Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Only You


__ADS_3

Kisah ini bermula dari seorang pemuda yang bisa ditemukan di mana saja. Hanya seorang pemuda biasa.


--sayangnya, kisah ini bukanlah tentang orang seperti itu.


Kisah ini adalah tentang seorang pemuda yang sedikit spesial daripada orang orang di sekitarnya. Tentu saja ini bukan berarti dia memiliki kekuatan super.


Pemuda itu terlahir dari sebuah keluarga konglomerat. Selain kaya, dia juga memiliki wajah tampan.


Selain kedua hal itu, pemuda itu memiliki bakat yang mengerikan dalam bidang bisnis dan investasi. Perusahaan keluarganya meningkat pesat karena pengaruh pemuda ini.


Tetapi semua itu tak begitu spesial jika dibandingkan dengan kemampuan miliknya. Sebuah kemampuan untuk mengingat kejadian dalam hidupnya secara sempurna. Kemampuan ini bisa dibilang sebuah kemampuan spesial, tapi bukan kemampuan super.


Kemampuan ini tentu saja memiliki hal baik dan hal buruk. Tetapi tak diragukan lagi semua pencapaiannya hampir semuanya berkat kemampuan itu.


Lalu meskipun dikatakan memiliki semuanya, bagi pemuda itu semuanya tak memiliki arti jika dibandingkan dengan hal yang paling berharga dalam hidupnya.


Sesuatu itu adalah orang yang paling dia cintai.


Bermula dari sebuah pertemuan sederhana dalam sebuah kejadian kecil di pinggir jalan raya, keduanya saling mengenal dan akhirnya saling jatuh cinta.


Hubungan mereka begitu murni dan penuh cinta. Tak aneh jika mereka adalah sebuah tokoh utama dalam kisah dongeng yang memiliki akhir bahagia untuk selamanya.


--sayangnya, kisah keduanya bukanlah sebuah kisah dongeng.


Pada saat kencan rutin yang mereka lakukan, sebuah sosok misterius muncul dan menyerang keduanya. Tak ada yang tahu siapa dan alasan kenapa sosok itu menyerang keduanya.


Satu hal yang pasti, pada saat itulah pemuda itu kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya.


◼️▪️▪️▪️


"Ada masalah?"


"Tidak. Aku hanya mengingat suatu yang buruk."


Kuro masih mengingat jelas pertama kalinya Arisa mati. Tubuhnya masih begitu cantik seolah tanpa luka. Sekilas masih terlihat seperti hidup, tetapi jika jantungnya masih berada di tempatnya.


Keputus asaan yang dia rasakan pada hari itu masih begitu jelas dalam ingatannya. Dia mengutuk dunia dan tuhan yang telah membuat dirinya kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya.


Di saat yang sama dia mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa menyelamatkan orang yang di cintai.


"Dalam hidupmu tak ada yang namanya ingatan baik."


"Apakah itu sebuah sarkasme? Yah.. aku tak bisa menyangkalnya."


Hidup Kuro saat ini begitu bahagia hingga merasa kalau apa yang dia lalui di masa lalu tak ada artinya.


Tetapi semua kebahagiaannya saat ini tak lebih dari sebuah butir pasir di padang gurun jika dibandingkan dengan semua penderitaan yang dia alami.


"....maaf. Kau mengalami banyak hal buruk karena diriku."


"Aku rasa kita sudah membahasnya di pertemuan sebelumnya. Tak ada artinya membahas sesuatu yang berlalu."


"Meskipun begitu, tak akan ada satupun ingatan buruk itu menghilang dari dirimu."


"..."


Kuro hanya tersenyum.


Berkat kemampuan ingatan sempurna miliknya, ingatan buruk yang dia alami memang tak bisa begitu saja hilang. Tidak, lebih tepat jika dia tak bisa menghapus begitu saja ingatan itu.


Sebagai seorang yang telah mencapai puncak kedudukan dewa, memanipulasi ingatan adalah hal yang mudah. Tetapi apakah itu tindakan yang benar?


Menghapus ingatan buruk dan membiarkan kenangan dipenuhi ingatan kebahagiaan. Semua itu tak lebih dari ingatan palsu.


"Jika semua itu hilang, maka usaha kerasku untuk menyelamatkanmu adalah sebuah kebohongan. Kau tahu hal itu lebih dari siapapun. Jangan bahas ini lagi. Aku lebih penasaran bagaimana dengan kehidupanmu selama 10 tahun terakhir."


"Jangan kawatir. Kita memiliki banyak waktu untuk itu."


Arisa mulai bercerita.


Arisa tiba di Orladist sepuluh tahun yang lalu melalui dimensi yang terdistorsi. Lebih tepat jika ditemukan.


Sosok yang menemukan Arisa adalah Yamiris. Salah satu pencipta dan dewa tertinggi Orladist. Dan juga orang tua dari Dragon King.


Pada saat itu alasan kenapa Yamiris menemukan Arisa tak lebih dari sebuah rasa penasaran. Dan alasan yang sama pula membuat Yamiris ingin tahu kenapa sosok manusia biasa seperti Arisa bisa lewat gerbang terdistorsi yang tak biasa itu.


Mengintip ingatan suatu yang mudah bagi Yamiris. Di saat itulah banyak hal ditemukannya. Termasuk tentang takdir mengerikan yang dimiliki oleh Arisa.


Meskipun begitu, takdir yang dimiliki Arisa akhirnya menghilang. Tidak, lebih tepat jika dihancurkan.


Yamiris tahu hanya satu sosok yang bisa menghancurkan takdir seperti itu. Dan begitulah Yamiris tahu hubungan Arisa dengan sang King of Gods, Kuro Kagami.


--semua ini juga bagian dari takdir Arisa tiba di Orladist di waktu seperti ini.


Itulah awal mula dari kisah Arisa menjadi True Quuen of Darkness.


Menjadi Quuen berarti membuat Arisa menjadi setengah dewa. Dia memiliki sebagian kekuatan Yamiris dan juga kekuatan simbol seorang dewa, Authority.


Kekuatan itu begitu luar biasa hingga dia sanggup membelah benua jika dia mau, tapi itu bukan tindakan yang tepat. Lagipula tak ada alasan untuk melakukannya.


Saat turun ke daratan, dia tiba di sebuah desa kecil yang miskin. Kekeringan melanda dan banyak yang mengalami kelaparan karena gagal panen.


Sifat Arisa yang baik hati tentu saja tak ingin tinggal diam membiarkan hal itu. Sedikit demi sedikit dia membantu dengan kekuatannya.


Dia mengalirkan air dari sungai yang jauh dengan membuat irigasi. Berburu monster untuk makanan sementara dan menyembuhkan penyakit ringan yang dialami warga desa.


Tak butuh waktu lama hingga desa itu pulih dan akhirnya menjadi desa yang makmur. Di desa itu dia akhirnya dikenal sebagai dewi penyelamat.


Jika dibandingkan dengan kehidupannya saat di bumi, mungkin ini tak seberapa. Tetapi dia merasakan kalau dia lebih tenang.


--mungkin sebaiknya aku tinggal di tempat ini.


Itu bukan suatu yang buruk pikirnya.


2 tahun berlalu dengan cepat. Dia menjalani kehidupan yang damai tanpa ada masalah berarti di desa itu.


Lalu pada suatu hari yang tenang, dia menemukan sebuah kereta yang diserang oleh monster beruang. Pada saat tiba, Arisa sudah terlambat. Monster itu telah membunuh orang yang berada dalam kereta itu.


Tak ingin jatuh korban lagi, Arisa dengan cepat membunuh beruang itu. Dia kemudian berniat memakamkan para korban.


Di saat itulah dia sadar kalau ada satu yang masih selamat. Seorang anak perempuan.


Itulah awal pertemuannya dengan Rim.


Kondisi Rim saat itu sangat parah. Jika terlambat sedikit saja, dia akan mati. Sebagai Queen of Darkness, Arisa memiliki kekuatan besar dalam sihir penghancuran, tetapi lemah dalam sihir pemulihan. Karena itulah dia hanya bisa memberikan sihir penyembuh seperlunya dan merawat Rim sedikit sedikit.


3 bulan berlalu. Rim telah sembuh dari lukanya, tapi dia belum sembuh dari luka yang tak terlihat. Kadang ada di mana Rim ingin bunuh diri karena tak ingin hidup di mana orang tuanya tak ada.


Arisa berusaha keras untuk menghentikan Rim. Kadang dia bahkan menggunakan sihir pengekangan.


Butuh waktu, tapi akhirnya usaha Arisa membuahkan hasil. Rim akhirnya mulai mengubah pikirannya. Dan hasil dari itu adalah Arisa dan Rim akhirnya menjadi keluarga.


Saat itulah Arisa berpikir.


--inikah rasanya menjadi orang tua?


Dia langsung saja mengingat orang yang dia cintai. Shin Kagami.


-apa yang dia lakukan sekarang?



mungkinkah kau sudah menemukan penggantiku?



Dia tak tahu hal itu. Dan tak mungkin dia mengetahuinya.


Pada saat itupula muncul keinginan di benak Arisa untuk ingin mengenal lebih baik dunia tempat tinggalnya sekarang.


Bersama Rim, akhirnya dia pergi dari desa yang menjadi tempat permulaannya.


◼️▪️▪️


Saat mengenal dunia luar, Arisa merasa kagum. Dia tahu kalau dunia ini bagaikan dunia fantasi dalam kisah dongeng.


Sihir menjadi suatu yang umum di dunia ini. Dan ada pula orang dengan kemampuan khusus yang disebut sebagai penyihir.


Sebagai seorang yang tinggal di dunia tanpa sihir sebelumnya, dunia ini benar benar suatu yang baru.



tidak.



Salah jika berpikir di dunia sebelumnya sihir tak ada.


Pertempuran yang dia alami bersama dengan Shin (Kuro) adalah bukti nyata akan kekuatan itu.


Tetapi ada hal yang paling membuatnya tertarik. Di dunia ini, ternyata ada eksistensi yang disebut sebagai Demon King.


Meskipun sekarang itu hanya menjadi legenda. Tetapi teror dari eksistensi tersebut masih belum menghilang.


Di saat itulah dia merasakan sebuah keakraban dari kisah mengenai Demon King. Pedang putih dan nama Shiroyasha.



apakah ini kebetulan?

__ADS_1



Tidak. Itu tak mungkin.


Nama itu bukanlah suatu yang umum di dunia ini.



jika seperti itu, apa yang sebenarnya terjadi?



Kemudian untuk mengetahui kebenarannya. Dia bertanya pada salah satu orang yang mengetahui hal itu, Yamiris.


Pada hari itulah Arisa mengetahui kebenaran tentang orang yang dia cintai dan juga takdir yang dia miliki.


Seorang yang ditakdirkan menjadi kunci kehancuran dunia.


◼️▪️▪️


"Setelah itu kami melakukan banyak hal di seluruh dunia. Kau pasti tak menyangka kita pernah berada dalam satu kota yang sama."


"Tetapi kau memilih menjauh dariku."


"Aku hanya merasa tak pantas bertemu denganmu saat itu. Tetapi sekarang aku berbeda dengan dulu."


Kuro dan Arisa lalu duduk di sebuah pohon yang tumbang.


"Mungkinkah itu karena kau berhasil menguasai kekuatan seorang Queen secara sepenuhnya?"


"Aku tak mengatakan sudah menguasai kekuatan ini. Hanya saja aku tak menjadi seorang gadis yang dilindungi terus menerus."


"!?"


Kuro membuat ekspresi terkejut yang tak pernah diperlihatkan sebelumnya.


"....Arisa... Kau ...tahu?"


"Tahu tentang seberapa banyak kau mengulangi dunia hanya untuk menyelamatkan satu orang? Atau tentang kisah perjalananmu?"


"..."


Kuro tak bisa berkata apa apa.


Dia sudah menduga kemungkinan Arisa tahu tentang kebenarannya. Tetapi tidak dengan cara seperti ini.


"Karena itulah, kau tak perlu takut lagi. Kali ini giliranku yang akan menyelamatkanmu dari penderitaan yang kau alami. Aku akan mengakhirinya."


Mendengar itu, tak ada reaksi berarti dari Kuro. Sedih atau senang, dia tak tahu apa yang harus dia rasakan.


"...jadi karena itulah kalian menjadikan tempat ini sebagai tempat kuburanku kah..?"


Hidupnya sebagai King yang terakhir akan segera menuju ujung perjalanannya. Kuro merasa tak perlu hidup lebih lama lagi di dunia ini.


"Aku berjanji. Aku akan mengakhirinya dengan tanganku sendiri tanpa campur tangan orang lain."


Mati karena sudah saatnya atau mati dengan tangan orang yang kau cintai?


Jika memilih antara keduanya, tentu saja pilihan Kuro adalah...


"Terima kasih."


◼️▪️▪️▪️


Laila terbangun dari mimpi indahnya.


"...um?"


Dia melihat Fila dan Charlmilia sudah terbangun lebih dulu darinya.


Mereka masih merapikan diri. Fila terlihat begitu tenang, tetapi Charlmilia masih belum sadar sepenuhnya. Mereka hanya sebatas tidur bersama, tapi itu mungkin karena ini adalah pengalaman Charlmilia yang pertama kali.


"Aku ingin Riku akan segera memiliki adik dari kalian berdua, tapi sayang itu tak terjadi kah.. fufuufufu.."


Seperti iblis suci, Laila tersenyum.


"!?"


"!?"


Mendengar itu keduanya langsung saja panik dengan wajah memerah seperti seekor kucing.


Itu tak aneh mengingat rencana besar mereka gagal. Rencana itu membuat mereka seperti gadis murahan, mana mungkin mereka tak malu.


"Ya ampun. Jika kalian seperti ini terus, kalian akan selalu tertinggal. Jangan terus bersikap seperti seorang perawan."


""Kami memang perawan!!!""


Entah mengapa Laila benar benar menjadi seorang iblis. Dan ini menjadi pertanda kalau Laila belum menyerah dengan rencananya untuk membuat harem untuk Kuro.


"Ngomong ngomong, ada yang melihat Kuro?"


Charlmilia dan Fila saling melirik satu sama lain.


"Kami juga belum lama bangun. Kami sama sekali tak melihat Kuro."


"Mungkin dia hanya mencari makanan."


"Hmm..."


Laila melirik ke arah sudut ruang. Di sana ada daging buruan yang belum diolah.


(Ini aneh. Kuro jarang sekali pergi tanpa berpamitan)


Sebelum Laila dan Kuro belum menjadi kekasih, Kuro memang sering menghilang tanpa jejak. Tapi itu tak pernah terjadi lagi sejak keduanya menjalin hubungan cinta.


Kuro lebih memprioritaskan perasaan Laila daripada urusan lainnya. Tak mungkin dia pergi tanpa pamit terlebih dahulu.


"Sebaiknya kita keluar dulu untuk mencari udara segar. Dengan aroma di ruangan ini, aku pikir tak baik terus di sini."


"Y-yeah.. aku setuju dengan itu." Jawab Charlmilia.


Kemudian Fila menuju bagian dinding untuk membuat pintu, tapi tak ada apapun yang terjadi.


"Apa ada yang salah?"


"Aku sama sekali tak bisa memanipulasi ruangan ini."


Charlmilia dan Laila dibuat terkejut.


Sebagai seorang yang membuat ruangan itu, mustahil bagi Fila untuk tak bisa melakukannya.


"Apa ada yang salah dengan ruangan ini?"


"Tidak. Aku sama sekali tak merasakan apapun yang aneh. Kau pasti juga bisa merasakannya dari sihir yang aku berikan."


Charlmilia menggaruk kepalanya dan tiba tiba saja memanggil pedang milik Byakkura. Dia tanpa tanda langsung saja memotong dinding.


Kacin!!! Hasilnya tak sesuai dugaan.


Jangankan goresan, bahkan senjata Charlmilia terpental seolah menebas benda yang tak bisa dipotong.


"Aku tak ingat membuat dinding sekuat ini."


Mereka memang menambahkan sihir penguatan karena tak ingin diganggu, tapi ini terlalu berlebihan.


"Kalian berdua.. Berhentilah bercanda!"


"Jangan salah. Kami sudah serius, Laila."


"Yang aku maksud adalah isi kepala kalian. Jangan main main lagi dan kembali fokus. Jangan lupa kita masih dalam Battle War."


"..."


"..."


Keduanya tak bisa membantah. Keduanya saat ini telalu senang hingga lupa posisi mereka saat ini.


"Maaf. Kau benar. Ini bukan saatnya masih bermimpi."


"Tapi itu tetap saja tak menyelesaikan masalah kenapa dinding ini begitu keras."


Fila menyentuh bagian dinding untuk sekali lagi melakukan analisa. Kali ini dengan sihir yang lebih analisa yang lebih dalam.


Hasilnya suatu yang tak pernah dia bayangkan.


Dinding yang ada di depannya saat ini puluhan kali lebih kuat daripada yang dia ciptakan sebelumnya. Dan tak hanya itu, sihir dalam dinding itu begitu luar biasa hingga sempat membuatnya berpikir jumlah itu mustahil.


Yang menjadi masalah utama adalah, siapa dan untuk apa mereka melakukan ini?


Di saat itulah tiba tiba tekanan sihir Laila meningkat pesat. Scarflare muncul di tangannya dengan api berkobar yang sanggup melehkan besi dengan mudah.


"Laila.. jangan bilang k-"


"Inferno Blaze!!"


Tanpa menunggu, Laila menyerang. Serangan Laila begitu dahsyat hingga membuat ruangan itu bergetar.


Tetapi-

__ADS_1


"...kau pasti bercanda."


Dinding di depan mereka masih utuh tanpa goresan.


"Tsk!!!"


Laila terlihat kesal dan mencoba melakukan serangan lagi. Kali ini lebih kuat daripada sebelumnya.


Lagi dan lagi. Tetapi dinding masih begitu kokoh tanpa goresan.


"Laila, hentikan. Jika kau gegabah, kau hanya membuang energi saja."


Laila sama sekali tak menggubris perkataan Fila dan terus saja menyerang. Dia memanggil 5 Scarflare dan langsung saja menggunakan Re;Break.


Serangan kali ini puluhan kali lebih kuat. Sayangnya, itu masih belum cukup.


"Laila, hentikan!!!"


Tak tahan melihat Laila, Charlmilia akhirnya menghentikan secara paksa. Tentu saja ini sangat beresiko karena Laila menggunakan sihir tingkat tinggi.


"..."


Laila memasang wajah rumit dan akhirnya melepaskan Scarflare.


Dia mengerti kalau tindakannya ini bukan seperti dirinya.


"Kenapa kau seperti ini? Kau menyuruh kami untuk kembali berpikir secara jernih, tapi kau sendiri yang kacau. Ada apa denganmu?"


Laila menunduk dan akhirnya mulai bicara setelah beberapa saat.


"...kalian mengerti kenapa aku ingin kalian mengikat hubungan dengan Kuro?"


"Apa ada alasan lain selain karena kau sudah mengakui usaha kami mencintai Kuro?"


"Itu benar. Tapi itu hanyalah salah satu alasannya."


Laila menatap pintu, tetapi pandangannya melihat ke arah yang jauh.


"Aku selalu bermimpi untuk membuat sebuah keluarga yang bahagia dengan Kuro. Entah saat itu aku hidup sebagai Alice atau sebagai Laila. Semua impian itu tak pernah berubah. Meskipun sekarang terlihat kalau impian itu sudah terwujud, ....tapi di saat yang sama aku merasa kalau aku akan segera terbangun dan semua mimpi ini menghilang."


Fila dan Charlmilia terkejut karena tak pernah menyangka Laila akan memiliki pemikiran seperti itu.


Ini normal. Melihat keluarga Kuro dan Laila yang harmonis dan penuh cinta, mereka bagaikan sebuah karakter dalam dongeng yang akan memiliki akhir bahagia.


"Kuro begitu dekat, tapi di saat yang sama begitu jauh. Apalagi akhir akhir ini, aku merasa jarak kami semakin jauh seolah Kuro akan pergi untuk selamanya. Dan pada saat itulah aku sadar, ...aku adalah orang nomor satu di hatinya, tetapi aku sama sekali tak mengenal dirinya. Kalian berdua, tolong katakan kalau semua ini hanyalah pemikiran yang tak penting!!?"


Keduanya ingin mengatakan 'itu salah', tetapi mereka bungkam.


Cepat atau lambat Kuro akan menghilang. Keduanya berpikir kalau masih memiliki waktu, tapi setelah mendengar langsung dari Laila, mereka sadar.


Tak ada jaminan kalau memenangkan Battle War membuat Kuro akan menghilang. Bisa jadi lebih lambat dari itu, dan juga bisa sebaliknya.


"Fila..?"


Apakah memberitahu Laila atau tidak?


Mungkin ini adalah saat yang paling tepat untuk melakukannya.


"...ya ampun. Aku sekarang mengerti kenapa kami tak bisa pernah menang darimu, Laila. Tak hanya kau memiliki cinta yang lebih besar daripada kami, kau dan Kuro juga memiliki sebuah ikatan yang begitu kuat entah apakah kalian terpisah jarak atau tidak."


Kuro bukannya tak ingin memberitahu Laila tentang fakta kalau dia akan menghilang. Dia tak butuh itu karena Laila pasti akan mengetahuinya.


"Charl, aku rasa kita berdua sudah tahu siapa yang pantas menghentikan Kuro. Tidak, lebih tepat jika bukan Laila, tak ada yang sanggup menghentikannya."


"...aku juga berpikir seperti itu. Dengan kita yang sekarang, itu mustahil."


Keduanya tersenyum begitu senang. Sedangkan Laila bingung karena tak begitu mengerti apa yang keduanya bicarakan.


"Jangan membahas suatu yang sudah jelas. Daripada melakukan itu, sebaiknya pikirkan cara keluar dari tempat ini. Aku harus segera menghajar Kuro. Tidak, aku rasa kita harus menghajar Kuro bersama sama."


Laila kembali terlihat bersemangat. Dirinya yang seperti ini adalah yang terbaik.


"Meskipun kami ingin melakukannya, kami tak bisa."


"Hm?"


"Laila, jujur saja kami sudah mencapai batas. Fila dan aku tak memiliki kekuatan untuk melanjutkan Battle War."


"Tetapi kami bisa mengeluarkanmu dari tempat ini. Karena itulah kau akan segera bisa menghajar Kuro"


"Kalian ini. Sejak tadi.. apa yang kalian bicarakan?"


Charlmilia dan Fila hanya tersenyum.


Tanpa peduli dengan Laila, Fila menyentuh dinding dan memulai sihirnya.


Sihir yang dia gunakan adalah sihir pembongkaran materi. Dinding itu memang diperkuat dan dipadatkan dengan sihir yang luar biasa, tetapi itu tak ada pengaruhnya di hadapan sihir ini.


Yang menjadi halangan Fila saat ini adalah sihir ini membutuhkan pengendalian energi sihir yang rumit dan kompleks.


Dirinya yang dulu akan sulit melakukan sihir pembongkaran pada dinding sekuat ini, tetapi sekarang dia memiliki seorang yang bisa diandalkan.


Atau lebih tepatnya sebuah perwujudan sihir.


(Pandora, aku mengandalkanmu)


Sihir Fila langsung menjadi lebih cepat. Sebagai sosok dirinya yang lain, Pandora membuat Fila seolah memiliki dua otak yang bekerja secara bersamaan.


Tak berapa lama kemudian dinding yang begitu keras tak bisa ditembus akhirnya mulai retak dan perlahan hancur.


Sayangnya, itu tak semudah kelihatannya. Dinding yang hancur mulai beregenerasi kembali dengan kecepatan yang melebihi kekuatan sihir pembongkaran Fila.


Ini sudah dalam prediksi Fila. Jadi dia tak begitu terkejut.


(Orang yang melakukan ini sungguh memiliki kepribadian yang buruk. Tapi dia melakukan satu kesalahan besar)


"Charl!!"


"Serahkan padaku!!"


Charlmilia menyuntikkan energi sihirnya pada Fila. Kemudian sihir Fila menjadi lebih kuat. Dan karena efek sihir Charlmilia, sihir pemulihan pada dinding menjadi lebih lambat.


"Laila, ini kesempatanmu!! Kami akan menahan dinding ini untuk tak terus pulih."


"Kami titipkan rasa kesal kami padamu. Jadi janganlah ragu untuk menghajar Kuro!!"


"Kalian..."


Laila menggertakkan giginya dengan keras. Dia marah dan kesal.


Dia masih belum mengerti kenapa keduanya berbuat sejauh itu, tapi satu hal yang jelas. Jika dia menyia-nyiakan usaha mereka, itu sama saja menghina keduanya.


Karena itulah...


"Aku berjanji akan menampar Kuro demi kalian berdua."


Laila melompat keluar dan pergi tanpa melihat ke arah belakang.


"Ya ampun, kau terlalu memaksakan diri."


"Sama denganmu."


Charlmilia tersenyum saat melihat Laila telah keluar sepenuhnya.


Dia tersungkur dan tak bisa berdiri lagi karena sudah mengerahkan semua energi sihir yang dia miliki.


Kondisi Fila juga tak jauh berbeda. Dia menggunakan dinding sebagai sandaran.


"Aku tak percaya menggunakan kartu andalan kita hanya untuk membuka sebuah pintu."


"Tapi usaha keras kita tak sia sia."


Fila mengangguk.


Teknik menyuntikkan energi sihir pada orang lain termasuk teknik tingkat tinggi. Sejauh ini jumlah energi sihir yang berhasil disalurkan juga hanya separuh sehingga banyak yang mengabaikan teknik ini dan memilih cara lain untuk memulihkan energi sihir.


Dalam Battle War, membawa barang akan dibatasi dan itu membuat penyihir yang kehilangan energi sihir pertama kali akan dirugikan. Inilah alasan utama kenapa Charlmilia dan Fila mempelajari teknik itu.


Banyak kegagalan saat pertama kali mereka mencobanya. Tapi mungkin karena mereka memiliki elemen yang cocok satu sama lain dan keunikan magic beast mereka, keduanya berhasil mempelajari teknik menyalurkan energi sihir dan berhasil memberikan efek tambahan pada teknik itu.


"!?"


Keduanya tiba tiba dikejutkan oleh lingkaran sihir yang memenuhi dinding. Energi sihir mulai membesar sebagai tanda sihir akan aktif.


"Fila, katakan kalau sebenarnya kau bisa saja menghancurkan dinding ini dengan mudah jika kau mau?!"


"...entahlah..."


Meskipun itu bisa, Fila tak melakukannya. Kenapa? Itu karena saat melakukan analisa, Fila menemukan jebakan yang akan aktif jika mereka menghancurkan dinding itu dengan cara tak hati hati.


"Uh.. ini akan menyakitkan."


Charlmilia menutup matanya siap menerima nasibnya terkena jebakan yang sudah dipersiapkan musuh.


Sedangkan Fila tersenyum karena memikirkan hal yang berbeda.


"Ngomong ngomong, aku ingin memiliki 10 anak dari Kuro."


"Wha-!?"

__ADS_1


Hey itu curang. Charlmilia ingin mengatakannya, tapi dia sudah didahului oleh ledakan keras.


Pengumuman tanda Fila dan Charlmilia tersingkir dari Battle War terdengar.


__ADS_2