
Seperti saat melawan Gon, Riku berkeinginan untuk mengakhiri duel dengan cepat, tapi saat hendak menggunakan teknik Langkah Kilat, dia mengurungkan niatnya.
(.…dia sama sekali tak memiliki celah)
Tubuh yang tak begitu siap dalam posisi untuk bertarung, tapi dia merasakan tak ada satupun celah yang bisa dia manfaatkan.
Teknik Langkah Kilat merupakan teknik yang memanfaatkan celah pertahanan lawan. Teknik ini tak akan begitu berguna melawan Romeo.
Itu artinya Riku harus memikirkan cara lain.
"Kenapa kau belum maju? Jika kau tak mau, maka aku yang maju!!"
Romeo melesat dengan kepalan tangan yang siap memukul Riku dengan kekuatan penuh.
Riku dikejutkan karena tak menyangka Romeo begitu cepat. Matanya bahkan sulit mengikuti gerakannya.
Tetapi tubuh Riku sudah terlatih dengan lawan yang lebih cepat dari dirinya. Dengan reflek dia bergerak mundur ke belakang dan berhasil menghindar.
Sayangnya itu tak cukup. Romeo dengan cepat merubah serangan dengan tendangan, pukulan dan serangan yang tak berhenti.
Riku tak bisa berbuat banyak dan hanya menghindar. Beberapa kali serangan Romeo hampir mengenai tubuh Riku, syukurlah Riku bisa menghindar dengan jarak setipis kertas.
"Di mana kemampuanmu tadi? Jangan bisa hanya menghindar terus!!"
Aura meluap dan sekali lagi Romeo menyerang. Kali ini lebih cepat dan kuat.
Sial!!
Riku sadar tak bisa menghindar, jadi dia memilih bertahan dengan pedangnya.
Sayangnya, karena kekuatan yang begitu besar, tubuh Riku sampai terdorong ke belakang. Riku hampir saja terlempar ke luar arena jika dia tak menguatkan pijakannya dengan sihir.
Para penonton (murid kelas S dan kelas B) bersorak. Mereka tak menyangka duel akan begitu seru.
Sebagai salah satu murid yang masuk dalam peringkat tinggi, kemampuan Romeo sudah dikenal, jadi pemandangan itu bukanlah suatu yang aneh. Tetapi yang mengejutkan adalah Riku yang sanggup bertahan dari serangan Romeo.
"Tidak buruk. Tapi sudahi saja pemanasannya. Saatnya untuk serius!"
"Aku setuju."
Setelah memposisikan tubuhnya kembali, Riku akhirnya mulai serius menghadapi Romeo. Dia tahu Romeo bukanlah lawan yang bisa dia kalahkan jika dia bertarung dengan setengah setengah.
"Itu baru semangat!! Juliet!!"
Sesosok burung putih murni muncul dan terbang mengelilingi Romeo sebelum akhirnya mendarat di pundak Romeo.
Burung itu adalah Beast milik Romeo. Di mata Riku burung itu terlalu biasa untuk penyihir peringkat S seperti Romeo. Tetapi dia juga tak terlalu naif jika berpikir burung itu hanya burung biasa.
"Giliranmu untuk memanggil Arm. Jangan kecewakan aku. Bertarung dengan pedang bersarung pasti berat untukmu!"
Semua yang menonton sependapat. Bahkan tak sedikit yang berpikir kalau Riku begitu sombong karena tak menggunakan pedangnya untuk melawan murid kelas S.
"Tenang saja, aku tak akan mengecewakanmu. Hanya saja aku harus minta maaf terlebih dahulu. Bukannya aku tak ingin memanggil Arm atau mencabut pedangku, tapi aku memiliki situasi yang tak memungkinkannya. Sekali lagi aku minta maaf."
Mendengar itu raut wajah Romeo terlihat kecewa. Tapi beberapa saat kemudian dia tersenyum lebar penuh kebahagiaan.
"Begitu rupanya. Aku mengerti. Aku mengerti. Sepertinya aku harus memaksamu melakukannya!!"
Semangat berkobar kembali meluap dari tubuh Romeo. Bersamaan dengan itu Juliet mulai terbang tinggi. Begitu tinggi hingga terlihat begitu kecil.
Riku tak begitu mengerti kenapa Juliet melakukan itu. Mungkinkah untuk melakukan serangan dadakan?
Apapun itu, dia tak memiliki kesempatan untuk memikirkannya. Romeo kembali menyerang, tapi kecepatan lebih lambat daripada sebelumnya.
Tentu saja itu membuat Riku mudah menghindar. Tetapi di saat itulah Romeo tersenyum dan tiba tiba tubuh Riku merasakan sakit yang luar biasa di bagian perut akibat tendangan.
Riku tak menyangka Romeo akan menemukan titik lemah di pertahanannya.
Riku tak diam saja dan memilih untuk menyerang. Dia melakukan tebasan dengan kecepatan terbaiknya dan mengincar bagian vital Romeo untuk memberikan dampak maksimal, sayangnya tak ada satupun serangan yang kena.
"..."
Riku adalah penyihir dengan tipe kecepatan, jadi dia percaya diri serangannya akan mengenai sasaran. Tapi tak ada satupun yang kena, itu suatu yang sangat jarang terjadi.
Hanya ada beberapa kemungkinan, pertama kecepatan Romeo lebih besar daripada dirinya, dan yang kedua--
(Dia bisa melihat semua seranganku?)
Lebih tepat jika memprediksi. Tapi apakah sebelum melakukan serangan itu bisa?
Mungkinkah Romeo memiliki kemampuan untuk membaca pikiran?
Riku dengan cepat menggelengkan kepala menyingkirkan kemungkinan itu.
"Ini menyenangkan!!"
Sekali lagi tubuh Romeo dipenuhi oleh aura sihir yang meluap. Kali ini aura itu membentuk gauntlet dengan cakar tajam.
Itu bukanlah suatu teknik yang spesial. Dengan pengendalian sihir yang tepat, penyihir bisa memanipulasi energi sihir membentuk senjata semu. Hanya saja teknik ini cukup menguras energi sihir, jadi itu bukanlah teknik yang sering dilakukan oleh penyihir biasa.
Serangan Romeo menjadi lebih tajam dan akurat. Tubuh Riku mengalami berbagai sayatan di tempat dan darah mulai membasahi seragamnya.
"Jangan melamun. Apakah sebatas ini saja jika kau serius?"
"Tentu saja tidak!!"
Di saat itulah kobaran api kecil melintas di depan mata Romeo. Jika melihat dari jauh, mungkin itu hanya terlihat seperti api kecil yang tak memiliki ancaman, tapi Romeo yang melihat dari dekat bisa melihat dengan jelas kalau itu adalah binatang kecil yang terbuat dari api.
"Explosion!!"
Ledakan keras terjadi di antara keduanya hingga membuat keduanya terpental menjauh satu sama lain.
Tubuh keduanya berasap dan pakaian mereka compang camping. Bahkan masih ada sisa terbakar oleh api.
Keduanya lalu kembali dalam posisi bertarung setelah melihat kondisi lawan.
"Firefly."
"Mana Shield."
Kobaran api kecil muncul di sekitar Riku dan terbang seperti serangga kecil. Sementara itu aura di tubuh Romeo kembali membentuk benda lain. Kali ini sebuah perisai dan helm.
Dan seperti itu, duel di antara keduanya kembali berlanjut.
"Sungguh luar biasa.."
Sementara itu, Guy yang mengamati duel antara Riku dan Romeo tak menyembunyikan kekagumannya. Duel keduanya memang tak begitu memiliki dampak besar, tapi setiap serangan menggunakan teknik yang begitu rumit.
Misalnya, Beast milik Romeo memang tak bergabung dalam pertarungan, tapi sebagai Contractor, Romeo bisa menggunakan Juliet sebagai mata ketiga dalam pertarungan.
Alasan kenapa terbang begitu tinggi adalah untuk memberikan pandangan yang lebih pada Romeo. Inilah alasan kenapa Romeo bisa memprediksi serangan Riku dengan begitu mudahnya.
Gabungan antara teknik penciptaan oleh sihir dan menggunakan Beast dengan cara seperti itu merupakan gaya bertarung dari Romeo yang sudah terkenal. Teknik itu begitu melekat karena banyak yang mencoba menirunya, tapi semuanya gagal.
Itu tak aneh. Teknik yang dilakukan Romeo biasanya digunakan untuk mengamati atau mengintai musuh dari jauh. Dan penyihir yang melakukannya biasanya hanya bisa memfokuskan satu pandangan saja.
Jika mereka mencoba melakukan apa yang dilakukan Romeo, pertama Tama mereka harus bisa melihat dua hal secara bersamaan. Sunggub sebuah teknik sulit yang hanya bisa digunakan oleh beberapa orang saja.
"Tapi sihir apa yang Riku gunakan? Itu bukan sihir biasa."
"Itu sihir unik yang hanya bisa dilakukan oleh kak Riku, Flame Beast."
"!?"
Guy tak menyangka yang menjawab adalah seorang yang tak dia duga. Perempuan cantik yang cukup terkenal di sekolah karena peringkat dan latar belakangnya, Aura Kagami.
"Ah.. maaf mengejutkan. Aku hanya penasaran dengan teman yang kak Riku dapatkan di kelas."
"Aura, kau selalu mendahuluiku. Bukan hanya kau saja yang penasaran."
Di samping Aura, perempuan dengan wajah yang sama juga berbicara. Dia adalah Saria, saudara kembar dari Aura.
Sekilas wajah mereka mirip hingga membuat orang lain sulit membedakan, tapi ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Perbedaan itu adalah panjang rambut mereka.
Aura memiliki rambut yang lebih pendek daripada Saria.
"S-Salam kenal, namaku Guy Nact."
Aura dan Saria tersenyum.
"Salam kenal, Guy."
"Salam kenal."
"..."
Guy begitu senang karena tak menyangka akan bisa berkenalan dengan si gadis kembar yang terkenal. Jika ini mimpi, dia tak ingin bangun.
"Salam kenal, Aura dan Saria, namaku Helen Trista. Ketua kelas 1-B."
Di momen itu, Helen menyela dan sekaligus memperkenalkan diri.
"Ada hal yang ingin aku konfirmasi, apakah Riku adalah..."
"Benar. Dia adalah kakak kami."
"Apakah ada masalah dengan itu?"
"..."
Helen tak bisa membalas karena ada aura dingin yang keluar dari keduanya. Tekanan dari penyihir peringkat S memang berat.
"Tidak. Sama sekali tak ada masalah. Aku hanya ingin memastikannya saja."
"Aku tahu apa yang kau pikirkan. Seorang dari keluarga Kagami seharusnya tak akan menjadi penyihir peringkat B. Aku salah?"
__ADS_1
"..."
Helen ingin membantah, tapi dia diam karena itu tepat sasaran.
"Hey, aku tak peduli siapa kau, tapi menekan ketua kelas dengan cara seperti itu, aku sama sekali tak terima. Lagipula kami hanya ingin lebih mengenal Riku lebih baik. Apa salahnya penasaran dengan latar belakangnya?"
Guy berdiri di depan Helen membelanya. Dia tak terlihat takut meskipun orang yang ada di hadapannya ini salah satu keluarga terkuat di kekaisaran.
Aura tersenyum kecil.
"Aku sama sekali tak menekannya. Hanya saja, orang bodoh yang tak mengenal arti kekuatan sebenarnya sebaiknya tak perlu mendekati kak Riku."
"Dia memang hanya peringkat B sekarang, tapi kami yakin dengan cepat dia akan melampaui kalian semua." Tambah Saria.
Darimana datangnya kepercayaan diri itu?
Helen dan Guy sama sekali tak mengerti. Sudah menjadi pengetahuan umum kalau menaikkan peringkat sebagai penyihir sangatlah sulit. Bahkan meskipun berusaha seumur hidup, belum tentu orang itu sanggup melakukannya.
"Sejak awal, bukankah kalian menyadari kalau kak Riku sangat aneh."
"Bukankah dia aneh sejak dari dulu?"
"Fufufu.. aku tahu itu. Jangan membuat mereka bingung, Saria. Jika kalian tak bisa melihat hal sekecil itu, jangan harap untuk mengenal kak Riku, apalagi menjadi temannya. Itu saja yang ingin aku katakan."
"Sampai jumpa, orang bodoh."
Setelah itu keduanya pergi tanpa menoleh ke belakang.
Guy yang dihina terlihat tak sabar ingin membalas, tapi Helen menggelengkan kepalanya sebagai tanda untuk menghentikan ide bodoh Guy.
Membuat masalah dengan Saria dan Aura hanya akan membuat masalah menjadi lebih panjang.
"Kenapa kau menghentikanku? Jika hanya berdiam diri saja, aku seperti orang yang tak memiliki harga diri."
Helen mendesah. Dia mengamati pertarungan Riku dan Romeo yang masih terus berlanjut.
Sudah 5 menit, tapi duel belum ada pemenangnya.
"...kita memang bodoh, pantas saja mereka menghina kita."
"Eh? Kenapa sekarang kau memihak mereka?"
"Lupakan."
"?"
Duel terus berlanjut, Romeo terus menekan, tapi Riku juga tak mau kalah dengan menekan balik di setiap kesempatan.
Serangan Romeo lebih kuat dan mematikan, tapi sihir ledakan Riku juga tak kalah menakutkan karena tak bisa diprediksi. Yang menjadi masalah, serangan kedua belah pihak masih belum sanggup memberikan dampak besar yang membuat lawan tumbang.
"Apa benar kau hanya peringkat B, bagiku kau pantas mendapatkan peringkat monster."
"Keh.. aku tak ingin mendengar dari orang yang sanggup menahan seratus lebih ledakan."
Serangan Riku memiliki kekuatan yang cukup menghancurkan organ manusia dengan sekali serang, tapi jangankan satu, tubuh Romeo sudah menerima ledakan lebih dari 100 kali hanya ada goresan saja.
Riku sendiri juga menerima serangan kuat milik Romeo, tapi dia memiliki alasan kenapa dia masih bertahan meskipun peringkat mereka terlalu jauh.
"Meskipun saat ini kak Riku hanya peringkat B, tapi dia terlahir dengan tubuh yang luar biasa kuat. Mustahil bisa melukai kak Riku dengan serangan seperti itu."
"Selain itu kak Riku juga memiliki kemampuan menyembuhkan luka yang lebih cepat daripada manusia biasa. Jika ingin membuat kak Riku tumbang, harus dengan cara memberikan serangan besar yang memberikan dampak mustahil disembuhkan."
"Bukankah tak berbeda dengan membunuhnya?"
"Membunuhnya? Saria, apa kau lupa kalau kita tak pernah menang melawan kak Riku? Jangankan Romeo, kak Lunaris saja belum bisa mengalahkan kak Riku satu lawan satu."
"Sudah tiga tahun, aku jadi lupa kalau kita tak pernah menang. Aku merasa kalau kita yang sekarang akan menang melawan kak Riku."
"Apa kau ingin mencobanya?"
"Itu bukan ide yang buruk. Yang menjadi masalah, sejauh mana kak Riku bisa mengendalikan kekuatannya?"
"...itu yang aku khawatir kan. Jika ini terus berlanjut, aku rasa kak Riku akan..."
Belum selesai bicara, perubahan besar terjadi di arena duel. Tubuh Romeo tiba tiba terpental oleh ledakan besar.
Untuk pertama kalinya perisai sihir yang ada di tubuh Romeo retak.
"Dia masih bisa menggunakan sihir sekuat itu?"
Romeo bangkit dan menjaga jarak dari Riku. Serangga sihir yang diciptakan Riku tentu saja tak membiarkannya begitu saja.
Lalu saat jarak sudah dekat, serangga api Riku meledak satu persatu hingga membuat ledakan hampir di seluruh arena.
Tak berapa lama kemudian Romeo muncul dengan melesat ke arah Riku dengan kecepatan yang tak terlihat oleh mata.
"Aku punya firasat buruk jika tak mengakhiri pertarungan ini sekarang, Blast Fist!!"
Serangan telak menuju ke arah sosok Riku.
Tetapi, pada momen itu semua kembali dikejutkan oleh suatu yang lebih mengejutkan.
"Apa kau tahu kenapa naga dikenal sebagai ras paling kuat di Orladist?"
Serangan Romeo hanya ditahan dengan tangan kiri. Itupun dengan tanpa susah payah.
Romeo terkejut, tapi dia dengan cepat menenangkan pikirannya kembali.
Kemudian dia menjawab.
"Tentu saja aku tahu. Itu suatu yang diketahui oleh semua orang."
Sebagian besar orang menganggap kalau naga adalah monster dengan kemampuan setara dengan penyihir peringkat Master. Sudah menjadi pengetahuan umum kalau jika bertemu dengan salah satu dari mereka, pilihan yang terbaik adalah lari.
Di kekaisaran sendiri, naga adalah sosok yang tak boleh diusik apapun alasannya. Jangankan melukai, membunuhnya naga akan langsung diburu oleh pihak kekaisaran.
Tentu saja ada pengecualian dalam kasus di mana naga menyerang terlebih dahulu, maka boleh melakukan tindakan. Tetapi itu tak lebih dari mempertahankan diri.
"...Taring dan cakar yang sanggup mengoyak baja bagai kertas. Sisik yang lebih kuat dari perisai manapun. Sihir yang tak kalah dari penyihir peringkat Master. Sayap yang bisa digunakan untuk terbang melebihi kecepatan suara. Hanya orang bodoh yang ingin melawan makhluk dengan kekuatan seperti itu."
"..."
Riku menyeringai seperti meremehkan penjelasan Romeo yang kembali menjaga jarak sekitar 6 meter.
"Hampir tepat. Tapi kau lupa akan satu hal, itu adalah kemampuan mereka untuk menyerap sihir dari alam adalah sesuatu yang tak dimiliki oleh ras lain. Karena alasan itulah yang membuat mereka menjadi yang terkuat."
"Begitu? Itu tak mengubah kenyataan kalau mereka tetap yang menjadi terkuat. Cukup berbincang-bincang, mari kita akhiri."
Romeo memasang kuda kuda. Energi sihir yang meluap kini mulai fokus pada kepalan dan kakinya. Serangan Romeo kali ini lebih tertumpu pada satu titik, dan itu artinya serangannya akan memiliki kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya.
Riku memang bisa menahan serangan sebelumnya, tapi jika dia melakukannya lagi, tangannya mungkin akan hancur.
"Ya.. mari kita akhiri.... First Seal, Release!!"
"!?"
Setelah mengucapkan kata kunci, tekanan sihir dan aura Riku langsung berubah. Semula tekanan yang kuat milik penyihir peringkat B mulai tergantikan oleh tekanan yang lebih besar dan kuat. Tekanan penyihir peringkat A, dan terus bertambah hingga sama dengan penyihir peringkat S.
Fenomena yang diperlihatkan oleh Riku sekali lagi membuat seluruh penonton bungkam. Hanya ada tiga sosok yang terlihat biasa saja dengan apa yang terjadi.
"Dia akhirnya menggunakan teknik merepotkan itu. Dengan ini Romeo sudah dipastikan tak akan bisa menang."
"Romeo terus menerus menggunakan sihir yang menguras energi sihirnya, sedangkan kak Riku memanfaatkan momen itu untuk menyerap energi sihir. Energi yang dia serap itu akhirnya dilepaskan hingga membuat tekanan sihir kak Riku meningkat tajam. Sungguh, ini adalah teknik curang."
"Dia adalah kakak kita, ini suatu yang normal untuknya."
Saria dan Aura tahu betul kalau keluarganya jauh dari kata normal jika dibandingkan dengan keluarga lain. Tapi dari semua itu, keduanya paling tahu kalau kakak mereka, Riku tak normal di antara semua saudara mereka.
"Yah.. selama berjalan dengan baik, aku rasa tak perlu ikut campur."
"Aku setuju. Lagipula kita melakukan semua ini hanya untuk melihat itu."
Melihat apa yang terjadi dengan Riku, Romeo bukannya takut, tapi dia gemetar. Gemetar karena senang lawannya lebih mengejutkan daripada yang dia kira.
Sebagai penyihir peringkat S, Romeo sejak dulu selalu dipuja dengan bakat dan potensi yang dia miliki. Dia sadar, semua orang memuja kekuatannya, bukan dirinya.
Hal itu membuat Romeo tak senang. Romeo adalah seorang yang ingin diakui karena kerja kerasnya, bukan karena bakatnya.
Jika semua orang memperlakukan dirinya hanya karena bakat dan potensi yang dia memiliki, dia memilih akan memberikan semua hal itu pada orang lain.
Karena itulah dia memutuskan, sejak masuk ke Flame Academy, dia hanya akan menggunakan kekuatan seorang Romeo, bukan seorang penyihir peringkat S.
Tetapi dia tak menyangka, mungkin karena potensinya lebih besar daripada yang dia duga, dia akhirnya sanggup menggunakan teknik yang tak bisa ditiru oleh penyihir manapun.
Sampai saat ini dia belum pernah menunjukkan teknik itu karena merasa tak ada yang pantas, tapi tampaknya dia akhirnya menemukan sosok yang pantas menerimanya.
"Kuahahaha.. aku tahu kalau seorang yang memiliki nama Kagami tidaklah normal. Tapi bukan kau saja yang tak normal di dunia ini. Juliet, saatnya kau keluarkan kekuatanmu, tidak, kekuatan kita yang sesungguhnya."
Perintah Romeo begitu tenang, tapi Juliet menanggapinya dengan penuh semangat seolah sudah menantikan perintah itu.
Bersamaan dengan itu, sosok Juliet yang sebelumnya berupa burung kecil yang tak berdaya berubah menjadi burung besar yang kepakan sayapnya mencapai 5 meter lebih. Itulah wujud Juliet yang sebenarnya, burung raksasa.
Pada momen ini semua yang tahu wujud Juliet tak begitu terkejut dan mengira menggunakan wujud itu untuk menyerang Riku, tapi sosok Juliet tak terbang ke arah Riku, tapi Romeo.
Kemudian, saat sosok Romeo dan Juliet hampir bertabrakan, kilatan cahaya muncul hingga semuanya menutup mata mereka karena terlalu silau. Tak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam cahaya itu.
Riku sendiri yang berada paling dekat hanya menggunakan sisi lebar pedangnga untuk menghindari cahaya langsung. Dia tak tahu apa yang terjadi, tapi saat ini dia begitu tenang.
Perlahan, cahaya mulai menghilang dan akhirnya sosok Romeo terlihat.
"..."
Pada momen ini sekali lagi semua penonton dibuat terkejut.
Sosok Romeo saat ini sangat berbeda. Lebih tepat jika berbeda dengan sosok manusia.
__ADS_1
Dua sayap di punggungnya, kakinya berubah postur menyerupai bentuk kaki burung dan juga dengan cakar yang tajam. Wajah dan kepalanya juga berubah, manusia, tapi memiliki paruh.
Siapapun bisa melihat saat ini Romeo berubah menjadi manusia burung.
Sayangnya bukan itu saja yang mengejutkan. Tekanan sihir Romeo meningkat tajam hingga melebihi peringkat S.
Riku awalnya melebihi Romeo, tapi posisi kembali terbalik.
Menyadari dalam situasi yang tak diunggulkan, Riku sama sekali tak panik. Dia justru semakin tersenyum lebar.
(Man Beast Union. Ini semakin menarik)
Di mata penonton, teknik Romeo mungkin suatu yang luar biasa, tapi di mata Riku, teknik Romeo lebih tepat jika disebut sebagai langka.
Teknik yang hanya bisa dilalukan oleh beberapa Contractor yang telah mencapai penyatuan hati dan jiwa saja yang bisa melakukannya.
Efek dari teknik ini yang paling mencolok adalah peningkatan kekuatan dan juga bertambahnya sihir yang bisa digunakan. Tentu saja bukan hanya itu saja batas dari teknik ini.
Bibi mereka, Yui adalah seorang yang bisa menggunakan Man Beast Union dengan mudahnya. Bahkan seringkali dia melakukan itu sehingga dia seperti manusia binatang.
Riku tahu Romeo berbakat, tapi dia tak menyangka bakat Romeo akan sehebat itu karena bisa melakukan sihir langka tanpa ada yang mengajari. Riku ingin tahu seperti apa Romeo nanti jika dia sudah benar benar tumbuh.
"Ini belum terlambat untuk menyerah. Sihir yang kau gunakan memang luar biasa, tapi aku yakin itu hanya sesaat. Benarkan?"
Romeo tersenyum penuh percaya diri seolah sudah menang.
Keluarga Kagami dikenal sebagai keluarga yang memiliki teknik khusus disebut sebagai Burst Art. Sebuah teknik yang memungkinkan meningkatkan kekuatan berkali kali lipat dalam waktu terbatas.
Karena tahu hal ini, cara yang tepat untuk menghadapi Riku adalah dengan mengulur waktu, tapi itu tak diinginkan oleh Romeo.
Dia ingin bertarung dengan Riku di dalam kekuatan penuhnya.
"Yah.. itu tak salah. Tapi kata 'menyerah' tak ada dalam kamusku. Aku boleh saja kalah, tapi aku tak akan menyerah."
"Kalau begitu jangan menyesalinya!!"
Sosok Romeo tiba tiba menghilang. Gerakannya kali ini puluhan kali lebih cepat daripada sebelumnya.
Riku sendiri hanya bisa melihat sosok buram Romeo, tapi itu sudah cukup.
Gelombang kejut akibat keduanya saling beradu membuat pelindung bergetar hebat. Ini cukup mengejutkan karena pelindung arena yang memisahkan penonton memiliki kekuatan yang sanggup menahan serangan seorang Master.
Romeo melakukan serangan bertubi tubi dan mendesak Riku hingga tak sempat melawan balik. Ini suatu yang normal mengingat kecepatan dan kekuatan Riku jauh di bawah Romeo.
Riku masih bisa bertahan karena mengandalkan instingnya yang tajam untuk memprediksi serangan, tanpa itu, dia sudah kalah dari tadi.
"Blast Fist!!"
Serangan Romeo membuat raungan keras dan menerjang Riku dengan kecepatana yang tak bisa dilihat dengan mata biasa.
Riku sadar jika menerima serangan ini, dia akan menerima dampak fatal dan mungkin saja akan langsung kalah.
Sayangnya, dia tak bisa berbuat apapun. Serangannya terlalu cepat.
Tubuh Riku terpental ke belakang dengan keras hingga hampir ke luar arena duel. Dia masih bertahan karena di saat terakhir Riku menancapkan pedangnya ke lantai arena.
Tetapi keadaan Riku sama sekali tak baik. Dia tersungkur dan mulutnya memutahkan darah segar.
(Serangan tadi tak hanya melukai tubuhku, tapi juga berdampak pada energi sihirku)
Sungguh serangan yang mengerikan. Tampaknya Romeo telah berhasil membuat teknik yang mampu melumpuhkan penyihir dalam sekali serang. Romeo sadar kalau kelemahan terbesar penyihir bukanlah batas jumlah energi sihir, tapi pengendalian energi sihir.
Serangan tadi membuat aliran energi sihir pada tubuh Riku sedikit kacau. Dia butuh waktu untuk pulih, tapi mana mungkin lawannya memberikan waktu untuk itu.
"Aku tak percaya ada yang sanggup bertahan dari seranganku dengan hanya luka kecil. Sayang sekali, setiap serangan yang aku gunakan tak hanya berdampak pada tubuh saja."
Energi sihir berkumpul di tangan Romeo. Serangan kali ini lebih kuat daripada sebelumnya.
Riku sadar serangan Romeo lebih berbahaya daripada serangan penyihir manapun yang dia lawan. Dia tak boleh menerima serangan lebih dari ini.
Tapi mana mungkin dia bisa menahan serangan Romeo?
Apakah ini adalah momen kekalahannya?
Waktu mulai berjalan lambat dalam pikirannya. Dia melihat ke arah Lunaris yang tak menunjukkan ekspresi apapun seolah tak peduli dengan apa yang terjadi padanya.
Di saat itulah, Lunaris tersenyum kecil dan bergumam. Sebuah gumaman kecil yang tak akan terdengar oleh siapapun, tapi Riku bisa mendengarkannya dengan jelas.
Menangkan!!
Di saat itulah energi sihir meluap dari tubuh Riku hingga membuat sebuah pusaran yang menyelimuti Riku seperti sebuah perisai.
"Percuma!!"
Romeo sadar Riku memilih bertahan. Itu bukan keputusan yang buruk, tapi tidak cukup.
"Chaos Blast Fist!!!"
Serangan Romeo dengan mudahnya menghancurkan pusaran energi sihir Riku seolah terbuat dari tahu.
Siapapun yang melihat itu mulai panik karena serangan itu memiliki kekuatan yang cukup untuk membuat seseorang terbunuh.
Duel dilakukan untuk mengetes kekuatan antara para murid, kekuatan yang melebihi batas sangat dilarang, apalagi menggunakan kekuatan yang sanggup menghilangkan nyawa.
Dalam situasi normal, duel antara Romeo dan Riku sudah dihentikan dari tadi mengingat kekuatan yang mereka tunjukkan terlalu kuat dan berbahaya.
Anehnya, Melisa tak berbuat apapun seolah menikmati pertarungan.
Para murid yang menyadari situasi mulai berteriak histeris. Apapun alasannya, ini sudah keterlaluan.
"Wha!!!"
Tetapi apa yang terjadi kembali membuat orang terkejut. Serangan Romeo yang sanggup membuat penghalang retak ditahan oleh sesuatu dari Riku, lebih tepatnya kepalan tangan Riku.
Mustahil!! Romeo sempat berpikir kalau ini hanyalah sebuah mimpi.
Serangannya memang tak dikategorikan sebagai Sacred Magic Art, tapi serangnnya itu menggunakan hampir semua kekuatannya. Mustahil hanya menahan serangan hanya dengan kepalan tangan.
"!?"
Romeo berusaha menarik kembali tangannya untuk menjaga jarak dan memulai serangan selanjutnya, tapi dia sama sekali tak bisa melakukannya.
(Kekuatan apa ini?)
Ini sungguh tak normal. Kekuatan yang Riku tunjukkan sama sekali tak sesuai dengan tekanan sihir yang hanya peringkat S.
Di saat bingung itulah, Romeo melihat ke arah mata Riku.
Mata Riku yang semula terlihat seperti mata biasa berubah menjadi mata reptil, sama seperti mata seekor naga. Di saat yang sama Romeo melihat sesosok naga raksasa berada di belakarang Riku memberikan tekanan yang besar padanya.
Tekanan itu membuat Romeo sadar sosoknya saat ini begitu kecil di hadapan Riku.
(Jadi inikah kekuatan Riku yang sebenarnya?)
Romeo dengan cepat sadar. Sejak awal Riku bisa mengalahkannya dengan mudah jika dia menggunakan kekuatan ini. Selain itu, pedang di tangan Riku pasti memiliki rahasia lain.
Tak diragukan lagi, seorang yang berasal dari keluarga Kagami adalah monster.
"Apa kau mengerti perbedaan kekuatan kita?"
"Hmmph!! Kau monster!!"
Normalnya seorang yang berhadapan dengan kekuatan absolut akan langsung menyerah, tapi Romeo mengumpulkan energi sihir yang tersisa pada tangan kirinya dan menyerang Riku.
"Hell Fist!!"
Meskipun serangan Romeo terlihat seperti serangan putus asa, tapi serangannya memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan. Dengan jarak yang dekat, akan sulit bagi Riku menahannya.
"Lambat!!"
Bamm!!! Dalam sekejap mata, tubuh Romeo menghantam lantai arena hingga membuat kawah besar dengan Romeo sebagai pusatnya. Arena bahkan sampai hancur menjadi puing.
Beberapa saat kemudian, sosok Romeo kembali ke wujudnya semula dengan tubuh lecet dan kehilangan kesadaran.
Romeo kalah.
Semua dibuat terkejut dengan akhir pertarungan antara Romeo dan Riku. Romeo dikenal sebagai salah satu murid dengan peringkat tinggi, jadi bukan suatu yang aneh jika dia memiliki kekuatan tersembunyi.
Sayangnya, kekuatan itu dipatahkan dengan mudah oleh seorang penyihir peringkat B. Siapapun tak akan percaya jika tak melihat pertarungan mereka secara langsung.
"Dia sekarang bisa menggunakan kekuatan Dragonoid tanpa harus kehilangan kendali kesadaran dan kekuatan. Ini cukup mengejutkan."
"Ya. Sepertinya kak Riku bekerja keras selama tiga tahun ini."
Banyak yang bingung dengan kekuatan apa yang Riku tunjukkan, tapi ada tiga orang yang mengenal baik kekuatan Riku.
Dan mereka tahu, kekuatan yang Riku tunjukkan saat ini tak lebih dari ujung gunung es.
"Tetapi kita masih belum tahu sejauh mana kak Riku bisa mengendalikan kekuatannya."
"Bukankah lebih baik bertanya pada orangnya langsung?"
"Itu solusi yang paling cepat, tapi ayah meminta kita mengetesnya secara langsung. Bukankah kau sudah tahu?"
"Aku hanya kurang suka cara merepotkan seperti ini."
"Mau bagaimana lagi, kita hanya menjalankan perintah ayah. Aku sama sekali tak mengerti apa yang dia pikirkan."
Aura menggelengkan kepala dengan pasrah.
Tapi bukan berarti keduanya tak mengerti kenapa harus melakukan semua ini.
Sejak kecil Riku dikenal sebagi jenius yang akan menjadi seorang Paladin suatu hari nanti, tapi kebanyakan tak tahu kalau Riku memiliki potensi yang lebih besar daripada itu.
Sayangnya, bakat yang terlalu besar kadang menjadi sebuah kutukan.
__ADS_1
Kutukan itulah yang membuat Riku hampir menghilangkan nyawa orang yang paling berharga dalam hidupnya.