
Langit yang cerah.
"...ah.. aku ingin pergi ke pulau terpencil. Mengubur diriku hidup hidup.."
Riku meracau seperti orang gila di tengah jalanan kota.
Wajahnya yang tampan menjadi sebuah bencana karena mengira dia adalah seorang bangsawan yang baru saja putus cinta dan ingin bunuh diri.
Mungkin itu tak salah menyebut kondisi Riku saat ini. Dia stress karena keberadaan Silvye. Bukan berarti dia membenci dia atau tak suka dia datang ke ibukota.
--Tapi bukankah aku sudah berjanji akan menjemputnya?
Dia mendesah dalam. Kedatangan Silvye membuat situasi menjadi rumit. Setidaknya, Riku belum bersiap.
Dia memasuki sebuah restoran kecil yang jarang pengunjung. Dia lalu menuju salah satu ruangan yang memang didesain untuk pengunjung yang menginginkan privasi.
Di sana ada seorang pemuda yang sudah duduk dan menikmati santapan berupa spaghetti dengan saus merah menyala.
"Berapa kalipun aku melihatnya, aku masih tak mengerti kenapa kau menyukai makanan pedas, Yuuya."
"Makanan pedas membuat kita sadar kalau di dunia ini ada hal yang lebih pedas daripada kehidupan kita. Dengan ini kita akan melihat dunia ini dengan lebih positif."
"Itu hanya pandanganmu saja kan? Daripada pedas, kenapa tidak memilih makanan pahit seperti parea? Aku rasa itu lebih cocok untuk menggambarkan dunia kita."
Pemuda itu menjawab dengan senyuman.
"Sederhana. Aku benci makanan pahit. Pedas mungkin akan membuat sakit perut, tapi pernahkah kau mendengar ada makanan terkenal menggunakan bahan pahit?"
"Makanan terkenal itu ada. Di suatu tempat."
"Haa.. lupakan itu. Aku sudah menyiapkan menu spesial yang mirip denganmu."
Yuuya menepuk tangan. Seorang pelayan tiba dengan membawa sepiring spaghetti merah dengan saus merah membara. Aroma spaghetti itu begitu menusuk hidung dan hampir membuat air mata menetes.
Pelayan itu pergi setelah meletakkan spaghetti di depan Riku.
"Jika kau memiliki dendam terhadapku, jangan gunakan cara seperti ini untuk membalas."
"Paman, aku sama sekali tak memiliki dendam terhadapmu. Seperti yang kubilang tadi, aku menyiapkan makanan yang mirip denganmu. Hidupmu lebih buruk daripada diriku, jadi bukankah wajar?"
"Aku benci mengakuinya, tapi itu sama sekali tak salah."
Mungkin akan terdengar aneh jika Yuuya memanggil Riku dengan sebutan paman, tapi itulah kenyataannya.
Yuuya Yamato. Putra mahkota kekaisaran Houou yang suatu saat nanti akan menjadi kaisar.
Riku sendiri adalah putra tertua keluarga Kagami. Jadi keduanya adalah seorang yang berhak mengetahui rahasia hubungan antara kedua keluarga dan kebenaran tentang identitas orang tua mereka.
Saat tahu kebenaran itu, tentu saja butuh waktu untuk menerimanya. Hasilnya, karena keduanya sudah akrab sejak kecil, hubungan keduanya akhirnya menjadi aneh.
"Yang menjadi pertanyaan, apa aku harus makan ini? Jujur saja, makanan ini sanggup membunuh manusia."
"Kau bukan manusia, jadi pasti akan baik baik saja."
"..."
Meskipun secara teknis itu benar, tapi mendengarnya sedikit menusuk.
"Lupakan jika tak mau, aku mengundangmu karena ada yang ingin aku bicarakan."
"Ya. Aku juga ingin menanyakan beberapa hal padamu. Pertama, kenapa orang paling penting di negeri elf berada di kelasku?"
Jika murid kelas B mendengar apa yang Riku katakan tentang Silvyie, mereka semua pasti akan langsung berubah sikap.
Identitas sebenarnya Silvyie tak hanya elf biasa, tapi dia adalah High Elf. Berbeda dengan elf biasa, High Elf adalah elf yang terlahir dari pohon dunia yang merupakan sumber kehidupan bagi para elf. Tak aneh jika para High Elf bisa disamakan dengan bangsawan di negeri elf.
Tapi tak hanya itu yang membuat identitas Silvyie begitu spesial. Dia juga seorang World Tree Queen, seorang yang membuat kontrak dengan pohon dunia.
Orang sepenting Silvyie seharusnya berada di negerinya yang aman dan justru pergi ke negeri lain, siapapun yang melihatnya pasti bisa menebak kalau ada sesuatu yang terjadi.
"Hm... Mulai dari itu kah? Apa itu alasan kenapa kau menanyakannya?"
"..."
Yuuya tersenyum.
"Aku sebenarnya tak ingin begitu peduli dengan urusan pribadimu, tapi karena itu menyangkut hubungan diplomatik dengan negara elf, aku harus sedikit ikut campur."
"Kau sudah tahu sejauh itu kah...?"
Riku tak begitu merasa aneh. Dengan identitasnya sebagai putra mahkota mendapatkan informasi yang menjadi salah satu rahasia terbesar Riku tidaklah sulit.
"Begitulah. Karena itulah aku berharap kau tak memperlakukan Silvyie seenaknya. Aku sudah dipusingkan dengan Dragonia, jadi aku tak ingin menambah masalah lagi."
"Aku mengerti, tapi itu masih belum menjawab pertanyaanku."
Yuuya mendesah kecil. Dia sesekali memegang kepalanya dengan ekspresi rumit.
"Ya.. bisa dibilang apa yang kau pikirkan saat ini tidaklah salah. Memang sesuatu terjadi di negeri elf. Satu bulan yang lalu, hutan mereka diserang oleh kelompok misterius."
"Itu mustahil."
Mustahil bukan karena tak bisa diserang, tapi untuk memasuki negeri elf, orang harus memasuki penghalang khusus. Penghalang itu tak terlihat secara fisik dan akan memberikan efek berupa ilusi yang membuat seseorang tersesat selamanya di hutan.
Dan tak hanya itu, efek itu juga akan berefek pada ribuan orang sekaligus. Jadi menyerang negara elf cukup mustahil. Inilah alasan kenapa negara elf masih bisa bertahan meskipun mereka tak membuat banyak kontak dengan negara luar.
"Mungkin... Jika musuh menggunakan cara biasa. Kau lupa kalau di dunia ini ada beberapa hal yang membuat kita bisa melakukan sesuatu yang lebih dengan mengandalkan beberapa alat."
"Apa teknologi sekarang bisa berbuat sejauh itu?"
"Bukan sekarang. Sudah lama bisa melakukan hal itu. Hanya saja mungkin ini adalah saat mereka menggunakannya."
Yuuya mendesah dalam.
Dalam 10 tahun terakhir, teknologi sihir dan ilmu ilmiah berkembang begitu cepat sehingga membuat pihak pemerintahan bingung.
Bingung karena teknologi sekarang bisa digunakan untuk cara yang salah, tapi jika tak disebarkan, mereka akan dicap sebagai negara yang tertinggal.
Pada akhirnya pihak pemerintah masih menggunakan kebijakan yang sama. Menyebarkan teknologi baru dengan pengawasan ketat.
Sayangnya, bukan berarti masalah baru dari teknologi maju berkurang. Karena keterbatasan oleh pemerintah, banyak pihak yang memesan dari negara lain dengan cara ilegal.
"Lupakan untuk sekarang. Penyerang menggunakan berbagai macam teknologi untuk melintasi pelindung dan akhirnya menyerang negeri elf. Hasilnya seperti yang sudah kau ketahui."
Negeri elf masih menggunakan budaya lama mereka dan jarang berkomunikasi dengan dunia luar. Tak aneh jika pelindung dan sihir yang mereka gunakan masih menggunakan cara lama.
Celah ini akhirnya dieksploitasi oleh musuh dan itu membuat Riku kedatangan tamu yang tak terduga.
__ADS_1
"Aku mengerti. Itu suatu yang tak bisa diubah. Tapi penyerang kelompok misterius. Bukankah itu terlalu sering akhir akhir ini?"
Ya. Satu hal lagi yang membuat Riku merasa aneh. Penyebutan Yuuya terhadap musuh.
"Ah.. itu karena musuh yang menyerang kota Horuse dan yang menyerang negara elf berasal dari kelompok yang sama."
"!?"
Riku terkejut bukan main, tapi Yuuya begitu santai seolah itu bukan urusannya.
"Untuk masalah kota Horuse akan aku segera tangani. Lagipula ini bukan pertama kalinya mereka menggunakan trik ini untuk menyerang kekaisaran."
"...ini bukan pertama kalinya?"
Yuuya menggangguk.
"Bahkan sebelum perang, banyak tempat kekaisaran diserang. Mungkin lebih tepat jika dirampok atau dicuri. Karena mereka selalu muncul di tempat tak terduga, sulit sekali melacak mereka. Dan yang lebih menjengkelkan, saat tertangkap mereka akan langsung meledakkan diri. Kau tahu, berkat hal itu kita sama sekali tak memiliki bukti kalau negara sialan itu berada di balik semua ini."
"..."
"Dan sekarang, pamanku satu satunya Pangeran Harem dari kekaisaran berhasil mendapatkan sosok paling penting di negeri elf. Paman, apa yang harus aku lakukan untuk mengurangi stress ini?"
Dia tak menyangka akan mendapatkan komplain yang begitu banyak dari Yuuya.
"Kau sungguh bekerja keras. Aku akan dengan senang hati membantu ponakanku ini selama aku bisa melakukannya."
"Oh bagus. Jika tidak, aku akan adukan hal ini pada nenek dan aku rasa itu juga akan mengurangi stress yang aku rasakan."
Wajah Riku langsung pucat.
Dia selalu untuk diingatkan jangan menjadi seorang seperti ayahnya yang selalu merayu gadis kemanapun dia pergi, tapi tampaknya darah memang tak bisa berbohong.
"Katakan saja apa maumu dan kita akhiri pembicaraan menyedihkan ini. Entah mengapa, ini juga membuatku stress. "
Riku kembali setelah selesai melakukan pembicaraan dengan Yuuya. Jujur saja, itu bukanlah pembicaraan yang menyenangkan.
"Perang kah..."
Riku menatap langit malam yang penuh dengan bintang. Dua bulan di langit menjadi penghias utama.
Dua tahun yang lalu, dia pergi ke Dragonia untuk mengunjungi teman ayahnya, putri Diana dan juga Wind Dragon King, Shapira untuk meminta berkah darinya.
Saat itu Dragonia begitu damai dan tak ada satupun tanda mereka akan memulai perang pada negeri tetangga.
Riku sama sekali tak mengerti alasan apa yang membuat Dragonia melakukan hal tersebut. Tapi dia tak bisa diam begitu saja.
Diapun menerobos paksa penghalang dan akhirnya bertanya langsung pada putri Diana.
Jawaban dia terima membuat Riku tak bisa berkata apa apa. Perang memang bukanlah suatu yang baik, tapi tak ada kedamaian yang berlangsung selamanya.
Dragonia memulai perang hanyalah memulai suatu saat nanti akan terjadi.
Dan di saat itulah dia membuat keputusan. Apapun hubungan mereka, saat bertemu di medan perang mereka adalah musuh.
Hanya saja, dia tak menyangka Dragonia akan menggunakan cara yang begitu tak menyenangkan. Riku tak ingin ikut campur dalam perang, tapi tampaknya situasi membuatnya harus ikut campur lebih cepat.
Sambil memiliki semua itu, Riku akhirnya sampai di rumah. Saat masuk, dia terkejut karena tak ada yang menyambutnya seperti biasa.
Tapi pemikiran itu berubah saat dia menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.
Di depan pintu kamar, dia melihat Silvye berlutut di lantai dengan wajah pucat dan putus asa. Sementara itu, Lunaris berdiri di depannya dengan aura membunuh yang kuat. Tangan kanannya bahkan sudah sepenuhnya berubah menjadi tangan naga dengan cakar panjang menyerupai pedang.
Riku sedikit tersentak karena sama sekali tak menyadari aura membunuh itu sebelum mendekat, tapi sepertinya itu disengaja untuk membuat Riku terkejut.
Cara itu memang berhasil. Riku memang diam mematung, tapi dalam hatinya yang terdalam dia begitu panik. Jika bisa, dia ingin segera pergi dari tempat itu sejauh mungkin.
Tapi apapun yang akan dia lakukan. Dia tahu tak bisa lolos dari tanggung jawab yang harus dia lakukan sebagai seorang lelaki.
"Riku kau akhirnya pulang. Kau tahu, tadi saat aku mengobrol dengan Silvyie, dia mengatakan 'dalam hal membuat anak dengan Riku, dia juga berpengalaman karena sudah melakukannya 100 kali lebih'. Sebagai kekasihmu, tunanganmu, calon dari ibu dari anak anakmu, setelah mendengar semua itu, apa ada alasan untuk aku tak membunuh Silvyie?"
Lunaris mengatakan dengan nada datar dan penuh dengan senyuman, tapi siapapun bisa melihat kalau ada kemarahan besar di balik semua itu.
Tapi di balik kemarahan itu, Riku tahu, ada sebuah kesedihan besar.
Bukan karena apa yang telah Riku dan Silvyie lakukan, tapi karena Lunaris sendiri.
"Aku tak bisa memberikan alasannya, tapi jika bisa aku ingin kau mendengar semua yang aku sembunyikan darimu."
Riku ingin menceritakan semuanya saat momen yang tepat, tapi itu tak bisa.
"Tentang kesalahan terbesar kedua dalam hidupku. Dan juga sebuah tanggung jawab yang harus aku lakukan. Setelah itu, kau bisa melakukan apapun terhadapku atau terhadap Silvyie."
Dia tahu jawaban yang dia berikan tidaklah adil bagi Lunaris. Tapi dia tahu sosok Lunaris bukanlah seorang yang akan mudah hilang kendali, terutama saat menyangkut hubungan dengannya.
----___
Tiga tahun Riku mengelilingi dunia. Dia melakukannya bukan hanya karena mencari pengalaman, tapi itu adalah satu satunya cara untuk mengendalikan kekuatannya.
Lebih tepatnya, dia berkeliling dunia untuk mencari keberadaan yang sanggup membantu mengendalikan kekuatannya. Sosok yang dia cari adalah para Dragon King dan mendapatkan berkah dari mereka.
Beruntung, karena orang tuanya memiliki hubungan dengan beberapa Dragon King, dia bisa mendapatkan berkah dari Ruby, Shapira dan Emera. Untuk Dragon King yang lain, dia harus mendapatkan berkah dengan usaha dirinya sendiri.
Untuk mendapatkan berkah dari Dragon King yang keempat, dia pergi menuju negeri elf yang terletak di hutan Gedbang.
Para elf dikenal sebagai ras yang menyendiri dan menjauhi ras lain. Tak aneh jika orang biasa sulit memasuki negeri elf.
Beruntung, berkat hubungan orang tuanya dengan tetua negeri elf, Riku bisa masuk dengan mudah dan tak mengalami kesulitan berarti untuk menemui Wood Dragon King, Grenia.
Sama seperti keberadaan Shapira di Dragonia, Grenia adalah Dragon King yang melindungi negeri elf dari musuh dan juga sekaligus pelindung dari World Tree.
Tetapi bukan berarti keberadaannya lebih rendah daripada World Tree. Keduanya adalah eksistensi penting yang menjaga keseimbangan dunia.
Untuk mendapatkan berkah dari Grenia, Riku harus melewati ujian. Hal ini baru pertama kali dia lakukan karena berkah yang dia terima sebelumnya dia dapat secara cuma cuma.
Ujian yang dia terima adalah menaklukkan sebuah labirin yang terdapat di negeri elf. Labirin itu termasuk salah satu labirin dengan tingkat kesulitan yang paling tinggi, jadi Riku bisa saja kehilangan nyawanya di sana.
Setelah tahu itu, itu tak membuat Riku mundur. Dia justru semakin bersemangat.
Dia beberapa kali menaklukkan labirin, jadi dia sudah mengerti apa bahaya yang akan menantinya. Hanya saja, dia tak menyangka labirin di negeri elf adalah salah satu yang paling berbahaya.
Hari ditentukan pun tiba. Riku sudah bersiap dengan ujian yang akan lakukan, tapi sebelum mulai, tetua Elf, Fea Forestia Barlan menyuruh Silvyie ikut melakukan ujian bersama dengan Riku.
Tentu saja Riku awalnya menentang, tapi Fea menjelaskan kalau cepat atau lambat Silvyie juga akan melakukan ujian mengingat posisinya. Lebih baik bersama dengan Riku daripada melakukannya sendirian.
Riku akhirnya setuju. Jika dia bisa membantu Silvyie, dia akan melakukannya dengan senang hati. Lagipula Silvyie tidaklah lemah.
__ADS_1
Kemudian ujian dimulai. Labirin di negeri elf bernama Desolate. Riku begitu mengerti kenapa diberi nama seperti itu, tapi pernyataan itu terjawab saat memasuki labirin.
Saat masuk, mereka langsung disambut oleh padang luas dan kering tanpa kehidupan. Udara begitu kering hingga membuat Riku sulit bernafas. Semua yang ada di depannya berbanding terbalik dengan hutan Gedbang yang hijau dan penuh kehidupan.
Keduanya melangkah maju. Untuk menyelesaikan ujian, mereka harus mengalahkan bos monster yang berada di lantai paling bawah labirin. Tapi lantai paling atas saja sudah seluas ini, akan memakan banyak waktu untuk melakukannya.
Dan bukan itu saja yang mereka kawatir kan, monster akhirnya muncul.
Monster yang pertama kali muncul berbentuk kelinci dengan gigi taring yang panjang menyerupai belati. Seluruh tubuhnya berwarna hitam dengan aura berbahaya. Bahkan Riku yang seringkali berhadapan dengan monster baru pertama kali merasakan tekanan seperti itu.
Tapi bukan itu saja yang membuat Riku terkejut, saat dia menebas kelinci itu, dia merasa seperti menebas besi. Bahkan dampak yang dia berikan begitu dangkal.
Butuh waktu untuk mengalahkan satu ekor kelinci. Jika orang mengetahui hal ini, Riku akan malu setengah mati.
Di saat itulah dia sadar. Jika monster kelinci saja sudah sesulit ini, butuh berapa lama untuk mengalahkan bos monster? Lalu apakah dia sanggup mengalahkannya dengan kekuatannya yang sekarang?
Dan yang terpenting, apakah itu monster biasa?
Silvyie memberitahu kalau di labirin itu monster yang ada di sana disebut dengan Chaos Beast. Monster yang tercipta dari miasma yang hanya menginginkan kehancuran dan membenci kehidupan.
Riku tersentak. Ini baru pertama kalinya dia mengetahui ada makhluk seperti itu di Orladist.
Silvyie kembali menjelaskan kalau keberadaan Chaos Beast dihapuskan dari sejarah karena keberadaannya mengancam kehidupan.
Riku mengerti alasannya , tapi dia tak mengerti bagaimana bisa Chaos Beast tak pernah muncul di dalam kehidupan. Sepertinya ada rahasia besar di balik semua ini.
Kemudian mereka melanjutkan ujian. Selama 3 minggu akhirnya mereka bisa menuju ke lantai selanjutnya. Selama itu pula mereka berhadapan dengan Chaos Beast yang cukup merepotkan.
Di lantai kedua, Chaos Beast yang muncul mulai semakin kuat dan menyerang dengan kelompok. Riku bisa mengalahkan mereka berkat bantuan Silvyie.
Waktu pun berlalu dan keduanya tak tahu berapa lama mereka di labirin.
Selama melakukan ujian, mereka tumbuh semakin kuat. Dan karena mereka tak bisa berbuat seenaknya, mereka hanya bisa bergantung satu sama lain dan saling percaya. Berkat ujian itu, hubungan mereka tak diragukan lagi semakin dekat.
Pertumbuhan Riku yang paling besar adalah pengendalian kekuatan Dragonoid level dua yang semakin sempurna. Jika dulu dia butuh waktu untuk mengaktifkannya, dia bisa melakukannya dalam sekejap sekarang.
Tak hanya Riku, pertumbuhan Silvyie juga tak kalah menakjubkan. Sebagai pengguna spirit art, Silvyie selalu lambat dalam menggunakan sihir, tapi kali ini dia semakin cepat dan kuat. Terutama saat menghadapi Chaos Beast, bisa dibilang dampak yang diberikan oleh serangan Silvyie lebih besar daripada serangan Riku.
Hal ini bukan tanpa sebab. Spirit art sendiri memang tak begitu kuat jika dibandingkan dengan magic art yang biasa digunakan oleh penyihir, tapi sebagai gantinya, spirit art memberikan dampak yang lebih besar pada Chaos Beast. Lebih tepat jika spirit art adalah musuh alami dari Chaos Beast.
Dengan perkembangan Silvyie, ujian berjalan lebih mudah. Mereka menyelesaikan satu per satu lantai dan akhirnya tiba di lantai paling bawah.
Sebuah pintu besar menyambut mereka. Pintu itu seolah sebuah gerbang menuju dunia lain. Di balik pintu itu, musuh terakhir dan paling kuat menyambut mereka. Jika berhasil menang, ujian akan selesai. Tapi jika kalah...
Keduanya tak ingin membayangkan hal yang belum tentu terjadi. Musuh memang semakin kuat, tapi mereka juga tumbuh selama melakukan ujian itu.
Dengan tekad yang sama, mereka akhirnya membuka pintu dan menghadapi musuh terakhir.
Apa yang menyambut mereka adalah sebuah kejutan besar.
Chaos Beast yang berada di ruangan itu berwujud menyerupai manusia dengan tubuh lebih dari 2 meter. Aura membunuh yang kuat dan juga miasma yang begitu kental seolah sosok itu bukan berasal dari dunia ini.
Keduanya sadar. Sosok itu berbeda dengan Chaos Beast yang selama ini mereka kalahkan.
Dan yang lebih membuat mereka terkejut, ternyata sosok itu memiliki kecerdasan. Bahkan bisa berkomunikasi dengan mereka.
Sosok Chaos Beast itu bahkan memiliki sebuah nama, Degan.
Meskipun terkejut dengan sosok Degan, Riku dan Silvyie dengan cepat menenangkan diri. Dari pengalaman pertarungan yang mereka lalui, panik hanya akan membuat mereka dalam masalah.
Pertarungan yang tak terhindar kan akhirnya dimulai.
Riku langsung saja mengaktifkan kekuatan Dragonoid level 2. Sedangkan Silvyie memanggil spirit terkuatnya untuk membantu Riku.
Pertarungan begitu sengit, tapi keduanya sadar. Serangan keduanya sama sekali tak efektif. Dampak yang mereka berikan terlalu kecil dan regenerasi yang dimiliki oleh Degan begitu cepat. Lalu serangan Degan juga mematikan.
Jika seperti ini terus, jangankan menyelesaikan ujian, mereka akan mati jika terus berlanjut.
Riku akhirnya membuat keputusan. Dia tak ingin menggunakan kekuatan yang tak bisa dia kendalikan, tapi tak ada pilihan lain.
Dragonoid level 3.
Setelah mengaktifkan kekuatan itu, Riku semakin kuat. Serangannya juga efektif dan memberikan dampak pada Degan.
Tetapi meskipun jalan pertarungan sudah membaik, tapi Riku sadar waktu yang dia miliki terbatas. Jika dalam waktu 3 menit dia tak mengalahkan Degan, dia harus menggunakan kekuatan Dragonoid level 3 lebih lama dan itu artinya membiarkan kekuatan itu mengambil alih tubuhnya.
Sebuah sosok yang bertarung hanya mengandalkan insting tak lebih dari sebuah binatang buas.
Tapi tampaknya Riku harus menjadi binatang buas untuk menang dan bertahan hidup dari situasi ini.
Pertarungan antara Riku dan Degan berlangsung lebih dari satu jam. Kedua pihak melakukan serangan mematikan dengan tujuan untuk membunuh lawan masing masing. Pertarungan mereka lebih tepat jika disebut sebagai pertarungan antara dua monster daripada pertarungan yang dilakukan oleh manusia.
Sementara itu Silvyie tak bisa berbuat banyak dan hanya bisa melihat pertarungan dari jauh. Meskipun dia memiliki kekuatan setara dengan peringkat Master, pertarungan antara Riku dan Degan berada di level yang berbeda.
Yang bisa dia lakukan adalah bersiap jika keadaan memburuk.
Syukurlah, hal buruk itu tak terjadi. Riku akhirnya mulai unggul dan berhasil mengalahkan Degan.
Silvyie senang karena pertarungan sudah selesai. Meskipun jalan ujian sedikit melenceng dari seharusnya, itu lebih baik daripada jatuh korban.
Tapi di saat itulah terjadi sesuatu yang aneh pada Riku. Normalnya setelah pertarungan besar yang memakan tenaga, Riku akan kembali seperti biasa, tapi saat ini wujud Riku masih saat menggunakan kekuatan Dragonoid.
Dan yang paling mengejutkan Silvyie adalah bagian bawah Riku yang seharusnya tertidur pulas kini bangkit seperti pedang suci yang siap menghunus kejahatan.
Di saat itu Silvyie sadar. Riku saat ini tak lebih dari seekor binatang buas. Ada tiga insting dasar yang dimiliki binatang buas. Pertama, bertahan hidup. Dua, makan dan yang ketiga, berkembang biak.
Sebagai satu satunya wanita yang ada di tempat itu, apa yang terjadi selanjutnya bisa ditebak.
Setelah tiga hari tiga malam, akhirnya Riku kembali sadar dan kembali ke wujudnya yang normal. Di saat yang sama dia akhirnya melihat apa yang sudah dia perbuat pada Silvyie.
Dia berhasil menyelesaikan ujian, tapi dia juga melakukan kesalahan terbesar yang kedua dalam hidupnya setelah hampir membunuh Lunaris.
¬¬¬
Setelah mendengar cerita di balik hubungan Riku dan Silvyie, Lunaris mendesak dalam.
"Aku akan memanggil ibu dan setelah itu membunuhmu 100 kali."
"Aku sudah mati sebanyak 2000 kali karena kesalahan itu dan sekarang kau ingin menambahnya?"
"..."
Jika orang lain mendengar bantahan Riku, mereka pasti menganggap Riku bercanda. Tapi Lunaris dan Silvyie tahu kalau Riku mengatakan kebenarannya.
Nyonya besar di keluarga Kagami adalah seorang penyihir yang mampu menggunakan sihir waktu. Mengembalikan Riku dari kematian suatu yang mudah.
Catatan tambahan, hukuman terberat di keluarga Kagami bukanlah dibunuh sampai ribuan kali.
__ADS_1