Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Battle at Phoenix City I


__ADS_3

Langit merah mengancam menerangi ibukota Phoenix. Kota yang mulanya ramai kini terlihat bagaikan sebuah kota mati.


Di beberapa tempat terlihat sosok Imperial Knight yang sedang mengamati sosok yang muncul di tengah kota.


Seorang gadis dengan aura suci berserta pedang yang tak bisa disamakan dengan magic arm milik Paladin manapun di dunia ini.


Saat melihat sosoknya, gadis itu bagaikan seorang malaikat yang turun dari surga. Kecantikannya, wibawanya, keanggunannya, karisma dan kesucian yang terpancar darinya membuat semua orang yang melihat dia akan langsung menyembahnya.


Tetapi ada alasan lain kenapa dia pantas disembah.


Gadis itu dulu dikenal sebagai seorang pahlawan penyelamat dunia. Itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk memujanya. Bahkan raja di seluruh dunia akan takluk dan berlutut padanya.


Sayangnya, semua itu hanya masa lalu. Saat ini, sang pahlawan telah bangkit kembali sebagai musuh.


Pahlawan atau bukan, jika seorang musuh mencoba merusak kedamaian negeri ini, maka tak ada keraguan untuk menghabisinya. Bahkan meskipun itu adalah pendiri negeri itu sendiri.


"Semua Imperial Knight mulai menyerang. Kita sudah mendapatkan perintah langsung dari yang mulia kaisar."


Tak ada keraguan dari setiap Imperial Knight. Bagi mereka ini adalah sebuah penebus kesalahan yang mereka lakukan saat gagal menghentikan Itsuki.


Puluhan Imperial Knight terbagi menjadi 8 tim dengan keahlian yang berbeda. Ada yang ahli menyerang jarak jauh, ada juga jarak pendek.


"Pertama kita harus menghabisi keparat itu. Ini kesempatan yang tak boleh disia siakan karena dia terluka parah."


Sosok pemuda dengan pelindung bersimbah darah tersungkur di dekat malaikat. Tak ada yang tahu bagaimana bisa pemuda itu terluka parah, tetapi yang terpenting kenapa pemuda itu masih hidup dengan luka seperti itu?


"Kami mengerti. Tetapi menyerang jarak dekat terlalu beresiko. Kami akan mencobanya dengan serangan jarak jauh. Ini kesempatan yang bagus untuk mencoba 'mainan' itu."


"Aku baru tahu 'itu' sudah selesai. Baiklah. Kami akan mempersiapkan serangan lain untuk berjaga jaga jika gagal."


Tak ada kata 'pasti' dalam pertempuran. Karena itulah Imperial Knight selalu menyiapkan rencana cadangan jika hal yang tak diinginkan terjadi. Ini suatu yang normal dalam pertempuran, tetapi bukan berarti mudah dilaksanakan.


Di jarak sekitar 500 meter dari malaikat, sebuah menara berdiri dengan kokoh. Di salah satu ruangan kosong, suara metalik terdengar bagaikan suara musik.


Sumber suara itu adalah senjata raksasa laras panjang menyerupai sniper. Tetapi yang membedakannya adalah selongsong dan sumber energi yang digunakan untuk menembak.


Super Railgun tipe T32. Salah satu senjata yang diciptakan untuk menghadapi musuh yang bisa menggunakan kekuatan anti sihir. Senjata itu diciptakan bukan untuk menghadapi penyihir tingkat paladin, namun penyihir tingkat lebih rendah akan hancur seketika.


Salah satu Imperial Knight menjadi penembak. Dia dalam posisi siap menarik pelatuk setelah posisi musuh terkunci.


"Pengisian energi selesai. Memasukkan peluru adamantite, mengunci sasaran, ...selesai. Kami siap untuk menembak."


"Semuanya bersiap! Tembaaak!!"


Tanpa ragu, Imperial Knight menekan pelatuk. Raungan keras bagai binatang buas menggema hingga bangunan bergetar.


Super Railgun ditembakkan dengan kecepatan melebihi suara ke arah Itsuki yang tak berdaya. Bangunan yang berada di jalur peluru musnah tanpa sisa. Apa yang terjadi jika terkena tubuh manusia?


Meskipun menggunakan pelindung Cursed Gear, Itsuki pasti tak akan selamat tanpa luka.


Tetapi apakah itu sebuah keberuntungan atau bukan, tiba tiba peluru railgun terbelah menjadi puluhan bagian tanpa ada yang menyentuhnya.


Semua tercengang dengan apa yang baru saja terjadi. Tetapi satu hal yang pasti, mereka telah gagal.


"Ganti rencana B. Kita tak tahu apa yang terjadi, tetapi kita tak boleh menyia nyiakan kesempatan. Grub C cepat bunuh dia."


Di sekitar Itsuki tiba tiba muncul 5 orang Imperial Knight dengan pedang di tangan mereka. Tatapan yang haus darah bersamaan dengan tekad kuat untuk melindungi negara, mereka akan membunuh Itsuki dari jarak dekat.


"Mati kau!!"


Itsuki masih tak bergerak, tetapi sekali lagi kejadian tak terduga terjadi. Tubuh kelima Imperial Knight terpotong menjadi potongan daging tanpa sempat merasakan sakit.


"A-apa yang sebenarnya terjadi...?"


Pasukan terkuat, Imperial Knight tak bisa berbuat apa apa untuk mencegah pembantaian teman mereka.


Musuh sudah tak berdaya, seharusnya mereka dengan mudah membunuhnya. Jika musuh melakukan sesuatu, mereka seharusnya bisa bertahan, tetapi mereka tak diberi kesempatan untuk melakukannya.


Hanya ada satu kemungkinan. Tetapi itu adalah kemungkinan terburuk.


"Sial! Sepertinya dia sudah berada dalam pengaruh kendali musuh. Kalau seperti ini, kita tak memiliki pilihan lain selain bertarung. Semua Imperial Knight mundur. Kalian bukanlah tandingannya."


Di salah satu atap bangunan, seorang gadis berambut merah muda dengan pakaian berwarna serba pink yang serasi dengan rambutnya tersenyum lebar. Rambutnya terurai oleh angin yang berhembus menambah pesonanya.


Tetapi yang paling menarik dari dia adalah percikan kilat yang menyambar bagaikan sebuah petir kecil.


"Kami mengerti. Kami serahkan pada Anda."


Setelah mengkonfirmasi Imperial Knight menjauh, Electra mulai bersiap. Tentu dia tak sendirian.


Sebuah sosok tak jauh darinya mendekat.


"Maaf, kau baru saja sampai di sini. Tetapi aku tak membiarkanmu beristirahat."


Seorang pria tua dengan badan besar dan berotot. Dia merupakan seorang jendral, tidak, lebih tepat jika mantan jendral. Dalam masa jayanya, dia pernah dipanggil pengguna elemen besi terkuat. Tetapi saat ini dia hanyalah seorang pandai besi terkenal.


Meskipun hanya tukang besi, namun bukan berarti dia tak bisa bertarung.


"Tidak apa apa, nyonya Electra. Justru selama seminggu ini sudah bersiap jika saat ini tiba. Aku bahkan sudah menyiapkan senjata khusus."


Dengan suara logam berbenturan, Irho membenturkan dua gauntlet berwarna emas yang dia pakai. Dari luar saja sudah terlihat kalau gauntlet itu bukan terbuat dari logam biasa.


"Sepertinya kau sudah menyiapkan senjata yang bagus untukku."


Electra tersenyum lebar.


Lalu ruang terbelah dan sebuah pedang emas jatuh tepat ke tangan Electra.


"Seperti biasa, sihir milikmu selalu membuatku terkesan, Irho. Bagaimana kalau kau kembali ke militer?"


"Aku hargai tawaranmu, nyonya Electra, tetapi seperti yang kau tahu sendiri. Aku memiliki alasan tersendiri kenapa keluar dari militer."


"Haha.. Kau pasti sadar percuma saja menghindari takdir yang sudah tertulis. Bahkan saat ini putrimu sudah mulai membangkitkan kekuatan Miko, tidak kekuatan Queen miliknya, aku salah?"


Irho terdiam. Sementara itu Electra masih tak berhenti tersenyum.


"Entah mengapa kali ini jumlah Queen terlalu banyak. Sebagai mantan Queen aku tahu seberapa penting kemunculan mereka di negeri ini, tetapi aku hanya berharap ini bukanlah pertanda buruk."


Disaat yang sama, Itsuki mulai bangkit. Meskipun dia memuntahkan darah hitam kental yang menjadi tanda dia terluka parah, namun dia akhirnya bisa berdiri tegak.


"Ma.. Kurasa ini bukan waktunya mengobrol. Lawan kita adalah paladin terkuat dalam sejarah. Apa kau yakin kita bisa menang?"


Ruang kembali retak, kali ini muncul kapak kembar berwarna emas muncul dan ditangkap Irho.


"...kita harus menang."


"Itu baru semangat."


Atmosfer begitu berat terasa di udara. Tak ada yang tahu bagaimana alur pertarungan. Bagaimanapun juga pertarungan antara dua paladin adalah pertarungan antara dua senjata nuklir.


💠💠💠


"Bagaimana situasi di sini? Tak ada masalah kan?"


Arthuria bertanya dengan nada khawatir.


Saat tiba Arthuria terluka cukup serius. Tetapi karena dia bisa memulihkan dirinya sendiri, tak butuh waktu lama hingga pulih seperti semula. Hanya saja sebagai gantinya, mana miliknya berkurang cukup banyak.


Meskipun bukan tandingan Arthuria, namun monster Hydra pengguna Darkness Art merupakan lawan yang tangguh. Arthuria butuh waktu lama menemukan cara yang tepat untuk mengalahkannya. Kemudian dia bergabung dengan Laila. Tetapi saat tiba yang dia lihat adalah pemandangan saat Yui bekerja keras menyembuhkan luka Kuro. Wajar saja jika dia khawatir.


"Seperti yang kakak lihat sendiri. Situasi sangat buruk. Kuro terluka parah dan pingsan. Meskipun Yui sudah menyembuhkan lukanya, tetapi kita tak tahu kapan dia akan bangun."


"Begitu rupanya."


Dalam hatinya yang terdalam, dia bersyukur hanya Kuro yang terluka.


Laila hanya bisa melihat tubuh Kuro yang tergeletak di lantai. Meskipun saat ini dia terlihat tertidur pulas, namun saat mengingat Kuro terluka parah karena menggunakan Darkness Art, dia merasa masih belum mengalami sebuah kemajuan.


Dia memang menjadi kuat, namun percuma saja jika tak bisa mencegah tragedi di depannya.


"Kuro.."


Dengan wajah sedih, Laila memegang kedua tangan Kuro yang mulai dingin.

__ADS_1


Melihat ekspresi yang ditunjukkan Laila, Arthuria sadar kalau Laila benar benar mencintai Kuro dari lubuk yang terdalam. Sebagai kakak yang baru saja tiba tentu dia merasa khawatir dengan calon adik iparnya.


Saat melihat Kuro pertama kali, kesan dia tentang Kuro adalah pemuda yang kurang ajar. Tetapi perlahan dia mengerti kalau dibalik sifat kurang ajarnya, Kuro merupakan orang yang sangat peduli dengan orang yang dia sayangi.


Sayangnya itu belum cukup untuk membuat Arthuria menerima Kuro.


"Darkness Art huh.."


"Ada apa? Aku mengerti kalau kau terkejut dengan Kuro yang bisa menggunakan Darkness Art. Aku juga, tetapi dia tetaplah Kuro, bukan Demon King."


"Aku tahu itu, Laila. Aku akui memang terkejut saat melihat dia bisa menggunakan kekuatan mengerikan itu, tetapi yang menjadi masalah adalah kenapa dia menggunakan kekuatan itu hanya untuk menghabisi muridnya? Meskipun aku baru mengenalnya, tetapi aku paham kalau dia memiliki kekuatan yang lebih dari cukup untuk melakukannya."


Perkataan Arthuria menyadarkan Laila. Kuro seharusnya bisa mengalahkan Itsuki tanpa menggunakan kemampuan yang begitu beresiko.


"...Itu karena kak Kuro tak mempunyai pilihan."


Yui yang berada di dekat Kuro menjawab. Sama seperti Laila, Yui menunjukkan ekspresi yang begitu sedih dan khawatir. Karena itulah dia saat ini terus berjaga jaga jika keadaan Kuro memburuk.


Untuk menyembuhkan luka tusukan Kuro, Yui menghabiskan sebagian besar mana miliknya, tetapi semua itu sepadan. Keadaan Kuro sudah stabil, tetapi bukan berarti Kuro lebih baik.


"Apa maksudmu? Tunggu. Yui, apa yang kau ketahui tentang kekuatan yang disembunyikan Kuro?"


Yui berhenti. Keraguan ditunjukkan oleh matanya.


"Ini bukan pertama kalinya aku melihat kak Kuro menggunakan Darkness Art."


"!?"


"Kak Laila pasti pernah mendengar kalau kak Kuro pernah bertarung melawan nenek Electra. Disaat itulah dia menggunakan kekuatan terkutuk itu. Jika diingat ingat, situasi saat dia menggunakannya sama seperti sekarang."


"Apakah itu ada hubungannya dengan penampilannya yang mirip Demon King?" tanya Arthuria.


"Entahlah. Tetapi setelah bertarung dengan 200 Knight, kak Kuro berubah menjadi sosok yang kita lihat saat ini. Tiga hari kemudian, Electra datang untuk membunuh kak Kuro, disaat itulah..."


Semua mengerti apa yang akan Yui katakan selanjutnya.


Penampilan Kuro yang mirip dengan Demon King bukanlah karena dia habis berlatih dengan keras, namun setelah terluka parah oleh suatu sebab.


Entah apakah itu perbuatan yang disengaja Kuro agar bisa menggunakan kekuatan Darkness Art, atau karena Kuro habis berlatih terlalu keras. Tak ada yang tahu jawaban pasti.


Tiba tiba Arthuria mendesah berat.


"Dengan kata lain, Darkness Art bukanlah kekuatan yang bisa digunakan kapan saja kah... Itu membuatku lega."


Mendengar itu, Laila mencengkeram kerah baju Arthuria.


"Kakak, apa maksudmu dengan mengatakan itu?"


Tatapan yang penuh amarah ditunjukan Laila. Ini bukan pertama kalinya Arthuria melihat tatapan itu, tetapi dia lebih terkejut alasan kenapa Laila marah.


"Tenang. Aku tak bermaksud buruk. Justru mengetahui kekuatan itu bukanlah kekuatan yang bisa aktif kapanpun dia mau, justru akan membuat hubungan kalian lebih mudah."


Perlahan Laila melemahkan cengkramannya.


"Kau ingat monster yang aku lawan sebelumnya kan? Monster itu juga menggunakan Darkness Art. Kau pikir kenapa hal itu bisa terjadi?"


Sama seperti Kuro, monster ular yang dilawan Arthuria mengeluarkan aura hitam yang mencekam. Itu sungguh tak normal jika mengingat hanya Kuro saja yang seharusnya bisa menggunakan kekuatan seperti itu.


Lalu hal yang sama juga terjadi pada monster yang Laila lawan. Tak hanya bisa menggunakan Darkness Art, namun juga bisa mengendalikannya.


Menyadari maksud Arthuria, Laila akhirnya menyerah.


"Benar. Aku merasa normal jika kekasihmu bisa menggunakan Darkness Art meskipun butuh syarat yang berbahaya untuk menggunakannya, tetapi orang lain dengan mudahnya bisa menggunakan Darkness Art sangat mengganggu pikiranku."


Mereka bertiga terdiam karena menyadari pentingnya penemuan mereka kali ini. Sejarah yang mengatakan Demon King adalah sebuah bentuk kejahatan dan kegelapan akan terlupakan oleh hal yang lebih buruk.


"Ha.. Baiklah. Yang terpenting kita semua tahu tak boleh memberi tahu orang lain tentang lawan yang kita hadapi. Jika orang awam tahu, dunia akan kacau."


(Yang menjadi masalah bukan itu saja. Ini membuktikan kalau lawan memiliki pengetahuan dan informasi yang lebih lanjut daripada kami.)


Arthuria tak memiliki bukti, namun apa yang mereka lawan sudah menjadi bukti yang cukup kuat.


Laila dan Yui mengangguk tanda mengerti.


"Sekarang sebaiknya kita fokus dengan tindakan apa yang akan kita lakukan sel-"


Teriakan tiba tiba terdengar. Meskipun dari seorang pria, entah mengapa seperti seorang wanita.


Mereka lalu menoleh ke sumber suara.


Kemudian mereka tak punya pilihan selain melebarkan matanya. Mereka menemukan kelompok yang dikejar oleh boneka menyeramkan.


"Knox, cepat habisi boneka menyeramkan itu!!"


"Apa kau ingin aku mati? Kau yang memakai pelindung lengkap di sini. Sebaiknya cepat maju dan berkorban untuk kami!"


Aldest dan Amira berlari tanpa banyak bicara. Aldest tak ingin lidahnya tergigit, sedangkan Amira memang tak pandai berkata kata.


Mereka berempat tak punya pilihan berlari dan terus berlari. Bukan karena mereka tak cukup kuat untuk mengalahkan musuh, tetapi musuh mereka terlalu menakutkan untuk mereka lawan.


Puluhan, tidak, ratusan boneka menyeramkan mengejar mereka dengan tawa yang mampu membuatmu bermimpi buruk. Darah dan pakaian compang camping menambah kesan menyeramkan boneka itu.


Tetapi bukan itu saja masalah mereka.


Knox berhenti dan menyerang dengan tombak tanah. Puluhan boneka hancur, tetapi mereka bangkit kembali dan mulai mengejar lagi.


"Berapa kali pun mencoba menyerang mereka, semuanya percuma. Apa ada ide bagaimana cara membunuh mereka? Hm?"


Knox akhirnya menyadari keberadaan Arthuria dan lainnya. Langsung saja dia berlari ke tempat mereka.


"Bukankah itu seharusnya menjadi tugasmu untuk memikirkan ide?"


"Diam kau siscon. Saat ini aku sedang melakukannya."


Tak butuh waktu lama hingga mereka tiba di tempat Laila dan lainnya. Dengan bantuan Laila dan lainnya Knox berpikir bisa menghancurkan boneka menyeramkan, tetapi ada hal yang tak dia perkirakan.


"Scarflare "


Puluhan Scarflare muncul di udara. Kemudian semua Scarflare terpecah menjadi puluhan Scarflare berukuran kecil. Ratusan Scarflare di udara bagaikan sebuah bintang.


""


Tanpa melihat, Laila memerintahkan Scarflare menyerang. Tentu juga ke arah Knox dan lainnya.


"He-hey.. Jangan bercanda."


Satu persatu Scarflare mini melewati tubuh keempatnya. Semua Scarflare itu menghancurkan setiap boneka tanpa sisa. Kemudian suara teriakan terdengar seperti seorang yang tersiksa.


Sadar boneka berhenti mengejar mereka, atau lebih tepatnya sudah dimusnahkan, Knox dan lainnya berhenti berlari. Mereka terengah-engah dan langsung tersungkur ke lantai.


"Fuuh.. Akhirnya berhenti juga. Terima kasih sudah menolong kami."


"Kau memang yang terbaik."


Tak ada respon dari Laila. Apa yang dia lakukan seolah hal yang biasa saja.


Kemudian Knox dan lainnya sadar kalau ada suatu yang tak biasa terjadi. Kuro tertidur di lantai seperti mayat. Laila dan Yui memasang wajah sedih dan cemas.


Merekapun akhirnya mengerti apa yang terjadi.


"Mungkinkah kami datang disaat yang tak tepat?"


Masih tak ada respon. Tetapi Arthuria mendekati mereka.


"Jadi kalian yang mengikuti kami?"


"Begitulah. Jangan salah paham terlebih dahulu kalau kami ingin melakukan semua ini."


"Jadi kalian terpaksa kah."


"Begitulah. Tapi mungkinkah anda tuan Arthuria?"


Mata Knox berubah menjadi mata seorang penggemar idol.

__ADS_1


"Ya. Itu aku. Apa ada masalah?"


"Tidak. Hanya saja aku mengagumi orang seperti dirimu. Aku dengar kau adalah salah satu orang yang beruntung bisa masuk ke Alfheim. Jujur saja aku sangat penasaran bagaimana kau mendapatkan izin. Kau tahu maksudku kan?"


Negeri elf, Alfheim merupakan satu satunya tempat elf tinggal. Tempat itu melarang manusia untuk masuk, karena itulah tak begitu banyak yang tahu bagaimana mereka hidup dan budaya mereka.


Saat ini yang manusia ketahui hanya beberapa hal seperti mereka berumur panjang dan hidup dengan alam.


Menurut legenda, dulu elf tinggal berdampingan dengan manusia, tetapi tak ada yang tahu kapan mereka mulai melarang manusia untuk masuk wilayah mereka.


Selain itu mereka dikenal memiliki tingkat mana yang lebih besar daripada manusia, karena itulah tak ada yang mencoba mengusik kehidupan elf.


Tetapi meskipun dilarang, kadang dalam beberapa tahun sekali elf akan memperbolehkan manusia masuk ke tempat mereka.


Arthuria adalah salah satu orang yang beruntung itu.


"Maaf, Err.."


"Namaku Knox Afdoll. Teman sekelas adikmu, maksudku Laila. Dia Jinn, Amira, dan Aldest. Jinn juga teman sekelas. Sedangan Amira seorang Illegal Knight. Dia di sini karena ingin menemukan temannya yang diculik musuh."


Arthuria tersenyum. Itu adalah senyuman orang tampan. Knox biasanya akan mengutuk orang seperti Arthuria, tetapi saat ini dia tak peduli dengan kenyataan itu.


"Salam kenal, Knox, semuanya. Senang berkenalan dengan kalian. Tetapi teman sekelas kah, aku tak menyangka banyak yang peduli dengan adikku tercinta."


Normalnya Laila akan membantah, tetapi Laila tak peduli dengan Arthuria saat ini.


Lalu Arthuria melanjutkan.


"Mengenai pertanyaanmu, Knox. Aku tahu kau penasaran, tetapi maaf, saat kami masuk ke Alfheim, kami berjanji untuk merahasiakan semua apa yang kami lihat dan kami dengar. Perjanjian itu sangat kuat sehingga saat kami melanggarnya, kami akan langsung ketahuan. Dan konsekuensinya sangat buruk. Tetapi sebagai gantinya kami diperbolehkan mendapatkan semua yang kami butuhkan di Alfheim. Contohnya orang yang berbaring itu, aku tahu kalau dia mendapatkan hal yang sangat spesial."


Knox dan Jinn langsung melirik ke arah Kuro. Dalam kondisi normal keduanya akan langsung mengintrogasi, tetapi mereka mengurungkan niatnya.


Keduanya sadar bukan saatnya untuk melakukan hal yang tak perlu.


"Aku tahu dia pernah berkeliling dunia, tetapi aku tak menyangka dia masuk ke Alfheim."


"Aku sangat penasaran dengan wujud elf. Sial. Aku sangat iri."


"Sebaiknya kalian hentikan imajinasi liar kalian sebelum terlalu jauh." potong Aldest tiba tiba. "Kalian sepertinya lupa saat ini kita sedang dalam sebuah pertarungan. Jika ingin membahas hal seperti itu, kalian bisa melakukannya nanti."


"Aldest, lama tak bertemu."


"Lama tak bertemu, Art. Aku senang kau sehat sehat saja. Ops.. Sepertinya aku ikut terbawa suasana. Sebaiknya kita mulai berdiskusi langkah apa yang kita lakukan selanjutnya."


Aldest melirik Kuro.


"Satu hal yang pasti Witch Reaper saat ini tak bisa bergerak. Dia tak terluka parah kan?"


"Dia tertusuk pedang dan luka dalam lainnya. Gadis loli itu sudah menyembuhkan sebagian besar lukanya, tetapi kita tak tahu sampai kapan dia akan seperti itu."


"Kita tak bisa terlalu berharap kah... Lalu bagaimana dengan status musuh yang kalian lawan?"


"Tinggal musuh terakhir. Sebelum Kuro membunuhnya, dia melarikan diri. Sepertinya musuh tahu tak akan bisa mengalahkan Kuro, jadi dia sudah mempersiapkan cara kabur."


Aldest mengangguk.


"Musuh yang kami hadapi sudah dihabisi oleh adikmu, jadi kita tak perlu khawatir tentang musuh yang tersisa. Tetapi karena musuh lolos, dan melihat tempat ini, sepertinya ritual sudah dimulai, tidak, telah selesai kah."


Meskipun terlihat masuk ke dunia mereka berdua, namun mereka melihat ke sekitar mereka dengan baik. Pohon kristal yang mulanya berdiri kokoh kini menghilang tanpa jejak. Lalu tekanan mana yang begitu besar kini terpancar dari atas mereka semua, dengan kata lain musuh sudah sukses melaksanakan ritual pembangkitan.


"Sepertinya mereka membangkitkan musuh yang merepotkan. Apakah Aldest menerima kabar dari atas?"


Mereka bisa saja melompat ke atas menuju permukaan, tetapi itu pilihan yang beresiko. Jika musuh sudah bangkit, dengan kata lain pihak pemerintah sudah bersiap melakukan serangan balasan. Mereka bisa terkena serangan itu. Tentu juga serangan dari musuh.


"Tidak sama sekali. Sebaiknya kita memilih jalur lain jika ingin keluar dari tempat ini."


"Maaf mengganggu diskusi kalian, tetapi bagaimana dengan Kuro?"


Knox mengangkat tangannya. Perhatian kini tertuju padanya.


"Seperti yang kau lihat, kita hanya bisa menunggu Kuro bangkit kembali. Entah apakah dia bisa melanjutkan pertarungan ini atau tidak, itu terserah takdir. Yang terpenting saat ini adalah kita harus melakukan apa yang kita bisa lakukan. Bertarung bukan hanya satu pilihan."


"..."


Knox tak bisa membantah.


"Tetapi sebelum itu,"


Arthuria melirik Amira.


"Kau bilang gadis itu sedang mencari temannya. Bagaimana kalau kau dan temanmu membantu gadis itu saja?"


"Ke-kenapa aku-"


Jinn protes, tetapi Arthuria tak memberikan kesempatan.


"Dengar, siapapun yang dibangkitkan musuh, itu bukanlah musuh yang bisa kalian lawan. Saat ini bukan saatnya untuk menjadi pahlawan kesiangan. Berbeda dengan kalian, aku atau Aldest mungkin bisa melakukan sesuatu dalam pertempuran kali ini, jadi aku akan menuju ke atas dan bertarung."


Meskipun terdengar sombong, namun itulah kenyataannya. Saat ini level mereka tak bisa sebanding dengan Arthuria. Jika mereka ikut pertempuran, mereka akan mati.


Jinn dan Knox paham pertempuran kali ini sangat berbeda dengan saat mereka bertarung di Dragonia. Mereka tak bisa berharap keberuntungan terjadi dua kali.


Pada akhirnya mereka menyerah. Arthuria benar, ada hal lain yang bisa mereka lakukan.


"Baiklah kami akan membantu Amira menemukan sahabatnya."


Arthuria tersenyum lalu menoleh ke Aldest.


"Aldest, bisakah aku meminta bantuanmu untuk menjaga Laila? Jika bisa aku ingin kau membantunya membawa Kuro pergi dari tempat ini. Akan gawat jika tempat ini runtuh"


"Aku mengerti."


Sayap api muncul di punggung Arthuria. Dia melayang ke udara dan perlahan mulai terbang ke lubang besar yang menuju ke permukaan.


Tetapi sebelum itu dia berhenti.


"Aku mengandalkan kalian."


"Serahkan pada kami."


"Kenapa kau yang menjawabnya?"


Knox hanya bisa mendesah.


💠💠💠💠


Sementara itu, seorang penonton sedang menikmati pertarungan yang akan segera terjadi sambil makan sebungkus popcorn.


"Aku masih tak mengerti kenapa kita selalu menjadi penonton pertarungan? Ini sangat membosankan."


Seorang gadis berambut pirang sebahu protes. Dengan tingkahnya yang jujur dan lugu, membuat orang berpikir dia gadis yang belum mengenal dunia luar.


"Jika kau ingin bertarung, bukankah kau baru saja menghabisi para petinggi Liberia?"


"Mereka hanya lalat yang berisik. Kau tahu, saat mereka sadar kalau kita mengkhianati mereka, mereka sangat panik. Mereka bahkan sudah mempersiapkan seorang pembunuh untuk membunuhmu. Karena aku tak mau kau terluka, jadi aku membunuh mereka. Itu balasan yang setimpal pada orang yang tak mau berterima kasih."


Meskipun kata katanya kejam, namun dia mengatakannya dengan penuh senyuman dan nada polos. Dia merasa seolah apa yang dia lakukan hal yang biasa saja.


"Yah.. Meskipun di antara mereka ada yang peringkat Master, namun mereka sangat lemah. Aku bahkan bermain main dulu sebelum membunuh mereka. Tapi ngomong ngomong kenapa kau tak menghabisi mereka dari dulu? Mereka hanya orang bodoh yang langsung bersemangat setelah tahu kau bisa membangkitkan Demon King. Apa kau benar benar bisa melakukannya?"


"Tumben sekali kau meragukanku, Rim."


"Hehehe... Aku tak meragukanmu, hanya saja apa benar setelah kau membangkitkannya, apakah dia akan melukaimu atau tidak. Kau tahu, dia itu kan lelaki yang berbahaya."


Alice hanya tersenyum.


"Rim, apa kau tahu? Di duniaku, Demon King yang kalian kenal merupakan seorang yang dikenal sebagai pahlawan penyelamat dunia."


"..."


"Sudahlah, itu hanya masa lalu. Semua itu tak ada hubungannya dengan masa kini. Kita nikmati saja pertarungan ini. Giliran kita pasti akan muncul. Kau harus bersabar."


"Ini membosankan. Aku ingin bertarung!!"

__ADS_1


"Rim, bisakah kau membeli cola di kota terdekat?"


"Siap laksanakan."


__ADS_2