
"Ini pengalaman yang menarik. Kita bisa mengetahui sisi keluarga paman Leon yang bisa dibilang tak jauh beda dengan keluarga biasa."
"Benar. Tetapi yang paling menarik adalah seolah keluarga mereka terdiri dari banyak warna."
"Tetapi, entah mengapa semua wanita di keluarga mereka menyeramkan. Aku tak menyangka perubahan Laila akan sampai sejauh itu."
Charlmilia gemetar saat mengingat kembali aura yang dikeluarkan Laila. Memang aura yang tak terlalu kuat, namun cukup membuat bulu kuduk membeku.
"Daripada memikirkan itu, aku lebih tertarik dengan perubahan sikapnya yang sangat dewasa. Mungkin ini karena dia menjadi seorang ibu, tetapi aku merasa lebih dari itu."
"Kak Victoria juga menyadarinya?"
Victoria mengangguk.
"Memang benar kekuatan mereka membuatku tak sabar untuk bertarung dengan mereka, tetapi untuk alasan tertentu aku juga merasa kalau mereka menyembunyikan rahasia yang sangat besar. Inilah yang membuatku sedikit takut atau tak ingin berurusan dengan mereka. Terutama dari suami Laila."
Riana dan Charlmilia melirik satu sama lain. Bagaimanapun juga mereka mengerti apa yang Victoria rasakan.
"Ah.. tenang saja. Aku tak ingin merebut dia dari kalian. Jadi jangan kawatir. Kalian bisa berlomba untuk menjadi nomor dua."
"Whaa. Awaaa aaa.."
"Kak Victoria Kenapa kau berkata seperti itu?"
Wajah Charlmilia dan Riana memerah bagai tomat.
"Ayolah, semua orang tahu kalian menyukai Kuro. Sudah terlambat untuk menyembunyikannya"
"Uuu..."
"..."
Keduanya menunduk karena merasa malu.
"Aku tahu kalau Charlmilia sudah menyukai Kuro sejak lama, tetapi Riana, bagaimana denganmu?"
"Mmm...?"
Riana tak menjawab.
"Dari wajahmu aku mengerti kalau kau tak membencinya, tetapi di saat yang sama kau tak menyukainya. Yang kau rasakan ini mungkin cocok disebut sebagai benih yang baru tumbuh."
"Mou... kenapa kakak Victoria mengatakan itu?"
"Kau sudah tahu apa yang aku maksud. Satu hal yang harus kalian ketahui, jika kalian bahagia menjalani ini, maka aku juga akan ikut bahagia. Hanya saja sebagai kakak aku ingin memberikan sebuah saran."
"Apa itu?"
"Jika kalian benar benar mencintai Kuro, maka berusahalah mendapatkan cintanya sampai kalian benar benar menemui jalan buntu. Jika kalian tak melakukannya, kalian mungkin akan menyesal seumur hidup. Selain itu, berbeda denganku, jalan cinta kalian terbuka lebar."
"..."
"..."
Inti perkataan Victoria adalah untuk tak menyerah sebelum mencoba, tetapi saat mengucapkannya dengan ekspresi menyedihkan, keduanya bingung untuk menjawab.
Sama seperti mereka, Victoria diberi kebebasan untuk memilih calon suaminya. Bahkan meskipun bertunangan dengan Arthuria, dia memilih jalan cintanya sendiri.
Itu tindakan yang keren dan tak bisa dilakukan oleh banyak orang, apalagi orang yang berasal dari keturunan bangsawan. Tetapi di saat yang sama, itu membuat orang bertanya siapa yang mampu merebut hati Victoria?
"...etto apa yang kak Victoria maksud dengan jalan cinta kami terbuka lebar. Seperti yang kau tahu, Kuro sudah memilih Laila dan memiliki dua orang anak. Jika kami berusaha mendekati Kuro, itu sama saja dengan berusaha mengganggu kebahagiaan orang lain."
Charlmilia ingat dengan kebahagian keluarga Kuro yang bisa dibilang sangat harmonis dan membuat orang iri.
"Aku sempat berpikir untuk menyatakan cintaku padanya setelah pertarungan dengan Maria selesai, tetapi kebahagiaan mereka membuatku harus berpikir ulang. Apakah aku harus melakukannya, atau aku harus menyerah dan mengubur perasaanku seumur hidupku." Lanjutnya.
"Kak Charlmilia...."
Meskipun kasus Riana sedikit berbeda, namun dia mengerti apa yang Charlmilia rasakan. Inilah alasan dia ingin menentang pertunangannya dengan Kuro, sayangnya Sei sudah membulatkan keputusannya.
Tetapi setelah mendengar itu, Victoria justru tersenyum dan langsung saja menjitak kepala keduanya.
"Kalian berdua sungguh bodoh. Hanya karena Laila mengeluarkan aura dingin dan seolah berkata 'aku adalah nomor satu dan ini adalah keluargaku' bukan berarti dia mengatakan kalau kalian tak boleh mencintai atau mendekati Kuro. Tidak, sikap yang dia tunjukan selama ini lebih mudah diartikan kalau 'Aku adalah nomor satu di hati Kuro. Silahkan jika ingin menjadi nomor dua. Tapi aku tak yakin jika ada yang bisa menjadi nomor dua.' Daripada larangan, itu lebih menyerupai sebuah tantangan."
"Ugh..."
"Entah mengapa aku bisa membayangkan Laila sedang tertawa lebar seperti musuh terakhir."
Apa yang dikatakan Riana tepat. Laila saat ini bagaikan sebuah bos yang menanti siapapun yang mencoba mendapatkan cinta Kuro. Jika ingin mendapatkan cinta Kuro, berarti harus bisa melewatinya lebih dahulu.
Tetapi meskipun bisa lewat, belum tentu orang itu akan mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu posisi nomor dua.
Sederhana, namun juga begitu rumit.
"Kalian sudah mengerti? Jika ingin menjadi nomor dua, kalian harus menjadi penyerang, bukan seorang penonton. Yah.. meskipun untuk kasus Riana, aku hanya perlu mengalahkannya di Battle War nanti."
"!?"
Ucapan Victoria menyadarkan Charlmilia.
Saat ini dialah yang paling tak memiliki harapan bersama Kuro jika dia menyerah.
"Ugh... Jika seperti ini, jangankan nomor dua, mungkin aku akan menjadi nomor 4 saja sulit."
Melihat reaksi Charlmilia, Victoria dan Riana tertawa kecil.
"Moouu.. ini sama sekali tak lucu. Tetapi aku penasaran dengan siapa kak Victoria menikah nanti."
"Itu rahasia."
"Moouu.. itu tidak adil."
Malam itu, kereta yang membawa pulang tuan putri kekaisaran Houou dipenuhi oleh senyuman kebahagian.
♦♦♦
Keesokan harinya, setelah sarapan bersama, Charlmilia pergi ke salah satu ruangan istana bersama Sei.
Ruangan yang mereka gunakan sudah dilindungi oleh sihir pengedap suara sehingga tak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Paduka kaisar, apa yang ingin anda bicarakan dengan hamba?"
"Tolong hentikan bicara formal seperti itu. Aku sudah menjadi kaisar selama 300 tahun lebih, aku sangat bosan dengan hal semacam itu."
Sei mendesah dengan wajah penuh masalah.
"Selain itu sekarang kita keluarga, jadi jangan bicara seperti itu saat kita bersama menjadi keluarga."
Charlmilia hanya tersenyum tanda mengerti.
Tak hanya Charlmilia, sikap seperti ini sudah menjadi tradisi. Hal ini bertujuan agar bisa membedakan masalah pribadi dan masalah negara.
"Mari lupakan itu dan langsung ke masalah utama. Aku yakin kau bisa menebak apa yang d aku ingin bicarakan denganmu. Aku ingin membicarakan masalah pengangkatanmu besok. Kau tahu artinya kan?"
"Ya. Aku akan resmi menjadi saudara Riana dan kak Victoria Tentu tak lupa dengan kak Norn."
Sei mengangguk dengan senyuman senang.
"Berbicara tentang Norn, dia akan pulang saat Battle War nanti. Meskipun dia tak bersama kita, aku yakin dia senang dengan hal ini. Lagipula kalian sudah saling mengenal baik."
"Aku harap juga begitu, ayah."
"Lalu ini adalah masalah utama. Ini menyangkut orang tuamu."
Mendengar itu, Charlmilia hanya terdiam dengan wajah rumit.
"Aku mengerti perasaanmu. Jika memiliki orang tua seperti mereka, aku pasti akan merasa pengangkatanmu merupakan suatu yang sangat menyenangkan mereka. Tetapi jangan kawatir, mereka tak akan bisa menikmati hal ini."
__ADS_1
Sifat orang tua Charlmilia yang sangat ambisius sudah terkenal, karena itulah wajar jika Sei membuat rencana untuk membuat mereka tak besar diri karena anak mereka menjadi tuan putri. Tentu Charlmilia tak tahu secara detail.
"Ketika kau menjadi putriku, itu artinya kau sudah memutus hubungan dengan mereka. Ingat itu."
"Aku tahu, tetapi-"
Charlmilia tak melanjutkan. Saat ini dia merasa menjadi seorang anak durhaka yang memutuskan hubungan secara sepihak. Memang mereka orang tua yang buruk, tetapi mereka tetaplah orang tua Charlmilia.
"Maaf, aku sepertinya terlalu menganggap ringan hubungan orang tua dan anak. Seharusnya aku juga memikirkan perasaanmu sebagai anak mereka."
"...tidak apa apa, ayah. Lagipula kau melakukan ini juga demi melindungiku dan kau benar benar menyayangiku seperti putri kandungmu sendiri."
"Kalau begitu, aku rasa tak perlu membahas hal ini lebih lanjut. Bagaimanapun juga kau sudah dewasa. Kau sudah bisa menentukan jalan hidupmu sendiri. Satu hal yang harus kau tahu, aku akan membelamu karena kau adalah putriku."
"....terima kasih, Ayah. Sebagai putrimu, aku akan mengabdikan diriku padamu dan pada negeri ini."
Pembicaraan ini mengingatkan kembali masa kecil Charlmilia yang bisa dibilang cukup berat untuk gadis seperti dirinya.
Terlahir sebagai seorang gadis membuatnya menjadi seorang yang akan digunakan sebagai alat politik. Dengan menikah dengan keturunan bangsawan lain, maka kekuatan keluarga Charlmilia akan semakin besar dan berpengaruh. Karena alasan itulah sejak kecil Charlmilia sudah mendapatkan pendidikan yang keras agar bisa menjadi calon yang pantas dan tak membuat malu keluarganya.
Selain ilmu mata pelajaran, Charlmilia juga dilatih etika dan adat istiadat seorang bangsawan. Dengan jadwalnya yang padat, dia bahkan bisa dibilang apa yang dia pelajari lebih berat daripada apa yang dipelajari seorang putri.
Meskipun berat, namun Charlmilia tetap melakukannya. Bukan karena dia mau, tetapi karena tak punya pilihan.
Lalu hal ini ditambah dengan wujud Magic Beast miliknya yang merupakan Divine Beast. Ekspetasi orang tua Charlmilia semakin besar dan membuat mereka semakin serakah.
Kemudian, jadwal Charlmilia yang padat kini bertambah padat dengan latihan bertarung dan menggunakan kekuatan Byakko dengan baik.
Dengan semua usahanya itu, akhirnya dia menjadi penyihir peringkat S. Sayang itu belum cukup membuat orang tuanya mengakui Charlmilia. Hal itu karena jika melihat orang yang sama dengan dirinya, seorang yang memiliki Divine Beast, seharusnya Charlmilia sudah setingkat penyihir Master.
Meskipun begitu, pada akhirnya dia bisa menggunakan tiga elemen yang berbeda dan membuktikan kalau dirinya spesial. Sayangnya, orang tuanya sama sekali tak berpikir seperti itu.
Semua itu Charlmilia jalani sampai dia bertemu dengan Kuro.
Seorang yang mengubah dirinya dan membuat dia menjadi penyihir peringkat SSS.
♦♦♦
Saat mengingat masa lalunya saat sebelum bertemu dan mengenal Kuro, Charlmilia merasa dia sangat beruntung. Hal ini juga yang membuat dirinya paham kenapa bisa jatuh cinta padanya.
Di matanya Kuro adalah orang spesial.
"..."
Charlmilia menatap ke arah langit yang cukup cerah.
(Ini seperti hari itu...)
Langit yang cerah bersamaan dengan angin yang dingin.
"Putri Charlmilia, apa ada yang salah?"
Salah satu Holy Knight yang mengawalnya bertanya.
"Tidak apa apa. Bukan hal yang penting."
Setelah berbicara dengan Sei, Charlmilia pergi ke kota setelah berganti pakaian seperti hari sebelumnya. Kegiatan hari ini sama seperti hari kemarin, tetapi tak bersama dengan Riana.
Kegiatannya kemarin sudah tersebar luas dan membuatnya sudah terkenal sebagai calon tuan putri yang baru. Jadi Riana tak perlu ikut dan fokus dengan acara lain.
Rencana kegiatannya hari ini adalah untuk melihat lihat masalah yang terjadi di masyarakat, tetapi sejauh ini dia tak menemukan masalah serius. Jika ada, dia masih belum tahu bagaimana cara mengatasinya, atau lebih tepatnya dia masih belum tahu menemui siapa. Untuk sekarang dia berpikir untuk bilang pada Sei setelah dia pulang. Selain itu dia juga masih belum memiliki kekuasaan. Jika bertindak ceroboh, itu hanya akan menggali lubang kuburannya sendiri.
Kemudian, suatu yang mengejutkan terjadi. Dia bertemu dengan seorang yang tak dia duga di sebuah restoran luar ruangan.
"Kuro?"
"...Charlia, kenapa kau ada di sini?"
Kuro menyadari kehadirannya dan menyapanya.
"Seharusnya aku yang menanyakan itu. Selain itu, kenapa aku tak melihat Laila?"
Jika ada yang bersama Kuro, itu adalah tumpukan kertas yang cukup banyak di atas meja. Dan beberapa benda sihir yang dipakai untuk keperluan pekerjaan.
"Errr... Aku hanya mencari nafkah di sini. Jangan coba ingatkan aku dengan kenyataan pahit."
Kuro pucat pasi dengan wajah rumit. Sekilas dia terlihat seperti pegawai kantor yang tak dibolehkan pulang oleh istrinya.
"Apakah kau masih memikirkan uang?"
Charlmilia tak tahu tentang kenyataan Kuro memiliki uang yang cukup untuk membeli negara kecil, hanya saja karena dia tahu Kuro banyak memiliki perusahaan kecil maupun besar, maka tak heran jika Kuro memiliki uang banyak. Restoran yang kemarin dia kunjungi adalah salah satunya. Selain itu, ini adalah salah satu alasan kenapa dulu dia mendekati Kuro.
"Tidak juga. Tetapi mumpung aku di sini, aku ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Maklum saja, aku akhir akhir ini sangat sibuk. Jika kau tak ada kegiatan, kenapa kau tak duduk? Atau kau ingin pergi?"
"....Aku sedang tak memiliki rencana kegiatan yang jelas, jadi aku terima tawaranmu."
Charlmilia duduk di bangku berseberangan dengan Kuro. Karena kertas dan alat yang di atas meja, itu cukup sulit menaruh minuman. Mungkin inilah alasan kenapa Kuro tak memesan minuman?
"Kau bisa memesan apapun. Aku yang traktir."
"Kalau begitu aku pesan teh saja."
Setelah itu, Kuro melambaikan tangannya pada salah satu Holy Knight agar mendekat.
"Sebaiknya kau membuatkan teh untuk kami. Kau tahu, lebih baik teh yang segar dan aman." Ucap Kuro sambil mengedipkan matanya.
Holy Knight mengangguk tanda mengerti. Setelah itu, dia pergi menuju ke bagian dalam restoran.
"Kau sepertinya akrab dengan mereka?"
"Jika kau berpikir aku cukup kenal dengan mereka karena aku pernah menjadi Shadow Knight, maka kau salah. Shadow Knight dan Holy Knight bagaikan dua sisi yang saling menentang satu sama lain. Jika menyangkut hal tadi, sebenarnya itu lebih pada prioritas tugas seorang Holy Knight. Aku salah?"
Holy Knight lainnya mengangguk tanda apa yang dikatakan Kuro benar.
Tugas mereka saat ini adalah mengawal dan memastikan keamanan Charlmilia. Karena itulah meskipun Kuro memerintahkan dengan tak sopan, asalkan itu melibatkan keamanan Charlmilia, maka mereka tak akan terlalu keberatan. Justru hal ini memudahkan mereka karena Kuro juga memikirkan keamanan Charlmilia.
"Menjadi pengawal keluarga kaisar cukup merepotkan."
"Aku tak ingin mendengar itu dari seorang yang akan menjadi seorang putri. Oh.. mungkinkah ini hari terakhir aku bisa memanggilmu Charlia?"
"....aku pikir tak perlu merubahnya. Nama panggilan itu adalah bukti hubungan kita. Selain itu tempat ini juga menjadi saksi pertemuan kita."
"Hm?"
"Apa kau lupa kalau ini adalah tempat yang sama saat kita pertama kali bertemu?"
Seperti mengingat sesuatu, Kuro tersentak.
Melihat itu, Charlmilia tersenyum kecil.
"Ah kau benar. Selain itu kau juga memakai pakaian yang sama dengan yang sekarang. Jujur saja aku pikir itu sama sekali tak cocok dengan dirimu yang memiliki jiwa bebas."
"Kau dulu pernah mengatakannya. Apa kau ingin mengulangi kejadian dulu?"
"Entahlah, itu terserah kau. Aku tak keberatan jika mengulanginya."
Kuro menunjukan senyuman lebar seolah memberikan sebuah tanda.
Di saat itulah teh yang mereka pesan datang yang diantar menggunakan meja dorong.
"Aku akan memikirkan itu."
"Ya.... Mungkin ini akan menjadi kesempatanmu yang terakhir. Kau harus memikirkannya dengan matang."
"Ya...aku tahu itu."
Kemudian keheningan terjadi di antara keduanya untuk beberapa saat. Yang terdengar hanyalah beberapa suara dari tegukan teh yang hangat.
__ADS_1
Sementara itu, di saat yang sama Kuro juga melanjutkan pekerjaannya dengan melihat dan menanda tangani dokumen.
"Permisi, bolehkah aku bertanya sesuatu pada kalian?"
Holy Knight mendekat dan membalas;
"Apa yang ingin kau tanyakan, tuan Kuro?"
"Kalau tuan putri kalian menghilang, apa yang akan kalian lakukan?"
"Tentu kami akan mencarinya dan menjadikannya sebagai status darurat tingkat pertama. Semua Holy Knight akan mencarinya sampai ketemu."
Seolah menduga jawaban Holy Knight, Kuro tersenyum.
"Yah.. tapi kaisar bisa menyelinap kapanpun dia mau tanpa ketahuan Holy Knight. Jujur saja aku heran kenapa tak pernah ada status darurat."
"..."
Holy Knight terdiam karena menyadari apa yang ingin dibilang Kuro.
"Maaf, bukannya aku ingin menyalahkan kalian. Lagipula aku sama sekali tak berhak. Yang ingin aku tanyakan selanjutnya adalah, jika tuan putri kabur, apakah akan mendapatkan perlakuan yang sama?"
"Kami juga akan mencarinya sampai ketemu."
Sekali lagi Kuro tersenyum. Kali ini lebih lebar.
"Kalau begitu, aku harap kalian bisa menemukannya."
"?"
Tanpa memberi apa maksud Kuro, tiba tiba asap tebal muncul dari bangku Kuro. Asap itu cukup besar hingga membuat seluruh restoran tertutupi.
Holy Knight bertindak cepat dengan menggunakan sihir angin untuk meniup asap ke tempat lain.
Sayangnya, setelah asap menghilang. Yang ada hanyalah sebuah kertas di meja yang bertuliskan.
[Aku pinjam tuan putri kalian sebentar. Jika ingin mencari kami akan aku persilahkan, tetapi itu jika kalian mampu.]
Pesan itu juga juga ditambah dengan gambar lidah menjulur.
Saat itu, Holy Knight yang mengawal Charlmilia tahu ini adalah sebuah tantangan untuk mereka.
Sayangnya, bagi Kuro dan Charlmilia ini hanyalah sebuah permainan untuk mengusir kebosanan dan aturan yang mengekang mereka.
♦♦♦
Tak jauh dari tempat mereka semula, tepatnya di sebuah gang sempit di antara rumah, Kuro dan Charlmilia tersenyum lebar dengan ekspresi puas.
"Ini benar benar seperti dulu."
"Yah. Saat itu kau juga dikawal oleh pengawal yang diperintahkan ayahmu."
Kufufu.. Charlmilia ikut tersenyum.
"Hm?"
Charlmilia baru sadar kalau sepatu dan gaun yang dia pakai sobek. Itu wajar, meskipun terbuat dari bahan khusus, namun saat ini Charlmilia memiliki kekuatan yang setara dengan penyihir peringkat master. Pakaian itu tak sanggup menahan kekuatannya.
"Apa kau masih mau lanjut?"
"Kenapa kau masih bertanya?"
"Tidak apa apa. Hanya memastikan. Kalau begitu, apakah kita akan melakukan hal yang sama seperti dulu?"
"Itu ide bagus, tetapi aku sedikit ingin perubahan. Selain itu saat ini yang mengejar kita adalah pasukan elit. Aku harap kau tak meremehkan mereka."
"Aku tahu. Karena itulah aku sudah memikirkan beberapa hal agar ini lebih menarik."
"..?"
Kemudian, Kuro mengajak Charlmilia ke sebuah sudut. Di sana Kuro mengambil sebuah koper yang berisi pakaian.
"Gantilah. Ini pakaian yang menutup tekanan sihir. Dengan ini kita akan memperlambat mereka."
"Umm.."
Charlmilia terlihat ragu dengan wajah memerah.
"Jangan kawatir . Aku tak akan mengintip. Selain itu aku hanya tertarik dengan tubuh Laila."
".... Kuro, kau benar benar... Sudahlah..."
Dengan desahan berat Charlmilia menuju sudut setelah melihat ke kanan dan ke kiri. Meskipun berganti pakaian di luar ruangan bukan hal yang baru baginya, tetapi mana mungkin tak merasa malu. Apalagi orang yang dia sukai berada di dekatnya.
Sekitar 7 menit, Charlmilia selesai dan kembali ke dekat Kuro.
"Kuro-k, bagaimana menurutmu?"
Charlmilia mengenakan kaos berwarna merah tua dan celana pendek hitam. Untuk sepatu dia mengenakan sepatu boot dan tak lupa sebuah topi.
Merah dan hitam, tak diragukan lagi ini adalah selera Kuro.
"Aku pikir cocok denganmu."
Reaksi yang datar. Tidak. Mungkin mengharapkan lebih dari Kuro adalah suatu kesalahan.
"Tetapi ini cukup gawat. Aku pikir kaos itu terlalu kekecilan."
Bukan ukuran tubuh Charlmilia yang besar, namun dadanya yang sedikit tak normal membuat kaos terlihat kecil. Dan karena itulah lekuk tubuh Charlmilia sangat terlihat jelas. Pakaian dengan gaya sportif kini berubah menjadi pakaian sexy.
"Ku-Kuro, kemana matamu melihat? Kau sungguh mesum."
Sadar maksud Kuro, wajah Charlmilia memerah bagai tomat.
"Aku sering dibilang seperti itu."
"Itu bukan pujian."
Setelah Charlmilia selesai dengan persiapannya, Kuro hanya memakai topeng yang dia kenakan saat berubah menjadi Shiro.
Untuk Charlmilia, meskipun pakaian yang dia kenakan sedikit terbuka, namun dia tak merasa kedinginan karena pakaian yang dia pakai sudah diberi sihir penghangat.
Dengan ini semuanya selesai.
"Ayo kita bersenang-senang."
"Un!" Jawab Charlmilia dengan penuh senyuman.
♦♦♦
"Rencana awal telah gagal. Tiba tiba dia menghilang dari restoran bersama dengan seorang pemuda tak dikenal."
Seorang sedang berbicara monolog di tengah keramaian. Tetapi semua itu salah, saat ini dia sedang berbicara dengan menggunakan sihir komunikasi.
[Pemuda tak dikenal? Kau tahu siapa pemuda itu? Bagaimanapun juga pemuda itu tak mungkin pemuda biasa.]
"Aku juga memikirkan hal yang sama. Mana mungkin dia bisa kabur dengan mudah dari Holy Knight."
[Apa rencanamu?]
"Untuk sekarang, aku pikir untuk mengikuti permainan mereka."
[Bodoh. Ini bukan saatnya main main. Kau tahu ini adalah misi penting yang menyangkut masa depan kita.]
Sosok itu tersenyum lebar bagai bulan sabit.
"Jangan kawatir, Tuan. Bagaimanapun juga kita akan menggagalkan upacara pengangkatan tuan putri kita yang baru. Bagaimanapun juga, kita akan mati jika tak melakukannya."
__ADS_1
Melakukan sesuatu yang buruk pada calon putri kekaisaran sama saja dengan mencari mati. Sayangnya, sosok itu sama sekali tak peduli. Matanya menunjukan keputus asaan dan kemarahan. Tetapi yang paling terlihat adalah sebuah tekad meskipun dia tahu akan mati.