Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Dragon War VI : Betrayer


__ADS_3

Louis tersenyum tipis seperti orang yang menemukan suatu yang menyenangkan. Tangan dan hampir seluruh tubuhnya terkena cairan merah yang merupakan darah kental. Magic Arm miliknya juga tak terlalu jauh berbeda, masih ada bekas darah mengalir dari logam tipis itu.


Tes. Darah menetes dari lengan Louis.


Diana melebarkan matanya karena terkejut. Apa yang terjadi dan apa yang dilakukan Louis?


"Kakak Louis?"


Dia mendekat dan berusaha untuk melihat lebih dekat. Kekawatiran terpancar dari tatapannya.


Tapi Knox langsung merentangkan tangannya menghadang Diana.


"Tuan Knox?"


"Maaf, tapi kau pasti sudah mendengar dari Charlmilia dan Laila tentang kemungkinan adanya pengkhianat, ..sekarang tampak seperti apa dia di matamu?"


Diana terdiam, dia lalu melirik Louis yang menatap mereka.


Pengkhianat. Mungkin ini sebutan yang cocok untuk Louis saat ini, tapi Diana tak ingin menganggap Louis sebagai penjahat. Dia tidak bisa.


Bagi Diana, Louis adalah kakak yang paling dekat dirinya. Dia membantu Diana berlatih dan sering memberikan saran agar dirinya menjadi lebih baik lagi. Louis juga sering memberikan saran agar dirinya mampu menggunakan kekuatan Shapira dengan maksimal.


Jujur saja, Louis dan Kuro memiliki banyak kemiripan. Mungkin inilah yang menyebabkan dirinya merasa nyaman saat berada di dekat Kuro.


Meskipun Louis kadang tak bisa ditebak, namun Diana tahu Louis bukanlah orang yang akan menjadi pengkhianat.


"Kakak Louis, apa yang terjadi kepadamu?"


"Aku hanya menyingkirkan beberapa serangga kotor. Tapi aku tak menyangka serangga itu cukup sulit dikalahkan." ucap Louis dengan ekspresi dingin.


"Siapa serangga apa yang kau maksud?" tanya Knox.


"Tentu serangga yang harus dimusnahkan."


Mendengar itu, Knox langsung mengambil posisi siap bertarung. Dia merasakan hawa membunuh dari Louis. Dan Diana tampaknya juga merasakan hal yang sama tapi dia masih tak bereaksi.


"Oi.. Oi... kenapa langsung bersiap bertarung seperti itu? Padahal aku belum melakukan apapun kepada kalian. Tapi melihatmu seperti ini tidaklah terlalu buruk. Kupikir kau orang yang membosankan."


"Setelah apa yang kau perbuat terhadap putri Diana, kurasa aku tak punya pilihan lain selain waspada terhadapmu."


Knox menciptakan tombak dari tanah lagi dan menggengamnya. Tombak yang Knox ciptakan sedikit berbeda dengan tombak biasa, yaitu lebih pendek dan memiliki mata tombak yang panjang.


"Apa maksudmu? Aku hanya ingin mengambil buku itu dari tangan Diana secara diam diam. Kupikir ini cara tercepat daripada harus memintanya secara langsung." Louis menoleh ke Diana. "Diana, berikan buku itu. Buku itu berbahaya!!"


Knox dan Diana tak punya pilihan selain melebarkan matanya karena terkejut. Sekarang sudah jelas, Louis adalah pengkhianat.


(Tapi kenapa aku merasakan suatu yang salah disini?)


Knox berpikir karena dia merasakan suatu yang ganjil dari perkataan Louis. Dia tak tahu apakah Louis berkata jujur atau tidak. Seperti yang pernah Knox dengar, Louis adalah orang yang sulit ditebak.


Knox melirik buku yang dipegang Diana. Semua masalah ini terjadi karena keberadaan buku itu, tapi musuh tampaknya tak terlalu berminat merebutnya.


(Apakah mereka menyerahkan tugas ini kepada Louis karena mereka masih belum tahu keberadaan buku itu sampai mereka bertiga menemukannya?)


Terlalu banyak pertanyaan dan misteri dalam masalah ini.


Saat sedang dipusingkan apakah bertarung dengan Louis atau tidak, Knox dikejutkan oleh Diana yang tiba tiba melangkah ke depan.


"Kakak Louis, bolehkah aku bertanya beberapa hal?"


"Apa yang ingin ditanyakan adik manisku ini?"


Diana menyipitkan matanya.


"Kakak Louis, ...siapa yang kau maksud dengan serangga? Apa alasan kau menginginkan buku ini?"


"......"


"Dan terakhir, apa kau pengkhianat?"


Suana menjadi hening. Diana dan Knox menanti jawaban dari Louis.


Louis terdiam seperti memikirkan sesuatu, tapi tiba tiba dia tersenyum tipis.


"Kurasa aku tak perlu menjawab pertanyaanmu. Tapi jika kau ingin tahu serangga yang kumaksud, serangga itu adalah Cross. Kalian tahu, aku tak menyangka dia meledak saat aku menusuknya. Aha aha..."


Diana tak bisa tertawa dan percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Bagi Knox, meskipun belum bertemu dengan Cross, namun dia tahu siapa yang disebutkan Louis. Cross, pangeran ketiga Dragonia dan sekaligus kakak Diana.


"Sekarang, giliranku yang bertanya. Setelah mendengar itu, apa yang kalian pikirkan?"


"Khh"


Sekali lagi hawa membunuh terpancar dari Louis. Tak hanya itu Louis kini sudah bersiap menghunuskan pedangnya.


"Tunjukan taringmu, "


Pedang ular Louis terpotong menjadi beberapa bagian yang tersambung oleh benang tipis terbuat dari mana. Pedang itu bergerak meliuk ke arah mereka berdua seperti ular. Meskipun pedang, namun gerakannya benar benar mirip ular asli.


Knox bersiap menghindar, tapi saat menyadari Diana tak bergerak, Knox langsung bergerak di depan Diana dan menangkis serangan Louis.


Klang! Suara logam berbenturan terdengar. Meskipun tombak Knox terbuat dari tanah, namun dia membuatnya dari elemen terkeras tanah sehingga bisa sekeras besi. Inilah yang menyebabkan tombak Knox tak langsung patah menerima serangan Louis, tapi tombak Knox hampir terpotong.


"Tch!! Putri Diana, aku tahu kau sedang bimbang, tapi ini bukanlah saatnya untuk itu. Jika kau ingin semuanya jelas, kita harus mengalahkan dia dan mencegah dia mendapatkan buku itu ap-"


Saat sedang bicara, Louis menyerang Knox lagi. Kali ini lebih cepat dan mengincar bagian vital Knox. Dengan susah payah, Knox berhasil menangkis semua serangan, tapi dia menerima dampak berupa tombaknya kini bisa hancur kapan saja.


"Siapa yang mengizinkan kalian mengobrol?"


Louis menyerang lagi dan lagi. Knox tak punya pilihan lain selain menangkis semua serangan karena dia tak bisa beregak bebas. Yang mengejutkan, pedang ular Louis seperti menyerang dengan keinginannya sendiri meskipun sejak tadi Louis hanya menggengamnya dan tak bergerak dari tempatnya saat ini.


(Dia kuat.)


Knox sadar Louis ternyata memiliki kekuatan yang tak bisa diremehkan. Meskipun dia mengagumi Louis, jika seperti ini dia bisa mati di tangan orang yang dia kagumi.


Sambil terus bertahan, Knox berkata,


"Putri Diana, jika kau masih percaya kepada Louis, maka kau harus bisa menghentikannya dan mengalahkannya! Mungkin ini adalah kesempatan terakhirmu jika kau ingin melakukannya!"


Krak, crash! Tombak Knox hancur berkeping keping saat menangkis dan mendorong mata pisau dengan kekuatan penuh.


Mata pisau itu terpental ke arah Louis, tapi mata pisau itu berhenti beberapa cm dari tubuhnya seperti ada sebuah elindung tak terlihat di depan Louis.


"Purtri Diana, kau harus membuat keputusan!"


"........"


"Apapun keputusanmu, aku yakin kau tak akan mengambil keputusan yang salah."


Knox menciptakan tombak kembali, tapi kali ini ada perbedaan besar. Debu hitam tiba tiba berterbangan dan berkumpul menjadi sebuah tombak di tangan Knox. Tak hanya warna yang berubah, namun tombak Knox memantulkan cahaya logam.


"Menarik. Aku tak menyangka kau bisa memanipulasi besi. Tampaknya aku akan bisa menikmati pertarungan ini."


Knox meningkatkan kewaspadaannya karena tekanan mana Louis meningkat.


Sebagai penyihir elemen tanah, memanipulasi tanah bebatuan adalah keahlian utama, tapi bukan berarti mereka tak bisa memanipulasi elemen lainnya, yaitu besi. Dan meskipun bisa memanipulasi besi, namun mereka hanya bisa memanipulasi dalam waktu dan jumlah yang terbatas.


Memanipulasi besi juga membutuhkan keahlian khusus atau memiliki bakat, inilah kenapa penyihir elemen tanah yang memanipulasi besi dibilang sedikit.


Keahlian penyihir elemen tanah adalah pertahanan dan kekuatan, tapi hal ini sama sekali tak cocok dengan Knox.


Knox melangkah maju menghadapi Louis dari jarak dekat. Dia mengayunkan tombaknya tepat ke arah Louis yang tak bergerak seolah meremehkan Knox, tapi-


"!?"


Klangg!! Serangan Knox tiba tiba ditahan oleh benda tak terlihat. Tak hanya itu, kekuatannya juga sanggup memukul mundur Knox.


Mengembalikan keseimbangannya, Knox lalu menyerang dari sudut yang berbeda, tapi sekali lagi serangannya ditahan oleh benda tak terihat lagi.


"He... .. he.."


Louis tersenyum saat melihat reaksi Knox yang kebingungan. Louis bahkan tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.


(Apa yang terjadi?)


Sambil terus menyerang, Knox mengamati sekitarnya dengan teliti. Dia tahu Louis tak membuat semacam dinding, tapi dia membuat semacam benda keras yang cukup kuat dan cepat untuk menangkis serangannya.


"?!"


Akhirnya Knox mengetahui rahasia pertahanan Louis. Dia melompat mundur dan menjaga jarak dari Louis.


(Ini buruk. Aku tak menyangka dia mampu melakukan itu..)


Knox kesal. Dia melirik ke segala arah untuk melihat benda yang mungkin akan segera digunakan untuk menyerang.


"Ha... aha.. kau tampaknya sudah tahu rahasia seranganku kah.., yah... kurasa ini wajar."


Louis memegang erat gagang pedang yang kini tak memiliki mata pisau. Ya. Benda yang menangkis serangan Knox adalah mata pisau pedang ular Louis.


"Hati hati, kakak Louis mampu membuat benda di sekelilingnya tak terlihat menggunakan Element Art, datanglah, ."


Tombak merah darah sepanjang dua meter kini muncul di tangan Diana, tapi dia tak memposisikan dirinya untuk bertarung.


"Maaf, bagaimanapun juga aku tak bisa melawan kakak Louis, karena itulah tuan Knox, aku minta tolong agar kau mengalahkannya. Bagaimanapun juga, aku ingin tahu kebenaranya."


Knox tersenyum karena senang Diana telah membuat keputusan. Sebenarnya knox lebih senang jika Diana membantu, tapi dalam posisi Diana saat ini yang melindungi Grimoire of Dragon, bertarung mungkin bukan pilihan yang tepat.


"Bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu?" Tiba tiba Louis bertanya. "Normalnya penyihir akan menggunakan Magic Arm atau Magic Beast dalam bertarung, tapi kenapa kau tak pernah menggunakannya? Mungkinkah kau punya alasan tertentu?"


"......"


Knox terdiam. Dia tak berusaha menyangkal atau mengelak. Dalam setiap pertarungan, Knox bahkan dapat menghitung berapa kali dia menggunakan Magic Beast miliknya. Dia jarang menggunakannya bukan karena Magic Beast miliknya spesial seperti milik Charmilia, tapi dia hanya tak mau menggunakannya. Bahkan saat ujian masuk Kuryuu Acdemy, dia tak mau menunjukkan Magic Beast miliknya, tapi sebagai gantinya dia menunjukkan keahliannya yang lain.


.......dan keahliannya itulah yang kini membuatnya sampai seperti ini.

__ADS_1


"Aku rasa bukan masalah kau menjawab atau tidak, yang lebih membuatku penasaran, bagaimana kau menangkis seranganku?"


"Putri Diana, menjauhlah!"


Menyadari Louis akan menyerang, Knox memperingatkan Diana agar menjauh. Diana menuruti dan menjauh beberapa meter.


Knox tiba tiba melihat kilatan putih di depannya. Knox menebak itu berasal dari cahaya logam Magic Arm. Knox langsung bertahan dari kilatannya tadi,


Knox tahu serangan akan mengenai tubuh yang mana, tapi-


"Gah!!"


(Dari belakang?)


Knox terkejut saat punggungnya terkena serangan. Pakaiannya tersayat dan darah mengalir dari luka yang cukup dalam.


"Itu masih belum seberapa, terimalah ini, Eight Claw!"


Dari berbagai arah, tubuh Knox tersayat oleh banyak mata pisau pedang Louis. Knox tak mapu menghindar atau bertahan. Seluruh tubuhnya kini penuh dengan luka sayat dan penuh noda darah.


Knox terjatuh ke lantai. Tombak yang dipegangnya kini terlepas dan tergeletak di dekatnya. Untuk pertama kalinya, Knox mengalami luka seperti itu. Meskipun tak terlalu parah, namun rasa sakit membuat Knox kehilangan kendali tubuhnya.


"Tuan Knox, bertahanlah!"


Diana mencoba mendekat, tapi sebuah potongan pedang menghentikan langkah Diana.


"Kakak..."


"Sebaiknya kau lihat saja. Aku tahu dia tak selemah ini. Tatapan dia adalah orang yang akan bertarung meskipun tubuhnya hancur, tapi tak seperti orang bodoh yang kita kenal. Jujur saja aku tak menyangka akan bertemu dengan orang yang mirip dengan dia."


Louis hanya tersenyum kecil. Dia masih tak bergerak atau menyerang. Jika dia mau, sebenarnya dia bisa membunuh mereka berdua dengan mudah.


Meskipun sihir Louis tak sekuat Diana, tapi kemampuan Louis membuat strategilah yang membuat dia berbahaya. Selain itu, Magic Arm berupa pedang ular sangatlah sesuai dengan dirinya.


Sementara itu, pertarungan di luar istana berkali kali lipat lebih dahsyat. Louis melihat Kuro yang kini bisa menggunakan sihir api. Dia bisa mengguankan sihir karena dia memakai Dragon Gear. Tapi musuh tak mudah dikalahkan begitu saja.


Louis kembali menoleh ke arah Diana.


"Diana, pernahkah kau membayangkan seperti apa perang yang terjadi 400 tahun yang lalu?"


"...kenapa membahas Light War? Hal itu tak ada hubungannya dengan masalah sekarang. ....tapi mungkin Light War adalah neraka."


Louis tersenyum dan menutup matanya sesaat.


"Ya, mungkin Light War adalah neraka, tapi semua lebih baik setelah itu terjadi. Hey.. apakah negeri kita akan lebih baik setelah melalui neraka ini, perang ini?"


"......"


Diana tak bisa menjawab.


Louis adalah orang yang sangat memikirkan kemakmuran rakyat Dragonia. Bahkan kebijakan kebijakan ayah mereka sebagian besar adalah ide Louis. Hal inilah yang membuat Diana masih tak percaya jika Louis mejadi seorang pengkhianat.


"Kenapa kau menanyakan hal itu padahal kau adalah orang yang menghancurkannya."


"Tuan Knox!!"


Knox perlahan bangkit. Meskipun darah menetes dari sekujur tubuhnya dia tetap bangkit dengan menggenggam tombaknya.


"Apakah akhirnya kau mulai serius?"


Puluhan potongan mata pisau tiba tiba muncul di depan Louis. Setelah menajamkan matanya, Louis ternyata mengendalikan potongan itu menggunakan benang mana yang sangat tipis. Alasan kenapa bisa menghilang, Louis hanya menghilangkannya dengan sihir elemen air.


(Meskipun seranganya tak memiliki kekuatan yang dahsyat seperti Kuro, namun cara menggunakan sihir sederhana menjadi serangan yang mematikan adalah suatu yang luar biasa. Aku sama sekali tak salah mengidolakan dia.)


Knox tersenyum. Dia senang karena bisa bertemu orang seperti Louis.


"Ya, aku akan serius, tapi aku tetap akan menggunakan senjata ini."


Knox tanpa takut menghunuskan tombaknya ke arah Louis.


"Jujur saja, bukannya aku tak mau menggunakan Magic Beast milikku, tapi aku memang tak membutuhkannya untuk mengalahkanmu."


Tekanan mana Knox meningkat. Aura juga terpancar darinya.


(Aku harus menemukan cara untuk mendeteksi bilah pedang itu, jika tidak aku akan selalu menerima serangannya.)


Selain kemampuan Louis bisa dibilang cukup merepotkan, Knox juga kesulitan karena tubuhnya mengalami luka dan itu membuat Knox sulit bergerak.


(Aku rasa aku harus menggunakan itu. Harus kuakui dia kuat.)


Lantai di bawah Knox tiba tiba tiba hancur. Terus hancur hingga menjadi seukuran debu lembut lalu berterbangan karena tertiup angin.


Louis menjamkan matanya dan mengamati tindakan aneh Knox.


"Aku tak mengerti apa yang kau lakukan, tapi percuma saja!"


Bilah pisau Orochi kembali menghilang. Knox mengamati sekitarnya, tapi dia langsung maju ke arah Louis sambil menahan rasa sakit. Dia melihat kilatan kecil di udara lagi, tapi kali Knox tak mempedulikannya dan terus maju.


Louis tak mengerti, tapi dia menyerang Knox lagi tanpa ampun, tapi-


"!?"


"Kh."


Wajah panik panik muncul di wajah Louis. Dia terlihat kesal.


Knox tiba di depan Louis dan langsung bersiap menyerang dengan tebasan miring mengincar bagian dada, tapi sekali lagi serangan Knox dipatahkan. Tapi Knox sudah menduga itu dan langsung berputar menggunakan kaki kiri sebagai pusat gravitasi lalu menyerang sekali lagi dari sisi kiri. Tombak Knox kini hampir mengenai tubuh Louis, tapi dia langsung berhenti karena menyadari keanehan Louis.


"Kenapa kau tak menyerang? Apa kau tak mau menang?"


Knox menarik tombaknya dengan ekspresi kesal. Dia juga  kehilangan niat bertarung dengan Louis.


"Tch... aku tak mungkin menyerang orang terluka."


Diana terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan Knox. Dia menghilangkan Gungnir dan mendekat ke arah Louis dengan ekspresi kawatir.


Sementara itu, darah terus menetes dari lengan Louis membasahi lantai. Bajunya yang penuh bercak darah juga semakin bertambah banyak. Ekspresi Louis juga semakin pucat pasi.


"Kakak Louis."


"Huh... tampaknya aku hanya bisa berpura pura sampai sini kah.."


Orochi di tangan Louis menghilang menjadi partikel. Tak hanya itu, Louis terlihat lemas dan langsung menyandarkan tubuhnya ke dinding. Nafasnya terengah engah dan dia memegangi bagian bajunya yang penuh darah. Ya. Itu adalah darah miliknya.


Diana memberikan Grimoire of Dragon kepada Knox lalu mendekati Louis. Dia melebarkan matanya saat melihat Louis terluka parah seperti terluka oleh tusukan.


"Kakak Louis, apa yang sebenarnya terjadi?"


Diana tanpa ragu merobek baju Louis dan memeriksa lukanya.


(Lukanya lebih dalam daripada yang terlihat, jika tak segera melakukan sesuatu, kakak Louis akan mati karena kehilangan darah.)


"......"


Melihat Diana kawatir, Louis hanya tersenyum kecil dengan wajah pucat pasi.


"Kau tak bisa bisa menyombongkan diri lagi."


"Ya. Benar."


Diana terdiam dan menekan luka Louis agar terus tak mengeluarkan darah. Diana tak bisa menggunakan sihir penyembuh, jadi dia tak bisa berbuat banyak untuk Louis..


"Kakak Louis, sebenarnya apa yang terjadi kepadamu? Jangan berbohong lagi dan jawablah dengan serius."


"Sejak awal aku sudah menjawabnya. Aku menyingkirkan serangga yang ternyata serangga pembunuh."


"?!"


"Seperti yang kubilang, aku menusuk Cross dan dia meledak!"


Lelucon yang buruk, itulah sebutan yang cocok dengan apa yang dikatakan Louis, tapi-


"Kau tak bermaksud Cross adalah orang yang melakukan ini kepadamu?" simpul Knox.


"Tapi itu tak mungkin, kakak Cross tak bisa bertarung. Kau melihat sendiri keadaan kakak Louis kan? Hanya orang yang cukup kuat bisa melakukan ini."


"Diana, sampai kapan kau berpikir kekuatan seseorang ditentukan oleh sebuah kekuatan bertempur?!"


"......."


"Daripada membahas itu," ucap Louis sambil melirik Grimoire of Dragon di tangan Knox. "Segera buang buku itu! Buku itu berbahaya!!"


"Apa maksudmu?"


Knox tahu seberapa penting dan berbahayanya jika buku ini jatuh ke tangan musuh, tapi Louis tampaknya memiliki arti yang berbeda.


"Buka buku itu, kau akan mengerti!!"


Knox membuka buku itu. Dia menemukan tanda bekas lingkaran sihir yang hampir menghilang. Setelah mengamati cukup lama, dia mengerti arti lingkaran sihir itu.


"Ini hanyalah umpan dan bukan Grimoire of Dragon yang sebenarnya, benarkan?"


Louis hanya tersenyum kecil. Sedangkan Diana melebarkan matanya karena terkejut mengetahui fakta itu.


Dengan wajah kesal, Knox melempar buku itu ke taman istana.


"Tuan Knox, kenapa kau melakuka-"


BOOOOOOMMM!!!


Tiba tiba buku itu meledak dengan kekuatan yang cukup dahsyat. Taman istana hancur dan kawah selebar 5 meter kini berada di tengah taman.


"Sekarang kau mengerti? Buku itu tak hanya umpan, tapi juga sebuah perangkap yang dibuat untuk menghancurkan musuh." tambah Knox.


Knox lalu mendesah kecil dan terlihat lelah. Dia tak menyangka repot repot harus melindungi sebuah umpan.

__ADS_1


Satu hal yang patut disyukuri, jika Knox tak mengalahkan Louis lebih cepat, mungkin mereka akan mati.


(Tidak. Dia mengalah.)


Knox sadar jika Louis adalah musuh, Louis bisa menghabisi Knox kapan saja sejak pertarungan dimulai dan tak harus menungggu Knox serius. Pria yang tak bisa ditebak, itulah Louis.


"Tapi jika itu adalah jebakan, kenapa tuan Kuro menyuruhku melindunginya?"


Diana tak mengerti. Kuro adalah orang yang mempersiapkan segalanya agar dirinya bisa menemukan Grimoire of Dragon, tapi kenapa Kuro justru menuntun ke buku palsu?


"Mungkin dia berpikir kalian akan gagal melindungi buku itu, jadi dia tanpa ragu menuntun kalian ke buku umpan. Bagaimanapun juga musuh kita kali ini terlalu berbahaya." jawab Louis.


"Sudah kuduga aku tak suka cara dia."


"Knox, kau salah. Kuro menuntun Diana untuk menemukan buku palsu bukan karena tak percaya kepada Diana, tapi juga bertujuan agar orang dibalik semua ini bergerak, .......benarkan Cross?"


""?!""


Diana dan Knox tak punya pilihan selain terkejut.


Tiba tiba suara langkah mendekat ke arah mereka dari tikungan lorong. Sosok anak kecil memakai kacamata dan jaket laboratorium terlihat. Dari senyuman dan tatapannya, mereka sadar dia bukanlah kawan.


"Kakak Cross?"


"Tch... aku tak menyangka rencanaku sudah kalian ketahui. Yaah... itu bukan masalah karena sebagian besar masih sesuai rencanaku. Tapi aku benar benar terkejut saat kakak tiba tiba menusukku, apa kau tahu itu menyakitkan, Kakak?"


Gaya bicara Cross begitu santai dan menyenangkan seperti anak kecil, tapi aura yang tak menyengkan benar benar terpancar dari Cross. Selain itu, meskipun dia bilang pernah ditusuk Louis, tubuh Cross terlihat baik baik saja tanpa luka sedikitpun.


"Kakak, kau tampaknya mendapatkan balasan atas perbuatanmu... he he hehh.."


"Kakak Cross, apa yang terjadi kepadamu?"


Diana tak mengenal sosok Cross di depannya. Walaupun Cross dibilang tertutup dan sering menghabiskan waktunya di laboratorium, di mata dia Cross adalah sosok yang baik hati dan murah senyum.


Tapi sosok yang murah senyum itu tak ada lagi dan menunjukkan senyuman yang menakutkan.


"Diam!! Diam kau! Wanita j*lang sepertimu sebaiknya diam."


"!?"


"Kau sudah tak ragu lagi menunjukkan sisi aslimu, Cross. Ya ampun, aku penasaran sampai kapan kau memakai topeng itu, tapi aku tak menyangka kau lebih buruk dari yang kubayangkan."


"Aku tak ingin mendengar itu dari orang yang juga memakai topeng sepertimu."


"......."


Louis hanya tersenyum.


Tiba layar mana muncul di depan Cross. Layar itu menunjukkan semua pertarungan yang terjadi di Drageass. Tapi Cross lebih fokus ke pertarungan Kuro, Lionel dan Deon/Lucifer.


"Kurasa sudah saatnya aku mengakhiri semuanya. Jangan kawatir, aku tak berniat membunuh kalian disini, tapi jika kalian mati, kurasa mau bagaimana lagi."


Cross dengan ekspresi bosan berbalik ke belakang dan melangkahkan kakinya pergi, tapi Cross tiba tiba berhenti karena ada dinding tanah yang menghalanginya. Cross lalu menoleh ke belakang, tepatnya ke arah Knox.


"Maaf, tapi aku tak akan membiarkanmu pergi setelah mendengar itu."


"...."


Cross hanya tersenyum seperti meremehkan Knox. Sedangkan Knox langsung menciptakan tombak lagi dan mengacungkannya ke arah Cross.


"Jujur saja aku tak terlalu mengerti kenapa kau berkhianat dan bergabung dengan Liberia, tapi aku tak akan membiarkanmu pergi apapun yang terjadi."


"Begitu rupanya, kalian sudah mengetahui semuanya. .....tidak buruk, tapi kalian sudah terlambat. Bagaimanapun juga aku sudah menciptakan benda itu. Setelah aku pergi dari sini, aku bisa menciptakan Dragon Arm sebanyak apapun yang kuinginkan. Dan kalian bisa menebak apa yang akan kulakukan dengan Dragon Arm."


Jika Liberia menggunakan Dragon Arm untuk bertarung, maka tak ada yang bisa membayangkan apa yang terjadi. Jika dibandingkan dengan mengendalikan naga di seluruh dunia, maka ini lebih buruk.


"...harus kuakui, kau benar benar seorang genius karena mampu menciptakan benda semacam itu, tapi apa kau pikir kami akan diam saja!"


"Huh... percuma sa- Guhhh!!"


Sebuah tombak tanah kecil tiba tiba muncul dan menusuk tepat di jantung Cross. Darah mengalir deras dari luka dan mulut Cross tanda jantungnya telah hancur dan mengalami luka parah.


Ini adalah salah satu keahlian Knox yang bisa dibilang cukup unik. Dust Control atau memanipulasi debu. Dengan memanipulasi debu yang sangat kecil dan jumlahnya sangat banyak, Knox adalah seseorang yang mempunyai gaya bertarung yang unik.


Dengan Dust Control inilah Knox juga mampu menghindari, tidak lebih tepatnya membelokan serangan Louis beberapa cm dari tubuhnya. Dan dengan cara yang sama Knox menciptakan tombak kecil untuk melakukan serangan tiba tiba.


"Ke*arat, beraninya kau..."


"Aku tidak pernah bilang akan bertarung dengan jujur atau semacamnya. Salahmu sendiri tak waspada. Normalnya cara ini tak akan berhasil, tapi putri Diana bilang kau tak bisa bertarung, dengan kata lain kau pasti bertarung menggunakan sebuah alat atau semacamnya, benarkan?"


"Mengalahkan musuh sebelum menggunakan senjata bukanlah ide buruk, tapi Knox kau tak boleh meremehkan Cross."


"Kakak Louis jangan bicara dulu, tapi apa maksudmu?"


"Apa kalian lupa aku juga melakukan hal yang sama terhadap Cross?"


Knox dan Diana sadar apa maksud Louis. Mereka berdua melirik Cross yang sekarang justru tertawa meskipun mulutnya bersimbah darah.


"Ahh... padahal aku ingin berakting lebih lama lagi."


"Bagaimana mungkin..-"


Serangan Knox tepat mengenai jantung Cross dan menghancurkannya. Orang normal atau bahkan penyihir akan mati atau setidaknya terluka parah, tapi Cross kembali sehat seperti semula.


Cross meludahkan darahnya dan mengusap darah yang tersisa.


"Sekarang aku berubah pikiran. Sudah kuduga aku harus menghabisi kalian dengan tanganku sendiri."


Cross menunjukkan gelang di tangan kirinya. Gelang itu memiliki beberapa batu permata yang indah. Dan salah satu permata itu tiba tiba bersinar terang. Disaat yang sama, lingkaran sihir besar muncul di depan Cross. Dari lingkaran sihir itu perlahan muncul makhluk besi besar setinggi 3 meter.


Monster besi itu sekilas mirip naga.


"Kalian bermainlah dengan Astaroth. Dia adalah salah satu mainan favoritku." ucap Cross sambil berbalik pergi. "Jika kalian hidup, kurasa kalian benar benar beruntung."


Rooooar!! Monster besi bernama Astaroth meraung dengan keras. Tubuh Knox sampai mundur karena kedahsyatan raungan monster itu.


"Kh.."


Knox menutup matanya dan lebih fokus ke arah Cross, tapi Cross tiba tiba menghilang setelah masuk ke dalam lingkaran sihir. Di dalam lingkaran sihir itu ada seseorang, tapi Knox tak bisa melihat dengan jelas.


(Sihir teleportasi?)


"!?"


Astaroth menyerang dengan tangannya yang memiliki kuku setajam silet dan besar, Knox menghindar dengan bergerak ke samping, tapi serangan Astaroth hampir mengenai Diana yang tak bisa bergerak.


(Tch.. aku harus menjauhkan monster itu dari mereka berdua.)


Knox bergerak ke taman untuk bertarung dengan lebih leluasa.


(Tapi sebelum itu.)


Knox merogoh kantungnya dan mengambil botol kecil yang berisi air mata Phoenix.


"Putri Diana, terimalah ini!!"


Knox dengan hati hati melempar botol itu ke arah Diana. Diana sedikit terkejut, tapi berhasil menangkapnya.


Diana pernah mendapat air mata Phoenix dari Kuro, jadi dia tahu apa yang harus dia lakukan. Diana membuka botol, lalu menuangkannya ke luka Louis.


Asap mengepul dan perlahan luka Louis menutup, tapi karena kehabisan darah, Louis masih pucat dan lemas.


Air mata Phoenix dibagikan secara merata, tapi masing masing hanya satu botol. Jika Knox mengalami luka parah atau terkena serangan berbahaya, Knox dalam masalah besar.


Knox menghindar dengan bergerak secara lincah. Tapi gerakan Astaroth juga tak kalah cepat dan Knox bahkan hampir terkena serangannya beberapa kali.


(Aneh, makhluk ini memiliki kekuatan dan kecepatan yang tak seberapa, namun kenapa Cross mengatakan kami akan mati?)


"?!"


Tiba tiba Astaroth berhenti bergerak. Astaroth kemudian menatap Knox. Knox tak mengerti, tapi mata merah Astaroth tiba tiba bersinar dan beberapa bagian tubuh Astaroth mengeluarkan asap.


Astaroth kemudian mengambil posisi bertarung dan memasang kuda kuda seperti sosok manusia. Lalu tiba tiba Astaroth melompat tepat ke arah Knox dengan kecepatan tinggi.


Sosok tubuh sebesar 3 meter kini mengarah tepat ke arah Knox sambil bersiap menebas tubuh Knox.


(Gerakannya berbeda dengan yang tadi.)


Secara reflek Knox membuat lubang dan tenggelam ke dalam lubang itu. Sosok bayangan monster lewat di atas Knox dan suara benda berbenturan keraspun terdengar.


"Jangan bilang monster itu adalah tipe yang bisa belajar?"


Knox tak tahu dugaanya benar atau salah, tapi hanya itulah kemungkinan terbesar.


"?!"


Knox dikejutkan lagi saat bayangan Astaroth sudah muncul di atasnya lagi. Yang lebih buruk, cahaya mana berkumpul di depan dada Astaroth. Cahaya itu adalah tanda sebuah meriam mana akan ditembakan tepat ke arahnya.


Meriam itu mengecil menjadi seukuran bola kasti. Astaroth lalu tanpa ragu menembakkan bola itu ke arah lubang tempat Knox bersembunyi.


BOOOM! Ledakan besar terjadi, tanah hancur berkeping keping dan asap mengepul dengan lebat. Astaroth yang terbang di atas lubang menoleh ke arah target selanjutnya, yaitu Diana dan Louis.


Tapi disaat itulah cahaya ungu melesat ke Astaroth dari lubang tempat Knox bersembunyi. Serangan tiba tiba tepat sasaran dan mengenai bagian bahu Astaroth sehingga menghancurkan bahu dan sebagian sayapnya. Astaroth lalu jatuh ke bawah dengan cukup keras.


Sementara itu, dari lubang sebuah tangan besi lainnya muncul ke permukaan. Lalu setelah itu sosok monster besi muncul ke permukaan bersama Knox yang sedikit compang camping.


Monster besi yang tiba tiba muncul adalah Magic Beast milik Knox. Berbeda dengan Astaroth yang memiliki wujud mirip naga, Magic Beast Knox berwujud seperti ksatria besi yang memakai tombak runcing dan perisai.


"Aku tak menyangka harus menggunakanmu, ."


Untuk pertama kalinya, Knox menunjukan tatapan serius bertarung.


Sedangkan Astaroth kembali bangkit dengan beberapa bagian tubuh yang hancur, tapi setelah itu mata Astaroth berganti lagi seperti memeriksa kekuatan lawan.


Tapi Knox tahu, jika dia serius bertarung, dia bukanlah seorang penyihir, tapi seorang kestria yang akan bertempur hingga titik darah penghabisan.

__ADS_1


__ADS_2