
"Sudah aku duga, kau memiliki Magic Arm yang hebat. Jika kita bisa memanfaatkan kemampuan unik itu, kita bisa melakukan banyak hal."
"Begitulah, tetapi aku memiliki kelemahan besar. Kau tau itu kan?"
Charlmilia sangat bersemangat saat mengingat kemampuan Pandora dalam latih tanding tadi. Kemampuan unik yang hanya dimiliki oleh Pandora sangat cocok dengan kemampuan elemen petirnya. Dia mulai bisa membayangkan apa yang terjadi jika mereka berdua bisa benar benar menggabungkan kekuatan.
Tetapi bukan berarti kemampuan itu tak memiliki celah. Salah satu yang paling fatal adalah kemampuan bertarung Fila yang masih dibilang amatir. Alasan inilah yang membuat Charlmilia bisa menang dengan mudah meskipun tak memanggil magic beast miliknya, Byakko.
Kemudian, setelah itu mereka melakukan beberapa latih tanding dan akhirnya mengkonfirmasi kemampuan masing masing. Hasilnya mereka menemukan banyak PR jika ingin menang dalam Battle War nanti.
"Untuk masalah itu kita bisa berlatih mulai sekarang..."
Charlmilia berdiri dan merentangkan tangannya. Dia merasa tubuhnya sedikit pegal karena terlalu banyak bergerak.
"Ini adalah langkah awal kita."
"...kau benar."
Langkah awal untuk menyelamatkan Kuro dan langkah awal mereka untuk bisa bersama dengan orang yang keduanya cintai.
Jika dipikir secara logika memang mereka seperti wanita yang tak tahu diri, tetapi Fila merasa senang melakukan semua ini.
"Baiklah, sebelum pulang. Bagaimana kalau kita makan malam bersama?"
"?"
Fila memiringkan kepalanya karena tak mengerti. Namun saat melirik jam di dinding yang menunjukan waktu sudah cukup larut malam, dia cukup terkejut.
Mungkin karena dia terlalu bersemangat, dia tak menyadari waktu telah lama berlalu saat mereka mulai latihan.
♦♦♦
Charlmilia dan Fila lalu pergi ke luar Kuryuu Academy untuk makan malam. Sebenarnya di Kuryuu Academy ada kantin untuk para murid yang tinggal di asrama, tetapi Charlmilia memilih untuk makan malam di luar.
Tentu hal ini bukan karena dia sekarang seorang tuan putri, dia tak mau makan di kantin yang bisa dibilang tak terlalu spesial dan enak, hanya saja dia tak ingin menjadi pusat perhatian saat makan.
Beberapa hari yang lalu dia makan siang di kantin, tetapi karena banyak mata yang menatapnya, dia jadi tak bisa menikmati makan siangnya.
Lalu ditambah dengan dua pengawalnya yang selalu mengeluarkan aura intimidasi, tak ada yang mau makan bersama dengannya lagi.
Tidak, yang mau mungkin hanya beberapa orang saja. Tentu mereka adalah orang yang mendapatkan perlakuan yang sama dengan dirinya, Knox dan Jinn.
Mengingat semua itu, Charlmilia senang saat Fila mau makan malam bersamanya.
Lalu bersamaan dengan malam yang mulai larut, mereka berjalan menuju tempat makan.
"Oh iya, mengenai tempat tinggalmu, ..apa kau yakin tak mau tinggal di asrama?"
Fila tinggal tak jauh dari Kuryuu Academy, karena itulah dia tak memiliki rencana untuk tinggal di asrama sekolah.
Ini suatu yang normal, tetapi bagi Charlmilia ini sedikit masalah karena dia gagal mendapatkan teman.
Meskipun secara teknis sekarang Sagita dan Gemini bersamanya, tetapi mereka tak bisa dihitung sebagai teman.
"Maafkan aku. Tetapi aku tak bisa meninggalkan ayahku. Rumah akan kacau jika aku tak berada di rumah walau hanya sehari."
"Aku mengerti. Tetapi apakah seburuk itu ayahmu?"
"..."
Untuk alasan tertentu Fila langsung terdiam. Dia tak bisa membantahnya setelah mengatakan sejauh ini, tetapi dia juga tak mau mengungkit aib ayahnya yang dulu dikenal sebagai jendral pengguna elemen besi terkuat.
"Aku tak akan menanyakan itu lagi."
"Terima kasih."
Mereka lalu mengganti topik dan mengobrol sambil menuju tempat yang mereka tuju.
Lalu, sekitar 10 menit kemudian. Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran yang bisa dibilang cukup mewah.
"Aku baru sadar. Jika melihat restoran ini, bukankah ini salah satu cabang restoran milik Kuro?"
Melihat penampilan luar yang mirip dengan restoran Himawari yang ada di ibukota, maka tak heran jika Charlmilia langsung berpikir seperti itu.
"Apa maksudmu?"
"...Bukan apa apa. Ayo kita masuk."
Charlmilia saat itu sadar. Fila memang jatuh cinta dengan Kuro, tetapi jika dibandingkan dengan dirinya. Fila hampir tak tahu apapun mengenai Kuro selain dia adalah pengguna pedang yang hebat dan pemuda tampan yang menarik hati.
(Ugh.. sepertinya aku akan menjadi pendongeng untuk sementara waktu)
Mulai sekarang mereka adalah rekan yang menggabungkan kekuatan demi tujuan yang sama. Akan gawat jika pengetahuan yang mereka miliki hanya diketahui oleh satu pihak saja.
(Aku harap tak membuat dia jatuh pingsan karena mempelajari kenyataan tentang Kuro)
Jika mengingat siapa Kuro, siapapun akan langsung kawatir. Apalagi mengingat Kuro hanyalah pemuda normal yang baru berusia 17 tahun.
(Entah mengapa berpikir Kuro seorang pemuda normal adalah sebuah kesalahan)
Tepat sekali.
Dengan pemikiran itu, Charlmilia bertekad untuk menikmati makan malam dengan tenang dan damai tanpa memikirkan suatu yang aneh.
♦♦♦
Setelah makan malam, Fila dan Charlmilia berpisah di persimpangan yang memisahkan jalan antara rumah Fila dan Kuryuu Academy. Lalu setelah Fila tak terlihat lagi, Charlmilia memberi tanda pada Gemini dengan sebuah anggukan.
Gemini langsung menghilang saat itu juga seperti sosoknya adalah sebuah kebohongan belaka.
"Apakah ini benar benar diperlukan?"
Sagita bertanya dengan penuh tanda tanya. Baginya perintah yang Charlmilia berikan pada Gemini bukanlah suatu yang diperlukan. Apalagi tindakan itu sebenarnya jauh dari tugas mereka untuk melindungi Charlmilia.
"Apa ada masalah?"
Nada Charlmilia langsung berubah total menjadi serius seolah dia berubah menjadi orang lain.
Dia tak berubah, hanya saja setelah banyak hal terjadi padanya, tak heran jika dia berubah. Berubah menjadi lebih baik.
"...tidak. Selain mengawal anda, kami juga akan selalu menuruti perintah anda, putri Charlmilia. Hanya saja saya bingung kenapa anda memerintahkan Gemini untuk mengawalnya. Menurut saya, nona Fila cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri. Apalagi mengingat kota ini cukup damai, saya rasa tindakan Anda sedikit berlebihan."
Jika dibandingkan dengan kota lain di kekaisaran, kota Asheria memang cukup damai. Kasus kejahatan cukup rendah dan monster yang berada di sekitar kota tak terlalu menjadi ancaman.
Bisa dibilang ini adalah kota yang nyaman untuk ditinggali. Namun karena tak memiliki keistimewaan, kota Areshia tak terlalu populer.
"Aku paham maksudmu, Sagita. Aku melakukan ini juga hanya karena kepuasan diriku saja. Selain itu, entah mengapa aku merasakan suatu yang tak enak."
"Mungkinkah merasakan sebuah pertanda sesuatu akan terjadi?"
Charlmilia menggelengkan kepalanya.
Sejak menjadi Queen, kelima indera yang dia miliki menjadi lebih tajam dan sensitif. Tetapi mungkin karena Quuen sejatinya adalah orang yang dipilih oleh dewa, maka dia seperti membangkitkan indera keenam. Tentu saja ini bukan berarti Charlmilia bisa melihat masa depan atau mendapatkan penglihatan, hanya saja perasaannya lebih kuat dari biasanya.
__ADS_1
"...Entahlah. Tetapi Electra tak mungkin menyuruhku untuk menjadikan Fila sebagai pasangan pasti bukan hanya karena dia cocok dengan pengguna elemen petir sepertiku. Apalagi mengingat kejadian 10 ta- lupakan. Kita kembali ke asrama dan istirahat."
Charlmilia menghentikan perkataannya saat mengingat suatu kejadian yang buruk, tidak, lebih tepat jika disebut sebagai tragedi yang sebaiknya tak diingat lagi.
Tetapi meskipun begitu, Charlmilia tak bisa menghilangkan perasaan buruknya. Dia hanya bisa berharap kalau ini bukanlah tanda dari suatu yang buruk akan terjadi.
"!?"
Sayangnya, sebelum dia ingin melupakan itu, sebuah tekanan mana besar bagaikan gelombang pasang laut menghantam dirinya.
Tekanan mana itu begitu berbeda dari tekanan mana yang selama ini pernah dia rasakan. Selain kuat, juga tak stabil. Meskipun begitu, tekanan mana itu sama sekali tak menunjukan rasa permusuhan. Justru perasaan hangat dia rasakan di seluruh tubuhnya.
"Putri Charlmilia, apakah ada sesuatu? Anda terlihat terkejut."
"Sagita, apa kau tak merasakan itu tadi?"
Sagita memiringkan kepalanya penuh dengan tanda tanya. Dia seolah mengatakan tak ada yang aneh terjadi.
Jika mengingat siapa Sagita, maka hal seperti tadi seharusnya tak dilewatkan oleh Sagita. Dengan kata lain ada hal lain yang membuat sesuatu itu hanya dirasakan oleh Charlmilia sendiri.
Karena itulah-
"Kalau begitu tak apa apa. Mungkin itu hanya perasaanku saja yang terlalu kawatir."
Dengan rasa penasaran, Charlmilia bertanya tanya apa yang baru saja dia rasakan. Tetapi dia lebih penasaran dari mana asal tekanan mana yang dia rasakan tadi.
Entah mengapa saat memikirkan itu, wajah Kuro langsung terlintas di kepalanya.
Apakah Kuro ada hubungannya?
Malam itu, Charlmilia tidur tanpa tahu jawaban pertanyaan itu.
-Keesokan harinya, Charlmilia tiba di kelas seperti biasa dengan dikawal oleh Sagita dan Gemini.
Gemini kembali setelah memastikan Fila aman sampai di rumah, setelah itu dia kembali ke asrama dan melanjutkan mengawal Charlmilia.
Charlmilia sempat kawatir apakah tak apa apa keduanya mengawalnya setiap malam, tetapi keduanya mengatakan kalau mereka melakukannya dengan cara bergantian. Dengan kata lain tak perlu kawatir dengan kurang tidur. Apalagi keduanya adalah pasukan elit, jadi kurang tidur bukan masalah besar.
"Selamat pagi, putri Charlmilia."
"Selamat pagi.."
Setelah menyapa teman sekelasnya, Charlmilia duduk di bangkunya dengan anggun seperti layaknya seorang putri.
Hari ini dia merasa cukup senang karena akhirnya ada yang menyapa dirinya setelah sekian lama dikucilkan. Mungkin ini semacam pengaruh baik dari dia berpasangan dengan Fila.
Ya. Ini adalah awal baru yang lebih baik.
Tak berapa lama kemudian Fila datang dan dia langsung duduk di sampingnya setelah menyapa beberapa murid. Jika dibandingkan dengan saat Charlmilia saling menyapa dengan murid lain, sebaiknya jangan dibahas. Kepopuleran Fila cukup besar meskipun dia baru dua hari bersekolah.
Sambil menunggu jam pelajaran dimulai, keduanya berdiskusi mengenai pelajaran yang mereka pelajari sejauh ini. Fila harus banyak belajar karena dia tertinggal jauh, tetapi karena dia cerdas, tak butuh waktu lama dia menyusulnya.
Kemudian, setelah bel berbunyi. Otome memasuki kelas dengan membawa beberapa buku seperti biasa.
Di saat itulah barulah Laila datang ke ruang kelas dengan terlihat seperti habis berlari.
"Laila, aku tahu kau seorang ibu sekarang. Tetapi kau juga harus ingat kalau kau tak boleh terlambat. Oh iya, kenapa kau sendirian?"
Pemandangan Laila datang seperti habis berlari cukup mengejutkan, tetapi yang lebih mengejutkan adalah tak terlihatnya sosok Kuro dimanapun.
"Ah.. mengenai Kuro. Dia sedang ada urusan. Tenang saja, dia akan kembali sebelum Tribal diadakan."
Laila dengan santainya menjawab seolah itu suatu yang wajar.
Memang bagi orang yang mengenal Kuro, kepergiannya yang mendadak dan dalam jangka waktu lama cukup hal yang biasa. Tetapi bisa dibilang saat ini bukanlah saat yang tepat untuk melakukannya.
Otome bertanya penuh dengan nada intimidasi dan tak senang karena merasa diremehkan. Sayangnya bagi Laila yang pernah merasakan intimidasi penyihir terkuat, intimidasi Otome bagaikan angin lalu.
"Semacam itulah. Selain itu aku berpikir kalau Kuro sebenarnya tak butuh sekolah lagi. Meskipun bukan penyihir, namun pengetahuan yang dia miliki tentang sihir lebih luas daripada yang aku duga."
"..."
"Guru Otome, maaf karena tak memberitahu sebelumnya. Tetapi ini menyangkut anak kami, jadi kami lebih memprioritaskan masalah ini daripada masalah apapun."
"Umm.. baiklah kalau begitu. Kau boleh langsung ke tempat dudukmu. Pelajaran akan segera dimulai."
Otome menyerah untuk memperingatkan Laila. Mungkin ini tidak baik mengingat seorang murid yang membuat kesalahan haruslah diperingatkan dan dihukum, tetapi Otome tak bisa melakukannya. Dari perkataan Laila tadi sudah jelas kalau sekolah bagi keduanya sudah tak penting lagi. Jika mereka merasa tak perlu bersekolah, mereka akan tanpa ragu keluar. Satu satunya yang mengikat mereka pada sekolah adalah Battle War yang akan diadakan tak lama lagi.
Selain alasan itu, Otome sudah mendapatkan peringatan dari Electra agar tak memancing mereka berdua. Itu karena jika mau, keduanya bisa menghancurkan Kuryuu Academy (meskipun itu suatu yang sulit dibayangkan), tetapi setidaknya itu memberikan gambaran untuk tak membuat masalah dengan keduanya.
Dengan perasaan Kuro dan Laila sudah menguasai sekolah, Otome memulai pelajarannya.
"Hari ini kita akan membahas benda sihir atau bisa juga disebut alat sihir. Seperti yang kalian tahu, alat sihir merupakan alat yang menggunakan energi sihir (mana) sebagai sumber energi dan mengaktifkan fungsi yang sudah diprogramkan. Saat ini perkembangan alat sihir sangat maju, dan bahkan sudah menggabungkan ilmu pengetahuan modern. Alasan inilah yang membuat orang biasa juga bisa menggunakan alat sihir tanpa membutuhkan usaha besar. Penjelasan lebih lanjut silahkan baca sendiri di buku kalian. Aku akan memberikan waktu selama setengah jam."
Para murid menurutinya dengan wajah bosan dan merasa melakukan hal merepotkan. Di wajah mereka bahkan tertulis 'Kenapa harus mempelajari ini?' mengingat alat sihir sebenarnya bukanlah suatu yang spesial.
Sementara mereka membaca, Otome menulis beberapa keterangan di papan tulis dan beberapa lingkaran sihir yang cukup rumit.
Kemudian,
"Dalam buku kalian disebutkan alat sihir awalnya dibuat bukan hanya untuk mempermudah kehidupan, tetapi lebih digunakan sebagai senjata dalam perang. Sayangnya, jika dibandingkan dengan Magic Arm atau Magic Beast yang bisa diciptakan oleh setiap penyihir, alat sihir bisa dibilang kalah kekuatan. Sampai sekarang hal ini tak berubah dan hal inilah yang membuat senjata sihir jarang digunakan oleh penyihir."
Selain kurang praktis, senjata sihir juga tak bisa begitu saja disembunyikan dari mata orang lain. Jika ada orang yang membawa senjata sihir, orang itu akan langsung menarik perhatian.
Tetapi dalam beberapa pekerjaan seperti petualang, kebanyakan dari mereka masih banyak menggunakan alat sihir karena pekerjaan mereka cukup berbahaya. Sayangnya, alat sihir tidaklah murah. Hal ini menjadi alasan lain kenapa alat sihir tak terlalu populer.
"Lalu meskipun sekarang sudah mulai menggunakan teknik ilmu pengetahuan dan energi alternatif, tetapi keberadaan alat sihir tak bisa ditinggalkan begitu saja. Ditambah dengan dengan aturan ketat dari kekaisaran, maka senjata sihir yang memiliki kemampuan berbahaya dilarang keberadaanya atau dilarang dibuat. Orang yang melanggar akan dihukum sesuai aturan. Kemudian..."
Otome lalu membalik halaman buku di depannya. Lalu dengan senyuman dia melanjutkan dengan bantuan lingkaran sihir yang dia gambar sebelumnya.
"Di papan tulis merupakan contoh formula sederhana dari sebuah alat sihir yang berguna untuk menghasilkan panas dan satunya lagi adalah menghasilkan udara dingin. Kedua formula ini ada dalam setiap rumah negeri ini. Tentu saja ini masih beberapa bahan untuk membuatnya menjadi alat sihir, tetapi aku ingin kalian fokus dengan formula karena tanpa ini, alat sihir hanya akan menjadi benda rongsokan belaka."
Penjelasan Otome cukup keras, tetapi mudah dimengerti.
Setiap alat sihir selain harus terbuat dari bahan tertentu, dalam hal ini yang paling umum adalah magilium, hal yang paling penting lainnya adalah program atau formula sihir. Bisa dibilang ini adalah semacam otak dari alat sihir. Lalu dengan energi sihir, formula sihir aktif dan akhirnya melaksanakan fungsinya.
Sekarang alat sihir dibedakan menjadi dua. Umum dan khusus.
Alat sihir umum merupakan alat sihir yang dibuat secara massal demi kebutuhan masyarakat. Untuk energi bisa menggunakan batu sihir atau kristal sihir karena orang biasa tak memiliki mana.
Sedangkan alat sihir khusus lebih umum digunakan oleh penyihir yang diaktifkan dengan menggunakan mana milik mereka sendiri sebagai sumber energi.
Saat sedang menjelaskan itu, salah satu murid mengangkat tangannya.
"Bu guru, kau bilang itu adalah formula sederhana, tetapi aku tak melihatnya seperti itu."
Otome tersenyum seolah sudah menduganya.
"Di mata kalian memang terlihat rumit, memang begitulah kenyataannya. Formula sihir sangatlah susah dibuat. Untuk membuat hal sederhana ini dibutuhkan waktu sekitar 6 bulan dengan berbagai macam kegagalan."
Keheningan lalu terjadi di kelas. Ini suatu yang normal mengingat pelajaran mereka cukup rumit dan sulit.
"Tetapi jangan kawatir. Saat ini formula sihir cukup mudah dibuat dengan belajar dari orang yang sudah menguasainya. Dalam hal ini kalian bisa bertanya pada orang yang bisa membuat alat sih-"
__ADS_1
"Kenapa kami harus mempelajari hal ini? Aku merasa hal ini tak diperlukan. Kita sebagai penyihir bisa melakukan apapun dengan magic arm dan magic beast selama kita tak kehabisan energi sihir. Aku juga mengerti tentang alat sihir, tetapi kita bisa menggunakan alat lain, benarkan?"
Seorang murid memotong Otome. Dia adalah Knox.
Meskipun tak sopan, namun Otome tak marah dan langsung menjawab.
"Sudah aku jelaskan kalau alat sihir tak bisa ditinggalkan begitu saja. Karena itulah alat sihir saat ini terus dikembangkan. Jika bertanya kenapa? Kau sepertinya tak bisa menggunakan otakmu dengan benar, Knox." Tanpa peduli dengan ekspresi Knox yang menahan amarah, Otome melanjutkan. "Memang dengan ilmu pengetahuan kita bisa melakukan banyak hal tanpa bergantung pada sihir, tetapi ilmu pengetahuan kadang tak bisa melakukan hal yang dilakukan oleh sihir. Ada banyak sekali contohnya, jadi aku tak perlu menyebutkannya."
Contoh yang sangat mudah adalah sihir penyembuh. Dengan bantuan obat luka bisa sembuh, tetapi butuh waktu. Sedangkan dengan sihir, luka bisa langsung dengan cepat.
Sayangnya tak semua orang atau penyihir bisa menggunakan sihir penyembuh. Karena itulah obat yang memiliki fungsi penyembuh diperlukan dan dibutuhkan.
Ini adalah hal sederhana yang terjadi di kehidupan sehari hari, tetapi tak banyak yang memikirkannya.
"Dari pelajaran ini aku ingin memberitahukan kalau dunia saat ini menggabungkan ilmu pengetahuan dan sihir. Dua hal ini saling bekerja sama dan membentuk masyarakat saat ini. Kita tak bisa lepas dari keduanya. Lalu mengenai alat sihir, aku ingin kalian mempelajarinya karena suatu saat pasti akan membutuhkan pengetahuan ini. Kita sebagai penyihir memang seorang yang dilahirkan sebagai petarung, tetapi kita juga seorang manusia. Knox, jika kau ingin bertanya hal yang lebih berguna, gunakan otakmu terlebih dahulu."
Otome masih tersenyum, tetapi matanya tidak. Dia memancarkan aura dingin yang membuat dia menyeramkan. Kini mereka sadar telah membuat Otome marah.
"Di buku kalian sudah terdapat contoh formula sihir. Kalian tiru formula sihir itu di selembar kertas, lalu untuk selanjutnya akan aku jelaskan setelah kalian selesai."
Murid murid melakukan apa yang diperintah tanpa ada suara. Mereka sudah mengerti untuk tak membuat Otome marah.
Formula sihir yang ada di buku terdapat 12 macam dengan kerumitan yang tak kalah jauh dari apa yang dibuat Otome. Mereka diperbolehkan memilih salah satu.
Para murid kesulitan dan sering salah saat membuat formula sihir. Tetapi mereka tak menyerah.
Lalu setelah dua jam.
"Apa masih ada yang gagal?"
Tak ada yang menjawab. Dengan kata lain semuanya sukses.
"Baiklah, selanjutnya salurkan mana kalian pada formula sihir yang kalian buat. Tolong jangan terlalu banyak karena akan berbahaya."
Setelah melakukan apa yang diperintahkan Otome, masing masing meja langsung dipenuhi cahaya warna warni dari formula sihir yang aktif. Lalu setelah beberapa saat, perubahan terjadi pada kertas masing masing.
Ada yang hancur menjadi debu, terbakar, membeku, dan tiba tiba saja sobek. Ada juga yang menjadi keras seperti besi.
Para murid yang awalnya tak tertarik mulai menunjukan semangatnya.
"Apa kalian sekarang mengerti pentingnya formula sihir?"
"Jangan bilang kalau..."
Knox yang semula tak senang kini terlihat memikirkan sesuatu dengan sangat serius. Kertas yang dia gambar terbakar menjadi debu. Memang itu suatu yang biasa, tetapi di saat yang sama juga luar biasa.
"Formula sihir yang kalian buat terdiri dari dua macam formula. Yang pertama Mana Converter dan yang kedua adalah fenomena yang terjadi pada kertas kalian."
Otome lalu menggambar lagi di papan tulis. Itu adalah dua formula sihir yang lebih sederhana dengan ukuran yang berbeda.
"Apa kalian menyadarinya?"
Setelah berpikir, salah satu murid menjawab.
"Itu adalah dua jenis formula sihir yang bu guru sebutkan tadi, benarkan?"
"Tepat sekali." Dengan senyuman lebar Otome menjawab. "Membuat satu formula sihir sangatlah mudah dan sederhana, tetapi menggabungkannya adalah hal yang paling sulit. Dibutuhkan cara dan susunan yang tepat agar keduanya bisa berfungsi dengan baik. Formula tingkat tinggi biasanya menggabungkan lebih dari 3-5 formula sihir. Inilah alasan kenapa aku menyebutnya formula sederhana."
Murid murid terdiam. Kali ini karena mereka kagum bukan karena takut.
"Tetapi kalian sudah mengerti? Jika kalian bisa menguasai teknik menggabungkan formula sihir, kalian bisa melakukan hal yang tak mungkin dilakukan penyihir biasa."
Di saat semuanya membayangkan apa yang bisa mereka lakukan di masa depan, salah satu murid mengangkat tangannya. Itu adalah Laila.
"Laila, apa kau ingin menyampaikan sesuatu?"
"Begitulah. Dengan pelajaran ini bu guru ingin menyampaikan kalau dengan formula sihir yang tepat, kita bisa menutupi kelemahan kita sebagai penyihir yang hanya bisa menggunakan satu elemen saja, benarkan?"
"Begitulah.."
"Tetapi sejauh ini masih ada yang belum mampu melakukan hal itu karena formula sihir yang bisa mengubah mana menjadi elemen lain belum ditemukan, aku salah?"
Otome tak menjawab. Apa yang dikatakan Laila adalah sebuah kenyataan.
Jika formula sihir seperti itu sudah ditemukan sejak lama, saat ini dunia pasti sudah kacau dan alat sihir dengan formula seperti itu pasti sudah tersebar luas.
Tetapi Otome menggelengkan kepalanya membantah itu.
"Tidak. Formula itu sudah ditemukan."
"Eh?"
"Hanya saja saat ini formula itu terlalu lemah. Jika tidak, bagaimana kalian bisa melakukan hal tadi?"
"..."
Mana Converter. Itulah yang dimaksud Otome. Jika tidak, bagaimana bisa Knox membuat kertas terbakar dengan formula sihir? Itu hanyalah salah satu bukti kalau formula itu sudah ditemukan.
"Bu Guru..."
"Ya?"
Laila dan Otome menatap satu sama lain. Keduanya menunjukan aura dingin seolah saling bermusuhan.
Para murid yang lain tak bisa berbuat apapun karena aura mereka terlalu kuat.
"Kalau boleh tahu, siapa yang berha-"
Saat akan bertanya, bel tanda jam istirahat berbunyi. Dan itu mengakhiri pelajaran mereka.
"Kalian bisa istirahat. Mengenai formula sihir akan dilanjutkan besok dengan praktek menggunakan alat yang lebih lengkap di laboratorium."
Para murid meninggalkan kelas dengan semangat karena pelajaran mereka tadi. Tetapi ada dua orang yang masih menetap.
Itu adalah Laila dan Otome.
"Bu guru..."
"Laila, ini bukan yang tepat untuk bicara. Kau bisa datang nanti setelah pulang sekolah."
".....baiklah."
Laila akhirnya keluar kelas dengan wajah tak terlalu senang.
Setelah tak ada seorangpun, Otome mendesah dalam karena akhirnya bisa lepas dari tekanan Laila yang begitu kuat.
(Dia terlalu cepat tumbuh..)
Dalam ingatannya masih teringat jelas kalau Laila sangat berbeda saat baru pertama kali masuk sekolah. Memang seiring dengan waktu seseorang akan menjadi dewasa. Itu suatu yang normal.
Tetapi dia tak bisa menggunakan kata itu untuk Kuro dan Laila.
"Aku tak tahu apa yang terjadi, tetapi sebaiknya aku menyiapkan mental untuk suatu yang terburuk."
__ADS_1
Dengan pemikiran itu dia akhirnya keluar dari kelas menuju ke ruangan guru.
Lalu setelah pulang sekolah, dugaannya tepat karena dia menghadapi masalah yang sangat serius.