengejutkan.
Dari gerbang teleportasi muncul tangan mekanik yang besar dan perlahan sosok itu keluar dari gerbang teleportasi. Sosok cyborg berbentuk manusia, tapi juga tak bisa disebut manusia. Sosok itu lebih tepat cyborg yang berbentuk monster.
"!?"
Cyborg berbentuk monster sudah biasa di dunia sihir, tapi jika berbicara mengenai senjata, maka senjata bisa dibedakan menjadi dua. Berbahaya dan sangat berbahaya.
Cyborg berbentuk monster itu adalah salah satu yang sangat berbahya dan terburuk. Cyborg yang dibuat hanya beberapa dan memiki kekuatan penghancur yang dahsyat.
(Kenapa mereka bisa memiliki Chaos Machina? Bukankah senjata itu seharusnya tersegel?)
200 tahun yang lalu, kekaisaran Houou bertempur dengan negara lain yang ingin menguasai wilayah kekaisaran Houou. Disaat itu musuh menggunakan mesin dengan kekuatan penghancur yang dahsyat. Mesin itu adalah Chaos Machina.
Dari buku sejarah yang ada, Chaos Machina sebagian besar sudah dihancurkan, tapi sisa mereka masih ada dan tersegel di suatu tempat.
Chaos Machina masih menjadi perbincangan karena saat ini cara pembuatan mereka masih misteri.
Dan kenapa Stella mengetahui monster itu adalah salah satunya adalah simbol yang terdapat di bagian dada yang berbentuk bola cystal yang digigit oleh iblis.
Stella langsung berkeringat dingin. Dia sadar situasi lebih berbahaya daripada yang mereka duga.
(Jika mereka menggunakan monster itu, kota ini akan...)
Lenyap dari peta bukanlah hal yang mustahil.
(..tapi kenapa mereka menggunakan senjata itu? Mereka pasti menyadari resikonya.)
Disaat sedang memikirkan itu, Chaos Machina menatap ke arahnya. Itu bukan pertanda bagus.
Dari punggung Chaos Machina lalu muncul meriam besar yang di arahkan kepadanya. Cahaya mulai berkumpul pertanda sedang mengisi energi.
"Tch! Sial. Aku tak menyangka monster itu bisa melihatku!"
Cahaya ditembakan tepat ke arah Stella. Cahaya itu menghancurkan dan menembus dinding hingga ke luar gedung dan menghancurkan salah satu bangunan hingga rata dengan tanah.
Alarm terdengar keras dari seluruh penjuru. Itu adalah perintah evakuasi yang secara otomatis muncul jika ada serangan musuh dan kejahatan lainnya.
Di dalam kepanikan, raungan keras terdengar ke seluruh penjuru.
Raungan yang lebih mirip pertanda mimpi buruk baru saja dimulai.
__ADS_1