
---Jika Laila tak kembali ke masa lalu---
--
--
Perlahan Kuro melayang ke udara dan berhadapan dengan Arisa. Jarak mereka hanya 50 meter. Dengan kekuatan mereka jarak itu hanya sekejap mata jika ingin saling menyerang.
Tetapi itu bukan tempat yang tepat untuk memulai pertarungan.
Arisa menjentikkan jarinya. Kemudian aura kegelapan mulai menyelimuti dengan radius 10 kilometer lebih. Aura hitam itu memadat, dan pada akhirnya menghilang seolah tak pernah ada.
"...jika kau ingin membunuh, kenapa kau peduli dengan orang lain?"
"Mereka hanyalah penonton. Bukan karakter yang berperan dalam panggung."
Tentu saja itu sebuah kebohongan.
Tak ada alasan untuk Arisa membuat pelindung agar dampak pertarungan keduanya tak menimbulkan korban tak bersalah. Tetapi sebagai True Queen, Arisa tak bisa begitu saja menggunakan kekuatannya demi tujuan pribadi. Hanya dalam situasi khusus saja dia bisa melakukannya.
Seperti situasi yang melibatkan urusan dengan dewa.
"Begitu..."
Kuro mengangkat pedang hitamnya dan melakukan tebasan begitu pelan. Kemudian perisai yang dibuat Arisa hancur dalam sekejap seperti kaca yang dipotong jutaan kali.
"Maaf saja, aku memiliki ide yang lebih baik daripada itu."
"..."
Arisa terdiam dan terlihat pucat. Bukan karena melihat kekuatan yang ditunjukkan Kuro, tapi karena alasan yang jauh berbeda.
"Dominator."
Dari ruang sekitar Kuro, rantai rantai muncul dan menyerang ke arah Arisa.
Arisa menghindar dengan menjauh 10 kilometer dalam sekejap mata. Tentu saja rantai Dominator terus mengikuti.
Puluhan lapis lingkaran sihir muncul di depan Arisa seperti sebuah meriam. Dari pusat lingkaran energi sihir memusat dan meriam sihir tingkat tinggi yang sanggup membuat lubang menembus planet tercipta.
"Death Breath!!!"
Serangan itu menuju rantai yang mengikutinya dengan niat menghancurkannya. Tetapi saat meriam itu menyentuh rantai, rantai itu bukannya hancur, tapi justru mulai berbelok ke arah lain dan pada akhirnya kembali pada Arisa.
"Jangan pikir serangan seperti itu bisa menghancurkan Dominator."
"Tch!!"
Hanya Authority yang sanggup menghadapi Authority. Meskipun serangan Arisa memiliki kekuatan perusak yang kuat, tapi itu tak mungkin.
Tak punya pilihan, Arisa kembali menjaga jarak dalam sekejap mata.
"Aku tak ingin menggunakan ini, tapi ... "
Aura hitam meluap dari tubuh Arisa bersamaan dengan energi sihir yang meningkat pesat.
"Shadow"
Untuk pertama kalinya Arisa menggunakan Authority miliknya sebagai seorang True Queen.
Sebagai pencipta dan dewa Orladist, sama seperti Kuro, Yamiris juga memiliki Authority. Dan tentu saja sebagai pengontrak, Arisa bisa meminjam salah satu kekuatan itu. Tentu saja kemampuan tak sekuat pemilik aslinya, tapi itu tak diperlukan dalam menghadapi Kuro yang sekarang ini.
Arisa tahu.
"Black Dominator."
Dari sekitar Arisa muncul rantai hitam dengan jumlah yang tak kalah dengan rantai Kuro. Rantai hitam itu menghadapi serangan Kuro dan saling menetralkan.
Melihat itu Kuro sama sekali tak terkejut. Bagaimanapun juga dia tahu Arisa bisa menggunakan kekuatan itu.
"Itu memang kekuatan yang cocok untuk dirimu, Arisa... Tetapi..."
"!?"
Arisa dikejutkan oleh sesuatu yang sama sekali tak dia duga. Sebuah rantai Dominator telah mengikat tubuhnya.
Arisa tak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia bahkan tak bisa menggunakan kekuatannya lagi.
"Sekarang kita memiliki banyak waktu.."
Kuro lalu menghilang dan begitu pula dengan Arisa.
Saat Arisa sadar, dia berada di tempat yang sama sekali dia duga.
Luar angkasa.
"Sudah aku bilang aku memiliki ide yang lebih baik. Dengan ini kita bisa bertarung tanpa harus takut akan melukai orang yang tak bersalah. Bagaimanapun juga, tujuanmu bukanlah untuk membunuh, tapi untuk menyelamatkan seseorang."
♾♾♾♾♾♾♾
Saat melihat Kuro dan Arisa saling beradu kekuatan dan menghancurkan seluruh pulau, pikiran Laila tak bisa mengikuti apa yang sebenarnya terjadi.
Dia tahu keduanya adalah sepasang kekasih yang berakhir menjadi musuh dalam Battle War kali ini, tapi tetap saja ini sudah keterlaluan.
Dia ingin menghentikan pertarungan tak berguna antara keduanya. Baginya masih ada jalan lain jika keduanya memang harus bertarung.
Tetapi niat itu menjadi percuma saat sadar keduanya akan tetap bertarung apapun yang terjadi.
Saat inilah dia sadar apa yang dimaksud Kuro dengan menjalin hubungan baru dengan Arisa. Bukan seorang kekasih, tapi sebagai musuh.
Sayangnya, itu hanyalah awal kejutan Kuro.
Kuro tiba tiba menunjukkan sosok sejatinya. Sosok yang sama sekali tak pernah dia pikirkan. Sosok yang melebihi pemikirannya sebagai manusia.
Sosok sejati seorang King.
Melihat itu Laila sama sekali tak senang. Justru dia sadar kalau mimpi buruk yang selama ini ingin dia hindari telah menjadi kenyataan.
Lalu ada apa dengan tatapan itu? Kenapa kau melihat seolah ingin berpisah untuk selamanya?
Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tapi tak ada satupun terucap dari mulutnya.
Dalam hati dia tahu. Kuro memang berjanji akan berada di sisinya untuk selamanya, tapi Kuro sejak awal tak memiliki niat menepati janji itu.
Kau pembohong.
Pembohong. Pembohong. Penipu.
Meskipun begitu, Laila tak bisa membenci Kuro.
(Aku harus melakukan sesuatu)
Jika tidak, dia merasa akan menyesal.
Tiba tiba pedang putih yang selama ini menemani Kuro berada di tangannya.
Kenapa kau memberikannya padaku?
Saat itulah Laila sadar. Itu adalah sebuah perpisahan.
Kuro, hentikan. Jangan tinggalkan aku.
Tetapi suara hati Laila sama sekali tak terbalaskan. Kuro sudah memutuskan kalau ini adalah jalan terakhir.
"Jangan bercanda!!!"
Kuro dan Arisa menghilang tanpa ada yang tahu kemana mereka pergi.
"Kau sudah berjanji untuk berada di sisiku selamanya, tapi sejak pela*ur itu datang, kau ingin meninggalkanku dan pergi bersamanya Huhhh!!!"
Laila marah. Marah besar.
Aura merah menyala keluar dari tubuhnya sanggup melelehkan bongkahan pulau tempatnya berdiri menjadi lahar.
"Apa kau pikir aku akan menerima semua ini!!!!"
Laila dengan cepat mengaktifkan Empress Flame Dress. Sayap pedang muncul dan membawanya pergi ke tempat Kuro berada.
Di mana?
Dia tak perlu mencari, bagaimanapun juga tempat Kuro mudah terlihat.
Di langit dia melihat kilatan hitam dan putih saling beradu.
"Oh... Itu luar biasa. Sungguh luar biasa. Kalian berpikir bertarung di sana karena tempat itu aman kan?"
Itu mungkin kenyatannya, tapi Laila tak bisa berpikir jernih hingga muncul pemikiran lain.
"Aku tak akan tertipu dengan ilusi murahan kalian. Pasti di sana kalian sedang bermesraan sepuasnya tanpa membiarkanku bergabung. Aku memang mengizinkan Kuro berpoligami, tapi itu hanya gadis yang aku pilih. Bukan la*ur sepertimu!!!"
Dia terbang semakin tinggi. Udara dingin menerjang tubuhnya, tapi semua itu dia hilangkan dengan efek Empress Flame Dress.
Meskipun begitu, ada satu hal yang tak bisa dia netralkan, yaitu akan butuhnya oksigen. Nafasnya mulai terengah engah dan kepalanya mulai pusing.
Satu satunya yang bisa membuatnya terus bertahan hanyalah kemarahannya.
Tetapi, dia sudah mencapai batasnya sebagai manusia.
"A--ku.. tak bisa...me...maa..fkan.."
Kesadarannya mulai memudar.
Saat itulah dia bisa melihat kalau apa yang semua dia pikirkan dan ucapkan benar benar salah.
Arisa dan Kuro memang bertarung dengan kekuatan di luar nalar manusia. Dan yang kalah bukanlah Arisa, tapi Kuro.
Tubuh Kuro tercerai berai sudah tak utuh lagi. Bahkan satu satunya yang tersisa darinya hanyalah kepala yang tersenyum.
Dan pada akhirnya akhirnya Kuro menghilang dengan pesan tanpa suara.
"Kuro..."
Itulah saat terakhir yang Laila ingat.
♾♾♾♾♾
Seminggu berlalu sejak saat itu. Pertarungan di kota Gehenna masih menjadi pembicaraan hangat, tetapi semua itu berlalu dengan cepat seperti kejadian biasa.
Tentu saja mengingat efek dari pertarungan tersebut yang begitu di luar nalar manusia, itu menjadi sebuah bukti sendiri akan kekuatan sihir. Sayangnya, itu masih suatu yang umum di dunia ini. Tak aneh jika banyak yang berpikir kalau ini hanyalah salah satu dari pertunjukan kekuatan kekaisaran Houou.
Bagi sebagian orang kejadian itu masih membawa dampak besar, tapi banyak pula yang sudah menjalani kehidupan mereka masing masing.
Sayangnya, tidak bagi beberapa orang yang tahu kebenaran di balik semua itu.
"Bagaimana, apakah Laila belum mau makan?"
Yui menggelengkan kepalanya sambil menunjukkan nampan yang masih belum tersentuh.
Lia mendesah kecil.
"Aku tahu kalah dalam Battle War itu memang menyedihkan, tapi tak harus sampai seperti ini. Ya ampun, sampai kapan dia akan terus menjadi anak kecil."
"Mau bagaimana lagi. Kak Laila sudah mengerahkan semuanya."
"...aku mengerti akan hal itu. Baginya Battle War kali ini adalah sebuah pengalihan. Dia masih belum bisa menerima kematian suaminya."
Yui hanya mengangguk pelan, tetapi matanya menunjukkan kesedihan mendalam lebih dari yang terlihat.
Kuro memang meninggal, tapi bukan hanya itu saja yang terjadi.
Ingatkan tentang Kuro di dunia mulai menghilang. Keluarga, teman dekat, semua orang yang menjalin hubungan Kuro sama sekali tak ingat dengan sosoknya itu.
Bahkan suami Laila tergantikan oleh seorang sosok pemuda kaya yang meninggal dunia beberapa Minggu yang lalu karena kecelakaan.
Sebagai adik, Yui begitu terkejut dengan apa yang terjadi. Tetapi perlahan dia tahu, ini adalah sebuah koreksi dari takdir dan dunia.
"Tapi dia tak boleh seperti ini. Bagaimanapun juga dia sedang mengandung. Selain itu Riku masih butuh perhatiannya."
"Aku akan mencoba membujuknya. Jika masih berlanjut, aku akan menyeretnya secara paksa."
"Aku mengandalkanmu."
Lia pergi. Selama Laila dalam kondisi seperti itu, dia dan Scarlet yang merawat Riku dan Lic.
Sebagai ibu, Lia memang khawatir dengan kondisi Laila, tapi dia merasa kalau dirinya bukanlah orang yang tepat untuk menyembuhkan luka Laila.
Yui pergi ke dapur. Dia menaruh nampan ke meja dan langsung saja tersungkur ke kursi.
Dia menutup matanya dengan tangan.
"Kak Kuro..."
Sampai sekarang dia masih belum bisa menerima kepergian Kuro. Dia sedih dan tak mengerti kenapa semua ini terjadi.
Pada saat Battle War, Yui mendapatkan firasat buruk dari tingkah Lic yang aneh. Sayangnya, tak ada yang bisa dia perbuat dalam situasi seperti itu.
Itupun jika ada, semuanya sudah terlambat.
"Kak Kuro, apakah benar ini adalah jalan terbaik?"
Kuro pasti tahu kalau Laila akan seperti ini setelah kepergiannya. Tetapi kenapa dia masih saja pergi?
Yui mengenal baik Kuro sebagai seorang yang menemukan jalan keluar dalam situasi apapun. Tak mungkin tak ada jalan keluar selain dia pergi.
Air mata mulai mengalir dari mata Yui.
"Oh.. tidak. Aku harus tetap tegar. Jika aku jatuh hanya karena ini, aku yakin kak Kuro akan kecewa."
Yui mengusap air matanya dan menepuk pipinya. Dia tersenyum dan kembali ceria.
Tetapi semua tahu, itu hanyalah senyuman palsu yang dipaksakan.
Seorang pelayan mendekat.
"Nona Yui, nyonya besar memanggil anda."
"Nenek memanggilku?"
Pelayan itu mengangguk.
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan anda."
Yui tak tahu siapa yang ingin bertemu dengannya dalam situasi seperti ini. Jika tidak penting, dia memilih untuk tak menemui mereka.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan segera ke sana."
Tetapi tak ada asalan untuk menolak. Jadi Yui pergi setelah menyuruh pelayan membersihkan makanan.
Sesampainya di ruang tamu, dia tak menyangka siapa yang ingin bertemu dengannya.
Putri Riana, Charlmilia, Fila, dan entah mengapa Arisa juga ada di sana. Tetapi yang paling membuat Yui penasaran adalah seorang pemuda yang memiliki rambut putih perak seperti Kuro.
Saat melihat Arisa, rasa kebencian langsung membuat Yui ingin pergi dari sana. Hanya saja situasi saat ini tak memungkinkan.
Anehnya, meskipun pelayan menyebut Scarlet menyuruhnya menemui tamu, sosok Scarlet maupun Lia tak berada di sana. Dengan kata lain, saat ini Riana dan lainnya memiliki urusan dengannya.
"Yui, sudah lama tak bertemu. Kira kira satu Minggu?"
"Lama tak bertemu, putri Riana. Bagaimana kabar anda?"
"Seperti yang kau lihat sendiri, aku baik baik saja."
"Aku senang mendengarnya ."
Yui sebenarnya tak ingin berbasa basi, tapi itu sama saja tak sopan.
Meskipun hubungan antara mereka cukup baik, tapi itu tak mengubah kenyataan tentang perbedaan status.
"Kau tak usah berbicara secara formal. Lagipula aku datang ke sini bukan sebagai seorang putri, tapi sebagai seorang teman."
"Begitu. Mungkinkah putri datang untuk menjenguk kak Laila?"
"Itu salah satu tujuan kami." Jawab Charlmilia. "Sebelum itu, aku rasa kau ingin tahu siapa orang di sini."
Charlmilia menunjuk pemuda yang duduk di tengah para gadis.
Yui memang merasa penasaran dengan pemuda itu. Apalagi aura yang dikeluarkannya memiliki kemiripan dengan Kuro.
"Kenapa aku harus berkenalan. Lagipula kami sudah saling mengenal satu sama lain."
"?"
Yui dibuat bingung. Seingat Yui, dia tak pernah mengenal pemuda itu.
"Jangan bercanda, Sei. Ini bukan saatnya bertingkah seperti anak kecil."
"Ibu, aku lebih tua darimu. Bagiku kau yang lebih seperti anak kecil."
"..."
Kali ini Yui dibuat bungkam oleh sesuatu yang mengejutkan. Pemuda itu memanggil Riana dengan sebutan ibu.
Apa yang terjadi selama seminggu ini?
"Jika kau berpikir aku memiliki anak seperti apa yang terjadi pada Laila, kau salah. Jadi jangan berpikir aneh aneh, Yui."
"Kalau begitu aku rasa butuh penjelasan panjang lebar."
"Memang itulah tujuan kami. Tapi sebelum itu, ada yang ingin aku pastikan. Apa kau ingat dengan Kuro?"
"....aku masih ingat dengan semua yang terjadi dan siapa kak Kuro. Aku sudah menduga kalau ada yang ingat selain diriku, tapi aku tak menyangka kalau itu adalah kau."
Yui tak begitu mengerti kenapa dia yang masih ingat, tapi mungkin itu ada hubungannya dengan dirinya yang seorang Queen.
Anehnya, jika seperti itu. Kenapa Riana yang bukan seorang Quuen bisa mengingatnya?
"!?"
Saat sedang memikirkan hal itu, instingnya memberikan tanda bahaya. Bahaya itu bukan berasal dari Riana dan lainnya, tapi dari sesuatu yang lain.
Sebuah ledakan menghancurkan dinding dan kobaran api bagai semburan nafas naga menerjang mereka.
Yui menghindar tepat waktu, tapi dia tak tahu apa yang terjadi pada lainnya.
Lalu saat kobaran api menghilang, Yui dikejutkan oleh sosok Riana dan lainnya masih dalam keadaan utuh. Bahkan mereka sama sekali tak berpindah dari tempatnya.
"Aku tahu mungkin akan terjadi seperti ini, tapi dia benar benar membencimu, Arisa."
Arisa hanya menunduk. Semuanya melihat ke arah pelaku dari semua itu.
Laila.
Tetapi tak seperti Laila yang selama ini mereka kenal, kondisi Laila saat ini begitu menyedihkan. Dia begitu kurus dengan wajah pucat pasi. Matanya kosong dan kantung mata di matanya menunjukkan seberapa lama dia menangis. Dengan kondisi seperti itu, tak salah jika menyebut dirinya sebagai orang sakit.
Sayangnya, tak ada obat maupun orang yang bisa menyembuhkan sakitnya saat ini.
"Ini bukan masalah. Justru ini membuat lebih mudah karena tak harus menyeretnya keluar kamar."
"Entah mengapa putri Riana yang selama ini aku kenal telah berubah total."
Sebenarnya apa yang terjadi? Riana yang begitu lemah lembut kini berubah total bagaikan orang lain.
Di sekitar Laila muncul ratusan Scarflare dan langsung saja ditembakkan ke arah Arisa tanpa peduli siapa yang akan terlibat. Laila sudah kehilangan kendali.
Melihat itu, Riana mendesah kecil dan menjentikkan jarinya. Langsung saja semua Scarflare menghilang tanpa jejak.
"Charlmilia, bisakah aku menyerahkannya padamu?"
"Bisakah kau tak menggunakan Holy World secara tiba tiba? Aku sama sekali tak memiliki kekuatan."
"Jangan manja dan cepat lakukan."
"Aku ingin Riana yang lama kembali."
Charlmilia terlihat ingin menangis, tapi dia tetap melakukan perintah Riana.
Kemudian mereka berhasil menangkap Laila (dengan paksa). Laila begitu lemah saat ini, jadi itu mudah dilakukan meskipun tanpa menggunakan sihir.
Setelah itu, semua kembali duduk ke tempat masing masing dengan tambahan Laila yang terlihat seperti cangkang kosong.
"Jujur saja, apa yang sebenarnya terjadi?"
Banyak hal yang terjadi, jadi kepala Yui sulit mencernanya. Untuk sekarang, dia memilih tak melakukan apapun.
"Ehem.. aku rasa mudah untuk menjelaskan dengan seperti ini, Michael."
Sosok seorang gadis dengan sayap muncul.
[Hay semuanya, idola semua orang telah had-]
Secepat sosok itu muncul, secepat itu pula sosok itu menghilang.
Semua tercengang kecuali Riana yang wajahnya memerah.
"Ehem.. aku sudah memperlihatkan ini pada Charlmilia dan Fila, jadi hanya tinggal kau saja yang belum. Melihat itu aku rasa tak perlu menjelaskan lebih panjang lagi."
"..."
Dalam hati Yui ingin bilang kalau magic beast Riana sungguh memiliki kepribadian yang unik.
Tidak. Bukan saatnya memikirkan hal aneh.
Mengingat apa yang terjadi dan dari nama magic beast Riana, Yui bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Atau lebih tepatnya siapa yang berada di depannya saat ini.
"....jangan bilang kalau..."
"Seperti yang kau pikirkan, aku berada dalam situasi yang sama dengan Laila. Yah.. meskipun ada sedikit perbedaan."
Yui mengangguk tanda mengerti. Mungkin ini bisa dibilang semacam takdir yang aneh.
Hanya saja...
"...aku masih tak memiliki ide kenapa dia memanggilmu ibu? Dan ayah yang dimaksud... Hm...?"
Sebuah ide muncul di benak Yui, tapi dia ingin menyangkalnya.
"Kau memang pandai, bibi."
"!?"
Dalam sekejap HP Yui langsung menjadi nol.
Ini terlalu mengejutkan. Sungguh mengejutkan. Dia ingin menyangkal semua kenyataan yang dia dengar dan ketahui saat ini juga.
"Yah.. orang tua yang selalu kalian kenal selama ini adalah palsu. Aku mengerti darimana dia memiliki ide seperti itu. Sungguh, ayah dan anak sama saja."
"Ibu, aku harus kembali. Menjadi kaisar adalah pekerjaan yang sibuk."
"Bisakah kau diam. Kau ingat, dirimu masih dalam hukuman. Dan ini bukan masalah yang bisa kau tinggalkan hanya untuk masalah sepele."
"...baik ibu."
Kemana kaisar yang berwibawa itu? Apakah pemuda itu sungguh kaisar?
"Aku tahu apa yang kau rasakan Yui." Ucap Charlmilia. "Karena aku istri Kuro, secara teknis aku menjadi ibu kaisar Sei. Ini sungguh situasi yang membuat pikiranku gila."
Charlmilia memasang wajah rumit. Sedangkan Fila, meskipun diam saja, dia juga tak jauh berbeda dengan Charlmilia.
Lalu alasan kenapa Charlmilia dan Fila mengaku sebagai istri Kuro bukanlah suatu yang aneh bagi Yui. Dalam dunia yang mengalami perubahan ini, keduanya juga istri suami Laila yang meninggal.
"....aku rasa minum yang mengandung gula akan membuat pikiran kita lebih tenang."
"Aku pikir teh herbal juga bagus."
Tak ada yang menolak ide Yui.
Kemudian, setelah semua beristirahat untuk menenangkan kepala mereka, pembicaraan kembali dimulai.
"Kita lanjutan. Karena sudah mengerti kalau aku reinkarnasi dari Maria, maka pasti ada banyak hal yang ingin kalian tanyakan tentang masa lalu, benarkan?"
"Yah.. memang banyak hal yang ingin aku ketahui, terutama kebenaran di balik Light War. Tetapi aku tak peduli dengan topik itu sekarang." Jawab Charlmilia.
"Aku juga."
"Terserah lah.."
Riana tersenyum dengan lebar seolah sudah menduganya.
"Tidak buruk, tapi itu keputusan yang tepat. Kadang ada hal yang seharusnya tak kalian ketahui di dunia ini. Terutama sesuatu yang sudah menjadi sejarah. Mari kita semua melihat ke masa depan yang cerah."
"..."
Ini kembali membuat Yui terkejut. Meskipun Riana menawarkan, tampaknya dia tak memiliki niat untuk memberitahukan kebenarannya.
Tentu saja ini bukan suatu yang aneh. Hanya saja, karena Kuro dan Riana (Maria) menjadi tokoh utama dalam kisah sejarah itu, pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Terutama kenapa mereka berdua harus menjadi musuh, bukan sepasang putri dan pangeran.
Riana melirik ke arah Laila.
"Laila, aku tahu kau bersedih karena kepergian Kuro. Aku tak ingin menghiburmu, tapi kau harus tahu ini bukanlah saatnya untuk bersedih. Selama kau bersedih, dunia ini mulai mengkoreksi takdir yang dirusak oleh eksistensi Kuro, jadi daripada menunggu Kuro menghilang untuk selamanya, aku rasa lebih baik kau melakukan sesuatu, aku salah?"
"..."
Laila masih terdiam, tapi dia membuat ekspresi.
Ini sebuah kemajuan.
"Arisa, aku pikir kau juga tak harus sedih karena semua tak berjalan dengan rencanamu. Kau memiliki niat yang baik, tapi belum tentu niat baik itu diterima oleh orang lain. Apalagi diterima oleh keparat itu."
"...Meskipun begitu, itu tak mengubah kenyataan kalau akulah yang membunuh Shin dengan tanganku sendiri. Dan jangan menghinanya. Kau tak tahu apapun tentang dia."
Riana mendesah, tapi dia kemudian tersenyum lebar.
"Itu tak mengubah apapun. Aku memang mencintainya, tapi di saat yang sama aku juga membencinya. Terserah aku menganggap dia seperti apa."
"Aku penasaran apa terjadi sesuatu antara kau dan Kuro di masa lalu sehingga membuat kau begitu membencinya."
"Lupakan masalah itu. Lagipula itu masalah aku dengan dia. Tak ada hubungannya dengan kalian. .... Arisa, kau bilang kami tak tahu apapun. Mumpung ada kesempatan kita berkumpul, maukah kau berbagi pada kami tentang Kuro?"
Ide Riana mungkin terdengar aneh, tapi itu adalah ide terbaik. Semua yang berada di sana memiliki hubungan dengan Kuro, tapi tak ada satupun yang benar benar mengenal Kuro dari luar dan dalam.
Bagi mereka Kuro hanyalah orang yang akan melakukan apapun demi orang yang dia sayangi. Dan tentu saja, orang yang paling mereka cintai di dunia ini.
"...baiklah. Hanya saja ini adalah kisah dari sudut pandang ku, jadi aku tak mungkin bisa menceritakan semuanya."
"Itu sudah cukup."
Arisa mulai bercerita.
---Seperti yang diketahui, Arisa berasal dari dunia lain yang bernama Bumi. Dia tinggal di salah satu negara di sana. Lalu berbeda dengan Orladist yang penuh dengan sihir, dunia Arisa sihir sama sekali tak ada.
Arisa hanyalah anak biasa yang bisa dibilang tak begitu beruntung. Dia tak tahu siapa orang tua kandungnya. Karena itulah dia menganggap orang panti asuhan sebagai orang tuanya sendiri.
Menjadi anak yatim piatu tak membuatnya menjadi orang pesimis. Justru dengan latar belakang seperti itu, Arisa bisa dibilang memiliki pemikiran yang lebih dewasa jika dibandingkan dengan anak seumurannya.
Dia bukanlah orang yang cerdas. Dia butuh mengulang berulang kali untuk mengerti pelajaran. Tentu saja itu bukan berarti dia bodoh.
Berkat usahanya, dia akhirnya mendapatkan beasiswa sehingga tak begitu membebani panti asuhan yang merawatnya. Lalu untuk mengurangi beban, dia juga ikut membantu dengan pekerjaan paruh waktu, tentu setelah meminta izin pihak sekolah.
Pada suatu hari setelah Arisa pulang bekerja paruh waktu, Arisa merasa kalau dia dibuntuti oleh seseorang. Dengan kata lain, seorang penguntit. Entah sejak kapan dia dibuntuti oleh orang itu, tapi hal itu membuatnya tak nyaman.
Tentu saja Arisa mencoba berbagai hal untuk mencari tahu siapa orang yang selalu membuntutinya, tapi semua usahanya gagal. Orang itu seolah tahu kapan dan dimana Arisa akan pergi.
Karena hal itu pula, Arisa selalu merasa was was kemanapun dia pergi. Dia mulai merasa trauma dan takut.
Lalu pada suatu hari, dia melihat sebuah berita yang cukup mengejutkan. Ada kasus pembunuhan sadis di tempat yang dia kunjungi sebelumnya.
Dia langsung merasa kalau dirinya orang beruntung, tapi di saat yang sama mulai takut. Bagaimana jika orang yang membuntutinya ternyata seorang pembunuh?
Dia mencoba menghilangkan pemikiran negatif itu dan berusaha berpikir kalau itu hanyalah kebetulan belaka.
Tetapi..
Sejak saat itu, dia selalu menemukan kejadian buruk di tempat yang dia kunjungi. Dan entah mengapa, kejadian selalu bertepatan setelah kepergiannya.
Dia merasa kalau ini bukanlah sebuah kebetulan lagi.
Kemudian, untuk memastikan apakah kebetulan atau tidak, dia melakukan sebuah rencana untuk mengungkap kebenaran di balik semua itu, meskipun itu akan membuatnya dalam bahaya.
Rencana yang dia lakukan begitu sederhana. Dia pergi ke sebuah gunung sepi di pinggir kota. Dia terus berada di sana dengan terus waspada.
Kemudian, setelah menunggu sekitar dua jam, sesosok orang mengenakan jubah hitam seperti dewa kematian mendekat.
Bulu kuduk Arisa langsung berdiri dan memberi tahu kalau sosok di depannya ini berbahaya. Apalagi dengan senjata berupa pedang yang dikeluarkan.
Arisa ingin segera lari. Dia merasa jika terus berada di sana, dia akan mati. Sejak awal ini adalah ide bodoh, tapi kenapa dia tetap melakukannya?
Rasa penasaran kadang membunuhmu. Dia akhirnya mengerti arti dari kalimat itu.
__ADS_1
Tetapi tetap saja ada hal yang harus Arisa pastikan.
- apa kau orang yang selama ini membuntutiku?
- apa kau orang yang menjadi pelaku pembunuhan itu?
Dan masih banyak pertanyaan lain, tetapi tak ada satupun yang dijawab.
Pada akhirnya, Arisa akhirnya mengerti.
Sejak awal yang menjadi incaran bukanlah orang yang berada di tempat itu, tapi dirinya. Dia menjadi penyebab mereka semua mati.
Saat itulah Arisa membuat sebuah keputusan.
Jika kematianku bisa membuatmu berhenti membunuh, aku rela mati di tanganmu.
Melihat bayangannya di pedang yang mengarah ke lehernya, Arisa pasrah dengan takdir yang menimpanya.
Dia merasa hidupnya tak begitu beruntung, tapi itu bukanlah kehidupan yang buruk.
Tetapi, kematian yang dia tunggu tak datang juga.
Sosok yang menghunuskan pedangnya berhenti seolah menjadi patung. Dan setelah beberapa saat, sosok itu tergeletak seperti sebuah boneka yang benangnya terputus.
Apa yang terjadi?
Pertanyaan itu tak lama kemudian terjawab.
Seorang pemuda mendekat dari entah berantah. Pemuda itu begitu unik. Memiliki rambut putih yang dimiliki oleh orang asing, hanya saja memiliki wajah orang Jepang.
Mungkinkah darah campuran?
Kemungkinan itu ada, tapi entah mengapa Arisa menyangkal ide itu.
Lalu hal yang paling membuat Arisa tertarik adalah kedua mata pemuda itu yang putih murni seperti sebuah kertas kosong tanpa tulisan.
Pemuda itu perlahan membuka mulutnya dan mengatakan hal yang tak terduga.
"Aku tak melakukan semua ini hanya untuk melihatmu mati."
Inilah awal dari pertemuan Arisa dengan pemuda yang bernama Shin.
♾♾♾♾♾
Sejak hari itu, pertemuan dengan Shin menjadi lebih sering. Atau mungkin lebih tepat jika Shin tak lagi sembunyi sembunyi seperti dulu.
Bukankah ini membuat Shin menjadi penguntit sejati? Pikir Arisa.
Meskipun begitu, entah mengapa Arisa merasa lebih tenang daripada sebelumnya. Hanya saja, karena Shin seolah menjaga jarak darinya, dia tak begitu tahu atau mengenal Shin.
Waktu berlalu bersamaan dengan itu kejadian aneh mulai terjadi di sekitar Arisa, tidak, tak hanya di sekitarnya saja, tapi juga di seluruh dunia mulai mengalami kejadian aneh yang tak bisa dijelaskan.
Insiden dimana semua orang di kota menghilang secara tiba tiba. Bangunan bersejarah yang hancur dengan cara misterius. Ikan laut yang tiba tiba menghilang dan mati dalam jumlah besar. Salju di padang gurun dan masih banyak fenomena aneh lainnya terjadi di seluruh dunia.
Banyak yang berusaha mencoba memecahkan misteri ini, tapi tak ada yang tahu penyebab pasti. Hanya saja banyak yang berpikir kalau semua ini ada hubungannya dengan pemanasan global.
Sebagai orang biasa Arisa sama sekali tak begitu mengerti apa yang terjadi. Dia hanya berharap ini bukan sebuah pertanda buruk.
Hanya saja, rasa penasaran muncul di benaknya. Dan pada akhirnya, dia mengungkapkan rasa penasaran itu dengan bertanya pada seseorang. Sayangnya, dia merasa bertanya pada orang yang salah.
"Dunia ini hanya sudah lelah pada manusia yang tak tahu berterima kasih."
Shin menjawab dengan nada yang begitu dingin.
Arisa tak mengerti kenapa Shin menjawab seperti itu.
Lalu pada akhir pekan, seperti biasa Arisa bekerja paruh waktu di sebuah kafe sebagai seorang pelayan. Penguntit setianya tentu saja berada di tempat itu sebagai tamu dengan uang yang banyak.
Meskipun Arisa tak nyaman dan jengkel, dia tak bisa berbuat apapun.
Tiba tiba seorang tamu memasuki kafe. Berbeda tamu biasanya, tubuhnya sebesar dua meter lebih. Tentu saja sebagai seorang gadis Arisa merasa takut, apalagi tamu itu mengeluarkan aura mengerikan. .
Tetapi sebagai pelayan, salah satu teman Arisa mencoba melayani dengan baik.
Sayangnya, itu adalah awal mimpi buruk. Kepala teman Arisa tiba tiba hilang dan langsung saja menyemburkan darah merah segar.
Apa yang terjadi selanjutnya bisa ditebak. Teriakan penuh histeris dan penuh rasa takut memenuhi seluruh kafe. Ada yang mencoba melarikan diri melalui pintu belakang, tetapi yang menanti mereka adalah sosok yang tak jauh berbeda dengan tamu itu.
Pembantaian penuh darah pun terjadi. Organ organ berceceran dan tubuh tercerai berai memenuhi lantai.
Arisa yang melihat semua itu gemetar ketakutan. Jika ini mimpi buruk, dia ingin segera bangun. Tetapi ini adalah kenyataan.
Sosok itu akhirnya melihat dirinya dan berada di depannya. Dia tahu ini adalah akhir dari hidupnya.
Dia ingat kejadian dimana dia bertemu dengan Shin.
Begitu rupanya, ini sama seperti dulu. Mereka datang ke kafe ini adalah untuk membunuhnya.
Sekali lagi dia merasa bersalah karena melibatkan orang lain.
"Mereka mulai serius rupanya."
Hanya ada satu orang yang masih bisa bersikap tenang dalam situasi seperti itu. Orang itu berada di depan Arisa menghadang sosok menyeramkan itu.
Arisa ingin menghentikannya, tapi jangankan bicara, bergerak saja dia tidak mampu.
Anehnya, Shin tiba tiba menyentuh Arisa dan langsung saja pandangan Arisa langsung berubah. Dari sebuah kafe, menjadi sebuah langit, tepatnya dia berada di langit atas kota.
Arisa terkejut bukan main. Shin menggendongnya ala tuan putri di atas langit kota
Dia terbang? Bagaimana mungkin?
Begitu. Semua ini hanyalah bagian dari mimpi buruk karena disebabkan oleh seorang penguntit.
Sayangnya, mimpi buruk itu belum berakhir.
Tiba tiba di atas kepala Shin muncul sebuah bola energi sebesar satu meter. Bola energi itu dijatuhkan begitu saja ke arah bawah mereka.
Dan kota yang penuh dengan kehidupan pada hari itu lenyap dari peta.
♾♾♾
"Itu pasti salah satu sihir tingkat tinggi, Ray Destroyer. Aku pernah melihat sihir itu diarahkan pada pasukan yang aku pimpin. Jujur saja aku masih merasa itu kekuatan yang curang."
Riana memberikan komentar sekaligus merasa nostalgia mengingat yang terjadi masa lalu. Sayangnya, itu bukan masa lalu yang indah jika dilihat dari sudut pandang orang lain.
"Tapi dari kisah kalian bisa dijelaskan kalau saat pertama kalian bertemu, Kuro sudah memiliki kekuatan setara dengan dewa."
"Itu memang terdengar mustahil, tapi itulah yang aku rasakan. Tentu saja aku tak bisa menerima begitu saja, tapi aku harus menerima kenyataan yang ada di depan mataku."
"Bukan hanya itu saja kan yang terjadi?" Tambah Charlmilia.
Arisa mengangguk dan melanjutkan.
---Sejak saat itu Arisa harus berpikir untuk membuang semua pengertian umum yang dia ketahui.
Apa dan siapa sosok yang menyerangnya itu? Bagaimanapun juga terlihat jelas kalau mereka bukan manusia.
Kekuatan apa yang digunakan Shin untuk melenyapkan sebuah kota dari peta hanya dalam sekejap mata? Itu bukanlah sebuah kekuatan yang dimiliki dan digunakan manusia.
Lalu pertanyaan terpenting dari semua itu adalah kenapa mereka mengincar dirinya?
Arisa merasa bingung dan tak tahu apa yang terjadi.
"Tidak apa apa jika kau tak mengerti. Mungkin lebih baik jika kau tak mengerti."
Tentu saja Arisa tak bisa begitu saja menerimanya. Dan bagaimana mungkin Shin bisa setenang itu setelah membunuh ribuan nyawa tak bersalah?
Tetapi dengan mudahnya Shin membantah dengan mengatakan 'cepat atau lambat mereka akan mati, jadi tak ada masalah'.
Itu benar benar membuat Arisa marah dan kecewa pada Shin, tetapi pada saat itu tak ada yang bisa dia lakukan. Mustahil bisa menang melawan Shin.
Dia merasa sedih karena kehilangan orang yang dia anggap sebagai orang tua. Teman teman yang begitu baik kepadanya. Seorang penyanyi jalanan yang selalu dia datangi.
Kini semuanya menghilang.
Sejak kejadian itu Arisa merasa hidupnya tak memiliki arti lagi. Dia tak tahu apakah dia harus melanjutkan hidup. Sempat muncul di benaknya untuk mengakhiri hidupnya, tapi dia tak berani melakukannya.
Yang bisa dia lakukan hanyalah minta maaf.
Kemudian Shin membawa Arisa ke berbagai tempat. Arisa yang jarang berpergian jauh tak mengerti bagaimana bisa Shin membawanya dalam sekejap mata, tapi saat itu dia sudah tak peduli lagi.
Tetapi satu hal yang pasti, kemanapun mereka pergi, pasti akan ada pertumpahan darah. Orang orang mati oleh sosok yang menyerupai monster dan kekuatan misterius yang sanggup menghancurkan gunung dengan mudahnya.
Arisa mulai berpikir ini bukan lagi dunia yang dia kenal.
Pada suatu hari, mereka berhenti di sebuah gubuk yang berada di tengah hutan. Shin mengatakan mereka akan aman untuk sementara waktu dan menggunakan momen itu untuk beristirahat.
Arisa menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri dari Shin. Mengingat kembali apa yang terjadi, tentu saja ini seperti tindakan bunuh diri, tapi dia tetap melakukannya karena itulah tujuannya.
Ya. Arisa sudah mencapai batas dan sudah tak kuat lagi melihat apa yang terjadi.
Jika dunia ini hancur, lebih baik seperti itu.
Seperti doanya terkabul, sosok dewa kematian menghampirinya. Dari auranya saja sudah membuat Arisa merasa mati.
Arisa tersenyum dan meneteskan air mata bahagia karena keinginannya akhirnya terkabul.
Tetapi, pada akhirnya kematian tak kunjung menghampirinya.
Sosok dewa kematian itu bertarung dengan Shin. Berbeda yang selama ini Arisa lihat, pertarungan mereka berlangsung cukup lama dan menghancurkan segala yang ada di sana.
Lalu setelah pertarungan berakhir, untuk pertama kalinya Arisa dibuat terkejut oleh Shin yang menerima luka parah. Tangannya putus dan kakinya berbelok ke arah yang tak seharusnya.
Melihat saja Arisa merasa mual, tetapi orang yang mengalami hal itu masih saja bisa berdiri.
Pada saat itu Arisa sadar. Shin mengalami semua itu demi dirinya. Dia ingat perkataan Shin sebelum pertama kali bertemu.
Begitu rupanya. Di matanya Shin adalah sosok yang kejam dan kenal ampun pada lawan maupun kawan, tapi semua itu dia lakukan hanya demi satu orang.
Dirinya.
Kenapa?
Kenapa bisa sejauh itu?
Sebelum bertemu pada hari itu, keduanya adalah orang asing. Tapi entah mengapa, Shin seolah sudah mengenal dirinya begitu lama.
Setelah sejauh ini, mustahil tak muncul rasa untuk ingin tahu semua yang terjadi.
Lalu untuk pertama kalinya Arisa memeluk tubuh Shin yang berlumuran darah.
(Aku akan menunggu saat kau menceritakan semuanya padaku)
Sebuah cahaya muncul dari dalam dirinya. Dan setelah itu, kehidupan baru akhirnya mulai tumbuh di tempat yang hancur seperti neraka.
Pada saat itulah Arisa membangkitkan kekuatannya sebagai seorang pembawa kunci kehancuran dunia.
Perjalanan Shin dan Arisa terus berlanjut. Semakin lama dan jauh mereka berlari, semakin kuat pula musuh yang menghampiri.
Dengan kekuatan Shin yang luar biasa, keduanya berhasil melaluinya. Bersamaan dengan itu Arisa mulai bisa menguasai kekuatannya sebagai seorang pemilik kekuatan regenerasi dan sekaligus penyembuh.
Dengan kombinasi mereka, tak ada yang bisa menghentikan keduanya lagi.
Di waktu yang sama, Arisa akhirnya mulai jatuh cinta pada orang yang selalu berada di sampingnya itu. Dan karena Shin memiliki perasaan padanya, tak ada alasan untuk tak menjalin sebuah hubungan asmara.
Perjalanan mereka begitu menantang, tapi di saat yang sama mereka seperti seorang pasangan pengantin yang melakukan bulan madu.
Waktu berlalu dan akhirnya perjalanan menuju akhir. Musuh terakhir akhirnya muncul.
Sosok yang dikenal sebagai Demon King Solomon.
Pertarungan Shin dan Solomon begitu dahsyat dan melebihi pemikiran manusia. Bahkan benua terbelah menjadi dua dan tak menyisakan kehidupan.
Arisa hanya bisa melihat tanpa melakukan apapun. Dia ingin membantu, tapi tak ada yang bisa dia perbuat. Pertarungan mereka berada di dimensi yang berbeda.
Dalam pertarungan ini Shin lebih unggul. Tapi entah mengapa dia enggan mengakhirinya.
Dalam pertarungan ini akhirnya Arisa mengetahui kebenarannya.Selama ini dia memikirkan kenapa Shin begitu peduli dengannya.
Cepat atau lambat Demon King Solomon memang akan menghancurkan umat manusia. Tak ada yang sanggup mencegah hal itu.
Tetapi bukan berarti Demon King Solomon tak bisa dikalahkan. Salah satu cara untuk mengalahkannya adalah dengan mencegah Solomon untuk bangkit sepenuhnnya, yaitu dengan menjaga segel terakhir tak terlepas.
Segel itu berupa nyawa seorang manusia. Nyawa Arisa.
Jika Arisa mati, meskipun Shin memiliki kekuatan dahsyat, dia tak akan bisa menang. Dan itu artinya dunia akan hancur sepenuhnya.
Mengetahui itu membuat perasaan Arisa rumit. Apakah Shin selama ini menjaga dirinya hanya karena tak ingin segel Solomon terlepas atau benar benar mencintainya?
Dia tak tahu jawabannya, tapi dia tahu satu hal.
Perasaan Shin adalah sebuah cinta nyata yang tulus.
Pertarungan keduanya akhirnya mencapai puncak. Dua serangan paling mematikan akhirnya mereka keluarkan untuk mengalahkan lawan.
Hasil benturan dua kekuatan itu tak hanya kehancuran, tapi juga menciptakan sebuah lubang hitam yang menelan segalanya.
Pada momen inilah Shin begitu senang.
"Akhirnya aku bisa menyelamatkanmu. Maaf membuatmu menunggu lama."
Arisa tak mengerti. Jika menyelamatkan, dia sudah diselamatkan. Tapi entah mengapa perkataan Shin memiliki arti yang lain.
Shin lalu memeluknya.
"Mungkin kita akan berpisah untuk sementara. Jangan kawatir, kemanapun kau pergi, aku akan selalu menemukanmu."
Tanpa diberi kesempatan, Shin memasukan Arisa ke dalam lubang hitam. Pada saat itu, Arisa hanya bisa melihat punggung Shin yang perlahan menghilang.
♾♾♾
Mendengar kisah Arisa, semuanya menjadi diam membisu. Cerita Arisa begitu luar biasa seperti sebuah kisah dongeng, tetapi di saat yang sama bisa disebut sebagai sebuah kisah misteri.
Di dunia yang tanpa ada sihir, tiba tiba ada eksistensi yang bisa menggunakan sihir.
Seorang pemuda yang tiba tiba muncul untuk menyelamatkan seorang gadis dan dunia.
"Aku terbangun di depan Yamiris dan akhirnya membuat kontrak dengannya. Berkat Yamiris pula aku mengetahui kebenaran di balik semua misteri yang menyelimuti Shin sejak pertama kali bertemu dengannya."
Arisa berhenti sesaat dan akhirnya melanjutkan.
"Demi diriku Shin telah kembali ke masa lalu dengan jumlah tak terhitung. Setelah mengetahui apa yang dia perbuat demi diriku, apa aku bisa melihat dia mati tanpa membalas kebaikannya?"
__ADS_1