
"Shapira, Laser Breath!"
Roaaarrrrr...
Cahaya dari energi sihir berkumpul di mulut Shapira. Kemudian bersamaan dengan raungan keras, cahaya ditembakkan ke arah 4 Necrodra yang datang.
4 Necrodra itu menerima serangan langsung Laser Breath. Tubuh hitam mereka berubah kemerahan dan menghilang menjadi debu. Tapi tak hanya 4 Necrodra yang hangus menjadi debu, bangunan yang berada di jalur laser breath juga terkena dampaknya dan hancur sejauh 100 meter lebih.
Sekilas terlihat itu adalah serangan paling mematikan dari Dragon King, tapi kenyataannya itu hanyalah sebagian kecil dari kekuatan aslinya.
Di dunia para naga, Dragon King adalah puncak dari ras yang dikenal sebagai terkuat di dunia. Tetapi bukan berarti dengan kekuatan besar itu mereka bisa menggunakannya sesuka hati.
Ada batasan dalam kekuatan yang bisa digunakan. Satu satunya melepas kekuatan yang tersembunyi mereka hanya dengan Queen yang mereka kontrak menjadi lebih kuat.
Sebagai Queen, Diana sudah membuat kontrak dengan Shapira lebih dari 6 tahun, tapi dia masih belum sanggup mengeluarkan kekuatan sejati dari Shapira.
Jika dia bisa melakukannya, pertarungan di Drageas akan lebih mudah. Inilah yang membuat dia marah pada dirinya sendiri karena terlalu lemah.
"Tch.."
Tapi ini bukan saatnya memikirkan hal itu. Dia harus melakukan apa yang dia bisa.
Diana melirik ke sekitarnya. 15 ekor Necrodra kini mengelilinginya dengan tujuan mengepung.
Keempat Dragon Rider dan naga mereka tunggangi mengalami luka berat dan terbakar. Diana tahu prajuritnya sudah hampir mencapai batas.
"Shapira. Tak ada pilihan lain. Kita gunakan itu."
Gooaaar...
Setelah mengkonfirmasi Shapira setuju, Diana berdiri di atas Shapira dan melompat tinggi menggunakan tubuh Shapira sebagai pijakan.
Di udara tubuh Diana memancarkan aura biru yang kuat dan menyinari hampir dalam radius 20 meter. Tapi tak hanya Diana, Shapira juga memancarkan aura yang sama.
"Itu kan..."
"Mungkinkah Putri Diana akan menggunakan itu?"
"Dengan ini, kemenangan berada di tangan kita!'
Anak buah Diana menunjukkan wajah senang. Mereka paham betul apa yang dilakukan Diana dan Shapira.
"Synchronization complete. Dragon Gear, Activated!"
Setelah mengucapkan itu, aura biru di seluruh tubuh Diana bertranformasi menjadi armor naga yang menutupi seluruh tubuhnya. Armor itu berwarna biru kehijauan seperti warna sisik Shapira. Kini tubuh Diana seperti naga berwujud manusia.
Tak hanya Diana, perubahan juga terjadi pada Gungnir. Ukurannya bertambah besar dengan pola sisik naga.
""""Oohh!!""""
Anak buah Diana bersorak saat melihat Diana berhasil menggunakan Dragon Gear.
Salah satu kemampuan lain dari Dragon King Class, mereka bisa meminjamkan sebagian kekuatan dengan membentuk armor dari sihir. Dragon Gear sendiri memiliki berbagai tipe dan peringkat tergantung kemampuan Queen itu mewujudkannya seperti saat mewujudkan sihir.
Dragon Gear yang saat ini Diana gunakan merupakan yang paling lemah di antara semua Dragon Gear, meskipun begitu, itu membuat kekuatan dan pertahanan Diana meningkat 10 kali lipat.
Roooarrr...
Tentu para Necrodra tak membiarkan Diana begitu saja, Dragon Breath berwarna hitam menyerang Diana dari 3 arah yang berbeda.
Serangan telak diterima oleh Diana. Dragon Breath gabungan itu begitu kuat hingga menghancurkan apapun yang menyentuhnya.
"Putri Diana!!"
Para Dragon Rider hanya bisa melihat. Mustahil Diana sama sekali tak terluka dengan serangan seperti itu.
Tapi keajaiban terjadi.
"Sacred Dragon Art!"
Disaat sedang bersedih dan putus asa, suara Diana terdengar di telinga anak buahnya.
Disaat yang sama, sosok Diana terlihat di dalam sebuah bola biru sedang bersiap melempar Gungnir ke atas.
"Dragon God Spear!!"
Dengan sekuat tenaga Diana melempar Gungnir ke atas langit. Setelah beberapa saat, Gungnir berhenti di udara dan jumlahnya berubah menjadi ribuan.
Gungnir itu kemudian jatuh dan terbang menuju 15 Necrodra yang masih hidup.
10 Necrodra langsung tewas karena tubuh mereka terpanggang api biru yang muncul di Gungnir. 5 Necrodra lainnya berusaha kabur, tapi mereka bernasib sama.
Dalam sekejap 15 Necrodra telah berhasil dimusnahkan.
Setelah melihat musuh telah berhasil dimusnahkan, Diana turun.
Dia tersungkur ke tanah dan terengah engah.
(Aku tak menyangka menggunakan Dragon Gear membutuhkan energi sebesar ini, ya ampun bagaimana kau dapat bertahan menggunakan Dragon Gear selama lebih dari 72 jam, tuan Kuro)
"Ha .... Ha... ha...."
Ini adalah pertama kalinya Diana berhasil menggunakan Dragon Gear, jadi dia tak tahu bahwa energi yang terkuras hampir sama saat menggunakan Sacred Magic Art. Tidak. Bahkan lebih besar.
Diana menyadarinya setelah tubuhnya kini hampir tak bisa digerakkan.
"Putri Diana, anda baik baik saja?"
"Putri Diana."
Rooaaar...
Anak buahnya datang mendekat bersama naga mereka. Shapira juga datang untuk memeriksa keadaan Diana.
"Aku tak apa apa. Aku hanya terlalu lelah saja."
"Syukurlah kalau begitu."
"Tapi, Dragon Gear benar benar luar biasa. Dengan sekali serang dapat mengalahkan 15 musuh. " Ucap anak buahnya yang lain.
"Yahh... meskipun tak sekuat saat tuan Kuro yang memakainya, ta-Awww! Apa yang kau lakukan!"
Prajurit itu kesakitan saat Shapira memukulnya dengan ekornya. Tentu saja itu serangan yang tak berbahaya.
"Kau ini bodoh. Meskipun tak sekuat tuan Kuro, namun ini kemajuan pesat putri Diana, jadi wajar Shapira marah."
"Maafkan kelancangan saya putri Diana."
Anak buah Diana menunduk tanda menyesali perkataannya.
Melihat itu, Diana hanya tersenyum kecil dan bangkit. Lalu Gungnir kembali muncul di tangan Diana.
"Sudahlah. Yang terpenting semuanya selamat. Lalu bagaimana kabar musuh yang lain?"
Mendengar pertanyaan itu, anak buah Diana langsung menggunakan sihir tipe komunikasi untuk menghubungi rekannya di tempat lain.
Setelah beberapa saat, anak buah Diana tersenyum senang.
"Putri Diana, semua musuh yang tersisa berhasil dimusnahkan!"
Semua bersorak senang mendengar kabar mengembirakan itu. Hal ini membuat Diana tersenyum karena sekarang dia bisa bernafas lega.
Sayangnya baru saja mereka bisa beristirahat dengan tenang, Shapira tiba tiba terdiam dengan tatapan tajam ke arah bukit Dragon Grave yang terletak cukup jauh dari ibukota.
"Shapira, ada apa?"
Diana bertanya karena menyadari tingkah aneh Shapira.
Shapira terdiam dan menatap ke arah Diana. Diana mengerti maksud Shapira lalu memejamkan matanya.
Setelah beberapa saat, mata Diana terbuka lebar dan berkeringat dingin.
"Putri Diana?"
"Dengar, tak ada waktu lagi. Cepat beritahukan kepada Dragon Knight yang masih bisa bertarung untuk segera berkumpul disini."
"Putri Diana, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Sudahlah, cepat lakukan perintahku!!"
"Ba-baiklah!"
Anak buah Diana langsung menghubungi rekan mereka yang tersebar di berbagai kota. Mereka tahu betul bahwa Diana panik bukan tanpa alasan yang jelas. Justru ini adalah pertanda buruk bagi mereka semua.
30 menit kemudian, 25 Dragon Knight sudah berkumpul. Mereka semua terdiri dari berbagai jenis naga dan semuanya mengalami luka yang cukup serius.
Melihat kondisi mereka, bertarung bukanlah sebuah tindakan yang bijaksana, tapi Diana tak memiliki pilihan lain.
Diana menunggangi Shapira berada di depan mereka semua.
"Semuanya dengar, saat ini ada sekitar 50 Necrodra jenis Holy Demonic Class sedang terbang menuju ke tempat ini!"
Anak buah Diana saling menatap satu sama lain dan mulai ribut. Itu wajar karena mereka sudah berhadapan dengan 50 Necrodra hari ini.
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan saat ini. Ini adalah serangan yang sama seperti 6 bulan lalu. Musuh menyerang dengan 100 Necrodra. Berkat tuan Kuro kita berhasil menang waktu itu, tapi kali ini kita harus bertarung dengan kekuatan kita sendiri."
"............."
"Aku tahu kalian berpikir bahwa kemungkinan kita menang sangatlah kecil. Mungkin kita akan mati, tapi ada satu hal yang harus kalian tahu, nasib seluruh negeri ini bergantung kepada pertarungan ini, jika kita gagal, tak ada tempat lagi bagi keluarga kita untuk tinggal. Apa kalian mau hal itu terjadi?"
".............."
Meskipun terdiam, namun tatapan mereka sudah berubah.
"Dalam situasi seberat apapun, akan selalu ada harapan, tapi jangan pernah berharap keajaiban akan datang. Keajaiban hanya muncul jika kita membuat keajaiban dengan tangan kita sendiri. Ini adalah kata dari tuan Kuro dan aku terus mempercayai kata kata ini. Sekarang kalian tahu apa yang harus kita lakukan kan?"
""""OOOOOOOOHHHHHH!!""""
Semua anak buah Diana bersorak dan mengangkat ke atas senjata milik mereka.
"Hancurkan mereka semua!!"
""""HANCURKAN!!!!""""
Setelah itu 23 naga terbang untuk menghadang 50 Necrodra yang datang. 3 naga yang lain berlari di tanah karena tak bisa terbang.
Setelah beberapa menit terbang, Diana mulai melihat 50 naga hitam terbang menuju ke arah mereka. Pemandangan ini membuatnya pucat.
"Semuanya, jangan takut. Serang mereka dengan Dragon Breath! Aku dan Shapira akan menggunakan Laser breath!"
Semua naga anak buah Diana langsung bersiap menggunakan Dragon Breath. Cahaya merah, biru, kuning, hijau muncul di tenggorokan mereka. Hal yang sama juga dilakukan Shapira.
"Semuanya serang bersamaan!"
50 Necrodra sudah berada dalam jangkauan Dragon Breath. Melihat itu Diana dengan cepat memerintahkan pasukannya untuk segera menyerang.
"SERAAAANGGG!!!!!"
Anak buah Diana langsung menyerang musuh dengan Dragon Breath yang digabungkan dengan sihir masing masing. Hal ini membuat serangan Dragon Breath lebih kuat, tapi-
Musuh mereka tak tinggal diam dan membalas dengan mengeluarkan Laser Breath hitam yang memiliki kekuatan lebih besar daripada Dragon Breath normal. Tak hanya itu jumlah Laser Breath juga dua kali lebih banyak.
Ledakan besar terjadi saat Laser Breath dan Dragon Breath beradu.
"Semuanya serang sekali lagi!!"
__ADS_1
Sayangnya, mereka kalah jumlah dan kekuatan. Lebih dari 30 Laser Breath kini mengarah tepat ke pasukan Diana.
Diana tahu bisa bertahan karena menggunakan Dragon Gear, tapi pasukannya tidak. Dia akan kehilangan anak buahnya dan kalah dalam pertarungan ini.
"Tuan Kuro, maafkan aku!!"
Sambil meneneteskan air mata, Diana melihat langsung Laser Breath yang datang mengarah ke dirinya dan pasukannya.
Boooooommmmmmmmmmm!!!
Ledakan besar terjadi, tapi-
"Eh? Apa yang terjadi?"
Diana terkejut saat menyadari dia dan anak buahnya baik baik saja dan selamat, tapi bagaimana bisa?
Kaboooommmm!!
Ledakan terjadi lagi. Kali ini sebuah cahaya merah datang dan menyerang musuh. Cahaya itu adalah Laser Breath, tapi bukan Laser Breath normal.
Laser Breath itu mampu menghancurkan 10 musuh dalam sekali serang. Diana tahu satu satunya naga yang mempunyai kekuatan sedahsyat itu.
Rooooooaaaaaaaaaaaaarr.
Raungan terdengar keras dari naga sebesar 25 meter berwarna merah darah yang terbang dan menyerang kawanan kelompok Necrodra.
"Ruby!"
Diana menyebut nama naga yang disebut sebagai naga terkuat dari jenis Dragon King Class.
"Jika Ruby ada disini, mungkinkah tuan Kuro juga-"
Tapi setelah melihat punggung Ruby, dia tak melihat siapapun yang menunggangi.
Roaar..
Shapira meraung kecil memberitahukan Diana.
"Begitu rupanya, Ruby datang untuk membantu kita."
(Ya ampun, dia selalu datang di saat yang tepat.)
Diana tersenyum kecil. Setelah itu dia mengangkat tombaknya ke atas.
"Semuanya, Ruby datang untuk membantu kita. Kita tidak boleh menyia nyiakan kesempatan ini. Semuanya serang!!"
""""Ooooooohhhhhh!!!""""""
Harapan dan keajaiban telah muncul untuk membantu mereka menghadapi musuh.
Dengan sebuah raungan, mereka semua terbang dan menghabisi musuh yang tersisa.
__--\=\=
".......Ro.. Kuro... Kuro.. Kau.. sudah sadar?"
".............Lai... la?"
Perlahan Kuro membuka matanya. Kepalanya masih terasa pusing dan pandanganya masih terasa kabur. Dia juga merasakan tubuhnya lemas. Tapi dia juga merasakan sesuatu yang lembut dan hangat di bawah kepalanya.
Dia saat ini sedang tertidur di pangkuan Laila. Lebih tepatnya tertidur di kursi panjang yang berada di bawah pohon.
"Kenapa aku bisa ada disini?"
"Kau tiba tiba pingsan. Ya ampun, apa yang sebenarnya terjadi?"
Laila terlihat cemas dan kawatir. Hal itu terlihat dari tatapan matanya.
Tapi Kuro hanya tersenyum kecil dan menutup matanya sesaat.
"Aku hanya kelelahan. Absolute Blade Control membutuhkan energi dan banyak konsentrasi. Itu saja. Maaf membuatmu kawatir."
Untuk sesaat Laila terdiam. Dia terlihat marah, tapi dia tiba tiba menunjukkan ekspresi terkejut.
"Abssolute Magic Control bukankah salah satu kemampuan Paladin, kenapa kau-"
"Absolute Blade Control, bukan Absolute Magic Control. Apa kau pikir orang semacam aku bisa menggunakan sihir?"
"............."
Laila terdiam. Namun dia mengerti maksud Kuro. Absolute Magic Control adalah kemampuan yang membuat seorang Paladin begitu mengerikan. Mereka bisa mampu meminimalkan mana mereka sehingga menjadi nol sehingga tak bisa dibedakan dari orang normal.
Lalu mereka juga bisa meningkatkan mana mereka dalam sekejap. Untuk Electra, mengubah dirinya menjadi petir(kilat) adalah salah satu teknik dari menguasai Absolute Magic Control.
Kuro bukan penyihir, maka dia menguasai teknik yang berbeda dengan penyihir, yaitu Absolute Blade Control.
Absolute Blade Art. Tekhnik itulah yang digunakan Kuro untuk membuat patung, tapi-
(Bukankah seharusnya tekhnik itu butuh waktu bertahun tahun untuk menguasainya?)
Laila tahu karena dia banyak belajar. Tak hanya tentang sihir, tapi juga teknik pedang. Dia pernah membaca tentang kemapuan puncak dari seorang pendekar pedang, Absolute Blade Control.
Jika Kuro bisa menggunakan teknik sekuat itu, di sekolah tak ada yang bisa mengalahkannya dalam teknik pedang.
(Tak aneh aku kalah dengan mudah waktu itu.)
Laila masih ingat jelas saat Kuro menebasnya.
"Aku butuh waktu 5 tahun untuk menguasainya, tapi jika kau, kurasa sebaiknya menguasai Absolute Magic Control saja. Aku yakin dengan latihan 20 tahun, kau pasti dapat menguasainya."
"Uggghh... Mana mungkin selama itu bodoh."
Kuro seolah olah mengatakan Laila masih lemah itulah yang membuat dia marah.
"Ha ha.. kau benar. Kurasa 18 tahun pasti kau sudah bisa menguasainya."
"Ku ku. aku hanya bercanda. Jika kau ingin menguasai teknik itu, maka semua yang diperlukan hanyalah bekerja keras dan latihan yang tepat. Ngomong ngomong berapa lama aku pingsan?"
"...Hmmm ... kurasa baru sepuluh menit. Kau tahu cukup sulit membawamu kesini. Aku bahkan meminta bantuan orang lain."
Kuro terdiam dan memejamkan matanya lagi. Dia masih merasakan tubuhnya ingin lebih lama beristirahat.
Sambil memejamkan mata, Kuro berkata:
"Laila, ......bagaimana pendapatmu tentang diriku?"
"Pendapat? Apa maksudmu?"
"Yahhh... aku hanya ingin tahu pendapatmu saja. Kau sudah mengenalku seminggu lebih, jadi aku ingin tahu pendapatmu. Tapi aku lebih penasaran kenapa kau tak pernah menolak ciumanku?"
Wajah Laila langsung merah padam. Dia tak mungkin mengatakan karena dirinya tahu Kuro adalah Shiro.
"Dasar kau ini. Apa kau tak senang kalau aku menerima ciumanmu bodoh. Lagipula kita berpacaran, jadi kurasa itu adalah hal yang wajar. Lalu jika kau ingin mendengar pendapatku tentang dirimu, ... kau adalah orang paling aneh dan aku sama sekali tak mengerti kenapa banyak gadis yang berada di dekatmu. Kau pikir siapa dirimu? Raja Harem? ha.. ha.. ha..."
Laila sampai terengah engah karena mengatakan hal itu dengan nada sedikit marah dan keras.
Sayangnya dia tak menyadari bahwa perkataannya tadi cukup menarik perhatian orang di sekitar mereka.
"Ku ku... Kau tidak salah. Ada banyak gadis yang menyukaiku, dan semuanya kebanyakan jatuh cinta dalam waktu yang singkat. Tapi tampaknya kau terbiasa melihat orang seperti aku. Uhmm...? Begitu rupanya."
"Ya. Tebakanmu benar. Aku sudah terbiasa dengan orang semacam dirimu karena aku mempunyai kakak yang lebih populer daripada kau. Kau tahu, dulu setiap hari aku bahkan melihat gadis menyatakan cinta kepada kakakku."
"Sebanyak itukah? Tapi kurasa dia lebih tak beruntung daripada aku. Mereka jatuh cinta karena menginginkan sesuatu dari kakakmu, tapi orang yang jatuh cinta kepadaku kebanyakan tulus dari dalam hati mereka. Singkatnya, aku mempunyai banyak masalah dengan wanita."
"Eh?"
Jika diingat ingat, Alva, Alvi, Dellia, memang jatuh cinta secara tulus kepada Kuro.
Dia juga mengingat kalau dulu ketiga temannya juga langsung menyukai Kuro meskipun mereka baru pertama kali bertemu.
"Laila, apa kau tahu jumlah gadis yang menyatakan cintanya kepadaku selama 4 tahun ini?"
"........."
Laila terdiam. Namun dia juga sadar ini kesempatan dia mencari tahu sisi lain dari Kuro, tapi-
"Hmmphh.. siapa yang ingin tah-"
"269 gadis."
"Huh? ............Eeeeeeeeeeeehhhhhhhhhhhh."
Teriakan Laila membuat dia sekali lagi menjadi pusat perhatian.
Sementara Kuro hanya tersenyum kecil sambil menutup mata. Dia sudah bisa menebak reaksi Laila, tapi Kuro tak menyangka Laila akan bereaksi seheboh itu.
"A-apa ka-kau bilang 269 gadis. Itu bukan level Raja Harem lagi, tapi sudah Dewa Harem. Huh... Kau berharap aku mengatakan itu kan? Aku tak percaya dengan omong kosongmu itu."
Semua orang akan menunjukka reaksi sama saat mendengar perkataan Kuro, tapi Kuro hanya tersenyum kecil.
Dia tak berbohong.
"Yahh... aku tak menyuruhmu percaya, tapi aku hanya ingin memberi tahumu sedikit kehidupanku."
"..........."
"Aku pernah berkeliling dunia dan sering bertemu dengan banyak orang dan tentu saja banyak gadis. Padahal aku baru bertemu satu atau dua hari, tapi tak berapa lama kemudian mereka menyatakan perasaan mereka. Yahh.. ini terus terjadi hingga sekarang. Bahkan Alva dan Alvi juga menyatakan cinta mereka kepadaku, tapi-"
"....?"
"Mana mungkin aku menerima perasaan mereka. Kau pasti sudah tahu alasannya kan?"
"................"
Laila terdiam dan menoleh ke arah lain. Dia tak berani menatap wajah Kuro meskipun Kuro saat ini menutup matanya, tapi disaat yang sama, dia menyadari ada sesuatu yang aneh dengan Kuro.
(Kenapa kau sampai seperti itu, jujur saja aku tak mengerti.)
"............"
"Karena itulah ada yang ingin ku tanyakan padamu Laila. Apa kau ....menyukaiku?"
".........A-Aku...."
Laila tak berani melanjutkan perkataannya. Dia tak tahu apa yang dia rasakan saat ini.
Apakah dia menyukai Kuro?
Apa alasan dia berpacaran dengan Kuro?
Apakah karena Kuro mirip dengan laki laki di mimpinya?
Atau karena Kuro adalah Shiro yang pernah menyelamatkan hidupnya dua kali?
(Sebenarnya apa yang kurasakan saat ini?)
Dia tidak tahu. Dia juga tak mengerti.
"Heii... kenapa kau mencintai aku? Bukankah kau baru bertemu denganku di sekolah 2 minggu yang lalu. Kau tak mungkin bilang jatuh cinta pada pandangan pertama kan?"
Sejak awal Laila tahu Kuro berbeda dengan lelaki yang selama ini menyatakan cinta kepada dirinya. Laila dapat merasakan ketulusan dari Kuro.
Tapi kenapa bisa? Mereka hanya bertemu beberapa kali, bahkan mereka sempat berkencan, tapi hal itu tetap tak membuat Laila mengerti kenapa Kuro menyukai dirinya.
"Tentu tidak. Aku tak pernah percaya kepada jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi jika kau bilang kenapa aku jatuh cinta kepadamu, maka jawabannya ....."
__ADS_1
".........?"
"...Aku juga tidak tahu."
"Huh?"
"Sudahlah. Aku senang meskipun hubungan kita hanya berlandaskan janji. Tidak. Kurasa ini adalah yang terbaik."
Disaat itulah, Laila menyadari kalau Kuro ternyata menganggap hubungan mereka ini hanyalah hubungan berlandaskan janji. Tapi kenapa dia bilang yang terbaik? Bukankah Kuro mencintai dirinya? Apa semua itu bohong?
Disaat yang sama Laila merasakan sakit yang menusuk bagai ribuan jarum.
(Ada apa denganku?)
"..............."
Dia benar benar tak mengerti apa yang dirasakannya saat ini.
"Huh?"
(Dia sudah tertidur rupanya.)
Laila tersenyum pahit saat melihat Kuro sudah tertidur pulas di pangkuannya. Tapi disaat itulah dia teringat dengan lelaki berambut putih di mimpinya.
Tak hanya wajah, tapi ekspresi saat mereka tertidur benar benar sama.
Selain itu, ada satu hal lagi kesamaan diantara mereka yaitu pedang putih yang mereka gunakan untuk bertarung.
(Mungkinkah kau benar benar dia?)
Tapi Laila tak punya bukti. Lagipula lelaki berambut putih dan Kuro hidup di zaman yang berbeda.
"Alice... ."
Sebuah nama muncul dari mulut Laila. Itu adalah nama kekasih lelaki berambut putih di mimpinya. Dan Alice mempunyai kemampuan memanipulasi waktu. Apakah itu ada hubungan kenapa dia memiliki ingatan Alice?
30 menit lebih berlalu. Sejak itulah Laila tak bergerak dan menjadi bantal Kuro.
Selama itupula Laila menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang. Laila hanya bisa menunduk dengan wajah memerah karena dia juga menyadari kalau tindakannya ini cukup memalukan.
"Um?"
Laila tiba tiba mendengar suara ribut. Dia menoleh ke arah kanan dan melihat orang berkumpul di sepanjang jalan.
"Tuan putri!"
"..putri Riana."
Masih banyak yang berteriak dan menyebut nama Riana.
Hal itu membuat Laila sadar kenapa hari ini sekolah pulang lebih awal dan tak ada pelajaran.
"Jangan bilang kalau Riana datang!!"
Dengan cepat Laila berdiri. Dia bahkan lupa dengan keberadaan Kuro yang tidur di pangkuannya.
Kuro terjatuh ke tanah dengan kepala membentur terlebih dahulu. Tentu saja hal itu membuat dia langsung sadar.
"Ughh... dasar kau ini!!" Ucap Kuro sambil memegangi kepalanya.
Sayangnya Laila mengacuhkan Kuro dan tak peduli. Satu satunya hal yang Kuro tahu adalah Laila sedang senang.
"?"
Kuro terkejut saat Laila tiba tiba memegang tangan kirinya dan menariknya, tidak. Lebih tepat menyeretnya.
"HOOI Hentikan!! Aku bukan barang."
Laila mendengar perkataan Kuro dan berhenti. Dia lalu menoleh ke arah Kuro yang sudah berantakan. Kuro mirip gelandangan saat itu.
"Whaaa.. maaf. Aku tak sengaja."
"........"
Kuro terlihat tidak senang dan bangkit. Dia merapikan bajunya dan kembali ke kursi untuk mengambil pedangnya.
Entah mengapa Kuro merasakan Lic sedikit lebih berat.
(Aku rasa aku belum pulih kah....)
Setelah mengambil Lic, Kuro berjalan di samping Laila menuju ke arah kerumunan.
"Eh... kenapa tiba tiba?"
Kuro terkejut saat Laila merangkul lengannya dan menempel di sampingnya Ini adalah sesuatu yang jarang dilakukan Laila.
"Sudahlah. Aku ini pacarmu, jadi tidak apa apa kan? ... Mungkinkah.. kau... tidak mau?"
"Ug.."
Kuro dikejutkan oleh Laila yang tiba tiba bertingkah manis. Wajah Kuro memerah dan tak berani menatap Laila.
Kuro hanya bisa mendesah kecil, tapi dia senang.
"Bukannya aku tidak mau. Tapi-"
"......?"
Kuro tak berani melanjutkan kata katanya karena menyangkut benda kenyal yang menekan lengannya. Meskipun tak begitu berharap dari ukurannya.
Akhirnya mereka berdiri di kerumunan paling belakang. Syukurlah mereka masih bisa melihat dengan jelas karena orang di depan mereka memiliki tinggi yang sama.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara kaki kuda.
6 ekor kuda hitam berbaris rapi di tunggangi oleh enam Knight yang memakai armor putih. Mereka adalah Holy Knight yang khusus mengawal anggota kekaisaran.
Di tengah rombongan sebuah kereta kencana indah dan mewah ditarik oleh 6 kuda putih.
Semua orang tahu kereta itu adalah kereta kerajaan yang mengantar putri ketiga kekaisaran Houou , Riana Levt Vermilisst.
Di belakang kereta kencana, 6 White Knight yang juga mengawal dan mengikuti kereta dengan rapi.
Rombongan kerajaan belum lewat di depan mereka, tapi Laila terlihat bersemangat dan senang.
"Mungkinkah kau kenal dengan dia?"
Kuro bertanya kepada Laila yang masih merangkulnya.
"Tentu saja. Aku dan Riana berteman sejak kecil. Bahkan dulu aku sering bermain dengannya saat masih tinggal di ibukota. Seharusnya kau tahu karena aku seorang putri Paladin, bodoh."
"...Yahh kau benar ju- Hoooamm."
Kuro menguap lagi. Dia masih merasa mengantuk dan lelah akibat menggunakan Absolute Blade Control.
"Hei.. kenapa kau menguap terus. Kau seolah olah tak tidur berhari hari saja."
"Umm... begitulah. Aku sudah tak tidur berhari hari dan capek. Terus terang aku ingin cepat ke asrama dan tidur."
Kini matahari sudah hampir terbenam. Langit sudah berubah menjadi kemerahan pertanda malam segera datang.
Hal ini pula yang membuat Kuro bertambah mengantuk.
"Kau ini, kerjaanmu selalu tidur saja."
"Yahh....aku akan lebih senang jika kau mau menemaniku tidur. Tapi kita belum boleh melakuk-Uggh"
Kuro berteriak karena Laila mencubit lengan Kuro dengan keras.
"Berhentilah membuat lelucon mesum. Kau seharusnya sadar meskipun kita berpacaran, aku tak mungkin mau tidur bersamamu."
Laila lalu melepas pelukannya dan menoleh ke arah jalan. Dia sudah tak sabar menyambut teman baiknya.
"Sayang sekali. Padahal kau sangat menggoda dengan piyama seksi itu. .. Hmmm.. bukankah itu undangan untuk menyerangmu saat kau lengah?"
Wajah Laila langsung merah padam saat mengerahui maksud perkataan Kuro.
"Kyaaa.. jauhkan pikiran kotormu itu. Cepat buang atau kubakar menjadi debu."
Laila memukul mukul Kuro dengan tangannya. Sementara Kuro menerima pukulan Laila karena tahu pukulan Laila tak bertenaga.
"Kenapa aku harus membuang hal yang membuatku bersemangat?"
"Waaaa.. dasar mesum. Binatang kotor. Serigala berbulu domba!!"
Laila langsung mengucapkan semua yang ada dipikirannya dengan keras dan menambah kekuatannya.
Hal itu membuat dia menjadi perhatian tanpa dia sadari. Orang disekitar mereka bahkan lebih memperhatikan mereka daripada rombongan putri Riana yang sudah lewat.
"Seburuk itukah?"
"Ya. Kau adalah pacar paling mesum yang pernah kumiliki."
"Dan aku adalah pacar paling tampan yang pernah kau miliki."
"Aku tak tahu darimana kau mendapatkan kepercayaan diri sebesar itu, tapi TIDAK. Menurutku kau hanyalah pacar mesum."
"Mesum? Aku atau kau? Bukankah kau yang selalu tidur menggunak-"
"Whaaaa... jangan mengatakan itu di depan orang banyak bodoh!! Dasar bodoh!! Mesum!"'
Dan merekapun terus bertengkar hingga menjadi pusat perhatian. Orang orang di sekitar mereka memperhatikan pertengkaran dengan tersenyum kecut.
Cringgg.
Suara lonceng terdengar di antara suara pertengkaran mereka berdua.
"Um?"
"Ada apa putri?"
Di dalam kereta, Riana melirik ke arah jendela dan melihat Laila sedang bertengkar dengan seorang lelaki berambut hitam.
Di dalam kereta juga ada seorang maid yang menemani Riana.
Maid itu juga melirik ke arah jendela dan mengetahui apa yang Riana lihat.
"Ahh... Nona Laila kah? Kudengar dia bersekolah di kota ini. Syukurlah. Anda sudah lama tak bertemu dengan nona Laila kan, kurasa ini kesempatan yang baik. Uhmm tuan putri?"
Maid itu bingung saat melihat Riana terdiam. Namun tiba tiba Riana tersenyum tipis.
"Bukan apa apa." Riana menoleh ke arah Maid. "Ya, kau benar Tifa. Aku akan mengundang Laila untuk minum teh."
"Ahhh. itu ide yang bagus tuan putri. Aku juga tak sabar ingin bertemu dengan nona Laila lagi."
Riana lalu mengambil ponsel putih dan mengirim pesan kepada Laila. Disaat itulah, Riana bertanya kepada Tifa.
"Apa kau tahu Laila bertengkar dengan siapa?"
"Eh? Ummm.. Kurasa dia pacar nona Laila. Anda mendengar rumor kalau sekarang Laila sudah memiliki pacar kan? Memangnya ada masalah apa?"
".....Tidak apa apa. Aku hanya penasaran."
"?"
Untuk pertama kalinya, Tifa melihat senyuman manis Riana dan ketertarikannya terhadap orang yang tidak dia kenal.
__ADS_1
Akhirnya rombongan Rianapun pergi tanpa Laila sadari.