Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Regret and Choice


__ADS_3

"Jadi kau mengajakku karena Electra memberitahumu?"


Charlmilia mengangguk, sedangkan Fila membuat ekspresi tak percaya.


"Tentu bukan alasan itu saja kenapa aku memintamu. Sebagai penyihir kau mungkin satu satunya yang memiliki kekuatan setara dengan kami. Tetapi yang terpenting kau memiliki perasaan yang sama denganku. Perasaan untuk ingin dicintai Kuro"


"..."


Fila tak membalas. Bagaimanapun juga itu adalah kenyataan.


"Aku ingin menyelamatkan Kuro, namun aku tak bisa melakukannya sendirian. Aku saat ini memiliki firasat kalau Kuro bisa menghilang kapan saja."


Dia tak memiliki bukti, namun dia bisa melihatnya. Saat ini Kuro bagaikan sebuah karakter utama yang sudah mendapatkan segalanya. Istri yang baik, anak yang memiliki masa depan cerah, uang yang tak akan habis dan berbagai macam hal yang membuat Kuro dibilang orang yang tak butuh apa apa lagi.


Jika melihat semua itu, maka tak heran jika Kuro rela akan menghilang. Selain itu, jika melihat cerita Electra mengenai saat kepergian Ao, maka Kuro akan benar benar menghilang jika dia sudah tak memiliki beban lagi di dunia ini.


Dia tak tahu berapa banyak beban lagi yang dimiliki Kuro, namun bagaimana jika beban itu hanya tersisa satu?


Satu satunya yang terlintas dari pertanyaan itu adalah beban janjinya dengan Electra. Misi yang terakhir.


Misi untuk memenangkan Battle War.


"...aku mengerti apa yang kau rasakan. Tetapi aku yakin Kuro tak akan menghilang begitu saja. Bagaimanapun juga saat ini dia berbahagia dengan Laila."


"..."


"Aku ingin dicintai oleh Kuro, namun kenapa aku harus mengganggu kebahagiaan mereka? Jika benar benar mencintainya, maka kau harus merelakannya bersama dengan orang lain. Kau tahu kan, cinta tak harus memiliki..."


Charlmilia terkejut karena tak menyangka Fila akan pasrah dan memilih membiarkan keduanya bahagia. Itu memang benar. Fila tak salah berpikir seperti itu. Bagaimanapun juga itu adalah akhir terbaik bagi setiap manusia.


Tetapi Charlmilia juga sadar kalau ini kesalahannya karena tak memberitahu Fila secara detail.


Awalnya dia berpikir itu masih terlalu cepat untuk memberitahu Fila kenyataan tentang Kuro, tetapi Charlmilia tak memiliki pilihan.


"Aku tahu itu. Ta-tapi.. apa kau mengerti apa yang aku maksud dengan menghilang?"


"..."


"Seorang Queen bisa memutus kontrak dan kembali ke kehidupan normal, tetapi seorang King mereka akan kembali ke ketiadaan. Mereka menghilang tanpa jejak, mayat, atau bahkan ingatan tentang mereka. Apa kau bisa menerima itu?"


"..."


Fila tak menjawab dan langsung menggigit bibir bawahnya. Dia tak menyangka arti Kuro menghilang akan sejauh itu.


Fila bahkan ingin berkata kalau Charlmilia keterlaluan bercanda, namun ekspresi yang penuh rasa sakit dan penyesalan langsung membuat Fila sadar kalau Charlmilia sama sekali tak berbohong.


"Fila... Hanya ini yang aku sampaikan. Aku akan menunggu jawabanmu. Aku harap kau memutuskan hal yang terbaik."


Merasa apa yang dikatakan cukup, Charlmilia bangkit dan pergi ke luar dari toko diikuti oleh dua pengawalnya.


Sementara itu, setelah kepergian Charlmilia, Fila terus terdiam membisu karena memikirkan apa yang baru saja dikatakan Charlmilia.


Dia mengerti kalau Kuro akan menghilang, namun dia tak menyangka arti menghilang bagi Kuro adalah menghilang tanpa jejak sedikitpun. Itu suatu yang lebih menyedihkan dan buruk dari kematian itu sendiri.


Karena tahu hal itu, maka Charlmilia saat ini berusaha untuk menghentikannya, tidak, lebih tepat jika berusaha menyelamatkan Kuro.


Sendirian.


"...Kuro."


Dia masih belum mengerti apa arti sebenarnya King dan Queen. Baginya itu suatu yang tak terlalu rumit, namun dia tahu ada rahasia besar di balik semua itu.


Saat sedang memikirkan hal itu, Irho datang mendekat.


"Fila.."


"Ayah... Apa kau mendengar semua yang dikatakan Charlmilia?"


Irho tak mengiyakan, namun Fila tahu betul kemampuan Irho. Karena itulah meskipun ada sihir penghalang, maka Irho akan tetap bisa mendengarnya.


"Jadi ini mengenai Queen dan King kah..."


"Ayah!!"


Fila langsung terkejut. Bagaimanapun juga dia tak menyangka ayahnya akan memulai topik itu.


Irho mendesah dan duduk tak jauh dari Fila.


"Tenang. Aku tahu kau ingin sekali tahu, tetapi aku tak bisa memberitahu jawaban yang kau inginkan."


Irho menatap foto yang terpajang di sudut ruangan. Itu adalah foto keluarganya.


Selain Fila dan Irho, ada wanita cantik dengan rambut yang sama dengan Fila. Ya, itu adalah ibunya.


"Mungkin ini yang disebut takdir, namun aku harus memberitahumu kenyataan tentang Flair, ibumu."


"!?"


Tatapan Irho penuh dengan kesedihan, tapi juga penyesalan.


"..seperti yang kau tahu, ibumu bisa dikatakan seorang yang jenius. Bahkan dia lebih baik dari diriku dalam pengendalian sihir. Dengan kekuatannya itulah dia bisa menjadi kandidat Queen dari Dragon King Noir. Sayangnya, dia menolak tawaran itu dan memilih menjadi penyihir biasa. Tetapi meskipun menolak, Noir memberikan bukti, atau sebuah tanda kalau Flair adalah orang spesial di mata Noir. Bukti itu adalah cincin yang diberikan oleh ibumu."


Fila langsung memegang kalung yang berhiaskan sebuah cincin Dragonblood Gear. Cincin itu bukan hanya peninggalan ibunya, namun juga sebuah bukti kasih sayang ibunya untuk melindungi Fila dari bahaya.


Irho lalu melanjutkan. Dia tahu mungkin ini akan mengingatkan Fila pada kejadian buruk, tetapi dia tetap akan melakukannya.


"Hanya itu saja yang aku ketahui mengenai Queen. Sedangkan untuk King, aku sama sekali tak memiliki petunjuk. Mungkin karena aku sudah melupakannya. Hanya saja aku sering kali melihat ibumu melamun sambil menatap langit biru. Dia sering bilang kalau langit biru itu mengingatkannya pada seorang berharga yang kini telah menghilang. Dan itu menjadi penyesalan ibumu seumur hidupnya karena tak bisa berbuat sesuatu."


"Ibu mengatakan itu?"


"...Ya. Tetapi penyesalan itu perlahan menghilang dan dia tak pernah menyebut itu lagi. Dia bahkan melupakan kebiasannya untuk melihat langit biru. Saat itulah aku sadar kalau semua itu telah menghilang dari dirinya."


"..."


Menghilang tanpa jejak dan seolah tak pernah ada. Dengan kata lain eksistensi yang ada perlahan akan menghilang terlupakan oleh waktu.


"Tetapi aku berpikir itu tak seburuk kelihatannya. Setelah itu ibumu melangkah maju dan kaupun terlahir. Bagiku tak ada yang lebih membahagiakan selain kenangan itu."


"Lalu.. jika apa yang dikatakan Charlmilia benar, bukankah aku juga akan lupa dengan Kuro?"


Jika Kuro menghilang, itu artinya dia akan kehilangan perasaan cintanya pada Kuro. Dan itu berarti dia bisa melangkah maju. Itu lebih baik daripada mengharapkan cinta Kuro yang tak akan pernah dia dapatkan.


Tetapi apakah itu jalan yang terbaik?


"Entahlah, semua itu belum terjadi. Jadi aku tak bisa menjawabnya. Satu hal yang bisa kukatakan adalah kau harus mengikuti kata hatimu. Bibir bisa berbohong, namun hati selalu berkata jujur. Jika kau mengikuti hatimu, aku yakin kau akan mendapatkan kebahagiaan sejati."


"Ayah.."


"Selain itu, aku mengerti kenapa Charlmilia berbuat sejauh ini demi orang yang belum tentu mencintai dirinya. Bagaimanapun juga menyerah sebelum berusaha tak lebih dari tindakan pengecut. Apalagi jika memiliki kekuatan untuk melakukannya, kenapa harus diam? Penyesalan paling menyedihkan adalah saat memiliki kekuatan namun tak bisa menyelamatkan siapapun."


"..."


"Ah.. maaf. Aku terlalu terbawa suasana. Aku akan kembali melanjutkan pekerjaanku."


Kemudian Irho kembali ke tempat menempa logam panas. Sebelum pergi Irho menunjukkan wajah rumit seperti mengingat hal buruk.


Bagi Fila, apa yang dikatakan Irho adalah perasaan rasa bersalah yang selama ini menghantuinya karena tak bisa menyelamatkan Flair, istrinya.


Saat itulah Fila mengingat tragedi yang merenggut semua kebahagiannya dan keluarganya. Kenangan itu begitu menyakitkan dan menusuk. Dia ingin sekali melupakannya.


(Ibu, apa yang harus aku lakukan?)


Tetapi jika melupakan kenangan buruk, bukankah itu juga melupakan kenangan indah?


Pada hari itu, Fila belum bisa memutuskan.


♦♦♦


Dua hari kemudian, toko Fila kedatangan pelanggan. Tentu ini bukan pelanggan biasa.


Karena kebetulan sedang berada di depan, Fila langsung menyambutnya.


"Kuro, selamat datang."


"Sudah lama tak bertemu Fila. Sepertinya kau baik baik saja."


"Begitulah. Tetapi kau benar benar berbeda dengan rambut putih itu. Selain itu..."

__ADS_1


"Apa kau mempertanyakan mata kananku?"


Tak seperti dulu, rambut Kuro sekarang benar benar putih perak. Tetapi yang paling menonjol adalah mata kanannya yang berwarna putih, sedangkan yang kiri berwarna hitam.


Fila mengangguk.


"Ah.. biasanya akan kembali normal, tetapi aku pikir mereka akan tetap seperti ini sekarang. Karena tak ada masalah, jadi aku membiarkannya saja."


"Begitu. Aku senang mendengarnya."


Penampilan Kuro yang berbeda memang mengejutkan Fila, tetapi dia merasa kalau itu justru membuat Kuro semakin tampan dan keren.


Jantungnya berdebar kencang karena terlalu senang.


"Kalau begitu apakah tujuanmu untuk mengambil pedangmu?"


"Eh? Mungkinkah sudah selesai?"


Wajar Kuro terkejut. Pedang pesanannya membutuhkan teknik khusus sehingga butuh waktu lama untuk membuatnya. Meskipun Irho atau Fila pandai besi yang handal, dia tahu butuh waktu lebih lama untuk menyelesaikannya.


"Begitulah. Sebentar aku ambilkan."


Fila lalu mengambil pedang yang berada di sudut ruangan. Sebuah katana yang bersarung hitam.


"Silahkan. Aku tak tahu apakah ini cukup memuaskanmu, tetapi aku membuatnya sebaik mungkin."


Kuro menerimanya dan tanpa ragu menarik dari sarungnya. Di saat itulah pedang hitam yang memantulkan cahaya bagai cermin menunjukkan sosoknya.


Tak butuh mata seorang ahli, dengan sekali lihat Kuro bisa langsung tahu kekuatan dan kemampuan pedang di tangannya itu meskipun dibuat dengan cepat.


Tetapi bukan berarti membuat pedang itu cocok di tangan Kuro.


"Aku mungkin akan mematahkannya lagi, tak masalah kan?"


"Ahaha.."


Fila hanya tersenyum kecut. Dia tahu apa yang akan dilakukan Kuro selanjutnya


Kemudian Kuro mengalirkan energi Ki pada pedang hitam itu. Aura putih langsung menyelimutinya. Aura itu semakin besar dan besar hingga membentuk sebuah angin kencang.


(Luar biasa. Inikah kekuatan Kuro yang sebenarnya?)


Fila tak terlalu mengerti tentang Ki, tetapi dia bisa merasakan tekanan kuat dan besar dari energi yang dikeluarkan Kuro. Energi sebesar itu bahkan hampir sama dengan mana yang dimiliki oleh penyihir peringkat Master.


"Oh... Sepertinya anak ini cukup kuat. Bagaimana kalau aku lebih serius."


Kuro tersenyum dan menambah energi Ki yang disalurkan. Energi yang menyelimuti pedang mulai membentuk badai besar yang menerbangkan apapun, tetapi Kuro tak berhenti. Dia menambahnya dan terus menambahnya.


Lalu setelah menerbangkan semua senjata di toko, badai energi Ki mulai melemah, tetapi bukan berarti menghilang. Yang terjadi adalah kebalikan dari itu.


Energi yang besar mulai memadat dan mengambil sebuah bentuk. Semakin kecil, kecil dan tipis. Lalu setelah waktu berlalu, energi itu menyatu dengan pedang hitam dan membentuk semacam aura tipis di pedang itu. Tetapi bukan hanya itu saja yang terjadi. Sebuah garis pola mulai muncul memanjang di sepanjang bilah pedang. Pedang hitam yang biasa kini berubah menjadi pedang yang indah dan menawan.


"Ini lebih baik dari yang aku kira. Fila, kau memang mengerti apa yang aku inginkan."


"..."


Kuro tersenyum puas, namun Fila terbengong.


"Fila?"


"Uh.. maaf. Aku hanya kagum dengan apa yang baru saja terjadi."


Fenomena perubahan pedang yang terjadi di depan matanya tak pernah dia lihat sebelumnya. Tidak, bahkan apa itu mungkin terjadi?


Seolah mengerti apa yang dipikirkan Fila, Kuro tersenyum kecut.


"Orang bijak akan bisa memilih senjata yang baik untuk dirinya, tetapi senjata yang bijak akan memilih hancur daripada digunakan oleh tangan yang salah."


"Kuro?"


"Itu hanya kata yang aku dengar dari kenalanku. Lupakan mengenai dia, yang terpenting aku sangat puas dengan pedang ini. Yah meskipun tak sekuat Lic, tapi dengan ini aku bisa menggunakan senjata lain. Hm.. Fila, apa ada yang salah?"


Aura buruk tiba tiba terlihat di Fila.


(Mungkinkah aku mengatakan suatu yang salah?)


"Bukan apa apa."


"Sudah aku duga kau marah."


Di saat itulah terdengar suara langkah kaki yang besar datang mendekat dari ruang belakang.


"Fila, apa yang terjadi barusan?"


Irho muncul dengan wajah panik. Dan entah mengapa tangannya hitam legam seperti habis mengalami sesuatu.


Kemudian matanya bertemu dengan Kuro. Di saat yang sama dia terkejut karena seluruh tokonya berantakan seperti terkena badai.


"Bo-Bocah tengik. Apa yang kau perbuat dengan tokoku?"


"...ah..."


Entah mengapa dia selalu sial saat bertemu dengan Irho.


♦♦♦


Setelah beberapa benjolan di kepala Kuro, toko akhirnya kembali seperti semula setelah semuanya bekerja keras merapikannya.


Tidak. Secara teknis hanya Kuro. Untuk Fila dan Irho hanya melihat saja.


"Capeknya.."


"Terima kasih banyak. Silahkan minum tehnya."


Fila memberikan secangkir teh yang dia siapkan saat Kuro beres beres.


Aroma harum langsung tercium di hidung Kuro. Rasa lelah dan haus membuatnya tak sabar untuk segera meminumnya. Jika tak ada Irho yang menatapnya dengan nafsu membunuh, mungkin itu akan lebih sempurna lagi.


"Ini menyegarkan."


"Aku senang mendengarnya."


"Ngomong ngomong, berapa yang harus aku bayar untuk anak ini?"


"Err..."


"100 milyar Yold."


Irho langsung memotong dan memberikan sebuah bom.


"Serius?"


Kuro menunjukkan tatapan tak percaya. Wajar saja, uang dalam jumlah besar itu sangat tak sebanding dengan pedang itu.


"Ayah.. bukankah tak semahal itu?"


Melihat dari bahan, waktu dan proses pengerjaan, harga pedang hitam itu bahkan tak mencapai seperlimanya. Irho memberikan harga sebesar itu seolah ingin memeras Kuro.


"Itu mahal karena itu adalah pedang pertama yang kau buat dengan tanganmu sendiri. Bagaimana, kau pasti sependapat denganku, Bocah tengik?"


Irho tersenyum lebar dengan penuh kelicikan. Mungkin karena itu pedang pertama yang dibuat putri tercintanya, maka dia tak akan memberikannya dengan mudah walau itu pedang pesanan.


"Aku setuju mengenai itu."


Kuro ikut tersenyum. Sedangkan wajah Fila langsung memerah karena senang dipuji.


"Sebenarnya aku tak masalah dengan harga, tetapi bukankah harga itu terlalu murah?"


"Huh?"


"Huh?"


Irho dan Fila terkejut dengan kompak. Mereka seolah mendengar suatu yang tak mungkin.


"Maksudku, ini adalah pedang yang hampir menyamai Lic. Aku yakin tak ada pedang lain yang lebih kuat. 100 milyar Yold terlalu murah untuk pedang semacam ini."


"...ahahahaha.. "

__ADS_1


Tiba tiba Irho tertawa terbahak bahak.


"Ahahahaha.. menarik. Kalau begitu kau cukup membayar 100 milyar Yold. Aku tak menyangka ada orang yang paham dengan kemampuan Fila."


"Jangan remehkan aku. Kau pikir kenapa aku memesan padanya, bukan padamu?


"..."


"..."


Keheningan terjadi untuk sesaat. Namun kemudian keduanya tertawa lebar dan saling menepuk bahu satu sama lain.


"Tidak buruk, bocah tengik."


"Kau juga, pak tua."


Untuk pertama kalinya keduanya menemukan hal yang sama.


Ini cukup mengejutkan mengingat mereka selalu bermusuhan saat bertemu.


Sedangkan bagi Fila...


(Ya ampun..)


Dia hanya bisa mendesah dalam.


Sesaat kemudian pintu toko terbuka tanda kedatangan seorang pelanggan. Tetapi pelanggan itu tampaknya bukan ingin membeli sesuatu, namun mencari seseorang.


"Kuro, kenapa kau lama sekali? Apa kau tahu apa yang aku alami?"


Laila datang dengan wajah jengkel. Dia tak sendirian. Di gendongannya seorang anak berusia satu tahun bergerak dan berusaha untuk turun. Sedangkan di sampingnya, Lic terlihat tertarik pada benda di toko dan melihat mereka dengan tatapan penasaran.


Singkatnya, saat ini Laila benar benar seperti ibu yang kerepotan karena dua orang anak. Hal itu sangat berkebalikan dari wajahnya yang masih begitu cantik jelita.


"Ah.. maaf. Aku lupa."


Dengan cepat Kuro mendekati Laila dan mengendong Riku. Sama seperti saat bersama Laila, Riku ingin sekali turun untuk menjelajah.


"Riku.. tenang!"


Riku terdiam. Tetapi dia langsung menangis dengan keras.


"Moouu.. Kuro!! Aku tak percaya kau membuat Riku menangis lagi."


"Hey Bukan aku yang salah kan?"


Pada akhirnya Riku kembali ke gendongan Laila. Dan diapun langsung berhenti menangis.


"Aku penasaran, apakah dia membenciku?"


"Kau hanya tak sensitif."


Riku ikut tertawa untuk menambahkan pembelaan.


Kuro hanya bisa mendesah dalam karena tak akan bisa memang dari istri dan anaknya. Kemudian dia melirik Lic yang sudah berada di sudut ruangan untuk melihat lihat.


"Lic. Jangan coba coba dan hati hati."


"Aku mengerti, Papa."


Mungkin karena Lic adalah roh yang merasuki pedang, maka dia tertarik dengan senjata yang ada di sana. Tentu itu bukan berarti dia tak apa apa di dekat senjata.


Laila mengekang semua kekuatan Lic. Hal ini membuat dia tak lebih dari seorang anak kecil biasa. Tentu jika dalam keadaan darurat Lic bisa meminta Laila untuk melepaskan sebagian kekuatannya.


Kuro kembali fokus pada Irho dan Fila yang tampaknya masih belum paham apa yang baru saja mereka lihat. Tetapi intinya jumlah anak Kuro bertambah.


"Ahaha.. aku bisa memberikan penjelasan."


Kemudian, Kuro dan Laila menjelaskan apa yang terjadi di ibukota. Tentang latihan dan tentu saja pertarungan yang cukup luar biasa. Keduanya memberitahu karena Irho terlibat dalam pertarungan, jadi dia pasti tahu apa yang terjadi.


Irho tak terlalu terkejut dengan apa yang diceritakan keduanya. Dia tahu jika menyangkut dengan Dragon King, semuanya bisa saja terjadi.


Sedangkan Fila, karena dia tak melihat kejadian secara langsung atau mengalaminya secara langsung, dia tak bisa memberi komentar banyak. Hanya saja dia paham kalau Kuro dan Laila telah melewati petualangan yang tak pernah dilalui oleh manusia manapun.


"Tetapi aku tetap terkejut kalau kalian sudah memiliki seorang anak. Lagi."


"Yah.. aku mengerti maksudmu. Aku juga sangat terkejut." Jawab Kuro. "Tetapi aku juga tak menyangka Riku akan akrab denganmu. Biasanya dia tak mudah bergaul dengan orang lain."


Riku saat ini berada di pangkuan Fila. Lebih tepatnya bermain dengan dada Fila yang berayun bagai bola.


"Dia hanya mesum seperti dirimu, Kuro."


Laila langsung memberikan komentar pedas walau itu pada anaknya sendiri.


"Jangan kawatir, aku yakin kau tetap nomor satu di hati Riku. Sama seperti diriku."


"Seperti biasa kau selalu merayu. Tetapi terima kasih."


Keduanya langsung masuk dalam dunianya sendiri.


Fila dan Irho hanya bisa mendesah kecil. Tingkah keduanya sudah hal yang biasa bagi mereka.


"Fila.."


"Tenang saja, Ayah. Aku baik baik saja."


Meskipun tersenyum, namun dalam hatinya tidak.


Sebagai orang tua yang pernah jatuh cinta, Irho paham apa yang dialami Fila. Hanya saja dia tak tahu apakah rasa sakit Fila lebih besar atau lebih kecil.


Kemudian waktu berlalu dan Kuro bersama keluarganya memutuskan untuk kembali setelah urusan mereka selesai. Tujuan yang hanya ingin mengambil pedang berubah menjadi pembicaraan antara dua keluarga yang hangat.


Setelah Kuro dan lainnya pergi, Fila langsung tersungkur di lantai. Nafasnya terendah engah seolah sulit bernapas.


"Fila..."


Irho langsung membantu Fila berdiri dan mencoba memberikan pertolongan dengan memberikan segelas air.


Tekanan yang diterima Fila lebih besar daripada yang Irho duga.


"...ayah..."


Air mata mengalir deras dari kedua mata Fila. Dia langsung saja merebahkan dadanya pada Irho.


"Tidak apa apa. Menangislah jika kau ingin menangis. Aku tahu kau patah hati, tetapi berjanjilah untuk tak putus asa."


Fila tak menjawab dan hanya mengangguk. Kemudian dia menangis tersedu sedu di pelukan Irho.


Sebagai orang tua Irho tak tahan melihat putrinya dalam keadaan menyedihkan seperti itu. Tetapi dia sadar tak bisa menyalahkan Kuro atau Laila.


Saat di ibukota dia paham kalau keduanya memang sudah menjalani hubungan serius dan bahkan sudah memiliki seorang putra. Alasan itulah yang membuat dia tak memberitahu Fila tentang pertarungannya di ibukota.


Dia tak tahu apakah keputusannya itu salah atau benar, hanya saja tinggal menunggu waktu hingga Fila mengetahuinya.


Tersakiti dan patah hati. Kedua hal itu tetap akan Fila alami.


Meskipun begitu, bagi Irho ini adalah hal baik karena dengan ini Fila bisa melangkah maju untuk meraih masa depan.


Setidaknya itulah yang Irho inginkan.


Tetapi kenyataan berkata lain.


2 hari kemudian, Fila pergi ke Kuryuu Academy untuk mendaftarkan diri. Meskipun usianya lebih tua satu tahun dari Kuro atau Charlmilia, namun karena dia tak sekolah, maka Fila tetap berada di kelas satu.


Saat mendaftar inilah dia kembali bertemu dengan Charlmilia.


"Aku tahu kau akan datang."


"Aku merubah pikiranku. Awalnya aku berpikir membiarkan keduanya bahagia, tetapi setelah melihat mereka, aku sadar juga ingin ikut bahagia dengan orang yang aku cintai. Karena itulah beritahu apa rencanamu. Aku yakin kau memilihku bukan hanya karena saran Electra."


Mendengar itu, Charlmilia tersenyum lebar. Dia tahu Fila kuat, tetapi dia lebih dari itu.


"Baiklah, tetapi hal yang pertama aku beritahukan padamu adalah...."


"...."


"Apa kau siap menjadi penjahat?"

__ADS_1


__ADS_2