Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Calm Before Storms


__ADS_3

Di sudut barat daya kota Phoenix, ada tempat yang dinamakan Niphous. Tempat ini merupakan tempat yang dipenuhi oleh jajanan unik dan makanan ringan yang murah dan lezat. Tapi Niphous lebih terkenal karena memiliki banyak toko yang menjual dan membuat makanan yang tak bisa ditemukan di wilayah manapun di benua Orladist.


Di salah satu kedai, seorang wanita cantik berambut biru menikmati jajanan yang dikenal sebagai Takoyaki.


"Umm... aku sudah lama tak merasakan makanan ini. hmm.. ini sungguh membuatku teringat masa lalu."


Sang penjual tersenyum kecil saat melihat pelanggan yang puas.


"Tapi sebaik apapun dibuat, namun resep ini sudah jauh berbeda dengan terakhir yang kuingat. Ah.. bukannya aku tak menikmatinya, namun ini bukanlah rasa takoyaki yang sebenarnya."


"Aha ha.. kau memang benar, Nona. Bagi orang yang pertama kali menikmati takoyaki akan mengatakan kalau makanan ini dibuat dengan sempurna, tapi pada kenyataanya ini hanyalah tiruan dari makanan yang bernama Takoyaki."


Sang penjual membalik takoyaki yang sudah hampir matang. Dari gerakan yang halus dan tanpa ada kesalahan membuktikan sang penjual sudah berpengalaman dalam membuat takoyaki terbaik dan terenak.


"Tapi bagaimana kau tahu? Aku ingat setiap pelanggan yang datang ke toko ini dan kau baru pertama kesini kan? Tapi dari perkataanmu kau pernah memakan takoyaki sebelumnya. Mungkinkah kau pelanggan ayahku?"


Sang gadis hanya tersenyum kecil sambil menikmati takoyaki panas yang berselimut saus kecap.


"Jika kau pelanggan ayahku, itu berarti kau masih kecil saat menikmati takoyaki buatan ayahku. Sayang, dia meninggal 7 tahun yang lalu. Sekarang aku hanya membuat berdasarkan buku resep yang dia tinggalkan. Jika kau tahu rasa takoyaki yang sebenarnya, mungkinkah aku gagal membuatnya?"


"..kau tak salah membuatnya, Paman. Tapi bukan berarti kau juga salah mengikuti resep yang ayahmu buat. Hanya saja memang takoyaki yang ada di dunia itu dan takoyaki di dunia ini memiliki cita rasa yang berbeda."


"Apa ...maksudmu?"


Saat itulah kedai itu kedatangan tamu lain.


Seorang gadis berambut pirang sebahu datang dengan wajah kesal.


"Alice, disini kau rupanya. Mou.. jika kau kesini, kenapa kau tak memberi tahuku? Dan kenapa kau menghilangkan tekanan manamu hingga tak terlacak? Kau pasti tahu betapa sulitnya menemukanmu jika kau melakukan itu."


"Sudahlah, kenapa kau tak duduk, Rim? Jika kau mencariku, bukankah aku sudah meninggalkan pesan?"


Rim mendesah dan menuruti Alice. Dia lalu menyantap takoyaki yang baru matang.


"Hmm.. ini enak. Pantas saja kau kemari."


"Ngomong ngomong, kenapa kau tak ikut masuk?"


Rim terkejut karena dia tak merasa bersama dengan seseorang. Dia bahkan tak merasakan aura seseorang di luar pintu kedai. Tapi bagi seorang Alice, mengetahui seseorang yang tak terlacak adalah suatu yang normal.


Seseorang lalu masuk ke kedai. Sosok itu adalah seorang anak kecil yang bermata tajam dan memiliki aura tak menyenangkan.


Anak kecil itu lalu duduk di samping Alice dan ikut menikmati takoyaki.


"Alice, mungkinkah kau mengenal bocah jelek ini?"


"Jangan bilang dia jelek. Jika kau tak sopan, mungkin dia akan membunuhmu. Jika kau tak ingin terjadi, lebih sopanlah dan jangan mengganggu suasana ini."


"Eh? Bocah ini tak mungkin sekuat itu kan? Hentikan leluconmu. Mungkinkah kau punya bakat dalam melawak kufufu"


Alice terdiam tanda dia tak bercanda.


"Uh.. kalau begitu aku minta maaf, Bocah. Kau tahu, aku memang cukup buruk dalam mengenal orang lain."


Sang bocah tersenyum kecil. Dia memang sedikit menakutkan, namun bukan berarti dia tak memaafkan Rim atas ketidaksopanannya.


"Sudah lama tak bertemu, Luci."


Tentu Luci hanya sebuah nama panggilan. Identitas sang bocah adalah iblis yang dikenal sebagai Lucifer.


Meskipun dia dikalahkan oleh Kuro pada saat pertarungan di Dragonia, bukan berarti dia mati. Dia justru terbebas dari Cursed Arm yang mengurungnya. Kebenaran ini hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya.


Tentu sebagai bayaran dia bebas, dia tak memiliki banyak waktu untuk mewujudkan dirinya di benua Orladist. Atau lebih tepat dunia Orladist.


"Jangan berkata seolah kita sudah lama tak bertemu, Queen. Kau tahu itu bukanlah lelucon yang pantas untuk ditertawakan."


Tapi Alice hanya tersenyum kecil dan kembali menggigit takoyaki. Dia benar benar menikmatinya.


"Aku menemuimu hanya untuk mengucapkan terima kasih karena berkatmu sekarang aku bebas dan bisa kembali ke dunia iblis."


"Sama sama, tapi apa hanya itu saja?"


"Tentu tidak. Aku juga ingin memastikan apakah tujuanmu masih belum berubah? Jika kau melakukannya, kau sudah tahu apa akibatnya kan?"


Alice terdiam sesaat, lalu menjawab:


"..Tentu saja. Apakah kau akan menghentikanku?"


"Tidak. Aku tak perlu melakukannya. Hanya saja aku ingin kau memikirkan kembali untuk membangkitkannya. Aku tak ingin kau menyesali hal ini di kemudian hari."


"Ini aneh." Alice tertawa kecil, namun dengan penuh dengan intimidasi. "Kau seorang iblis yang menyukai keputus asaan dan penyesalan, namun kau menasehatiku tentang penyesalan. Apa benar kau Lucifer yang mendampingi Demon King?"


Sang penjual sadar kalau pelanggannya kali ini lebih berbahaya daripada yang dia perkirakan. Tubuhnya gemetar dan itu membuat dia tak bisa membuat takoyaki dengan baik.


Sedangkan Rim, dia justru lebih menikmati ekspresi sang penjual daripada obrolan serius Alice dan Lucifer.


"Justru karena aku mendampinginya, maka aku tahu apa yang akan dia lakukan jika dia bangkit. Haa.. kalian manusia memang suka sekali membuatku pusing. Ya sudahlah.. setidaknya aku sudah mendengar apa keputusanmu."


Lucifer beranjak dari tempat duduknya. Dia lalu pergi, namun sebelum pergi, dia menoleh ke Alice.


"Queen, kau pasti tahu apa yang sudah dia lakukan demi dirimu. Dia menyelamatkanmu dari sebuah takdir yang tak pernah bisa diubah oleh manusia manapun di dunia ini. Jika kau ingat itu, sebaiknya kau urungkan niatmu. Ini adalah nasehatku yang pertama dan terakhir."


Lucifer pergi dan tak terlihat lagi. Namun jejak tekanan mana yang mengerikan dan distorsi dimensi masih tersisa di depan kedai.


Tekanan mana yang mengerikan dan distorsi dimensi akan membuat Knight yang berada di wilayah itu datang untuk segera menyelidiki apa yang terjadi. Disaat itulah Alice dan Rim akan diketahui oleh Knight. Bagi penyihir biasa, mungkin keputusan untuk segera pergi adalah keputusan yang tepat, namun Alice hanya terdiam dan kembali menikmati makanan yang membuatnya mengenang masa lalu.


".......ini tak berbeda dengan saat itu."


Untuk kesekian kalinya, Alice mengingat masa lalu yang tak akan pernah kembali.


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


Langit mulai menghitam. Lampu yang menerangi kota perlahan mulai menyala satu persatu memberikan cahayanya.


Malam bukan berarti merubah kota menjadi kota yang tenang dan damai. Justru bagi sebagian orang, malam adalah waktu bagi mereka untuk segera memulai aktivitas.


Salah satu dari mereka adalah pemuda yang bernama Froy Lastine. Dia merupakan salah satu anggota dari Shadow Kinight yang bertugas untuk mengumpulkan informasi secara rahasia dan juga bertugas untuk menjadi mata mata.


Dalam hal pertempuran dia dikatakan sudah berpengalaman dan sering lolos dari situasi hidup dan mati. Dia salah satu yang terbaik dari yang terbaik.


Sama seperti biasanya, dia diperintahkan untuk melakukan sebuah penyelidikan. Namun penyelidikan kali ini sedikit spesial karena berasal dari seseorang yang tak dia duga. Dia merasa terhomat karena diberikan tugas ini, karena itulah dia tak akan menyesal jika dia mati dalam melaksanakan misinya.


"..."


Saat ini dia berada di sebuah kasino yang dimiliki oleh seorang pengusaha yang cukup memiliki nama. Kecurangan dan bisnis kotor yang dilakukan oleh pengusaha itu bukanlah target misinya kali ini.


Selama pemerintah mempunyai bukti kecurangan dan kejahatan, pemerintah bisa melakukan penutupan kapanpun mereka mau, tapi ada kalanya pengusaha curang dan jahat dibiarkan karena pemerintah masih membutuhkan mereka.


Jika satu perusahaan bangkrut, berapa banyak orang yang kehilangan pekerjaannya? Itulah salah satu alasan kenapa kasino itu masih berdiri.


Froy memainkan salah satu mesin judi. Dengan keahliannya bermain, maka dia bisa mendapatkan kembali modalnya dengan mudah, tapi disaat yang sama dia harus kalah karena untuk mencegah terlalu menarik perhatian.


Dari tempatnya, dia bisa melihat sekelompok orang yang sedang menikmati minuman keras sambil memainkan permainan kartu. Wanita cantik mendampingi mereka dan siap melayani jika sesuatu dibutuhkan.


Meskipun bisa terlihat dengan jelas, namun bukan berarti Froy bisa mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah. Ruangan tempat mereka bermain merupakan tempat yang dibuat khusus. Sihir apapun tak akan bisa menembus ruangan itu dan itu artinya tempat itu merupakan tempat yang paling merepotkan bagi seseorang seperti Froy.


Tapi tak bisa tertembus oleh sihir bukan berarti tempat itu sempurna untuk melakukan pembicaraan rahasia.


Dengan menggunakan Lenvible, yaitu sebuah lensa mata yang memiliki kamera. Dia menggunakan salah satu gadis untuk menjadi mata matanya. Jika tak bisa menggunakan sihir, maka gunakan benda lain sebagai penggantinya. Ini cara yang bisa dibilang licik, namun berkat perkembangan Magitec, maka ini suatu yang wajar dilakukan. Apalagi menyangkut kepentingan negara.


Dari Lenvible di sebelah mata kirinya yang terhubung dengan salah satu gadis, dia mendengar setiap kata yang terucap.


[Kali ini aku akan mengalahkanmu. Jangan mencoba lari karena kau selalu menang, Gilbert.]


[Hey.. kita bermain bukan untuk bertarung. Kita disini untuk bersenang senang dan melupakan masalah. Bisakah kau tak terlalu serius?]


[Sudahlah. Menyerah saja. Berdi memang benci kekalahan, karena itulah sebaiknya jangan menang darinya.]


[Jika tak memiliki niat untuk menang, kenapa sejak awal harus bertarung? Aku bukanlah tipe orang yang suka mengalah hanya karena sebuah alasan tak jelas seperti itu.]


[Iya iya, tetapi kau harus tahu kapan waktu yang tepat untuk menang dan kalah. Roda selalu berputar. Kadang berada di atas kadang ada di bawah. Karena itulah kita harus pandai dan tahu kapan harus di bawah dan di atas. Benarkan Angelica?]


[Daripada membahas hal tak penting, bagaimana kalau membahas apa yang harus kita lakukan. Bukankah Berdi mengalami beberapa kesulitan? Bagaimana kalau kita membantunya?]


[Sayang sekali aku harus menolak niat baikmu. Meskipun aku kesulitan, namun semuanya belum melenceng dari rencana. Tapi aku ikut rencana ini karena 'orang itu' menjamin rencana ini akan berhasil. Jika dia berbohong, kita akan tamat.]


[Ya, tapi dia sudah menunjukkan buktinya. Jika rencana ini berhasil, maka tujuan kita akan tercapai. Tapi dari semua itu, tak ada yang bisa menghentikan kita.]


[Ha ha.. itu benar. Tapi bukankah kita masih membutuhkan kepingan terakhir? Kau bisa mendapatkannya kan, Gilbert?]

__ADS_1


[Itu bukan masalah besar. Mengambilnya hanya seperti mengambil permen dari bayi. Bukankah itu keuntungan memiliki tunangan yang bodoh dan mudah dimanfaatkan?]


Tiba tiba Froy mendapatkan panggilan mendadak. Dia mengangkat ponselnya dan keluar dari kasino sebelum sempat mendapatkan informasi yang dia butuhkan.


Alasan kenapa dia lebih mementingkan panggilan itu bukan karena mendapatkan panggilan dari atasannya, namun mendapatkan panggilan dari orang yang lebih penting.


(Sial.. kenapa dia tak memberi tahuku?)


Dengan tergesa gesa, Froy pergi menuju ke tempat yang diperintahkan.


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


"Uh.... "


Laila terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sangat pusing dan tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.


Dengan tenaga yang tersisa, dia bangkit. Saat itulah di sadar kalau dia tak mengenakan sehelai benangpun.


"...kalau tak salah... aku..."


Dia tak terlalu ingat dengan apa yang terjadi. Namun dia ingat kalau bertarung dengan Yui dan kalah. Setelah itu, seberapa keras dia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi, dia akan sakit kepala.


Dia melirik jam. Saat ini tengah malam. Dia bisa menebak siapa yang membawanya ke tempat tidur, namun dia masih tak mengerti kenapa dia dibiarkan telanjang bulat.


"...si mesum itu. Setidaknya berikan aku pakaian. Dasar bodoh."


Dia lalu melirik ke sampingnya. Dia menemukan sosok yang tertutupi selimut.


".......?"


Dari ukurannya, dia tahu sosok itu bukan Kuro.


Perlahan dia membuka selimut yang menutupi sosok itu. Lalu dia menemukan sosok yang tak terduga. Anehnya, sosok itu sama seperti dirinya.


"..kenapa Yui juga telanjang? Huh?"


Sebuah pemikiran buruk muncul. Tidak. Jika mengingat situasi dan keadaan yang ada, maka hanya itu penjelasannya.


"Aku tak menyangka kau akan menyerang Yui, Kuro. Aku tak akan memaafkanmu karena berselingkuhโ€ผ"


Kemarahan dan kesedihan mengambil alih. Dia lalu bangun dan bersiap menghukum calon suaminya. Untuk itu, pertama dia harus menemukannya.


Dia tahu Kuro adalah pemuda mesum yang mungkin akan menyerang siapapun, namun dia tak menyangka akan menyerang adik tirinya sendiri. Dia tak percaya Kuro akan mengkhianatinya seperti ini.


"Scarfla.. uh...?"


Tapi saat dia memanggil senjata yang dia gunakan untuk melakukan niatnya, dia tak bisa. Kepalanya langsung pusing dan tenaga langsung menghilang dari tubuhnya.


Dia tak bisa mempertahankan tubuhnya dan akhirnya tumbang ke lantai.


"Uh.. kenapa....?"


Dia bahkan tak bisa menggerakkan jarinya. Matanya berat dan ingin segera menutup, tapi dengan tekadnya yang kuat, dia berusaha untuk tetap sadar. Sayangnya, tubuhnya tak mau mendengarkan Laila.


Disaat itulah dia melihat sosok. Karena pandangannya kabur, dia tak bisa melihat dengan jelas siapa sosok itu.


"Ya ampun, kau selalu memaksakan dirimu."


Sambil mendesah, Yui mengangkat tubuh Laila kembali ke tempat tidur dan membaringkannya.


Yui lalu mengambil air putih dari meja di dekat tempat tidur.


"Minumlah, ini akan membuatmu lebih baik."


Setelah menghabiskan setengah gelas, Laila merasa lebih baik. Tak hanya itu, dia merasa lebih segar dan bertenaga. Air yang diberikan Yui bukanlah air biasa.


Pandanganya kini lebih jelas. Disaat itulah dia melihat Yui yang kesal dan kawatir.


"Jangan memaksakan dirimu. Tubuhmu saat ini mengalami kondisi yang lebih buruk daripada saat mengalami Mana Zero. Jadi banyaklah beristirat."


Mana Zero adalah kondisi dimana seorang penyihir hampir kehilangan mana yang ada di dalam tubuhnya akibat menggunakan sihir acara berlebihan. Laila pernah mengalaminya sebelumnya jadi dia tahu kondisi tubuhnya saat ini. Tapi saat tahu lebih buruk, Laila tak mengerti apa yang dimaksud Yui.


"....sebelum itu, dimana Kuro?"


"Dia pergi ke suatu tempat. Jangan bertanya kemana dia karena aku tak tahu."


Itulah Kuro yang Laila kenal. Saat dirinya sakit, dia justru pergi. Tapi jika dia melakukannya, itu artinya dia mempercayakan dirinya kepada orang lain. Itulah alasan kenapa saat ini dia bersama Yui.


"Jika kau ingin bertanya kenapa aku telanjang, tentu karena aku harus mengobatimu. Lukamu tak bisa disembuhkan dengan sihir biasa, jadi aku menggunakan tubuhku untuk menyalurkan energi kehidupan secara langsung kepadamu. Jika aku tak mengontrak Emera, aku tak tahu apa yang terjadi kepadamu. Sungguh, aku tak mengerti apakah ini sebuah keberuntungan atau tidak."


"Oh... kupikir kau..."


Wajah Yui langsung memerah karena tahu apa yang Laila pikirkan.


"Jangan menebak hal yang tak akan pernah terjadi. Kak Kuro tak akan menyentuhku kecuali kau menyuruhnya melakukan itu." Yui ingin menangis, tapi dia langsung kembali ceria. "Jadi bagaimana kalau sebagai ucapan terima kasih karena mengobatimu, maka biarkan aku mengandung anak kak Kuro. Aku janji tak akan mengganggu kalian lagi."


"..........kau masih saja seperti biasanya. Uh..."


Rasa sakit kembali datang. dia merasa bisa pingsan kapan saja.


Dia tahu Yui menyukai Kuro, namun dia bukan berarti akan menyerahkan Kuro meskipun dia memiliki hubungan baik dengan gadis itu. Dan seperti yang Yui bilang, jika dia bilang untuk menerima gadis lain, mungkin Kuro akan melakukannya. Demi dirinya.


Namun itu berarti disaat yang sama dia akan mengkhianati kepercayaan dan cinta Kuro.


"..coba duduklah sebentar."


Tanpa banyak bertanya, Laila menuruti perintah Yui. Lalu Yui ke belakang Laila dan memeluknya dari belakang.


"Y-Yui?"


Laila bisa merasakan kehangatan dan kelembutan tubuh Yui. Terutama di bagian dadanya yang kecil.


Dia sering berpelukan dengan Kuro dalam kondisi seperti saat terlahir, namun saat dipeluk oleh seorang gadis, ini suatu pengalaman yang aneh.


"..nnn.. ah... Yui?"


Yui memeluk dan menyentuh tubuh Laila di berbagai tempat dengan kelembutan. Sesekali Yui mengecup tubuh Laila dengan erotis seolah dirinya adalah Kuro. Jika pelayan mereka masuk dan melihat kejadian ini, tentu akan terjadi kesalah pahaman yang besar, tapi Yui sudah memerintahkan pelayan mereka untuk tak mengganggu.


"Tenang saja. Aku saat ini sedang mengalirkan energiku sendiri untuk menstabilan energi mana yang ada di tubuhmu. Dengan kondisimu yang sekarang, kurasa kau akan membutuhkan 3 hari penuh untuk melakukan ini."


"..ann.. Ta-tapi kenapa kau..ahnn.."


Laila bisa merasakan tubuhnya perlahan lebih baik, dan entah mengapa dia merasa hangat.ย  Tapi dia masih belum bisa menerima perlakuan Yui terhadap tubuhnya.


Dia mendesah dan mengeluarkan suara erotis yang tak pernah dia tunjukan kecuali kepada Kuro. Sekilas dia merasa menjadi wanita murahan, namun dia tak bisa menolak dan melawan balik.


"Aku hanya iseng." Jawab Yui dengan senyuman nakal. "Aku selalu penasaran permainan macam apa yang kalian lakukan. Selain itu aku sekarang mengerti kenapa kak Kuro tak ingin berpisah darimu. Selain cantik, kau memiliki tubuh dan kualitas yang berbahaya."


"..ah..nn apa mak..sudmu?"


"He he heh.. jangan kawatir, aku akan menyembuhkanmu sampai kau pulih seperti semula. Malam ini masih panjang.. kak Lai...la..๐Ÿ’•๐Ÿ’•๐Ÿ’•"


"...Huh?"


Untuk alasan tertentu, Laila merasa membangkitkan sesuatu yang lain dari diri Yui.


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


Di taman bermain yang biasa digunakan oleh anak anak untuk menghabiskan waktu luangnya, seorang pemuda sedang bermain ayunan dengan senangnya. Tentu bagaimanapun melihatnya dia seperti seorang yang tak puas akan masa kecilnya, ..sayangnya itu benar.


Lalu seorang pemuda lainnya memasuki taman dan mendekat. Dia duduk di ayunan yang masih kosong sekaligus beristirahat karena capek berlari.


"Ha... Senior Kuro, kenapa kau selalu memilih tempat aneh untuk bertemu? Kau tahu berapa kali aku mendapatkan ejekan karena hal ini."


Froy mengambil nafas dalam. Dia capek, namun ini suatu yang biasa baginya. Meskipun dia sebenarnya harus berlari sejauh 10 km.


"Aku tak peduli dengan masalahmu, tapi sudah kubilang untuk tak memanggilku seperti itu. Kau tahu masalah apa yang kupikirkan saat aku mendengar panggilan itu?"


"Uh.. jangan mulai menggunakan kata yang memusingkan, senior Kuro. Bagaimanapun kau seorang legenda dan banyak mengajari banyak hal kepadaku. Berkat ajaranmu itulah aku masih bisa disini saat ini."


"Jangan bodoh. Semua itu hasil usahamu sendiri. Jika kau bertahan hidup, itu artinya kau belum ditakdirkan untuk mati. Yah.. sudahlah, sebaiknya kau punya kabar bagus untukku."


Froy lalu mendesah berat. Dia juga menunjukkan tatapan rumit.


"Aku tak tahu bagaimana bisa kau tahu saat ini aku memang menjalankan misi khusus, tapi kau pasti sadar jika bertanya kepadaku, kau tahu aku tak akan menjawabnya. Itu adalah informasi rahasia yang tak mungkin kubocorkan meskipun aku disiksa dan dibunuh."


"Lalu informasinya.."


"Sudah kubilang aku tak mungkin bisa mengatakannya. Apakah kau ingin menyiksaku?"

__ADS_1


"Tidak, tapi aku akan langsung membunuhmu jika kau tak mengatakan apapun. ..sekarang jugaโ€ผ"


Kuro menunjukkan aura serius. Meskipun mereka kenalan baik, tapi Froy dan Kuro sadar kalau pekerjaan mereka selalu mempertaruhkan nyawa.


Dengan kata lain, Froy mati karena melindungi tugasnya juga sebuah tugas.


"Baiklah, aku hanya bercanda. Aku hanya penasaran kenapa kau ingin informasi dariku?"


Apa yang Froy ucapkan sebelumnya adalah sebuah sandi yang digunakan para informan. Sandi ini biasa digunakan jika ingin mendapatkan informasi dari pihak kedua. Dalam hal ini, pihak kedua adalah Kuro.


Memberi dan menerima. Inilah situasi saat dua Shadow Knight bertemu.


"Hanya untuk memastikan saja."


"..jadi senior sudah mengetahui apa yang akan segera terjadi?"


Kuro menggelengkan kepalanya.


"Tak diragukan lagi sebentar lagi akan terjadi suatu yang besar di sini. Tapi daripada mengetahui apa, aku lebih tertarik dengan bagaimana hal itu terjadi."


Jika mereka tahu bagaimana, maka mereka akan bisa mencegah kejadian terburuk. Bisa dikatakan hal ini lebih baik menangani saat kejadian berlangsung.


"Salah satu anak buahku sudah menemukan kalau sebuah ritual sihir besar akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Ritual sihir itu akan menggunakan Ringbloodmoon dan Izriva sebagai katalis. Sayangnya, aku masih belum tahu upacara apa yang dilaksanakan."


Froy lalu mengingat sesuatu.


"...aku pernah mendengar rumor itu. Aku tak menyangka rumor itu benar. Tapi jika benar, bukankah itu artinya mereka ingin membangkitkan Demon King kembali?"


Dalam situasi yang berkaitan dengan ritual sihir yang dilakukan oleh sekelompok tertentu, membangkitkan Demon King adalah suatu yang umum. Tak berbeda dengan situasi saat ini.


"Ah maaf, aku tak bermaksud menyinggungmu."


Informasi mengenai Kuro memiliki hubungan dengan Demon King sudah tersebar luas. Wajar Froy mengetahuinya.


Tapi itu tak merubah posisi Kuro di mata Froy. Dia menghormatinya tak peduli apakah dia memiliki hubungan dengan Demon King atau tidak.


"Tidak apa apa. Aku tak terlalu memikirkan hal itu. Tapi bisakah kau memberikan informasi yang berguna? Jujur saja aku tak punya waktu lagi. selain itu aku tak bisa melakukan penyelidikan secara langsung, jadi aku memiliki informasi yang terbatas."


Shadow Knight memiliki kewenangan dan dana tak terbatas dalam melakukan tugasnya. Itu wajar mengingat tugas mereka yang sangat penting dan berbahaya.


Sebagai mantan Shadow Knight dan bahkan menjadi legenda hidup, masalah seperti ini sebenarnya hal yang mudah. Tapi saat ini dia berstatus seorang murid sekolah dan seorang yang memiliki hubungan dengan Demon King. Tak hanya kewenangan yang dipersempit, namun setiap gerakannya selalu diawasi. Jika dia melakukan satu hal yang salah, itu akan berakibat kepada Laila.


Karena semua alasan itu, maka Froy mengerti kenapa Kuro memiliki info yang terbatas. Seorang legenda di Shadow Knight kini telah terikat oleh rantai yang tak mudah dirusak dan dilepas.


"...aku mengerti kenapa kau bersikeras mendapatkan informasi, ..."


Froy menggigit bibir bawahnya.


Dia tahu apa yang terjadi dengan Kuro dan apa yang akan segera terjadi di kota Phoenix jika mereka tak segera melakukan sesuatu.


Tetapi meskipun Froy sudah memberikan tanda untuk saling bertukar informasi, bukan berarti status Kuro akan berubah. Dia sudah diberi pesan jika Kuro akan memintanya, maka dia harus memberikan informasi sedikit mungkin mengenai apa yang terjadi.


"..tetapi aku mungkin hanya memiliki informasi sebatas apa yang ketahui saat ini, senior. Kau adalah legenda, jadi mana mungkin aku bisa menyaingimu dalam mendapatkan informasi."


Froy menunjukkan senyuman. Tentu itu adalah senyuman palsu.


Kuro tahu itu.


Kuro mendesah.


"..baiklah. Sepertinya aku memang harus mencari dengan caraku sendiri. Terima kasih sudah datang."


"Justru aku minta maaf, karena aku tak bisa membantumu."


Kuro berdiri lalu tersenyum. Itu bukanlah senyuman kepalsuan.


"Tidak apa apa. Sudah kubilang aku akan mencari informasi dengan caraku sendiri. Oh iya, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Uh.. silahkan."


"..apa kau yakin datang kesini sementara temanmu bermain kartu bersama dengan *******?"


Mendengar itu, mata Froy melebar.


Dia akhirnya mengeri kenapa Kuro memanggilnya ke taman sepi. Dia tak membutuhkan informasi yang ada pada dirinya, namun menjauhkan diri dari informasi yang seharusnya dia dapatkan.


"Ah.. asal kau tahu, daripada sibuk melihat orang lain, aku lebih memilih untuk bercinta dengan kekasihku. Apa kau mengerti? Jika iya, cepatlah mencari seorang kekasih."


"...."


Froy tak mengerti, namun dia tahu satu hal.


Pemuda yang dia kagumi dan dia hormati lebih berbahaya daripada seekor monster kelas tinggi.


Setelah itu, Kuro pergi meninggalkan Froy. Sendirian.


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


Setelah berpisah dengan Froy, Kuro bertemu dengan Boris di kedai yang berada di Niphous. Kedai yang mereka masuki adalah kedai ramen yang kebetulan sedang sepi pengunjung.


Boris sudah menghabiskan satu porsi besar saat menunggu kehadiran Kuro. Ini adalah porsinya yang kedua.


"Selamat datang, Tuan Muda."


"Kenapa kau memanggilku seperti itu, Boris?"


"Oh iya, selamat datang, Br*ngsek."


"Aha ha.. "


Kuro hanya tertawa pahit dan duduk. Dia lalu memesan porsi besar dengan ekstra daging.


Hubungan Kuro dan Boris memang tuan dan pelayan, namun disaat yang sama bukan. Mereka lebih mirip musuh daripada tuan dan pelayan.


Saat mengelilingi dunia, kebetulan dia bertemu dengan Boris. Tentu saat itu penampilan Boris sangat berbeda dengan yang sekarang. Bahkan bisa dikatakan lebih buruk daripada seorang gelandangan.


Tetapi itu tak mengubah bahwa dirinya adalah penjahat dan seorang penyihir yang kuat.


Banyak hal terjadi, namun tak lama kemudian sejak saat itu Boris kini berubah menjadi pelayannya.


"Kau masih saja membenciku, pak tua. Apa kau masih marah karena putrimu jatuh cinta padaku?"


"...aku tak membencimu, namun aku membenci kutukanmu. Di dunia ini tak ada orang yang akan membuat gadis langsung jatuh cinta hanya sekali pandang. Tentu lain cerita jika kau memiliki sihir perayu, namun kau sama sekali tak pantas disebut penyihir. "


"Mari kita bahas ini lain kali dan mulai kita bahas apa yang kita dapatkan."


Boris mendesah kecil. Namun dia mengerti apa yang harus dia lakukan.


"Setelah aku menemukan itu, aku menemukan kalau banyak organisasi yang memilki gambar atau setidaknya simbol yang sama. kita bisa asumsikan kalau mereka memiliki satu tujuan atau keinginan yang sama, tapi sejauh ini kebanyakan dari mereka adalah untuk kebaikan dunia."


"Hmm.. mereka sepertinya tak memiliki tujuan buruk. Tapi jika diingat ingat lagi, organisasi semacam itu banyak tersebar di seluruh dunia. Aku ingat kalau mereka pernah mengajakku sebelumnya, tapi aku bukanlah tipe orang yang akan peduli dengan hal semacam itu, jadi kuabaikan ajakan mereka."


"Ha ha.. kau memang seperti itu. Tetapi bolehkan aku mendengar organisasi seperti apa mereka?"


Kuro tak ragu untuk menjawab, namun dia butuh waktu untuk mengingatnya.


"Mereka adalah organisasi yang memuja Dewa Ortus, Dewa Kehancuran dan Dewa Kematian. Meskipun begitu, mereka bisa dibilang tak melakukan kejahatan dan justru banyak melakukan kebaikan. Apa ada sesuatu?"


"Dewa Ortus kah... sudah lama aku tak mendengar nama itu."


"Wajar saja. Sekarang Dewa sudah tak dipuja seperti dulu lagi. Sebelum terjadinya perang banyak yang melakukan pemujaan, namun sekarang manusia justru memuja manusia lainnya."


"Itu benar."


"Tapi kenapa membahas Dewa? Oh.. mungkinkah.."


"Jika dugaan kita benar, Mereka tak ingin membangkitkan Demon King, tapi...-"


Keduanya lalu terdiam. Benar atau tidak, namun selama seseorang yang sudah mati dibangkitkan, maka suatu yang buruk akan terjadi.


"......aku tahu hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Sementara itu, sebaiknya kita cari tahu mengenai ritual sihir apa yang akan mereka gunakan. Dari gambar itu aku tahu kalau itu semacam ritual sihir kuno, namun aku tak pernah melihat yang seperti itu dimanapun. Meskipun kita tahu tujuan musuh, namun selama kita tak tahu ritual apa itu, kita akan terlambat menghentikannya."


"Ya.. anda benar. Kita tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Aku akan mencari mengenai ritual itu da-"


"Aku pikir sebaiknya kau tetap melanjutkan pencarian Lic." Potong Kuro. "Jika firasatku benar, selama mereka tak memilikinya, maka rencana mereka akan gagal. Selain itu jika ini adalah ritual sihir kuno, maka mereka membutuhkan persiapan lainnya. Aku akan mencari syarat lainnya dan menghancurkannya. Dengan begitu kita bisa mencegah terjadinya korban dan mencegah Laila menolak bercinta denganku."


"...aku rasa alasan kedua lebih buruk." Ucap Boris dengan senyum kecut.


"Aku tahu itu. Aku tak ingin membayangkan hal itu menimpaku. Sebaiknya kita makan dan segera pulang. Aku punya firasat aneh ketika meninggalkan Laila dengan Yui."

__ADS_1


Setelah selesai membahas apa yang mereka lakukan, mereka menyantap Ramen yang mulai dingin dengan tenang dan sunyi.


__ADS_2