
Ada beberapa alasan kenapa Dragonia tak diserang negara lain. Naga, teknologi yang lebih maju dari negeri lain meskipun kecil, dan budaya yang sangat berbeda dari negara lain.
-Tapi apakah hanya itu?
Setiap negara pasti mempunyai sebuah senjata rahasia untuk menakuti negara lain agar tak menyerang. Apakah senjata rahasia itu berbentuk penyihir (paladin), senjata sihir pemusnah masal, monster yang sengaja diciptakan, sihir berbahaya dan masih banyak lagi.
Hal yang sama juga berlaku kepada Dragonia.
"Benda yang diinginkan musuh?"
Beberapa hari yang lalu saat istirahat di hutan, Knox bertanya kepada Kuro yang sedang beristirahat di tengah dua orang gadis..
"Ya. Seperti kejadian di kota Areshia, aku yakin musuh juga mempunyai suatu tujuan atau mengincar sesuatu di Dragonia. Jujur saja meskipun aku pernah mendengar rumor tentang Dragonia, namun aku ingin memastikannya."
Charlmilia dan Laila menatap Kuro, sedangkan Kuro justru melirik Aldest seperti memberi tanda.
Aldest mengerti dan mengangguk.
"Kurasa kami memang harus memberitahu kalian, tapi apa yang kau ingin lakukan setelah tahu?" tanya Aldest dengan senyuman tipis sambil memancarkan aura berbahaya.
"Jika kita tahu, bukankah kita bisa membagi tugas sesuai dengan keahlian masing masing?"
"........."
"Tak hanya itu, kita bisa menyusun sebuah strategi meskipun kupikir tak akan terlalu berpengaruh banyak mengingat level musuh kita."
"Hmmm....."
Aldest tersenyum senang setelah melihat kemampuan Knox seperti seorang ahli stategi.
"Baiklah, kita akan memberi semua yang kami tahu, tapi jika kita semua selamat maka kalian harus menjaga rahasia, atau kupaksa otak kalian untuk tak mengingatnya."
Aldest menjilat bibirnya seperti iblis. Dia tak bercanda. Sihir dia yang mampu memanipulasi ingatan sangatlah berbahaya. Menghapus ingatan hanyalah hal sepele bagi Aldest.
Lalu Aldest dan Kuro bergantian menjelaskan semuanya yang mereka ketahui. Reaksi orang baru mendengar kenyataan dapat ditebak, mereka panik.
Mereka tak menyadari bahwa pertarungan yang menanti mereka dapat mempengaruhi nasib seluruh dunia.
Tapi yang menarik perhatian mereka adalah tentang tujuan musuh, yaitu Grimoire of Dragon atau D Grimoire.
"D Grimoire kah?...Menurut rumor, grimoire itu berisi cara untuk mengendalikan naga di seluruh dunia. Apakah benar grimoire itu ada di Dragonia?"
Knox masih ragu karena ada rumor grimoire itu tak benar benar ada. Tapi kemungkinan grimoire itu ada di Dragonia cukup besar mengingat Dragonia adalah negara yang memiliki hubungan paling dekat dengan naga.
"Kita tak tahu pasti, tapi kita tahu musuh menginginkan sesuatu di Dragonia, benar atau tidak, kita tetap tak bisa lengah."
"......andai saja kita punya orang dalam..."
Knox berguman, tapi alasan dia masuk akal.
"Bagaimana dengan 'dia'?"
Kuro tersenyum dan menyebutkan nama seseorang yang tak terduga.
Tapi meskipun rencana dibuat dengan baik, belum tentu semuanya berjalan seperti yang diharapkan.
Di luar istana Fafnir, pertarungan antara Kuro dan Deon/Lucifer sudah dimulai, sedangkan di istana, pertarungan lainnya juga baru dimulai.
Charlmilia, Laila dan Diana berada di lorong istana, tapi tak hanya mereka yang berada di tempat itu.
Sosok wanita memakai jubah hitam kelam dan memancarkan aura berbahaya menghadang mereka. Wajahnya tak terlihat dan hanya menunjukkan bibir pink. Wanita itu adalah Shadow yang mengincar buku di tangan Diana.
Buku hitam dengan simbol naga yang dikenal sebagai Grimoire of Dragon.
Mereka berkeringat dingin. Untuk pertama kali dalam hidup mereka bertiga merasakan tekanan mana yang begitu luar biasa dan mengerikan.
"Fu fufu... "
Shadow tertawa kecil.
"Gadis manis, bisakah kalian serahkan benda itu? Apa kalian tahu benda itu berbahaya?"
Mereka bertiga hanya menggertakan giginya.
Laila memegang erat Scarflare di tangannya dan tak mencoba untuk gemetar. Dia sadar musuh di depannya mungkin memiliki kekuatan yang hampir sama dengan ayahnya yang dikenal sebagai paladin terkuat. Atau bahkan lebih kuat.
Charlmilia memegang pedang di tangan kanannya dan sekaligus memanggil Byakko. Tak hanya itu, dia juga sudah menciptakan beberapa bola plasma. Tapi dia juga menyadari musuh di depannya sangat berbahaya.
Sedangkan Diana, dia memegang Gungnir dan mengacungkannya ke Shadow, tapi tak bisa bertarung sepenuhnya karena harus menjaga Grimoire of Dragon.
"Dengar, aku sudah berjanji kepada bocah itu untuk tak menghabisi kalian. Aku akan menepatinya, tapi bukan berarti aku tak akan melukai kalian. Apa kalian mengerti maksudku?"
"........." "....." "Tchh..."
"Tapi sepertinya kalian tak ingin memberikannya, jadi kurasa aku akan memintanya dengan paksa, lagipula aku sedang bosan."
Tekanan Shadow berubah lagi. Api hitam tiba tiba berkorban di tangan kanannya dan berubah menjadi sebuah pedang. Pedang api hitam.
Tapi pedang itu bukan pedang biasa karena pedang itu sama seperti yang Laila miliki,-
"Scarflare hitam?"
Laila hanya bisa melebarkan matanya karena terkejut. Tak hanya Laila, Charlmilia dan Diana juga sama terkejut.
Mereka tahu Shadow bisa memanipulasi bayangan, tapi meniru Magic Arm adalah suatu di luar dugaan mereka.
Tiba tiba sebuah lingkaran sihir hitam muncul di antara mereka berempat. Dari lingkaran sihir itu, lalu muncul Byakko hitam.
"Dia bahkan meniru Byakko?"
Charlmilia bahkan sempat berpikir bahwa dia sedang bermimpi.
Shadow hanya tersenyum.
"Kalian jangan terkejut, ini hanyalah trik kecil bagiku, tapi kalian tak boleh berpikir bahwa aku hanya meniru bentuk Magic Arm dan Magic Beast kalian."
"Jangan bilang...-"
Mereka bertiga mempunyai firasat buruk.
"Ya, aku bahkan dapat meniru kekuatan kalian secara sempurna. Dan akurasa saatnya kita bermain. Tolong jangan buat aku bosan."
Byakko hitam menembakkan bola angin, Byakko Charlmilia melakukan hal yang sama dan dua bola angin hitam dan putihpun berbenturan dan meledak.
Angin berhembus kencang, tapi disaat itulah Laila langsung maju menuju ke arah Shadow tanpa ada rasa takut.
Shadow hanya tersenyum.
Byakko putih dan Byakko hitam saling bertarung dengan sengit. Tak mau ketinggalan Charlmilia juga berlari ke arah Shadow.
Klaang. 3 pedang beradu dan memercikan cahaya orange. Meskipun 2 lawan satu, Laila dan Charlmilia justru kewalahan. Mereka bahkan tak mampu mendorong Shadow dan justru merekalah yang terdorong kebelakang.
"Kh..."
(Aku tak menyangka dia sekuat ini!?)
Charlmilia melirik Laila yang juga menunjukkan ekspresi terkejut.
Meskipun perbedaan kekuatan mereka begitu besar, namun tatapan mata Laila tak menunjukkan rasa takut atau menyerah.
Diana yang melihat mereka berdua berpikir untuk menyerang dari sisi lain, tapi sebuah pedang merah menancap untuk menghalangi langkah Diana.
"Pergi!"
Laila berteriak.
"Pergi? Apa maksudmu?"
"Jangan bodoh!" ucap Charlmilia. "Wanita ini lebih menakutkan dari yang kau pikirkan."
Charlmilia menyerang menggunakan bola plasma kecil dari belakang sambil bertahan, tapi Shadow juga menciptakan bola plasma lalu digunakan untuk menghadang bola plasma Charlmilia.
"Kh.."
Charlmilia menggertakan giginya.
"Wanita ini menginginkan buku itu, kau tahu itu artinya dia tak boleh mendapatkannya. Lagipula bukankah buku itu berharga bagimu?"
"?!"
"Diana-chan..... kami akan menahan dia. Cepat pergi! Buku itu berharga bukan karena itu adalah Grimoire of Dragon, tapi buku yang berisi kenangan berharga dengan kakekmu kan?"
".....Laila .."
Laila dan Charlmilia tersenyum meskipun mereka sedang kesulitan untuk menahan kekuatan Shadow.
Shadow lalu mendorong dan membuat tubuh mereka berdua terpental, tapi mereka tak menyerah dan menguatkan gengaman kaki mereka lalu mendorong balik Shadow.
Tubuh Shadow terdorong ke belakang.
Tak menyia nyiakan kesempatan, Laila dan Charlmilia terus menyerang menggunakan Element Art.
Laila menyerang menggunakan bola api .Sedangkan Charlmilia menyerang menggunakan bola angin. Tapi bukan hanya itu yang mereka lakukan.
Mereka menggabungkan elemen api dan elemen angin mereka sehingga kekuatan serangan menjadi lebih besar.
Booom. Shadow terkena telak dan ledakan cukup besar terjadi. Sementara itu pertarungan antara kedua Byakko masih berlangsung sengit.
"Cepat pergi! Kami akan menahan dia disini!"
"Putri Diana, serahkan dia kepada kami."
"Ta-tapi-"
""PERGI!!!"'
Laila dan Charlmilia berteriak bersamaan meskipun terengah engah.
Diana mengerti kenapa mereka bisa berbuat sejauh itu. Dan itulah alasan terbesar dia pergi meskipun harus meninggalkan mereka berdua melawan monster.
"Laila, Charlmilia, .... kalian harus hidup!"
Diana lalu pergi meninggalkan mereka berdua dengan berlari.
"Fufufu.. apakah hanya itu kemampuan kalian?"
""?!""
Shadow muncul dari balik asap. Dia tak tergores sedikitpun meskipun terkena serangan gabungan.
"Kalian masih terlalu naif. Apa kalian pikir bisa menghentikanku?"
Shadow menggandakan dirinya seperti sel yang terbelah. Kini dua orang Shadow di depan mereka.
Shadow yang satunya tiba tiba berubah menjadi bayangan dan bergerak seperti ular di lantai melewati Laila dan Charlmilia.
"Gawat!"
Charlmilia langsung panik.
Tapi disaat itulah tiba tiba terdengar suara tembakan.
Tembakan melesat ke arah bayangan yang sudah melewati mereka. Satu, dua, dan tembakan ketiga dan akhirnya mengenai bayangan dan bayangan itu menghilang.
"Eh?"
Charlmilia terkejut karena bayangan seharusnya tak lenyap begitu saja.
Lalu terdengar suara tembakan lagi. Kali ini Byakko hitam menghilang.
Shadow hanya bisa terdiam kedua sihirnya telah dinetralkan.
__ADS_1
"Jangan remehkan kami, j*lang!"
"!"
Dengan tatapan dingin, Laila mengarahkan pistol di tangan kirinya ke arah Shadow yang tersenyum tipis.
"Hooo... menarik. Anticristal kah?"
"Jangan kau pikir hanya kalian yang bisa bermain dengan Anticristal."
Charlmilia mengerti apa yang terjadi. Bayangan dan Byakko hitam menghilang karena terkena peluru Anticristal dari pistol Laila.
Pistol yang dipakai Laila bukanlah Magic Arm karena itulah Anticristal tak berpengaruh. Selain itu, Laila masih bisa menggunakan sihir.
Pedang sihir di tangan kanan, sedangkan pistol antisihir berada di tangan kiri. Ini suatu yang tak biasa.
"Laila, sejak kapan kau bisa-"
"Kita bicarakan nanti, cepat kau ambil pistol di kantung kecil di pinggangku. Kau bisa menggunakan pistol kan?"
Charlimilia mengerti maksud Laila.
Charlmilia tersenyum lalu merogoh sebuah kantung (tas) kecil yang disembunyikan di balik baju seragam Laila.
Tas itu adalah tas sihir, tapi tas itu berbeda dengan tas sihir biasa. Meskipun memiliki fungsi yang sama untuk membawa benda banyak, namun benda yang dibawa Laila adalah pistol dan peluru Anticristal.
Anticristal dapat menetralkan sihir, karena itulah Laila membawa tas yang dibuat menggunakan teknologi. Tas Laila sebenarnya adalah teknologi yang masih menjadi rahasia, tapi karena keadaan darurat, maka Laila diperbolehkan membawanya.
Dan tentu saja, orang yang memberi ide adalah Kuro sebagai salah satu syarat memperbolehkan Laila ikut.
Charlmilia lalu mengambil sebuah pistol yang sama dengan Laila, tapi Charlmilia memindahkannya ke tangan kanan. Sedangkan pedang dia pindahkan ke tangan kiri.
Byakko kini bergerak ke samping Charlmilia.
"Fufufu... sepertinya aku tak akan bosan, baiklah, akan kutemani kalian bermain. .....dan aku juga akan mengajarkan betama lemahnya diri kalian, Clocflare!"
Sebuah pedang api hitam sekali lagi muncul di tangan kiri Shadow. Sekilas tak jauh berbeda dengan Scarflare, namun memiliki pola yang berbeda.
Tapi bukan itu yang mengejutkan Charlmilia dan Laila.
Clocflare adalah nama Magic Arm seseorang yang mereka ketahui di mimpi mereka.
Siapa Shadow sebenarnya? Mungkinkah dia....
Meskipun begitu, namun Charlmilia dan Laila tahu, siapapun Shadow sebenarnya, kini dia adalah musuh mereka.
Tapi bisakah mereka menang?
Di ruang kendali, Draig dan Louis terdiam pucat pasi melihat jumlah musuh dan kekuatan yang ditunjukkan musuh.
Bagaimanapun juga, musuh kali ini begitu kuat dan bahkan mereka belum mengeluarkan kekuatan mereka yang sesungguhnya.
".........."
Louis hanya terdiam menyaksikan pertarungan yang sudah melampaui akal manusia.
Kuro menghabisi musuh puluhan musuh sekaligus dalam sekali tebas dan dilakukan dengan kecepatan tinggi.
Deon/Lucifer masih tak melakukan apapun dan justru hanya sebagai penonton.
Ruby membantu Kuro, tapi jumlah musuh yang terlalu banyak membuat dia kewalahan.
Setelah mengamati pertarungan cukup lama, Louis akhirnya mendesah dalam.
"Ayah, kurasa kita harus menggunakan 'itu'?"
"....apakah sudah saatnya?"
"Meskipun bukan saatnya, kita harus tetap menggunakan 'itu'. Meskipun Kuro terlihat luar biasa, aku yakin hanya butuh waktu sampai dia kehabisan tenaga. Meskipun dia menggunakan kekuatan yang sama dengan Shiroyasha, tapi bukan berarti dia bisa menggunakan kekuatan itu sepenuhnya, dengan kata lain..."
Sebelum Kuro tak bisa menggunakan kekuatannya, lebih baik membantunya sebelum terlambat.
Draig mengerti apa yang ingin Louis sampaikan.
"Baiklah, kita gunakan 'itu.' Lagipula ini adalah saatnya menunjukkan kekuatan Dragonia yang sesungguhnya."
"Aku senang mendengarnya Ayah."
Luois tersenyum senang.
"Bagaimana dengan Lionel?"
Lionel. Pangeran pertama dan sekaligus salah satu penyihir terkuat di Dragonia. Jika Louis jenius sebagai ahli strategi, maka Lionel adalah seorang yang memiliki kekuatan fisik yang luar biasa.
"Saat ini dia masih tengah bersiap menggunakan Avalon Gear. Perkiraan selesai 7 menit lagi."
Mendengar laporan anak buahnya, Louis mendesah.
(Meskipun Avalon Gear adalah Knight Gear yang disempurnakan, namun dalam pemasangan tak bisa dilakukan seperti Knight Gear karena material yang digunakan sangatlah berbeda. Meskipun pikir menggunakan Avalon Gear terlalu cepat, namun ini bisa digunakan untuk menguji Avalon Gear.)
"Lalu bagaimana dengan persiapan Dragon Arm ?"
"Semua Dragon Arm dalam keadaan normal. Kita bisa menggunakan mereka kapan saja."
Louis tersenyum.
"Hubungkan aku dengan Cross"
Sebuah layar baru muncul. Di layar itu seorang pemuda pendek memakai kaca mata dan memakai jas laboratorium tersenyum ceria.
Berbeda dengan Lionel yang kekar dan Louis seperti pangeran sempurna, Cross memiliki tubuh yang kecil meskipun sudah berusia 16 tahun. Seperti dua kakaknya, Lionel juga mempunyai keahlian khusus berupa kecerdasan yang luar biasa.
Karena itulah dia sekarang menjadi pemimpin Alkemis di Dragonia. Dia juga berperan penting dalam menciptakan Knight Gear dan Dragon Arm.
"Cross, bagaimana dengan kontrol Dragon Arm?"
"Tak ada masalah kakak. Semuanya lancar. Berkat program yang kubuat, maka kita bisa dengan mudah mengendalikan mereka. Kenapa kakak kawatir, bukankah kakak sudah melihat sendiri?"
"......."
"Jadi bisa kita mulai?"
Cross tersenyum. Sekilas dia seperti anak kecil yang tersenyum senang.
"Avalon Gear juga sudah selesai dipasangkan." lapor anak buah Louis.
"Baiklah, kita tunjukan kekuatan Dragonia yang sebenarnya." ucap Draig
Di ruang bawah tanah, monster sebesar 25 meter mulai bergerak. Mata hijau menyala sebagai tanda mereka sudah bersiap untuk bergabung dalam pertarungan.
"........"
Sementara itu, Louis melirik layar yang menunjukkan Laila dan Charlmilia sedang bertarung melawan Shadow.
(Mereka cukup cerdas menggunakan Anticristal untuk melawan monster itu.)
Lalu Louis melirik layar yang menunjukkan gambar Knox berjalan dengan santai di lorong istana. Louis tiba tiba menyipitkan matanya setelah memperhatikan tingkah laku Knox yang aneh.
Di layar lain, Diana sedang berlari sendirian di lorong istana sambil membawa Grimoire of Dragon.
Louis tiba tiba berdiri.
"Ayah, bisakah aku serahkan kepadamu?"
"Kau mau pergi?"
"Aku harus mengurus serangga kecil."
Draig menyipitkan matanya.
"Baiklah, serahkan disini kepadaku."
Louis lalu pergi dari ruangan kendali sambil tersenyum tipis dan jahat.
Di tengah medan pertempuran, ledakan memenuhi kota. Tanah dan semua benda hancur menjadi debu dalam sekejap setelah menerima tebasan dari pedang putih.
Hell Beast, Necrodra tak bisa berkutik melawan serangan dengan kecepatan tinggi dan hampir tak terlihat oleh mata.
Kuro saat ini menggunakan Double Accell untuk bergerak. Sedangkan untuk menghancurkan musuh, dia menggunakan Ki.
Dari 2000 musuh, kini sudah berkurang menjadi sekitar 1700 dalam kurang waktu 10 menit.
Matahari semakin tenggelam dan langit mulai menjadi orange. Pertarungan di Dragonia sudah lebih dari 3 jam.
Sambil menebas, Kuro merasakan tubuhnya mau hancur dari dalam. Meskipun dia saat ini dia menggunakan Eyes of Origin, namun bukan berarti tak ada efek samping di tubuhnya.
Kuro hanya pernah menggunakan kekuatan Eyes of Origin dua kali. Yang pertama saat menghancurkan perampok yang menyerang desa. Sedangkan yang kedua adalah saat melawan Electra.
Saat itulah Electra tertarik kepada dirinya dan dari Electralah dia tahu kalau dia adalah keturunan Shiroyasha.
Tapi ada satu masalah yang harus mereka pastikan. Berapa lama Kuro bisa menggunakan Eyes of Origin?
1 jam. Itulah waktu maksimal Kuro menggunakan Eyes of Origin. Tapi itu dua tahun yang lalu dan dalam kondisi normal.
Lalu sekarang?
Dia tak tahu.
Dia sekarang hanya bertarung dengan semua kekuatan yang dia miliki. Meskipun kini tubuhnya terasa mau hancur. Seluruh tulang di tubuhnya terasa bisa patah kapan saja, selama tubuhnya masih bisa bertarung, dia akan bertarung.
"WHOOOAAA!!!"
Kuro mengincar Deon/Lucifer yang sedang menonton seperti seorang raja dari langit
Puluhan Hell Beast menghadang Kuro. Kuro tak menghindar dan menebas mereka satu persatu. Tapi ada beberapa Hell Beast yang merubah tubuhnya menjadi tombak yang menyerang Kuro dari segala arah secara hampir bersamaan.
Kuro tak punya waktu untuk meladeni mereka semua dan menghindar dengan Accell Art, tapi-
"?!"
Accell Art Kuro memungkinkan dia bergerak dengan kecepatan yang tak sanggup dilihat mata normal. Dan disaat Kuro dalam kecepatan tinggi, semua benda di sekitar akan terasa tak bergerak kecuali benda itu memiliki kecepatan yang sama dengan Kuro.
Dan Hell Beast yang berubah menjadi tombak mampu bergerak di sekitar Kuro. Itu artinya Hell Beast itu memiliki kecepatan yang sama dengannya.
(Sial!!)
Puluhan tombak menyerang Kuro. Dia mencoba menghindar, tapi dalam kecepatan itu, menghindar adalah suatu yang sulit.
Tak ada pilihan lain, dia menggunakan Double Accell dan bergerak dua kali lipat lebih cepat.
Dia berhasil menghindar dengan luka yang tak terlalu parah dan terus maju ke arah Deon/Lucifer, tapi sesaat sebelum pedang Kuro menyentuh tubuh Deon/Lucifer, dia menghilang.
"?!"
Deon/Lucifer tiba tiba berada di belakang Kuro.
""[Kau mungkin bisa bergerak lebih cepat dari suara, tapi itu tak cukup!]""
"!!"
Deon/Lucifer menebas Kuro, tapi Kuro langsung menggunakan Accell Art tahap ketiga, Triple Accell.
Dia berhasil menghindar dan melakukan serangan balik kepada Deon/Lucifer. Dia memotong Deon/Lucifer menjadi dua bagian, tapi Deon/Lucifer justru hanya tersenyum.
Kuro langsung mendarat sambil menghancurkan Hell Beast di daratan.
Bomm..
Kuro mendarat bagai sebuah bom karena diakibatkan oleh gerakannya yang cepat. Dia bahkan membuat kawah selebar 5 meter.
Nafas Kuro terengah engah. Dia merasakan tubuhnya bisa hancur kapan saja karena menggunakan Triple Accell.
__ADS_1
Dia melirik Deon/Lucifer yang terpotong menjadi dua, tapi tubuhnya kembali menyatu.
"Tch.."
(Sudah kuduga percuma kah. Selain itu...)
Kuro melirik ke sekitarnya. Dia kini dikepung Hell Beast dan Necrodra.
Kuro dalam situasi gawat saat ini. Meskipun membunuh Hell Beast dan Necrodra mudah bagi Kuro, namun jumlah yang banyak membuat dia kewalahan.
Satu satunya cara untuk mengakhiri situasi ini hanyalah dengan membunuh Deon/Lucifer, tapi berapa kalipun Kuro menebas Deon/Lucifer, tubuh dia akan kembali seperti semula.
Tapi-
Dengan Eyes of Origin, Kuro melihat sesuatu saat tubuh Deon dan Lucifer menyatu.
Kecepatan regenerasi tubuh Deon/Lucifer puluhan kali lebih cepat dari Necrodra, dan itu membuat Deon hampir tak bisa dikalahkan, tapi bukan itu yang menarik perhatian Kuro.
Kuro lebih tertarik kepada Scullia Cristal yang menyatu dengan Magic Arm Deon.
Sculiia Cristal sebenarnya adalah sebuah segel yang sangat kuat, tapi bukan berarti tak memiliki kelemahan yaitu sihir elemen suci.
Ada dua cara menggunakan Scullia Cristal, yaitu menggabungkan dengan tubuh, dan menggabungkan dengan Magic Arm/Magic Beast.
Keduanya memiliki keuntungan dan kekurangan.
Keuntungan menggabungkan dengan tubuh, pemakai akan memiliki kekuatan dan sihir yang luar biasa, tapi jangka hidup akan menjadi pendek karena Lucifer lebih cepat menguasai tubuh pemakai. Menurut catatan, penyihir yang memakai cara ini hanya bisa bertahan hidup paling lama 6-7 hari.
Sedangkan Deon menggunakan cara kedua, menggabungkan Scullia Cristal dengan Magic Arm. Keuntungan cara ini masa hidup lebih lama yaitu sekitar 12-14 hari dan semakin akhir masa hidupnya, maka kekuatan sihir akan semakin kuat. Inilah alasan kenapa Deon menyerang setelah lebih dari 10 hari.
Dan inilah kenapa Kuro dan lainnya bisa menebak Deon akan menyerang setelah mereka tiba.
Sekarang tekanan sihir Deon puluhan kali lebih kuat daripada saat yang Kuro ingat. Apalagi setelah bergabung dengan Lucifer maka kekuatan Deon setara dengan Paladin atau bahkan lebih kuat.
-Tapi bukan berarti Kuro tak bisa mengalahkan Deon/Lucifer.
Yang menjadi masalah adalah jika keadaan seperti ini terus, maka dia tak memiliki tenaga untuk menghakhiri Deon.
"Kh..."
Kuro menggertakan giginya. Dia harus membuat pilihan sulit dengan tak menggunakan Eyes of Origin.
Mata hitam Kuro kini telah kembali.
Kuro masih belum sepenuhnya menguasai Eyes of Origin jika terus menggunakannya, Kuro tak tahu resiko yang dia akan hadapi.
Sekarang Kuro hanya menebas Hell Beast dan Necrodra yang menyerang dirinya dengan kecepatan minimal.
Dia juga tak menggunakan Accell Art karena itu akan membuat tenaganya terkuras dengan cepat.
Seekor Hell Beast berbentuk seperti ogre menyerang Kuro. Tak seperti Hell Beast lainnya, Hell Beast itu memiliki tubuh kekar dan berbadan gemuk.
Hell Beast itu menyerang menggunakan tinjunya yang 3 kali lebih besar dari kepala manusia.
Kuro menahan dengan pedangnya, tapi dia justru terpental ke belakang.
(Kuh... Hell Beast tipe petarung kah?)
"?!"
Kuro melirik ke belakang dan menemukan Hell Beast yang memiliki mulut selebar pintu dengan ribuan gigi runcing bersiap menerkamnya.
Kuro sekarang menuju tepat ke arah mulut Hell Beast.
Disaat itulah-
"Dragon Art, Spear of Fire"
Sebuah tombak api menutup mulut Hell Beast dan membunuhnya.Kuro lalu mendarat di tanah dan melihat puluhan Demon Beast dan Necrodra mengalami hal serupa.
Di atas langit, sesosok manusia memakai armor naga emas terbang dengan mengepakan sayap yang menyerupai sayap kelelawar.
Manusia itu lalu perlahan terbang ke sisi Kuro.
"Tuan Kuro, aku datang untuk membantu."
Kuro langsung merasa akrab dengan suara manusia yang memakai armor naga emas.
"Lionel kah?"
"Ya. Maaf terlambat karena untuk memakai benda ini membutuhkan waktu lama ahaha.."
Meskipun bukan saatnya untuk tertawa, namun Kuro juga tertawa kecil.
Kuro berdiri tegak dan memasang kuda kuda karena musung kembali datang.
"Mereka benar benar keras kepala. Datanglah Asura."
Lionel juga melakukan hal sama dengan Kuro. Lionel lalu memanggil Magic Arm berupa tombak dengan pisau besar sebagai mata pisau.
"Tapi apakah kau datang sendirian?" tanya Kuro.
"Tentu tidak. Kami tak selemah itu."
Setelah mengatakan itu, delapan cahaya lurus melesat di langit. Delapan cahaya itu adalah laser breath yang terdiri dari 8 elemen sihir.
Ratusan Hell Beast dan Necrodra musnah. Sebuah laser breath tiba tiba muncul mengarah ke Deon, tapi Deon hanya bergerak dengan pelan untuk menghindar.
Laser breath ke sembilan adalah milik Ruby.
-Tapi dari mana 8 laser breath lainnya?
Sebuah kaki mengijakkan tanah hingga tenggelam karena tubuh yang berat.
Dengan raungan yang menggelegar, delapan sosok naga perak terbuat dari metal kini bergabung ke dalam pertempuran.
"Jangan bilang itu adalah..."
"Ya. Kami sudah menyelesaikannya. Senjata rahasia Dragonia. Naga buatan yang memiliki kekuatan setara Dragon King."
"Begitu rupanya..."
Kuro hanya menyipitkan matanya.
"Dan sekarang kita bisa bertarung melawan pengkhianat itu dengan tenang." Lionel melirik Deon/Lucifer yang terbang di atas mereka. "Jujur saja setelah melihat dari dekat, dia benar benar mengerikan."
Disaat yang sama delapan Dragon Arm berpencar ke delapan arah. Ada dua yang terbang di udara, sedangkan yang lainnya menghadapi Demon Beast dan Necrodra yang berada di daratan.
Selain menggunakan Laser Breath, Dragon Arm mempunyai tubuh metal yang terbuat dari bahan khusus. Hasilnya Hell Beast dan Necrodra tak sanggup memberikan dampak berarti.
Dengan cepat jumlah Hell Beast dan Necrodra berkurang dengan drastis. Meskipun begitu, ada yang membuat Kuro merasa tidak tenang.
(Delapan Dragon Arm itu mampu menggunakan delapan elemen yang berbeda. Ah.. begitu rupanya.)
Kuro bisa menduga kekuatan Dragon Arm.
Masing masing Dragon Arm mampu menggunakan 8 elemen sihir. Dengan kata lain Dragon Arm adalah hasil penelitian dari Dragonia untuk menciptakan makhluk yang mampu menggunakan 8 elemen sihir.
(Ini buruk... )
Jika Dragonia menggunakan Dragon Arm untuk menyerang negara lain, itu bisa menjadi bencana besar.
(Tapi...)
Kuro langsung melirik Lionel.
"Tampaknya tuan Kuro sudah tahu betul kekuatan Dragon Arm meskipun hanya sekali lihat. Tapi itu bukan masalah, kami menciptakan mereka untuk keadaan darurat seperti ini."
Meskipun tak terlihat karena armor yang menutupi wajahnya, Kuro yakin Lionel sedang tersenyum.
"Yahh.. kurasa terserah kalian menciptakan dan menggunakan kekuatan itu, tapi aku hanya bisa berharap kalian tak mencari musuh."
Kuro tersenyum, tapi itu senyuman yang menjadi pertanda untuk tak macam macam.
"Baiklah, sekarang kita fokus mengalahkan dia, tapi apa kau yakin ingin membantuku?"
"Jangan bercanda, mengalahkan musuh Dragonia adalah tugas pangeran sepertiku."
Lionel mengepakkan sayapnya dan terbang menuju Deon/Lucifer. Meskipun dihadang oleh Hell Beast, namun Lionel dapat mengalahkan mereka dengan mudah.
Kuro tahu betul seberapa kuat Lionel karena mereka pernah bertarung dalam duel. Kuro menang, tapi dia tahu Lionel memanglah kuat.
Meskipun sekarang kekuatannya meningkat, namun tampaknya kekuatan itu berasal dari dirinya sendiri dan bukan dari Avalon Gear.
Kuro mendesah.
"Kurasa aku akan menggunakan itu..."
Kuro lalu menghubungi Ruby yang sedang menerkam Demon Beast melalui telepati.
[King?]
"Ruby, kurasa saatnya untuk serius."
[Aku mengerti, King]
Ruby dan Kuro memejamkan mata mereka.
Untuk menggunakan Dragon Gear, kedua hati harus menyatu menjadi satu.
[Synchronization Complete]
Tubuh Kuro bersinar. Aura merah menyelimuti tubuhnya dan perlahan membentuk sebuah armor merah menyala.
Dua sayap kelelawar muncul di punggungnya. Pedang Kuro dilapisi api merah dan akhirnya pedang putih Kuro juga menjadi merah sepenuhnya. Tak ketinggalan, lonceng di pedang Kuro juga berubah warna.
Kuro lalu terbang ke arah Deon/Lucifer menyusul Lionel.
Di lorong istana. Suara tembakan memenuhi tempat itu.
Lalia dan Charlmilia bergantian menembak dan menyerang Shadow dengan pedang. Meskipun ini pertama kalinya mereka bertarung bersama, namun kerja sama mereka cukup baik.
Byakko menyerang dari jarah jauh dengan bola angin dan bola plasma. Meskipun tak kena karena Shadow cepat dan selalu menggunakan sihir tingkat tinggi, namun dengan Anticristal Laila dan Charlmilia bisa bertahan menghadapi Shadow.
"?"
Saat sedang bertarung, Laila menyadari lonceng di gelangnya tiba tiba berubah menjadi merah.
Tak hanya itu, tiba tiba dia bisa mendengar suara Kuro di kepalanya.
[Laila?]
"Kuro.....?"
Laila berhenti karena terkejut.
Sedangkan di tempat lain, Aldest dan Lairo terbang menunggangi Laiko menuju Drageass.
Wajah Aldest tenang, namun dia sebenarnya sedang panik.
"Setelah melihat kejadian itu, aku mengerti kenapa Deon ingin menghancurkan negrinya sendiri."
Lairo masih ingat dengan kejadian yang dia lihat. Kejadian yang teramat menyedihkan sehingga Lairo bahkan ingin menangis.
"Ya. Tapi sekarang semuanya menjadi jelas. Dan semuanya lebih buruk daripada yang kita duga."
"........"
Lairo hanya bisa terdiam karena dia tak terlalu paham, tapi satu hal yang dia ketahui.
Ada seorang pengkhianat di Dragonia.
__ADS_1
Dan pengkhianat itu kini tersenyum bagai iblis karena semua rencananya berjalan lancar dan tinggal menunggu waktu untuk penyelesaian.