Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Magnet of Trouble


__ADS_3

Setelah mendaftarkan misi yang mereka ambil, ketiganya menuju tempat masuk gorong gorong yang bisa ditemukan dengan mudah di sudut kota.


Lori dan Resla langsung menutup hidung karena bau menyengat dari gotong gorong, sedangkan Riku terlihat biasa saja.


Jika dibandingkan dengan para tuan putri yang selalu menghirup aroma wangi, mana mungkin Riku terpengaruh oleh bau tak sedap yang bisa dibilang sepele. Pengalamannya selama melakukan perjalanan mengelilingi dunia membuatnya pernah mencium bau yang lebih busuk dan menyengat.


Mereka masuk menggunakan lentera sebagai penerangan jalan. Beberapa hewan hewan kecil yang biasa hidup di gorong gorong mereka temui, tetapi semuanya langsung menghindari keberadaan manusia.


"Kita masih belum menemukan tikus raksasa. Apa benar monster itu ada di tempat ini?" Keluh Resla.


Keluhannya terasa wajar. Meskipun hampir setengah jam menelusuri gorong gorong, mereka belum menemukan satupun target mereka.


"Tenanglah, pasti ada."


"Kenapa kau bisa bilang seperti itu?"


Riku tersenyum kecil.


"Meskipun membersihkan monster bukanlah pekerjaan utama Knight, tapi tak mungkin mereka membiarkan monster hidup di gorong gorong ibukota dengan tenang. Pasti Knight melakukan pembasmian secara berkala untuk mengatur populasi monster agar tak berlebihan."


"Terus?"


"Bukankah aneh? Jika dilakukan pembasmian secara berkala, kenapa masih ada misi di Guild?"


Resla dan Lori terdiam. Mereka berdua mulai memikirkan perkataan Riku.


"Menurut pengalamanku, hal ini biasanya terjadi karena monster berkembang biak lebih cepat dari seharusnya. Para Knight yang sibuk tak bisa menangani masalah dan akhirnya membuat misi di Guild."


"Ini juga menjelaskan kenapa jarang sekali misi penaklukan monster di ibukota. Hmm... Bukanlah kita berada dalam masalah?"


Lori mulai terlihat panik. Jika apa yang dikatakan Riku semuanya benar, bukankah mereka akan kalah jumlah?


"Bukan masalah. Misi dikategorikan sebagai misi mudah bukan karena kita harus menyelesaikan misi dengan sempurna. Jika musuh terlalu banyak dan melebihi kemampuan, kita bisa mundur dan memberikan laporan pada Guild. Misi memang gagal, tapi kita tak akan mendapatkan pinalti."


Lori mulai terlihat tenang.


"Hmmph.. kau bisa berkata seperti itu karena merasa tak masalah jika misi gagal, tapi hal itu tak berlaku pada kami."


"Aku mengerti situasi kalian. Tenanglah, lagipula kita baru mulai. Berhasil atau gagal ditentukan setelah kita menemukan target kita."


"Hmmph!!"


Resla membuang muka dengan kesal. Dia melangkahkan kakinya lebih cepat dan berjalan lebih dulu.


Lori mendesah kecil dan menyusul Resla. Sedangkan Riku mengikuti mereka dengan tetap waspada memperhatikan sekitarnya.


Tak berapa lama kemudian, setelah melewati beberapa lorong, Riku tiba tiba mengangkat pedangnya sambil mengarahkan tatapannya ke salah satu cabang lorong.


"Ada apa?"


Melihat tingkah Riku yang tiba tiba berubah, Lori bertanya.


"Apa kalian tak merasakannya?"


"Merasakan apa?"


"..."


Mendapatkan respon itu, Riku mendesah kecil dalam hati. Tampaknya keduanya benar benar bukanlah tipe petarung.


"Aku merasakan tekanan sihir yang tak nyaman dari sana."


"Apa kau ingin bilang kalau tikus raksasa ada di sana?"


"Mungkin... "


Dengan waspada, Riku mulai mendekat dengan pedang yang masih tersarung.


"Tunggu. Setidaknya jika ingin bertarung, lepaskan dulu pedangmu dari sarungnya..."


Tetapi Riku mengabaikan Lori dan terus maju.


Dia lalu menciptakan burung api dan menerbangkannya ke arah lorong.


Lorong yang gelap mulai terlihat. Dan seperti yang diduga, seekor tikus raksasa berada di sana.


Ukuran tikus itu sebesar satu meter dengan mata merah menyala.


"Serang!!!"


Yang berteriak bukanlah Riku, tapi Resla. Dia mengeluarkan Arm berwujud busur dan menyerang dengan panah api.


Serangan meleset dan membuat tikus raksasa melarikan diri dengan cepat.


"Lori, kita kejar!!"


"Un!!"


Lori mengikuti Resla dan mengejar. Dia juga mengeluarkan Arm berwujud palu besar.


Riku yang ditinggalkan begitu saja mendesah. Dia ingin bilang mengikuti tikus raksasa tanpa tahu arah adalah tindakan ceroboh, tapi dia tak sempat.


Pada akhirnya Riku hanya bisa menyusul keduanya karena khawatir. Lagipula dia satu satunya yang berpengalaman dalam menghadapi monster seperti ini. Jika terjadi sesuatu pada mereka berdua, dia akan merasa bersalah.


Setelah berhasil menyusul, Riku mulai merasakan perasaan tak nyaman. Terutama saat melihat Resla dan Lori tak begitu peduli dengan jalur yang mereka ambil.


Mereka sungguh ceroboh.


"Tikus itu pergi ke sana."


Mereka terus berlari mengikuti tikus yang berlari lebih cepat dari yang diperkirakan.


Sesekali Resla mencoba memanah, tapi selalu gagal.


"Tch!! Siapa bilang ini misi yang mudah?"


Resla mengeluh. Sedangkan Riku dan Lori tak bisa berbuat banyak karena mereka petarung jarak dekat.

__ADS_1


Tidak.


Jika Riku berniat mengalahkan tikus raksasa itu, itu suatu yang mudah baginya. Dia bahkan bisa mengalahkan tikus itu dengan burung api yang dia ciptakan sebelumnya.


Alasan kenapa dia masih belum mengeluarkan kemampuannya yang sebenarnya adalah karena rasa penasaran terhadap kemampuan para murid Academy.


Memang keduanya mengaku hanya penyihir peringkat C dan memiliki keahlian di dalam bidang selain pertarungan, tetapi itu tak menjadi alasan untuk tak bisa bertarung.


Eksistensi penyihir sendiri sudah menjadi dasar kalau mereka tak akan menjalani kehidupan seperti manusia biasa. Karena itulah selain kekuatan bertempur, mereka juga harus memiliki kekuatan untuk melindungi diri dari bahaya, terutama dari penyihir lain yang memiliki niat jahat.


Tikus raksasa sendiri dikategorikan monster tingkat F karena bisa dikalahkan oleh penyihir peringkat E dengan mudah.


Tetapi bagaimana mungkin peringkat C seperti Resla sulit melakukannya?


(Hanya ada dua kemungkinan, yang pertama Resla lebih lemah daripada penyihir peringkat E meskipun memiliki peringkat C. Sedangkan kemungkinan kedua adalah...)


Riku ingin membuang kemungkinan kedua. Karena jika benar, misi yang mudah bagi mereka lebih sulit daripada yang terlihat.


(Tetapi terlalu awal memutuskan itu. Aku akan mengikuti arah misi ini. Jika hal buruk terjadi, aku hanya harus menarik pedang ini)


Pedang yang selalu dia bawa kemanapun adalah satu satunya senjata yang dia percayai. Senjata itu memang tak spesial, tapi hal itu berbeda jika pedang itu sudah lepas dari sarungnya.


Sejauh ini Riku hampir tak pernah menarik pedang itu kecuali dalam keadaan darurat saja.


"Kena kau!!"


Saat memikirkan itu, Resla akhirnya berhasil memanah tikus raksasa dan membunuhnya. Tikus itu memang tak lebih dari monster peringkat F.


"Kita hanya butuh ujung ekornya sebagai bukti penaklukan."


Lori mengambil pisau kecil dan bersiap memotong ujung ekor tikus, tapi dia berhenti saat melihat kembali sekitar mereka.


Mereka keluar dari lorong dan tiba di tempat luas menyerupai aula besar dengan banyak terowongan. Di salah satu sudut terdapat semacam alat besar yang berbunyi tanda masih berfungsi.


Tetapi di berbagai tempat terdapat banyak kumpulan kayu dan berbagai macam sampah dengan bau menyengat. Bahkan terlihat beberapa bongkahan daging dan tulang yang sudah membusuk.


"Tempat macam apa ini?"


"Ya ampun, apakah kau tak pernah tahu tentang alat pengolahan air limbah? Setiap kota di kekaisaran memiliki fasilitas ini di bawah tanah." Jelas Resla.


Ketiganya mulai melihat seluruh tempat karena ini pertama kalinya melihat fasilitas secara langsung.


Riku sendiri dengan mudah paham cara kerja fasilitas di bawah tanah itu.


"....Tak ada satupun orang di sini."


"Fasilitas ini bisa berfungsi secara independen dan tak begitu butuh perawatan. Tetapi tetap saja akan diperiksa secara berkala."


"Begitu. Apakah biasanya sekotor ini?"


"Tidak mungkin. Karena ini fasilitas pengolahan limbah air kota, tak mungkin dibiarkan kotor seperti ini. Jika melakukannya, apa gunanya membangun tempat ini?"


Mendengar itu Riku tersenyum.


"...kalau begitu, kita dalam masalah kali ini. Masalah besar..."


"Apa maksudmu?"


Dari lorong lorong terdengar suara langkah kaki kecil yang berisik dan mengganggu. Bisa ditebak kalau pemilik langkah kaki itu bukanlah manusia. Dan yang terpenting, jumlah mereka tidaklah sedikit.


"Sial..!!"


Tapi semuanya terlambat.


Tikus raksasa dengan jumlah tak terhitung muncul dari lorong lorong. Ukuran mereka bervariasi. Dari yang terkecil seukuran tikus biasa, tapi ada yang sebesar satu meter lebih.


"Ini bukan misi peringkat F lagi namanya."


"Tak ada gunanya mengeluh. Resla, apa yang harus kita lakukan?"


"Kenapa kau tak bertanya pada dia?"


Keduanya menoleh ke arah Riku dengan penuh harapan.


Kenapa harus aku? pikir Riku dalam hati.


"Aku tak menduga kalian akan menyerahkannya padaku." Riku mendesah." Ini bukan masalah besar. Mereka hanyalah monster peringkat F, kita hanya harus mengalahkan mereka semua."


Lori dan Resla merasa apa yang dikatakan Riku benar. Mereka bertiga adalah dua penyihir peringkat C dan satu peringkat B. Mengalahkan monster peringkat F bukanlah masalah besar.


Seharusnya begitu, tapi dengan jumlah mencapai tak terhitung, apa ketiganya sanggup?


"Kau sudah gila. Mana mungkin kita bisa mengalahkan mereka semua."


"Aku setuju dengan Resla. Mungkin kita bisa menang, tapi kita tak tahu jumlah mereka yang sesungguhnya. Kita akan kehabisan energi sihir sebelum mengalahkan mereka semua."


"...kenapa kalian takut? Apa kalian tak ingin berhasil melaksanakan misi?"


Resla dan Lori tak bisa menjawab. Riku mengingatkan kembali kalau mereka ke tempat itu untuk sebuah misi yang harus berhasil dilaksanakan.


"Apa kau anggap kami pengecut?"


"Kau pintar."


"Ba*gsat!!"


Resla mengarahkan busurnya pada Riku dengan penuh amarah.


"Resla, ini bukan saatnya bertengkar satu sama lain."


Lori yang melihat situasi memanas melerai keduanya.


"Dan kau Riku, aku mengerti kau menganggap dirimu memiliki kemampuan untuk melawan mereka semua, tapi kami tidak. Jangan paksa kami bertarung."


"...ya ampun..."


Riku mendesah dalam karena kecewa pada mereka berdua. Mereka berdua adalah tipe orang yang paling Riku benci.

__ADS_1


"Baiklah, jika kalian tak ingin bertarung, cepat pergi. Aku akan melakukan sesuatu agar bisa membantu kalian melarikan diri. Bagaimanapun juga membuat jalan cukup sulit dengan jumlah sebanyak itu."


"...Riku.. kau.."


Seekor kupu-kupu api muncul di dekat Riku dan terbang menuju jalan yang sebelumnya mereka lewati.


"Ikutilah kupu-kupu itu. Dia akan membawa kalian keluar dari tempat ini."


"Hey, jangan sombo-"


"RESLA!!!!!!"


"?!"


Resla dibuat terkejut. Dia tak pernah menyangka Lori yang selama ini dia kenal begitu lemah lembut berteriak padanya.


Di saat yang sama para tikus raksasa mulai menyerang. Mereka tampaknya tak ingin Lori dan Resla pergi dengan mudah. Mereka menghalangi jalan yang mereka ambil untuk keluar.


"Phoenix Flame!!"


Riku menciptakan burung api besar dan menyerang tikus yang menghalangi jalan. Semua hangus menjadi debu dan tak menyisakan apapun.


"Cepat pergi."


Resla dan Lori terkejut dengan sihir yang begitu luar biasa, tapi dengan cepat mereka sadar kalau tak ada waktu untuk melakukan itu.


"Riku, ikutlah dengan kami. Kita semua bisa lari dari mereka."


"Jangan khawatir, aku akan menyusul. Cepat pergi dari sini. Jika bisa segera minta bantuan."


Riku memukul dan membakar tikus raksasa dengan sihirnya. Mereka lawan yang mudah, tapi jumlah mereka sama sekali tak berkurang.


Sadar tak ada yang mereka berdua bisa perbuat, Lori mengepalkan tangannya dengan erat.


"Lori, kita pergi."


"Baiklah..."


Setelah memutuskan apa yang akan mereka lakukan, keduanya dengan cepat berlari menyusul kupu-kupu yang terbang terlebih dahulu.


Para tikus raksasa yang menghalangi jalan memang sudah dihancurkan Riku dengan sihirnya, tapi mereka terus saja muncul. Tak butuh waktu lama hingga jumlah mereka mencapai ratusan.


"Aku tak percaya jumlah mereka sebanyak ini. Sebenarnya apa yang terjadi?"


Setelah membunuh sekitar 60 lebih, Resla sadar kalau situasi yang mereka alami sekarang sangat tidak normal.


Yang menarik, dia sadar kalau tikus yang pertama kali mereka temui ternyata lebih kuat daripada yang menghalangi mereka. Ini membuktikan kalau tikus tikus raksasa itu memang tak lebih dari monster peringkat F, tapi kenapa ada salah satu yang spesial?


Resla dan Lori memikirkan banyak kemungkinan, dan pemikiran itu mengantarkannya pada suatu yang buruk.


"Jangan terlalu dipikirkan. Kita harus cepat meminta bantuan. Jika kita saja menghadapi sebanyak ini, seberapa banyak yang Riku lawan?"


"..."


Resla langsung pucat pasi. Dia sama sekali tak ingin membayangkan hal itu.


Tiba tiba kupu-kupu yang mereka ikuti menghilang.


"Apa yang terjadi?"


Sihir akan aktif selama yang diperlukan tergantung sihir itu diciptakan. Kupu-kupu itu seharusnya mengantar mereka ke atas.


Jika kupu-kupu itu menghilang sebelum tujuannya tercapai, hanya ada satu kemungkinan.


Sesuatu terjadi pada Riku.


Dia dalam bahaya.


***


Apa yang keduanya bayangkan memang tak salah, tapi juga tak benar.


Kupu-kupu yang mengantar mereka berdua menghilang karena kupu kupu itu dikendalikan oleh pikiran paralel Riku. Pikiran paralel itu bukanlah semacam pikiran independen seperti kepribadian ganda, tapi hanyalah salah satu teknik untuk membagi pikiran untuk melakukan dua hal secara bersamaan.


Musuh memang lemah, tapi jumlah mereka yang banyak membuat Riku harus lebih berkonsentrasi menghadapi musuh, karena itulah dia memutuskan kendali pada kupu-kupu api yang mengantar Resla dan Lori.


Selain itu, dia merasa kalau mereka berdua bisa menemukan jalan sendiri dengan mudah.


Setelah membunuh sekitar 200 tikus raksasa, tumpukan mayat dengan bau menyengat mulai memenuhi tempat. Jubah Riku kini berlumuran darah dengan bau amis yang tak sedap.


Jika dia serius, dia bisa menghanguskan semua tikus raksasa dengan mudah, tapi dia khawatir akan merusak fasilitas di dekatnya.


Tapi bukan itu saja yang menjadi kekhawatirannya. Sudah jelas kalau tikus raksasa itu menyerangnya bukan karena marah karena temannya dibunuh. Bagaimanapun juga mereka monster peringkat F yang dikenal memiliki kecerdasan rendah. Normalnya mana mungkin mereka semua berani menghadapi Riku?


Karena itulah Riku bersabar. Dia ingin melihat siapa yang ada dibalik semua ini.


Dan setelah membunuh sekitar 300 lebih, akhirnya kesabarannya terbayar.


"Tsk!! Aku tak percaya penyihir peringkat B seperti dirimu bisa menghadapi mereka semua dengan mudah. Siapa kau sebenarnya?"


Dari dalam salah satu lorong, sesosok pria dengan jubah hitam kelam muncul. Wajahnya begitu pucat pasi dan tubuhnya terlihat kurus seperti tak memiliki gizi. Sekilas dia seperti tengkorak hidup.


Dari rekanan sihir yang dikeluarkan oleh pria itu, Riku tahu dia tidaklah lemah.


"...kau Monster Tamer?"


"Haha.. kau bisa melihatnya sendiri. Aku sudah lama merawat anak anak ini, aku berharap mereka bisa melakukan sesuatu yang berguna. Sudah aku duga menghadapi penyihir peringkat B sedikit terlalu berharap."


Jika Riku adalah penyihir peringkat B biasa, memang dia akan sudah kalah. Penyihir peringkat atas atau bukan, mereka akan memiliki batas stamina. Mengalahkan monster sebanyak itu akan membuat mereka kelelahan.


Sayang, Riku memiliki stamina di atas normal.


"Sesuatu yang berguna kah... mungkinkah membunuh mereka berdua?"


"Kau cukup pintar.. karena kau sudah tahu, kau harus mati di sini."


Setelah mengatakan itu, dari lorong muncul 10 tikus raksasa dengan ukuran tak normal. Tubuh mereka sebesar 3 meter lebih dengan cakar dan gigi yang lebih besar menyerupai pedang.

__ADS_1


Aku benar benar sial!


Dia baru saja pulang, kenapa sudah terlibat insiden dua kali? Mungkinkah dia memiliki magnet pembawa masalah?


__ADS_2