Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Illegal Knight


__ADS_3

Beberapa hari berlalu sejak insiden penyerangan kota Areshia. Dengan pelaku Illegal yang merupakan agen pemerintah, maka kebenaran itu ditutupi dengan penyerangan oleh *******. Tak ada yang bisa protes karena menyangkut pandangan masyarakat dengan pemerintah.


Tak ada yang bisa dilakukan. Ya. Itu adalah keadaan yang tepat untuk menggambarkan hal ini.


Tak ada yang bisa dilakukan Kuro. Dia bisa menebak kemungkinan siapa yang memerintahkan Illegal, tapi dia masih tak tahu apa tujuannya menculik Lic, tidak Izriva.


Dengan informasi yang sedikit, dia masih belum bisa menentukan langkah yang tepat. Electra yang melindungi kota tak ada karena dia mengurus sesuatu di Dragonia.


Urusan diplomatik bukanlah keahlian utama Electra, tapi karena pembuat ulah adalah Kuro dan teman temannya, maka Electra tak punya pilihan lain sebagai perunding.


Musuh memanfaatkan saat itu untuk menyerang. Tak hanya itu mereka juga merencanakan dengan baik sehingga tak ada korban sipil. Aldest yang mendapat serangan juga hanya mengalami luka kecil, tapi untuk beberapa alasan, dia masih sangat marah.


"......"


Kuro terus memikirkan semua kemungkinan. Dari yang terburuk hingga terbaik dan tak lupa musuh seperti apa yang mereka hadapi.


Dia saat ini sedang mandi, sendirian. Biasanya dia akan mandi bersama Laila, tapi Kuro tak bisa memaksa Laila menemaninya.


Selama beberapa hari ini Laila terus merenung sendirian. Ketika ditanya Laila tak mau menjawab dan berkata dia baik baik saja. Ini bukanlah Laila yang Kuro kenal. Biasanya Laila akan berkata jujur dengan apa yang dia rasakan, tapi kasus kali ini tampaknya membuat Laila harus menyendiri.


Kuro mengetehui hal ini dan memutuskan untuk menunggu. Laila akan baikan jika sudah saatnya sudah tepat. Dia tahu Laila tidak mudah goyah dengan alasan kecil, tapi kali ini mungkin cobaan terberat yang Laila alami.


Laila sudah menyayangi Lic. Dan seiring dengan hal itu, saat kehilangan akan semakin menyakitkan. Ini adalah salah satu alasan kenapa Kuro tak ingin Lic terus berada di pedangnya.


"Huh.... kali ini bakal merepotkan, jujur saja mereka membuatku kesal. Gara gara mereka aku tak bisa bermesraan dengan Laila. Melakukan ini dan itu, yah.. jika dipikirkan, gara gara Lic aku juga tak bisa melakukannya. ..Hm?"


Tiba tiba ide muncul di kepala Kuro. Dia tersenyum tipis seperti orang jahat yang sedang merencanakan sesuatu yang buruk. Meskipun dia terlihat sedih, tapi wajah itu tak ada bekasnya lagi.


"...kurasa aku memang harus mencoba suatu yang baru.. kuku ku."


Sementara itu, Laila tiba tiba merinding seperti mendapat firasat buruk. Akibat hal itu, dia tak bisa berkonsentrasi dan gagal mengenai target.


Berbeda dengan Kuro yang sedang mandi, bersantai di rumah, Laila saat ini sedang berlatih sendirian di ruang latihan sekolah. Dengan teknologi terbaru, latihan menggunakan teknologi virtual sihir yang bisa diatur sesuai kebutuhan.


Biasanya dia akan berlatih dengan Kuro, tapi dia sedang ingin sendirian dan sedikit menjauh dari orang yang dia cintai itu. Dia tak membenci Kuro. Dia juga tak menyalahkan Kuro karena memilih obat penawar racun daripada Lic, tapi dia menyalahkan dirinya sendiri.


Dia membenci dirinya sendiri karena lengah, dia lemah, dia juga tak memiliki tekad yang kuat seperti Kuro. Tapi mau bagaimana lagi, dia bukan Kuro. Dia bukanlah Kuro yang memiliki kekebalan terhadap racun dan sihir yang memanipulasi pikiran.


Jika dipikirkan kekuatan Kuro juga sesuatu yang misterius, tapi itulah Kuro.


"...hmm.. apa apaan itu tadi..?"


Laila kembali berkonsentrasi dengan targetnya. Dia berlatih menembak dengan jarak 3 kilometer menggunakan Scarflare yang dia rubah menjadi meriam besar. Dengan kemampuan istimewa Scarflare yang bisa Laila rubah (transformasi), Laila bisa menggunakan Scarflare sebagai pedang maupun meriam besar.


Meskipun Laila akhir akhir ini menggunakan pistol dalam pertempuran, bukan berarti dia ingin merubah gaya bertarungnya. Bertarung menggunakan pedang merupakan keahlian yang sulit dia rubah. Sedangkan alasan kenapa dia berlatih dengan meriam besar adalah ingin mencoba sesuatu yang baru.


Mencoba sesuatu yang baru mungkin saja dia akan menemukan suatu yang baru. Atau setidaknya dengan berlatih dia akan bisa sedikit melupakan rasa bersalahnya. Meskipun kenyataannya, tak ada yang berubah jika berusaha menghindar.


"....."


Laila berkonsentrasi. Dia menembak target latihanya. 4 mengenai target dari 10 tembakan. Dia mengulanginya lagi dan lagi.


Dia bahkan tak ingat waktu sudah banyak berlalu dan malampun telah tiba.


"?!"


Tiba tiba ruangan menjadi gelap. Latihan virtual menghilang dan menjadi ruangan normal dengan luas 20 meter persegi.


Laila mendengar suara langkah kaki dan menoleh ke arah sumber suara.


"Charlmilia?"


Charlmilia datang dengan tersenyum kecil.


"Kau terlalu memaksakan diri, meskipun aku senang melihatmu berlatih, tapi jika kau terlalu berlebihan hanya menyakiti dirimu sendiri."


"Apa maksudmu?"


Charlmilia mendesah. Dia menunjuk jam yang berada di dinding. Jam itu menunjukan lebih dari 8 malam.


"Oh.. aku tak menyadari ternyata sudah selarut ini."


Laila menghilangkan Scarflare yang berubah menjadi meriam dan melangkah ke tempat duduk tak jauh darinya. Dia mengambil handuk dan mengusap keringat yang membasahi tubuhnya.


Laila tak bercanda dengan tak sadar dengan waktu yang berlalu. Statusnya yang merupakan penyihir peringkat S membuktikan bahwa dia memiliki jumlah mana yang besar.


"Aaah... aku tak mengerti kenapa kau melakukan ini, tapi tampaknya kekawatiranku menjadi kenyataan."


"Tumben sekali kau mengkawatirkan aku. Apa ada yang salah denganmu? Mungkinkah kau sakit?"


"YANG SAKIT ITU KAU, DASAR BODOH!!"


Laila hanya tersenyum kecut. Dia seolah menghindari topik itu.


"Ku dengar kau bertingkah aneh akhir akhir ini, jadi aku memeriksa dengan mataku sendiri, tapi yang kulihat ternyata lebih parah daripada yang kuduga."


Laila terdiam dan berhenti mengusap tubuhnya.


"Maaf, aku tahu apa yang ada di pikiranmu."


"....."


"Kau pasti berpikir aku merasa bersalah dan sedih dengan apa yang terjadi. Ya. Aku memang sedih dan menyalahkan diriku sendiri. Jujur saja, kenapa aku tak bisa melindungi satu orang yang berharga dalam hidupku? Entah mengapa aku sekarang mengerti apa yang Kuro rasakan, walau hanya sedikit."


Charlmilia terdiam. Dia terkejut, tapi di saat yang sama dia kagum karena Laila sudah menerima kenyataan. Dia terlihat lebih dewasa, tapi disaat yang sama dia terlihat begitu sedih.


"Makanya aku berlatih. Aku mencoba menemukan sesuatu, tapi mungkin aku hanya menghindar saja. Aku telah kehilangan Lic...., seberapa keras aku mencoba melupakannya, aku masih memikirkan apa yang terjadi saat itu, hal ini membuatku tidak tenang."


"Dan kau melakukan ini sebagai pelampiasanmu?"


"....kurasa bisa dibilang begitu."


"...."


Charlmilia tak hanya menyadari Laila bertambah dewasa. Dia ingat dulu Laila mudah terpancing dan langsung menunjukkan emosinya, tapi sekarang dia bagaikan orang lain. Apakah ini hal baik atau buruk, Charlmilia masih belum tahu, tapi tak dipungkiri ada banyak hal di pikiran Laila saat ini.


Meskipun baru beberapa bulan sejak masuk sekolah, tapi banyak hal yang sudah Laila lalui lebih dari murid biasa. Perang, pertempuran antara hidup dan mati, Queen, Alice dan sekarang Lic. Dengan hal yang banyak terjadi, tak mengherankan jika Laila lebih dewasa.


"Charlmilia, apa kau sudah makan malam? Jika tak keberatan kita makan malam bersama."


"...aku sudah makan kue buatanku sendiri, tapi aku tak keberatan menemanimu. Lalu bagaimana dengan Kuro, bukankah kalian makan malam bersama?"


"Sejak tinggal bersama kami memang makan malam bersama, tapi Kuro saat ini tak di rumah. Akan lebih menyenangkan jika punya teman makan malam."


Mendengar itu, Charlmilia langsung merasa aneh. Sejak tadi Laila berlatih dan belum menyentuh ponselnya, bagaimana dia tahu Kuro tak ada di rumah atau tidak?


"Baiklah.... jika seperti itu."


"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan mandi dan berganti pakaian dulu. Apa kau keberatan?"


"Tentu tidak, dasar aneh."


"Aha ha.."


Laila pergi ke kamar mandi. Sedangkan Charlmilia duduk sambil menunggu Laila. Dia memikirkan kembali apa yang terjadi beberapa hari yang lalu.


Dirinya saat itu sedang marah dan tak bisa berpikir dengan jernih. Dia juga sedikit merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Jika saat itu dia tak menuruti emosinya, tak akan ada korban dalam insiden ini.


Bukan hanya Laila yang kehilangan Lic, tapi Hana dan Amira juga kehilangan teman mereka, Stella. Jika saat itu dia lebih tenang, dia pasti sudah merubah Byakko menjadi Byakkura. Dengan kecepatan yang dimiliki Byakkura, menghancurkan boneka sebelum meledak adalah hal yang mudah.


Tapi tak ada gunanya menyesal. Semua sudah terjadi. Dirinya merasa kasihan dengan mereka, tapi dia tak bisa mengulang masa lalu.


"......"


Tapi kejadian ini mengingatkannya dengan hal buruk yang sudah lama dia lupakan.


Dia tahu tak bisa menghindar masa lalu, tapi masa lalu itu seolah akan segera menariknya dari cahaya dan menenggelamkannya ke kegelapan.


Saat sedang termenung, Laila keluar dari kamar mandi dengan pakaian berbeda. Dia lebih cantik dan lebih menggoda.


"Maaf membuatmu menunggu."


"I-Iya, tapi kenapa memakai kaos, mana seragammu?"


"Seragamku sudah tak muat, jadi aku tak memakainya ehe he, tapi bukan berarti aku bertambah gemuk, hanya saja..."


Charlmilia lalu mengamati tubuh Laila. Memang ada yang berubah, bahkan perubahan besar.


"Ugh.. sejak kapan dadamu sebesar itu?"


"...entahlah, tapi mungkin karena Kuro sering merabanya. Dia suka sekali melakukan itu. Dia bahkan melakukannya setiap kali ada kesempatan. Aku harap dia tak melakukan itu di tempat umum karena sedikit memalukan."


"Jujur saja, aku ingin memukulmu setelah mendengar itu dari mulutmu. Dan kenapa kau mengatakannya dengan nada biasa seperti itu? Apa kau sengaja membuatku iri dengan kemesraan kalian?"


"....uh? Tidak, hanya saja itu yang terjadi."


"Dan entah mengapa aku semakin ingin memukulmu, bagaimanapun juga kalian sudah keterlaluan.."


".....Apa maksudmu?"


"Lupakan saja dan cepat kita makan malam, entah mengapa aku ingin banyak makan makanan pedas malam ini."


"Kenapa tiba tiba?"


"APA KAU INGIN SEKALI KUHAJAR, DASAR....!!!"


Keduanya lalu pergi makan malam di restoran yang berada tak jauh dari sekolah. Masih banyak rumah dan toko yang mengalami kerusakan, bahkan restoran yang mereka datangi tak luput dari kerusakan. Tapi kerusakan restoran itu terbilang kecil dan sudah dilakukan perbaikan sehingga sudah bisa melayani pembeli.


Keduanya melihat ke sekeliling untuk menemukan tempat kosong. Mereka beruntung karena menemukan satu meja kosong.


Keduanya lalu menuju meja itu, tapi disaat mereka sedang menuju ke sana, mereka menemukan dua orang yang tak mereka duga, yaitu Hana dan Amira. Seperti keduanya, mereka tampaknya sedang makan malam.


Keempatnya saling menatap satu sama lain. Keempatnya mempunyai pikiran yang sama karena tak ada yang menduga mereka akan bertemu di tempat ini.


"Bolehkan kami bergabung?"


"Eh?"


Charlmilia terkejut dengan perkataan Laila yang bisa dibilang tak terduga.


Hana dan Amira melirik satu sama lain, setelah beberapa saat, Hana bicara.


"Boleh saja. Kebetulan aku ingin berbicara denganmu."


"Kita mempunyai pikiran yang sama, benarkan?"


Hana hanya tersenyum tipis, sedangkan Amira tak menunjukkan ketertarikannya.


Charlmilia dan Laila akhirnya duduk di meja yang sama. Mereka memesan makanan, tapi atmosfer yang begitu tegang membuat pengunjung lain sedikit menjaga jarak dari mereka.


"Pertama, kenapa kita tak makan dulu, kita bisa bicara setelah selesai. Lagipula jika terlalu lama, makanan akan menjadi dingin."

__ADS_1


"Yeah, kau benar..."


"Kau bisa memanggilku, Laila. Sedangkan gadis berdada besar ini Charlmilia."


"Hey... bisakah kau tak memperkenalkan diriku seperti itu? Lagipula ukuran dada kita sama."


Charlmilia protes, tapi tak ada yang mempedulikan protesnya.


"Namaku Hana Kazuki, kau bisa memanggilku Hana. Dia temanku, kau bisa memanggilnya Amira. Salam kenal, Laila, Charlmilia."


"Senang bisa mengenal kalian."


"Aku juga sama..."


Sedangkan Amira tak mengatakan apapun. Dia hanya mengangguk pelan.


Atmosfer di meja makan itu semakin tak menyenangkan. Bahkan bisa dikatakan kalau bisa terjadi perang setiap saat, tapi pada akhirnya tak terjadi dan mereka makan malam dengan tenang.


Tak butuh waktu lama hingga makanan mereka habis dan hanya menyisakan piring kotor. Tapi atmosfer mencekam tak menghilang dan justru bertambah kuat. Atmosfer ini membuat seluruh pengunjung secepatnya pergi dari restoran itu, dan akhirnya restoran hanya berisi mereka berempat.


"Baiklah, kurasa kita bisa mulai berbicara, siapa yang terlebih dahulu?"


"Kalau begitu biar aku saja yang mulai. Apa hubunganmu dengan guru Kuro?"


"Aku calon istrinya Kuro. Aku dan Kuro sebentar lagi akan menikah. Dari caramu memanggil Kuro, aku bisa menebak apa hubunganmu dengan Kuro, tapi apakah dugaanku-"


"..tenang saja, aku tak memiliki hubungan spesial dengan guru Kuro. Hubungan kami hanya sebatas murid dan guru. Itupun sudah lama terjadi."


"Dulu? Apa kau keberatan menceritakannya? Terus terang aku penasaran dengan kisah Kuro sebelum aku bertemu dengannya. Kuro jarang sekali cerita mengenai hal itu."


Tatapan Laila mengatakan dia memang penasaran, tapi Charlmilia tahu Kuro akan menceritakan apapun jika Laila memintanya.


(Mungkinkah Laila tak memintanya?)


Kemungkinan itu tak mustahil, tapi ada kemungkinan Laila tak tahu dan Kuro tak menceritakannya.


"Aku tidak keberatan, tapi apa kau yakin ingin mendengarnya?"


Laila tersenyum. Tersenyum dengan senyuman tipis dan penuh dengan intimidasi.


"Sudah kubilang aku tertarik dengan cerita Kuro sebelum bertemu denganku, mengetahui masa lalu calon suami itu penting. Kau pasti setuju denganku, iya kan?"


Hana juga tersenyum. Dia menunjukkan senyuman yang sama dengan Laila.


Suasana memang tak menyenangkan, tapi keduanya bertingkah biasa saja. Keduanya mengingatkan Charlmilia dengan Diana, hanya saja Laila tak tinggal diam.


"Baiklah, jika kau memaksa. Pertama tama, bagaimana kalau kumulai dari saat pertama kali bertemu? Kau sudah tahu guru Kuro pernah menjadi anggota Shadow Knight, dan seperti kau tahu aku Black Valkyrie, salah satu dari Illegal, dengan kata lain..."


Cerita dimulai dari --


Illegal, seperti namanya, ini adalah organisasi yang dibentuk dengan tujuan menyelesaikan misi apapun dengan cara apapun.


Semua anggota Illegal adalah penyihir perempuan. Mereka dipilih dari latar belakang dunia gelap yang kejam dan tak kenal ampun. Dalam beberapa kasus, anggota Illegal adalah penyihir yang dicuci otaknya untuk melakukan sebuah misi bunuh diri.


Meskipun disebut sebagai organisasi pemerintah, tapi tak ada catatan keanggotaan mereka. Bahkan markas atau tempat untuk berkumpul juga tak ada. Eksistensi mereka bahkan hanya bisa dikenali melalui 'rumor'.


Jik ada yang mengaku dirinya adalah anggota Illegal, maka tak diragukan lagi dia adalah palsu. Sama seperti namanya, Illegal adalah organisasi kriminal, tapi dikendalikan oleh pemerintah.


Meskipun begitu, Illegal tetaplah sebuah organisasi yang sama dengan organisasi lainnya.


Organisasi itu terbagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok yang selalu berhasil dan kelompok yang selalu gagal.


Di antara kelompok yang selalu berhasil, salah satunya adalah Silver Viper yang menyerang kota Areshia beberapa hari yang lalu. Mereka dikenal sebagai kelompok yang ahli dalam menggunakan racun, tapi juga memiliki kecerdasan yang tinggi. Menghadapi mereka membutuhkan cara yang tepat.


Di kelompok yang sering gagal, salah satunya adalah kelompok Hana dan kedua temannya. Mereka menyebut diri sebagai Black Valkryie, tapi nama itu tak sesuai dengan prestasi mereka.


Mereka sering berganti anggota. Anggota terbaru adalah Amira, sedangkan anggota yang sudah cukup lama bersama adalah Stella dan Hana.


"Kira itu cukup menjelaskan siapa kami, sekarang akan kuceritakan hubunganku dengan guru Kuro."


Hana melanjutkan.


Saat itu Hana masih bersama dengan Stella dan anggota mereka bernama Gyu. Seperti biasa, mereka gagal dalam misi mereka dan mereka mendapatkan teguran keras dari pemimpin mereka.


Meskipun disebut ditegur, bukan berarti mereka bertemu secara langsung. Para anggota Illegal memiliki sistem komunikasi yang rumit. Bahkan tak ada yang tahu identitas atasan mereka.


Dengan kata lain, Illegal tak lebih dari sebuah organisasi yang menjalankan misi dari orang tak dikenal. Kepercayaan bahkan suatu yang sulit ditemukan.


--kalau begitu, kenapa disebut sebagai organisasi pemerintah?


Sekali lagi ini mengacu pada 'rumor'. Illegal bisa dibilang ada, tapi juga tidak. Para anggota Illegal hanya bisa direkrut. Dan setelah menjadi anggota, orang itu akan menerima misi.


Jika berhasil, mereka akan mendapatkan bayaran, jika gagal, mereka mungkin akan ditangkap oleh Knight. Jika tak beruntung, mungkin akan mati.


"Ha.. kali ini kita dalam masalah besar, satu kegagalan lagi, kita akan dikeluarkan."


Hana mengeluh.


"Itu bukan masalah besar. Kita sejak awal dipaksa melakukan pekerjaan kotor. Kita juga dipaksa bergabung dan mengorbankan nyawa demi organisasi tak berguna ini. Lebih baik aku mati daripada melakukan hal ini seumur hidupku."


Stella dan Hana hanya tersenyum kecut. Mereka tahu kenapa Gyu mengeluh.


Illegal kebanyakan berasal dari penyihir yatim piatu yang dilatih secara paksa. Bahkan ada yang menggunakan obat tertentu sehingga kekuatan mereka bangkit secara paksa. Tak jarang hal itu menyebabkan penyihir memiliki umur pendek.


Stella dan Hana bisa dikatakan beruntung karena kekuatan mereka bangkit secara alami, tapi kekuatan mereka tak banyak berguna dalam misi.


"Gyu, aku tahu apa yang kau rasakan. Aku bahkan juga ingin berhenti dan menjalankan kehidupan normal, tapi mereka sudah cukup baik dengan kita."


"Baik? Stella, kau pasti bercanda. Apa otakmu sudah dirusak oleh mereka? Jika yang kau maksud mereka mengirim kita ke medan perang itu benar benar baik. Kita akan cepat ke surga."


".....Hana, kau memang terlalu naif. Dunia ini bagaikan sebuah jam yang berputar. Kita hanyalah gerigi kecil yang membuat dunia terus berputar, tapi apa yang terjadi dengan gerigi yang sudah rusak? Mereka hanya membuangnya dan menggantinya dengan yang baru. Sama seperti organisasi ini..."


Tapi senyuman tak menghilang dari bibir Hana. Dia selama ini sudah bersyukur dengan kehidupannya, tapi dia tak tahu bagaimana dengan yang lain.


"Sudah sudah, sebaiknya kita bahas saja informan kita yang baru. Kudengar dia baru bekerja di Shadow Knight beberapa bulan, aku tak yakin dia cukup bagus."


"Kau memang pandai mengganti topik, Stella, tapi kurasa memang sudah saatnya mengganti topik."


Gyu tahu percuma saja mengeluh. Dia tahu tak bisa pergi atau lari dari Illegal. Berkat sihir pembunuh yang ditanamkan di tubuh mereka, mereka bagaikan bom waktu. Mereka tak punya pilihan selain menuruti perintah atau mati.


Mati oleh lawan atau mati oleh kawan. Itu sama saja bagi mereka.


Untuk bisa lepas dari rantai terkutuk, mereka harus menjalankan misi terus menerus hingga usia mereka 25 tahun, di saat itulah sihir akan dilepas. Tapi sayang, hal itu jarang sekali terjadi.


♦️♦️♦️


"......"


"....."


Charlmilia dan Laila tak bisa berkomentar banyak. Atau mereka ingin berkomentar tapi tak tahu harus berkata apa.


Tapi Laila menggertakan tangannya tanda dia marah. Tapi tak ada yang bisa dia perbuat.


Kekejaman Illegal sudah menjadi rumor, jadi cerita Hana bukanlah suatu yang mengejutkan, tapi akan membuat marah siapapun yang mendengarnya.


Di misi selanjutnya ketiganya bertemu dengan informan mereka yang baru di sebuah gang kecil. Informan mereka memakai sebuah topeng dan tak terlalu menunjukkan wajahnya, tapi informan mereka menggunakan kode sehingga mereka tak salah orang.


Informasi diberikan melalui benda sihir yang dilindungi oleh pengaman berlapis. Setelah menerima informasi, kedua pihak diwajibkan untuk langsung pergi dan berpisah.


Ketiganya membuka informasi di tempat mereka tinggal, yaitu sebuah rumah kecil yang sederhana. Mereka membuka data lalu menemukan informasi yang tak mereka duga.


Informasi yang berisi tentang misi, target, wilayah, status, keadaan sekitar target, bagaimana kehidupan target dan semua yang berhubungan dengan target terdapat dalam data itu.


"Wow.... ini pertama kalinya kita mendapatkan informasi sebanyak ini."


Hana terkejut. Dan bukan hanya dia saja yang terkejut.


"Tapi bisakah kita percaya dengan semua data ini? Bisa saja ini sebuah jebakan."


"Ha ha.. kurasa kau benar Gyu, tapi lihat apa yang kutemukan!"


Ketiganya lalu melihat sebuah tulisan yang tak berhubungan dengan target.


[Kalian bisa mengawasi target jika ingin memastikan informasi yang kuberikan benar.]


Ketiganya lalu tertawa kecil.


"Dia sudah memperkirakan reaksi kita rupanya."


"Tidak buruk, tapi tak ada salahnya mencoba."


"Kali ini kita sependapat.."


Ketiganya lalu mengamati beberapa hari sebelum memutuskan melaksanakan misi mereka. Tak ada satupun informasi yang salah. Dengan informasi itu kemudian mereka membuat rencana dan akhirnya mereka menjalankan misi mereka dengan baik.


Sejak saat itu mereka tak meragukan informasi yang diberikan informan itu dan membuat strategi berdasarkan informasi yang mereka dapat. Satu persatu misi mulai mereka lakukan dengan baik. Mereka mulai dikenal di Illegal, tapi mereka juga mendapatkan hal baru, yaitu misi yang lebih berbahaya.


Ketiganya mengandalkan informasi yang selalu mereka dapatkan, tapi seiring dengan waktu, mereka sadar semakin kesulitan menjalankan misi. Bukan karena informasi mereka kurang dan strategi yang kurang tepat, tapi itu karena mereka lemah. Merekapun akhirnya menyadari misi mereka berhasil berkat kemampuan informan itu, bukan dengan kemampuan mereka sendiri.


Sayangnya, mereka sudah terlambat menyadarinya.


Suatu hari mereka mendapatkan misi yang memiliki tingkat bahaya lebih dari misi yang biasa mereka lakukan. Sebagai Illegal mereka akan melaksanakan misi apapun dan mereka diwajibkan untuk tak gagal setelah menerimanya.


Seperti biasa mereka bertemu dengan informan mereka, tapi ada hal yang berbeda dengan informan mereka saat itu. Informan itu tak mau memberikan informasi tentang target dan informasi lain yang biasa mereka dapat.


"Apa maksudmu melakukan ini? Bukankah sudah menjadi tugasmu untuk memberikan informasi kepada kami?" tanya Stella.


"....itu memang tugasku, tapi..."


Untuk pertama kalinya, Hana dan kedua temannya mendengar informan itu berbicara. Selama ini informan itu hanya terdiam dan pergi setelah melakukan tugasnya, tapi kali ini ada suatu yang berbeda.


"Bukan tugasku untuk mengantar kematian." lanjutnya.


Ketiganya tercengang. Mereka menunjukkan tatapan tak mengerti, bingung dan sekaligus terkejut.


Informan itu tersenyum, lalu melanjutkan.


"Seperti biasa aku memang melakukan tugasku, memberikan informasi, tapi bukankah kalian akhir akhir ini menyadari sesuatu? Sesuatu yang biasa, tapi di saat yang sama sesuatu yang berbahaya. Aku yakin kalian tak bodoh, jadi kalian pasti mengetahuinya."


Misi yang semakin berbahaya, tapi di saat yang sama informasi yang mereka dapat kadang tak sesuai dengan kenyataan. Dengan melakukan improvisasi mereka berhasil melaksanakan misi, tapi mereka sadar kalau informasi yang tak sesuai adalah kesengajaan.


Pertanyaannya adalah apa tujuan informan itu melakukannya?


"Aku perlahan memberikan data palsu agar kalian semakin kuat, jujur saja ini adalah misiku yang sebenarnya. Bukan hanya menjadi informan, tapi disaat yang sama juga sebagai pengajar."


"Fufuf ufu, jangan bercanda." Ucap Gyu. "Kau orang baru, tapi kau berlagak sombong."


"Aku tak menyangkalnya, tapi kalian sudah merasakannya. Perlahan tapi pasti, kalian semakin kuat. Jika membandingkan dengan hasil kalian di masa lalu, bukankah itu adalah bukti yang kuat?"


Gyu menggertakan giginya. Dia kesal, tapi di saat yang sama dia tahu apa yang dikatakan informan itu benar.

__ADS_1


"Aku mengerti. Kami berterima kasih berkat kau kami semakin kuat, meskipun kai tak menyadarinya." Ucap Hana. "Tapi kenapa kau menolak memberikan informasi kepada kami?"


"Kau punya alasan kan?" lanjut Stella.


"Kalian tahu tentang misi kali ini kan? Misi untuk membunuh bangsawan yang melakukan korupsi dan membuatnya seolah menjadi perampokan, tapi kalian pasti menyadari keanehan misi ini. Misi ini seharusnya diberikan kepada Illegal yang lebih kuat daripada kalian."


"Apa kau mau mengatakan bahwa misi kali ini adalah sebuah jebakan?"


"Tidak, tapi aku juga masih belum tahu apakah ini jebakan atau bukan. Pada akhirnya ini hanyalah misi membunuh. Sayangnya, setelah melakukan penyelidikan tentang bangsawan itu, aku menemukan sesuatu yang menarik."


Informan itu tanpa ragu membuka data yang seharusnya rahasia.


Dia menampilkan sebuah data seseorang dan beberapa foto.


"Bangsawan memang wajar memiliki pengawal, tapi kalian tahu orang ini?"


Ketiganya terdiam. Jawaban terlihat di raut wajah mereka.


"Namanya adalah Cruzx Fellias. Sejauh yang aku tahu dia adalah penyihir dengan peringkat SS, dia juga seorang pengawal yang terkenal yang sudah mengawal orang penting. Tapi bukan itu masalahnya, kenapa sekarang adalah masalah terbesar kalian."


"....jangan bilang.."


"Meskipun dibutuhkan penyelidikan lebih lanjut, tapi ada kemungkinan seseorang di Illegal memberikan informasi kepada bangsawan itu, dengan kata lain mata mata."


"Perkataanmu masuk akal, tapi bukankah bisa saja kebetulan kalau bangsawan itu mengganti pengawalnya?" tanya Stella.


"Masalah terbesar kedua adalah kenapa kalian yang diberikan misi ini? Sudah kukatakan seharusnya misi ini diberikan kepada Ilelgal yang lebih kuat kan? Kalian pasti juga menyadarinya, jika kalian berhadapan dengan Cruzx, mungkin kalian akan mati. Itulah kenapa aku tak mau sebagai pengantar nyawa kalian."


Stella, Hana dan Gyu terdiam sesaat. Mereka memikirkan kembali perkataan informan bertopeng itu.


"Lalu apa saranmu untuk keluar dari masalah ini?" tanya Stella. "Seperti yang kau tahu kami tak mungkin mundur dari misi k-"


"Tidak. Kalian masih bisa mundur." Potong informan itu. "Jika kalian tak melakukan misi ini, kalian dianggap gagal, benarkan?"


"Kau hanya bisa omong kosong. Kau sama saja menyuruh kami disiksa."


Setiap misi yang gagal akan mendapatkan hukuman. Jika beruntung mereka hanya mendapat teguran, tapi jika tidak mereka akan mendapatkan siksaan bagai neraka. Ketiganya sudah mengalami siksaan itu dan mengingat misi mereka cukup penting, tak diragukan mereka akan mendapatkan hukuman.


"Gyu, kau benar, tapi daripada mengantar nyawa, siksaan itu masih lebih baik."


"Tch.. tapi jika kita tak melakukannya, mereka akan mengirim orang lain. Mereka mungkin akan menjadi korban sama seperti kita. Kita beruntung karena ada dia, tapi bagaimana dengan yang lain?"


Informan itu tertawa kecil.


"Apa ada yang lucu?"


"Tidak, sepertinya informasi yang kudapat mengenai kalian ternyata benar. Masih ada kelompok bodoh di Illegal."


Ketiganya terkejut secara bersamaan. Mereka marah dan kesal.


"Tapi justru karena kalian seperti itu, kalian adalah orang yang seperti kupikirkan. Karena itu.."


Informan itu membuka topengnya. Wajahnya kini terlihat jelas. Mata hitam segelap malam dan rambut yang sama dengan matanya. Dari balik jubah terlihat gagang pedang dengan dua lonceng yang berbunyi merdu.


"Dengan senang hati aku akan membantu kalian dalam misi ini. Kita memang sering bertemu, tapi aku belum memperkenalkan diri, namaku adalah Kuro Kagami dan aku bukan penyihir. Salam kenal."


Pemuda bernama Kuro Kagami tersenyum dengan hangat. Disaat yang sama itu adalah senyuman yang menjadi awal hubungan keempatnya.


Ketiganya terdiam terpaku dengan wajah memerah. Mereka terkejut dengan perkataan tak masuk akal kalau Kuro bukan penyihir mengingat informasi yang bisa dia peroleh, tapi mereka lebih terkejut karena informan mereka ternyata pemuda tampan.


♦️♦️♦️


"Ehem.. itu adalah pertama kalinya kami bekerja sama dalam sebuah misi, tapi itu juga menjadi misi kami yang terakhir."


"Kenapa?" tanya Laila.


"Sebagai Shadow Knight guru Kuro hanya bertugas memberikan informasi dan dilarang ikut campur apapun resikonya. Meskipun kami dalam bahaya, dia tak diperbolehkan membantu. Kami memang berhasil menjalankan misi kami, tapi itu juga perpisahan kami dengan guru Kuro"


♦️♦️♦️


Setelah mengatakan kalau dirinya bukan penyihir, Hana dan kedua temannya tertawa kecil karena tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Sudah kuduga rekasi kalian memang seperti itu, tapi itulah kenyataannya. Sekarang kita pergi dari sini untuk membahas strategi, bagaimana?"


"Fu fu kau memang pandai bercanda, apa kau pikir kami akan langsung menerimamu dalam tim ini?"


"Apa yang dikatakan Gyu benar. Kami belum memutuskan kalau kau ikut bergabung dengan kami." Sambung Hana.


Tapi Kuro justru tersenyum. Dia seolah tak peduli dengan apa yang mereka katakan.


"Aku memaksa bergabung. Lagipula tanpa informasi dariku, kalian tak akan bisa melaksanakan misi kalian, sekarang kurasa kita sudah sepakat, benarkan? Sekarang ayo kita pergi."


Kuro berbalik arah dan meninggalkan mereka. Sementara itu ketiganya terdiam dan sadar tak bisa berbuat apapun.


"Di-Dia..."


"Kau tak usah mengatakannya, Hana."


"Dia memang tampan, tapi dia licik seperti ular." Sindir Gyu.


Ketiganya lalu mengangguk secara bersamaan. Ketiganya tahu bahwa pemuda bernama Kuro bukanlah pemuda yang bisa mereka remehkan.


Keempatnya kemudian berkumpul di sebuah bar yang penuh dengan orang dewasa yang menyeramkan. Saat pertama kali masuk keempatnya langsung menarik perhatian, tapi semua mata langsung tak menatap mereka saat tahu siapa yang memimpin mereka.


Ketiganya tak cukup bodoh kalau Kuro adalah penyebabnya. Dia seperti memiliki sebuah pengaruh di tempat itu.


Kuro langsung saja masuk ke sebuah pintu di bagian dalam bar. Tak punya pilihan lain, ketiganya mengikuti dari belakang. Setelah masuk, mereka tiba di lorong dan anak tangga yang menuju ke bawah. Mereka berjalan dan terus berjalan. Pintu di sepanjang lorong, tapi semua pintu tertutup rapat.


"Tempat ini adalah tempat mereka melayani pelanggan mereka. Jadi jangan pernah mencoba untuk membukanya."


Ketiganya tersentak karena terkejut. Dan tentu saja heran.


"Err... bagaimana bisa kau...."


"Aku kenal dengan pemilik tempat ini, dan tentu gadis gadis di tempat ini. Jangan salah paham, aku bukan pelanggan, hanya seorang yang kenal."


Tatapan mata ketiganya menunjukkan kalau mereka tak percaya dengan ucapan Kuro.


"Lalu...?"


"Kita akan menuju tempat tersembunyi di bagian dalam. Kuharap kalian tak membuat keributan, gadis gadis di tempat ini sedikit licik dan berbahaya."


"Licik?"


"Kalian akan segera tahu."


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di sebuah pintu, tapi Kuro tak berdiri di depan pintu. Dia menatap dinding kosong. Setelah melihat dengan teliti, Kuro menekan sebuah tombol di dinding secara acak.


"Itu kan.."


"Pengaman Lock Infinity. Kita mungkin berada di tempat yang sangat rahasia."


"Tapi Lock Infinity terdiri dari 24 kode yang berbeda dan diacak dalam waktu yang bervariasi. Bagaimana dia bisa tahu...?"


"Kalian tak usah berbisik. Aku hanya menghitung berdasarkan kode terakhir dan menghitung berdasarkan alogaritma. Dua puluh empat digit bukanlah masalah besar."


"....."


"....."


"....."


Ketiganya mendengar suatu yang mustahil seperti sebuah perhitungan anak kecil. Tak ada komentar yang keluar dari mulut mereka..


Pintu terbuka, setelah itu mereka masuk. Di dalam mereka melihat ruangan luas yang penuh dengan pintu. Ada lampu yang menyala, tapi sebagian besar mati.


"Tara tampaknya sedang istirahat. Tunggulah disini, aku akan menanyakan di mana Mamy."


Kuro lalu menuju pintu yang lampunya hidup. Dia mengetuk beberapa kali dengan pola seperti kode. Beberapa detik kemudian pintu terbuka, Kuro masuk dan tak kembali beberapa menit.


Sekitar 10 menit menunggu, Kuro akhirnya keluar. Dia menemui ketiganya yang menunjukkan tatapan tak percaya atau sudah menduga hal itu.


"Kita tak beruntung, Mamy sedang tak berada di sini. Sementara kita menunggu, kalian beristirahatlah."


"Di mana?"


Kuro melirik ruangan yang sebelumnya dia masuki.


"Apa kau bercanda dengan kami? Lagipula apa kau pikir kami akan menuruti perintahmu?"


"Y-Ya, kenapa kau pikir kami mau masuk ke salah satu ruangan itu?"


"Itu kar-"


"Ku~~.. kenapa kau lama sekali?"


Dari dalam ruangan sebuah kepala gadis muncul. Gadis cantik dan seksi lalu keluar. Gadis itu berpakaian minim atau lebih tepat hanya memakai celana dalam saja sehingga bagian dada terekspos dengan jelas.


Gadis itu berlari menuju ke Kuro dan langsung melompat ke punggung Kuro dan menempel seperti anak kecil.


"Ku~~.. jadi mereka yang akan menginap di sini? Heh... mereka manis, mungkinkah mereka..."


"Tara, berhenti memanjatku seperti itu. Dan jangan melakukan suatu yang membuat salah paham."


"Gee.... kau memang mempunyai dinding yang tebal, Ku ~~ Aku yakin Mamy tak akan keberatan temanmu menginap di sini, tapi... mungkinkah mereka masih perawan?"


Hana dan keduanya temannya langsung memerah karena malu.


"Entahlah.. jangan menanyakan hal itu kepadaku."


Kuro perlahan melepaskan pelukan Tara dengan lembut.


"Sekarang bisakah aku mempercayakan mereka kepadamu? Aku masih ada urusan."


"Hee.. mau pergi? Kenapa tak menemaniku dulu? Bukankah akhir akhir ini kau jarang kemari?"


"Kapan kapan aku akan bermain dengan kalian semua, tapi tidak sekarang. Aku harus melakukan sesuatu yang penting."


"Hmm... mungkinkah kau mau membunuh orang lagi?"


"........"


Kuro hanya tersenyum kecil. Dia lalu mengusap kepala Tara dan menyentil hidungnya. Tara terlihat menikmatinya saat Kuro melakukan itu.


Kuro tanpa sepatah kata lalu pegi dengan cara yang sama saat dia masuk. Meninggalkan Hana dan kedua temannya bersama dengan seorang gadis yang setengah telanjang.


"Baiklah, siapa yang sudah tak perawan?"


"......"


"......"

__ADS_1


"......"


Itu adalah pertanyaan yang tak mungkin mereka jawab meskipun disiksa dengan cara terkejam dan tak berperikemanusiaan sekalipun.


__ADS_2