Battle War ; Magic, Sword And Dragon

Battle War ; Magic, Sword And Dragon
Dragon War V : Choices


__ADS_3

Grimoire of Dragon. Grimoire yang dikatakan mampu mengendalikan naga di seluruh dunia. Dengan kekuatan itu, menguasai dunia atau menghancurkan dunia adalah hal mudah.


Ya. Dengan grimoire itu, seseorang bisa menjadi Demon King kedua dengan mudah.


Tapi bagi Diana, grimoire of dragon bukanlah sebuah buku yang memiliki kekuatan untuk menjadikan seseorang Demon King. Buku itu lebih bernilai dari itu.


Grimoire of Dragon sudah ada di Dragonia sejak ribuan tahun yang lalu. Bisa dibilang juga merupakan salah satu harta karun Dragonia. Tapi bukan itu yang membuat grimoire of dragon berharga.


Seperti grimoire lainnya, tak sembarangan orang bisa membaca Grimoire of Dragon. Bahkan ayah Diana tak sanggup membacanya. Hanya kakeknya dan dirinyalah yang sanggup membaca buku itu.


Hal ini menjadikan Diana pemilik sekaligus pelindung Grimoire of Dragon. Sayangnya, dia baru mengetahui buku yang dia pegang adalah Grimoire of Dragon dari Charlmilia dan Laila. Dan disaat yang sama, dia tahu apa yang diincar musuh.


--Beberapa jam yang lalu, setelah Diana, Laila dan Charlmilia mandi air panas, mereka bertiga menuju kamar Diana untuk mengetahui lebih banyak tentang Alice's Memories.


Kamar Diana hampir seluas ruang kelas Laila, ini wajar mengingat dia seorang putri.


Sebuah tempat tidur besar dan perabotan kelas satu. Ini wajar, tapi yang tak wajar adalah puluhan rak buku juga ada di kamar Diana. Sekilas ini seperti perpustakaan kecil.


"Apakah hasil penelitianmu mengenai Alice's Memories ada di salah satu buku itu?" tanya Laila. "Kuharap kau tak lupa tempat menar- "


Diana menunjukkan ekspresi rumit yang membuat Laila tak bisa melanjutkan kata katanya.


Diana tersenyum kecil sambil mendekat ke arah rak buku.


"Penelitianku tentang Alice's Memories sudah lama selesai, jadi aku sedikit lupa dimana menaruhnya. Yahh.. kurasa kita harus mencari satu persatu. Tapi jangan kawatir, hasil penelianku menggunakan bahasa kekaisaran jadi kita mudah membedakannya."


Itu membuat sedikit lega, tapi kenapa Diana menggunakan bahasa kekaisaran?


"Entah mengapa ini mengingatkanku saat bertemu Kuro di perpustakaan."


Charlmilia hanya terdiam sambil mencari buku yang dimaksud Charlmilia, tapi ada sedikit yang mengganggunya.


Hampir sebagian besar buku di rak itu adalah buku tua dan terlihat usang, namun terawat dengan baik, tapi dari debu yang sedikit terlihat, tak ada satupun bekas buku itu diambil.


"Apakah tak apa apa kita melihat buku ini?"


"Apakah nona Charlmilia kawatir buku disini adalah buku berisi tentang rahasia Dragonia?"


Charlmilia mengangguk.


"Jangan kawatir, semua buku disini hanyalah berisi tentang cerita dan pengetahuan saja. Aku sudah membaca semuanya, jadi aku tahu betul."


"...be-begitu rupanya. Kalau begitu aku tak perlu ragu."


Charlmilia hanya bisa tersenyum kecut dan sekaligus kagum karena Diana mampu membaca buku tebal dan tulisan yang kecil.


Diana mungkin memiliki hobi membaca atau ada alasan tertentu kenapa dia membaca semua buku itu.


Laila mencari di bagian bawah salah satu rak. Dia membuka satu persatu buku yang tebal dan tua. Tapi dia masih tak menemukan apapun dan sekaligus merasakan Deja vu.


"?"


Dia melirik buku hitam yang berada di atas rak. Entah mengapa Laila langsung tertarik meskipun baru pertama kali melihatnya.


Tapi-


"........"


Tangannya tak sampai. Meskipun dia sudah berjinjit, namun dia tetap tak sampai.


Meminta bantuan?


Laila melirik Charlmilia yang memiliki tubuh paling tinggi di antara mereka bertiga. Sekilas dia memang seperti laki laki, jadi ini sedikit aneh.


"....?!"


Laila terkejut saat melihat dada Charlmilia memantul seperti bola lembut setelah mengambil salah satu buku.


Bagaimana dia bisa memiliki dada sebesar itu? Laila penasaran.


Menggunakan ramuan, sihir, atau operasi?


Saat sedang bingung, Laila ingat perkataan Kuro.


[Dada besar kadang mengganggu gerakan saat bertarung. Apa sekarang kau mengerti kenapa Charlia mengubah penampilannya?]


"...."


Laila mengerti, tapi jika diingat ingat lagi, itu hanyalah perkataan untuk menghibur dirinya.


Laila sedikit merasa kesal dan jengkel setelah menyadari itu.


(Kurasa bukan saatnya memikirkan hal ini, yang terpenting bagaimana caranya aku mengambil buku itu.)


Laila berpikir, dia sepertinya tahu cara mengambil buku itu, tapi entah mengapa dia sedikit lupa.


"*thumb* ...kenapa aku tak memikirkan itu."


Laila lalu melompat dengan pelan dan dengan cepat menarik buku dari rak. Ini adalah cara yang sama saat Kuro mengambilkan buku di perpustakaan Aste.


Laila mendarat dengan sempurna, tapi kehilangan keseimbangan karena buku ternyata lebih berat yang dia duga.


Tapi dengan cepat dia berhasil mengendalikan tubuhnya.


"Fuuh... hampir saja.. Um?"


Sayangnya masalah belum berakhir. Laila melirik ke atas dan sadar buku tebal mulai berjatuhan menimpanya.


Buukkkkk.!!


Suara buku terjatuh membuat ribut seluruh kamar Diana.


Diana dan Charlmilia mendekat untuk mengetahui apa yang terjadi. Dan yang mereka temukan adalah Laila sudah tergeletak di lantai dengan buku tebal berserakan.


"Nona Laila, apa kau baik baik saja?"


"Apa yang kau lakukan?"


Laila hanya tersenyum kecut.


Diana lalu membantu Laila dan menyingkirkan buku yang berserakan. Tapi saat membereskan buku, ada satu buku yang terbuka dan menunjukkan sebuah gambar ilustrasi.


Diana langsung ingat buku apa itu.


Diana perlahan mengambil buku itu dan membawanya. Sedangkan Laila dan Charlmilia sudah selesai mengembalikan buku ke tempatnya semula.


Mereka melirik satu sama lain, tapi tak ada yang tahu pasti. Tapi dari ekspresi Diana, buku itu pasti berharga atau mereka sudah menemukan buku yang mereka cari.


Diana duduk di sofa panjang. Laila dan Charlmilia duduk di dekatnya.


"Mungkinkah itu buku yang kita cari?"


Laila tak tahu apa isi buku itu karena menggunakan bahasa Dragonia.


"Bukan. Buku ini adalah buku kesukaanku sejak kecil. Ini adalah buku peninggalan kakekku."


"Buku itu pasti berharga bagimu."


Diana mengangguk.


"Lalu apa isi buku itu? Sekilas tadi aku melihat gambar naga."


"Nona Laila benar." Diana membuka lembaran buku dengan cepat lalu berhenti di salah satu ilustrasi yang bergambar naga hitam. "Ini adalah buku mengenai seorang anak lelaki yang membuat kontrak dengan naga legendaris."


"Aku belum pernah melihat naga itu." ucap Laila. "Mungkinkah salah satu Dragon King seperti Ruby."


"Bahamuth bukan Dragon King, tapi Heavenly Darkness King. Naga terkuat di dunia. Dan satu satunya."


"Bahamuth.....?"


Laila baru pertama kalinya mendengar tentang naga itu. Sedangkan Charlmilia hanya melebarkan matanya.


"Anda tak tahu?"


Laila mengangguk pelan.


"Menurut legenda Bahamuth adalah naga milik Demon King." jelas Charlmilia. "Tapi ini hanya legenda. Dalam Light War, Demon King tak pernah memanggil Bahamuth, jadi tak ada yang tahu kebenarannya. Apa aku salah?"


"Nona Charlmilia tidak salah." jawab Diana sambil membuka beberapa lembaran lagi. "Di buku ini, Bahamuth tinggal di dimensi yang berbeda dengan kita, jadi tak bisa sembarangan memanggilnya. Sayang kita tak tahu apakah cerita di buku ini benar."


Diana menutup buku lalu menaruhnya di meja. Yang aneh, buku itu sudah berada di Dragonia sejak dulu, jadi dia tak tahu apakah apa yang ada di buku itu benar atau salah.


Diana tak mengatakannya karena merasa tak perlu.


"Sebaiknya kita segera menemukan buku itu, bagi kalian itu lebih penting kan?"


"Ya itu benar." jawab Charlmilia. "Tapi sejauh ini yang ada di rak hanya buku tua dan tebal. Jezzz.. sebenarnya seperti apa buku yang kita cari?"


Charlmilia benar. Diana lalu mencoba mengingat buku yang berisi hasil penelitiannya.


"...hmm.. mudahnya buku itu setipis 2 cm."


"........."


"........"


Charlmilia dan Laila tak bisa berkomentar banyak, tapi setelah tahu buku yang mereka cari, maka hanya butuh waktu saja.


Sekitar 5 menit kemudian, akhirnya mereka menemukan buku yang dimaksud.Rupanya buku itu terletak paling bawah dan pinggir rak.


Charllmilia dan Laila terkejut saat mengetahui bahwa Alice's Memories begitu banyak dan rumit, tapi intinya adalah Alice's Memories merupakan kenangan Aliciana dan Shiroyasha.


Saat mereka asik melihat penelitian Diana tentang Alice's Memories, ledakan besar mengganggu mereka.


Itu menjadi sebuah alarm pertanda Drageass diserang oleh Deon. Drageass kini berubah menjadi medan perang, tapi saat mereka bertiga mencoba keluar untuk membantu, pintu kamar Diana tak bisa terbuka.


"Tch.. apa yang terjadi disini? Kenapa pintu tak mau terbuka?"


Charlmilia kesal setelah beberapa kali mencoba membuka pintu. Dia bahkan menendangnya, tapi pintu sama sekali tak tergores.


(Begitu rupanya. Ruangan ini dikunci menggunakan sihir. Akan berbahaya jika sembarangan membukanya dengan paksa, tapi siapa yang melakukannya?)


"?!"


Charlmilia melirik Diana yang sejak tadi menatap ke arah sudut kamarnya. Charlmilia lalu mengkonsentrasikan pandangannya dan menemukan sebuah titik hitam yang kecil dan bergerak seperti lalat.


(Itukan... Insectmera. Begitu rupanya, dengan insectmera itulah mereka mengawasi kami.)


Dari ukuran, tak diragukan insectmera buatan Dragonia lebih kecil dan maju daripada buatan kekaisaran Houou


Tiba tiba layar mana cukup besar muncul di udara. Layar itu memunculkan wajah seserorang, yaitu Louis.


"Kakak Louis?"


[Maaf, Diana. Kau diam saja disana sampai pertempuran berakhir!]


Tanpa ada kata lebih, sambungan terputus. Beberapa kalipun Diana mencoba memanggil Louis, Louis tak menggubrisnya.


Diana tersungkur dan sedih. Meskipun mengurung demi keselamatan dirinya, namun Diana tetap ingin bertarung bersama Shapira.


Laila mendekat dan memegang dua bahu Diana.


"Diana, kakakmu pasti melakukan ini pasti ada alasannya. Sebaiknya kita duduk dulu dan pikirkan apa yang akan kita lakukan."


"Un.."


Diana lalu bangkit dan duduk di sofa bersama Laila.


Sedangkan Charlmilia tetap di tempat dan mengamati sekitarnya.


(Mereka pasti mengawasi kami tak hanya memakai satu insectmera.)


Charlmilia lalu melirik Laila sambil mengingat rencana yang mereka buat saat Deon sudah menyerang.

__ADS_1


(Baiklah, pertama tama, aku harus memastikan tak ada yang mengawasi dan mendengar kami.)


Charlmilia memejamkan matanya dan mulai berkonsentrasi.


Dia adalah penyihir angin beranking SSS. Kemampuannya dalam mengendalikan sihir di atas kemampuan penyihir rata rata.


Dia berkonsentrasi dan merasakan semua aliran angin di ruangan itu. Dalam sekejap, dia bisa merasakan seluruh benda dari udara yang membentur benda berbelok. Ini sekilas mendeteksi sama menggunakan gelombang yang digunakan Jinn.


(Lebih dalam...)


Dia lebih berkonsentrasi lagi. Kali ini dia bahkan dapat mendengar suara hembusam nafas Laila dan Charlmilia begitu jelas.


... tak berapa lama kemudian, Charlmilia sudah menemukan apa yang dia cari, insectmera, beberapa kamera tersembunyi dan sihir pengintai.


(Lebih banyak yang kuduga. Mungkinkah sebenarnya Louis adalah pangeran siscon?)


Charlmilia membuka matanya. Dia sudah menemukan semuanya dan tinggal menghancurkan mereka semua.


Puluhan cahaya putih kecil muncul di sekitar Charlmilia yang sebenarnya merupakan bola plasma berukuran sangat kecil. Bola plasma itu indah seperti salju, tapi salju yang berbahaya.


"[Plasma Snow]"


Bola plasma putih itu terbang ke berbagai arah dengan kecepatan tinggi dan mengenai berbagai benda di kamar Diana.


Meskipun kecil, namun ledakan terjadi cukup besar sebagai bukti kedahsyatan plasma Charlmilia.


Charlmilia melihat kesekeliling untuk mengkonfirmasi bahwa tak ada yang mengintip mereka lagi.


Setelah merasa aman, Charlmilia mendekat ke arah Laila dan Diana. Charlmilia menatap Laila untuk memberi tanda sudah saatnya melakukan rencana yang mereka buat sebelumnya.


Laila mengangguk tanda mengerti. Dia lalu menyingkir dari Diana.


Diana bingung dengan tingkah laku mereka berdua. Dan disaat itulah dia tahu mereka berdua memiliki tujuan tertentu.


"Diana, kami akan memberi tahu semuanya. Dan juga pesan dari Kuro?"


"Pesan dari tuan Kuro?"


"Ya. Sekarang dengarkan kami. Mungkin ini juga akan menjadi keputusan berat bagimu."


".................eh?"


Charlmilia dan Laila lalu menjelaskan semuanya mengenai pertempuran dan alasan kenapa mereka berdua bersama Diana. Sejak awal mereka bertujuan mengawal Diana.


Mereka berdua lalu menjelaskan kemungkian adanya seorang pengkhianat dan apa yang diincar musuh, yaitu Grimoire of Dragon.


Saat mendengar kata pengkhianat, Diana terlihat tak terlalu terkejut. Sepertinya dia juga sudah mengetahui adanya kemungkinan itu.


"Mengenai seorang pengkhianat dan bekerja sama dengan musuh, kami sudah mengetahuinya, tapi kami masih tak tahu siapa karena mereka sangat rapi. Setiap kali kami hampir menemukan petunjuk, tapi kami selalu langsung menghilang."


"Dengan kata lain tak ada petunjuk satupun, tapi-"


"Kemungkinan besar orang itu akan melakukan semua rencananya pada hari ini." tambah Laila.


Charlmilia mengangguk pelan lalu menaruh tangannya di dagu seperti sedang berpikir.


"Sekarang yang menjadi masalah adalah Grimoire of Dragon. Kita memang aman disini, tapi mengingat siapa musuh kita kali ini, itu sama artinya kita menunggu musuh menghampiri kita."


(Apakah Louis sengaja melakukannya?)


Charlmilia berpikir Louis mengurung mereka pasti ada alasan tertentu, tapi apa?


Keamanan?


Mengingat musuh mereka kali ini, istana bukanlah tempat yang aman. Apalagi dengan kemampuan musuh yang mampu menyusup meskipun ada pelindung berlapis lapis.


(Dengan kata lain, pasti ada alasan lain kenapa Louis mengurung kami. Atau.. )


...bukan Diana yang dilindungi, tapi benda di kamar Diana.


Charlmilia melirik ke sekeliling. Kamar Diana lebih mirip perpustakaan kecil yang berisi buku tua.


(?!. Mungkinkah Grimoire of Dragon ada di kamar ini?)


Hanya ada satu cara untuk memastikannya.


"Putri Diana, apakah kau tahu dimana gyrimoire of Dragon?"


"Hm? Aku tak tahu. Aku bahkan ragu grimoire yang diincar musuh sebenarnya ada."


"Apa maksudmu?" tanya Laila.


"Sudah ratusan tahun Grimoire of Dragon tak diketahui keberadaannya. Bahkan kakek dan ayahku tak tahu bentuk grimoire itu."


"......"


Charlmilia kembali berpikir. Tapi jika yang dikatakan Diana benar, maka sekarang masuk akal kenapa keberadaan Grimoire of Dragon hanyalah sebuah mitos.


"Tapi kenapa Kuro bilang jika kami bersamamu, kami akan menemukan Grimoire of Dragon?"


"Eh?"


Diana terkejut oleh perkataan Laila, tapi Charlmilia ingat kalau Kuro memang pernah mengatakan itu.


"Kenapa tuan Kuro mengatakan hal itu? Dia memang pernah membaca buku di kamar ini, tapi dia tak pernah menyinggung tentang Grimoire of Dragon."


"Hmm... lalu kenapa ka- tunggu dulu. Kau bilang Kuro pernah di kamar ini? Apa saja yang kalian lakukan?"


"Aha ha.. jangan menatapku seperti itu! Itu menakutkan. Seperti yang kubilang dia hanya membaca buku di kamar ini."


"Jika benar, Kuro artinya tak sengaja membaca Grimoire of Dragon, tapi tak bilang kepadamu." analisa Charlmilia. "Mungkin dia tak bilang karena akan menjadi masalah. Sayangnya, jika musuh mengincar buku itu, kemungkinan besar musuh juga mengetahui seperti apa buku itu."


"..... maksudmu.."


"Jika kita tak segera menemukan Grimoire of Dragon secepatnya, musuh akan berhasil mendapatkan tujuan mereka. Hal ini juga gawat bagi kita yang berada disini. Jika musuh menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan paksa, mungkin kita akan mati."


Ini hanyalah dugaan Charlmilia. Dia masih memiliki pilihan lain yaitu membiarkan musuh mendatangi mereka. Disaat yang sama, mungkin mereka akan langsung tahu siapa pengkhianat.


"Kalau begitu ayo cepat kita cari!" ucap Laila dengan semangat. "Jika Grimoire of Dragon q adalah salah satu buku yang dibaca Kuro, kita cukup mencari salah satu dari buku yang dibaca Kuro. Diana, buku apa saja yang dibaca Kuro?"


Laila terlihat tak sabar, tapi Diana menunjukkan ekspresi rumit.


Diana lalu dengan perlahan menunjuk salah satu rak buku.


"Ada di rak itu?"


"Tidak, maksudku semuanya."


"............"


"............"


Laila langsung berpikir hobi membaca Kuro sedikit berlebihan dan merepotkan. Dia mendesah lalu dengan perlahan berjalan ke arah rak seperti zombie.


Meskipun sekarang sedang gawat, mungkin satu satunya orang yang santai hanya Laila.


"Laila, tunggu sebentar!"


Charlmilia menghentikan Laila. Laila lalu menoleh dengan ekspresi bingung.


"Kita tak perlu mencari satu persatu seperti tadi."


"Lalu bagaimana caranya?"


Charlmilia tersenyum kecil.


"Bukankah Kuro memberikan sesuatu kepada kita jika terjadi seperti ini?"


Awalnya Laila tak mengerti, namun dia ingat kalau Kuro memberikan sesuatu kepadanya.


"Ahh.. kau benar."


Laila lalu merogoh kantung di pinggangnya. Entah mengapa Laila tampak kesulitan menemukan benda itu di kantung kecil.


Sementara itu, ledakan keras terdengar. Dari jendela mereka bisa melihat pertempuran telah dimulai.


"Ah.. ini dia."


Laila menemukannya. Dia lalu menunjukannya kepada Diana dan Charlmilia.


Benda itu adalah botol bening kecil yang berisi cairan merah kental.


"Apa ini?" Charlmilia mengambilnya lalu mengamati. "Darah?"


"Ya. Itu adalah darah Kuro. Sayangnya aku tak tahu apa hubungannya dengan masalah kita."


"......."


Charlmilia juga tak tahu seperti Laila.


Sedangkan Diana, dia menaruh tangannya di dagu seperti sedang berpikir.


"Nona Charlmilia. Berikan darah tuan Kuro kepadaku!"


"Um.. bailklah."


Setelah menerimanya, Diana melangkahkan kakinya ke arah rak buku dan mendekatkan botol itu ke buku yang ada di rak.


"Apa yang kau lakukan?"


"Nona Laila, anda tahu, menurut legenda Grimoire of Dragon ditulis menggunakan darah naga. Darah naga yang digunakan adalah darah Ruby. Tuan Kuro adalah orang yang membuat kontrak dengan Ruby. Jadi darahnya pasti mempunyai reaksi tertentu terhadap Grimoire of Dragon."


"Begitu rupanya, ini menjelaskan kenapa Kuro bisa menemukan Grimoire of Dragon."


Diana mengangguk.


Mereka lalu mencari rak demi rak. Mereka harus cepat karena suara pertempuran dapat terdengar cukup jelas.


Yang membuat mereka terkejut adalah tekanan mana yang mengerikan.


Mereka sadar tak memiliki banyak waktu.


Setelah lama mencari. Akhirnya tinggal buku terakhir, tapi mereka terkejut saat tak ada reaksi di buku terakhir.


Mereka langsung terlihat kecewa.


"Ha... apa benar Grimoire of Dragon benar benar ada?"


Charlmilia mengeluh karena mereka tak menemukan apa apa setelah bersusah payah.


"Tapi tuan Kuro tak mungkin berbohong. Lagipula dia tak mungkin bercanda dalam masalah serius seperti ini."


Charlmilia juga tahu, tapi hanya itu kemungkinan yang ada.


"Sudah sudah. Kalian tak perlu ribut. Jika Kuro mengatakan buku itu ada, berarti memang ada."


Laila berusaha menenangkan mereka berdua. Tapi itu tak mengubah apa yang terjadi.


"Tapi-"


"Kalian jangan lupa, masih ada satu buku yang belum kita periksa."


Mereka berdua sadar perkataan Laila ada benarnya. Lalu secara bersamaan melirik buku yang ada di meja dengan tatapan bengong.


Dengan perasaan ragu mereka mendekat. Lalu menaruh darah Kuro di dekat buku itu, sayangnya tak ada reaksi.


Mereka bertiga langsung mendesah dalam.


"Baiklah, sekarang kita pikirkan saja keluar dari tempat ini."


Tak ada yang salah dengan saran Charlmilia. Mereka berdua juga sadar daripada di kamar terus dan tak bisa berbuat apa apa, lebih baik mereka keluar untuk membantu pertempuran.


Mereka sudah menyerah mencari Grimoire of Dragon.

__ADS_1


"Sayang sekali kita justru menghabiskan waktu untuk mencari sesuatu yan- hei lihat! Buku itu bersinar."


Perkataan Laila benar. Dari lembaran buku, sebuah cahaya merah bersinar.


Diana dengan cepat membuka lembaran yang bersinar. Mata dia melebar setelah tulisan rumit dan beberapa simbol dan lingkaran sihir muncul.


"Ini kan... Eh?"


"Menghilang? Kenapa?" tanya Charlmilia.


"Aku tak tahu, tapi yang jelas kita sudah menemukan yang kita cari. Selain itu, sekarang aku mengerti kenapa hanya beberapa orang saja yang bisa membaca buku ini."


Charlmilia dan Laila tak mengerti yang Diana maksud.


"Nona Laila dan Nona Charlmilia tak bisa membaca huruf Dragonia, jadi kalian tak tahu. Tapi bagi orang tertentu, isi buku ini dapat berubah."


Diana berdiri.


"Sekarang ayo kita cari jalan keluar dari kamar ini. Jika tak cepat, aku yakin musuh sudah dekat!"


Mereka berdua mengangguk tanda setuju.


Setelah itu, mereka bertiga berpikir bagaimana cara keluar, tapi mereka juga sadar bahwa sihir yang digunakan untuk mengurung mereka bukanlah sihir biasa.


Pertama, Charlmilia mencoba menyerang menggunakan bola plasma, tapi tak ada kerusakan berarti dan justru seperti diserap.


(Perisai yang mampu menyerap sihir, sungguh merepotkan. Dengan kata lain sihir tak mempan, sayangnya serangan fisik juga tak terlalu berpengaruh.)


Charlmilia ingat pernah beberapa kali menendang pintu, tapi tak ada hasil.


(Jika Kuro ada disini, kurasa kami bisa keluar dengan mudah.)


Charlmilia mendesah dan kembali berpikir. Diana juga sama.


Disaat mereka sedang serius, Laila mencoba membuka pintu secara biasa, dan dia berhasil.


"............eh?"


Apa yang Laila lakukan?


"Ba-bagaimana bisa?" tanya Diana.


"Aku hanya memutar knop seperti biasa."


Jawaban yang mencurigakan, tapi sekarang mereka tak perlu pusing memikirkan bagaimana keluar.


Mereka bertiga lalu keluar dan berlari di lorong.


"Sekarang, apa yang harus kita lakukan? Kita sudah mendapatkan bukunya, lalu kita pergi kemana?" tanya Diana.


"Yang terpenting adalah mencegah musuh mengambil buku itu, rencananya kita akan berkumpul dengan Aldest, tapi dia masih belum kembali."


"Lalu bagaimana dengan tuan Kuro? ..ke kiri."


Mereka lalu berbelok ke lorong istana.


"Kita tak bisa melakukannya, sekarang dia sedang bertempur. Jika kita kesana, justru itu memudahkan musuh."


"Lalu sebenarnya kita kemana?" tanya Laila.


Mereka berlari, tapi tujuan belum jelas.


"Kita menuju tempat teraman di istana ini. Hanya beberapa orang saja yang tahu."


"Maksudmu tempat perlindungan para kekuarga raja?"


Diana mengangguk.


"Kita lupakan itu. Musuh kali ini memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan dinding anti sihir setebal 7 meter. Kurasa tak ada gunanya bersembunyi di tempat seperti itu."


Diana tiba tiba berhenti. Laila dan Charlmilia ikut berhenti.


"Jika benar, apa yang harus kita lakukan?"


Diana terlihat panik, tapi di situasi seperti ini adalah suatu yang normal mengingat dia tak punya pilihan.


"Sebenarnya kami sudah menduga akan terjadi seperti ini."


Charlmilia merogoh sakunya lalu memberikan sesuatu kepada Diana.


Diana menerima lalu menyadari apa dan tujuan benda itu digunakan.


"Ya. Tapi iitu adalah pilihanmu. Kau harus memilih, dan kami tak akan menyalahkanmu atas semua pilihanmu."


"......."


"Tapi satu hal yang harus kau ingat, kami minta kau mempertimbangkan pilihanmu!"


"Sebenarnya rencananya adalah mencuri Grimoire of Dragon setelah menemukannya, tapi Kuro menentang."


"Diam! Jangan beritahu hal itu!"


Tapi Laila hanya cengar cengir seolah tak peduli dengan kemarahan Charlmilia.


"Yah.. aku rasa ini bukan masalah besar karena kita memang menentang rencana itu. Jadi sekarang apa yang putri Diana pilih?"


Dia tak menjawab. Keputusan harus dia ambil dan itu bukanlah keputusan yang mudah.


Saat sedang berpikir itulah, sebuah bayangan berbentuk manusia tiba tiba menghadang mereka.


Bayangan itu adalah Shadow.


Itu adalah semua kejadian setelah serangan dimulai. Dan dia juga tak lupa dengan perkataan mereka.


['Kau tak perlu mempercayai kami. Kami hanyalah orang asing yang hanya sekedar lewat dan membantu. Tapi satu hal yang pasti, kau tak bisa mempercayai siapapun.']


"Ha ha... ha .ha..."


Diana terus berlari tanpa arah tujuan. Pertempuran terdengar di seluruh istana membuat Diana semakin cemas dan panik.


Tapi di harus tetap tenang.


Buku di tangannya adalah kunci dari nasib dunia saat ini, tapi disaat yang sama buku itu sangat berharga bagi Diana karena memiliki banyak kenangan.


Diana mengambil nafas lalu menyandarkan tubuhnya di dinding.


Dia lalu mengambil benda di sakunya yang merupakan kubus hitam berukuran kecil.


Kotak hitam itu adalah benda sihir bernama Pandora. Ukurannya yang kecil bukanlah ukuran sebenarnya. Pandora dapat berubah ukuran sesuai kebutuhan penggunanya.


Pandora dikategorikan benda sihir berbahaya dan langka karena mempunyai fungsi untuk menghilangkan sebuah sihir yang terdapat di sebuah benda seperti grimoire atau senjata sihir.


Singkatnya seperti anticristal, tapi dikhususkan untuk sebuah benda.


"............."


Diana ragu menggunakan benda itu atau tidak.


Saat ini Diana diberi sebuah pilihan. Menghancurkan mantra yang ada di grimoire of dragon, atau terus lari dan bersembunyi.


Dua pilihan ini mempunyai resiko masing masing.


Dengan menghancurkan mantra, maka musuh tak akan mendapatkan tujuan mereka dan duniapun aman untuk sementara. Tapi sebagai seorang putri, buku di tangannya merupakan senjata yang kuat untuk memakmurkan Dragonia, negerinya.


Jika tak menghancurkan dan terus berlari, maka ada kemungkinan musuh merebut buku itu dan menggunakannya untuk menghancurkan dunia. Tapi hal ini terjadi jika musuh berhasil mendapatkannya.


"...ugh.."


Diana menggertakkan giginya.


Negrinya atau dunia? Diana tak mempunyai banyak waktu karena setiap detik keadaan selalu berubah.


Dia lalu berlari sekali lagi mengelilingi istana. Tujuan dia adalah ruangan rahasia yang hanya dia sendiri yang tahu.


"....um?"


Tapi saat berlari, dia bertemu dengan Knox yang juga berlari ke arahnya.


"[Rock Spear]"


Knox menciptakan tombak dari tanah dan melemparnya tepat ke arah Diana.


"Eh?"


Tak sempat bereaksi dan terkejut, Diana tak bisa menghindari serangan Knox.


Apakah ini yang dimaksud tak bisa dipercaya.


Diana kembali mengingat saat dia mengobrol dan bercanda dengan Charlmilia dan Laila. Tak ada tanda bahwa mereka akan melakukan semua ini.


Demi menyelamatkan dunia, mereka akan membunuh dirinya.


Diana sudah pasrah dengan nasibnya. Setidaknya dia bisa tenang karena grimoire of dragon lebih aman jika berada di tangan mereka.


Klaang!!


Tiba tiba suara logam berbenturan terdengar di dekat Diana.


"Bodoh, cepat lari. Di belakangmu!!"


Knox berteriak sambil berlari ke arah Diana yang sedang bingung, tapi Diana sekarang mengerti Knox tak mengincar dirinya, tapi senjata yang mengarah kepada dirinya dari belakang, tapi apa?


Diana langsung menoleh ke belakang, dan dia menemukan suatu yang lebih mengejutkan.


Potongan logam tipis yang tersambung oleh tali mana tepat di belakangnya dan mengarah kepada dirinya. Itu adalah Magic Arm berwujud pedang ular.


Dan Diana tahu siapa yang mempunyai Magic Arm seperti itu.


Klangg! Suara logam berbenturan sekali lagi terdengar saat Knox berhasil menahan serangan pedang ular itu untuk kedua kalinya.


Pedang ular itu tiba tiba mundur seperti kembali ke bentuk semula di tikungan lorong.


"Tuan Knox"


"Purti Diana, syukurlah aku tepat waktu."


Knox tiba lalu menyapa Diana. Knox langsung tahu buku di tangan Diana adalah Grimoire of Dragon.


"Anda baik baik saja kan?"


Diana mengangguk.


"Aku baik baik saja, tapi-


"Aku tahu, Charl dan Laila sedang bertarung melawan Shadow dan menahannya."


".........."


"Jujur saja aku yakin mereka tak akan menang, tapi yang terpenting, kita harus mencari tahu apa yang ada disini, benarkan pangeran Louis?"


Senyuman muncul di lorong. Suara langkah mendekat bersamaan suara logam yang terseret.


Lalu munculah sosok yang menyerang Diana menggunakan pedang ular.


"?!" "?"


Mereka berdua tak ada pilihan lain selain terkekut karena bercak darah merah kini memenuhi pakaian Louis.


"Kau..."


Louis hanya tersenyum kecil dan berkata,


"Tidak buruk untuk murid sekolah sihir..."

__ADS_1


__ADS_2