
malam ini Kuro tidur dengan posisi yang tak biasa. Tak biasa karena jika biasanya hanya ditemani Laila, dia ditemani oleh dua gadis lain.
Situasi ini tak lain terjadi karena ulahnya sendiri yang membuat ketiganya pingsan, sayang mereka bukanlah gadis yang akan mudah tumbang karena hal semacam itu.
Pada akhirnya Kuro harus mendapatkan akibatnya, tapi jika dia harus menyentuh mereka berdua sebagai hukuman, dia akan memutuskan untuk mengundurkan diri saat itu juga.
Salah jika Kuro melakukan semua itu karena membenci mereka berdua, justru karena menghargai mereka berdua, dia tak akan melakukan hal aneh meskipun mendapatkan lampu hijau dari Laila.
"Aku tak tahu, tapi sepertinya kau menyembunyikan sesuatu dariku."
"Bisakah kau percaya pada suamimu?"
"Tapi bukankah kau mesum?"
"..."
Kuro tak bisa mengatakan apapun dan akhirnya memilih keluar dari tempat itu untuk menghindari suasana yang mulai aneh.
Tapi para gadis yang sudah hampir kehilangan kendali tak mungkin membiarkan Kuro lolos dengan mudah dan akhirnya membuat situasi menjadi lebih rumit.
Itu malam yang menyenangkan, tapi jika bisa, dia tak ingin melakukan hal ini lagi.
Saat keluar, Kuro langsung merasakan udara dingin di sekujur tubuhnya. Matahari sudah mulai meninggi dan cuaca hari ini begitu cerah.
"Sudah lama aku tak tidur selelap itu."
Mungkinkah karena dia tidur dengan pelukan para gadis? Entahlah. Tapi dia bisa membayangkan kehebohan di kekaisaran.
Melihat ke sekeliling, dia melompat dan duduk di sebuah batu yang kebetulan ada di sana.
Dia lalu menggunakan salah satu kemampuan matanya untuk melihat situasi Battle War saat ini atau lebih tepatnya siapa saja yang masih tersisa.
Dia cukup terkejut saat tak melihat Juuno dan Franco. Bagi Kuro keduanya adalah penyihir yang patut diperhitungkan karena memiliki kemampuan khusus.
Jika ada yang mengalahkan mereka, berarti penyihir itu sangat kuat. Dia tak perlu mencari tahu siapa yang bisa melakukannya.
Dengan tersingkirnya keduanya, peserta Battle War yang tersisa hanya tinggal beberapa pasangan saja. Dan itu menjadi tanda kalau Battle War sudah mencapai puncaknya.
Di saat memikirkan itu, dia merasakan keberadaan seseorang mendekat.
"Aku terkejut kalian bisa melakukan hal segila itu di tengah acara seperti ini. Jika masalah pribadi, aku rasa melakukannya di luar Battle War akan lebih terasa normal."
"Kau masih di sini huh ..?"
Mitra memasang wajah kesal. Entah mengapa tatapannya begitu dingin seperti melihat sampah.
Yah.. Kuro tahu kenapa Mitra seperti itu.
"Temanmu memasukanku ke dalam ruangan berseberangan dengan kalian. Berkat itu aku tak kedinginan, tapi aku mendengar banyak hal yang tak ingin aku sebutkan."
"Maaf."
"Sudah sepantasnya kau melakukannya. Tapi aku masih tak mengerti kenapa mereka semua tergila gila padamu."
Kuro hanya tersenyum.
"Anggap saja aku memiliki banyak hal yang membuat para gadis menyukaiku. Daripada membahas itu, bukankah ada hal yang perlu kau lakukan?"
Tiba tiba tatapan Mitra menjadi tajam.
"Sejak kapan kau mengetahuinya?"
Itu hanyalah sebuah pertanyaan tak berguna. Mengingat siapa Kuro dan kemampuan matanya, mengetahui apa yang dilakukan Mitra cukup mudah.
Yang menjadi alasan adalah kenapa Kuro membiarkan Mitra?
"Apa kau percaya jika aku bilang sejak awal?"
"..."
"Kau memang sahabat Laila, tapi bukan berarti itu membuat dirimu harus menyelamatkan dia setiap waktu. Bagaimanapun juga kau sadar kalau Laila berada di tingkat yang berbeda dengan murid sekolah sihir biasa."
Mitra tertawa kecut.
"Jika kau tahu sejauh itu, maka tak ada yang perlu dirahasiakan. Aku memang ke sini bukan untuk menyelamatkan Laila. Itu hanyalah tindakan spontan dari persahabatan kami."
"Aku tahu. Terima kasih. Laila benar benar diberkati oleh teman yang baik."
"...lalu jika kau tahu apa yang menjadi tujuanku sebenarnya. Apa yang akan kau lakukan?"
"Tidak ada. Kau bebas melakukan apapun yang kau mau."
"Meskipun itu kemungkinan akan membuat kalian kalah?"
Sekali lagi Kuro tersenyum. Dia lalu menatap ke arah daratan yang tak jauh dari mereka.
Sekilas tak ada apapun di sana, tapi dengan matanya Kuro bisa melihat sebuah formasi lingkaran sihir yang begitu rumit dan besar.
"Ritual sihir yang akan kalian lakukan adalah sihir pemanggilan. Melihat skala yang kalian buat, hal yang kalian panggil pasti salah satu monster tingkat atas, atau ....lebih tepatnya tingkat Divine Beast. Aku salah?"
"..."
Mitra terdiam, tapi ekspresinya tak bisa menyembunyikan apa yang dia rasakan.
"Ritual sihir pemanggilan dikatakan sebagai sihir kuno, tetapi di saat yang sama adalah sihir yang tak diketahui. Dengan penelitian saat ini dan formasi lingkaran sihir yang kalian gunakan, kemungkinan untuk bisa memanggil Divine Beast tak mencapai 50%."
"Aku rasa itu cukup tinggi untuk sihir yang sanggup memanggil Divine Beast dari legenda."
__ADS_1
"Dengan kemampuan manusia saat ini, itu memang dikatakan sebagai kemungkinan yang cukup tinggi. Tapi itu hanya berlaku jika tempat dan kondisi memenuhi syarat."
"Kenapa kau tahu sejauh itu tentang penelitian yang kami lakukan?"
Shiryuu Academy memang terkenal dengan penelitian sihir yang mereka lakukan, tetapi di saat yang sama juga terkenal dengan kerahasiaannya.
Akan wajar jika Kuro adalah orang dari Shiryuu Academy, sayangnya dia adalah orang luar. Pengetahuan yang dia miliki begitu luar biasa seolah Kuro sudah mengetahui semuanya.
Memang itulah kenyataannya.
Kuro memiliki Authority yang disebut Records (Akashic Records). Tak ada di dunia ini yang tak dia ketahui.
Hanya saja dia belum mengaktifkan kemampuan itu karena dia belum membutuhkannya. Sejauh ini dia mengetahui apa yang dilakukan Shiryuu Academy hanya dengan pengetahuan dari pengalamannya.
Tentu saja dia tak perlu memberitahu Mitra tentang hal ini.
"Anggap saja aku ahli dalam sihir kuno seperti ini."
"..."
Mitra tak berkata apa lagi. Dia tahu apa yang dikatakan Kuro bukanlah kebohongan, tetapi di saat yang sama Kuro tak akan memberitahu sebanyak apapun dia bertanya.
Mitra mendesah kecil.
"Begitu. Sebaiknya kau menepati janjimu untuk tak ikut campur."
"Aku berjanji."
Kuro mengangkat kedua tangannya sebagai tanda dia tak akan melakukan apapun.
Melihat itu, Mitra pergi. Menuju tempat yang menjadi tujuannya sejak Battle War dimulai.
◼️▪️▪️▪️
Shiryuu Academy adalah sekolah yang fokus dengan menciptakan sihir baru. Bagi sekolah Shiryuu Academy tak ada sesuatu yang tak bisa dilakukan dengan sihir.
Tentu saja visi itu memiliki banyak celah. Meskipun sihir sangat berguna bagi kehidupan, tapi banyak hal yang tak bisa dilakukan dengan sihir. Misal menghidupkan orang mati.
Meskipun mengetahui hal itu bukan menjadi alasan untuk menciptakan sihir baru. Bahkan itu menjadi motivasi terbesar.
Itu memang tak bisa dilakukan sekarang, tapi suatu hari nanti. Hal itu terus ditekankan pada setiap murid di Shiryuu Academy hingga membuat kebanyakan lulusan sekolah sihir ini menjadi seorang peneliti daripada seorang Knights.
Sebagai salah satu murid Shiryuu Academy, visi yang ditekankan sekolah sudah menjadi bagian dalam hidup Mitra. Dia mengerti apa yang ditekankan sekolah memang sedikit esktrim, tapi sebagian besar dari dirinya paham kalau visi dan misi itu benar.
Hal yang paling mudah terlihat dari hal itu adalah perbedaan besar antara sihir yang manusia gunakan dan sihir ras lain seperti elf dan dwarf.
Mana art, element art, magic beast dan magic arm. Semuanya menjadi satu yang disebut sebagai magic art. Jika dipikirkan kembali, bukankah itu terlalu sederhana?
Ras lain juga mengenal konsep magic art, tetapi karena mereka menggunakan bantuan roh (spirit), maka mereka bisa melakukan banyak hal lebih bervariasi. Bahkan memanggil roh saja sudah menjadi perbedaan besar antara kedua konsep sihir.
---kenapa bisa seperti itu?
Tak ada banyak jejak yang menunjukkan asal muasal sihir, tapi mereka menemukan petunjuk kalau manusia awalnya tak bisa menggunakan sihir.
Lalu dengan bantuan 'sesuatu', akhirnya manusia bisa menggunakan sihir. Itulah asal muasal dari sosok yang dikenal sebagai penyihir di zaman ini.
Dengan dasar hal itu, para murid Shiryuu Academy melakukan penelitian lebih lanjut. Pada akhirnya meskipun beberapa generasi masih belum menemukan kebenaran dari sosok apa yang memberikan bantuan pada manusia, mereka menemukan hal lain yang menjadi harapan akan potensi sihir.
Harapan itulah yang disebut sebagai sihir kuno.
Berbeda dengan sihir yang selama ini digunakan para penyihir, sihir kuno membutuhkan banyak persiapan. Tak hanya bahan untuk melakukan ritual, tapi juga harus memperhatikan waktu dan lokasi. Jika ada salah satu bagian dari ritual sihir tak lengkap atau salah, maka sihir tak bisa tereksekusi. Ini adalah kelemahan terbesar sihir kuno, tapi di saat yang sama merupakan keunggulan terbesar.
Di dunia ini alat sihir begitu umum dan mudah ditemukan. Banyak yang menggunakan alat sihir itu tanpa memperhatikan hal kecil seperti bagaimana alat itu bekerja atau kenapa semua orang bisa menggunakan alat sihir itu?
Jawaban dari kedua hal itu sederhana. Yang digunakan dalam alat sihir adalah salah satu tipe dari kuno.
Ya. Itulah keunggulan terbesar sihir kuno.
Semua orang bisa menggunakannya. Bahkan orang biasa selama mereka memiliki mana.
◼️▪️▪️
Mengingat kembali apa yang dia pelajari di sekolah, Mitra mendesah kecil.
Dia tahu Kuro adalah sosok yang luar biasa, tapi setelah bertemu dengannya secara langsung dan mengenal dirinya, dia merasa Kuro lebih dari itu.
Hal itulah yang membuat dia tak begitu merasakan sebuah keganjilan saat Kuro dengan mudahnya mengatakan sudah mengetahui semuanya.
(Lupakan masalah itu.. sebaiknya fokus dengan apa yang harus aku lakukan)
Dia berada di pusat formasi sihir yang dia buat dengan begitu hati hati. Dan karena tak bisa dilakukan dengan terang terangan, setiap perwakilan dari Shiryuu Academy membawa alat sihir yang mampu menggambar formasi lingkaran sihir dengan cepat.
Sayangnya itu bukan berarti tugas Mitra sudah selesai. Setelah formasi lingkaran sihir selesai, dia harus memastikan kalau tak ada satupun kesalahan dari formasi lingkaran sihir itu.
Tugas lain yang menanti Mitra adalah dia harus menanti semua formasi lingkaran sihir lainnya berhasil terpasang. Selama masa itu, dia harus memastikan tak ada satupun perubahan terjadi. Tak hanya tempat, tapi juga dengan energi sihir yang mengalir dari dalam bumi.
Sungguh, melakukan semua itu lebih melelahkan daripada bertarung dengan peserta lain.
Bahkan alasan kenapa dia membantu Laila hanyalah ingin mengembalikan energi sihir yang tak stabil karena kekuatan Fila mengamuk.
Dia sedikit merasa bersalah, tapi dia tak punya pilihan lain.
(Sekarang hanya perlu menunggu)
Para peserta dari Shiryuu Academy tak menggunakan sihir komunikasi karena rawan pembajakan. Sebagai gantinya mereka menggunakan partikel khusus yang hanya bisa dilihat oleh orang tertentu.
Sejauh ini sudah 4 yang berhasil terpasang dengan sempurna. Hanya tinggal satu saja.
__ADS_1
Ini adalah momen tersulit. Formasi kelima harus terpasang bersama dengan formasi keenam di mana yang menjadi pusatnya adalah Merlin.
Kemudian, setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya dia melihat tanda formasi telah berhasil dipasang.
(Sekarang!!)
Mitra memanggil magic arm miliknya yang berwujud sebuah buku. Dia tak bisa menggunakannya sebagai senjata, tapi buku itu membuatnya bisa menggunakan berbagai macam sihir unik yang tak bisa ditiru oleh siapapun.
"Oh kekuatan yang mengalir dalam bumi. Jadilah, terwujudlah menjadi taring dan cakar yang mengalahkan semua musuhku."
Formasi lingkaran sihir bersinar terang dan menjadi pilar cahaya.
Energi sihir mulai mengalir deras bagai sungai dari dalam bumi. Energi sihir itu kemudian melesat ke arah pusat formasi lingkaran sihir yang berada di tengah.
"Dengan menggunakan tubuh, jiwa yang terpilih. Aku memanggilmu sang taring yang sanggup membunuh para dewa."
Pilar cahaya membesar dan menembus langit. Tanah pulau Avalon bergetar.
"Datanglah, Fafnir!!!"
Bersamaan dengan rapalan yang telah selesai, pilar cahaya menghilang. Sebagai gantinya formasi lingkaran sihir yang berada di tengah menjadi besar.
Meskipun Mitra berada beberapa kilometer dari pusat formasi lingkaran sihir, dia merasakan tekanan begitu besar.
Energi sihir itu kemudian perlahan menyusut dan memusat menjadi sebuah sosok perwujudan sebuah mitos.
Roooarrrrr!!!
Raungan keras menggema di seluruh pulau. Bersamaan dengan itu, tanah pulau Avalon bergetar hebat seolah akan runtuh ke daratan.
◼️▪️▪️▪️▪️
Mengetahui telah sukses, Mitra tersungkur ke tanah. Dia tak memiliki energi sihir lagi. Jangankan menggunakan sihir, bergerak saja dia tak bisa.
Dalam situasi seperti ini dia menjadi mangsa empuk peserta yang mengincar kemenangan dengan cara mudah.
Tapi itu tak masalah. Setelah tujuannya tercapai, dia tak peduli lagi apa yang terjadi dengan dirinya. Hal yang sama juga dipikirkan oleh peserta dari Shiryuu Academy.
Hanya dengan ritual sihir pemanggilan Fafnir berjalan dengan sempurna sudah memberikan banyak arti daripada kemenangan dalam Battle War.
"Dengan ini sihir di dunia ini satu langkah lebih maju. Selamat."
Mitra melihat sosok Kuro yang bertepuk tangan dengan penuh senyuman.
Jika Kuro ingin menyerangnya, dia sudah tak peduli lagi. Tetapi Kuro tak melakukan itu dan justru melihat ke arah formasi lingkaran sihir yang tepat berada di bawah Mitra.
"Tidak buruk. Dengan hanya dasar formasi sihir pemanggilan yang aku berikan, dia berhasil mengembangkannya sejauh ini. Seorang yang mendapatkan julukan kutu buku memang bisa diandalkan."
"!?"
--apa yang baru saja kau katakan?
Mitra ingin segera menanyakan itu, tapi otaknya sulit memproses apa yang baru saja dia dengar.
Tapi ada satu hal yang muncul dalam pikirannya.
--sebenarnya siapa dirimu?
"Aku hanyalah manusia yang sudah mencapai puncak tertinggi. Seorang yang pernah menduduki tahta para dewa. Itulah alasan kenapa aku dipanggil King (King of Gods). Bukankah kau sudah mengetahuinya, True Queen of Darkness?"
--apa? True Queen of Darkness? Siapa?
Saat bingung dengan apa yang Kuro katakan, Mitra dikejutkan oleh tawa yang keluar dari dalam mulutnya.
Tidak. Itu bukan dari mulutnya. Suara itu hanya mirip seperti miliknya.
Kemudian dia dikejutkan oleh bayangan yang keluar dari bawah kakinya. Bayangan itu hitam kelam menyerupai kegelapan malam. Bayangan itu lalu membentuk sebuah sosok gadis cantik dengan rambut hitam.
Mitra mengenal sosok itu.
Itu adalah salah satu peserta dari Seiryuu Academy, Arisa Himegami.
"Lama tak bertemu, Shin."
"Kita hanya tak bertemu beberapa jam saja."
"Tidak. Izinkan aku mengatakan ini lagi. Lama tak bertemu."
"..."
Kuro hanya tersenyum kecil, tapi dia menunjukkan senyuman penuh kelembutan dan cinta seperti lelaki pada perempuan.
--sebenarnya apa hubungan keduanya?
Pertanyaan itu sempat muncul di benak Mitra, tapi sesaat kemudian dia tak sadarkan diri.
Saat sadar dia sudah berada di tempat perawatan khusus peserta Battle War yang tersingkir.
Setelah kesadarannya pulih, dia merasakan sesuatu yang ganjal. Atmosfer begitu terasa berat dan tegang.
Tanpa ragu dia keluar dari ruangan. Matanya melebar saat melihat ke arah seluruh penjuru di mana topografi yang dia kenal sudah berbeda jauh dengan yang ada dalam ingatannya.
Gunung yang berada di dekat pulau Avalon menghilang tanpa jejak. Pegunungan di sekitar tempat itu rata dan kini hanya menyisakan dari kawah besar seperti habis terkena sebuah bencana.
Lalu dari semua itu. Dia melihat ke arah langit dan tak menemukan apapun di sana.
Ya. Pulau melayang Avalon yang menjadi panggung Battle War kini telah lenyap tak tersisa.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi?"