Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Enemy Attack


__ADS_3

Riku dan lainya (+ Lunaris) pergi ke pelabuhan kapal udara yang berada di sebelah utara ibukota. Jarak pelabuhan bisa dibilang cukup jauh, jadi terpaksa mereka menyewa kereta umum agar lebih cepat.


Sebagai penyihir tentu saja jika mau mereka bisa berlari ke pelabuhan, tapi itu hanya akan mengundang masalah. Penyihir dan orang biasa memiliki perbedaan fisik yang sangat jauh, apa yang terjadi jika penyihir menabrak orang biasa?


Untuk menghindari hal semacam itu maka diberlakukan aturan setiap penyihir harus bergerak secara normal, kecuali keadaan darurat.


Satu jam kemudian, rombongan tiba di salah satu dermaga. Sebuah kapal udara ukuran sedang (sekitar 30 meter) yang cukup mewah menanti mereka.


Kapal udara itulah yang akan mereka gunakan. Dan di saat yang sama juga merupakan tempat berkumpul.


Sebagai ketua tim, Helen menemui Sebas untuk memberitahukan kalau mereka ada tambahan. Misi sebenarnya untuk lima orang, jadi tambahan Lunaris sama sekali tak masalah.


Selain rombongan Riku dan Sebas, ada 15 orang kru yang mengoperasikan kapal udara. Mungkin terlihat kurang, tapi jumlah itu cukup untuk kapal udara ukuran sedang yang mampu menampung 50 orang.


"Kalian semua akan tinggal di kamar yang dekat dengan tuan muda Adam. Untuk penjagaan, aku akan memberikan alat komunikasi khusus agar kalian bisa langsung bertindak jika suatu terjadi. Meskipun aku harap kita tak perlu menggunakannnya."


Sebas menjelaskan sambil memberikan tiga buah alat sihir komunikasi.


Setelah itu mereka diantar menuju kamar selama dalam perjalanan. Kapal udara yang mereka gunakan merupakan kapal udara yang khusus disewa untuk orang orang penting, jadi tak aneh kalau setiap ruangan tak kalah dari hotel mewah.


Setiap kamar memiliki keamanan khusus yang membuat tak bisa masuk tanpa kunci yang cocok. Kamar juga dipasang pelindung yang otomatis aktif jika ada yang membuka secara paksa.


Dengan kata lain, tim Helen sebenarnya tak perlu melakukan banyak hal selama Adam berada di kamarnya.


"Aku dan Milia akan satu kamar. Guy dengan Riku, tapi mana mungkin nona Lunaris mengizinkannya."


"Aku senang kau pengertian."


"Tidak. Ini bukan suatu masalah."


Tanpa berpikir panjang, siapapun bisa melihat Lunaris yang selalu melekat pada Riku. Mengingat hubungan mereka, mana mungkin keduanya mau berpisah.


"Riku, sialan kau. Saat orang tidur sendiri, kau justru... Sialan. Dunia sungguh tak adil.."


Guy menangis darah penuh dengan rasa iri. Tak ada yang peduli dengannya.


"Meskipun ini terlihat misi yang mudah, kita tak bisa mengabaikan misi utama kita sebagai pengawal. Kita akan bergantian melakukan pengawasan. Apa ada yang keberatan?"


"Tidak masalah."


Mereka lalu membagi giliran dengan lotre. Yang pertama adalah giliran Helen dan Lunaris.


Berpasangan dengan Lunaris entah mengapa membuat Helen merasa canggung. Dia merasa kalau Lunaris sepertinya tak begitu senang dengan dirinya.


Bersamaan dengan mereka selesai membagi tugas, kapal udara lepas landas menuju kota Panese.


---__


--6 jam berlalu dengan cepat sejak kapal udara meninggalkan ibukota kekaisaran. Kapal udara melaju dengan kecepatan normal, tapi karena tak ada rencana untuk singgah, maka perjalanan lebih cepat daripada kapal udara biasa.


Matahari mulai terbenam di barat mengubah langit biru menjadi gelap gulita. Hanya ada bintang dan cahaya bulan yang menemani perjalanan.


Selama 6 jam ini perjalanan begitu lancar tanpa ada masalah berarti.


"Nona Lunaris, sudah saatnya makan malam."


Helen memanggil Lunaris yang berada di geladak kapal menikmati pemandangan matahari terbenam. Pada saat itu Helen seolah melihat malaikat yang begitu cantik hingga terpesona.


"Begitu..."


Waktu makan malam juga saatnya untuk bergantian berjaga.


Tetapi entah mengapa Lunaris enggan beranjak dari tempatnya.


"Nona Lunaris, apa ada masalah?"


"Tidak. Tak ada masalah. Jika ada, itupun hanya masalah pribadi."


Tak ada yang bisa diperbuat oleh Helen jika seperti itu.


"Kalau begitu, aku makan malam dulu. Tolong anda segera menyusul. Aku yakin Riku menantimu."


Helen berbalik dan masuk untuk makan malam.


"Tunggu!!"


Helen berhenti dan kembali menoleh ke arah Lunaris yang menatapnya dengan penuh intimidasi.


Helen merasa akan mengalami hal ini cepat atau lambat, tapi tidak secepat ini.


"Apa ada masalah?"


"Aku hanya ingin menanyakan beberapa hal tentang Riku."


Helen sama sekali tak terkejut.


"Jika menyangkut tentang Riku, aku hanya menganggapnya sebagai teman. Jadi anda tak perlu takut aku akan merebutnya dari nona Lunaris. Selain itu aku bisa melihat kalau Riku sama sekali tak melihat wanita lain selain anda."


Lebih baik menjelaskan semuanya daripada menimbulkan salah paham.


"Aku tahu kau sama sekali tak tertarik dengan Riku, bagaimanapun juga aku bisa melihat kalau kau sudah menyukai orang lain. Pesona Riku tak akan berpengaruh padamu."


"Hm?"


Kenapa jadi seperti Helen sudah ditolak padahal dia belum berusaha?


"Jika menyangkut hubungan asmara, aku lebih kawatir pada temanmu yang satunya. Dia sama sekali belum memiliki orang yang dia cintai. Cepat atau lambat dia akan jatuh hati pada Riku. Ya ampun, ini masalah."


Lunaris membuat ekspresi tak berdaya dan mengatakan kalau hal itu akan benar benar terjadi. Ini membuat Helen bingung.


"Lupakan itu, kau bilang menganggap Riku sebagai teman, tapi bagiku hubungan antara kalian tak lebih dari kenalan, jadi bisakah kau menjaga jarak dari Riku."


"!? Apa maksumu!!"


Helen marah. Pertemanan antara dia dan Riku memang masih seukuran jagung, tapi bukan berarti itu adalah hubungan palsu. Lunaris sama sekali tak memiliki hak untuk menjauhkannya dengan Riku meskipun dia adalah tunangannya.


"Tidak ada maksud khusus. Seperti yang aku bilang, jika kau hanya sebatas teman Riku, sebaiknya kau menjauh darinya."


"Menurutku kau sudah keterlaluan. Sebagai tunangannya, kau seharusnya mendukung kalau Riku memiliki banyak teman. Kenapa kau malah mengusir kami?"


"Riku hanya butuh aku. Dia tak butuh orang lain. Hanya aku satu satunya yang mencintainya. Aku akan menjadi teman, kekasih, pasangannya sampai akhir nanti. Orang lain hanya akan membuatnya menderita."


"K-Kau gila!!"


Dia selama ini berpikir kalau Lunaris adalah sosok yang terhormat dan berwibawa. Lunaris adalah sosok yang selalu dia idamkan.


Tapi melihatnya seperti ini membuang semua pemikiran itu. Lunaris lebih baik disebut gila karena obsesinya pada Riku.


Helen mengerti kenapa Riku tak bisa lolos dari Lunaris. Dia terlalu mengerikan.


"Ya aku gila. Kau bisa mengatakan aku adalah sosok gila jika berhubungan dengan Riku. Jadi aku peringatkan, demi kebaikanmu sendiri, sebaiknya menjuhlah dari Riku secepatnya. Bagaimanapun juga aku tak ingin ada yang terluka."


"Apa kau mengancamku?!"


Lunaris tersenyum kecil.


"Aku hanya memperingatkan. Aku mungkin menentang kau memiliki hubungan dengan Riku, tapi aku berharap kita bisa menjadi teman baik. Karena itulah aku memberikan saran agar tak ada satupun yang dalam bahaya. Kau tak bisa memprediksi apa yang terjadi di masa depan kan?"


"Aku sama sekali tak ingin berteman denganmu!!"


Setelah mengatakan itu, Helen berbalik dan pergi untuk makan malam. Dia sama sekali tak menoleh ke belakang. Saat ini sosok Lunaris adalah sosok yang paling dia benci.


Sementara itu, Lunaris yang melihat perilaku Helen hanya tersenyum kecil seperti menikmatinya.

__ADS_1


"Kenapa niat baikku diabaikan?"


Bagi orang lain mungkin apa yang dia katakan tak lebih dari ancaman dan provokasi, tapi Lunaris benar benar memberikan sebuah saran dari lubuk hatinya.


Riku memang tak memiliki teman, tapi bukan berarti dia butuh teman.


"Riku hanya butuh aku. Orang lain tak dibutuhkan."


Apa yang dia katakan tak lebih dari sebuah obsesi dan cinta. Dia bahkan sudah menganggap dirinya gila karena seperti itu.


Tapi itu tak masalah. Demi Riku, menjadi gila hanyalah sebuah harga murah demi menghentikan sebuah tragedi yang mungkin akan terulang kembali.


Di saat itu terjadi, mungkin Riku benar benar akan rusak sepenuhnya.


"Berkah dan kutukan. Jika semua itu menghilang dari Riku, mungkin kami sudah bahagia."


Meskipun itu tak mungkin terwujud, tapi tak ada salahnya berharap. Meskipun itu akan sia sia belaka.


---


--


Jam makan malam bersamaan dengan jam pergantian pengawasan. Kali ini adalah giliran Riku dan Milia.


Tentu saja Guy protes 'kenapa hanya aku yang sendiri?' dengan wajah kesal, tapi seperti sebelumnya, tak ada satupun yang peduli.


Hampir 4 jam berlalu sejak pengawasan dimulai, Riku dan Milia hampir tak melakukan percakapan satupun. Milia memang pendiam, jadi Riku sulit memulai pembicaraan. Lagipula hubungannya dengan Milia masih belum jelas, jadi memulai pembicaraan bukan ide bagus menurut Riku.


"Aku akan berkeliling. Tak apa apa kau jaga sendirian?"


Milia hanya mengangguk kecil.


Riku pergi dari pintu depan kamar milik Adam. Dia menuju bagian dalam kapal untuk memeriksa keadaan sekali lagi.


Pemeriksaan kapal sebenarnya sudah dilakukan berulang kali, tapi tak ada salahnya berjaga jaga.


(Ini misi yang mudah, tapi klien kali ini benar benar aneh. Tidak, aku rasa mereka menyembunyikan sesuatu dari kami)


Saat makan malam tadi, Riku hanya melihat Sebas makan sendiri tanpa ditemani orang lain. Maid pribadi Adam maupun Adam sendiri sama sekali tak terlihat.


Lebih tepat jika sejak mereka naik kapal, mereka bahkan belum melihat Adam sekalipun. Ana kadang muncul saat mengambilkan makanan dan mengurus hal kecil untuk Adam.


Sekilas tak ada yang mencurigakan, tapi apakah normal untuk anak kecil yang memiliki rasa penasaran tinggi hanya berdiam diri di kamar?


Jika Adam adalah anak yang tipe pendiam seperti Milia, mungkin itu bisa saja, tapi dia tak menemukan sifat itu pada Adam saat bertemu kemarin.


(Aku harap hanya perasaanku saja yang terlalu cemas)


Mendesah, Riku memasuki gudang penyimpanan kapal. Riku dan lainnya tak membawa barang, jadi tak ada satupun barang milik mereka di sana. Ada beberapa koper yang kemungkinan milik Adam, tapi masih banyak tempat yang kosong. Dengan situasi seperti itu, tak aneh jika hanya ada sedikit pencahayaan.


Menyalakan lampu, ruangan langsung menjadi terang. Riku sesekali melihat lihat ke berbagai sudut. Di saat itulah dia menemukan semacam garis yang tergambar di lantai dengan semacam tinta warna merah.


Riku mendekat. Dia menunduk untuk memeriksa lebih detail dan menggunakan ibu jari untuk mengecek cairan apa itu.


Sekilas terlihat seperti darah, tapi itu bukan.


"Ini adalah tinta Ambrois yang biasa digunakan untuk membuat formasi sihir instan."


Atau lebih tepat sebuah tinta yang biasa digunakan dalam sebuah alat sihir.


Alat sihir instan merupakan sebuah alat sihir sekali pakai yang biasanya mudah ditemukan di toko alat sihir. Kebanyakan adalah alat sihir untuk melindungi diri, tapi bukan sebatas itu saja penggunaanya.


Yang menjadi masalah, formasi sihir yang tergambar bukanlah sebuah formasi sihir biasa. Itu adalah formasi sihir teleportasi. Dan dari tingkat energi sihir yang tersisa, alat sihir itu belum lama digunakan.


"Ya ampun..."


Riku sadar mereka dalam masalah. Masalah besar.


Riku lalu menggunakan telepati dengan Lunaris untuk menyampaikan apa yang baru saja dia temukan.


Dia sebenarnya bisa menggunakan alat komunikasi agar Helen dan lainnya juga tahu, tapi tak ada yang menjamin kalau komunikasi tak disadap.


Satu satunya komunikasi yang paling aman saat ini adalah telepati yang terhubung dengan Lunaris. Ikatan di antara keduanya yang begitu kuat dan khusus yang membuat keduanya bisa mengetahui keberadaan masing masing meskipun terpisah jarak jauh. Telepati antara keduanya bukanlah suatu yang aneh.


[Bisakah aku menyingkirkannya?]


Riku menghela nafas dalam. Kenapa jika berkaitan dengan membunuh musuh Lunaris begitu bersemangat?


[Kita lihat situasi dulu]


[Tch!!]


Komunikasi terputus. Riku ingin berkumpul untuk memberitahu apa yang dia temukan dan merencanakan tindakan yang mereka ambil.


Tetapi belum sempat dia melangkahkan kakinya, sebuah ledakan keras terdengar dari bagian luar. Bersamaan dengan itu, kapal udara bergoyang dengan hebat.


[Riku, kau sungguh cepat menemukan musuh. Kita kedatangan tamu yang benar benar tak terduga.]


[...]


Riku langsung ingin membantah kalau mereka bukanlah musuh yang Riku maksud, tapi mendengar nada senang dari Lunaris, dia tak mengatakannya.


Tapi ini membuat situasi semakin tak jelas. Jika di luar ada musuh, berarti saat ini mereka berhadapan dengan dua pihak musuh.


Melihat waktu dan situasi, bisa ditebak kalau musuh di luar adalah sebuah pengalihan.


(Dengan kata lain ada musuh yang bergerak dengan memanfaatkan situasi ini.)


Riku tak panik. Dia lalu pergi menuju tempat kamar Sebas.


"Apakah saat ini ada situasi yang mencurigakan?"


Riku bertanya setelah bertemu dengan Sebas. Sama seperti Riku, Sebas sama sekali tak panik.


"Tak ada yang aneh kecuali monster yang menyerang kapal udara saat ini."


Dari jendela mereka bisa melihat monster terbang yang menyerang dengan semburan api. Hanya ada beberapa monster saja yang bisa melakukan itu.


Sekilas mereka terlihat seperti naga, tapi mereka bukan. Sebuah naga palsu yang dikenal sebagai wyven.


"Apakah kalian bisa mengatasi monster ini? Meskipun naga palsu, tetap saja saja wyvern adalah monster yang setara dengan penyihir peringkat S."


"Sama sekali tak masalah." Jawab Riku dengan percaya diri.


Wyvern sendiri bukanlah monster yang kuat baginya atau bagi Lunaris. Meskipun agak berat bagi Helen dan lainnya, bisa dibilang situasi masih dalam kendali.


Yang menjadi masalah adalah jumlah wyvern yang cukup banyak, yaitu 3. Lalu karena mereka bisa terbang, ada batas serangan yang bisa mereka lakukan.


Kapal udara sendiri memiliki pelindung yang cukup kuat dan juga memiliki beberapa senjata untuk mempertahankan diri.


"Yang menjadi masalah saat ini adalah keselamatan tuan Adam. Apakah dia baik baik saja?"


"Serangan monster bukanlah suatu yang baru bagi keluarga Azure. Saat ini Ana sedang bersama dengan tuan muda. Kau tak usah cemas, dia bukanlah maid sembarangan."


"Aku tahu. Tapi untuk memastikan saja, bolehkah aku melihat keadaan tuan muda secara langsung."


"Itu tak diperlukan. Aku bisa menjaminnya. Lagipula aku seorang Master."


"Begitu? Kalau seperti itu maka tak masalah. Hanya saja aku sedikit kawatir mengingat ada tikus yang bersembunyi. Aku harap tak membuat takut tuan muda Adam."


"..."


"Kalau begitu aku permisi dulu."

__ADS_1


Riku lalu pergi untuk berkumpul dengan Helen dan lainnya.


(Aku harap dia mengerti apa yang ingin kusampaikan.)


Meskipun dalam hati Riku tak perlu merasa cemas, tapi tak ada salahnya mengingatkan.


Dia kemudian tiba di geladak kapal. Selain Lunaris dan lainnya, ada beberapa kru kapal yang mengeluarkan arm mereka untuk menyerang wyvern.


Bagi penyihir tipe Contractor seperti Milia dan lainnya tak mengeluarkan wujud sihir mereka karena sama sekali tak berguna dalam situasi sekarang. Satu satunya yang bersiap adalah Helen dengan arm berwujud sebuah senjata api laras panjang kuno.


"Kenapa kita masih belum terbang menjauh dari tempat ini?"


Situasi yang ada sebenarnya tak begitu mengejutkan, tetapi kenapa memilih bertahan daripada kabur?


"Saat wyvern menyerang, kapten ingin pergi meninggalkan tempat ini secepatnya, tapi di saat itulah tiba tiba mesin rusak."


Salah satu kru kapal menjawab.


"Apakah kita bisa memperbaikinya?"


"Bisa. Kerusakan tak terlalu berat. Kira kira dua jam bisa selesai. Tapi karena kerusakan itu kita tak bisa terbang dengan cepat. Dan masalah terbesar adalah energi yang terkuras untuk perisai menjadi lebih besar daripada biasanya."


"Hm...."


Seluruh kejadian ini membuat kecurigaan Riku menjadi kenyataan.


Dia lalu melirik ke arah Lunaris yang tampak menantikan perintah darinya.


Lunaris saat ini seperti seekor anak anjing kecil yang tak sabar bermain dengan tuannya.


"Lunaris, lakukan sesukamu."


Lunaris tersenyum lebar penuh kesenangan. Tekanan sihirnya meningkat pesat hingga membuat orang yang merasakan menjadi dingin.


Lunaris dikenal sebagai penyihir peringkat SS, tapi dia sangat jarang menunjukkan kekuatannya di depan umum. Di Flame Academy sendiri, Lunaris merupakan sosok yang mutlak, tak ada yang pernah melihatnya bertarung secara serius.


"Gunakan ini. Hari ini kita akan makan barbeque wyvern."


Riku memberikan pedangnya.


Menerima pedang Riku, Lunaris menghilang. Saat melihat sosoknya, dia sudah berada di udara dengan sayap api terbang ke arah wyvern.


Kecepatan terbang Lunaris begitu cepat dan tajam. Wyvern sama sekali tak bisa mengikuti dan bahkan terkejut karena sosok Lunaris tiba tiba ada di dekat mereka.


Tanpa ragu Lunaris menarik pedang dari sarung dan menebas leher wryven hingga putus. Hal itu dia lakukan pada dua wryvern lainnya dan akhirnya semuanya mati jatuh ke bawah.


Tapi hanya satu wyven saja yang tidak jatuh karena Lunaris dengan santainya membawanya ke kapal udara.


"Katakan kalau aku sedang bermimpi."


Gon membuat ekspresi seolah melihat monster. Tentu saja, siapapun tak akan percaya jika melihat seorang gadis cantik menebas wyven bagai tahu dan mengangkat tubuh mereka seperti sebuah kapas.


"Dia memang pantas menjadi peringkat 1 di Flame Academy."


Sementara itu Helen sadar kalau Lunaris adalah sosok yang tak boleh dia jadikan musuh apapun yang terjadi. Dia bahkan mulai mendengarkan peringatan Lunaris tentang menjahui Riku.


Dunia mereka terlalu berbeda.


Selain Helen, para kru kapal udara juga dibuat terkejut, tapi dengan cepat mereka bersorak senang karena kapal udara sudah aman. Sekarang mereka hanya fokus untuk memperbaiki mesin dan segera melanjutkan perjalanan.


Lunaris memotong beberapa bagian daging yang dia pilih di bagian tertentu seukuran steak. Dan setelah itu dia membakarnya dengan sihir api.


Para kru kapal sepertinya tahu kalau mereka akan berpesta, dengan cepat mereka menyiapkan perlengkapan barbeque.


Malam itu kapal udara yang mereka naiki melakukan sebuah pesta.


Lalu setelah mesin selesai diperbaiki, kapal udara melanjutkan perjalanan.


Keesokan harinya, perjalanan berlanjut tanpa ada masalah berarti, tapi kapal udara terbang lebih tinggi daripada biasanya.


Ini bukan karena kapten kapal yang ingin terbang setinggi itu, tapi karena sebuah pedang kini berada di lehernya.


"Bagus.. itu tak sulit kan?"


Riku tersenyum puas setelah kapten menuruti perintahnya.


"Kenapa kau melakukan ini? Katakan apa tujuanmu?"


"Aku hanya ingin menghindari masalah. Kau pasti sering melewati jalur ini, jadi kau pasti tahu betul kalau penyerangan tadi malam suatu yang mustahil terjadi."


Riku perlahan menjauhkan pedang dari leher kapten.


Normalnya seseorang setelah diancam seperti itu akan langsung menyerang balik saat ada kesempatan, tapi kapten itu mengetahui kalau Riku tak salah.


Hanya saja kapten sedikit merasa aneh karena Riku seharusnya tak perlu repot-repot mengancamnya.


"...Jadi apa kau ingin mengatakan kalau ada musuh yang menanti kita?"


"Bisa jadi. Aku hanya berharap tak bertemu dengan mereka. Selain itu, jalur menuju kota Panese cukup strategis untuk melakukan penyergapan."


Kota Panese dibangun di daerah pegunungan yang hijau dan masih begitu asri. Tak hanya menjadi tempat wisata alam yang indah, tapi juga menjadi tempat perkebunan.


Daerah sekitar kota Panese sering berkabut, jadi ada banyak hal yang tersembunyi dari mata telanjang.


Tetapi meskipun dari luar kota Panese adalah sebuah kota wisata, Riku tahu kalau ada sebuah fasilitas rahasia milik kekaisaran dibangun di tempat itu.


Sejak awal menerima misi, dia merasa kalau ini bukanlah pengawalan biasa. Musuh yang menyerang membuktikan hal itu.


"Kenapa kita terbang tinggi sekali?"


Saat sedang termenung, Sebas datang dengan panik dan marah.


Matanya tertuju pada sang kapten, tapi saat melihat sosok Riku, Sebas langsung mengarahkan tekanan sihir padanya.


Normalnya, tekanan penyihir seorang Master akan begitu kuat dan sanggup membuat penyihir peringkat B berlutut, tapi Riku berdiri dengan santainya seolah tak menerima apapun.


"K-Kau..."


Sebas terkejut. Beberapa hari yang lalu dia tahu kalau Riku bisa menahan tekanannya, tapi dia merasa kalau itu hal yang normal karena menganggap Riku hanyalah sedikit spesial. Tapi momen ini membuktikan kalau dia salah.


"Tenang, tuan Sebas. Aku sama sekali tak memiliki niat buruk."


"Kalau begitu, kenapa kau melakukan semua ini?"


"Hm? Kau akan segera mendapatkan jawaban yang kau inginkan."


Tepat sesaat Riku selesai bicara, kapten menerima tanda dari radar. Itu adalah tanda sebuah sosok yang menuju ke tempat mereka dengan kecepatan tinggi.


"Serangan musuh!!"


Pelindung sihir kapal diaktifkan dan kapten segera memberitahukan kalau mereka dalam keadaan darurat.


"Bagaimana kau bisa tahu?"


Sebas bertanya penuh keterkejutan. Dia bahkan tak sempat sadar posisi musuh sebelum mendekat.


"Aku ingin menghindari bertemu dengan salah satu dari mereka, tapi tampaknya itu mustahil sekarang."


Di depan kapal udara, sebuah sosok terbang dengan penuh kewibawaan yang menjadi simbol makhluk terkuat.


Rooaaaarrrrrr!!! Raungan keras seolah menunjukkan siapa penguasa di langit.


"Kemarin wyvern dan sekarang naga angin. Tuan Sebas, aku yakin kau memiliki penjelasan yang masuk akal untuk ini."

__ADS_1


"..."


Sebas tak menjawab.


__ADS_2