Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Presents


__ADS_3

Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di istana yang berada di pusat kota. Dari jauh sudah bisa terlihat kemegahan istana yang ditinggali oleh sang kaisar dan tuan putri. Tetapi saat dekat, kemegahan istana semakin jelas dan berkilau bagai permata.


Sebagian besar istana terbuat dari batu alam yang indah dan memiliki kekuatan untuk dialiri mana. Hal inilah yang membuat istana kerajaan memiliki pertahanan terkuat di seluruh kekaisaran Houou. Tentu selain karena tempat tinggal kaisar, namun juga sebagai sebuah penampungan jika terjadi dalam keadaan darurat dan tak ada pilihan lain.


Menurut catatan, penggunaan istana sebagai tempat perlindungan pernah dilakukan selama 4 kali dalam kurun waktu kekaisaran Houou berdiri. Dan meskipun bisa dibilang masalah kemarin malam merupakan masalah yang cukup besar, namun jika dilihat dari skala pertempuran di masa lalu, itu tidaklah seberapa.


"Berapa kalipun aku ke istana, aku selalu berpikir kalau ini memang besar."


"Kau pernah?"


"Ya. Dulu sering. Bagaimanapun juga aku dan Riana berteman baik. Aku kadang diundang untuk bermain dengannya."


"Begitu rupanya."


Sambil mengobrol beberapa hal yang kurang penting, mereka akhirnya sampai. Pelayan membukakan pintu dan mereka disambut oleh karpet mewah dan puluhan pelayan dan Holy Knight yang berbaris dengan rapi.


"Penyambutan yang terlalu berlebihan."


Itu adalah komentar yang pertama kali Kuro ucapkan saat melihat sambutan pada mereka.


"Kaisar memerintahkan kami harus menyambut dengan baik pahlawan yang telah menyelamatkan ibukota. Ini bukan masalah besar."


Salah satu pelayan memberi tahu Kuro. Meskipun terlihat pelayan biasa, namun pelayan yang menjawab Kuro merupakan salah satu kepala pelayan yang ada di istana.


Semuanya benar benar mewah dan berlebihan.


"Orang tua itu masih saja seperti itu. Laila, mari."


Laila memasukan tangannya ke celah lengan Kuro dan merekapun bergandengan tangan menuju istana seperti layaknya selebritis terkenal.


Disaat itulah kereta lainnya datang dan menurunkan undangan lain.


"Aku tak pernah membayangkan akan bisa diundang ke istana. Aku mungkin sedang bermimpi."


"Jangan membuatku malu. Kau memang anak kampung yang mungkin tak akan pernah diundang ke istana untuk yang kedua kalinya. Jadi bersyukurlah."


"Jangan samakan diriku dengan dirimu, Knox. Dan ini pertama kalinya aku mendengar kau pernah ke istana."


"Aku tak perlu memberitahukan semua yang aku alami pada dirimu. Memangnya siapa kau?"


Jinn hanya mendesah.


Kemudian keduanya mulai melangkahkan kakinya ke atas karpet merah menyusul Kuro dan Laila.


Sama seperti Kuro, keduanya  berpakaian rapi. Hanya saja Knox tak mengancingkan jas miliknya.


Tak berapa lama kemudian, tamu datang silih berganti hingga semuanya tiba di waktu yang ditentukan.


Ruang pesta berada di salah satu aula besar istana. Meskipun begitu, bisa dibilang ini hanya digunakan untuk pesta kecil. 


Undangan yang datang lebih sedikit daripada yang diperkirakan. Namun bisa terlihat jelas kalau undangan yang hadir adalah semua orang yang terlibat dalam pertarungan.


Charlmilia terlihat mengenakan gaun berwarna biru dengan tanpa tali sehingga menonjolkan dadanya yang besar. Selain itu bunga mawar biru serasi dengan gaunnya membuatnya tak kalah dengan Laila.


Putri kekaisaran, Riana dan Victoria juga terlihat dengan gaun berwarna putih bersih dengan hiasan permata di berbagai tempat. Dan entah mengapa Arthuria juga terlihat bersama dengan keduanya.


"Apa hubungan anak ayam itu dengan tuan putri?"


"Apa kau tak tahu kalau kakak adalah mantan tunangan putri Victoria?"


Kisah pertunangan mereka cukup menggemparkan saat itu, namun ada berita lain yang tak kalah menggemparkan.


"Mantan?"


"Begitulah. Putri Victoria tak suka dengan lelaki yang lemah, karena itulah dia menolak. Tetapi bukan berarti kakak lemah, hanya saja dia tak bisa mengalahkan putri Victoria. Lalu karena ini keputusan kaisar, putri Victoria tak bisa mengubahnya atau membuat kaisar menarik keputusannya kecuali dengan satu cara, yaitu meminta pada saat memenangkan Battle War. Itu sudah terjadi 2 tahun yang lalu, tapi sampai sekarang kami masih berhubungan dekat."


Tak hanya berhasil memenangkan Battle War dan menggunakan hadiah untuk memutus pertunangan, Victoria menunjukan dia adalah salah satu penyihir muda terkuat di kekaisaran Houou. Di usianya yang muda, banyak yang menganggap dia memiliki bakat setara dengan Holy Maiden Maria.


"Dua tahun yang lalu kah..."


"Ini aneh karena kau tak tahu hal ini."


"Bukannya aku tak tahu, namun aku tak peduli."


Keduanya lalu mengamati siapa saja yang datang ke pesta.


Sudah diduga kalau Electra dan Aldest juga diundang. Tak seperti biasanya, Electra saat ini tak mengganggu keduanya dan memilih mengobrol dengan kenalannya.


Dari pengetahuan yang Kuro miliki, mereka adalah Imperial Knight. Lebih tepatnya petinggi Imperial Knight. Wajar saja, meskipun Imperial Knight merupakan pasukan  terkuat, namun identitas mereka cukup menjadi rahasia. Hal ini berkaitan dengan keamanan anggota keluarga mereka.


"Aku harap Yui juga bisa datang."


"Jangan meminta hal mustahil. Saat ini kau tahu apa yang dia lakukan kan?"


Setelah pertarungan, satu satunya dampak yang Yui terima hanyalah kelelahan karena kehabisan mana. Bisa dibilang itu merupakan peningkatan yang pesat dan tak diragukan lagi kalau latihannya membuahkan hasil.


Tetapi karena itupula dia merasa latihan yang dia lakukan belumlah cukup. Saat melihat kekuatan yang Laila tunjukan begitu besar dan mengagumkan, dia sadar kalau dia tertinggal jauh. Tetapi yang terpenting dari semua itu adalah sikap Laila yang telah menunjukan kalau dia sudah dewasa.


Kedua hal itu membuat Yui merasa kalah telak. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan merebut hati Kuro, namun dia tak bisa melakukannya dengan kekuatannya yang sekarang.


Lalu setelah tenaganya pulih, dia memutuskan kembali ke desa klan Blad untuk berlatih sekali lagi. Setidaknya dia ingin bisa menggunakan Dragon Gear.


Sebagai kakak, Kuro tak bisa mencegah atau menghalangi niat baik Yui. Memang jika dibandingkan dengan Diana dan Charlmilia, perkembangan Yui menggunakan kekuatan Dragon King bisa dibilang cukup lambat.


"Ya aku tahu. Aku hanya berharap dia tak memaksakan diri."


Mendengar itu, Kuro tersenyum.


"Jangan khawatir. Aku yakin dia baik baik saja."


Tak berapa lama kemudian, tiba tiba suara pemberitahuan terdengar.


"Yang mulia kaisar telah tiba." ucap seseorang dengan lantang.


Semua orang lalu fokus ke arah sudut ruangan. Bersamaan dengan suara langkah kaki, seorang pria tua terlihat seperti berusia 40 tahunan muncul.


Rambutnya putih dan jenggot tumbuh cukup lebat sebagai tanda usia yang sudah tak muda lagi. Mata biru bagai laut merupakan warisan dari ibunya. Tetapi yang terpenting dari semua itu adalah mahkota yang terdapat di atas kepalanya.


Dialah sang kaisar kekaisaran Houou , Sei Yamato.


Saat dia masuk, semua orang menunduk memberi hormat. Bahkan  Kuro yang bisa dibilang tak mudah menundukkan kepalanya pada orang lain, dia melakukannya dengan mudahnya.


"Sudah cukup."


Semua kembali menaikan kepalanya setelah Sei memberi perintah. Dari suaranya saja sudah menunjukkan karisma dan kekuatannya sebagai kaisar.


Kemudian Sei berdiri untuk melakukan upacara pembukaan.


"Terima kasih telah datang para pahlawan yang telah menyelamatkan ibukota dari musuh. Pesta ini aku adakan selain untuk memberi ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya pada pahlawan yang rela mempertaruhkan nyawanya demi negeri ini, namun juga ingin memberikan hadiah pada semua yang terlibat."


Sei berhenti sesaat. Dia lalu melanjutkan sambutannya.


"Seperti yang aku sebutkan dalam undangan, pesta ini merupakan  pesta kecil. Bukan berarti aku tak ingin membuat pesta yang besar, namun karena alasan  tertentu, semua itu tak bisa terwujud. Sebagai kaisar, aku meminta maaf untuk masalah ini."


Tanpa ragu Sei menundukkan kepalanya pada tamu undangan. Ini suatu yang cukup mengejutkan karena kaisar adalah orang paling penting di negeri ini, namun Sei sudah terkenal memang tak ragu untuk meminta maaf dan murah hati.


Selain karena sifatnya, namun juga ini karena dia ingin berterima kasih pada pihak yang telah menolong ibunya. Jika dia tak melakukannya, dia akan menjadi anak yang durhaka.


Saat semuanya menjadi hening karena tindakan yang terduga, Sei kembali mengangkat kepalanya dan melanjutkan.


"Baiklah, kalian bisa mulai pestanya. Acara utama akan dimulai pukul 10 malam nanti. Aku harap kalian tak sabar."


Sei lalu memberi tanda pada seseorang yang berada di sampingnya. Tak berapa lama kemudian Sei duduk dan suara musik terdengar dari seluruh ruangan.


Pesta telah dimulai.


Kuro dan Laila mengambil beberapa minuman ringan dan pergi ke beranda istana untuk menikmati malam hanya berdua.


"Seperti biasa dia tak pandai bicara."


"Kuro, jangan terlalu akrab. Kau akan mendapat hukuman karena tak sopan."


"Jangan khawatir. Yang terpenting kita nikmati saja hingga waktu acara utama. Yah aku hanya berharap dia tak melakukan hal aneh aneh."


Laila tersenyum kecil.


"Aku rasa itu bukan suatu yang pantas dikhawatirkan. Dia adalah kaisar yang hidup selama ratusan tahun, aku yakin dia tak mungkin  melakukannya hal yang aneh."


"Kau hanya belum tahu siapa dia yang sebenarnya."


Keduanya bersulang dan memulai pesta di dunia mereka sendiri, tetapi-


"Laila..."


Hanya ada satu orang yang memanggilnya seperti itu.


"Riana."

__ADS_1


Riana mendekat dan berpelukan dengan Laila. Sedangkan untuk Kuro hanya saling tersenyum satu sama lain.


"Aku ingin sekali bertemu denganmu, namun kau selalu pergi. Yah.. Aku mengerti kalau kau memang selalu ingin bersama dengan Kuro, tetapi aku ingin kau meluangkan waktu untuk sahabat kecilmu."


"Ahaha.. Aku juga ingin bertemu denganmu. Di dunia ini mungkin hanya sekitar seminggu, tetapi aku sudah dua tahun tak bertemu denganmu. Aku sangat senang."


"Aku pikir kau masih marah denganku mengingat apa yang aku lakukan pada kalian."


Karena Riana melarang keduanya untuk ikut campur, keduanya tak memiliki kesempatan untuk menyelamatkan Lic lebih cepat. Tetapi jika mereka melakukannya dengan kekuatan yang lama, mungkin mereka akan gagal.


"Tidak. Aku tak marah. Itu menjadi kesempatan bagi kami untuk mengumpulkan kekuatan sehingga kami bisa menyelamatkan Lic."


"....mengenai Lic, bagaimana dengan keadaan dia sekarang?"


Riana menunjukan wajah cemas.


"Dia baik baik aja. Sekarang hanya tinggal menunggu waktu dia sadar."


"...begitu..."


Kabar Lic bisa dibilang baik, namun juga buruk. Namun mengingat apa yang terjadi selama insiden itu, maka ini suatu yang wajar.


"Mengesampingkan Lic, kenapa kau mengganggu kami?" potong Kuro dengan nada ketus.


Tak seperti Laila, Kuro menunjukkan sikap tak senangnya pada Riana. Alasannya bukan hanya karena Riana menghalangi mereka, namun juga mengambil keputusan yang salah saat melakukan penyerangan. Karena kesalahan itu mereka kehilangan Leon.


"Kuro, aku pikir sifat posesifmu sudah meningkat pesat akhir ini. Apa ini karena Riku?"


"Aku hanya tak ingin melihatmu bertarung dengan mempertaruhkan nyawa seperti itu lagi.  Aku akui kau memang sudah bertambah kuat, tapi jujur saja aku ..."


"Aku mengerti. Tenang saja, kali ini aku tak akan kemana mana."


"Laila..."


"Kuro.."


Tanpa ada yang tahu, keduanya kembali memasuki dunia mereka. Bahkan keduanya ingin berciuman.


"Ehem..."


Riana ingin mengembalikan keduanya pada dunia yang sebenarnya, tetapi itu tak berhasil. Bahkan keduanya berciuman mesra dan bisa dibilang itu adalah ciuman dewasa yang menggairahkan.


"Laila, Kuro..."


Tak punya pilihan, Riana memutuskan untuk menepuk pundak Laila.


"Ah.. Maaf. Kau ada di sini, Riana?"


"Aku ada di sini sejak tadi. Aku tak menyangka kau secepat itu melupakanku."


Laila hanya tertawa kecut seolah dia hanya bercanda.


Sayangnya, dia tidak.


Kemudian pesta berlangsung cukup meriah dan lancar.


Knox dan Jinn menikmati makanan yang dihidangkan sambil melihat beberapa orang yang berdansa di tengah aula.


Di antara mereka, Arthuria dan Victoria berdansa dengan mengikuti irama musik yang tenang dan merdu. Yang menarik, Victoria sangat senang, sedangkan Arthuria memasang wajah rumit. Bagi yang mengetahui hubungan keduanya, pasti berat berdansa dengan orang yang telah menolakmu mentah mentah.


Sedangkan yang lain seperti Electra, dia menikmati minuman keras bersama Aldest. Keduanya tampak mengobrol topik yang serius.


Untuk Otome, dia minum sendiri di pojok ruangan seperti orang yang tak punya teman.


Sang kaisar hanya duduk di tempat ambil menikmati acara tanpa melakukan kegiatan yang berarti. Namun tak berapa lama kemudian Victoria datang untuk mengundang kaisar berdansa. Itu sungguh kejadian yang menghangatkan suasana, tetapi Victoria memang dikenal sebagai orang yang ceria dan bersemangat. Ini suatu yang cukup sering terjadi.


Yang terakhir, Charlmilia sedang mengobrol dengan Alva dan Alvi yang kebetulan juga diundang. Meskipun tak bertarung secara langsung, namun mereka juga terlibat.


Kemudian waktu berlalu dan waktu untuk acara utama telah tiba. Semua kembali berkumpul dan fokus pada acara utama, yaitu penghargaan.


Yang pertama dipanggil adalah Charlmilia. Ini suatu yang mengejutkan, tetapi bagi orang yang tahu kebenarannya, maka bisa dibilang Charlmilia adalah orang yang paling berjasa dalam pertarungan melawan Maria.


Selain menghentikan Holy Arrow Salvation, dia juga berhasil memukul mundur Maria. Bahkan bisa dibilang dia hampir mengalahkannya. Dan yang paling penting, tanpa bantuan dia, Laila tak akan bisa menghentikan Lic yang mengambil alih tubuh Maria.


"Charlmilia Ven Cellvain. Meskipun kau masih muda, namun prestasimu sungguh tak diragukan. Dengan kekuasaanku sebagai kaisar negeri ini, aku memberikanmu sebuah gelar Tuan Putri (Princess)."


Semua yang hadir  terkejut dengan gelar yang didapat Charlmilia.


Gelar itu tak hanya membuat Charlmilia memiliki posisi yang tinggi di militer, namun juga memiliki posisi yang sama dengan putri kaisar. Tidak, lebih tepat jika dia menjadi salah satunya.


"T-tunggu, Yang Mulia. Gelar itu aku rasa tak pantas untuk saya."


Tetapi-


"Semua tahu kalau Riana, Victoria dan Norn merupakan anak angkatku. Jika aku menambah satu atau dua lagi itu bukan masalah. Dan meskipun aku menjadikanmu anak angkat, namun bukan berarti aku ingin kau terlibat dalam masalah politik. Jika kau mau, aku bahkan akan memerintahkan agar kau tak dilibatkan masalah itu. Alasan aku memberimu gelar ini, selain aku ingin kau terus mengabdikan diri pada negeri ini, namun aku ingin kau menjadi saudara mereka bertiga. Seperti yang kau tahu, mereka kadang kesepian. Ini lebih baik daripada mereka jatuh pada lelaki yang suka merayu gadis gadis."


Mendengar kalimat terakhir, Charlmilia ingin tertawa karena tahu siapa yang dimaksud. Dia akhirnya mengerti dan memutuskan untuk tak menolak.


"Charlmilia, apa kau menerima gelar itu?"


"Ini suatu kehormatan bagiku."


Dengan suara tepuk tangan yang meriah, Charlmilia menerima bukti gelar yang dia terima, yaitu sebuah mahkota permata.


"Mulai sekarang kau adalah tuan putri negeri ini dan sekaligus saudara mereka bertiga. Pengumuman resmi akan dilakukan nanti. Lalu mengenai orang tuamu, aku sudah memberi tahu mereka tentang ini terlebih dahulu. Untuk masalah lainnya akan kita bicarakan nanti, secara pribadi. Kau mengerti?"


"...saya mengerti."


Kemudian Charlmilia kembali ke tempat semula, namun kali ini berada di barisan Riana dan Victoria.


Mungkin karena keduanya sudah tahu, keduanya tak menunjukan penolakan atau keterkejutannya. Lebih tepat jika mereka senang mendapat saudara baru.


Lalu upacara dilanjutkan. Yang dipanggil kemudian adalah Laila.


Sama seperti Charlmilia, Laila menunduk dan bertekuk lutut seperti menerima sebuah perintah.


"Laila. Karena aku sudah mengenal dirimu sejak kecil, maka aku sungguh senang dengan prestasi yang kau capai. Aku sangat terkesan dengan pertarunganmu. Aku sebenarnya ingin mengangkat dirimu menjadi anak angkatku, bagaimanapun juga kau dan Riana sudah seperti saudara. Sayangnya, aku pikir kau akan menolaknya sebanyak apapun aku menekannya, benarkan?"


"Paman benar benar tahu apa yang aku pikirkan. Aku sungguh berterima kasih untuk itu."


"Kalau begitu aku yang kesulitan memberikan hadiah. Bagaimana kalau aku akan mengabulkan satu permintaanmu selama aku menyanggupinya, bagaimana?"


Semua kembali terkejut dengan apa yang dikatakan Sei. Bagaimanapun  juga mengabulkan satu permintaan bisa dibilang tindakan yang ceroboh.


Tetapi bagi Laila, itu adalah sebuah kesempatan besar yang tak akan datang dua kali.


"Kalau begitu, aku ingin Paman menghentikan semua penyelidikan dan keinginan untuk merebut Lic, maksudku Izriva. Bagaimanapun juga aku adalah orang tuanya. Aku tak mungkin membiarkan dia menderita terus menerus."


"..."


Permintaan Laila merupakan suatu yang cukup sulit dikabulkan mengingat bahaya yang ditimbulkan Izriva.


Tetapi-


"Aku dengar kau sudah memiliki seorang putra berusia satu tahun, apakah itu belum cukup bagimu?"


Semua yang mendengar itu ingin berteriak, namun mereka menahan diri.


"Apa maksudmu, Paman?"


"Izriva hanyalah sebuah spirit, bukan darah dagingmu. Seharusnya kau bisa membedakannya, apa aku salah?"


"..."


"Kau pasti sadar sebesar dan sebanyak cintamu padanya, itu tak akan merubah kenyataan kalau di-"


"Maaf karena lancang, tetapi jika Paman mengatakan hal buruk lagi mengenai Lic, aku tak akan memaafkan Paman. Tak peduli apa di mata orang lain, Lic adalah putri kami. Aku tak akan membiarkan siapapun menjelekannya, bahkan termasuk Paman."


Perkataan Laila adalah suatu yang lancang dan penghinaan. Jika dia tak segera meminta maaf, dia akan mendapatkan hukuman.


Tetapi apakah itu suatu yang tepat?


Semua tahu apa yang dilakukan Laila adalah sebuah bukti kalau Laila benar benar menganggap Lic sebagai putrinya. Dia tak akan memaafkan siapapun bahkan termasuk Sei.


Lalu jika Laila menggunakan kekuatannya, maka mungkin dia bisa menghancurkan kekaisaran Houou hanya karena tak senang. Meskipun tak ada yang membayangkan itu terjadi.


"Hoho.."


Tetapi Sei hanya tersenyum seolah sudah menduga apa yang Laila katakan. Lebih tepat jika dia memancing Laila untuk mengatakannya. Atmosfer yang semulanya tegang kembali menjadi ringan.


"Aku mengerti. Kau adalah seorang ibu. Mana mungkin ada ibu yang memaafkan orang yang telah menghina putrinya. Baiklah, karena aku sudah berjanji, aku akan membiarkan Izriva berada di tanganmu. Tetapi kau pasti tahu, jika kau menjadi ibu, maka kau juga harus bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan anak mereka."


"Terima kasih. Aku tak akan melupakan kebaikanmu. Sebagai ibunya aku akan mendidiknya dengan baik bersama Riku."


"Aku menantikannya."


Giliran Laila pun usai dengan suatu yang tak terduga.

__ADS_1


Kemudian acara penghargaan berlanjut.


Knox dan Jinn mendapatkan medali atas keberanian mereka melawan musuh dan sekaligus berhasil menghancurkan laboratorium musuh. Ini prestasi yang cukup besar bagi murid sekolah sihir.


Selain medali, keduanya dijanjikan akan mendapatkan posisi penting setelah mereka lulus. Dan tergantung prestasi yang akan mereka dapat selanjutnya, mungkin mereka akan mendapatkan posisi yang lebih tinggi.


Setelah keduanya, giliran Aldest dan Electra. Keduanya juga mendapatkan medali. Untuk Electra ini hanyalah medali tambahan. Sedangkan untuk Aldest, dia juga mendapatkan posisi penting, yaitu jendral. Sayang, dia menolaknya. Dia memilih menjadi komandan Knight di kota Areshia. Untungnya meskipun menolak, namun tawaran itu berlaku selamanya. Jadi tak perlu kawatir.


Penghargaan lainnya terus berlanjut. Arthuria mendapatkan medali dan sebuah satu permintaan. Permintaan yang diajukan Arthuria cukup mengejutkan semua orang, yaitu keinginan untuk bertarung dengan Victoria. Bisa dibilang ini semacam pertarungan balas dendam.


Karena Victoria setuju, maka pertarungan akan dilakukan tiga hari kemudian setelah kondisi keduanya pulih.


Untuk Otome, dia hanya mendapatkan sebuah medali dan sebuah grimoire. Otome tak mendapatkan penghargaan lebih karena mengingat statusnya sebagai Knight of Rounds. Dan kenapa dia dihadiahkan sebuah grimoire, itu karena sejatinya Otome adalah seorang ilmuan. Tak ada hadiah yang lebih berharga daripada itu.


Lalu pada penghargaan terakhir, tentu yang dipanggil adalah Kuro.


Semua orang langsung fokus pada Kuro yang tak hanya dikenal sebagai Witch Reaper, namun juga keturunan Demon King.


Mengalahkan Maria dan menjadi pahlawan kekaisaran Houou yang dulu mengalahkan Demon King cukup terdengar ironi. Tetapi Kuro bukanlah Demon King. Tindakannya kali ini lebih seperti sebuah penebusan dosa kakek moyangnya.


"Kuro Kagami."


"Ya Baginda."


"Mengingat siapa dirimu, ini suatu yang sangat membanggakan. Tak peduli siapa pendahulumu, selama ini kau terus mengabdikan dirimu pada negeri ini. Tak banyak orang seperti dirimu. Karena itulah kau pantas mendapatkan suatu yang setimpal. Yang menjadi masalah, apa yang sebaiknya aku berikan padamu?"


"..."


Uang bukan masalah karena dia punya uang yang cukup untuk membeli negara kecil. Medali hanya menjadi pajangan. Kekuasaan tak dibutuhkan. Jabatan tinggi juga sudah dia miliki (sebagai pemilik usaha besar). Kekasih, sudah punya dan yang terbaik.


Apa yang kurang dari Kuro?


Sei tak pernah sepusing ini memberikan penghargaan pada seseorang.


Saat bingung, dia ingat dengan sesuatu dan melirik Riana.


"Ehem... Kuro Kagami, karena jasamu menyelamatkan negeri ini, aku akan memberikan putriku, Riana sebagai calon istri keduamu."


"............ha?"


Yang paling cepat bereaksi adalah Riana. Sedangkan semuanya membeku bagaikan tersambar petir.


Lalu setelah beberapa saat...


"Tunggu sebentar. Aku sudah memiliki kekasih dan dua orang anak. Apa maksudmu memberikan  putri rakus itu padaku? Jika kau bercanda, ini sungguh lelucon yang sama sekali tak lucu, Sei."


Tak hanya berdiri dari posisinya, namun Kuro juga mendekatkan wajahnya dengan penuh emosi.


"A-Kuro, ini adalah hadiah yang paling bagus yang aku pikirkan  untukmu. Apa kau tak senang punya istri cantik seperti Riana?"


"Karena itulah aku bilang hentikan candaanmu itu. Sebagai kaisar kau tak bisa melakukan hal semaumu karena kau bingung memilih hadiah. Kenapa kau tak memberikan aku satu permintaan atau semacamnya? Aku tak menyangka otakmu sungguh dangkal."


"Dangkal? Aku ini kaisar, jangan pernah memanggilku seperti itu atau aku akan menghukum penggal dirimu."


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau tahu apa yang kau katakan bisa membunuhku? Cepat tarik kembali sebelum aku terbunuh oleh istriku."


"Terbunuh? Apa maksudmu? Dia terlihat senang senang saja."


"Huh?"


Kuro menoleh ke belakang. Dan seperti yang dikatakan Sei, Laila sama sekali tak tergoyahkan dan memilih untuk minum anggur dengan anggun.


"..."


Untuk alasan tertentu Kuro merasa bingung, namun juga merasa takut karena sifat Laila.


"Ummm... Kuro?"


Saat sedang dibingungkan oleh tingkah Laila, Kuro dikejutkan oleh Riana yang tiba tiba berada di belakangnya.


"Apa?"


"A-Aku tak tahu kau seakrab itu dengan Ayahku. Sebenarnya apa kalian sudah saling mengenal?"


Sei dan Kuro melirik satu sama lain. Karena terlalu terbawa suasana, mereka tak sadar berbicara dengan akrab bagai teman masa kecil. Tidak, lebih dari itu.


"Ehem... Sebenarnya aku sudah mengenal Kuro sejak dari bayi. Karena itulah kami sangat dekat."


"Ke*arat. Jangan berkata yang jelas jelas bohong. Biarkan aku yang menjelaskannya. Sebenarnya aku pernah membongkar identitasnya saat dia menyamar, dan sejak saat itulah kami mengenal cukup baik."


Tiba tiba atmosfer menjadi berat. Tekanan itu berasal dari pelayan dan Holy Knight yang mengawal kaisar.


Selama ini mereka terus mengawal kaisar kemanapun mereka pergi, namun mereka tak menyangka kalau mereka gagal. Dan sejak kapan kaisar suka menyelinap?


"Lihat ulahmu, Ban*sat. Kau tak tahu betapa sulitnya diam diam kabur dari mereka. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin bisa pergi ke tempat itu lagi dengan bebas. "


"Itu bukan masalahku. Sebaiknya cepat kau tarik perkataanmu tadi dan biarkan aku hidup tenang dengan Laila."


"Tidak akan. Mana mungkin aku menarik keputusan yang aku ambil. Selain itu apa Riana menolak?"


Keduanya menatap Riana secara bersamaan.


"Err... "


Mungkin karena malu, Riana tak bisa menjawab dengan lancar.


"Lihat, dia tak menolak. Selain itu aku mendengar kalau kau pernah menciumnya. Anggap saja itu sebagai tanggung jawab."


"Ha? Apa kau serius? Jangan membuatku melakukan itu hanya karena aku pernah menciumnya."


"Intinya kau akan tetap bertunangan dengan Riana. Selain itu, dia tampaknya juga tak keberatan."


"Laila?"


Kuro menoleh ke Laila yang menentukan keputusan.


"Eh... Apa? Jika itu bisa mengurangi bebanku di malam hari, aku akan senang senang saja."


"Laila, apa kau serius?"


Kuro pucat pasi karena tak menyangka Laila akan dengan mudahnya berkata seperti itu.


"Yah.. Sebagai gantinya aku akan menusukmu sepuluh kali." ucap Laila dengan senyuman lebar.


Tak hanya Kuro, namun Sei, bahkan Riana juga membeku karena tak menyangka sisi gelap Laila  telah bangkit.


"Sei, bagaimana kalau kita bicara di tempat yang lebih pribadi?"


"Aku setuju. Sebaiknya kita pergi ke ruanganku."


Keduanya mengangguk dengan kompak.


"Semuanya. Silahkan melanjutkan pesta tanpa kami." ucap Sei. "Aku akan pergi terlebih dahulu untuk membicarakan masalah serius dengan ke*arat ini."


"Laila, tunggulah sebentar. Dan tolong singkirkan Scarflare itu."


Laila hanya tersenyum dengan Scarflare melayang di atas kepalanya.


Kemudian Kuro dan Sei pergi meninggalkan pesta yang kini bagaikan sebuah pemakaman.


"...Knox, siapa sebenarnya Kuro?"


"Siapa yang peduli dengan itu. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana cara kita menghentikan para gadis yang siap mengamuk?"


"Kita hanya punya pilihan  untuk kabur."


Knox dan Jinn hanya berkeringat dingin melihat tekanan para gadis yang begitu kuat.


Laila dengan Scarflare melayang di sekitarnya. Dia menunjukkan akan melawan siapapun yang berani mendekati Kuro.


Riana tak kalah menunjukan aura putih sebagai tanda dia siap menggunakan sihir elemen suci.


Untuk Charlmilia, meskipun dia sedikit bingung dengan apa yang terjadi, namun dia sekarang paham kalau ada saingan baru.


Percikan terjadi di antara ketiganya dan membuat seolah mereka melakukan pertarungan tak terlihat.


Sementara itu, yang melihat kejadian itu-


"Ahahahahaha  Dia sungguh pria yang menarik, benarkan Arthur."


"Victoria, aku tahu apa yang kau pikirkan. Dan aku tahu kau memiliki niat buruk saat kau tersenyum seperti itu."


Victoria  tersenyum lebar penuh dengan ekstasi seolah menemukan mainan baru.


"Arthur, jika kau terus bersikap seperti itu, kau tak akan merebut hati seorang gadis. Kau kadang harus tahu apa yang diinginkan oleh perempuan, bukan keinginanmu sendiri."


Arthuria hanya bisa mendesah dalam.

__ADS_1


(Aku tak ingin mendengar itu dari orang yang menolakku.)


__ADS_2