Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Demon Teacher


__ADS_3

Jam pulang sekolah, Helen kembali menemui Riku. Kali ini dia tak sendiri, tapi dengan dua murid lainnya. Satu laki laki, dan satu lagi perempuan.


"Perkenalkan, dia adalah Mikia Resee dan Guy Nact."


"Salam kenal, Riku."


"Yo.., salam kenal."


Mikia seorang gadis dengan aura yang tenang sedangkan Guy kebalikannya, dia memiliki aura yang kuat. Guy juga lebih tinggi dan kekar dari Riku.


"Salam kenal."


Riku berjabat tangan dengan keduanya.


"Baiklah, aku rasa lebih baik menjelaskannya dalam perjalanan. Ayo.."


Helen kembali pergi ke luar kelas. Riku dan lainnya mengikuti.


"Kita kemana?"


"Ya ampun, kau juga tak tahu?"


"Guy, jangan membuat masalah."


"Hey.. aku hanya penasaran saja. Apa benar kau tak pernah bersekolah? Aku sama sekali tak memiliki niat buruk."


Sepertinya Helen menjadi ketua bukanlah tanpa alasan. Dia sanggup menenangkan Guy dengan cepat.


"Aku hanya mendapatkan pelajaran dari guru privat. Dan karena berbagai situasi, aku tak bisa bersekolah seperti anak lainnya."


Jika mau bersekolah, sebenarnya Riku bisa saja melakukannya. Tentu saja dia memilih tidak melakukannya. Bahkan jika tidak karena ancaman kakeknya, dia memilih untuk tak bersekolah.


Dengan statusnya sebagai putra tertua salah satu keluarga berpengaruh di kekaisaran, sekolah sebenarnya bukanlah suatu yang wajib. Selama mendapatkan pendidikan yang setara, itu sudah cukup.


"Situasi macam apa yang membuat tak bersekolah? Kau tak bicara tentang masalah uang kan?"


"Tidak. Masalah itu lebih rumit daripada uang."


Pihak sekolah memang menarik biaya dari murid, tapi tak begitu membebani para murid karena seluruh fasilitas hampir dibiayai oleh pemerintah.


Karena alasan ini, seorang penyihir yang tak bersekolah di Academy sangatlah jarang.


"Begitu. Baiklah.. aku yakin setiap orang memiliki alasan masing masing. Tapi karena kau lebih tua, apakah kami harus memanggilmu senior?"


"Guy!!!"


"Hey.. aku hanya bercanda. Hanya bercanda."


Helen benar benar menakutkan. Mungkin salah satu syarat menjadi ketua kelas adalah memiliki kemampuan untuk menaklukkan murid lainnya?


"Aku lebih memilih panggilan biasa. Lagipula aku murid baru. Aku yang seharusnya memanggil kalian dengan sebutan senior."


"Tolong jangan lakukan itu. Membayangkannya saja sudah membuatku mual."


Helen dan Mikia tersenyum seolah berkata 'kau memanen apa yang kau tanam'.


"Jadi kemana kita akan pergi?"


Kembali ke masalah.


"Kau tahu kalau di sekolah menggunakan sistem peringkat kan?"


Riku mengangguk.


"Peringkat tak berdasarkan peringkat sebagai penyihir saja. Ada banyak hal yang menentukan peringkat. Nilai pelajaran, peringkat penyihir, poin kontribusi, hasil latih tanding, perilaku, dan terakhir adalah tugas mandiri. Semuanya disatukan dan menentukan peringkatmu di sekolah."


"Sebanyak itu?"


Riku awalnya mengira peringkat ditentukan oleh peringkat penyihir saja, tapi dia salah.


"Kau bisa melihat peringkatmu di handphone. Jujur saja aku sarankan untuk tak melihatnya."


Riku mengangguk karena bisa membayangkannya. Meskipun terlambat karena sudah melihatnya. Peringkat yang dia miliki saat ini adalah 10.078 dari 10.100 murid.


"Peringkat tak begitu berpengaruh dalam kelulusan, jadi tak perlu memikirkannya. Tetapi karena peringkat berpengaruh terhadap kehidupan sekolah, aku yakin kau mengerti betapa pentingnya memiliki peringkat tinggi."


Mengingat apa yang terjadi di kantin, Riku bisa mengerti kenapa peringkat sangat berpengaruh.


"Jadi apakah kita menuju tempat untuk menaikkan peringkat?"


Sayangnya Helen menggelengkan kepalanya.


"Hampir tepat. Yah.. bisa dibilang memiliki hubungan dengan itu."


Mereka lalu tiba di tempat terbuka menyerupai lapangan. Di tengahnya terdapat semacam arena berjumlah 15. Di bagian tengah ada arena yang paling besar di antara semuanya.


Selain mereka, ada kerumunan yang sudah lebih dulu tiba. Tak hanya terdiri dari berbagai kelas, tapi juga murid peringkat tinggi juga ada.


Membedakan peringkat murid cukup mudah. Ada lencana di dada mereka yang menunjukkan peringkat berdasarkan warna.


Emas untuk 10 ke atas, perak untuk 11 sampai ke 50 dan perunggu untuk 51 sampai 100. Dan terakhir warna putih untuk 101 sampai 500. Lebih dari itu murid tak memiliki lencana.


"Sekolah kita hanya terdiri dari penyihir elemen api, jadi latih tanding antara murid tak begitu menantang."


Memiliki elemen yang sama berarti memiliki teknik dan ketahanan yang hampir sama. Yang membedakan adalah status berupa peringkat penyihir, teknik dan jenis sihir yang digunakan.


"Setiap penyihir User atau Contractor hampir memiliki satu kesamaan, yaitu bentuk arm dan beast mereka. Jadi ini semacam pelajaran tambahan bagi penyihir dengan wujud arm yang sama."


"Begitu..."


Dari penjelasan itu secara tak langsung menyebutkan kalau Helen dan lainnya memiliki bentuk arm yang sama.


Ada beberapa murid yang sudah menunjukkan arm milik mereka berupa pedang. Dengan kata lain, hampir semua murid yang berkumpul di tempat itu memiliki arm berwujud pedang.


"Hmm.. mungkinkah kalian berpikir aku memiliki arm berbentuk pedang sehingga mengajakku ke tempat ini?"


"Apakah itu salah? Jangan pura pura. Aku bisa tahu dari tanganmu, kau adalah seorang pengguna pedang."


Riku tertawa kecut oleh hasil analisa Guy.


"Hey.. jangan bilang kau adalah Contractor? Ya ampun, seharusnya kami bertanya terlebih dulu sebelum mengajakmu kemari."


Guy dan Helen pucat seolah merasa bersalah. Mikia sendiri masih begitu tenang. Terlalu tenang. Sejak tadi dia hanya diam.


"Tidak. Aku bukanlah Contractor. Aku juga memiliki arm berupa pedang, jadi tidak salah mengajakku kemari. Hanya saja aku penasaran kenapa kita harus berkumpul pada satu tempat seperti ini."


Guy mendesah lega.


"Sebenarnya kita tak harus berkumpul di tempat ini. Hanya saja, jika kau ingin meningkatkan kemampuan bertempur menggunakan pedang, tempat ini adalah tempat yang tepat."


"Apa ada yang spesial dari tempat ini?"


"Bukan tempatnya yang menjadi spesial, tapi karena tempat ini menjadi tempat para master menunjukkan kemampuan mereka."


Riku mulai bisa menebak arah pembicaraan.


"Arm berwujud pedang memang cukup umum, tapi sama seperti sidik jari, mereka semua tidaklah sama. Karena inilah bagi pemilik arm berwujud pedang, mereka harus menemukan teknik yang paling tepat untuk pedang mereka agar bisa mengeluarkan kekuatan pedang mereka secara penuh."


Tak hanya arm berwujud pedang, wujud lainnya juga memiliki hal yang sama.


"Para master akan menunjukkan teknik pedang masing masing dan para murid akan mencoba mendapatkan sesuatu dengan melihat teknik mereka. Dengan kata lain, hanya menonton mungkin akan mendapatkan sesuatu, tapi itu juga tergantung dengan kemampuan dirimu sendiri."


"Jika kau ingin mendapatkan hal lebih, kau bisa meminta bimbingan langsung dengan membayar poin kontribusi. Tapi itu tak menjamin kau akan mendapatkan sesuatu yang berguna." Tambah Guy.


Meskipun pihak sekolah seperti tak serius memberikan pelajaran, tapi sebenarnya itu kebalikannya. Justru karena peduli, pihak sekolah membiarkan para murid mengembangkan diri mereka sendiri.


Ada suatu waktu di mana murid mendapatkan instruksi secara langsung dari pembimbing. Semua pengetahuan dan teknik diberikan pada murid itu sehingga membuatnya bagaikan kembaran pembimbing.


Semua berpikir ini adalah tindakan yang tepat, tapi hasilnya berkata lain. Murid itu justru menghancurkan diri sendiri dan mengalami kerusakan mental yang tak bisa disembuhkan.


Dengan kata lain, Academy memberikan bimbingan dan sumber daya untuk murid mengembangkan diri, tapi tak menjamin mereka akan berkembang. Semuanya tergantung pada murid itu sendiri.


10 orang memasuki arena. Mereka mengeluarkan arm masing masing yang berupa pedang, tapi dengan bentuk dan ciri khas yang berbeda.


Para murid langsung antusias mengerumuni orang yang paling mereka tunggu. Setelah itu orang orang itu menunjukkan teknik dengan menghancurkan boneka latihan.


Peragaan itu berlangsung selama satu jam penuh dan setelah itu para murid bebas bertanya atau meminta bimbingan langsung dengan membayar poin kontribusi.

__ADS_1


Guy sendiri juga tak mau kalah dan pergi ke salah satu peraga. Untuk Helen dan Mikia, mereka masih berada di samping Riku melihat kerumunan.


"Kalian berdua tak ingin mendapatkan bimbingan?"


Milia menggelengkan kepala.


"Bagi murid dengan poin kontribusi yang banyak, itu mudah bagi mereka. Tapi bagi yang pas pasan seperti kami, kami harus berpikir matang matang sebelum melakukannya. Lagipula bukan berarti kami akan menjadi pendekar pedang yang ahli."


"Begitu.."


"Kau sendiri bagaimana? Apa kau tak tertarik?"


"Bukan begitu, aku hanya merasa tak mendapat apapun dari mereka. Lagipula aku tak memiliki poin kontribusi."


Riku melirik ke langit yang mulai gelap.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita pulang? Oh iya, ngomong ngomong apakah Riku tinggal di asrama?"


"Tidak. Aku tinggal di luar sekolah."


"Mungkinkah Riku sebenarnya orang kaya? Aku dengar rumah di dekat sekolah harganya sangat mahal."


"Entahlah.. aku hanya disuruh tinggal di sana, jadi aku kurang tahu."


Mereka bertiga pergi meninggalkan tempat peragaan.


Sampai di jalan yang memisahkan asrama dan pintu keluar sekolah, mereka hendak berpisah. Di saat itulah seorang gadis menemui Riku seolah sudah menunggunya.


"Kau terlalu lama. Aku maklumi pada jam makan siang tadi, tapi jika kau mengulanginya, kau akan mendapatkan hukuman yang lebih daripada kemarin."


"Apa kau tak puas jika tak menghukumku? Apa makan malam hari ini?"


"Aku akan membuatkan masakan kesukaanmu. Kau pasti senang mendengarnya."


"Aku menantikannya. Oh iya, mereka berdua adalah teman sekelasku. Helen dan Milia."


Lunaris melihat ke arah keduanya seolah baru sadar akan eksistensi mereka. Tatapan Lunaris begitu tajam seperti mengamati sampai bagian terdalam mereka. Dan setelah beberapa saat, dia mengangguk beberapa kali tanpa ada yang tahu alasannya.


"Lunaris, salam kenal. Kalian pasti kesulitan menjaga pembuat ulah ini."


"Hey.."


Kenapa merusak kesan baik yang dia bangun susah payah?


"T-tentu.."


"S-salam kenal, nona Lunaris."


Kenapa mereka menjadi canggung?


Seolah tak peduli dengan situasi, Lunaris merangkul lengan Riku dan menariknya pergi.


"Sampai jumpa lagi..."


"Lunaris.. bisakah kau sabar.."


Setelah sosok Riku dan Lunaris pergi, Helen dan Mikia masih mematung di tempat dengan ekspresi begitu rumit dan tak percaya.


Bagaimana tidak, orang yang paling mereka kagumi berbicara pada keduanya.


Bagi mereka yang memiliki peringkat biasa saja, melihat sosok Lunaris adalah hal terbaik yang bisa mereka dapatkan. Berbicara atau membuat kontak langsung adalah suatu yang mustahil mereka bayangkan sebelumnya.


Tetapi yang paling mereka tak percaya adalah sosok Riku yang terlihat begitu akrab dengan sosok Lunaris. Tak hanya itu, keduanya terlihat begitu intim seperti pasangan kekasih.


"Sebenarnya siapa Riku?"


"Mungkinkah..."


Ada satu sosok yang cocok dengan Riku, tapi entah mengapa itu jauh dari apa yang mereka bayangkan.


Selain itu, sosok itu dikenal sebagai seorang jenius. Riku tak mungkin orang itu kan? Dia hanya penyihir peringkat B, bukan seorang jenius.


Sementara itu, meskipun Riku senang pulang bersama dengan Lunaris, tapi wajahnya pucat pasi.


"Riku, kau tahu ayah dikenal sebagai perayu wanita di masa sekolah. Karena itulah dia sampai memiliki 5 istri pada saat sekolah dulu. Sebagai anaknya, apa kau memiliki niat seperti itu juga?"


"....tolong ampuni aku.."


Hari berikutnya, Riku ke sekolah dengan mata berkantung. Dia menguap beberapa kali dengan wajah lelah dan mengantuk.


Tak seperti kemarin, dia datang sendiri tanpa Lunaris.


Lunaris berangkat terlebih dahulu karena ada urusan sebagai ketua OSIS. Jabatan Lunaris di Academy cukup mengejutkan Riku, tapi dia merasa wajar jika itu Lunaris.


Bagaimanapun juga, Lunaris adalah wanita yang dia banggakan.


Pada malam hari mereka membicarakan banyak hal. Tetapi pada akhirnya pembicaraan itu berakhir menjadi aktivitas malam yang membuat Riku lelah.


Dia tak menyangka Lunaris memiliki stamina yang lebih besar daripada dirinya. Ini sungguh buruk(?).


Sama seperti kemarin, entah mengapa dia menjadi sorotan banyak murid. Mungkinkah karena penampilannya yang buruk? Atau karena hal lain?


Dia tak ingin memikirkannya dan terus masuk menuju ke kelas. Dia ingin istirahat sebentar sebelum pelajaran dimulai.


Sayangnya, dia tak bisa beristirahat dengan tenang. Teman sekelasnya begitu berisik membicarakan dirinya dan penuh dengan tatapan penasaran dan amarah.


(Abaikan mereka dan tidur. Selamat malam)


Belum sempat masuk dunia mimpi, Helen datang bersama dengan Mikia.


"Um... Riku, apa itu benar?"


"Benar apanya?"


Pandangannya masih kabur. Dia bahkan tak melihat jelas Helen.


"Jangan bilang kau tak melihat berita?"


"Berita apa?"


Helen menunjukkan berita dalam handphone. Itu adalah berita tentang dirinya dengan judul 'Siapa murid baru ini? Kekasih ketua OSIS?'.


Mata Riku langsung melebar. Dia tak mengantuk lagi seolah rasa itu kabur.


Riku akhirnya mengerti kenapa dia mendapatkan pandangan tak menyenangkan saat masuk sekolah.


"Ah.. hubunganku dengan Lunaris kah..."


"..."


Tak hanya Helen, hampir seluruh teman sekelas yang mendengar pembicaraan mereka terdiam karena tak ingin melewatkan satupun.


(Lunaris, apa kau semacam idola? Setiap hal yang menyangkut tentang dirimu selalu membuat orang heboh)


Sosok Lunaris begitu spesial di mata mereka. Jadi wajar jika ingin tahu setiap hal tentang Lunaris, terutama kekasihnya.


Ini juga sekaligus mengkonfirmasi identitas Riku yang sebenarnya.


"Lunaris dan aku... adalah... "


"Lunaris dan kau...."


"Zzzztt..."


"..."


Riku tertidur.


"Bangun kau, sialan!!!"


Salah satu murid yang tak sabar menggebrak meja Riku dengan kesal.


Tentu saja itu membuat Riku bangun. Lagi.


"Ah.. maaf, sampai di mana tadi? Oh benar. Hubunganku dengan Lunaris. Sebenarnya dia adalah..."


"..."

__ADS_1


"Dia adalah..."


Semuanya menahan nafas.


"...teman masa kecil."


"...apa?"


Apa itu benar? Entah mengapa mereka masih belum percaya. Tapi mendengar itu langsung membuat suasana kelas menjadi lebih ringan.


"Jika benar, kenapa kau begitu akrab dengannya? Kemarin kalian terlihat begitu mesra."


Perkataan Mikia membuat kelas menjadi panas.


(Kau jarang bicara, tapi sekali bicara langsung melempar bom)


Riku mulai sadar betapa berbahayanya Mikia kalau berbicara.


"Lunaris sudah seperti adikku sendiri, jadi wajar kami begitu dekat. Lagipula kami sudah lama tak bertemu. Aku yakin dia terlalu antusias."


"... begitu..."


Mendengarkan penjelasan Riku, banyak yang menghela nafas karena lega, tapi banyak yang masih menatap Riku dengan tatapan permusuhan.


Benar atau tidak perkataan Riku, itu tak mengubah kenyataan Riku adalah orang spesial di mata Lunaris.


Riku sendiri tak mengatakan kebohongan, jadi dia tak merasa bersalah. Hubungannya dengan Lunaris sudah terjalin begitu lama, bahkan sejak kecil. Jadi mengatakan dia adalah teman masa kecil dan bagai adik tidaklah salah.


Dia juga tahu kalau hubungannya dengan Lunaris tak akan bisa dirahasiakan lebih lama, tapi untuk sekarang dia ingin membuat kesan baik terlebih dahulu.


Beruntung, bel masuk kelas terdengar dan pelajaran dimulai.


Bu guru Melisa datang dengan membawa semacam alat pengukur.


"Hari ini kita akan membahas pelajaran 'Pentingnya kendali sihir dalam pertarungan'. Buka buku dengan judul yang sama."


Tanpa banyak kata, para murid mengakses buku melalui layar di meja.


"Baca 30 menit dan aku akan mulai menjelaskannya."


Bagi Riku topik itu bukanlah suatu yang baru. Bahkan karena situasinya, dia banyak membaca buku tentang topik itu.


Dia sendiri juga memfokuskan pada kendali sihir daripada teknik sihir, jadi dia cukup percaya diri kalau kendali sihirnya lebih baik daripada penyihir biasa. Mungkin.


Kemudian, 30 menit berlalu.


"Waktu kalian cukup. Sekarang fokus pada papan."


Kapur bergerak sendiri dan mulai menggambar berbagai bentuk dan juga beserta penjelasannya.


"Dalam pertarungan antara dua penyihi dengan kekuatan yang sama, faktor utama yang menentukan kemenangan bukanlah sihir yang digunakan untuk menyerang atau wujud sihir yang paling unggul dan kuat, tapi sebenarnya pada kendali sihir penyihir itu sendiri."


Para murid mulai terlihat bingung. Meskipun tak ada yang bertanya, tapi itu terlihat dari ekspresi mereka.


"Pengertian umum yang berlaku di antara kalian pasti seperti ini. Penyihir dengan peringkat rendah tak akan bisa mengalahkan penyihir dengan peringkat yang lebih tinggi. Itu memang kenyataan, jadi itu tak salah. Tapi misalnya, dalam situasi kalian bertemu dengan musuh yang memiliki peringkat lebih tinggi, apa kalian langsung menyerah dan memilih mati? 'Dia memiliki peringkat tinggi. Percuma saja bertarung. Lebih baik mati'. Apakah kalian adalah tipe orang seperti itu?"


Pada murid dibuat bungkam.


"Kita hidup di dunia yang keras. Kita tak tahu kapan nasib sial akan menghampiri. Jadi apakah kita harus menyalahkan nasib pada kesialan itu? Salah. Sama seperti medan perang, dengan cara dan taktik yang tepat, pihak yang lemah bisa mengalahkan yang kuat. Meskipun tak dijamin 100 persen. Kendali sihir adalah salah satu cara dan taktik itu. Mengerti?"


Melisa tersenyum kecil. Entah mengapa senyuman itu begitu mempesona. Jauh dari kesan menyeramkan yang selalu melekat padanya.


"Kembali ke topik. Penyihir memiliki energi sihir dalam jumlah tertentu. Peringkat kalian sebagian besar didasarkan pada hal ini. Semakin besar kolam energi sihir kalian, semakin banyak pula sihir yang bisa kalian lakukan. Tak hanya itu, pertarungan juga akan bisa berlangsung lebih lama jika dibandingkan dengan penyihir dengan energi sedikit. Pertanyaannya, apakah itu benar?"


Para murid kembali dibuat bingung.


Bukankah itu suatu yang wajar. Kenapa harus bertanya lagi?


"Akan lebih mudah jika menunjukkannya secara langsung. Guy, kemari."


Banyak murid yang menatap Guy dengan tatapan kasihan.


Tampaknya dipanggil Melisa bukanlah suatu yang bagus.


Setelah itu boneka latihan muncul dari lantai. Dan di saat yang sama, Melisa memasang alat yang dia bawa.


"Guy, serang sasaran itu dengan Fire Ball. Jika bisa sampai menghancurkannya."


"B-baik.."


Riku tak mengangka Guy akan takut dengan Melisa.


Lalu sama seperti yang diperintahkan, Guy berhasil menghancurkan sasaran dengan mudah.


"Serangan tadi cukup baik, tapi jika kau seperti itu terus, kau akan mati yang terlebih dahulu dalam perang."


Guy pucat pasi bercampur bingung. Dia masih tak mengerti.


Melisa menunjukkan nomor yang diukur dengan alat tadi.


"140.. itu adalah energi sihir yang Guy gunakan untuk serangan tadi. Penyihir peringkat B memiliki energi sihir sebanyak 60.000 sampai 80.000. Artinya Guy bisa menggunakan Fire Ball sebanyak 4000 lebih. Tapi mustahil menggunakan Fire Ball terus menerus. Dan itu artinya konsumsi energi sihir kalian akan bervariasi tergantung tingkat sihir yang kalian gunakan."


Sasaran lainnya muncul. Dengan isyarat Melisa, Guy menyerang lagi dengan Fire Ball. Target hancur, tapi kali ini angka menunjukkan 167.


"Kalian bisa lihat sendiri, meskipun sihir yang sama, tapi konsumsi energi sihir berbeda. Lain cerita jika kau menggunakan sihir tingkat yang lebih tinggi, tapi kali ini kau lebih cepat mati daripada sebelumnya."


Guy tak bisa membantah.


"Kau bisa kembali."


Sasaran latihan kembali muncul. Kali ini Melisa menyerang dengan sihir Fire Ball. Angka yang muncul adalah ...30.


Para murid dibuat terkejut, tapi Melisa belum selesai. Tiga sasaran lainnya kembali muncul secara berurutan dan Melisa menghancurkannya dengan Fire Ball. Tapi angka yang muncul sama sekali tak berubah. Selalu 30.


"Ini adalah salah satu contoh pentingnya pengendalian energi sihir. Dengan energi sihir yang cukup untuk menciptakan sihir dan menyerang dengan dampak maksimal. Dalam situasi tadi, jika kita berhadapan dengan penyihir yang lebih kuat, kita pasti akan kalah dalam segi kekuatan dan daya tahan. Tapi bagaimana jika kita berhasil membuat lawan kehabisan energi sihir terlebih dahulu? Aku rasa tak perlu berpikir keras tentang jawabannya. Sampai di sini, apakah ada yang masih tak mengerti tentang pentingnya kendali sihir?"


Tak ada yang bertanya karena penjelasan Melisa cukup mudah dimengerti.


Tapi saat Melisa mulai melanjutkan pelajaran, salah satu murid mengangkat tangannya. Murid itu adalah Riku.


"Aku rasa penjelasanku tidaklah rumit. Tapi baiklah, apa yang ingin kau tanyakan?"


Jadi sejak awal kau tak memiliki niat untuk ditanyai? Sepertinya Melisa menganggap pelajarannya sangat sempurna.


"Satu hal saja, bukankah mustahil mengendalikan sihir secara sempurna di dalam pertarungan nyata? Aku rasa terlalu bergantung pada pengendalian sihir kurang tepat. Lagipula mustahil mengetahui jumlah energi sihir yang dikeluarkan musuh."


"...Kau benar. Pertarungan nyata tak membutuhkan pengendalian sihir secara sempurna, yang dibutuhkan adalah sihir yang tepat dalam waktu yang tepat. Dengan itu kita akan meraih kemenangan atau setidaknya memiliki kesempatan menang. Sama seperti yang aku bilang tadi, pengendalian sihir adalah salah satu cara untuk melawan penyihir peringkat yang lebih tinggi. Hmm.. sepertinya aku terlalu memfokuskan pada pengendalian sihir."


"..."


Semua dibuat membisu. Banyak yang tak menyangka Melisa mengakui telah membuat kesalahan.


"Ehem.. baiklah, terima kasih telah mengingatkan. Tetapi itu tak merubah kenyataan kalau pengendalian sihir itu penting. Aku akan mengetes pengendalian sihir kalian minggu depan. Bagi yang menggunakan energi sihir di atas 50 untuk menggunakan Fire Ball akan mendapatkan hukuman."


"Eeeehhhh... !!!!"


Untuk pertama kalinya seluruh kelas begitu kompak. Sekejam kejamnya Melisa, dia tak pernah memberikan tugas yang begitu berat.


"Aku senang kalian bersemangat. Kita lanjutkan topik perbedaan elemen dan hubungan serta pengaruhnya pada pengendalian sihir."


Pada hari itu, pelajaran entah mengapa lebih berat daripada biasanya.


Keesokan harinya, selama satu hari penuh pelajaran adalah duel antar kelas. Duel antar kelas biasanya akan dipilih secara acak dengan batas di atas dan bawah satu peringkat. Itu artinya lawan mereka akan berasal dari kelas A atau kelas C.


Tetapi semuanya ingin segera pulang saat melihat kenyataan yang terjadi di depan mata mereka. Lawan mereka kali ini adalah kelas S.


Dan entah mengapa Riku melihat Lunaris, Aura dan Saria berada di barisan lawan dengan penuh semangat bertempur. Dan ada sedikit hasrat membunuh.


(Aku tak ingat melakukan sesuatu yang membuat mereka marah...)


Jika dibandingkan dengan kelas B, kelas S memiliki murid yang lebih sedikit. Tapi kelas S berisi murid dengan kekuatan besar, jadi bisa dibilang kelas Riku yang dirugikan dalam duel ini.


Para peringkat tinggi juga berasal dari kelas S. Jadi bisa dibayangkan perbedaan kekuatan antara dua belah pihak.


"Bu Melisa, bolehkah aku pergi dari sini? Selamanya.."


Saat semua orang memikirkan cara untuk bertarung dengan lawan, satu orang justru merusak suasana dengan menanyakan suatu yang konyol.

__ADS_1


"Riku, jujur saja. Kelas kita berhadapan dengan kelas S adalah karena dirimu. Jadi mana mungkin aku membiarkanmu pergi? Terimalah nasibmu seperti pria sejati."


"...kau iblis."


__ADS_2