
"Ini mungkin suatu yang kalian sudah ketahui, tapi aku akan tetap menjelaskannya. Penyihir bisa menciptakan sihir dengan berbagai macam elemen. Kita saat ini mengenalnya dengan 4 elemen dasar dan 4 elemen tambahan."
Otome menggambar di papan tulis. Lalu melanjutkan.
"Elemen dasar itu Air, Api, Angin dan Tanah. Sedangkan elemen tambahan Petir, Metal, Suara dan Kayu. Penyihir dengan elemen dasar adalah penyihir dengan jumlah paling banyak, sedangkan lainnya bisa dibilang cukup langka karena ini dipengaruhi oleh garis keturunan."
Selesai menggambar delapan elemen, Otome kembali menggambar elemen lain.
"Setiap penyihir normalnya bisa menggunakan satu elemen saja, tapi bukan berarti tak ada yang bisa menggunakan lebih dari satu elemen. Situasi ini biasanya dipengaruhi oleh wujud sihir penyihir itu. Contoh yang paling sederhana, penyihir A berelemen api, tapi wujud sihirnya berupa golem. Golem itu memiliki kekuatan elemen tanah, jadi penyihir itu bisa menggunakan dua jenis elemen. Yah.. situasi seperti ini sangatlah langka, jadi kalian jangan terlalu berharap."
Hari ini pelajaran dimulai tanpa kehadiran Kuro sang peringkat F, tapi sebagai gantinya kelas 1-2 kehadiran murid pindahan yang bisa dibilang langka.
Murid pindahan itu adalah pemuda keturunan bangsawan seperti Laila yang bernama Charl Ven Cellvain. Tak hanya itu, wajahnya yang tampan dan berkarisma membuat gadis di kelas 1-2 banyak yang menjadi penggemarnya. Singkatnya dia mirip Laila.
Charl juga peringkat S, namun seorang Contractor.
"Sampai di sini, apakah ada pertanyaan?"
Serriv tiba tiba mengangkat tangannya.
"Bu guru, bukankah masih ada dua elemen lagi yang belum Sensei sebutkan, yaitu elemen Kegelapan dan elemen Suci."
"....Ibu baru mau menjelaskan. Tapi aku senang kau menyadarinya."
Otome lalu melanjutkan.
"Selain delapan elemen, ada dua elemen lagi yang dikenal sebagai paling langka. Itu adalah elemen kegelapan dan elemen suci. Elemen kegelapan dikenal sebagai elemen dengan kekuatan paling merusak, sedangkan elemen suci adalah elemen yang dikenal sebagai elemen penghapus sihir. Berbicara tentang elemen suci, kaisar dan putri kekaisaran adalah pemilik elemen suci. Tapi aku yakin kalian sudah mengenal satu satunya pemilik elemen kegelapan.."
"Sang Demon King"
"Yupp. Benar sekali. Untung saja tak ada penyihir elemen kegelapan lagi setelah Demon King, jadi kita tak perlu kawatir Light War akan terulang lagi. Ku ku. ."
Murid kelas 1-2 tersenyum pahit saat mendengar lelucon berbahaya Otome.
Kekuatan Demon King yang begitu unik dan langka membuat dia dipuja meskipun dia membuat kerusakan besar. Lalu karena kekuatan elemen kegelapan masih misterius selain kehancuran, maka banyak yang memiliki teori kalau Demon King belumlah mati.
Sudah seringkali ditemukan kelompok pemuja yang berusaha membangkitkan Demon King dengan cara aneh dan tak manusiawi, tapi semua itu berakhir dengan kegagalan besar.
Sekarang usaha untuk membangkitkan Demon King bisa dibilang sebuah usaha orang gila, tapi tetap saja ada yang melakukannya.
"Selanjutnya akan kita bahas elemen Suci. Seperti namanya elemen sihir ini mempunyai kekuatan khusus yang mampu mensucikan elemen lainnya, atau lebih tepatnya menghapus elemen lainnya. Hal ini membuat elemen suci juga dikenal sebagai anti sihir."
Otome kembali menggambar.
"Karena kekuatan ini, hanya elemen suci yang mampu menandingi elemen kegelapan. Bahkan sejarah mencatat tanpa elemen suci, Demon King tak bisa dikalahkan. Penyihir elemen suci yang paling terkenal dan sekaligus pahlawan yang menyelamatkan dunia dari Demon King adalah pendiri kekaisaran. Kalian harus bangga dengan hal ini. Selanjutnya kita bahas topik lain."
Otome mengambil tongkat kecil dan memukul papan tulis dengan ujung tongkat.
Dalam sekejap, papan tulis kosong menunjukkan gambar dan berbagai keterangan gambar itu. Gambar itu adalah-
"Ponsel?" ucap Laila.
Tak hanya ponsel. Gambar radio, televisi, pistol, bom juga ada. Satu satunya kesamaan dari gambar itu adalah benda benda itu hasil dari perkembangan teknologi sihir.
Menyadari kesamaan ini, mereka paham topik yang akan Otome bahas selanjutnya.
"Kita hidup di era sihir modern, jadi kalian pasti tahu benda benda yang ada di papan tulis. Kalian semua pasti tahu cara menggunakannya, tapi apakah kalian tahu asal muasal ponsel kalian?"
"..............."
Semuanya terdiam. Mereka tak memikirkannya sejauh itu.
"Sekarang apakah pernah mendengar legenda bahwa Demon King sebenarnya penyihir dari dunia lain?"
""""?!""""
Semua murid kelas 1-2 terkejut, sementara Otome tersenyum saat menikmati ekspresi muridnya.
"Teori ini muncul setelah ditemukan beberapa buku milik Demon King yang memiliki bahasa yang tak ada di dunia kita. Tapi bukti paling kuat adalah buku yang berisi tentang teknologi yang tak ada di dunia kita yaitu ponsel, radio dan masih banyak lagi. Pertanyaannya sekarang adalah jika teori itu benar, apa yang terjadi Demon King tak pernah datang ke dunia kita?"
"..............."
Tak ada yang menjawab karena tak ada yang tahu jawabannya. Tidak. Lebih tepatnya tak ada yang berani menjawab karena tak ada yang mau membayangkannya.
Perkembangan teknologi sihir memang terus maju, tapi tanpa Demon King, butuh waktu berapa lama lagi mereka bisa menikmati ponsel, radio atau tv?
"Baiklah, pelajaran kita cukup sampai disini. Dan sekarang kalian tahu apa yang harus kalian lakukan kan? Oh iya, topik tadi kerjakan sebagai PR. Aku ingin mendengar pendapat kalian semua."
Senyuman Otome membuat bulu kuduk murid kelas 1-2 berdiri. Hal ini karena saatnya berlari keliling danau lagi.
Dia sungguh iblis. Hal ini karena satu satunya yang melakukan latihan lari keliling danau hanyalah kelas 1-2 saja.
Di ruang ganti perempuan, Laila melepas bajunya dan roknya. Sekarang dia hanya memakai celana dalam dan bra berwarna putih.
Dia menggantung seragamnya dan berganti seragam jersey yang merupakan seragam olahraga mereka.
Tak disangka, Alva dan Alvi datang mendekati Laila.
"Laila, apa kau tahu dimana Kuro?"
"Entahlah. Mungkin dia mati."
""Eh?""
Alva dan Alvi terkejut saat mendengar jawaban dingin Laila. Hal ini juga membuat mereka sadar kalau semalam benar benar terjadi sesuatu.
"Sudahlah. Aku tak peduli dengannya. Tapi kenapa kalian mencarinya? Apa ada hubungannya dengan dia tak berangkat sekolah hari ini?"
Laila sudah selesai berpakaian dan menatap ke arah mereka berdua.
"..... .Ya itu juga. Tapi kami mencarinya karena ingin berterima kasih karena dia membelikan kue dari Astrea Palace."
"Kue?"
"Yupp.. kue yang sangat lezat.."
Apa maksud semua ini?
Jika Alva dan Alvi dikirimi kue coklat yang dibeli di Astrea Palace, bukankah itu artinya Kuro datang ke Astrea Palace kemarin malam?
Tapi kenapa dia tak datang? Apakah karena dia melihat Laila mengobrol dengan dua pria tampan?
".............."
Entah mengapa Laila mulai menyadari kalau dirinya yang bersalah dalam hal ini.
Tidak. Mengingat sifat Kuro, Laila paham kalau Kuro tak datang karena hanya masalah sepele.
Setelah berganti pakaian, Laila, Alvi dan Alva sekali lagi membentuk kelompok. Sedangkan Serriv berada di kelompok lain tak bersama mereka bertiga.
Cuaca hari ini cerah berawan tak seperti dua hari yang lalu. Hal ini membuat murid kelas 1-2 sedikit bersemangat.
"Semuanya sudah berkumpul?"
Otome bertanya sambil membawa payung lagi. Seperti biasa, dia sudah menyiapkan cemilan.
"Kalian sudah tahu peraturannya kan? Jadi aku tak perlu menjelaskannya lagi. Charl, kau juga sudah paham kan?"
"Saya sudah paham. Intinya kami hanya berlari tanpa memakai sihir, benarkan?"
"Bagus. Begitulah seharusnya peringkat S. Tapi ada dua hal yang harus kuberi tahu kepada kalian. Pertama, tak ada pesta seperti 2 hari yang lalu, yah.. hal ini karena Kuro sekarang tak ada disini. Kedua, hukuman kali ini 2 kali lipat dari sebelumnya yaitu 100 km, jadi kalian jangan ada yang curang."
Senyuman Otome memang manis, tapi itu juga senyuman iblis.
Tak berapa lama kemudian, murid kelas 1-2 mulai latihan mereka. Ini adalah yang kedua kalinya mereka melakukan ini, jadi kebanyakan sudah mengetahui trik agar tak terlalu berlebihan memakai tenaga.
Kelompok Laila juga melakukan hal yang sama yaitu berlari pelan pelan meskipun mereka adalah yang paling tertinggal.
Tak disangka, Charl saat ini memimpin dengan kecepatan yang luar biasa. Bahkan tak ada yang mampu menandinginya. Dalam hal kecepatan dan stamina, Charl mungkin satu satunya lelaki kelas 1-2 yang seimbang dengan Kuro.
Satu jam berlalu, Alva, Alvi dan Laila tiba di pos pertama. Mereka beristirahat di tempat yang sama dengan dua hari yang lalu.
__ADS_1
Disaat beristirahat itulah, Laila melihat Alva dan Alvi melepas sesuatu dari bawah kakinya yang tersembunyi di balik celana panjang.
Mata Laila terbuka lebar saat menyadari benda itu adalah beban latihan yang sama dengan milik Kuro.
"Kalian berdua... jangan bilang kalau berlari sejauh ini dengan beban di kedua kaki kalian?"
"Un.."
Alvi mengangguk.
Dia memakai kacamata, jadi Laila tahu kalau dia Alvi.
"Kami sudah memakai beban seminggu lebih. Bahkan latihan 2 hari yang lalu juga memakainya." tambah Alva.
"Ya.. meskipun beban kami hanya 20 kg, ini masih belum seberapa jika dibandingkan dengan beban Kuro yang mencapai 200kg."
"Kalian pasti bercanda?"
"Tidak. Ini adalah saran Kuro. Kami memakai beban setiap saat, setelah terbiasa, beban ditambah dengan beban yang lebih berat."
"Yahhh.. awalnya kami tak mau, tapi setelah melihat hasil latihan ini, kami semakin bersemangat." Jawab Alvi.
"Hasil? Maksud kalian sihir Leap]m kalian?"
Mereka berdua mengangguk bersamaan.
"Begitu rupanya. Pantas saja aku merasa perkembangan sihir Leap kalian terlalu cepat."
Alva dan Alvi tersenyum dengan bangga.
"Saat itu kami sudah melepas beban kami, jadi wajar jika kami lebih cepat."
"Tapi kenapa Kuro tak masuk hari ini? Tak ada yang terjadi dengan Kuro kan?"
"................."
Laila terdiam karena tak tahu harus menjawab apa. Tapi jika Kuro adalah Shiro, maka Laila tak perlu kawatir kepadanya.
-Di tempat lain, tepatnya di punggung naga hitam yang sedang terbang, Laiko. Kuro berpakaian serba hitam dan memakai jubah hitam. Dia dan Laiko saat ini sudah berada di atas hutan Alf di ketinggian 200 meter.
"Hachooo.. Tampaknya aku kena flu."
Mengusap ingus di hidung, dia melihat ke bawah yang merupakan hutan lebat yang ditumbuhi pohon raksasa.
Hutan Alf adalah satu satunya wilayah hutan yang ditumbuhi pohon raksasa di kekaisaran. Bahkan ada pohon yang setinggi 80 meter. Menurut sejarah, hal ini terjadi karena dulu hutan ini dihuni oleh elf yang mampu menggunakan sihir elemen kayu.
"Laiko, ayo kita turun."
Roaar...
Laiko meraung kecil. Setelah itu Laiko dan Kuro turun di celah hutan yang cukup lebar.
Setelah mendarat, Kuro melihat ke sekeliling. Hanya ada pohon di sekitarnya.
"Baiklah, sekarang yang perlu kita lakukan hanyalah menunggu dan mencari apakah ada musuh di sekitar sini."
Kuro lalu melompat ke atas pohon setinggi 30 meter dan mengamati sekitarnya. Dia memejamkan matanya untuk berkonsentrasi agar bisa mendengar suara lebih jelas.
"?!"
Setelah beberapa saat, tiba tiba Kuro sudah tak berada di tempatnya lagi dan menghilang.
-Kembali ke danau Limph.
4 jam berlalu setelah mereka mulai latihan. Semua gadis sudah sampai di tempat tujuan. Tak ada lelaki karena mereka mendapat jarak tambahan 50 km akibat hukuman yang harus mereka terima. Tidak. Ada dua orang lelaki yang sudah berada di tempat itu yaitu Saft dan Charl.
Saft tak mendapatkan jarak tambahan karena latihan yang lalu dia tak memakai sihir.
Sementara itu ini adalah pertama kalinya bagi Charl, jadi tak ada jarak tambahan untuknya. Yang lebih mengejutkan dari Charl adalah waktu larinya yang hanya 3 jam 13 menit.
Waktu Laila 4 jam lebih. Meskipun sama beranking S, namun perbedaan di antara mereka cukup besar.
"?!"
Laila tentu saja langsung berdiri untuk menyambut Charl, sementara Alvi dan Alva masih duduk di tempat.
"Meskipun kita sudah tahu nama masing masing, tapi kita belum berkenalan. Namaku Charl Ven Cellvain. Aku adalah putra dari Jendral Magil Ven Cellvain."
Charl berkenalan dengan nada bicara lemah lembut. Dia bahkan sangat sopan.
"Jika kau sudah tahu nama kami, sepertinya kami tak perlu memberi tahumu lagi kan."
"Un Unn..."
Alva dan Alvi terang terangan memusuhi Charl. Meskipun mereka berdua tahu Charl tampan dan putra seorang jendral, namun tampaknya Charl tak terlalu spesial di mata mereka.
"Aku minta maaf. Aku hanya ingin lebih dekat dengan kalian, tapi tampaknya aku sedikit tak disukai disini."
Charl tetap terlihat tenang meskipun mendapat penolakan dari Alva dan Alvi.
"Mereka memang seperti itu, jadi jangan terlalu kau pikirkan. Karena kau sudah tahu namaku, aku rasa tak perlu menyebutkannya, jadi panggil saja aku Laila."
"Salam kenal Laila. Kau bisa manggilku Charl."
"Salam kenal, Charl."
Mereka berdua saling berjabat tangan sebagai bukti dimulainya hubungan antara mereka.
"Sekarang apa maumu? Kau sebenarnya kemari tak hanya untuk berkenalan kan?"
Mendengar pertanyaan Alva, Charl tersenyum kecil.
"Ya begitulah. Aku sebenarnya ada urusan dengan Laila."
"Aku?"
"Yahh.... aku langsung saja kalau begitu. Maukah kau menjadi pasangan tetapku?"
"Eh?"
Laila terkejut. Sementara itu Alva dan Alvi terdiam karena mereka sudah menduga hal ini tujuan kedatangan Charl.
Ini wajar karena Charl satu satunya orang yang belum memiliki pasangan.
"Kau kan penyihir peringkat S seperti aku, jadi kenapa kita tak berpasangan? Kita pasti akan dapat memenangkan Battle War dengan mudah. Apalagi elemen sihirku adalah elemen angin yang memiliki kecocokan dengan elemenmu. Aku Contractor dan kau User? Bukankah kita kombinasi yang sempurna?"
".............."
Laila terdiam. Dia menyadari kalau dia dan Charl memiliki kecocokan yang luar biasa. Bahkan mereka bisa dibilang sudah ditakdirkan berpasangan, tapi-
"Maaf. Sayang sekali aku harus menolak tawaranmu."
"Eh? Kenapa?"
"Yahh... aku tidak mau berpasangan denganmu. Itu saja. Apa kau ada masalah dengan itu?"
""WOW""
Untuk pertama kalinya, Alva dan Alvi melihat Laila bersikap tegas. Terus terang ini adalah sisi Laila yang baru mereka ketahui.
Tapi reaksi berbeda ditunjukan oleh Charl. Dia terlihat syok.
"Kenapa? Apa yang kurang dariku? Bukankah kita memiliki banyak kecocokan?"
"Lalu apa?"
Laila menyilangkan tangannya ke dada.
"Eh?"
"Lalu karena kita memiliki banyak kecocokan aku harus menjadi pasanganmu? Aku menghargaimu, tapi jika kau terus bertanya alasan aku menolaknya adalah aku tak mau. Kau paham?"
__ADS_1
"..................."
Charl terdiam oleh penolakan Laila. Dia tak menyangka ditolak hanya karena dia tak disukai.
Plok plok plok...
Suara tepukan terdengar. Laila secara reflek menoleh ke arah sumber suara dan menemukan Alva dan Alvi bertepuk tangan sambil tersenyum tipis.
"Eh? Kenapa kalian bertepuk tangan?"
"Kau tahu. Kami hanya memujimu."
"Tampaknya kau sudah yakin dengan hatimu. Benarkan?"
".............."
Saat mendengar itu, wajah Laila memerah.
"Mouu... sudahlah. Ayo kita kembali ke kelas. Aku sudah lelah."
"Oke. Kami masih ada sisa kue dari Astrea Palace. Ayo kita makan bersama."
"Unn.."
Alva, Alvi dan Laila berjalan melewati Charl yang terdiam membisu.
Mereka bertiga sekarang tak peduli dengan Charl, jadi mereka mengabaikannya, tapi setelah beberapa saat-
"Apakah kau menolakku karena si peringkat F itu?"
"?!"
Laila, Alva dan Alvi langsung berhenti ketika mendengar perkataan Charl, tapi mereka tak menoleh ke Charl yang berkata cukup keras.
"Apakah dia lebih baik dariku yang peringkat S? Atau karena dia pacarmu? Tidak, pacar yang berlandaskan janji kan?"
"............"
Mata Laila terbuka lebar untuk sesaat, tapi hubungannya dengan Kuro sudah menjadi rahasia umum, jadi Laila tak terlalu terkejut. Tapi ketika Laila mendengar pertanyaan Charl, dia sekarang yakin alasan kedatangan Charl ke Kuryuu Academy memang untuk mengincar dirinya.
Ini sudah sering terjadi bahkan saat dia masih di Shiryuu Magic School. .
"Laila?"
"Aku tidak apa apa. Tapi jika kau menanyakan alasan aku menolakmu karena Kuro, apakah masalah buatmu?"
"Eh?"
"Dengar, jangan seolah olah kau tahu semua tentang dirinya. Jangan buat aku membencimu, Charl. Alva, Alvi ayo kita pergi. Terus terang aku sedang malas berurusan dengan hal semacam ini."
Laila berjalan maju. Sementara itu Alva dan Alvi tersenyum satu sama lain dan mengikuti Laila dari belakang.
Charl yang merasa direndahkan menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya.
Dia marah dan kesal, tapi setelah beberapa saat dia mengendorkan kepalannya dan tersenyum tipis.
"Sekolah ini lebih menarik daripada yang kukira. Ku ku..."
Inilah pertama kalinya senyuman tipis dan senang terlihat di wajah Charl.
Dia tak suka jika saat dianggap lebih rendah dari pada Kuro yang merupakan peringkat F. Hal inilah yang membuat Charl penasaran lelaki seperti apa Kuro.
--Di saat yang sama, hutan Alf.
"Ugh!"
Seorang pria tersungkur ke tanah setelah menerima sebuah serangan berupa jarum panjang yang menembus lehernya.
Tak hanya pria itu saja yang tersungkur ke tanah. Di dekatnya ada puluhan temannya yang mengalami luka yang sama.
Sebuah bayangan muncul. Bayangan itu mencabut jarum yang menancap di leher dan memasukannya ke kantung.
"Aku tak menyangka mereka benar benar serius kali ini."
Kuro mendesah dalam saat dia menyadari jumlah musuh yang dia bunuh. Jumlah yang dia bunuh menggunakan jarum sudah 70 orang lebih, dan mereka semua bukan penyihir.
"Ini akan lebih menantang jika salah satu dari mereka seorang penyihir. Ya.. sudahlah. Aku yakin cepat atau lambat akan ada penyihir yang sedikit menantang."
Setelah mengatakan itu, dia mencabut jarum yang menancap di leher mayat lainnya.
Meskipun jumlah jarum yang dia bawa 200 lebih, namun dia harus berhemat karena dia tak tahu pasti jumlah musuh.
Satu satunya hal yang menarik dari musuhnya adalah mereka memiliki kesamaan seperti anggota Red Crow. Memakai armor anticristal dan menggunakan pistol berpeluru anticristal.
"Kuharap aku tidak membuat dia marah..."
Kuro memandang langit yang dipenuhi bintang. Disaat yang sama dia membayangkan Laila yang menciptakan bola api berdiameter 10 meter.
"Dia memang lebih manis saat marah. Um?"
Kuro menoleh ke arah belakang karena mendengar suara di semak semak. Lalu dia melihat sepasang mata merah besar muncul dibalik kegelapan.
"Laiko, jika lapar jangan makan mereka. Kau tahu kan mereka bisa membuatmu sakit perut?"
Grrrrr...
Laiko keluar dari semak semak dan berjalan di belakang Kuro sambil menginjak mayat yang dibunuh Kuro.
"Haaa... "
Kuro mendesah dan berhenti melangkah lalu melempar jarum di tangan kanannya ke arah jam 4. Dia melakukan itu bahkan tanpa menoleh.
Jarum itu melesat bagai peluru dengan kecepatan tinggi dan akhirnya mengenai sesuatu di semak semak.
Setelah beberapa saat, tubuh manusia tergeletak tak bernyawa dengan sebuah jarum di dahinya.
Grrr...
Laiko meraung kecil
"Aku tahu. Kau sekarang sudah lapar. Ya ampun... baru kali ini aku melihat naga serakus kau."
Gr..
"Baiklah, kau boleh mencari makan. Sebaiknya kau cepat kembali karena aku merasakan kalau hari ini kita akan sibuk."
Kuro mendesah dalam. Dia menerima misi melakukan pengawalan yang sedikit merepotkan.
Kasus penyerangan Sirei Mall di kota Areshia menjadi sebuah awal dan petunjuk penting tentang keberadaan organisasi orang biasa yang bertujuan melakukan pemberontakan mengandalkan armor dan senjata dari anticristal seperti Red Crow.
Jika ditelusuri kembali, mereka menyerang dengan melakukan pemberontakan dan menginginkan kesetaraan sedikit aneh. Akan normal jika pemerintah kekaisaran mengutamakan semuanya untuk para penyihir, tapi sejauh ini kebanyakan kebijakan pemerintah adalah demi semua pihak. Bahkan bisa dibilang tingkat kedamaian dan kepuasan rakyat melebihi negara lain.
Dengan kata lain, ada sebuah pihak yang melakukan sebuah motivasi dan juga pengendalian pikiran untuk membuat seolah pemerintah kekaisaran tidak adil. Sampai sekarang masih belum jelas siapa pihak itu, tapi itu jelas berhubungan dengan anticrystal yang bisa didapatkan dengan mudah.
Hal ini tentu saja membawa masalah lain. Jika pihak orang biasa saja bisa mendapatkan anticrystal, bagaimana dengan orang penting atau sekelompok penjahat?
Untuk mengantisipasi masalah yang akan datang, pemerintah melakukan pembersihan besar besaran. Tak peduli apakah cara yang digukanan untuk melakukan itu baik atau tidak.
Bahkan termasuk menggunakan tuan putri kedua sebagai umpan.
"Aku tak percaya banyak yang termakan umpan semudah ini. Apa mereka bodoh?"
Kuro menggelengkan kepalanya.
"Bukan itu. Jebakan atau tidak, itu tak mengubah kenyataan kalau putri Diana datang ke kota Areshia tanpa pengawalan penuh adalah sebuah kesempatan emas."
Dan itu artinya, jumlah yang dia bunuh masih belum cukup.
"Ini sungguh misi yang menjengkelkan..."
Kuro mendesah dalam dan melihat ke arah langit. Di sana dia membayangkan sebuah senyuman dari orang yang dia cintai
__ADS_1