
Setelah pertarungan melawan Alva dan Alvi, Kuro dan Laila dipanggil oleh Electra untuk segera pergi menuju ruangannya.
Dia pasti memiliki suatu rencana yang aneh lagi. Kuro tak punya pilihan selain berpikir seperti itu.
Kuro dan Laila ingin sekali mengobrol dengan Alva dan Alvi setelah semua yang terjadi. Namun mereka harus menahan diri untuk itu. Lagipula mereka tak perlu terburu buru.
Pada akhirnya mereka memutuskan untuk akan berkumpul di sebuah restoran sambil merayakan kemenangan dan keberhasilan Alva dan Alvi menggunakan Spirit Art.
"Kuro, jangan memasang wajah cemberut. Electra memang orang licik, tapi kau tak harus seperti itu."
"Jika kau sudah mengetahui hal itu, sebaiknya kau bersiap dengan hal yang ingin dia bicarakan. Kita sama sekali tak bisa menebak apa yang dia pikirkan. Mungkinkah dia memarahimu karena menghancurkan arena?"
Wajah Laila menjadi pucat.
"Jangan menakutiku. Aku sudah menahan diri agar tak terlalu membuat kerusakan."
Kuro tahu Laila bisa menahan diri, tapi Laila tak tahu seberapa besar kekuatan yang dia miliki jika dilihat dari sudut orang lain.
Lalu tipe serangan Laila adalah serangan dengan area luas. Hal ini berkebalikan dengan serangan Kuro yang fokus pada titik vital. Karena itulah serangan Laila lebih merusak daripada serangan Kuro.
"Aku hanya berharap kau tak menggunakan kekuatan seperti tadi. Aku tak mau membuat orang mengira kita seorang monster."
"Aku tak percaya mendengar itu dari mulutmu setelah apa yang kau lakukan."
Mereka akhirnya tiba di depan kantor Electra. Kuro mengetuk pintu tiga kali dan langsung saja masuk.
Laila hanya bisa mendesah melihat tingkah Kuro yang sama sekali tidak sopan.
"Selamat datang. Aku senang kau cepat memenuhi panggilanku."
Electra menyambut keduanya. Dia duduk di bangku dengan wajah serius. Ada orang lain selain dirinya di ruangan itu.
"Sebelum itu, perkenalkan. Tidak, aku yakin kalian pasti sudah mengenal dia."
Wanita yang berada di ruangan bangkit. Dia berbalik arah dan bertatapan dengan Laila dan Kuro secara langsung.
"A-anda kan..."
Laila terkejut dengan sosok yang berada di depannya. Dia memang mengenal kisah dan sosoknya dari gambar, tetapi ini pertama kalinya Laila bertemu secara langsung.
"Salam kenal. Namaku Vivian Icaliva. Seperti yang kalian tahu, aku adalah salah satu dari Paladin dan bibi Alva dan Alvi."
"Salam kenal. Aku Laila Kagami."
"Suami Laila, Kuro Kagami."
Laila dan Vivian berjabat tangan. Sedangkan Kuro sama sekali tak tertarik dan justru menunjukkan aura tak senang.
Vivian hanya tersenyum seolah memaklumi tindakan Kuro.
"Ini pertama kalinya aku mendengar kau sudah mengganti namamu?" Tanya Electra.
"Aku berencana menggantinya setelah Battle War selesai. Lagipula kami berencana akan berhenti sekolah di saat yang sama."
"....hey Kuro, ini juga baru pertama kalinya aku mendengar kau akan berhenti sekolah. Apa maksudnya dengan semua ini?"
"Kau terlalu berisik, Nenek tua. Aku bersekolah karena kontrakku denganmu. Selain itu aku tak memiliki alasan lain untuk bersekolah di sini. Lagipula apa kau pikir ada yang bisa kami dapatkan dari sekolah ini?"
"I-itu..."
Electra tak bisa membantah.
Dengan semua kekuatan dan apa yang mereka miliki sekarang, Laila dan Kuro bisa dikatakan tak memerlukan sekolah lagi. Meskipun butuh sekolah, itu adalah sekolah yang lebih tinggi dengan pelajaran yang lebih cocok untuk mereka.
Kenyataan ini sudah diketahui Electra. Tetapi mendengar itu langsung dari Kuro adalah sebuah mimpi buruk yang menjadi kenyataan.
Sempat terlintas Electra akan menggunakan otoritasnya untuk menghentikan keduanya, tapi dia sadar keduanya berbeda dengan murid sekolah biasa, dia tak bisa melakukan itu. Lalu Kuro juga memiliki koneksi dengan kaisar Sei. Itu membuat situasi lebih buruk.
"Electra, kami sekarang memiliki seorang putra dan putri. Ada kemungkinan akan bertambah lagi. Jika kami terus bersekolah, kami tak memiliki waktu untuk anak kami. Kami hanya tak ingin menjadi orang tua yang buruk." Tambah Laila.
"Aku tahu dan mengerti apa yang kalian rasakan tapi-"
"Ini menyangkut masa depan sekolah ini kan?" Potong Kuro.
Electra terkejut. Bagaimana dia bisa mengetahui hal itu? Pertanyaan itu terlihat jelas di wajahnya.
"Masa depan sekolah? Kuro, apa maksudmu?"
"Maaf karena aku tak pernah menjelaskan ini sebelumnya, tapi kau tahu kan kalau tindakan Nenek Tua yang menyuruh diriku untuk bersekolah di sini suatu yang tak wajar. Aku bertanya pada orang yang kemungkinan mengetahui alasannya. Jawaban yang aku terima cukup mengejutkan." Kuro berhenti sesaat lalu melanjutkan setelah melihat ekspresi Electra. "Nenek Tua, jika sekolah ini tak memenangkan Battle War tahun ini, sekolah ini akan ditutup, benarkan?"
"!"
Satu satunya yang terkejut adalah Laila. Electra tak mencoba membatah, sedangkan Vivian menutup matanya seolah tak ingin melihat kenyataan pahit itu.
"Kuro, tolong jangan bercanda!! Electra, apa yang dikatakan Kuro itu bohong kan?"
Laila panik dan tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Memang Kuryuu Academy adalah sekolah dengan peringkat terendah, namun banyak kisah terkenal yang terjadi. Kisah percintaan orang tuanya adalah salah satunya.
Lalu sekolah ini juga menjadi tempat di mana Laila dan Kuro menjadi satu. Itu sebuah kenangan yang tak ada harganya.
"Electra...?"
Sayangnya, ekspresi Electra sudah menjelaskan semuanya.
"Jika kau sudah mengetahui hal itu, aku tak perlu menyembunyikannya lagi. Memang sekolah ini bukanlah yang terbaik, namun banyak orang terkenal yang lulus dari sekolah ini seperti diriku, Vivian atau ayah dan ibumu. Tetapi semua itu hanyalah masa lalu."
"Ini berkaitan dengan kualitas penyihir yang semakin menurun. Aku salah?" Tambah Kuro.
"Benar. Tapi tak hanya itu saja alasannya. Lokasi kota ini yang terlalu jauh juga menjadi masalah. Dulu kota ini memang luas karena merupakan jalur perdagangan, namun itu semua masa lalu. Kota Areshia hanyalah sebuah sisa dari kota Limphis yang hancur akibat pertempuran."
"Kota Limphis?"
Laila pernah membaca tentang kota itu, tapi tak menyangka kota itu adalah kota Areshia.
"Kau tahu danau di dekat kota kan? Itu dulunya merupakan pusat kota Limphis. Lalu kota juga dibagi menjadi dua bagian. Sekolah sihir dan perkotaan. Pasukan musuh menyerang secara tiba tiba bagian perkotaan. Pada saat itu Knight terlambat merespon serangan sehingga korban cukup banyak. Tetapi berkat King, musuh berhasil dikalahkan dan dipaksa mundur."
"Dalam pertempuran itu Aku dan Vivian tak bisa berbuat banyak. Kekuatan kami saat itu masih kurang."
Total korban mencapai 10.000 lebih. Itu belum termasuk yang hilang karena mayat mereka tak ditemukan akibat sihir skala besar.
Vivian dan Electra saat itu belum mencapai Paladin, mereka bahkan belum membuat kontrak dengan Dragon King. Jangankan mengalahkan musuh, menjaga diri mereka saja sulit.
Lalu jika menunggu bantuan datang dari ibukota, itu akan memakan waktu yang cukup banyak. Pada saat itu semuanya tahu kalau kehancuran kota Limphis hanya tinggal menunggu waktu saja.
Tetapi ada satu orang yang berani melawan seluruh pasukan sendirian. Orang itu adalah Ao, sang King saat itu.
"Aku baru tahu kalau ada King lain seperti Kuro di masa lalu."
Setelah mendengarkan cerita tentang sejarah kota Areshia, Laila tak punya pilihan selain penasaran dengan eksistensi yang sama dengan Kuro.
Tentu dia memiliki pemikiran kalau King seperti Kuro pasti pernah ada sebelumnya (Demon King), tapi tak pernah ada catatan tentang mereka.
"Begitulah. Jika menceritakan tentang Ao, cerita akan sangat panjang. Tapi intinya, berkat insiden itu kami bertekad untuk menjadi lebih kuat. Bahkan menjadi Queen dan Paladin. Lalu setelah beberapa hal terjadi, kota ini menjadi seperti sekarang ini."
Electra dan Vivian menunjukan tatapan penuh nostalgia. Semua kenangan indah dan buruk terlintas kembali di benak mereka.
"Ehem.. bisakah kita kembali ke topik. Aku tahu kalian senang membicarakan masa lalu, tapi masa depan lebih penting."
"Kau benar, Kuro. Maaf, hanya saja Ao sangat berarti bagi kami. Karena kau juga seorang King, kau pasti tahu apa yang terjadi pada Ao."
"..."
Kuro menggertakan giginya. Dia mengerti ke mana arah pembicaraan ini jika terus berlanjut. Dia tak tahu apa yang keduanya rencanakan, namun jika Laila tahu King akan menghilang dan dilupakan semua orang, kehidupan Kuro yang sekarang akan berubah.
Seolah menikmati eskpresi Kuro, Electra tersenyum.
(Si rubah betina ini...)
Kuro sadar saat ini dia tak memiliki pilihan. Electra sudah mendapatkan dirinya.
"Kalau boleh tahu, di mana dia sekarang?" Tanya Laila.
"Setelah lulus dari sekolah ini, dia melakukan perjalanan. Dia bilang ingin mencari petulangan yang lebih seru lagi. Aku mendengar kalau dia menikah, namun tak selang berapa lama kemudian dia meninggal karena suatu penyakit mematikan."
"...maaf."
"Bukan apa apa. Semua itu sudah lama terjadi. Kembali ke topik, karena kalian sudah tahu masalah sekolah ini, jadi kalian pasti mengerti apa yang aku inginkan dari kalian."
Electra berhadapan dengan Laila, namun tatapannya mengarah pada Kuro.
(Kau berhutang padaku, jadi jangan coba macam macam)
Electra sadar Kuro pasti tahu hal ini. Jadi dia tak ingin membahas tentang Ao lagi.
"Anda meminta kami agar menang di Battle War nanti kan?"
Electra mengangguk bersamaan dengan senyuman.
__ADS_1
Lalu Vivian menambahkan.
"Saat ini di sekolah ini hanya kalian saja yang memiliki kemampuan menandingi putri Victoria. Kau pernah melihatnya sendiri kekuatannya kan? Lalu ditambah dengan keinginannya untuk memenangkan Battle War 3 kali secara berturut-turut, dia merupakan penghalang terbesar untuk memenangkan Battle War."
Dengan kekuatan yang berasal dari non sihir, lalu kekuatan besar yang mampu menandingi Holy Maiden Maria (meskipun dia bangkit dengan kekuatan yang jauh dari sempurna). Jika menggabungkan kekuatan keduanya, kemungkinan menang akan cukup besar.
Tetapi Kuro berpikir semudah itu.
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan tentang kami." Jawab Kuro. "Tapi kalian terlalu menjunjung dan banyak berharap pada kami. Aku tak bilang kalau akan kalah darinya, tapi Victoria bukan hanya seorang petarung tanpa otak. Lalu dalam segi bakat, aku bisa melihat kalau bakatnya melebihi Holy Maiden Maria. Jangan lupa kalau kekuatannya itu saja yang menjadi masalah."
"Kau berbicara tentang pasangannya kan?"
"Begitulah. Bukan itu saja, berbeda dengan peserta sekolah ini, peserta sekolah lain merupakan para elit dengan kemampuan minimal seorang penyihir peringkat SS. Penyihir tipe seperti mereka sangat merepotkan."
"Kami tahu itu, tapi bukankah kau sudah sering bertarung dengan penyihir seperti itu?"
Kuro mengangguk mengiyakan. Wajahnya semakin bertambah serius.
"Karena itulah aku tahu, meskipun kau ingin kami menang, aku tak bisa menjamin hal itu. Tolong jangan menambah beban kami. Lagipula tanpa kau suruh, aku memiliki alasan untuk memenangkan Battle War tahun ini."
"....ah..."
Electra ingat kalau kaisar Sei memberikan Riana sebagai istrinya. Untuk membatalkan hal itu, Kuro harus menang dalam Battle War.
Kejadian itu memang tak disebarluaskan, namun hal itu diketahui oleh orang orang penting seperti Electra.
"Hey.. jangan bilang kau lupa dengan hal itu, Nenek Tua!!"
Kuro berteriak, namun dia langsung mendesah dalam karena tak menyangka akan terlibat dalam suatu masalah hanya karena seseorang lupa.
"Tch!! Karena inilah aku tak ingin kemari. Sekarang apa kau puas setelah mendengar itu langsung dari kami?"
Electra tak langsung menjawab. Dia seolah memikirkan banyak hal di kepalanya. Lalu setelah berapa saat, dia tersenyum seolah mendapatkan sebuah jawaban yang dia inginkan.
"Lalu apakah hanya itu saja yang ingin kau sampaikan pada kami, Electra? Jika ingin mendengarkan tekad kami memenangkan Battle War, aku rasa kami tak perlu membuktikannya lagi."
"Ahaha.. maaf. Karena aku banyak masalah akhir akhir ini, aku jadi lupa dengan hal sederhana. Karena itulah aku minta maaf karena menambah beban kalian. Tapi ini juga penting agar kalian lebih bermotivasi untuk menjadi pemenang."
Daripada motivasi, itu lebih tepat jika menambahkan beban baru pada pundak keduanya. Kuro dan Laila memiliki keinginan untuk menang, namun mereka ingin melakukannya dengan cara yang santai.
Electra melanjutkan.
"Oh iya, aku belum menyampaikan alasan utama kenapa kalian aku panggil kemari."
"Kami ucapkan selamat pada kalian berdua. Kalian sudah resmi menjadi peserta Battle War tahun ini."
✡️♦️♦️♦️✡️
"Itulah yang disampaikan Nenek Tuadan Vivian. Aku tak percaya kita sudah menjadi peserta Battle War."
"Tapi itu wajar. Setelah semua yang kalian tunjukan, aku yakin tak ada yang berani melawan kalian."
"Aku juga setuju dengan Charl. Di sekolah sihir yang mampu menggunakan teknik tingkat tinggi seperti kalian berdua sangatlah jarang. Mereka pasti berpikir percuma saja jika bertarung."
"Apakah seperti itu? ...Kuro, bisakah kau berikan minuman itu?"
"Baik baik."
Perayaan dilakukan di restoran Himawari milik Kuro di ibukota. Tak hanya Kuro, Laila, Alva dan Alvi, pasangan Charlmilia dan Fila juga ikut bergabung.
Sama seperti keduanya, mereka juga menjadi peserta resmi Battle War dengan alasan yang kurang lebih sama.
"Hey, bukankah kau masih di bawah umur Laila?"
"Jangan kawatir. Kandungan Alkohol dalam minuman ini tak terlalu tinggi. Tapi jika kau mempermasalahkan batas larangan umur untuk minum, aku dan Kuro sudah melewati itu karena kami berlatih menggunakan ruang dengan waktu yang berbeda. Dengan kata lain, kami lebih tua daripada yang kalian lihat."
Batas minum di Kekaisaran Houou adalah 18 tahun. Hal ini berbeda dengan negeri lain yang sudah memperbolehkan minum pada saat 15 tahun.
Lalu berbeda dengan negara lain, kekaisaran cukup ketat dalam masalah ini. Bahkan minum di tempat yang tak seharusnya akan langsung bermasalah dengan Knight.
"Apa kau yakin umur kalian sudah bertambah? Aku sama sekali tak melihat perbedaannya."
"Un.. aku juga berpikir seperti itu." Tambah Alvi yang saat ini menikmati sushi.
"Itulah kehebatan ruang dimensi itu. Jika tertarik aku akan membiarkan kalian mencobanya kapan kapan. Tapi sekali masuk, kalian tak bisa keluar sebelum waktunya tiba. Jadi pikirkan dengan baik baik."
"Ugh!! Terima kasih tawarannya, tapi kami pikir menolaknya. Kami tak mau bertemu dengan lainnya selama satu tahun lebih. Tapi kami akan senang jika kau memberitahu bagaimana kami bisa menggunakan Spirit Art lebih baik."
"Itu mudah. Jika ingin menggunakan Spirit Art, kalian cukup akrab dengan Spirit yang kalian kontrak. Semakin akrab hubungan kalian, semakin kuat pula Spirit Art yang bisa kalian gunakan."
"Apakah semudah itu?"
"Benar. Tapi lebih tepat jika disebut gampang gampang susah. Berbeda dengan Magic Art, Spirit adalah makhluk hidup yang memiliki pemikiran sendiri. Dengan kata lain, mereka memiliki hal yang disukai dan hal yang tak disukai."
"Begitu rupanya."
Dengan kata lain mereka harus berteman dan memperkuat ikatan dengan Spirit. Itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan.
"Ngomong ngomong jika mau Laila sudah bisa menggunakan Spirit Gear sama seperti kalian."
"......................................."
Bom yang Kuro lemparkan membuat semuanya terdiam. Bahkan termasuk Laila.
"Apa? Aku hanya mengatakan kenyataannya saja."
Kuro kembali meneguk minuman kemudian memakan sushi dengan sumpit.
Semua lalu tertuju pada Laila dengan tatapan tak percaya. Keinginan yang dia ucapkan setelah bertarung dengan Alva dan Alvi tak disangka sudah terkabul.
"Jangan melihatku seperti itu. Meskipun aku bisa menggunakannya, bukan berarti aku akan menggunakannya. Lagipula itu akan mengubah Lic menjadi senjata. Bagiku dia adalah putriku, bukan Spirit yang aku kontrak."
"Ahaha.. aku tak tahu bagaimana jadinya jika kau melakukannya. Kita mungkin memiliki calon Paladin di sini."
"Itu masih lama. Aku hanya peringkat S."
""""BOHONNNNGGGG!!!!!!""""
Kemudian tawa canda memeriahkan acara perayaan mereka.
Pemandangan ini suatu yang sungguh membahagiakan bagi Kuro. Untuk sesaat dia merasakan nostalgia. Sudah berapa lama dia tak merasakan hal seperti ini?
Tapi satu hal...
(Cintamu pada Lic lah yang membuat kau bisa menggunakan semua kekuatan Lic. Dengan ini aku yakin kau akan lebih dekat sebagai seorang yang akan mengabulkan keinginanku)
✡️♦️♦️♦️✡️
Setelah perayaan selesai, Kuro dan Laila pulang ke rumahnya di ibukota. Untuk Charlmilia dan Fila, mereka pergi ke istana kaisar untuk pulang sementara sekaligus mengecek beberapa hal.
Meskipun Charmilia menjadi tuan putri, namun dia belum dibebani oleh tugas negara. Tetapi tak ada alasan untuk mempelajarinya. Untuk tak membuat kawatir pengawalnya, dia sudah menghubungi keduanya terlebih dahulu.
Untuk masalah Tribal, karena pemenang grub A dan B sudah ditentukan, mereka tak perlu lagi hadir. NamunTribal tetap berlanjut untuk menentukan terbaik kedua dan pemenang grub C sekaligus untuk memilih peserta terakhir.
Lalu untuk Alva dan Alvi mereka kembali ke kota Areshia. Meskipun mereka kalah, namun mereka ingin segera berlatih lagi. Mereka tak tahu sampai kapan Vivian berada di kekaisaran Houou.
"Selamat malam Riku. Semoga mimpi indah."
Memberikan ciuman di kening dengan penuh cinta, Kuro dan Laila pergi dari kamar setelah melihat Riku yang tertidur dengan penuh senyuman.
Mereka melakukan hal yang sama dengan Lic sebelumnya. Berbeda dengan Riku, Lic terlihat lelap seperti habis melakukan suatu yang melelahkan. Tentu mereka tahu alasan kenapa Lic seperti itu. Hubungan Lic dan Clara begitu akrab seperti saudara.
"Dengan ini semuanya selesai untuk hari ini. Bagaimana kalau kita segera tidur?"
Kuro memeluk Laila dan mengajaknya ke kamar yang tak jauh dari kamar Riku dan Lic. Senyuman di bibirnya menunjukan kalau Kuro saat ini sedang senang dan merencanakan sesuatu di kepalanya yang kotor.
Laila tentu tahu apa yang dipikirkan Kuro saat ini. Dia juga senang dan juga ingin melakukan hal mesum dengan suaminya meskipun mereka cukup lelah.
(Tetapi sebelum itu...)
"Kuro, bagaimana kalau kita bicara sebentar?" Jawab Laila sambil melirik ke arah beranda.
"....tentu saja."
Mereka lalu menuju beranda. Cahaya dua rembulan bersinar terang tanpa ada yang menghalangi. Angin terasa dingin, namun begitu romantis saat Kuro memeluk Laila dari belakang.
Gaun tidur serba putih yang begitu tipis membuat kehangatan Laila menjadi penghangat paling mujarab.
(Ah.. aku jatuh cinta lagi...)
Kuro semakin menguatkan pelukannya. Dia juga meraba tubuh Laila dengan sentuhan lembut yang kadang membuat Laila mengeluarkan desahan.
"Aku ingin bicara serius denganmu, tapi tak apalah..."
"Kau benci saat aku melakukan ini?"
Kuro membisikan kata kata lembut dekat telinga Laila. Wajah Laila memerah bersamaan dengan nafas yang terlihat di udara malam yang dingin.
__ADS_1
"Aku tak pernah membencinya. Baik, saatnya serius. Kuro.. bagaimana menurutmu aku hari ini?"
Kuro bingung, namun dia menjawab dengan apa yang dia rasakan.
"Kau begitu hebat dan luar biasa. Aku terkejut dengan apa yang kau tunjukan. Memang kau memberitahu kalau kau memiliki sebuah kartu truf baru, tapi aku tak menyangka akan seperti itu. Bagaimana kalau aku menyebutnya Empress Sword Dress?"
"Ahaha.. aku memang belum memiliki nama untuk itu. Terima kasih. Lalu apa lagi?"
"Aku senang saat kau memiliki niat untuk menjadi lebih kuat lagi. Dan yang paling penting, kau sama sekali tak mengkhianatiku tentang apa yang harus kau lakukan pada Lic. Terima kasih telah menjadi ibu yang baik untuknya."
"Tidak. Jangan lupa kau juga ayahnya."
"Aku tahu itu."
"Lalu apa lagi?"
"Hmm... Hari ini membuatku sadar kalau aku jatuh cinta lagi padamu."
"..."
Laila terkejut, namun dia perlahan tersenyum senang.
"Sebenarnya masih banyak hal lagi yang aku ingin-"
"Sudah cukup. Jika aku mendengar rayuanmu lagi, aku tak bisa menahan diriku. Kalau itu terjadi, keputusan yang aku buat mungkin akan goyah."
"Keputusan?"
Laila mengangguk.
"Benar. Karena semua itu, bolehkah aku meminta agar kau berjanji padaku?"
"Entah mengapa aku merasa curiga, tapi aku berjanji padamu."
Berjanji tanpa mengetahui konten terlebih dahulu adalah sebuah tindakan fatal, tapi saat ini Kuro tak peduli. Semua dia lakukan asalkan Laila senang.
"Sebelum itu mungkin kau akan marah saat mendengar hal ini."
"Aku tak akan marah."
Kuro sedang berbunga bunga. Apapun permintaan Laila, dia tak akan marah.
"Kalau begitu, bisakah kau mencintai orang lain selain diriku?!"
"..."
Kuro mematung. Dia merasa apa yang dia dengar adalah sebuah mimpi buruk.
Tapi dia tahu, telinganya tidak salah.
"Kuro, maukah kau mencintai orang lain selain diriku? Jika kau tak mengerti, lebih mudahnya bisakah kau memiliki istri lain selain diriku?"
"Ahaha.. Laila, itu sungguh lelucon yang bagus. Aku hampir tertipu. Bisakah aku mendengar permintaanmu yang sebenarnya?"
"Aku minta kau menikah lagi."
"..."
Kuro langsung menjadi putih. Dia tahu telinganya tak salah, tapi dia tak ingin menerima kenyataan itu.
Dia sama sekali tak menyangka Laila akan meminta dirinya untuk berselingkuh.
"Kuro, jika kau berpikir suatu yang aneh, aku akan memukulmu."
"Setelah semua yang kau katakan, apa aku tak boleh berpikiran aneh? Laila, apa kau mengerti apa yang kau katakan?"
Laila mengangguk.
"Apa kau menyuruhku membagi cintaku menjadi dua?"
Laila menggelengkan kepalanya.
"......kepalaku pusing. Bisakah kau menjelaskan permintaanmu?"
Untuk sekarang, Kuro akan mendengarkan. Laila tak mungkin membuat permintaan aneh tanpa alasan yang jelas.
Lagipula mana mungkin cinta Laila hanya sebatas ini.
"Pertama, kau pasti terkejut mendengar hal ini."
"Aku terkejut. Jantungku seperti mau melompat. Aku pikir kau tak mencintaiku lagi.. "
"Ini karena aku mencintaimu. Jadi bisakah kau diam dulu."
Kuro hanya bisa menangis.
"Kedua, aku tak pernah memintamu membagi cintamu menjadi dua. Jika melakukannya, aku akan membunuhmu."
"Kenapa kau tiba tiba menjadi yandere?"
"Tiga, aku memintamu menikah lagi, namun itu jika kau memang mencintai orang lain selain diriku. Tetapi jangan pernah mencoba untuk mencintai dia lebih dari diriku. Aku akan selalu menjadi nomor satu sebagai orang yang paling kau cintai.
"Bukankah kau terlalu serakah?"
"Keserakahan dibutuhkan dalam cinta. Jika tidak, bagaimana bisa aku memilikimu sementara banyak, ratusan wanita yang mencintaimu?"
Kuro tak bisa membantah. Namun dia merasa ada kemarahan dalam perkataan Laila.
Laila menatap rembulan yang bersinar.
"...Kuro, menurutku kau itu bagaikan cahaya yang bersinar terang. Kau memberikan cahayamu pada kami, memberikan arah pada kami. Tetapi karena itu pula tak ada yang bisa kami berikan padamu."
Laila melepaskan pelukan Kuro dan memegang pipi Kuro. Laila menatap Kuro dengan penuh cinta dan kasih sayang, namun di saat yang sama tatapan itu begitu menusuk.
"Saat bersama dengan Solaris, dia memberitahu seiring bersinarnya cahaya, maka di saat yang sama semakin gelap pula bayangan yang tercipta. Awalnya aku tak begitu mengerti apa yang dia maksud, tetapi saat pertarungan melawan Maria, aku mengerti semuanya. Kata kata itu sebenarnya ditujukan untuk dirimu."
Saat pertarungan itu, dalam kegelapan yang menelan semuanya, hanya Kuro saja yang baik baik saja. Itu bukan karena dia adalah keturunan Demon King atau King. Bukan juga karena Kuro memiliki Authority.
Sejak awal kegelapan itu sendiri ada bersama dengan Kuro.
Cahaya dan kegelapan. Kedua hal itu memang menggambarkan Kuro.
"Karena hal itulah aku selama ini terus berpikir. Bagaimana menghilangkan kegelapan itu darimu? Kau adalah cahaya terang yang menerangi kami. Jika hanya aku saja yang berusaha membalas cahayamu dengan cahaya yang kecil, cahaya yang aku berikan itu tidaklah cukup untuk menghapuskan kegelapan dalam dirimu."
"Karena itulah kau berpikir untuk membiarkan orang lain memberikan cahaya mereka untukku? Memang dengan banyak dikelilingi oleh banyak cahaya, kegelapan tak mungkin tercipta."
Laila tersenyum mengiyakan.
"Banyak wanita yang jatuh cinta padamu. Itu bukan hanya karena King atau dirimu adalah seorang yang tampan atau memiliki karisma yang menarik hati. Tetapi mereka semua bisa merasakan 'kau membutuhkan mereka'. Karena itulah mereka berusaha mendapatkan cahaya darimu dan berusaha memberikan kembali cahaya padamu. Kuro... Apa kau mengerti maksudku?"
"..."
Bagi Kuro tak ada yang salah dalam penggambaran Laila tentang dirinya. Dia akhirnya mengerti kenapa Laila akhir akhir ini membahas dirinya curang karena berusaha mendapatkan cinta Kuro seorang diri.
Kuro menggenggam tangan Laila dan merasakan kehangatannya.
(Begitu hangat. Ini adalah cahaya yang memberikan kehangatan pada tubuhku yang dingin ini)
Banyak yang menyebut dirinya tak memiliki hati. Dia tega melakukan apapun dan tanpa ragu membunuh musuh yang menghalangi tujuannya.
Dan itu memang benar. Sejak awal hati Kuro sudah membeku. Karena itulah dia tak ingin kehilangan kehangatan dan cahaya yang dia dapatkan dari orang lain.
Itulah alasan kenapa dia bertarung sampai sejauh ini.
"...Aku mengerti Laila. Tetapi kau salah jika berpikir cahaya yang kau berikan tidaklah cukup. Kau memiliki cahaya yang paling terang di antara semuanya. Kau memberikan cinta dan keluarga yang sebelumnya tak pernah aku miliki. ... Karena itulah, jika kau berpikir seperti itu, aku akan melakukannya. Tapi tidak sekarang... Saat ini cintaku hanya milikmu seorang. Aku mungkin akan jatuh cinta pada orang lain lagi, tapi aku berjanji cintaku padamu adalah yang paling besar."
Itu perasaannya yang sebenarnya. Meskipun ada alasan lain kenapa dia tak bisa jatuh cinta lagi (tak boleh jatuh cinta lagi), namun baginya cinta adalah sebuah berkah, dan di saat yang sama juga sebuah kutukan.
Karena mengerti hal ini, maka dia jatuh cinta pada Laila. Itu adalah satu satunya hal yang tak bisa Kuro ubah meskipun dia memiliki kekuatan Destiny Slayer.
".....terima kasih... Aku senang kau mengerti apa yang aku rasakan. Dengan begini beban yang aku rasakan sedikit berkurang. Selain itu, jika banyak orang yang mengikatmu, aku pikir kau tak mungkin akan pergi dari sisiku."
"!"
Apakah Laila sudah tahu hal itu? Jika iya, siapa yang memberitahunya?
"Oh iya, aku hanya mengizinkan kau menikah dengan gadis yang aku akui, mengerti?"
"Ahaha..."
"Satu hal lagi, agar aku tak kesepian saat kau bersama dengan wanita lain, aku pikir kau cukup memberikan aku 10 anak."
"Apa kau serius?"
Tatapan Laila sangat serius. Kuro tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"...Ya ampun. Tapi tenang saja, aku sebenarnya anak kembar. 10 anak aku pikir bukan masalah besar."
__ADS_1
Kepala Kuro benar benar pusing.