Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
7th Meeting


__ADS_3

"Fate of Love menceritakan seorang gadis yang bertemu dengan lelaki yang tak dikenal. Mereka bertemu lagi dan lagi hingga akhirnya menjadi sepasang kekasih, benarkan? Tapi apakah itu bisa disebut takdir?"


"Tentu saja. Jika bukan takdir, lalu apa?"


"Tentu saja kebetulan yang sudah diatur oleh sang pembuat manga. Menurutmu apa kejadian seperti itu pernah terjadi di dunia nyata? Lagipula, jika pertemuan beberapa kali bisa membuat seseorang menjadi sepasang kekasih, di dunia ini akan banyak sekali pasangan dengan awal sebuah kekonyolan. "


".................."


" Karena itulah aku bilang cerita itu murahan. Seorang yang yang bisa membedakan realita dengan imajinasi hanyalah orang bodoh. Apa sekarang kau mengerti, Nona?"


"..............."


Pemuda itu benar. Fated Lover hanyalah sebuah cerita yang dibuat oleh manusia. Kejadian di dunia nyata tak pernah ada yang sama dengan cerita di manga.


Laila mengerti, tapi ada hal yang membuat Laila tak senang. Bukan karena secara tak langsung pemuda itu mengatakan dia bodoh, tapi Laila merasakan kalau pemuda itu mengatakan semua itu untuk menyangkal sesuatu.


"Lalu bagaimana pertemuan kita yang sudah terjadi beberapa kali? Bukankah itu juga disebut takdir?"


"Pertemuan kita hanya kebetulan." jawab pemuda itu dengan datar.


"Kebetulan yang terjadi 5 kali berturut turut apa bisa disebut kebetulan?"


"................."


Pemuda itu sekarang terdiam.


Dia menyadari bahwa pertemuan mereka bisa dibilang aneh dan tak masuk akal. Mereka bahkan tak saling mengenal nama masing masing, tapi mereka selalu bertemu. Bukankah itu disebut........


"Kenapa kau terdiam? Kau pasti menyadari apa yang kukatakan tadi benarkan? Takdir ada di dunia ini. Kenapa kau menyangkal adanya takdir? Setiap orang pasti percaya kepada takdir, karena itulah meskipun cobaan berat menghampiri, kita bisa bertahan dan menerima semuanya."


"........................"


Pemuda itu terus terdiam. Laila tahu ini adalah kesempatan untuk menyampaikan semuanya pada pemuda itu.


Di dunia ini takdir itu ada. Seorang yang tak mempercayai takdir adalah seorang yang menghindari kenyataan.


Entah alasan apa, tapi ini membuat Laila jengkel dan marah.


Pemuda itu mendesah dan menyandarkan tubuhnya di pinggir kolam. Dia menutup matanya, lalu setelah beberapa saat, pemuda itu kembali menatap Laila.


"Baiklah. Aku paham maksudmu. Kau pasti tak akan menyerah, jadi sekarang ada yang ingin kutanyakan kepadamu!"


"?"


"Kau bilang pertemuan kita adalah takdir, tapi bagaimana jika aku bilang pertemuan kita hanyalah sebuah sebab akibat."


"Apa maksudmu?"


"Karena aku lewat di depanmu, kau menghentikanku. Karena aku tidur di taman sekolahmu, kau mendatangiku. Karena aku tidur di tempat latihan, aku tak sengaja hampir terkena pedangmu. Karena aku sedang membaca, kau datang karena mencari buku, dan karena aku datang ke restoran, kau datang karena tak ada kursi kosong. Sekarang apakah itu masih disebut takdir?"


".............................."


Sekarang Laila harus menjawab apa?


Dia tahu yang dikatakan pemuda itu masuk akal. Tapi kenapa pemuda itu terus menyangkal adanya takdir? Mungkinkah-


"Hey... mungkinkah kau tak percaya kepada ... takdir?"


Hanya itu alasan kenapa menolak perkataan Laila yang menyebut pertemuan mereka adalah sebuah takdir.


Itu juga menjadi alasan kenapa pemuda itu menyebut Fated Lover adalah cerita murahan. Sejak awal dia tak mengakui adanya takdir di dunia ini.


"Kau sekarang mengerti. Ya. Aku tak pernah percaya yang namanya takdir. Sekarang apa yang ingin kau katakan? Apa kau masih menyuruhku percaya kepada omong kosong yang kau sebut takdir?"


Pemuda itu tersenyum karena merasa sudah menang berdebat dengan Laila. Ini adalah tentang prinsip hidup, bukan mengenai pendapat tentang sebuah cerita buku.


Tapi entah mengapa, Laila merasa tak bisa membiarkan pemuda itu mengatakan takdir tak pernah ada. Itu sama saja menganggap pertemuan mereka dan kencan mereka hanyalah sebuah omong kosong.


Laila berdiri di kolam, lalu menunjuk pemuda itu dengan jarinya.


"Kalau begitu, aku akan membuatmu percaya kepada takdir."


Mendengar perkataan Laila, pemuda itu tersenyum tipis dan menyilangkan tangannya.


"Hooo..oo Menarik. Aku penasaran bagaimana caramu membuatku percaya kepada takdir."


Setelah berpikir sebentar, Laila tahu cara yang paling cocok untuk membuktikan takdir ada di dunia ini.


"Itu mudah. Kita sudah 5 kali bertemu secara kebetulan, tapi aku yakin kau pasti akan menyebut itu sebagai sebab akibat. Jadi jika kita bertemu 7 kali secara kebetulan, maka kau harus mengakui kalau takdir itu benar benar ada, bagaimana? Tidak buruk kan?"


"Hmmm... aku mengerti. Tapi, bagaimana jika aku atau kau sengaja bertemu atau sengaja menghindar? Kita pasti tak akan bertemu kan?"


"Jika kau menghindar atau sengaja bertemu, itu artinya kau takut bertemu dan percaya kepada takdir. Namun jika aku sengaja bertemu atau sengaja menghindar, maka aku akan mengakui tak ada takdir di dunia ini sama sepertimu. Mudah kan?"


"Tapi apa yang kudapat setelah mempercayai takdir di antara kau dan aku?"


"Eh?"


Laila tak memikirkan sejauh itu.


Lalu disaat dia sedang berpikir keras, dia ingat alasan kenapa mereka berdebat, yaitu manga Fated Lover. Bukankah itu sama persis dengan mereka berdua saat ini?


"Kalau begitu, jika kau dan aku bertemu secara kebetulan secara 7 kali, aku akan-----------------------------------------------, bagaimana?"


"Apa kau yakin?"


"Tapi kau tidak boleh curang. Karena jika kau curang, sama saja kau sudah percaya kepada takdir dan apa kau pikir aku tak tahu jika kau curang? Fu fu...."


\=\=>


Laila terbangun dari tidurnya.


Dia perlahan membuka matanya dan bangkit dari tempat tidur.


Entah mengapa malam ini dia bermimpi tentang kejadian yang sudah terjadi 7 bulan yang lalu di ibukota, tepatnya saat dia masih bersekolah di Shiryuu Magic School..


Setelah bangun, dia menyadari kalau saat ini dia bangun lebih awal dari biasanya. Langit masih terlihat gelap dan lampu masih menyala terang.


Tapi Laila sudah tak merasa mengantuk lagi.


Dia berdiri lalu berjalan menuju ke meja yang biasa dia gunakan untuk menulis kisah Alice di mimpinya.


Dia duduk lalu memuka laci yang berada paling bawah. Dia lalu mengambil sebuah kotak kecil yang terbuat dari kayu dan membukanya.


Isi kotak itu adalah sebuah topeng yang sudah terpotong menjadi dua bagian. Ya. Topeng itu adalah milik pemuda yang dia temui di ibukota 7 bulan yang lalu.


Dia mengambil topeng itu dan mengingat kembali pertemuan pemuda itu yang keenam dan terakhir.


"Kuro, mungkinkah kau itu .......Shiro?"


Tangan kiri Laila menyentuh dada bagian tengah. Tak ada bekas luka atau goresan di tubuhnya, tapi sampai sekarang dia masih ingat saat sebuah pedang menusuk tubuhnya.


Dan bagaimana rasa saat mati.


\=\=>


Setelah keputusan dibuat, ada satu masalah lagi yang belum mereka selesaikan.


"Baiklah aku tak akan curang. Tapi siapa namamu? Tapi tolong jangan sebutkan nama aslimu."


"Huh... kenapa?"


"Jika kita tahu nama asli masing masing, bukankah pembicaraan kita tadi hanya sia sia?"


Laila mengerti maksud pemuda itu, tapi bukan nama asli?


Saat itu Laila hanya terpikirkan satu nama yang sudah ada di kepalanya sejak kecil.


"Begitu rupanya, kalau begitu kau boleh memanggilku Alice!"


"............."


Entah mengapa, pemuda itu terdiam setelah mendengar nama itu.


"Ada apa? Apakah nama palsuku aneh?"


"Tidak. Bukan apa apa. Orang orang disini memanggilku Shiro. Salam kenal Alice."


"Salam kenal Shiro. Ha ha ha, ini lucu karena kita baru berkenalan setelah lima kali bertemu. Itupun nama palsu."


"Ya. Itulah cara yang terbaik untuk mengetahui yang disebut tak- um.. tampaknya temanku sudah datang."


Laila lalu menoleh ke arah tempat yang sama saat dia memasuki kolam.


Dia melihat wanita dewasa berdada besar memakai bikini hijau berjalan ke arah mereka. Rambutnya pendek berwarna coklat dan-


(Dia seksi sekali...)


Itulah yang kesan pertama Laila saat melihat wanita yang bernama Tomo. Dia juga merasakan aura misterius dan berbahaya dari wanita itu.


Tomo lalu masuk ke dalam kolam air panas dan bergabung dengan mereka berdua. Tampaknya berendam sambil mengobrol adalah kebiasaan Shiro.


Dia mesum, benarkan?


Laila lalu kembali berendam.


"Hey Shiro, siapa gadis cantik ini?"


"Perkenalkan dia Alice. Dia akan ikut membicarakan hal yang kau cari."


"Hmmm...."


Tomo melirik ke arah Laila dengan tatapan curiga. Atau dia sudah mengetahui identitas Laila sebenarnya?


Tomo tersenyum kecil sambil mengangguk beberapa kali.


"Jangan kawatir, dia bisa dipercaya. Maa.. jika dia membocorkan rahasia ini, kita langsung bisa menghabisinya."


"Gehh?!"


Laila terkejut dan hampir melompat saat mendengar dia akan dibunuh. Laila tahu Shiro kuat dan bisa membunuh dirinya jika dia mau, tapi saat melihat senyuman tipis Shiro, Laila sadar sedang dipermainkan Shiro lagi.


(Akan ku balas kau!)


".....Baiklah. Aku tak punya pilihan lain. Hal yang ingin ku sampaikan adalah mengenai Anticristal yang sekarang mudah ditemukan di pasar gelap. Seperti dugaan kita, ternyata ada kelompok tertentu yang menjual Anticristal dengan harga murah."


"Begitu rupanya."


Shiro mengangguk tanda mengerti, tapi Laila tak paham apa yang mereka bicarakan, lalu dia mengangkat tangannya dan bicara.


"Anoo, bisakah kalian beritahu dari awal. Terus terang aku tak mengerti sama sekali hubungan Anticristal dengan Gio Sevarez."


"Haa...."


Shiro mendesah sementara itu Tomo menaikkan alisnya.


"Shiro, jangan bilang kalau Alice tak tahu apapun mengenai hal yang kita bicarakan?"


"Yupp. Karena itulah aku akan mulai menjelaskannya dengan cepat. Alice, dengar baik baik!"


Laila mengangguk.


"Gio Sevarez tak mudah ditemukan bukan karena dia pandai bersembunyi, tapi dia menjadi sesuatu yang tak mungkin terpikirkan oleh penyihir seperti dirimu. Dia menjadi non penyihir sepertiku."


Mata Laila melebar saat mendengar penjelasan Shiro.


"Eh? Apa itu bisa? Mungkinkah ada hubungannya dengan Anticristal?"


Laila semakin penasaran.


"Aku cukup terkejut kau mengetahui tentang Anticristal, tapi kau tidak salah. Gio menggunakan Anticristal untuk menghilangkan tekanan sihirnya yang cukup besar dan mudah dikenali karena dia penyihir peringkat SS, hal inilah yang membuat Knight kesulitan mencarinya. Tak hanya itu, dia juga memakai topeng sepertiku, tapi topeng kulit yang membuatnya menjadi orang lain. Kau mengerti?"


Laila mengangguk. Laila mengerti dan paham alasan kenapa Gio tak pernah ditemukan. Gio menjadi orang lain.


"Tapi beberapa jam yang lalu Knight sudah menemukan Gio, tapi dia berhasil lolos dan bersembunyi. Lalu aku disuruh untuk mencari tempat persembunyiannya. Sekarang Gio pasti sudah tertangkap, jadi kita bisa tenang dan berendam, benarkan?" lanjut Shiro.


"Baiklah. Aku sejauh ini mengerti. Aku juga mengerti kau orang mesum. "


"Uggg."


Serangan Laila menusuk hati Shiro yang paling terdalam .


"Tapi kami bukan tertarik kepada Gio, tapi darimana Gio mendapat Anticristal."


Tomo masuk menyambung pembicaraan mereka. Dan hal ini membuat semuanya masuk akal bagi Laila.


Anticristal adalah benda anti sihir yang langka dan mahal. Bagaimana Gio bisa mendapatkannya?


"Seperti yang Tomo bilang, Anticristal sekarang mudah dibeli di pasar gelap dan dijual dengan harganya murah oleh kelompok tertentu. Apa kau tahu kelompok itu?"


"Itu masih melakukan penyelidikan. Mereka cukup sulit dilacak." jawab Tomo


Shiro terdiam sesaat seolah mengatakan 'itu tak masalah'. Dia lalu bertanya.


"Kalau begitu apa kau tahu harga satu biji Anticristal?"


"Aku tahu. Aku bahkan sampai terkejut karena harga Anticristal 10 kali lebih murah dari biasanya."


"10 kali lipat lebih murah, maksudmu hanya 10 juta Yold?"


Laila tak ketinggalan informasi, jadi dia bicara dengan semua informasi yang dia tahu.


"Ya. Normalnya harga Anticristal lebih dari 100 juta Yold, hal ini karena kelangkaan Anticristal dan kekuatan Anticristal yang mampu digunakan untuk membunuh penyihir peringkat Master, tapi kali ini harga Anticristal hanya berkisar 10 juta Yold. Aku yakin kelompok itu pasti menjual Anticristal untuk mendapat uang dengan cepat. Shiro, kau tahu apa artinya kan?"


"Cepat atau lambat, sesuatu yang menarik akan terjadi. Ku ku..., tapi kita tak boleh membiarkan mereka."


Laila merasa Tomo dan Shiro sedang membicarakan hal berbahaya, tapi apa?


"Alice. Pembicaraan kita cukup sampai disini. Aku minta semua yang kau dengar jangan pernah beritahu kepada siapapun. Kau mengerti?"


"...Un."


Laila mengangguk. Pembicaraan mereka sudah berada di luar batas orang seperti Laila untuk tahu. Dia tahu karena Shiro berbaik hati membagi informasi.


"Tomo, aku mengandalkanmu untuk mencari tahu kelompok yang menjual Anticristal."


"Anggap saja sudah dilakukan."


Shiro tersenyum senang karena merasa puas mendengar jawaban Tomo.


"Baiklah, sekarang kita tinggal berendam dan bersantai. Tomo, tolong seperti biasa."


"Oke, aku mengerti."


"?"


Tomo lalu memasukkan tangan kirinya ke dalam celah dadanya dan mengambil ponsel.


Mata Laila langsung melebar saat dada Tomo bisa digunakan seperti itu.


(Apa dadaku juga bisa digunakan seperti itu?)


Laila melirik dadanya yang berukuran B cup, lalu menyadari kalau-


(Mustahil dengan ukuran dadaku yang masih kecil.)


"Aha ha."


Laila tersenyum kecut dan melirik ke arah Tomo yang menghubungi seseorang.


Setelah selesai, Tomo memasukan kembali ponselnya ke dadanya yang besar.


Setelah beberapa saat, seorang gadis datang membawa beberapa minuman jus dan sebotol minuman keras.


"Ugg.. bukankah kita masih dibawah umur?"


Batas usia untuk minum alkohol adalah 17 tahun. Laila dan Shiro belum cukup umur, tapi kenapa Tomo menyediakan minuman keras?


Pelayan itu menaruh minuman di pinggir kolam, lalu pergi.


"Jangan bodoh. Minuman keras itu hanya untuk Tomo, aku dan kau cukup minum jus saja. He he..."


"Kau., kenapa kau selalu mempermainkanku?"


"Karena kau terlihat manis saat marah. Ku ku.."


"Ughh"


Wajah Laila langsung merah padam. Dia malu.


Disaat itulah Tomo tiba tiba mengambil ponsel dari dadanya dan memeriksa pesan masuk.


"Shiro, tampaknya kita mendapat masalah yang cukup merepotkan."


"?"


"Gio berhasil lolos dan lokasi dia sekarang tak diketahui."


""Huh?""


\=\=\=>


4 hari berlalu sejak Gio berhasil meloloskan diri dari kepungan para Knight. Hal ini cukup mengejutkan karena Knight yang mengepung Gio berjumlah lebih dari 20 Knight, tapi dia tetap berhasil lolos.


Gio kuat. Itulah yang terpkirkan oleh Laila saat ini.


Dia sekarang berada di sebuah restoran bersama Sella, Mitra dan Aleca mengobrol sambil makan malam.

__ADS_1


Mereka berempat memakai pakaian terbaik mereka dan bukan seragam sekolah karena ini adalah hari libur.


Seperti biasa mereka berempat sedang membahas pembicaraan para gadis yang kadang tak penting dan tak masuk akal.


"Hei lihat, aku menemukan berita menarik mengenai pria bertopeng!"


Aleca menunjukkan sebuah berita di layar ponselnya kepada Laila, Mitra, dan Sella.


Berita itu berisi mengenai pemuda bertopeng yang berhasil mengenai target permainan darts di game center. Ini berita yang cukup menarik mengingat tingkat kesulitan permainan.


"Oh.. aku juga tahu itu." Ucap Mitra setelah melihat berita. "Berita itu juga menyebut pemuda itu mendapatkan hadiah untuk pacarnya. Haa... kesempatan kita ternyata sudah tak ada."


"Un .Un..."


Mereka bertiga mengangguk bersamaan. Sementara Laila mendesah dalam hati dan sekaligus bersyukur karena teman temannya tak mengetahui kalau saat itu dia dan Shiro berkencan.


Disaat yang sama dia mengingat kejadian setelah mendengar kabar bahwa Gio berhasil lolos.


"Shiro, apa yang harus kita lakukan? Menunggu kabar lebih lanjut atau..."


"........"


Shiro terdiam dan menaruh tangannya ke dagu. Dia melirik ke arah Laila beberapa saat.


"Tak ada pilihan lain. Alice, maaf, tapi aku minta kau segera pulang dan ingat, jangan memberi tahu siapapun. Aku dan Tomo tampaknya harus mengurus masalah ini secepatnya. Apa kau mengerti?"


Shiro tampak serius. Ini baru pertama kalinya Laila melihat Shiro seperti itu.


Ini adalah pertanda buruk.


Di kekaisaran terdapat pasukan khusus yang mengurus masalah dari balik bayangan, Shadow Knight. Tampaknya Shiro dan Tomo adalah anggota pasukan itu.


Laila bahkan juga paham nama Tomo-pun sebenarnya hanya nama palsu seperti Shiro.


Tampaknya Laila terlibat dalam hal yang luar biasa dan sekaligus berbahaya, karena itu dia tak punya pilihan lain selain menuruti Shiro.


"..Ba-Baiklah..."


"Kalau begitu, Tomo ayo kita pergi. Kau tahu apa yang harus kau lakukan selanjutnya kan?"


"Yahh.. mau bagaimana lagi. Mereka adalah kumpulan orang tak berguna."


Tomo dan Shiro berdiri dan keluar dari kolam, mereka berniat akan pergi, tapi sebelum pergi Shiro menoleh ke arah Laila dan berkata.


"Alice, satu hal yang harus kau ketahui, takdir tidak pernah ada di antara kita berdua. Ingatlah kata kataku ini!"


"...."


Laila hanya terbengong setelah mendengar itu. Dia sekarang tak bisa berbuat banyak kecuali melihat Shiro dan Tomo pergi meninggalkan dirinya.


Setelah mereka berdua pergi, Laila memutuskan segera pulang. Dia berganti baju dan menemukan panggilan tak terjawab 10 kali dari ibunya.


Itu membuat Laila panik dan merasa bersalah karena membuat ibunya cemas.


Setelah itu, Laila pulang setelah menghubungi Hyura untuk menjemputnya di pemandian air panas.


Sesampainya dia di rumah, dua orang sudah menunggu Laila dengan kedua tangan dipinggang.


Awalnya Laila mengira nenek dan ibunya marah, tapi ternyata mereka justru menanyakan tentang kencan pertamanya dengan Shiro.


Satu hal yang Laila tak sangka adalah, ibu dan nenek Laila ternyata juga berada di Lotus Mall dan melihat Laila berkencan.


Saat itulah Laila berpikir kalau takdir sungguh mengerikan.


"Haa...."


Laila mendesah ketika mengingat interograsi yang dilakukan ibu dan neneknya.


"Laila, apa ada masalah?" tanya Mitra.


"Bukan apa apa, aku hanya mengingat sesuatu yang menyebalkan."


Laila lalu minum jus yang dia pesan.


"Hei.. kalian tahu, berita ini juga menyebutkan pacar pemuda itu sangat cantik. Meskipun identitas pemuda bertopeng dan pacarnya tak diketahui, namun pacarnya berambut pirang dan bermata merah ruby. Hmmmm...."


""""?!""""


Aleca, Mitra dan Sella sadar kalau gadis dengan ciri ciri seperti itu ternyata ada di dekat mereka. Gadis itu juga paling sering bertemu dengan pemuda bertopeng.


Lalu secara otomatis mereka bertiga melirik ke arah Laila dengan tatapan curiga.


""""Ji~~~~""""


"Ahhh. aku pergi ke toilet sebentar."


Hanya itu satu satunya cara agar bisa menghindar dari mereka bertiga.


Laila berdiri dan pergi menuju ke toilet perempuan restoran itu.


Di toilet dia melihat wanita yang sedang merapikan make upnya dan pergi. Sekarang dia sendirian di toilet itu.


Tujuan Laila pergi ke toilet adalah untuk menghindar, jadi dia hanya melihat bayangan di cermin dan merapikan rambutnya beberapa kali.


Disaat itulah dia mendengar suara ledakan yang cukup keras. Dia bahkan merasakan lantai bergetar dengan kuat.


"Ini kan..."


Dugaan Laila benar. Setelah beberapa saat, Laila mendengar peringatan untuk segera pergi menuju ke tempat perlindungan.


Ini wajar mengingat pertempuran antar penyihir berdampak cukup besar.


Rumah dan bangunan hancur adalah hal normal dalam pertempuran antara penyihir, tapi berkat bantuan sihir, bangunan yang rusak bisa cepat diperbaiki.


(Ledakan tadi cukup keras, itu berarti lokasi pertempuran tak jauh dari sini.)


Laila mencoba tenang dan menganalisa situasi.


(Mereka bertiga sekarang pasti sudah berada di tempat perlindungan. Kurasa aku tak perlu cemas.)


Dan sekarang adalah giliran Laila yang harus pergi menuju ke tempat perlindungan yang biasanya terletak di bawah tanah, tapi sebelum di bergerak-


Booooommm.


Dinding di depan Laila tiba tiba hancur seperti dihantam oleh sesuatu, tidak, lebih tepatnya dilempar oleh sesuatu.


Debu berterbangangan dan membuat Laila tak bisa melihat benda yang ternyata adalah seorang manusia.


"Kh... Sial. Orang tua itu memakai trik licik."


Laila mendengar suara tak asing dari orang itu. Orang itu menancapkan pedang magilium ke lantai untuk membantunya berdiri.


Lalu orang itu menoleh ke arah Laila saat menyadari keberadaan orang lain.


"..................."


"................."


Laila dan orang itu terdiam.


Disaat itulah debu menghilang dan membuat orang itu terlihat jelas.


Pemuda berambut hitam bertopeng putih yang memakai kaos tanpa lengan berwarna hitam dan celana panjang hitam. Dan dua buah pedang dua sisi terbuat dari Magilium berada di kedua tangannya, tapi kedua pedang itu mengalami banyak bekas tebasan pedang dan berlubang.


Pemuda itu juga mengalami berbagai luka sayatan di berbagai tempat, tapi itu hanya luka kecil dan tak terlalu parah.


"Yo... Alice, apa yang kau lakukan disini?"


Shiro bertanya dan keluar dari puing bangunan.


"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau bisa ada disini. Apa kau tahu di sini adalah toilet perempuan? Dan kenapa kau membawa pedang?"


Shiro lalu mendekat ke arah Laila.


"Begitu rupanya. Sayang sekali aku tak bisa mengintipmu."


"Coba katakan sekali lagi!"


Laila langsung menciptakan bola api dan bersiap mengarahkan ke Shiro.


"Aku hanya bercanda. Lagipula aku sudah melihatmu saat memakai bikini, itu sudah cukup bagiku."


"............."


Wajah Laila memerah dan disaat yang sama dia membuat bola api menjadi lebih besar.


"Baiklah aku menyesal. Tapi sebaiknya kau cepat pergi ke tempat perlindungan. Disini berbahaya.!"


"Huh?"


"Bukannya kau juga harus pergi ke tempat perlindungan. Tapi kenapa kau terluka sebanyak itu?"


"Dasar bodoh. Aku adalah orang yang bertarung, kenapa harus pergi ke tempat perlindungan?"


"Eh? Apa kau bilang? Bertarung? Bertarung dengan siapa?"


"Tent- !! Alice menunduk!!"


Tiba tiba Shiro mendorong Laila hingga menempel ke lantai.


Lalu dinding toilet sekali lagi tiba tiba hancur oleh bola api besar.


Debu dan puing berterbangan ke segela arah tepat diatas Laila. Dia juga merasakan panas dari bola api.


"Alice, kau tak apa apa?"


"Ya begitulah. Tapi apa itu tadi?"


Mereka bangkit dan melihat dinding sudah hancur sepenuhnya. Mereka bisa melihat kota yang hancur di berbagai tempat dan terbakar.


Dan mereka juga melihat seorang lelaki tua berjalan ke arah mereka dengan kedua tangan membawa magic arm berupa pedang ganda..


Laila tahu orang tua itu. Dia adalah Gio Sevarez.


"Shiro, jangan bilang kau bertarung melawan dia?"


"Yuup. Dan tampaknya kita harus kabur dulu."


"Apa maksudmu?"


Disaat itulah Gio menyilangkan pedangnya di depan. Lalu pola mantra sihir muncul di pedang.


Setelah itu Gio dengan cepat mengayunkan pedangnya kebawah. Lalu muncullah pedang api berbentuk X yang menuju ke arah Shiro dan Laila dengan kecepatan tinggi.


Tak hanya satu, Gio lalu menciptakan pedang api lebih dari 6.


"Alice!"


Shiro dengan cepat memegang dua pedang dengan satu tangan lalu menarik tangan Alice dengan tangan lainnya dan keluar dari toilet menuju dalam restoran.


Mereka berlari menuju pintu masuk sisi lain restoran. Mereka dapat mendengar suara ledakan kecil dan cahaya api yang membakar restoran.


Mereka berhenti di tengah jalan dan melihat Gio berjalan menuju ke arah mereka.


"Ini benar benar gawat. Alice, aku minta kau cepat pergi dari sini sejauh mungkin!"


Shiro melepas tangan Alice dan memegang pedang satunya. Lalu dia memasang kuda kuda tanda siap bertarung.


"Jangan bodoh! Mana mungkin aku membiarkahmu melawan Gio sendirian. Tapi kemana para Knight?"


"Mereka mendapat perintah untuk tak mengganggu pertarungan ini. Apa kau mengerti? Jadi sekarang cepat pergi! Ini bukan saatnya untuk main main!"


"............"


Tapi bukankah Shiro hanya manusia biasa? Dia seharusnya tak akan mungkin menang melawan Gio. Luka dan pedang magilium hampir patah adalah bukti bahwa Shiro tak akan mampu menang.


Sudah menjadi pengetahuan umum pedang Magilium tak cukup kuat jika digunakan melawan magic arm, tapi Magilium akan mampu seimbang jika dialiri mana.


Shiro pasti tak sebodoh itu kan?


"Sial. Baru kali ini aku melihat orang bodoh sepertimu. Scarflare!"


Dua buah pedang merah membara muncul di tangan Laila.


"Jangan bodoh. Dia bukan tandinganmu!"


"Siapa yang bodoh, kau atau aku? Mana mungkin kau bisa menang melawan dia? Tapi aku tak mengerti kenapa dia terlihat ingin sekali membunuhmu? Apa yang kau perbuat?"


Inilah yang sejak tadi mengganggu pikiran Laila. Kenapa Gio tak melarikan diri dan teropsesi membunuh Shiro?


"Yahh... aku cuma menebas punggungnya lalu dia marah!"


"Huh?"


Pantas saja dia marah. Itulah hal yang pertama kali muncul di pikiran Laila.


"Baiklah jika kau ingin membantuku bertarung, kau boleh saja, tapi lihat dulu pertarunganku, jika aku dalam keadaan darurat, kau boleh membantu. Apa kau mengerti?!"


"Baiklah, kurasa itu bukan masalah, tapi apa kau yakin bisa menang?"


Shiro tersenyum.


"Bodoh. Apa kau lupa pernah kalah dariku?"


Laila ingat itu pernah terjadi. Dan entah mengapa itu membuatnua jengkel.


Disaat yang sama, Gio sudah di depan mereka di jarak 10 meter dan berhenti bergerak.


Disaat itulah 4 lingkaran sihir muncul di samping kiri dan kanan Gio. Dan dari lingkaran sihir itulah muncul 4 Gio lainnya.


"Bocah. Kali ini kau akan mati!"


Gio berteriak dengan penuh amarah dan mengarahkan salah satu pedangnya ke Shiro.


"Shiro.. mungkinkah itu?"


"Ya. Itu adalah kekuatan Soul, Twin Body. Dia mampu menciptakan tiruannya dengan kekuatan yang sama dengan yang asli. Inilah alasan dia begitu kuat meskipun sendirian."


"........ Bagaimana caranya kau bisa menang melawan dia?"


"Itu mudah. Aku cukup menebasnya dengan pedangku!"


Tiba tiba Shiro berlari ke arah 5 Gio yang juga berlari ke arah Shiro.


Kelima Gio itu bergiliran maju dan menyerang Shiro. Pedang Shiro dan 5 Gio beradu dan menercikan cahaya kemerahan. Mereka saling menebas dan menghindar tebasan musuh mereka.


Yang luar biasa dari pertarungan ini adalah kemampuan Shiro yang berhasil menghindar dan bertarung seimbang melawan 5 Gio.


"Luar biasa..."


Laila berkeringat dingin saat melihat Shiro beradu pedang lagi dan lagi hingga memercikkan cahaya kemerahan.


Shiro berhasil menghindar dengan jarak setipis kertas, namun karena pedang Gio lainnya sudah mengincar, maka Shiro tak bisa menghindar, namun dia hanya mendapat luka sayatan kecil. Puluhan sayatan kecil.


(Dia luar biasa, tapi jika seperti ini terus...)


Shiro dapat terus bertarung, tapi pedang magiliumnya tidak. Sampai kapan pedang Shiro mampu bertahan?


"Eh?"


Tiba tiba 2 Gio tak menyerang Shiro dan sedikit menjauh.


2 Gio itu menggabungkan 2 pedangnya hingga menjadi satu dan mengangkat ke atas dengan kedua tangan.


Lalu lingkaran sihir muncul di pedang dan api langsung berkorbar.


""Sacred magic art, Twin Flame Blaze""


Pedang api memanjang hingga 20 meter ke atas. 2 Gio itu lalu mengayunkannya ke arah 3 Gio yang sedang bertarung melawan Shiro.


Tapi saat di tengah udara, 2 api itu menjadi 1 pedang yang lebih besar.


"Gawat!"


Laila dengan cepat berlari menjauh karena dia berada di jalur serangan, tapi Shiro tidak.


Shiro masih bertarung dengan 3 Gio dan terkena serangan sacred magic art.


Boooooooooooommmmmmm..


Pedang api itu mengenai Shiro dan 3 Gio lainnya. Ledakan terjadi dan api membakar jalanan hingga sejauh 100 meter. Bahkan 3 bangunan yang berada di jalur juga terkena hingga tak berbentuk dan terbakar.


"Shiroooooo!!"


Laila berhasil menghindar dan selamat. Dia berteriak memanggil Shiro yang kemungkinan besar sudah mati.


Tapi-


""Gu ah...""


2 Gio yang tersisa tiba tiba mengerang kesakitan. Hal itu karena tubuh mereka tertusuk oleh dua pedang Magilium dari belakang.


Darah mengalir deras saat dua pedang itu ditarik keluar dari tubuh mereka.


Akhirnya tubuh mereka tumbang dan menghilang menjadi partikel cahaya.


Setelah 2 Gio itu menghilang, yang tersisa hanyalah Shiro yang terengah engah dan penuh luka di belakang mereka.

__ADS_1


".................."


Shiro hanya terdiam saat melihat tubuh Gio menghilang. Shiro tahu ini belum berakhir.


"Shiro..."


Laila tersenyum senang melihat Shiro selamat dan menang. Laila dengan cepat bangkit berniat berlari menuju Shiro, tapi-


"?!... Gu ahh.."


Mulut Laila mengeluarkan darah. Dia merasakan sakit yang luar biasa di bagian tengah dadanya.


Dia lalu melirik ke dadanya dan melihat pedang menembus tubuhnya.


"Ughhhh."


Laila melirik ke belakang dan melihat Gio tersenyum bagai iblis.


"ALICEEE!!"


Laila dapat mendengar Shiro berteriak dan berlari ke arahnya.


Scarflare menghilang menjadi partikel. Tangan kanan Laila ingin meraih Shiro, tapi diaat itulah Gio menarik pedangnya dari tubuh Laila.


"..aa ahh.."


Darah berceceran dan memenuhi pedang Gio, tapi tampaknya Gio tak puas hanya menusuk Laila.


Gio sekarang bersiap menebas tubuh Laila dengan pedang di tangan kanannya.


Tapi tepat sebelum pedang memotong tubuh Laila, Shiro tiba tiba sudah berada di depan Gio dan menahan serangan Gio dengan pedang.


"Tsk..."


"He he..."


Gio tersenyum bagai iblis dan menambah kekuatannya.


Kraak.... Kraak...


Pedang Shiro mulai retak. Itu tanda pedang Shiro sudah tak mampu bertahan lagi. Pedang Shiro bisa patah kapan saja.


"........."


Disaat bertahan, Shiro melirik Laila yang sudah tak berdaya di tanah. Darah mengalir deras. Laila bisa mati kapan saja. Shiro sadar tak punya banyak waktu. Dia harus menyelamatkan Laila.


Sekarang masih belum terlambat.


Gio menyadari Shiro lengah, jadi dia mulai menyerang lagi.


"?!"


Shiro terkejut saat tangan kiri Gio mengayunkan pedang secara diagonal.


Menyadari itu, Shiro bermaksud menahan dengan pedangnya yang lain, tapi-


Pedang Shiro patah dan hal itu membuat pedang Gio berhasil mengenai tubuh Shiro. Tidak. Shiro memudurkan tubuhnya dan berhasil menghindar dengan setipis kertas, tapi serangan Gio berhasil mengenai wajah Shiro.


"Ohhh..."


Mengambil kesempatan saat Gio lengah, Shiro berteriak dan menendang Gio tepat di bagian perut hingga terdorong beberapa meter dan membentur dinding.


Tak peduli dengan pipinya yang berdarah, Shiro mengangkat tubuh Laila ke tempat lain menjauh dari Gio. Tepatnya ke sebuah pinggir bangunan.


Disana dia menaruh tubuh Laila dan membuang pedangnya yang sudah patah. Sekarang dia hanya punya satu pedang tersisa, namun pedang itu juga sudah mencapai batas.


Tapi sekarang dia punya sesuatu yang lebih penting daripada memikirkan pedang.


"Alice, bertahanlah!"


Shiro menunduk dan mengambil sesuatu dari saku celananya. Itu adalah sebuah botol kecil yang berisi air.


Shiro dengan cepat membuka tutup botol dan menuangkannya ke luka Laila. Bersamaan dengan asap kecil, luka Laila perlahan menutup dan darah sudah berhenti mengalir.


Tapi wajah Laila masih pucat. Lukanya menang tertutup, tapi Laila kehilangan banyak darah.


"...Shi...ro..."


Setelah beberapa saat, Laila perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur dan tak bisa melihat dengan jelas, tapi sekarang dia sudah tak merasakan sakit lagi.


"Syukurlah. Aku tak terlambat. Aku seharusnya sejak awal tak melibatkanmu. Maaf Alice."


Di saat itulah tiba tiba topeng Shiro terlepas dan jatuh ke dada Laila. Topeng itu terpotong menjadi dua karena terpotong oleh pedang Gio.


Disaat itulah wajah yang selama ini berada di balik topeng putih terlihat.


"Shi...ro? Jadi itukah wajahmu yang sebenarnya?"


"........."


"Sayang, aku tak bisa....... melihatnya dengan jelas."


Luka Laila sudah sembuh, tapi dia sudah kehilangan banyak darah.


Kepalanya terasa pusing dan belum bisa bergerak. Pandangannya juga kabur. Itulah yang menyebabkan dia tak bisa melihat wajah Shiro.


"Sudahlah. Sebaiknya kau beristirahat. Aku akan segera menghabisi Gio, jadi tidurlah agar kau cepat pulih!"


Shiro lalu berdiri, tapi dia berhenti ketika tangannya dipegang oleh Laila.


"Aku mengerti, tapi aku.... minta jangan menya....lahkan dirimu.. Akulah yang ingin terlibat dalam masalah ini. Sehar..rusnya aku yang minta maaf, Shiro..."


Mendengar itu, Shiro terdiam, tapi tak berapa lama kemudian dia tersenyum.


"Ya... kau memang selalu membuatku repot, jadi sekarang diamlah dan jangan bergerak. Aku pasti akan mengalahkan dia..."


"............, Shiro.."


Shiro berdiri dan mengambil pedangnya. Lalu dia menoleh ke arah Gio yang sudah bersiap dengan pedang ganda miliknya.


Shiro maju mendekat ke arah Gio.


"Jadi kau tak berusaha kabur kali ini, Kakek?"


"Huhh.. seharusnya kau menghormati yang lebih tua, bocah. Aku tak menyangka mereka mengirim bocah sepertimu untuk menghentikanku Ha ha ha ha... "


Gio tertawa puas.


"............"


Sementara itu, Laila hanya bisa melihat dan mendengar dari tempat dia berbaring. Saat ini pandangannya kabur, jadi dia tak bisa melihat jelas, tapi dia tahu Shiro dan Gio sudah mulai bersiap bertarung dengan mempertaruhkan nyawa mereka.


"Yaa... Kakek tahu kan mereka adalah kumpulan orang tak berguna, tidak, kurasa Kakek yang terlalu kuat untuk mereka."


"..........."


"Kau bisa menggandakan tubuhmu dan mereka semua memiliki kekuatan yang sama dengan tubuh aslimu. Kau memiliki kekuatan yang bisa dibilang curang. Yahh... tapi itulah kekuatan yang disebut [Soul]."


Gio hanya tersenyum kecil saat mendengar itu dari Shiro.


"Sudahlah. Aku tak punya banyak waktu meladenimu. Aku akan membunuhmu lalu membunuh gadis itu, jadi maaf saja bocah..Double Shadow"


20 lingkaran sihir muncul di tanah. Lalu dari lingkaran sihir itu muncul para Gio. Sekarang Gio berjumlah 21 dan mengepung Shiro dari berbagai arah.


"Menarik, inikah kekuatanmu yang sebenarnya?"


"Ya begitulah, tapi apa kau yakin bisa mengalahkanku dengan pedang seperti itu?"


".........."


Shiro terdiam dan melirik pedang magilium yang sudah mencapai batas.


"Tidak. Kurasa pertarungan kita hanyalah untuk mengulur waktu hingga bantuan datang?"


"Itu dugaan yang bagus, tapi dugaanmu salah, Kakek"


"?"


Senyuman Gio langsung menghilang saat mendengar itu. Wajah Gio seolah olah berkata "Apa kau serius bocah?".


"Tak ada yang datang karena jika datang aku akan langsung membunuh mereka. Apa sekarang Kakek mengerti kenapa mereka mengirimku untuk menghentikanmu?"


"Jangan bilang kalau kau ini sebenarnya-"


"Ya begitulah. Sayangnya sekarang aku hanya punya pedang murahan, tapi pedang murahan sudah cukup untuk membunuhmu."


Shiro mengarahkan pedangnya ke salah satu Gio.


Saat ini Shiro tak tahu mana Gio yang asli, tapi itu bukan masalah baginya.


"Menarik. Menarik. .. Kau adalah orang paling menarik yang pernah aku temui bocah. Baiklah, aku tak akan kabur. Aku juga akan bertarung dengan sungguh sungguh."


"Huh.. jangan banyak omong dan cepat kita mulai. Apa kau sudah melamban karena sudah tua, Kakek."


"Hua ha ha ha ha..."


Tak hanya Gio, Shiro juga tersenyum puas.


Mereka berdua adalah pembunuh, jadi mereka saling mengerti satu sama lain Karena itulah mereka tak akan menahan diri dan mengeluarkan semua yang mereka miliki. Ini adalah pertarungan terakhir.


21 Gio maju dan mengepung secara bersamaan. Sementara itu, Shiro memasang kuda kuda dan menarik pedangnya ke belakang.


Melihat itu, Laila berpikir kalau Shiro pasti akan mati, tapi dia tak bisa melihat akhir pertarungan itu karena sudah tak sadarkan diri.


Disaat dia sadar,yang pertama kali dia lihat adalah atap rumah sakit.


"Dimana aku?"


"Laila, kau sudah sadar?"


"Laila... Syukurlah... kami cemas setengah mati tahu."


"Unn ..Unn."


Aleca, Mitra dan Sella duduk di samping tempat tidur Laila.


Mereka tampak kawatir dan sedih. Bahkan Laila dapat melihat bekas mereka menangis.


"Maaf... membuat kalian kawatir."


Laila kemudian bangun dan duduk.


"Sudahlah. Itu sudah wajar. Kita ini teman kan?"


"Un ..unn.."


"Yahhh... syukurlah kau hanya kekurangan darah, tapi aku terkejut saat kau mengalami luka tusukan tepat di bagian dadamu."


Disaat itulah, Laila mengingat kembali saat dia tertusuk oleh pedang Gio. Untung saja Shiro menyelamatkannya.


"Shiro?!"


"""...........?"""


"Shiro... apa yang terjadi dengannya? Apa dia selamat? Dimana dia sekarang? Lalu bagaimana dengan Gio ap-"


Plaaakk...


Laila ditampar oleh Aleca hingga memerah.


"Apa kau sudah tenang sekarang?"


".....Ya, tapi aku akan menamparmu!"


"Ugh..Baiklah. Tapi nanti setelah kau sembuh."


"Laila, apakah Shiro adalah pemuda bertopeng itu? Jika iya sayang sekali kita tak tahu apa yang terjadi dengannya."


Mitra menjelaskan.


"Kami hanya menemukanmu tergeletak penuh darah, yahhh... tepatnya para Knight yang menemukanmu. Kau ditemukan tak sadarkan diri dan sebuah topeng berada di dadamu. Itu saja. "


Aleca ikut menjelaskan apa yang terjadi kepadanya. Disaat itulah Sella memberikan topeng putih yang terpotong menjadi dua bagian.


"Lalu bagaimana dengan Gio? Apa dia berhasil lolos lagi?"


Saat menanyakan Gio, mereka bertiga menatap satu sama lain. Mereka memberikan kesan seolah olah tak ingin membicarakannya.


"Laila, Gio ditemukan tewas terpotong menjadi beberapa bagian, bahkan kepalanya terpenggal."


"Eh?"


"Tak hanya itu, ditemukan dua pedang magilium yang hancur dan diduga sebagai senjata yang membunuh Gio. Jujur saja, aku tak percaya jika pemuda itu mampu membunuh Gio seperti itu. Yahhh... tapi dia tetap keren, benarkan?"


"Ya. Tentu saja."


"Un Unn"


Mendengar itu, Laila tersenyum pahit.


Tapi dia menyadari bahwa kemungkinan besar Shiro selamat dan menang. Ini adalah suatu hal yang sulit dipercaya mengingat Shiro bukan seorang penyihir dan hanya menggunakan pedang Magilium.


Disaat itulah angin berhembus kencang dari jendela yang terbuka. Angin itu menerbangkan kelopak bunga mawar putih yang menghiasi ruangan Laila.


Kelopak itu mendarat tepat di atas topeng Shiro.


"......."


Disaat itulah Laila tiba tiba tersenyum dengan sendirinya.


"Jika takdir benar benar ada kita akan bertemu lagi kah?"


"Eh?"


"Hmmm... apa maksudmu?"


"Unnn?"


"Tidak. Aku hanya bicara sendiri."


Aleca, Mitra dan Sella menyadari kalau Laila menyembunyikan sesuatu dari mereka.


Tapi itu bukanlah masalah bagi Laila.


5 bulan berlalu. Laila tak pernah bertemu dengan Shiro atau orang yang memiliki kemiripan dengan Shiro.


Setelah lulus dari Shiryuu Magic Shool, Laila pergi ke kota Areshia yang menjadi lokasi Kuryuu Academy.


Kuryuu Academy adalah sekolah yang menjadi tradisi di keluarga Laila. Ayah, Ibu, Kakek, Nenek, dan Kakaknya semuanya bersekolah di Kuryuu Academy.


Meskipun dia merasa sedih saat berpisah dengan Mitra, Aleca dan Sella, tapi dia sudah memutuskan untuk pindah ke Kuryuu Academy. Dia tak ingin tradisi itu hilang.


Disaat ujian penerimaan murid, Laila mendapatkan peringkat S sebagai seorang penyihir. Dia senang karena usahanya tidak sia sia berlatih selama 7 bulan ini.


Lalu karena terlalu banyak yang menjadi penggemarnya, dia melarikan diri karena kewalahan.


Dia berlari di lorong dengan sekuat tenaga. Meskipun ada peraturan dilarang berlari di lorong, tapi saat itu Laila tak peduli dan terus berlari.


Dan ketika berbelok di tikungan, dia menabrak seseorang hingga terjatuh ke lantai.


Orang itu berambut hitam dan memiliki mata hitam. Di tangan kanannya sebuah pedang bersarung hitam yang berhiaskan dua lonceng.


Kuro mengulurkan tangannya ke Laila yang masih terjatuh.


"Ahh terima kasih."


Laila menerima uluran tangan Kuro dan berdiri. Disaat itulah mereka berdua saling menatap satu sama lain untuk pertama kalinya.


"............"


"............."


Mereka berdua terdiam untuk sesaat.


Disaat itulah Laila merasakan sesuatu yang tak asing saat bertemu dengan pemuda yang bernama Kuro.


(Shiro?)


"?!"


Tapi disaat itulah dia mendengar suara puluhan langkah kaki yang mendekat.


Hal itu membuat Laila secara reflek berlari, tapi disaat berlari dia menoleh ke arah belakang dan melihat senyuman muncul di bibir lelaki yang bernama Kuro.


Itu adalah senyuman yang sudah lama tak dilihat Laila.


"Kuro, kenapa kau tersenyum?"


"Tidak," Ucap Kuro sambil berbalik. Dia berjalan lagi dan berpapasan dengan puluhan murid yang mengejar Laila.


"Nenek, apakah kau percaya kepada takdir?"


"Apa maksudmu?"


"Ahh.. tidak. Lupakan saja."


"?"

__ADS_1


__ADS_2