Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Sorry


__ADS_3

Meika dan Yuko terengah-engah. Wajah mereka terlihat pucat karena terlalu kelelahan setelah menggunakan sihir gabungan yang membutuhkan energi sihir yang tak sedikit.


Seperti yang terlihat, Unlimited Sword Knight adalah sihir untuk menciptakan pasukan perang.


Meskipun tubuh ksatria terbuat dari tanah liat, tetapi setiap ksatria memiliki pertahanan yang kuat. Atau bisa lebih disebut memiliki daya regenerasi yang kuat karena terbuat dari tanah liat.


Lalu ditambah dengan pedang sihir yang diciptakan oleh Yuko, maka lengkap sudah pasukan sihir yang memiliki kekuatan setara dengan penyihir peringkat C.


Tentu saja setiap individu bisa dibilang tak begitu kuat. Bahkan mereka memiliki kelemahan tak bisa melakukan gerakan yang rumit.


Tetapi semua itu sudah cukup. Untuk sekarang.


"Untuk sekarang kita bisa fokus memulihkan energi sihir. Gnome, tolong."


Melompat ke udara, Gnome dengan senang mengayunkan tongkatnya. Kemudian cahaya kehijauan mulai menyinari keduanya.


Perlahan Meika dan Yuko merasakan energi sihir mereka kembali pulih.


"Tanpa Gnome kita tak akan bisa menggunakan sihir gabungan seperti ini dengan tenang."


"Yah.. meskipun bisa diandalkan, tapi aku masih saja tak mengerti kenapa aku harus mengorbankan pakaianku."


Keduanya tersenyum kecut.


Di saat itulah mereka bisa mendengar suara tembakkan dan ledakan keras di kejauhan.


Keduanya tak perlu berpikir untuk tahu apa yang terjadi.


"Aku tak menyangka mereka akan tetap bertarung meskipun tahu kalah jumlah."


"Ini bukan suatu yang mengejutkan. Bukankah nona Meika sudah tahu hal itu?"


Meika hanya tersenyum.


"Jika mereka kabur hanya karena alasan itu, mereka sungguh tak pantas menerima kekuatan penuh kita."


Sama seperti saat menciptakan magic arm atau magic beast, Meika dan Yuko memiliki Link pada setiap ksatria yang mereka ciptakan.


Keduanya tiba tiba berkeringat dingin saat merasakan sesuatu yang tak normal.


"Jangan bilang kalau..."


"Jadi itu benar, tak ada peserta normal di Battle War?"


Karena ini pertama kalinya mereka mengikuti Battle War, maka itu pemikiran yang wajar.


Tetapi itu benar. Sudah menjadi pengetahuan umum kalau peserta Battle War adalah penyihir dengan kemampuan di luar nalar manusia. Meskipun itu hanya peringkat A.


Franco menusuk musuh yang datang. Setiap kali serangan menghancurkan lebih dari 10 ksatria. Dan gelombang kejut dari serangan juga menghancurkan musuh.


Dalam kurang dari 10 detik, dia sudah menghancurkan lebih dari 70 ksatria tanah liat.


Hal yang sama juga berlaku pada Juuno. Meskipun serangan awalnya tak begitu memiliki dampak, tetapi memiliki keakuratan tinggi yang tak menyia-nyiakan satupun peluru. Lalu seolah sihir telah aktif, setiap musuh yang menerima serangan langsung meledak hingga menjadi bongkahan tanah liat.


Jumlah ksatria tanah liat yang dikalahkan Juuno tak kalah dengan Franco. Dan seolah tak ada yang bisa menghentikan keduanya, keduanya dengan cepat maju ke tempat Yuko dan Meika. Tentu saja sambil terus mengalahkan ksatria.


Semua yang melihat itu bisa melihat kekuatan yang keduanya tunjukkan bukanlah kekuatan penyihir peringkat A.


Meika dan Yuko sadar mereka tak memiliki banyak waktu lagi. Jika seperti ini, pemulihan tak akan sempurna. Lalu meskipun Unlimited Sword Knight bisa dikatakan sebagai kartu andalan mereka, tetapi itu juga tidak karena mereka masih belum sempurna.


"Yah... Kita masih memiliki hal menarik yang belum diperlihatkan. Akan membosankan jika mereka kalah hanya karena ini."


"Anda benar, nona Meika-!!!"


Belum sempat merasa tenang, Yuko dikejutkan oleh sesuatu yang melesat ke arah mereka dengan cepat. Dari kecepatannya, itu adalah peluru. Dengan jumlah ratusan.


Yuko dengan cepat menggunakan Sakura untuk menahan peluru yang datang, tetapi dia kalah cepat. Banyak peluru yang lolos. Di saat itulah Gnome membantu dengan sihir pertahanan. Sebagai gantinya, sihir pemulihan mana terhenti.


Yuko dan Meika sekali lagi dibuat berkeringat dingin. Peluru sihir memang bisa mencapai beberapa kilometer, tetapi ini pertama kalinya mereka melihat ada yang bisa menembakkan ratusan peluru dengan begitu akurat.


Itu tak mungkin terjadi kecuali mereka sudah mengetahui lokasi mereka saat ini. Tapi bagaimana mereka tahu posisi keduanya?


Tak ada waktu memikirkannya. Juuno dan Franco sudah menghancurkan pasukan keduanya lebih dari 500 dalam waktu beberapa menit.


Tujuan ksatria bukan hanya mengalahkan musuh dengan jumlah, tapi juga dengan mengurangi jumlah energi sihir musuh. Sayangnya, apa yang terjadi saat ini benar benar di luar nalar keduanya.


Tak ada tanda Juuno maupun Franco kehilangan energi sihir mereka. Energi sihir keduanya seolah tak memiliki batas.


"Rencana B."


Tanpa kata lagi, Yuko mempersiapkan sihir baru. Lebih tepatnya menciptakan pedang baru.


Berbeda dengan sebelumnya yang menciptakan dengan tujuan sederhana, kali ini dia membuat dengan mengerahkan semua yang dia miliki.


Sebuah pedang yang tak terkalahkan oleh siapapun. Sebuah pedang yang tak akan dihancurkan. Sebuah pedang yang akan mengalahkan semua musuh. Sebuah pedang yang menghancurkan perisai apapun di dunia ini.


"Terciptalah, Divine Sword Gram!!!"


Sebuah pedang muncul di tangan Yuko. Berbeda dengan pedang katananya, Sakura. Pedang itu merupakan pedang dua sisi yang berwarna merah yang memancarkan aura ilahi.


Hanya dengan kemunculan pedang itu, pohon pohon di sekitar mereka perlahan pulih dan tumbuh subur.


Sementara itu, Meika juga bersiap dengan menciptakan suatu yang lebih kuat daripada semua yang dia ciptakan sebelumnya. Tetapi kali ini bukanlah sebuah ksatria.


Jika dibandingkan dengan ksatria yang mudah dihancurkan seperti sebelumnya, dia sudah memiliki ksatria terkuat dan paling dia bisa percayai.


"Yuko. Aku percayakan semuanya padamu."


Yuko hanya mengangguk. Dan kemudian, Meika memulai sihir yang menggunakan semua energi sihirnya.


Yang kali ini dia ciptakan adalah sebuah zirah terkuat. Yang melindungi dari segala serangan dalam bentuk apapun. Tak ada senjata satupun di dunia ini yang sanggup menghancurkan pertahanan zirah itu.


Dengan bantuan Gnome, partikel partikel cahaya sihir mulai berkumpul menuju ke arah Yuko.


Perlahan partikel itu membentuk wujud zirah keemasan dengan cahaya ilahi dan dilengkapi sebuah perisai. Siapapun langsung tahu kalau sosok Yuko kali ini menjadi seorang ksatria wanita suci.


Sosok Yuko saat ini mungkin terlihat seperti Charlmilia saat menggunakan Dragon Valkrye Gear. Hanya saja tanpa memiliki sayap dengan tambahan perisai.


Tak berapa lama kemudian Meika tersungkur ke tanah dan Gnome perlahan menghilang menjadi partikel cahaya.


"Yuko, menangkan pertarungan ini!!"


"Tentu saja!!!"


◼️▪️◼️


Tak berapa lama kemudian, sosok Juuno dan Franco akhirnya terlihat. Mereka dengan mudahnya menghancurkan hampir seluruh ksatria tanah liat tanpa menunjukkan tanda kelelahan sedikitpun.


Yuko dan Meika tak punya pilihan selain terkejut. Semua itu dilakukan keduanya kurang dari 10 menit. Tak diragukan lagi keduanya adalah monster sejati.


Lalu keduanya langsung melesat ke arah Yuko yang sudah bersiap menunggu keduanya.


Juuno menembak. Yuko menahan dengan perisai dan maju dengan tebasan. Di saat itulah Franco datang menahan serangan Yuko.


Tubuh Franco terpental jauh ke belakang karena kalah kekuatan. Di saat itulah Juuno kembali menembak lebih cepat dan banyak daripada sebelumnya.


Yuko bisa saja menahan serangan, tetapi dia memilih menghindar dan menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Juuno dengan berakselerasi secara tiba tiba.


Juuno melebarkan matanya karena terkejut. Tetapi semuanya sudah terlambat.


Kualitas sihir dan perlengkapan Yuko saat ini puluhan kali lebih kuat daripada sebelumnya. Tak hanya kekuatan, tapi juga kecepatan meningkat pesat. Kualitas energi sihir juga telah meningkat. Meskipun serangan sederhana, serangan Yuko akan memiliki dampak yang besar.

__ADS_1


Meskipun Juuno dan Franco kuat, tapi mereka kalah jauh dari Yuko saat ini.


"Dengan ini semua berakhir!!"


Dengan mudahnya Yuko menghancurkan Juuno. Ya. Menghancurkan. Hal ini sungguh di luar nalar karena semua serangan sihir akan disalurkan kepada Doll.


"!?"


Yuko ingat ini adalah teknik yang sama digunakan oleh Franco sebelumnya. Sebuah boneka es.


Dengan cepat dia pulih dari keterkejutannya. Dia langsung saja mengarahkan perisai ke samping. Kemudian, suara benturan keras terdengar bersamaan dengan udara yang bergetar.


"Sungguh pertahanan yang kuat... "


"Jangan pikir aku sama dengan sebelumnya."


"Kami tahu. Tapi itu juga berlaku pada kami."


Dalam sekejap jumlah Franco menjadi lima. Itu bukan karena sihir membuat boneka seperti sebelumnya, tapi karena gerakan Franco yang begitu cepat.


Tetapi Yuko sanggup menahan semua serangan dengan mudah. Lalu dengan kecepatan yang tak kalah dari Franco, dia membalas serangan.


Tubuh Franco sekali lagi terpental ke belakang. Dia berhasil berhenti dengan menguatkan cengkraman kakinya ke tanah.


Yuko tak membiarkan Franco untuk santai. Dia kembali menyerang. Tak hanya dengan tebasan pedang, Yuko juga menggunakan tendangan, perisai dan kombinasi teknik pedang Death Phantom.


Hasil dari semua itu adalah Yuko berhasil mengungguli Franco dalam semua hal. Kali ini Yuko lah yang menekan.


"Mengagumkan. Tapi kau tak lupa kalau aku tak sendirian."


Tiba tiba suara benturan keras terdengar dari belakang kepala Yuko. Itu adalah suara benturan dari peluru yang tertahan oleh perisai tak terlihat.


Melihat itu Franco sama sekali tak terkejut seolah sudah menduga apa yang terjadi.


"Aku tak pernah lupa. Pasanganmu adalah seorang yang mendapatkan gelar Invisible Shooter. Awalnya aku mengira dia mendapat gelar itu karena sihir peluru tak terlihat miliknya. Tapi itu salah, benarkan?"


Franco hanya terdiam, tapi dia menunjukkan senyuman seolah mengatakan apa yang dikatakan Yuko semuanya benar.


"Kalian menyerang secara terang terangan bukan hanya karena ingin memanfaatkan badai salju untuk memisahkan kami, tapi juga membuat kesan kalau kami menghadapi dua orang."


Karena tak menghadapi Juuno secara langsung, Yuko hanya bisa mengira ngira, tapi jika apa yang dia pikirkan benar, maka semuanya sekarang masuk akal.


"Kemampuanmu untuk menciptakan boneka salju bisa dikatakan hampir sama dengan kemampuan nona Meika, hanya saja kau lebih ke dalam spesialisasi. Bagi pasangan peringkat S seperti kalian, membuat boneka yang begitu mirip dengan pasanganmu pasti sangatlah mudah."


"Haha.. kau benar. Boneka yang aku ciptakan memang terbatas, tapi aku bisa membuat mereka hampir sama dengan manusia asli selama aku mengetahui karakteristik mereka."


"Itu sungguh kemampuan yang luar biasa."


"Mungkin..."


Meskipun hanya merendah, tapi Yuko yakin Franco sadar apa yang bisa dia lakukan dengan kemampuan itu.


Jika digunakan dengan tepat, kemampuan itu bisa begitu berbahaya dan menakutkan.


"Tetapi bagiku ini tak lebih dari kemampuan yang memiliki banyak batas dan kelemahan. Kau pasti sadar akan hal itu."


Boneka es ciptaan Franco memang begitu hidup, tapi mereka begitu rapuh. Bahkan bisa dibilang tak lebih keras dari es.


"Ya. Tapi karena itu pula kami lengah. Kemampuan pasanganmu juga tak kalah mengerikan daripada yang kami duga."


Invisible Shooter. Seorang penembak yang tak terlihat oleh siapapun dan menembak dengan peluru yang tak terlihat oleh siapapun. Tak diragukan lagi dari segi kemampuan, Juuno lebih mengerikan.


Tetapi tak hanya itu saja kemampuan Juuno.


"Dia bisa menembak dengan menyamakan waktu saat boneka salju akan menembak. Itu membuat kami mengira boneka itulah yang melakukan tembakan. Jujur saja dalam hal ini aku tak pernah melihat orang melakukan hal segila itu."


"Yah... Memang dia memang gila. Tapi dia bisa diandalkan."


"Lalu dengan mengetahui semua ini, apa kau berpikir bisa menang melawan kami?"


"...memang dalam hal ini aku mengakui kalau sulit mengalahkan kalian, tapi bukan berarti tak bisa."


Mendengar itu, Franco tersenyum kecil. Dia lalu memainkan rapier dengan begitu santainya.


"Semangat yang bagus, tapi kau lupa. ...Kami berdua."


"..."


Yuko terdiam dan tangannya menggenggam erat senjatanya. Dia tahu betul apa yang terjadi selanjutnya.


[Meika Avrosa dari Seiryuu Academy tak bisa melanjutkan pertarungan]


Itu adalah pengumuman sebagai tanda Meika telah tersingkir dari panggung Battle War.


Sadar akan hal itu Yuko menggerakkan giginya dengan keras. Dia memang tahu ini akan terjadi, tapi tetap saja menyakitkan.


"Dan satu hal lagi kesalahanmu."


"..."


"Apa yang kau katakan tentang kemampuan Juuno hampir semuanya benar. Tetapi kemampuan dia lebih dari yang kau pikirkan."


"!?"


"Tapi kesalahanmu yang paling besar adalah mengira kau bisa menang melawanku hanya dengan kemampuanmu yang sudah meningkat pesat saja."


Mendengar itu yang pertama kali muncul di benak Yuko adalah sebuah pemikiran bodoh. Dalam pertarungan tadi sudah terlihat kalau Franco kalah jauh dibandingkan dengannya. Bahkan Franco sudah mengakui hal itu.


Akan lain cerita jika Juuno ikut bertarung dengan Franco. Dan meskipun itu terjadi, Yuko tahu tak mungkin serangan Juuno akan berdampak pada dirinya.


Itulah kekuatan yang dia miliki sekarang. Sebuah kekuatan yang terlahir dari jiwa Yuko dan Meika.


"Jangan omong kosong!! Buktikan saja dengan pedangmu. Tentu jika itu bisa..."


Mendengar provokasi Yuko, Franco hanya tersenyum lebar.


"Aku memang berencana melakukannya. Anggap saja ini sebuah pelajaran dari senior kalian."


Keduanya menghunuskan senjata dan dalam sekejap mata menghilang. Kemudian yang terjadi adalah gelombang kejut yang menggetarkan udara sekitar.


Salah satu sosok akhirnya terlihat terpental ke belakang dengan keras. Itu adalah sosok Franco.


Yuko mengejar dengan gerakan yang begitu cepat. Bahkan gerakannya seperti menghilang. Dia lalu muncul di belakang Franco dengan sebuah tebasan.


Dalam sekejap Franco memutar tubuhnya dan menahan serangan. Berat. Dan sekali lagi dia terpental ke belakang.


Serang, bertahan, serang, bertahan. Hal itu terus terulang hingga beberapa menit.


Bagi yang melihat pertarungan sengit keduanya, mungkin terlihat pertarungan indah dan mengagumkan. Tetapi tak sedikit pula yang mulai merasa bosan dengan pertarungan yang tak memiliki akhir.


Sementara itu, bagi Yuko sendiri. Dia akhirnya mulai merasakan sebuah keganjilan.


Bagaimana mungkin dia butuh waktu selama ini mengalahkan Franco?


"Kau terlalu percaya diri dengan kekuatanmu itu. Memang aku lebih lemah, tapi bukan berarti itu membuatmu bisa menang."


"...kau bisa menggunakan teknik itu rupanya..."


Franco hanya tersenyum kecil.


"Bagi yang tak memiliki kekuatan besar sepertiku, akan sulit mengalahkan lawan yang memiliki kekuatan lebih besar. Hanya saja, mengalahkan lawan bukan hanya tentang beradu dua kekuatan."

__ADS_1


Teknik yang digunakan Franco adalah teknik pedang untuk meredam serangan lawan dan mengalirkan kekuatan serangan ke tempat lain.


Sebagai ahli pedang, Yuko juga bisa menggunakan teknik seperti itu. Di saat yang sama dia tahu itu bukanlah teknik yang bisa digunakan secara terus menerus. Bahkan di antara keluarganya, teknik itu hanya bisa digunakan beberapa kali saja dalam pertarungan.


Tetapi di depannya kini ada sosok yang bisa menggunakan teknik itu secara terus menerus. Tak diragukan lagi lawan mereka kali ini memang gila.


"Sekarang karena aku sudah bisa mengetahui sejauh mana kekuatanmu. Aku juga akan menggunakan kekuatan yang aku simpan. Absolute Break!!"


Aura yang keluar dari Franco berubah dan mulai bergerak menuju rapier Franco. Aura itu perlahan memadat dan membentuk sebuah lapisan tipis di seluruh rapier.


Seluruh sihir Franco kini berpusat pada rapier miliknya. Melihat itu bulu kuduknya berdiri tanda memperingatkan dirinya kalau rapier Itu berbahaya.


Meskipun dia percaya dengan pertahanannya saat ini, akan lebih baik jika tak menerima serangannya. Lalu karena kecepatannya lebih unggul, menghindar bukanlah hal yang sulit.


Yuko sudah bisa melihat kemenangannya dalam pertarungan ini. Untuk masalah Juuno bisa dia pikirkan nanti, yang terpenting sekarang adalah kemenangannya melawan Franco.


Keduanya lalu sekali lagi beradu pedang. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Franco berhasil bertahan dan menangkis serangan Yuko.


Yuko terkejut, tapi itu bukan masalah besar. Bahkan ini sudah dalam perkiraannya.


"Jangan sombong karena berhasil menahan seranganku."


"Tidak, tapi kau salah jika berpikir aku hanya menahan seranganmu."


"!?"


Awalnya Yuko tak mengerti apa yang Franco katakan, tetapi dia tiba tiba merasakan sakit di seluruh sekujur tubuhnya.


--Apa yang terjadi?


Tak berapa kemudian dia tersungkur ke tanah. Semua tenaganya menghilang dan dia sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhnya.


Dia lalu menengok ke atas. Wajah Franco yang penuh senyuman begitu memuakkan.


Ujung rapier kini berada di depan matanya. Dia saat itulah dia bisa melihat sesuatu yang begitu kecil di ujung rapier Itu. Sebuah jarum sihir yang membuat rapier lebih panjang.


Karena jarum itu begitu kecil, jarum itu sama sekali tak terlihat kecuali melihat dengan begitu teliti.


Dan akhirnya Yuko sadar. Dia sudah lama dikalahkan.


"Setiap serangan akan dialihkan pada Doll. Mengetahui hal itu membuat para peserta bebas menggunakan kekuatan mereka tanpa takut akan melukai lawan. Tapi kau salah jika berpikir semua serangan akan dialihkan."


Bukti nyata dari hal itu adalah adanya rasa nyeri yang masih tersisa setelah menerima serangan.


"Serangan tipe paralisis, tipe ilusi, tipe psikologi dan tipe lain yang tak merusak tubuh para peserta tak bisa dialihkan pada Doll. Jika tak menyadari hal sederhana seperti ini, kau sama sekali tak pantas dalam panggung ini."


"...aku mengerti itu. Tapi seranganmu bukanlah dari salah satu tipe yang tak merusak tubuh. Aku salah?"


Yuko sudah menyerah. Sejak awal Yuko dan Meika menari di telapak tangan Juuno dan Franco. Tak ada gunanya melawan lagi.


"Benar. Saat aku menyerang dirimu sebelumnya, aku menanamkan jarum sihir pada tubuhmu. Karena jarum itu begitu kecil, jarum itu tak memiliki dampak. Tidak, lebih tepat jika belum memiliki dampak."


Dan karena tak memiliki dampak, maka tak ada yang perlu dialihkan pada Doll.


"Tetapi cukup dengan satu pemicu, jarum itu akan memiliki dampak yang cukup besar untuk merusak tubuh dari dalam. Karena itulah serangan itu tak mungkin berhasil kau tahan dengan perisaimu."


"Aku mengerti semua itu, tapi kapan kau melakukannya?"


"Kau tahu, di sekolah kami ada seorang monster. Belajar menggunakan tekniknya bukanlah suatu yang salah."


"..."


Mendengar itu Yuko terbengong. Baginya sosok di depannya ini adalah monster sejati, tapi monster itu mengakui ada monster lain yang lebih berbahaya daripada dirinya.


Dia tak butuh banyak berpikir untuk tahu siapa yang dimaksud.


"Ahaha... Aku juga sependapat. Jika dipikirkan kembali, kalian berdua tak pantas disebut monster."


"Jika kau mengerti, maka aku tak perlu menjelaskannya lagi. Berbeda dengan kami, jalan kalian masih panjang. Tidak, lebih tepat jika baru dimulai. Suatu hari mungkin kalian akan menyusul kami."


"Aku memang akan melakukannya."


Keduanya lalu tersenyum. Pada momen inilah keduanya mengakui sosok di depan mereka adalah saingan.


"Karena tak ada yang perlu dikatakan lagi, sampai jumpa."


Franco memberikan serangan terakhir dan mengakhiri pertarungan di antara keduanya.


◼️▪️◼️


Setelah pengumuman tanda Yuko tersingkir dari panggung Battle War. Sosok Juuno tiba tiba muncul di udara kosong.


Entah mengapa dia terlihat jengkel.


"Sudah aku bilang untuk tak main main. Kau terlalu lama mengalahkannya."


"Dia anak yang menarik. Aku menantikan bagaimana dia tumbuh nanti."


"Kau bukan ayahnya."


Tiba tiba tatapan mata Juuno serius.


"Bagaimana?"


"Teknik Limit Release membutuhkan energi sihir lebih banyak daripada yang diperkirakan. Akan lain cerita jika kita sudah menyempurnakan teknik itu."


Juuno menaruh tangannya di dagu.


"Menyerap energi sihir sekitar dan menggunakannya untuk mengisi energi sihir yang digunakan. Setelah berhasil menguasai sihir ini, aku pikir kita bisa mengatasi kelemahan kita."


"Jangan murung. Sanggup memikirkan sihir seperti itu saja sudah termasuk jenius. Seperti biasa kau bukan orang yang mudah puas."


Franco mendesah. Dia mengakui kebibasaan pasangannya itu bukan hal yang terlalu bagus, tapi berkat itu pula mereka bisa sejauh ini.


Juuno selalu memikirkan cara untuk mengatasi kelemahan mereka sebagai penyihir yang tak begitu spesial. Berkat itu Franco harus mengalami banyak hal karena dia yang menjadi korban percobaan sihir baru.


Mengingat itu Franco ingin menangis.


"Kita akan cari cara agar Limit Release bisa menjadi lebih efisien. Sebaiknya kau bersiap."


"Kenapa aku tak terkejut dengan hal ini?"


Setelah itu keduanya berniat pergi dari tempat itu karena mungkin saja mereka telah menarik perhatian peserta lain. Dengan energi sihir mereka yang sekarang, menghadapi peserta lain bukanlah hal yang sulit, tapi akan lebih baik jika mereka dalam keadaan sempurna.


Tetapi baru sempat melangkahkan kaki mereka beberapa langkah, mereka merasakan kehadiran orang yang sama sekali tak mereka duga.


"Aku cukup terkejut kau menggunakan momen seperti ini untuk menyerang."


"Benar sekali. Kami memang ingin menghadapi dirimu, tapi bukan dengan cara seperti ini."


"..."


Sosok itu hanya terdiam dan menggenggam erat magic arm miliknya berupa sebuah tombak suci yang sanggup membunuh dewa.


Meskipun tak melihat secara langsung, tapi keduanya tahu sosok itu memasang wajah penuh penyesalan dan amarah.


"....maaf..."


Meskipun ini bukan cara yang kurang pantas dilakukan, tapi dia memiliki sebuah keinginan yang ingin dia capai dengan cara apapun. Untuk sekarang dia tak peduli dengan kehormatannya sebagai seorang petarung dan penyihir.


Pada momen inilah sang putri yang dikenal sebagai Berserker Princess mulai bergerak.

__ADS_1


__ADS_2